Anak Tiri
Cerita Dewasa · 18+
Cerita Sex Anak Tiri – Di usia empat puluh tahun, ia seharusnya sudah menemukan kedamaian, rumah besar, suami yang sibuk, dan status istri yang disegani. Tapi malam-malam sunyi itu justru membukakan pintu pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Tiga anak tiri lelakinya-tinggi, berotot, penuh tenaga, dan masih dipenuhi api muda—mulai mengisi kekosongan yang selama ini ia pendam dalam-dalam. Awalnya hanya tatapan sekilas, sentuhan tak sengaja di dapur, hembusan napas yang terlalu dekat saat lewat di koridor gelap. Tapi lambat laun, batas itu runtuh.
Sekarang ia ketagihan. Ketagihan pada kekuatan tangan mereka yang mengangkat tubuhnya dengan mudah. Ketagihan pada desahan kasar yang memanggilnya “Bu” dengan nada yang sama sekali tak sopan lagi. Ketagihan pada sensasi dikuasai tiga lelaki muda sekaligus, bergantian, bersama-sama, tanpa ampun—sampai tubuhnya gemetar lemas dan pikirannya kosong.
Ia tahu ini salah. Ia tahu ini bisa menghancurkan segalanya. Tapi setiap kali pintu kamar tertutup dan lampu dimatikan, ia tak lagi peduli.
Karena rasa ketagihan itu sudah lebih kuat daripada rasa bersalah. Dan malam ini… mereka akan datang lagi.

Malam itu, hampir pukul sembilan, Retno terperanjat ketika suaminya tiba-tiba pulang lebih cepat dari penugasan luar kota yang telah memisahkan mereka lebih dari seminggu. Wajah lelaki berusia 60 tahun itu memancarkan kegembiraan tak biasa, senyumnya seolah menyimpan sebuah cerita yang belum terucap.
“Ada apa, Mas? Senyum terus. aku jadi curiga, lho,” ujar Retno sedikit manja.
“Ada kejutan yang tidak biasa, khusus buatmu,” balas suaminya, suaranya lembut sekaligus penuh rahasia.
Retno mengangkat alis, separuh heran, separuh gemas. “Kejutan apa sih, Mas?”
“Yang akan membuatmu bisa menyalurkan hasrat kerinduan dengan lebih baik, lebih tenang dan lebih dahsyat,” katanya sedikit mendesah, sebelum merangkul istrinya dalam pelukan hangat yang langsung menuntaskan sebagian rindu yang mengendap dengan menciuminya.
Mereka tertawa kecil, saling melepas jarak yang tertumpuk selama hari-hari terpisah itu. Setelah beberapa saat, suaminya menuntun Retno menuju kamar mereka. Setibanya di sana, ia mengeluarkan sesuatu dari tas besarnya. Sebuah benda, dibungkus rapi, diserahkan dengan gerak yang penuh pertimbangan.
Retno terpaku. Ada sesuatu dalam cara suaminya memandang, seakan ia sedang menawarkan lebih dari sekadar hadiah; sebuah kepercayaan, mungkin keberanian untuk membuka percakapan yang selama ini hanya berputar di benak mereka.
“Ini… apa, Mas?” tanyanya pelan.
“Khusus untukmu,” jawab suaminya singkat, namun lembut.
Retno menatap benda itu, lalu menatap suaminya, merasakan campuran haru, malu, dan kehangatan yang meluap bersamaan. Ia menangkap niat baik di balik hadiah itu. Sesuatu yang tidak perlu dijelaskan panjang-lebar, namun ia mengerti arti dan keberanian yang menyertainya.
“Mas… kenapa repot-repot beli yang beginian?” bisiknya, senyumnya muncul tanpa bisa ia tahan.
Suaminya hanya mengusap lembut punggung tangannya. “Papa ingin kamu bahagia. Sesederhana itu.”
“Ini dildo kan?” tanya Retno setengah tak sadar sekedar untuk memastikan.
“Yes!” jawab suaminya pelan sambil tetap terus menyodorkan benda itu, memaksa Retno untuk segera menerimanya.
Retno masih tertegun, tak menduga bahkan masih tak percaya, jika suaminya yang oleh sebagian orang dipanggil Pak Haji, bisa-bisanya memberi hadiah pada istrinya berupa benda yang tak biasa cenderung tak senonoh.
Dengan agak ragu-ragu, Retno pun lantas menerimanya dan ia rasakan teksturnya benar-benar sangat kenyal walau agak dingin. rudal imitasi itu ukurannya jauh lebih besar dan panjang jika dibandingkan dengan milik suaminya. Tentu saja kenyal dan kerasnya pun sangat beda.
“Ini buat apa sih, Mas?” tanya Retno pura-pura polos. Kulit wajahnya semakin terasa panas karena malu dengan kekurangajaran tangannya yang secara tak sadar meremas-remas benda kenyal itu untuk sekadar merasakan tekstur dan kekenyalannya.
Suaminya tetap tersenyum, tidak menjawab pertanyaan istrinya, malah melepas pakaian Retno dengan sangat pelan hingga istrinya benar-benar telanjang bulat. Sementara suaminya tetap mengenakan pakaiannya. Retno lalu diminta rebahan di atas kasur sambil membuka lebar kedua kakinya. Hal yang tak pernah diminta suaminya sebelum ini.
Dengan lembut suaminya menyentuh area paling sensitifnya itu, membuat Retno tersentak kaget sekaligus penasaran. Sejak kapan suaminya berani mengeksplorasi bagian tubuh yang jarang dia sentuh? Namun, Retno menyerah pada gelombang kenikmatan lama yang hilang, memejamkan mata sambil menikmatinya sepenuh hati.
Setelah kelembapan alami muncul, suaminya perlahan memasukkan ujung kepala dildo itu berukuran besar dan panjang itu ke dalam diri istrinya, sekitar setengahnya.
“Maas…” desah Retno tertahan, tubuhnya menggeliat malu-malu karena sensasi yang begitu menggoda. Bentuknya yang gagah memenuhi setiap sudut dengan sempurna, bahkan menyentuh titik terdalam saat didorong masuk hampir seluruhnya.
“Gimana, nyaman dan nikmat kan, Sayang?” tanya suaminya sambil menariknya pelan lalu mendorong kembali. Retno hanya mengangguk kecil, rintihannya lirih karena pikiran campur aduk antara malu, kebingungan, dan gelora yang mendominasi.
Suaminya terus memainkan dildo itu dalam ritme halus, masuk lebih dalam, berputar lembut, lalu hampir keluar, membuat desahan Retno semakin nyaring, nyaris seperti jeritan saat gerakannya semakin intens.
“Coba kamu pegang sendiri,” bisik suaminya, menyerahkan kendali tanpa mencabutnya, sambil melepas pakaiannya sendiri.
Suaminya kembali mengambil alih, sambil mencium dan membelai payudaranya bergantian, serta membimbing tangan Retno ke kejantanan miliknya yang tegang, meski lebih mungil, lebih lembek dan ini sesuatu yang teramat baru bagi keduanya.
Saat Retno hampir mencapai puncak, suaminya cepat mengganti dildo itu dengan rudal aslinya. Sensasi berubah mendadak, ruang terasa lebih longgar, tapi gerakannya yang lincah dan penuh semangat segera membangkitkan kembali api yang cukup lama nyaris padam.
“Ooooo Maaas….” lenguh Retno tak tertahankan saat dalam hitungan berikutnya ia orgasme yang teramat dahsyat, diikuti ejakulasi suaminya dengan ledakan yang melimpah. Keringat membasahi seprai mereka, sesuatu yang pertama kalinya terjadi.
Napas mereka mereda, suaminya berbisik, “Sayang nyaman dan nikmat kan? Kalau Mas tak di rumah dan kamu butuh, gunakan saja itu untuk memuaskan diri. Mas rela, asal jangan ke orang lain, itu haram.”
“Iya, Mas,” jawab Retno pelan, matanya sayu berat. “Nyaman kok,” tambahnya dengan anggukan saat dipeluk erat. Suaminya mencium pipi dan keningnya lembut.
“Tapi kenapa ukurannya sebesar itu? Kayaknya salah ukuran deh, Mas.” gumam Retno halus, sebenarnya ingin bilang agar disesuaikan dengan milik suaminya.
“Tidak salah, Sengaja Mas pilih yang lebih besar dan panjang, biar kamu merasakan sensasi luar biasa dan puas maksimal, terutama saat sendirian,” jawabnya yakin, tanpa ragu.
“Tapi kenapa Mas bisa punya pemikiran sejauh itu?” tanya Retno sambil menatap dalam kedua mata suaminya. Ada kilau aneh di sana, semacam semangat baru yang selama ini jarang tampak.
Suaminya menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Mas juga bingung. Tapi ini sebenarnya berawal dari obrolan beberapa rekan. Mereka banyak yang memberikan dilso pada istrinya. Katanya supaya istri tidak merasa kesepian saat ditinggal suami. Biar rumah tangga mereka tetap aman.”
Retno mengernyit halus. “Memangnya mereka yakin istri-istrinya itu tidak menyimpang hanya karena diberi begituan? Atau malah mereka menuduh istrinya akan menyimpang kalau tidak diberi?”
“Ya, mungkin itu cara mereka mencari rasa aman, Sayang.” Suaminya mencoba terdengar meyakinkan, meski suaranya menyimpan ragu.
“Aku rasa itu cara berpikir yang terlalu jauh, Mas,” ujar Retno lembut. “Selama ini aku tidak pernah macam-macam walau tidak punya apa pun, kecuali kamu.”
Suaminya mengangguk pelan. “Mas tahu. Tapi juga banyak dengar kalau masalah rumah tangga muncul karena kebutuhan batin tidak terpenuhi. Mas merasa sering tidak maksimal karena sering tugas keluar kota. Jadi cuma… ikut cara mereka. Supaya kamu tetap merasa dicintai.”
Retno menatapnya lebih lama. “Lalu Mas sendiri kalau lagi dinas gimana? Apa tidak pernah goyah untuk mencari wanita lain?”
Suaminya terkesiap kecil. “Astaghfirullah, tentu tidak. Mas sudah janji pada dirimu sejak awal, tidak akan main-main soal itu. Sejauh ini bisa menjaga diri.”
“Itu sama saja dengan aku, Mas,” jawab Retno tenang. “Tanpa bantuan dildo, aku juga mampu menjaga diri.”
Suaminya tersenyum, sedikit malu. “Iya, Mas percaya. Mas cuma ingin jaga-jaga kalau suatu waktu kamu merasa tidak kuat menunggu. Dan… Mas lihat kamu tampaknya menikmati persetubuhan tadi, hehehe.” Godaannya terdengar ringan, meski membuat Retno tersentak.
“Maaaas!” Retno memukul lengannya pelan sambil menahan rasa malu.
“Gak apa-apa,” ucap suaminya sambil menenangkan. “Manusia wajar ingin merasa terpenuhi. Itu normal.”
Retno mengembuskan napas, masih heran. “Mas kok jadi tahu banyak hal yang tidak pernah Mas pedulikan sebelumnya.”
Suaminya tertawa lirih. “Namanya juga sering dengar obrolan orang. Ternyata banyak pasangan menemukan cara sendiri untuk saling menenangkan. Mas jadi ikut kepikiran begitu. Terlebih lagi Mas kan memang sudah tidak seperkasa dulu…”
Retno mendekat, bersandar di bahunya. “Tapi bagiku, yang terpenting dirimu tetap ada. Selama ini aku sudah merasa cukup.”
Suaminya merangkulnya lembut. “Iya. Dan semua ini sebenarnya hanya Mas lakukan sebagai langkah tambahan, bukan pengganti apa pun. Kalau kamu merasa tak perlu, ya tidak usah dipakai. Mas cuma tidak mau kamu tersakiti karena Mas sering tidak hadir sepenuhnya.”
Retno membalas pelukannya, suaranya merendah. “Dari awal kita sepakat, yang terpenting adalah kedekatan hati. Yang lain hanya pelengkap. Dan sejauh ini kita selalu baik-baik saja.”
Suaminya mengecup kening Retno penuh kehangatan, seakan ingin menutup percakapan itu dengan sesuatu yang lebih lembut daripada kata-kata.
Namun jauh di sudut hatinya, Retno masih merasa ada banyak hal yang ingin ia tanyakan. Ia memilih diam, membiarkan malam bergerak pelan seperti tirai tipis yang menutup ruang penuh tanda tanya.
Hari-hari selanjutnya, dildo pemberian suaminya itu bukan hanya menjadi peneman saat ia ditinggal tugas, tetapi malah berubah menjadi bagian dari kebiasaan baru ketika suaminya pulang Entah mengapa suaminya jadi bersemangat saat membantu Retno mencapai puncak dengan bantuan dildo dan miliknya..
Suaminya seolah menghadirkan perubahan dan nuanasa baru dalam hubungan intim mereka, menghadirkan sesuatu yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan muncul dalam rumah tangga yang sudah berjalan dengan pola yang nyaris baku. Baik walau wakatunya relatif masih baru, sekitar empat tahun.
Beberapa kali Retno mencoba mengingatkannya agar mereka tetap menjaga batas-batas tertentu, terlebih mengingat citra suaminya sebagai sosok yang dikenal religius. Kadang ia menolak secara halus, tetapi suaminya selalu datang dengan cara yang menenangkan, membawa alasan dan rayuan yang membuat keberatan Retno perlahan mereda.
Namun semua itu ternyata tidak bertahan lama. Perlahan, semangat yang dulu menggebu mulai meredup. Retno pun merasakan kejenuhan yang tak bisa lagi ia sembunyikan. Suaminya, yang sebelumnya begitu antusias, mulai tampak kehabisan arah, seakan upayanya untuk memperbarui kedekatan itu justru membuatnya lelah.
Pada akhirnya, dildo itu ditinggalkan dan Retno membuang tanpa banyak kata. Kehidupan ranjang mereka kembali seperti semula, bahkan mulai lebih hambar, seolah jejak perubahan singkat itu malah menyisakan rongga yang tidak mudah diisi kembali. Sudah hampir setahun mereka bahkan nyaris tak pernah melakukannya lagi.
Bersambung…
Ruang tamu rumah Bu Vita tampil seperti etalase kenyamanan kelas menengah atas. Sofa krem berlapis kain impor tersusun rapi, bantal-bantalnya terlalu bersih untuk benar-benar dipeluk. AC berdengung lembut, parfum mahal saling bertabrakan, entah mawar, entah vanilla—mencipta aroma campuran yang sulit dikenali.
“Silakan duduk, Bu… eh Bu Rina ya?” suara Bu Vita lembut tapi presisi, seperti tahu persis siapa duduk di mana.
“Iya, Bu. Aduh dingin banget AC-nya,” jawab Bu Rina sambil terkekeh, meski tangannya tak bergerak sedikit pun untuk mencari remote.
Meja panjang di sudut ruangan penuh penganan cantik yang tampak lebih siap difoto daripada dimakan. Kue-kue kecil berjajar rapi, salad buah dalam mangkuk bening, dan termos bermerek yang sengaja diletakkan menghadap pintu.
“Termos barunya ya, Bu Vita?” celetuk seseorang.
Bu Vita tersenyum tipis. “Ah, biasa aja. Anak saya yang maksa.”
Para ibu duduk berkelompok, tas-tas berbaris di samping kursi seperti piala sunyi. Obrolan mengalir ringan namun berkilau.
“Kemarin ke Jepang dingin banget, lho,” kata Bu Maya, nada suaranya seolah menahan detail agar tak terdengar pamer.
“Ih, enak ya… aku mah ke Bandung aja udah bersyukur,” sahut yang lain, tertawa kecil.
“Aduh, sopir baru saya tuh,” lanjut Bu Maya tanpa diminta, “jalannya muter-muter. Katanya GPS-nya ngaco, padahal rumah saya kan tinggal masuk dikit.”
Tawa terdengar terukur, dijaga rapi sesuai citra. Bu Vita bergerak anggun dari satu kelompok ke kelompok lain.
“Makanannya kurang nggak, Bu?”
“Cukup, Bu, lengkap banget.”
“Kalau kurang bilang ya.”
Retno datang belakangan. Begitu ia melangkah masuk, ritme ruangan seperti bergeser satu ketukan. Kursi khusus sudah menunggunya, strategis dan mencolok.
“Oh, Bu Gofur datang,” kata seseorang agak terlalu keras.
“Iya, Bu, sini duduk. Ini memang disiapkan buat Bu Gofur,” sambung yang lain dengan senyum dilebihkan.
Retno membalas dengan anggukan kecil. “Maaf telat, tadi ada sedikit urusan.”
Tasnya sederhana. Justru itu yang membuat beberapa mata tertahan lebih lama. Nama suaminya, dari lingkungan Departemen Agama, melayang-layang tanpa perlu disebut.
“Pak Gofur sehat, Bu?” tanya Bu Vita ramah.
“Alhamdulillah,” jawab Retno singkat.
Percakapan di sekitarnya menyesuaikan arah, topik-topik kecil mendadak digeser ke arah yang lebih “aman”. Tanpa diumumkan, semua paham: arisan hari itu bukan sekadar undian, tapi panggung kecil tempat status dan cerita saling berkilau.
Setelah pengocokan selesai, tepuk tangan menggema.
“Alhamdulillah, rezekinya lancar,” seru seseorang.
“Wah, giliran saya masih lama ya,” sahut yang lain setengah mengeluh, setengah berharap.
Beberapa ibu langsung meraih ponsel.
“Foto dulu, dong.”
“Kirim ke grup ya.”
“Biar update.”
Makan siang datang seperti aba-aba tak tertulis. Para ibu bergerak membentuk gerombolan-gerombolan kecil.
“Eh kita sini aja.”
“Jangan situ, penuh.”
“Ayo gabung.”
Meja makan panjang berubah jadi peta sosial.
Di satu sisi, tawa meledak-ledak.
“Dokter itu mahal, tapi hasilnya kelihatan.”
“Skincare ini katanya dipakai artis, lho.”
“Ih, artis yang mana? Aku nggak kenal.”
Di sisi lain, suara lebih rendah tapi tajam.
“Katanya sih…”
“Ya, tapi jangan bilang-bilang.”
Retno memilih duduk bersama empat ibu senior di pojok dekat jendela.
“Ambil sedikit aja ya, Tante,” kata Bu Ida.
“Iya, Bu,” jawab Retno sambil tersenyum.
“Harga tanah sekarang aneh,” ujar Bu Lela sambil mengaduk sup.
“Naiknya cepat banget, nggak jelas sebabnya.”
“Namanya juga sekarang,” sahut yang lain.
“Anak bungsuku tuh,” lanjut Bu Ida, “terlalu pintar. Malah susah dapat jodoh.”
“Waduh, kebanyakan mikir kali,” timpal Bu Lela.
Tawa kecil terdengar, lalu obrolan meloncat lagi.
“Rumah dinas lama itu masih sering ‘ngingetin’,” kata Bu Ida, suaranya diturunkan.
“Masa sih?”
“Serius. Penghuninya suka dengar suara langkah.”
Retno ikut mencondongkan badan, meski wajahnya tetap netral. Ia lebih banyak mengangguk, tertawa kecil di tempat yang dirasa tepat, tangannya sibuk dengan sendok dan air putih. Ia merasa seperti tamu di negeri asing—paham bahasanya, tapi belum berani bercakap bebas.
Lalu suasana berubah.
Bu Ida mencondongkan badan lebih jauh. “Ngomong-ngomong soal keluarga harmonis,” katanya pelan, “kalian dengar kabar Bu Vivin?”
Nama itu jatuh ke meja.
Retno membeku sejenak.
“Bu Vivin? Yang selalu bareng Pak Martin?” tanya seseorang.
“Iya,” jawab Bu Lela cepat. “Katanya sudah masuk gugatan cerai.”
Sendok Retno berhenti di udara.
“Loh, kenapa?”
“Pak Martin itu, katanya sudah loyo,” bisik Bu Lela.
“Bukan cuma capek, benar-benar… ya gitu deh.”
Nada suara mereka campur aduk antara iba dan rasa ingin tahu.
“Yang bikin heboh,” Bu Ida menutup mulut dengan punggung tangan, “Bu Vivin sekarang malah ketagihan… mainan dildo yang dipesan online itu.”
Waktu seperti tersandung. Retno terbatuk kecil. “Uhuk….maaf,” katanya cepat sambil meraih air. Dadanya berdebar tidak sopan.
Para ibu saling pandang. Ada yang menggeleng pelan, ada pula yang mengangkat alis tinggi-tinggi.
“Zaman sekarang ya, aneh-aneh saja padahal mereka kan udah sepuh, Bu Vivin udah mau 55 kan?” gumam seseorang.
“Kasihan juga sebenarnya.”
Retno menunduk, berpura-pura sibuk dengan mangkuknya. Ia tak tahu mana yang lebih mengejutkan: kabar itu sendiri, atau betapa mudahnya cerita sebesar itu diucapkan di meja makan yang masih berbau kuah kaldu.
Arisan bubar tanpa penutup resmi.
“Duluan ya, Bu.”
“Iya, hati-hati.”
“Nanti kita WA-an lagi.”
Para ibu pulang bergelombang. Ada yang masih tertawa di teras, ada yang sudah berbisik di balik pintu mobil. Rumah Bu Vita kembali rapi, tapi sisa-sisa cerita tertinggal di udara, lengket, dan sulit diusir.
Di rumahnya, Retno duduk sendirian lebih lama dari biasanya. Tas arisan masih tergeletak di kursi, belum ia sentuh. Kepalanya penuh. Gosip tentang Bu Vivin berputar-putar tanpa izin, terlalu jelas, terlalu dekat. Setiap potongan cerita terasa seperti cermin buram yang memantulkan sesuatu dari hidupnya sendiri.
Ia menarik napas panjang. Apa yang dialami Bu Vivin, hampir saja menjadi kisahnya. Atau mungkin, sebagian darinya sedang ia jalani. Ingatannya melayang pada sebuah hadiah dari suaminya dulu, diberikan dengan niat baik, mungkin juga dengan rasa bersalah yang tak diucapkan. Benda itu sempat mengisi ruang sunyi yang tak pernah benar-benar ia akui. Nyaris membuatnya lupa diri. Nyaris.
Ia bersyukur sudah membuangnya. Benar-benar membuang dan membakarnya, tanpa menoleh lagi yang tersisa hanya abu. Namun rasa waswas itu tetap ada, tipis tapi tajam, seperti benang halus yang menjerat pikiran. Ia takut pada dirinya sendiri, pada kemungkinan tergoda kembali. Terlebih kini, ketika usia suaminya semakin sepuh, jarak yang dulu hanya samar terasa kian nyata.
Retno menatap ruang tamu yang hening. Tidak ada gosip di sana, tidak ada bisik-bisik, hanya detak jam dinding yang jujur dan tak peduli. Ia menyadari satu hal yang membuat dadanya menghangat sekaligus ciut. Bebas dari benda itu bukan akhir cerita.
Justru mungkin awal dari kewaspadaan baru. Dan di balik ketenangan sore itu, Retno tahu, godaan tak selalu datang dengan wajah asing. Kadang, ia datang membawa nama orang lain, lewat gosip di meja makan, dan menetap diam-diam di hati.
Yang paling membuat Retno heran, sekaligus takut, justru bukan isi gosip itu sendiri, melainkan jalurnya. Bagaimana sesuatu yang sedemikian pribadi, sedemikian tertutup, bisa mengalir mulus dari ruang tidur seseorang hingga mendarat rapi di meja arisan ibu-ibu kompleks. Tanpa tersangkut. Tanpa rem. Seolah dinding rumah tak pernah benar-benar ada.
Ia memejamkan mata, mencoba menelusuri kemungkinan-kemungkinan yang membuat tengkuknya meremang. Apakah dari asisten rumah tangga yang terlalu lama tinggal lalu terlalu banyak bercerita. Atau dari sopir yang menunggu terlalu sabar di garasi sambil mendengar pertengkaran yang tak sengaja bocor.
Bisa juga dari sahabat yang awalnya hanya tempat curhat, lalu satu kalimat itu terlepas, berpindah mulut, membelah diri, beranak-pinak, sampai akhirnya tiba dalam versi yang lebih berani, lebih liar.
Retno menggigit bibir. Di lingkungan ini, reputasi berjalan lebih cepat daripada kebenaran. Yang privat tidak benar-benar privat. Yang rahasia hanya menunggu waktu untuk menemukan panggungnya. Dan ia sadar, gosip Bu Vivin bukan sekadar cerita orang lain. Itu peringatan sunyi. Bahwa hidup yang tampak rapi dari luar bisa saja berlubang di dalam, dan lubang itu, entah bagaimana caranya, selalu berhasil ditemukan orang lain.
Ia menatap sekeliling rumahnya sendiri. Dinding-dindingnya terasa lebih tipis dari biasanya. Retno mendadak berhati-hati pada siapa pun yang pernah ia ajak bicara terlalu jujur, pada kalimat-kalimat yang mungkin dulu ia ucapkan tanpa beban. Ketakutannya kini bergeser. Bukan hanya takut tergoda lagi, tetapi takut suatu hari namanya disebut dalam gosip serupa.
Gosip Bu Vivin tak berhenti di arisan. Ia bocor ke warung, ke kerumunan tukang sayur, diucapkan sambil tertawa ringan seolah tak membawa beban. Retno mendengarnya sekilas demi sekilas, dan setiap kali dadanya mengencang.
Ia mulai menarik diri, rapi dan pelan. Pergaulan dipersempit hanya pada kegiatan resmi kemasyarakatan. Undangan kecil dihindari. Bahkan senam bersama ia tinggalkan, memilih bergerak sendiri di belakang rumah, ditemani tembok dan jemuran.
Namun ketakutannya tak menyusut. Justru mengental. Semakin gosip itu beredar, semakin Retno merasa cerita itu bukan tentang Bu Vivin. Terlalu dekat. Terlalu pas. Seolah gosip itu hanya menumpang nama orang lain, menunggu waktu untuk menyebut namanya sendiri.
Bersambung…
Retno duduk sendirian di taman belakang rumahnya. Angin malam mengusap kulitnya pelan, daun jambu bergerak lirih seolah ikut menghela napas panjang bersamanya. Daster tipis yang ia kenakan bergerak ringan terkena angin, jauh dari pakaian yang biasa ia pakai saat di luar rumah atau di acara-acara kantor suaminya.
Di kursi rotan itu, di halaman belakang… ia bisa jadi dirinya sendiri, tanpa topeng, tanpa tuntutan. Ia menatap langit yang bertabur bintang. Dari luar, hidupnya tampak lengkap. Tapi dari dalam… ada kekosongan yang menggigit. Ia mengusap lengan sendiri, berdesir perasaan yang tidak punya nama: campuran kesepian, lelah, dan semacam rindu yang bahkan ia sendiri tak tahu ditujukan untuk siapa.
Di tengah keheningan itu, terdengar suara ranting kecil patah dari arah samping, cukup membuyarkan lamunannya. Retno menoleh. Dari balik pagar tanaman, muncul sosok Egar, pemuda tetangga yang baru pulang main. Egar berusia 20an, tampak setengah lelah, setengah kaget melihat Retno duduk sendirian di luar.
“Oh… malem, Tante,” sapanya pelan sambil mengangguk.
Retno tersenyum tipis. “Malam juga, Gar. Baru pulang kerja?”
“Hmm… iya, Tante ada lembur dikit.” Egar hendak masuk, tapi langkahnya berhenti. Ia menatap Retno sebentar, sekadar satu detik terlalu lama dibanding biasanya.
Retno menegakkan duduknya. Ada sesuatu dalam cara pemuda itu menatapnya. Bukan kurang ajar, bukan iseng, tapi mungkin agak kaget dengan pakaiannya. Sebuah perhatian khusus yang sudah lama tidak Retno terima dari siapa pun.
“Tante nggak kedingina? Dingin loh malam ini?” tanya Egar hati-hati.
Retno mengulas senyum kecil, lembut tapi letih. “Lagi butuh angin segar, sebentar.”
“Pak Haji belum pulang ya, Tante.”
“Biasa dinas luar, Gar.”
Egar mengangguk. Ia tampak ragu, tapi akhirnya berkata, “Kalau Tante… butuh teman duduk sebentar, aku bisa temenin, kok.” Ada jeda lima detik. Lima detik di mana Retno merasa dadanya terasa hangat aneh. Bukan menggoda, tapi hangat… dihargai. Lantas dia menepuk bangku di sebelahnya.
“Sini temenin Tante. Anginnya enak, Gar.” Egar mendekat pelan, duduk dengan sopan, menjaga jarak. Tapi kehadirannya saja sudah cukup untuk mengubah suasana.
“Gimana, Tan… hari ini capek?” tanya Egar, ragu-ragu. Retno menatap gelap taman. “Capek… tapi bukan capek badan.”
“Capek hati?” tanya Egar pelan, tapi tepat sasaran.
Retno terkesiap sedikit. Lalu menarik napas panjang, melepaskan beban. “Kamu tahu, Gar…” ucapnya lirih, “rumah ini besar. Tapi kadang rasanya… sesempit-sesempitnya ruang.”
Egar menunduk, suaranya rendah. “Sepi itu gitu, Tan. Kalau datang, nggak lihat umur, nggak lihat rumah, nggak lihat siapa kita.”
Perkataan sederhana itu mengenai di hati Retno. Ia tersenyum getir. Senyum seseorang yang akhirnya ada yang mendengar. “Kamu kok bisa ngomong gitu, Gar?”
Egar mengangkat pundaknya. “Ya… soalnya aku sering sepi juga, Tan.”
Egar terdiam sejenak, lalu menoleh lagi, ragu namun jujur. “Tante… boleh aku nanya sesuatu nggak?”
Retno menoleh, mengangguk pelan. “Nanya apa?”
“Sudah lama sekali, aku ngerasa Tante itu… kayak menarik diri,” katanya memilih kata dengan hati-hati, seolah berjalan di lantai licin. “Maksudku, Tante jarang kelihatan ikut kumpul, jarang keluar, kayak selalu jaga jarak dengan semua warga. Maaf ya kalau salah.”
Retno memejamkan mata sesaat. Pertanyaan itu seperti mengetuk pintu yang sudah lama ia ganjal dengan kursi dari dalam. Ia menarik napas panjang, terasa berat di dada.
“Bukan salah,” katanya pelan. “Kamu nggak salah lihat.” Ia menatap tangannya sendiri. “Tante capek, Gar. Capek harus selalu hati-hati. Capek mikirin omongan orang. Capek nimbang-nimbang mana yang pantas, mana yang bisa bikin salah paham.”
Retno tersenyum kecil, senyum yang lebih mirip kelelahan daripada bahagia. “Lama-lama… Tante belajar membatasi. Bukan karena mau, tapi karena takut. Takut dibilang macam-macam. Takut nyusahin suami. Takut jadi bahan cerita yang berputar-putar di belakang.”
Ia menelan ludah. “Dan tanpa sadar, batas itu makin sempit. Sampai akhirnya Tante sendiri yang terkurung.”
Egar mendengarkan tanpa menyela. Matanya tidak menghakimi, hanya penuh perhatian. “Berat ya, Tan,” katanya lirih.
Retno mengangguk. “Kadang Tante kangen versi diri Tante yang dulu. Yang bisa ketawa keras, yang nggak kebanyakan mikir. Tapi sekarang… rasanya harus selalu rapi, selalu benar. Kalau sendirian begini baru Tante berani bernapas.”
Malam semakin larut dan Retno merasa… tidak sendirian. Angin malam makin pelan, seperti ikut mendengarkan percakapan dua manusia yang jarang benar-benar didengar.
“Gar…” katanya perlahan, “Tante ini kadang merasa… gagal jadi ibu.”
Egar menoleh sedikit. “Kenapa ngomong gitu, Tan?” Retno menarik napas panjang. “Karena anak-anak Tante ikut ayahnya. Orang bilang ibu itu tempat pulang… tapi dua anak Tante pulangnya bukan ke sini, ke ayahnya. Sementara anak-anak Pak Haji juga pulangnya gak ke sini,” ucapnya diikuti tawa sumbang.
“Kadang Tante iri sama ibu yang bisa bangun pagi lihat anaknya sarapan. Kangen suara berantem kecil di rumah. Rumah besar gini… kok sunyi banget, Gar.”
Egar tidak buru-buru menjawab. Dari samping, wajah pemuda itu terlihat lembut, jauh dari kesan cuek yang sering muncul ketika ia mengobrol dengan teman-teman seusianya.
“Tante…” ucapnya hati-hati, “Tante bukan gagal. Kadang hidup… ya muter aja gitu. Ada yang kita mau, tapi nggak bisa kita pegang.”
Retno menatap matanya. Ada sesuatu di tatapan Egar, ketulusan yang membuatnya merasa lebih ringan. “Terima kasih ya… kamu ngomongnya selalu pas.”
Egar tersenyum kecil. “Aku cuma ngomong apa yang aku lihat, Tan. Dan yang aku lihat… Tante tuh orang baik.”
Retno menunduk. Ucapan sederhana itu terasa seperti obat.
“Aku ini, Tan… nggak pernah tahu siapa ibu kandungku.” Retno refleks menoleh.
“Ibuku katanya orang Banglades, aku dilahirkan ketika ayah menjadi TKI di Malaysia,” lanjutnya, “Katanya sempat nikah sama ibuku itu. Tapi ya gitu… nggak pernah jelas. Nggak ada dokumen apa-apa. Waktu aku lahir, dia lamgsung ninggalin ayah karena gak mau dibawa ke Indonesia.”
Egar menarik napas kecil. Tangannya meremas ujung celananya, gugup tapi jujur.
“Aku tumbuh sama ayah dan istri barunya. Ibu tiriku baik sih… tapi ya tetap aja… beda. Ada tembok yang nggak bisa ditembus. Kadang aku bantu mereka jaga toko di pasar kalau bengkel lagi sepi.”
Egar menunduk, tersenyum miris. “Orang-orang suka nanya aku orang India mana. Padahal ya… aku sendiri nggak tahu sebenarnya aku ini siapa.”
Retno merasakan sesuatu bergerak halus di dadanya, bukan iba, tapi semacam rasa ingin merangkul seseorang yang sudah terlalu lama bertahan sendirian dan merindukan ibunya.
“Gar…” katanya pelan, “kamu nggak harus ketawa waktu cerita hal kayak gitu.”
Egar menatapnya sebentar, mata hitamnya jujur. “Kalau aku nggak ketawa, aku pasti nangis, Tan,” katanya ringan namun menyayat. Retno terdiam.
Hening yang jatuh di antara mereka bukan hening asing, lebih seperti dua jiwa yang sama-sama membuka pintu kecil di hatinya dan menemukan seseorang di seberang sana sedang melakukan hal yang sama. Ia mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Egar sebentar, singkat, sopan, tidak berlebihan, sebuah sentuhan yang lebih seperti “aku dengar kamu” daripada apa pun.
“Kamu kuat, Gar,” katanya. “Dan kamu berhak bahagia.” Pemuda itu tersenyum lebih dalam, kali ini tanpa getir.
“Tante juga.” balas Egar.
Untuk pertama kalinya malam itu, keduanya sama-sama merasa tidak sedang berada di dunia yang melawan mereka. Untuk satu momen kecil, yang tersisa hanyalah kehangatan dua manusia yang saling memahami tanpa perlu membuktikan apa-apa.
Percakapan mereka akhirnya mereda ketika jarum jam sudah melewati angka sepuluh. Angin mulai menusuk kulit, dan lampu-lampu rumah tetangga satu per satu padam. Egar menghela napas pelan, lalu berdiri sambil mengambil tas kecilnya.
“Tan, aku balik dulu ya. Besok subuh harus ke pasar dulu, bantu ayah,” katanya sambil tersenyum.
Retno ikut berdiri, meski sebagian hatinya terasa berat. “Iya, Gar. Hati-hati ya.”
“Terima kasih, Tan.” Ia melangkah pergi melalui jalan samping yang memisahkan halaman rumah mereka. Sesekali ia menoleh sekilas sambil tersenyum canggung… lalu menghilang ke arah rumah orang tuanya.
Orang memanggilnya Bu Gofur, Bu Haji, Bu Retno. Tapi yang paling sering dan paling pas di telinganya tetap ‘Tante Retno.’ Ia bahkan suka geli sendiri kalau ada yang memanggilnya ‘Bu Haji’ karena yang berhaji sebenarnya hanya suaminya, jauh sebelum menikah dengannya. Hidup Retno sendiri bukan jalan lurus.
Di usia 35, ia sudah dua kali menjadi pengantin. Pernikahan pertamanya memberinya dua anak sekaligus luka yang tak singkat, suaminya tak pernah bisa setia. Ketika akhirnya berpisah, anak-anak ikut ayahnya karena kondisi ekonomi. Itu bagian paling menyakitkan yang masih terasa sampai sekarang.
Setahun setelah perceraian, ia menikah dengan Haji Gofur, duda 60 tahun dengan empat anak: Ghea, Ganjar, Gerald, dan Gifar. Hanya Gerald yang benar-benar dekat dengannya, bahkan memanggilnya ‘Mama’; sisanya sopan, tapi tetap menjaga jarak, memanggilnya pun ‘Tante.’
Retno bukan perempuan yang terlalu taat dalam beragama, tapi setelah menjadi istri Haji Gofur, ia belajar menyesuaikan diri demi menjaga kehormatan suaminya yang dihormati kolega di Departemen Agama. Hidupnya kini tenang, stabil, dan berkecukupan, sesuatu yang dulu tak pernah ia rasakan. Namun di balik ketenangan itu, ada ruang kosong yang semakin terasa.
Ia berusaha maklum; ia merasa tak pantas menuntut apa-apa lagi. Tapi kebutuhan batin tetap ada, dan semakin hari semakin sulit ia abaikan. Suaminya pun jujur soal kelemahannya, bahkan pernah melontarkan candaan getir tentang dirinya mencari “pelampiasan” asalkan ia tahu.
Kalimat itu justru terasa seperti jebakan, bukan izin.
Bagi Retno, kesetiaan adalah harga diri. Apalagi sebagai istri seorang tokoh bergelar Haji, ia tak mau jadi bahan omongan orang sekompleks atau sekantor suaminya.
Dan begitulah keseharian Retno, hidup di rumah besar yang serba cukup, tapi di dalam dirinya ada kesunyian yang sulit ia isi, sebuah kekosongan yang terus menggaung, tak peduli seberapa keras ia mencoba menahannya.
Bersambung…
Pagi itu sebenarnya biasa saja. Matahari baru naik setengah, ayam tetangga masih ribut, dan pasar masih belum sepenuhnya ramai. Tapi buat Retno… rasanya kayak ada sesuatu yang berubah di udara.
Dari jendela lantai duanya, tirai tipis melambai pelan kena angin. Ia hanya bermaksud melihat halaman belakang sebentar, cek tanaman, cek cucian, hal-hal kecil yang biasa ia lakukan sebelum mulai hari. Tapi pandangannya otomatis tertarik pada sosok di bawah seseorang yang mulai sedikit mengganggu pikirannya.
Egar sedang menyapu daun-daun kering di halaman rumahnya. Kaosnya entah di mana, hanya celana pendek lusuh dan bertelanjang kaki, tapi justru itu yang bikin semuanya terasa… terlalu nyata. Kulitnya gelap kecokelatan, otot-ototnya kebentuk karena kerja, bukan gym. Keringatnya mengilap, mengalir turun mengikuti garis tubuh yang dulu tak pernah ia perhatikan sedetail ini.
Jantung Retno berdetak lebih cepat dari seharusnya.
“Kenapa aku jadi begini…” bisiknya sambil menempelkan punggung tangan ke bibir sendiri, seperti hendak menahan sesuatu yang tak seharusnya muncul.
Dulu, Egar cuma anak yang sering main sama Gerald. Remaja polos yang kadang datang ikut makan, nonton bola, atau bantu-bantu kecil di rumah ketika Gerald masih tinggal bersama mereka. Bahkan pernah menginap di kamar Gerald sambil belajar kelompok. Retno ingat, Gerald memperlakukan Egar seperti sepupu jauh, Retno sendiri menilai Egar sebagai sahabat terbaik anak tirinya itu..
Tapi semenjak mereka ngobrol berdua di malam itu, dan pagi ini… entah kenapa cara pndangnya kini mulai berubah. Garis itu sepertinya mulai goyah. Mungkin karena malam itu Egar bercerita panjang, membuka sisi hidup dirinya yang selama ini tak pernah Retno ketahui.
Tentang ibu titinya, ibu kandungnya juga ayah dan kedua adik tirinya.. Tentang bengkel tempatnya bekerja dan tentang beberapa gadis yang berusaha mendekatinya namun selalu dia tolak dengan halus karena tidak percaya diri. Juga tentang hidupnya yang kadang kesepian, kadang sibuk yang sebenarnya tak perlu. Tentang masa kecilnya di Malaysia yang ia sendiri samar-samar mengingatnya.
Retno menelan ludah.
Di bawah sana, Egar berhenti sebentar, mengusap keningnya dengan punggung tangan. Gerakannya tampak natural, nggak dibuat-buat. Dia bahkan nggak sadar sedang diperhatikan.
Retno buru-buru memalingkan wajah, tapi hanya sedetik, karena rasa penasaran menarik kepalanya kembali ke jendela.
Aneh. Retno merasa seperti remaja lagi, yang sembunyi-sembunyi melihat seseorang dari kejauhan. Ada getaran aneh di dadanya. Bukan takut. Bukan salah. Lebih seperti… tersentuh campur deg-degan, nuansa yang jarang ia rasakan sejak lama.
Ia menutup tirai perlahan.
“Sudahlah, Retno… jangan konyol,” gumamnya pada diri sendiri.
Tapi tubuhnya tetap hangat. Dan jantungnya masih belum mau tenang.
Egar selesai menyapu dan berjalan ke arah semak-semak di sudut halaman, tepat di bawah jendela kamar Retno. Ia bergerak santai, sama sekali tidak menoleh ke atas. Jelas ia tidak tahu bahwa ada seseorang yang memperhatikannya dari balik tirai.
Retno semula hanya mengintip sekilas, tapi begitu melihat Egar melangkah ke area itu, tempat yang sering dipakai lelaki kampung untuk buang air kecil kalau lagi buru-buru, hatinya refleks menegang.
“Eh… jangan bilang dia… mau…” Retno menahan napas.
Dan benar saja. Setelah menengok kanan-kiri memastikan tidak ada orang lewat, Egar melakukan hal yang sangat… biasa bagi lelaki yang hidup di kampung, tapi sangat tidak biasa untuk disaksikan secara langsung dari sudut pandang seseorang yang seharusnya tidak melihat.
Ia membungkuk sedikit ke depan, bersiap buang air kecil.
Refleks, Retno menutup mulutnya dengan tangan. Ia sempat memalingkan wajah, tapi… rasa terkejut dan rasa lain yang ia sendiri tak bisa definisikan membuat tubuhnya kaku di tempat.
Ia tidak melihat apa-apa secara detail, tirai dan jarak jendela membuat segalanya tertutup bayangan, tapi postur tubuh Egar, kepercayaan dirinya, dan ketidaksadarannya bahwa sedang diperhatikan… justru membuat detak jantung Retno melonjak.
“Astaga… Egar…” gumamnya dengan suara hampir hilang.
Ada sensasi aneh di dada Retno, campuran antara kikuk, canggung, dan sesuatu yang ia tidak berani beri nama. Bukan karena apa yang dilakukan Egar, tapi karena dirinya sendiri… karena ia merasakan sesuatu yang seharusnya tidak terasa.
Ia buru-buru mundur dari jendela, memegang dadanya, mencoba bernapas lebih pelan.
“Retno, kamu itu kenapa…” ucapnya lirih.
Tapi bayangan Egar barusan tetap menempel di kepala, bukan hal yang dia lakukan, tapi cara Egar bergerak… cara ia sama sekali tidak sadar sedang membuka celananya scara natural, Bayangan hitam batang rudal Bangla-nya yang tampak begitu besar dan panjang walau dalam keadaan loyo terlihat sangat nyata. Mengingatkan Retno pada dildo yang pernah menjadi teman akrabnya saat kesepian dulu dan kini sudah dibuangnya.
Retno mundur selangkah dari jendela, punggungnya bersandar dinding kamar yang dingin. Napasnya masih tersengal, tapi bukan karena lelah, malah sebaliknya, ada panas yang merayap dari dada ke perutnya, lambat tapi pasti.
Ia menggigit bibir bawah, mencoba mengusir bayangan itu: siluet gelap rudal Egar begitu jelas. ‘Gila, besar panjang banget, bahkan saat sedang tidak berdiri, Pikiran itu muncul begitu saja, tanpa diundang, membuat pipinya mendadak merah.
Ia berjalan pelan ke cermin kecil di sudut kamar, memandang wajahnya sendiri. Usia 37 garis halus di sudut mata, tapi matanya masih tajam, bibirnya penuh.
“Retno, kamu gila ya?” gumamnya lagi, tapi suaranya tak meyakinkan.
Suaminya, sudah lama tak membuatnya merasa seperti ini, stamina menurun, rutinitas yang hambar. Anak-anak sudah besar, rumah terasa sepi. Egar? Dia bukan lagi anak kecil. Dia lelaki, berdarah Bangladesh dengan darah panas yang terpancar dari setiap gerakannya.
Tiba-tiba, suara langkah di tangga bawah membuatnya tersentak.
Egar? Atau cuma imajinasi? Hatinya berdegup kencang. Ia buru-buru merapikan daster tipisnya yang sedikit tergeser, memperlihatkan lekuk pinggulnya yang masih kencang.
Pintu kamar terbuka pelan dari luar, bukan Egar, tapi Bi Inah yang biasa membantu membersihkan rumhanya pagi-pagi.
“Bu, sarapan sudah siap. Ada Egar juga mau bantu angkat galon,” kata Bi Inah polos.
Retno mengangguk cepat, tapi pikirannya melayang lagi ke halaman belakang.
‘Apa jadinya kalau Egar naik ke sini?’ pikirannya kotor dan tubuhnya bereaksi sendiri, hangat di antara paha.
Retno menelan ludah, memutuskan turun, mungkin bertemu Egar di dapur, bicara biasa, tapi dengan tatapan yang kini berbeda. Garis batas itu semakin tipis, dan Retno tahu, hari ini bukan hari biasa lagi.
Retno turun hendak sarapan. Ia langsung menelan ludah, jantungnya berdebar kencang saat Egar berjalan melewati ambang pintu dapur, masih mengenakan celana pendek kolor. Udara di dapur seolah menipis, dan setiap gerakannya menarik perhatian Retno.
Egar membungkuk untuk mengangkat galon, dan saat itulah, garis batas pandangan Retno melampaui kebiasaan. Siluet rudal Egar yang besar dan panjang terpampang jelas di balik kain tipis celana kolornya.
Bentuknya yang menonjol dan memanjang, bahkan dalam kondisi rileks, membuat napas Retno tertahan. Sebuah getaran aneh menjalari tubuhnya, campuran antara keterkejutan dan daya tarik yang tak terduga.
Retno buru-buru memalingkan wajah, berpura-pura sibuk membolak-balikkan sarapan di piring. Pikirannya kalut. Ini bukan lagi sekadar bayangan samar dari jendela, ini adalah pemandangan yang begitu dekat, begitu nyata.
Aroma keringat Egar yang maskulin, bercampur dengan bau sabun, menusuk indra penciumannya. Ia mencoba menenangkan diri, mengingatkan statusnya sebagai ibu rumah tangga, seorang istri, namun sensasi aneh yang dirasakannya begitu kuat.
Egar sendiri tampak tidak menyadari apa-apa, ia hanya fokus mengangkat galon dan meletakkannya di dispenser.
“Berat juga ya, Tan,” katanya sambil sedikit terengah. Suaranya yang serak dan dalam membuat Retno semakin tak fokus.
Retno hanya bisa bergumam “Iya, Gar,” tanpa berani menoleh lagi.
Retno menunggu hingga suara langkah Egar menghilang di halaman belakang, pintu gerbang berderit pelan menutup. Napasnya yang tertahan sejak tadi baru dilepaskan, tapi panas di tubuhnya justru semakin membara.
Tanpa pikir panjang, ia bergegas naik tangga menuju lantai dua, daster tipisnya menempel lengket di kulit karena keringat halus yang muncul entah dari mana. Kamarnya sudah menanti, ranjang dengan sprei katun putih yang rapi, tirai masih setengah tertutup menyisakan cahaya pagi yang lembut.
Retno merebahkan diri di ranjang, punggungnya menyandar bantal empuk. Tangan kanannya gemetar saat menyusup ke bawah daster, menelusuri paha dalam yang sudah lembab. Mengulang kembali kebiasaan lama, masturbasi. Namun kali tanpa dildo di tangannya, tapi isi kepalanya penuh oleh imajinasi lair oleh dildonya Egar.
“Egar… astaga,” desahnya pelan, mata terpejam rapat.
Bayangan rudal Bangla yang besar dan panjang di balik celana kolor tipis Egar, menonjol tegas dengan gairs urat-uratnya yang samar terlihat sepertinya dia juga sedang berdiri. Retno sangat yakin Egar tak mengenakan sempak di balik kolornya.
“Oooh gede bangeeet Egaaar…” lenguhnya, membayangkan bagaimana nikmatnya jika rudal yang diperkirakan ukurannya mencapai 21+ sentimeter itu menelusup masuk ke dalam dirinya. Jari-jarinya mulai bergerak lincah, menggesek klitoris yang sudah bengkak sensitif, sementara dua jari lainnya menyusup ke dalam yang basah kuyup.
Gerakan tangannya makin cepat, ritmis, mengikuti imajinasi liar, membayangkan Egar di atas tubuhnya, dada bidangnya menekan payudaranya yang montok, pinggulnya mendorong kuat, rudal raksasanya mengisi penuh hingga ke rahimnya.
“Ah… Egar, masukin yang dalam-dalam… gede banget punya kamu,” erangnya tertahan, pinggulnya terangkat sendiri, bokongnya menggeliat di sprei.
Keringat mengalir di lehernya, putingnya mengeras menonjol di balik daster, ia meremas payudara kirinya dengan tangan kiri, mencubit puting hingga sensasi listrik menjalar ke seluruh tubuh.
Puncaknya datang tiba-tiba, tubuhnya menegang kaku, lembah basahnya berdenyut kuat menyemburkan cairan hangat membasahi jari dan sprei.
“Egaaarrr!” erangnya berbisik, menggigit bantal agar tak terdengar Bi Inah di bawah.
Gelombang orgasme bergulung dua kali, tubuhnya kejang pelan, napas tersengal panjang. Ia terbaring lemas, mata setengah terbuka, tapi bayangan Egar masih menari-nari, membuatnya tersenyum nakal.
Retno terkulai lemas di ranjang, tubuhnya basah kuyup keringat, sprei kusut menempel lengket di paha dan pinggulnya. Orgasme yang baru saja mengguncangnya begitu hebat, gelombang kenikmatan yang sudah lama tak ia rasakan.
Bersambung…
Setelah selesai berdandan, Retno bergegas ke gym. Awalnya, ia ingin minta Egar mengantar, tapi ia urungkan; takut Egar sibuk janjian teman atau bantu orang tuanya jualan di pasar.
Sepanjang perjalanan, pikiran Retno terperangkap pada Egar. Senjata laras panjangnya yang sempat ia intip, begitu mendebarkan, membuat jantungnya berdegup tak karuan. Ini bukan Retno biasanya, ia tak pernah bergoda pria lain, meski rudal suaminya sudah lama tak disentuhnya.
Sekitar jam sepuluh pagi, ia tiba di gym yang sepi, tertutup rapat untuk Sabtu ini, dibooking Retno dan sebelas sosialita istri-istri pejabat menengah dari berbagai perusahaan. Ia duduk santai di depan kamar ganti, membaca cerita ‘Digilir Suami Orang’ karya Demar di Hinovel, larut dalam petualangan Vina dan Gilang yang panas membara.
“Eh, Bu Gofur udah duluan?” suara Diana mengagetkan, membuat Retno tersentak.
“Hai Din, baru bentar kok. Eh, itu siapa? Gebetan baru?” tanya Retno blak-blakan, mata tertuju pada lelaki muda agak jauh di sana.
“Hehe, bukan. Kevin, keponakan jauh suamiku,” jawab Diana sambil peluk cipika-cipiki Retno.
“Keponakan apaan? Dasar kamu mesum! Hati-hati kena karma, ya!” goda Retno sambil cengengesan.
“Eh, Kevin yang ngejar-ngejar aku, wek!” Diana menjulurkan lidah genit.
“Serah deh. aku ganti baju dulu,” Retno ngeloyor ke kamar ganti, tapi sempat melirik Kevin. Mahasiswa seusia Gifar, anak tirinya, tampan berwajah cerah, tapi Egar lebih gagah, ototnya berwibawa.
‘Kenapa aku bandingin semua cowok sama Egar? Ingat, Retno, kamu udah berumah tangga. Egar tetangga baik, jangan diganggu. Fokus suamimu’ bentaknya dalam hati, dadanya mendadak sesak.
Di geng sosialita, Diana paling muda, paling genit dan paling berani. Sering bawa cowok muda, pamer mesra, lalu ditawarin ke teman-temannya dengan harga. Retno satu-satunya yang belum pernah tergoda dengan dagangan Diana.
Keluar kamar ganti, Retno lihat Diana dan Kevin sedang melakukan pemanasan, tapi lebih mirip rayuan mesra. Matanya membelalak: selangkangan Kevin membuncit mencolok di celana gym ketatnya, bentuk rudal ereksinya jelas terbayang.
Pikiran Retno melayang ke Egar. ‘Begini kah punya dia? Gila, anak muda zaman now penisnya pada gede semua. Jangan-jangan semua anak tiriku juga…’ Ia telan menudah kering, mata susah terlepas, meski hati menjerit: “Stop, Retno! Kamu sudah gila apa?”
“Hai, sendirian aja, Bu?” Tepukan pundak tiba-tiba membuat Retno loncat. Farah!
“Eh, gak kok, ada Diana sama temennya. Bu Farah kapan dateng?” Retno gelagapan, pipinya memanas.
“Astaga, jangan panggil ‘Ibu’ dong, Ret! Rusak imageku di mata berondong,” Farah kedipkan mata seraya melirik Kevin yang tampak mesra bersama Diana.
“Hehe, maaf Sayang. Lupa kalau kamu masih aduhai penyuka daun muda,” Retno cekikikan.
“Kamu juga suka kan?” goda Farah.
“Enggak!” bantah Retno tegas.
“Ah masa sih, kok dari tadi matamu fokus sekali sama selangkangannya Kevin. Diana malah kamu cuekin tuh,” Farah terus menggoda Retno.
“Hah, fitnah saja kamu, Farah! Hahahaha.” Retno tak bisa lagi mengelak.
“Wajahmu langsung memerah dan tidak bisa bohongi aku lagi, Ret!” timpal Farah sambil mencubit pinggang Retno. Setelah itu mereka pun melanjutkan bincang-bincang kecil sambil sesekali memperhatikan Diana dan Kevin yang tampak makin berani.
Farah adalah istri pejabat sebuah departmen. Usianya sudah kepala empat, enam tahun lebih tua dari Retno, namun ia tidak rela dipanggil ‘Ibu’ saat sedang berkumpul santai dengan gengnya.
Farah senantiasa tampil seksi dan agak terbuka pakaiannya hingga tampak lebih muda. Farah dan Diana memang kurang bisa menjaga privasi saat sedang berkumpul dengan para sahabatnya.
“DIANA, KEVIN, SINI!” Tiba-tiba Farah berteriak sambil melambaikan tangannya pada Diana dan Kevin.
Deg!
‘Jantung Retno seketika tersentak. Eh, mau apa sih Bu Farah ini?’ tanya Retno dalam hati, merasa tidak suka dengan sikap Farah. Namun, sebelum ia bisa protes dan mencegahnya, Diana dan Kevin sudah berdiri tepat di depan mereka.
“Bu Gofur, kenalkan ini namanya Kevin.” Diana langsung menyodorkan lelaki muda itu pada Retno.
“Kevin,” sang berondong itu pun tersenyum manis sambil menyelami Retno yang sama sekali tidak bisa menyebutkan namanya.
“Kalau suka, ambil saja, Bu! Gratis kok,” timpal Diana yang sontak membuat wajah Retno merah padam menahan malu dan emosi. Ia tak terima dipermalukan dan dilecehkan seperti itu oleh Diana yang usianya lima tahun di bawahnya dan suaminya pun bawahan Haji Gofur.
Retno segera membalikkan badan hendak masuk kembali ke kamar ganti. “Eh, Bu Gofur mau ke mana? Jangan marah begitu dong, Sayang. Diana kan cuma bercanda!” Farah menahan tangan Retno hingga ia tak jadi melangkah.
“Sudahlah Bu, jangan marah begitu dong. Coba lihat dulu senjatanya Kevin, besar sekali loh, Bu.” Diana sama sekali tak merasa bersalah, ia justru makin gila menggoda Retno sambil mengelus-elus dan meremas selangkangan Kevin yang tampak makin menyembul di balik celana gymnya.
Retno kembali tersentak, berdiri kaku dan melongo tak mampu berkata-kata.
“Cie, cie, cie yang terkesima dan penasaran sama isinya,” timpal Farah sambil menatap wajah Retno yang tegang, lalu ia pun ikut-ikutan meremas dan membelai benda di balik celana Kevin.
“HAH!” Retno kembali menjerit dalam hati, matanya terbelalak besar saat dengan santainya Farah menarik celana Kevin hingga melorot sampai setengah pahanya. Tak ayal, rudal Kevin yang besar dan panjang dalam keadaan ereksi itu seperti meloncat dan langsung ditangkap Farah.
“Gimana, besar dan panjang kan, Ret?” goda Farah, sambil mengayunkan rudal Kevin perlahan di depan mata Retno, seolah ingin memastikan Retno melihat dengan jelas setiap lekuk dan uratnya.
Retno melihatnya, merasakan panasnya yang entah mengapa seolah sampai ke dirinya. Kevin hanya tersenyum mesem, raut wajahnya bercampur bangga dan nikmat, saat rudalnya kini tidak hanya digenggam, tetapi juga mulai dimainkan oleh Diana dan Farah secara bergantian.
Mata Retno tak bisa lepas dari pemandangan vulgar itu. Ia melihat bagaimana jemari lentik Diana mulai membelai kepala rudal Kevin, mengusapnya perlahan ke atas dan ke bawah, sementara Farah mendekatkan wajahnya, menghirup aroma maskulin yang menguar.
Diana menunduk, bibirnya sedikit terbuka, dan mulai menjilat perlahan dari pangkal hingga ke ujung, sementara Farah memegang erat pangkal rudal Kevin, mengulumnya dengan sensual, membuat desahan tertahan keluar dari bibir Kevin.
Gerakan mereka sinkron, bergantian menyesap dan melumat, sesekali terdengar decapan basah yang memenuhi ruangan, berpadu dengan erangan Kevin yang semakin tak tertahankan.
Tubuh Retno tiba-tiba terasa begitu lemah, nyaris tak mampu menopang diri. Panas dingin menjalar, mengirimkan gelombang-gelombang aneh ke seluruh sistem sarafnya.
Pemandangan itu, meski menjijikkan di satu sisi, tak dapat dipungkiri juga memicu sesuatu yang liar dalam dirinya, memanggil-manggil bayangan Egar yang sejak pagi mengganggu pikirannya.
‘Sialan! Benar-benar tidak punya malu. Menjijikkan sekali kamu, Kevin! Percuma tampan juga kalau hanya jadi gigolo murahan seperti itu!’ maki Retno dalam hati seraya menatap geram wajah Kevin yang menyeringai menahan nikmat karena Farah dan Diana kini sedang bergantian ‘mengoral’ rudalnya.
Tak lama kemudian, Retno tersadar dengan keadaan yang sudah sangat kacau itu. Retno bergegas meninggalkan dua sahabatnya yang sedang berebut rudal Kevin. Ia memutuskan untuk membatalkan gymnya sebelum dipaksa ikut dalam permainan gila dua sahabatnya.
Retno benar-benar merasa sial. Tadi pagi terpaksa melihat rudal Egar yang sangat mendebarkannya. Kini ia dipaksa melihat sesuatu yang benar-benar sangat gila.
Retno segera berkemas, setelah itu tanpa sepatah kata pun meninggalkan Farah dan Diana yang semakin menggila ‘menggumuli’ Kevin di pojokan arena. Ketiganya bahkan sudah dalam keadaan setengah telanjang.
Jadi itu yang mereka sebut kejutan pagi? Pantas saja aku diminta datang lebih cepat! SIALAN! maki Retno dalam hati sambil masuk ke dalam mobilnya.
Sesampainya di rumah, Retno langsung membenamkan dirinya di kamar. Meredam segala resah, gelisah, dan gejolak rasa yang berkecamuk. Bayangan rudal Egar terus menari-nari di kelopak matanya, ditambah dengan aksi brutal Farah dan Diana yang ‘mengoral’ rudal Kevin.
Retno merasa mudah melupakan Kevin karena tidak terlalu tertarik dengannya. Status Kevin sebagai gigolo justru telah membuatnya ilfeel, walau tampang dan rudalnya sangat menggiurkan.
Retno justru meragukan kemampuannya menepis pesona Egar. Namun demikian, ia tetap bertekad untuk mempertahankan kesetiaannya pada Haji Gofur suami tercintanya.
Bersambung…
Dapur pagi itu hangat oleh aroma bawang putih yang ditumis pelan. Cahaya matahari menembus kisi jendela, jatuh di lantai keramik yang bersih, memantulkan bayangan Retno yang berdiri bersandar di meja. Ia sudah mengenakan setelan olahraganya.
Bi Inah sibuk mengaduk sayur di wajan, gerakannya cekatan seperti biasa. Perempuan itu sudah puluhan tahun bekerja di rumah Pak Gofur, lebih lama dari usia pernikahan Retno sendiri. Rambutnya disanggul sederhana, wajahnya tenang, namun matanya tajam membaca suasana.
“Bu, sarapannya mau yang ringan saja?” tanya Bi Inah tanpa menoleh.
“Iya, Bi. Apa saja,” jawab Retno, suaranya terdengar lelah tapi juga lega, seperti seseorang yang baru selesai menumpahkan beban pada pagi.
Bi Inah melirik sekilas. “Mau lari pagi lagi, ya?”
Retno mengangguk. Ia mengambil segelas air putih, meminumnya perlahan. “Kalau tidak begitu, rasanya badan ini seperti terkurung, Bi.”
Bi Inah tersenyum tipis. “Ibu masih muda. Wajar kalau badannya minta bergerak terus.”
Kalimat itu sederhana, namun membuat Retno terdiam sejenak. Masih muda. Kata-kata yang jarang ia dengar belakangan ini, bahkan dari dirinya sendiri.
“Kadang saya lupa, Bi,” katanya pelan. “Umur saya baru tiga lima, tapi hidup rasanya seperti sudah berjalan terlalu serius. Terlalu tua.”
Bi Inah mematikan kompor, lalu berbalik menghadap Retno. Tatapannya lembut, tidak menggurui. “Ibu cantik, sehat, energik. Sayang kalau cuma disimpan.”
Retno tersenyum hambar. “Disimpan buat siapa, Bi? Pak Gofur hampir selalu di kantor. Pulang sudah malam, pikirannya masih kerja, kerja, kerja.”
Ia tidak bermaksud mengeluh, tapi kalimat itu keluar begitu saja, seperti uap dari panci yang terlalu lama dipanaskan.
Bi Inah menarik kursi dan duduk. Untuk sesaat, dapur itu bukan lagi ruang kerja, melainkan ruang bicara dari hati ke hati. “Pak Haji memang begitu dari dulu. Kerja itu dunianya. Tapi hidup bukan cuma milik orang yang sibuk, Bu.”
Retno menatap meja. Jarinya menggambar pola tak jelas di permukaan kayu. “Saya tahu tugas saya sebagai istri. Menunggu, mendukung, mengerti. Tapi kadang saya merasa… kosong.”
Bi Inah mengangguk pelan, seperti seseorang yang sudah lama memahami kalimat itu bahkan sebelum diucapkan. “Hidup itu bukan cuma tentang bertahan, Bu. Sesekali harus dinikmati. Tertawa, merasa cantik, merasa diinginkan. Itu bukan dosa.”
Retno mengangkat wajahnya. Ada getar halus di matanya. “Apa saya egois kalau ingin lebih?”
“Egois itu kalau mengambil hak orang lain,” jawab Bi Inah ringan. “Kalau cuma ingin merasakan hidup sendiri, itu namanya manusia.”
Di luar, terdengar suara burung dan aktivitas pagi yang terus berjalan. Retno menarik napas dalam. Kata-kata Bi Inah tidak memerintah, tidak menghakimi, tapi seperti kunci kecil yang diam-diam membuka pintu di dalam dirinya.
Ia tersenyum, kali ini lebih utuh. “Terima kasih, Bi.”
Bi Inah berdiri kembali, melanjutkan pekerjaannya sambil terkekeh kecil. “Sama-sama, Bu. Jangan lupa, hidup ini bukan cuma untuk dijalani. Tapi juga untuk dirasakan.”
Di dapur itu, di antara wajan dan cahaya pagi, Retno merasa ada sesuatu yang mulai bergerak lagi di dalam dirinya. Bukan pemberontakan, bukan penyesalan. Hanya kesadaran halus bahwa dirinya masih ada, masih hidup, dan masih berhak menikmati hari.
Setelah sarapan ringan, Retno merapikan setelan olahraga biru langit yang jatuh pas di tubuhnya. Tak berlebihan, tak pula mencolok, namun cukup untuk memancarkan sesuatu yang sulit diabaikan.
Kerudung instan berbahan ringan menempel lembut, sesekali bergeser mengikuti angin pagi yang menyapu langkahnya saat ia menyusuri jalanan kompleks yang mulai terjaga oleh aktivitas warga.
Beberapa hari terakhir ia selalu memilih rute yang sama. Berangkat dari gerbang rumah, berlari kecil melewati lapangan mungil, lalu berakhir di sudut taman kompleks yang teduh. Rutinitas sederhana itu biasanya cukup untuk menenangkan pikiran.
Namun pagi ini terasa berbeda. Ada bayangan Egar yang ingin ia singkirkan, atau setidaknya ditekan dalam-dalam. Bu Yani, ibu tirinya, sempat bilang bahwa pemuda itu kini pindah kerja, tinggal di kos-kosan daerah kota, entah kapan pulangnya.
Sejak dekat dengan Egar, ada sesuatu yang berubah dalam diri Retno. Ia mulai menyadari potensi yang selama ini seakan tertidur. Setiap langkah kakinya kini membawa niat lain.
Jika dulu ia berlari sekadar untuk menjaga tubuh dan menenangkan hati, kini ada percik keberanian baru yang ikut berdenyut.
Ia ingin dilihat. Bukan oleh suaminya, melainkan oleh dunia yang selama ini hanya mengenalnya sebagai “istri muda yang setia”.
Tatapan-tatapan itu pun mulai terasa. Dari pos ronda, dari warung kopi di ujung jalan, dari lelaki paruh baya yang menyiram bunga dengan selang hijau, hingga anak-anak muda yang berpura-pura serius bermain bola di pagi buta. Retno merasakannya seperti arus halus, tak menyentuh, namun jelas ada.
Ada yang hanya melirik. Ada yang menatap penuh kekaguman diam-diam. Ada pula yang menyapa dengan senyum gugup.
“Sehat selalu ya, Bu Haji!”
Retno membalas dengan senyum tipis. Senyum seorang perempuan yang tahu ia sedang diperhatikan, tapi tak memberi lebih dari yang seharusnya. Ia berjalan terus, anggun tapi ringan, langkahnya membawa aroma bunga dan teka-teki.
Di dalam hatinya, ada rasa hangat aneh yang belum pernah ia rasakan sejak lama. Bukan cinta. Bukan pula nafsu. Tapi semacam… pengakuan.
Bahwa tubuh ini masih layak diinginkan. Bahwa pesona ini belum mati. Dan bahwa ia masih bisa membuat dunia menoleh, tanpa harus membuka hati.
Di taman kecil di ujung blok C, Retno berhenti sejenak, mengatur napas. Ia duduk di bangku taman yang menghadap ke kolam ikan mungil. Angin pagi menyapu wajahnya, mengeringkan sisa peluh di pelipisnya.
Sesekali, ia memejamkan mata, menikmati momen itu seperti perempuan yang baru saja menemukan kembali dirinya sendiri, setelah lama hilang dalam bayang-bayang yang entah mengapa, kini dia merasa jika suami tuanya hanyalah sebuah bayangan yang terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya. Lelaki yang hanya menitipkan rumah padanya.
Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara lelaki muda yang bercanda dengan temannya.
“Gila ya, umur segitu masih cantik banget…”
Retno tak menoleh. Tapi senyumnya tak bisa ia tahan. Dalam hati ia berbisik, “Aku belum selesai. Hidupku belum usai. Dan mulai hari ini, kalian akan tahu siapa aku sebenarnya.”
Dibuat enak dan natural, terutama obrolan Nizar dan Retno dibagian akhir.
Langkah Retno terhenti sejenak di depan gerobak biru yang sudah akrab di mata warga kompleks: gerobak bubur ayam Mang Basri. Asap tipis mengepul dari panci besar di atas kompor portabel, menguar aroma gurih yang menggoda selera indera penciuman.
Biasanya, Retno hanya melewati tempat itu dengan senyum atau anggukan ringan. Sarapan baginya adalah urusan rumah, urusan Bi Inah. Tapi pagi ini lain.
Entah karena ia ingin mencicipi rasa yang selama ini hanya terdengar dari cerita warga, atau karena diam-diam, ia sedang ingin melihat dunia dari tempat yang lebih sederhana.
Namun yang benar-benar membuat langkahnya limbung sesaat, adalah kenyataan bahwa bukan Mang Basri yang berdiri di balik gerobak itu. Tapi anak sulungnya.
“Nizar?” gumam Retno, nyaris tak percaya.
Pemuda itu menoleh, senyum langsung mengembang di wajahnya yang bersih. Mata jernih itu menyala seperti dulu, saat masih sering main ke rumahnya bersama Gifar anak tirinya. Nizar sebaya dengan Gifar, kelas tiga SMA.
“Assalamu’alaikum, Bu Haji!” sapanya ramah, suara beratnya hangat dan bersahaja.
“Wa’alaikumussalam, Zar… Astaga, ini kamu? Udah segede ini, ya?” Retno tertawa kecil, matanya berbinar. Ada rasa lega yang aneh melihat wajah familiar yang tulus dan tidak menghakimi. Postur tubuhnya jangkung.
Nizar tersenyum lebar. “Iya, Bu Haji. Kbetulan sedang libur di pesantren. Sekalian bantu Bapak, beliau lagi ke pasar katanya mau belanja bahan bubur buat dua hari ke depan.”
“Oh gitu. Saya baru pertama kali mau coba buburnya, loh…” ujar Retno sambil menyingkap sedikit ujung kerudungnya ke belakang, agar angin tak meniupnya ke wajah.
Nizar tertawa ringan. “Wah, suatu kehormatan! Tapi jujur saya jadi deg-degan, Bu… semoga bubur racikan saya nggak mengecewakan Ibu,” katanya sambil mulai meracik semangkuk bubur.
“Oh iya, gimana kabarnya Gifar, Bu?”
“Gifar kan tinggal sama Mbak Ghea, jarang kasih kabar, saya sendiri gak tahu, hehehe.” jawab Retno apa adanya.
“Oh iya…” balas Nizar sambil mulai meracik bubu ayam pesanan Retno.
Bersambung…
Retno memperhatikan tangan Nizar yang cekatan. Lincah, tapi tetap sopan. Tidak ada gerakan berlebihan. Remaja itu tampak sangat menghormatinya, tanpa terlihat canggung atau dibuat-buat.
“Saya sering dengar cerita dari Bi Inah, katanya, selain tampan dan pintar, kamu juga anak yang gak gengsian. Sekarang saya buktikan sendiri, Zar” ujar Retno sambil duduk di bangku kecil pinggir trotoar.
Nizar terkekeh, menyodorkan bubur dengan irisan cakwe, suwiran ayam kampung, dan taburan seledri serta bawang goreng yang menggoda.
“Makasih, Bu Haji. Saya cuma belajar dari Bapak. Katanya, mau sepintar apa pun kita, jangan pernah malu sama kerja halal.”
Retno mengangguk pelan. “Bapakmu benar. Dunia butuh lebih banyak anak muda seperti kamu…”
Mereka lalu berbincang ringan. Tentang pesantren, tentang pelajaran yang paling disukai Nizar, tentang rencana kuliah yang masih samar. Nizar bercerita dengan nada jujur, tanpa ambisi berlebihan.
“Insyaallah mau lanjut kuliah, Bu,” katanya. “Cuma belum tahu di mana. Yang penting jalan dulu.”
Retno tersenyum. “Yang penting memang niatnya.”
Nizar lalu ragu sejenak sebelum bertanya, “Kalau Gifar… rencananya mau ke mana, Bu?”
Retno mengaduk buburnya perlahan. “Saya nggak tahu pasti,” jawabnya jujur. “Dia jarang cerita.”
“Oh,” Nizar mengangguk, menerima jawaban itu apa adanya. “Semoga saja apa pun pilihannya, dimudahkan.”
“Aamiin,” kata Retno.
Ada jeda singkat di antara mereka. Tidak canggung, hanya sunyi kecil yang hangat. Retno menyuap buburnya, merasakan gurih yang sederhana namun memuaskan.
“Enak,” katanya tulus.
Nizar tersenyum lebar, seperti seseorang yang baru saja mendapat kabar baik. “Alhamdulillah.”
Di pagi itu, di bangku kecil pinggir taman, Retno merasa sesuatu mengendur di dalam dadanya. Obrolan ringan, tanpa tuntutan. Tanpa peran yang harus dijaga. Hanya dua orang yang berbagi pagi, bubur hangat, dan percakapan yang jujur.
Retno mengaduk buburnya pelan, sendoknya beradu halus dengan mangkuk. Ia tidak langsung bicara. Seperti sedang menimbang sesuatu yang sejak tadi menggelitik di dadanya.
“Zar,” katanya akhirnya, suaranya diturunkan sedikit, “boleh saya tanya yang agak serius?”
Nizar mendongak. “Boleh, Bu.”
Retno menarik napas pendek. “Kamu juga tinggal sama ayah dan ibu tiri, kan?”
“Iya,” jawab Nizar mantap. “Sejak ibu kandung saya wafat.”
Retno mengangguk. “Tapi… kamu kelihatan dekat sekali dengan ibu tirimu. Natural. Nggak ada jarak.” Ia tersenyum kecil, lalu jujur. “Saya kadang bingung. Gifar seusia kamu, dulu bahkan sahabatmu. Tapi ke saya, dia seperti selalu pasang tembok.”
Nizar tidak langsung menjawab. Ia menurunkan pandangan, memikirkan kata-kata yang tepat. Tangannya sibuk merapikan sendok di gerobak, meski sebenarnya sudah rapi.
“Kalau menurut saya, Bu,” katanya perlahan, “bukan karena Ibu kurang berusaha.”
Retno menoleh, matanya penuh perhatian.
“Waktu SMP dulu,” lanjut Nizar, “Gifar sering cerita. Tapi bukan soal Ibu secara langsung.”
“Cerita apa?” tanya Retno lembut.
“Dia bingung sama perasaannya sendiri,” ujar Nizar jujur. “Dia sayang sama ayahnya, tapi juga ngerasa dunia berubah cepat sekali buat dia. Ayahnya menikah lagi, punya kehidupan baru… dan Gifar belum siap.”
Retno terdiam. Kalimat itu jatuh pelan, tapi terasa berat.
“Dia pernah bilang,” Nizar melanjutkan, suaranya tetap tenang, “kalau menjaga jarak itu caranya bertahan. Bukan karena benci, tapi masih belum bisa melupakan almarhum ibunya. Lebih ke… takut kalau terlalu dekat, nanti malah makin sakit.”
Retno menunduk. Ada denyut halus di dadanya. “Jadi bukan karena saya?”
Nizar menggeleng. “Bukan. Bahkan dia sering bilang, Ibu itu baik. Terlalu baik, katanya.”
Retno tersenyum tipis, getir sekaligus lega. “Lucu ya… orang dewasa sering mengira diam itu tanda penolakan. Padahal bisa jadi cuma kebingungan.”
“Iya, Bu,” sahut Nizar. “Anak seusia kami dulu nggak selalu tahu cara ngomong. Jadi yang keluar malah sikap.”
Retno menatap pemuda di depannya. Di usianya yang masih belia, kata-kata Nizar terdengar matang, tidak menghakimi siapa pun.
“Kalau kamu sendiri?” tanya Retno. “Kenapa bisa dekat dengan ibu tirimu?”
Nizar tersenyum kecil. “Karena beliau datang ke hidup saya bukan buat menggantikan siapa-siapa. Beliau cuma hadir. Dengerin. Nggak maksa saya manggil apa pun.”
Retno mengangguk pelan. Kalimat itu menempel di benaknya.
“Kadang,” lanjut Nizar, “yang bikin orang dekat itu bukan status, tapi rasa aman.”
Angin pagi berembus pelan. Retno menatap sisa buburnya, lalu mengangkat wajah dengan senyum yang lebih tenang.
“Terima kasih, Zar,” katanya tulus. “Saya merasaa… jadi lebih mengerti sekarang.”
Nizar tersenyum balik. “Sama-sama, Bu. Insyaallah, Gifar juga suatu hari bakal bisa bicara. Dengan caranya sendiri.”
Retno mengangguk. Pagi itu terasa sedikit lebih ringan. Bukan karena semua terjawab, tapi karena ia akhirnya memahami bahwa jarak tidak selalu berarti penolakan. Kadang, itu hanya jeda yang belum selesai waktunya.
Bagi Retno, momen itu terasa seperti oase. Tak ada pandangan sinis, tak ada gosip. Hanya percakapan jujur, hangat, dan membumi. Di hadapannya duduk seorang pemuda yang bersinar-bukan karena ketampanannya semata, tapi karena kesederhanaan yang tulus.
Saat mangkuk buburnya nyaris habis, Retno meletakkan sendok perlahan. “Enak sekali, Zar. Saya bakal sering-sering ke sini, boleh kan?”
“Wah, boleh banget, Bu. Tapi jangan sampai bapak saya tersingkir, ya,” canda Nizar, keduanya tertawa.
Angin berembus lagi. Ringan. Tidak menusuk seperti hari-hari sebelumnya.
Dan saat Retno berdiri untuk pulang, ada sesuatu yang menghangat di dadanya. Bukan cinta. Tapi semacam rasa syukur… bahwa dunia ini masih banyak anak muda yang bisa berpikir dewasa dan mau terbuka.
“Zar…” ucapnya sebelum pergi, “kapan-kapan, kalau kamu nggak sibuk, mampir ke rumah ya. Kita diskusi sambil minum teh.”
Nizar mengangguk cepat, wajahnya berseri. “Dengan senang hati, Bu Haji.”
Langkah Retno ringan saat memasuki rumah. Di wajahnya terselip senyum tipis yang belum juga pupus. Bi Inah yang sedang menyapu lantai depan langsung menghentikan gerakannya. Alisnya terangkat, matanya menyipit curiga, tapi juga penuh harap.
“Eh… eh… itu Bu Haji? Apa jangan-jangan kembarannya? Soalnya saya kayak lihat orang yang senyum-senyum abis menang undian berhadiah!”
Retno terkekeh. “Ah kamu, lebay, Bi.”
Bi Inah meletakkan gagang sapu dan menyenderkan tangan ke pinggang. “Lho, Bu… biasanya habis subuh Ibu udah pasang wajah galau, sehabis lari malah cerah sekali!”
Retno menutup mulutnya sambil tertawa. Ada kelegaan dalam tawa itu. Tawa yang sudah lama tidak terdengar di rumah besar yang biasanya dipenuhi keheningan dan tekanan.
“Saya cuma jalan-jalan, Bi. Liat-liat suasana, terus mampir beli bubur…”
“Bubur Mang Basri ya?” Bi Inah menoleh cepat, matanya berbinar. “Duh… itu sih bubur favorit emak-emak kompleks! Tapi, biasanya kalau sedang ada Nizar, yang ngantri itu banyak banget… demi senyum manis Nizar hahaha…” serunya dengan suara menggoda.
Retno menaikkan alisnya, setengah pura-pura tak tahu. “Nizar?”
Bi Inah langsung nyengir, mendekat sambil membawa sapu. “Duh, Bu… masa pura-pura sih? Emang saya gak lihat tuh senyum-senyum Ibu dari ujung gang.
Tuh anak emang bikin hati hangat. Anak pesantren, tapi gak gengsi bantuin Bapaknya. Dan… aduuuhh itu senyumnya kayak embun pagi di kelopak daun pisang!”
“Ih, Bi… bisa aja kamu…” Retno menepuk lembut lengan Bi Inah, menahan tawa.
“Hahaha. Tapi serius, saya senang loh lihat Ibu bisa senyum lagi. Biasanya yang Ibu menatap pagi-pagi itu langit-langit kamar, sekarang tatapannya kayak abis ketemu cahaya baru.”
Retno tersenyum lembut. Ia duduk di kursi rotan dekat jendela, membiarkan sinar matahari menerpa wajahnya. Suasana rumah pagi itu terasa berbeda. Lebih hidup. Lebih hangat.
“Bi,” ucapnya pelan, “Aku gak tahu ini langkah kecil atau besar, tapi pagi ini… aku merasa kayak kembali hidup. Rasanya kayak… aku boleh bahagia lagi.”
Bi Inah terdiam sebentar. Lalu dengan suara serak yang ditahan agar tak terdengar haru, ia berkata, “Ibu dari dulu memang pantas bahagia. Cuma kadang… semesta butuh waktu buat membayar semua sabar Ibu. Dan saya di sini, siap bantu Ibu dapetin semua itu, termasuk si ganteng Nizar itu.”
Retno menatap pembantunya yang lebih mirip sahabat, bahkan kadang seperti kakak sendiri. “Terima kasih, Bi. Tapi Nizar bukan prioritas saya, dia masih terlalu muda.”
Bi Inah menyentuh dadanya sendiri, dramatis. “Ih, Bu… jangan gitu dong. Muda kalau bisa bikin bahagia, why not. Kalau saya boleh saran-besok-besok saya temenin deh beli buburnya. Biar Nizar-nya bingung, pilih senyumin saya atau senyuman Ibu!”
Keduanya tertawa bersama. Bi Inah sama sekali tak tahu kalau hati Retno pernah tertambat juga oleh Egar.
Bersambung…
Mentari baru saja menyentuh atap-atap rumah warga bumi ketika aroma bawang putih dan daun salam menyeruak dari dapur Retno.
Ia menjadi tuan rumah untuk acara syukuran keberhasilan suaminya, yang memenangkan proyek besar bersama rekannya.
Pagi menjelang siang, dapur Retno mendadak berubah jadi arena komando ibu-ibu. Panci besar mendidih di atas kompor, ulekan saling beradu dengan batu cobek, dan suara teriakan kecil ibu-ibu yang saling memanggil seperti suara pasar kecil.
Bu Rani, si blak-blakan yang selalu jadi bintang dalam tiap keramaian, sedang mengiris terong ungu panjang dengan ekspresi jenaka.
“Waduh, ini terong kayaknya cocok banget buat Bu Haji! Lihat deh, bentuknya… jangan-jangan, sama kaya punya Pak Haji segini juga ya? Hihihi,” ujarnya sambil tertawa ngakak, mengedipkan mata nakal ke arah Retno.
Ibu-ibu yang lain langsung tergelak. Beberapa menutup mulut pakai punggung tangan, sebagian pura-pura sibuk sambil menahan tawa. Biar bagaimana pun Retno adalah istrinya seorang pejabat, walau memang dia sangat ramah dan dekat dengan semua warga.
Bu Tina ikut menyambar, “Hahaha… bisa jadi lauk darurat tuh, Bu. Ini terong gak kaleng-kaleng. Besar, panjang, aduh, bisa kenyang cuma lihatnya!”
Retno tersenyum kaku. Ia berusaha tetap tenang, meski pipinya mulai memerah. “Ah, kalian ini, suka ada aja ya diomonginnya, terus aja menjurus ke situ.” Suaranya pelan, tapi jelas terdengar ada kecanggungan.
Namun candaan belum berhenti. Mbak Srri, si pendiam yang kadang suka ‘mengejutkan’, ikut nimbrung, “Terong itu banyak manfaatnya, loh! Bikin awet muda, kencengin kulit, kayak Bu Haji tuh! Ini pasti rahasianya… si terong ya!”
Retno pun tak tahan, tertawa kecil, mencoba melunak. “Kalau soal awet muda, saya sih lebih percaya sama serum dan salon, ya. Tapi ya… boleh lah nanti coba makan terong tiap pagi.” Matanya mengedip manja ke Mbak Srri, mencoba mengimbangi suasana.
Tawa riuh meledak lagi.
Tiba-tiba, Bi Inah nyeletuk, “Eh, tapi ibu-ibu yang lain nyebutnya itu ‘Terong Basri’, hihihi…”
Mbak Mia, yang dari tadi fokus menanak nasi, langsung menoleh. Tatapannya tajam seperti pisau. Mulutnya mencibir tanpa suara, tapi gesturnya bicara lantang: Kamu lagi, Inah?
Bu Rani ikut menyambar tanpa rasa bersalah. “Hahaha, iya bener! Aku tuh mau ngomong, tapi gak enak ada Mbak Mia. Lha ternyata Bi Inah duluan!”
Mbak Mia yang wajahnya mulai memerah mencoba tetap diam. Tapi Retno, dengan ekspresi polosnya, malah menimpali, “Mbak Mia, emangnya itu terong dari kebun Mang Basri? Lha saya beli di supermarket kok. Apa sekarang Mang Basri selain jualan bubur, masok sayuran juga ke supermarket?”
“Eh… gak tahu, Bu… coba tanya Bi Inah aja tuh!” sahut Mbak Mia dengan nada tinggi, matanya mendelik tajam.
Bu Rani tertawa lagi. “Bukan gitu, Bu Haji… yang dibilang ‘Terong Basri’ tuh… yaa itu… konon katanya, punya Mang Basri tuh segede terong ini. Itu masih tidur loh, belum bangun! Hahahahaha!”
Tawa meledak lagi. Tapi tidak dari Mbak Mia.
“Astagfirullah!” Retno kaget, meski ekspresinya seperti menahan geli.
Mendadak… suasana membeku.
Mbak Mia berdiri. Napasnya naik-turun. Wajahnya merah padam.
“Maaf, ibu-ibu…” suaranya bergetar. “Apa sih untungnya ngatain orang sebaik Mang Basri kayak gitu?”
Semua langsung diam. Tidak ada suara ulekan. Tidak ada suara sendok. Hanya detak jam dinding yang terdengar.
Mbak Mia berkacak pinggang. Matanya menyapu wajah satu per satu. “Apa salah Mang Basri sama kalian semua?”
Tak ada yang menjawab.
Mbak Mia melanjutkan, nadanya makin kuat. “Dia memang ipar saya, tapi bukan karena itu saya marah. Dia itu seperti kakak sendiri buat saya! Dia pedagang bubur, suka bertani, bahkan kadang bantu ngajarin anak-anak kita baca Qur’an, kadang ngajar ibu-ibu kalau ke pengajian!”
Mbak Srri mencoba mencairkan suasana. “Mbak Mia, maaf ya… Bi Inah cuma bercanda. Nggak niat nyinggung…”
“Bercanda?” sahut Mbak Mia cepat, matanya menyala. “Itu bukan bercanda, itu pelecehan! Kalau mau bercanda pun harus ada batasnya! Coba kamu, Bi Inah… suka gak kalau orang bilang mertuamu punya ‘terong’? Dibilangin ‘Terong Pak Dani’ gitu?”
Bi Inah mendadak pucat. Bu Rani ikut menunduk.
Mbak Mia menarik napas panjang. “Mang Basri itu bukan kyai besar. Dia cuma petani, pedagang bubur juga. Tapi dia orang baik. Dia ngajarin kita ngaji dengan ikhlas, tanpa minta byaran. Dan kita balas dengan kata-kata kayak gitu?”
Suara Mbak Mia mulai bergetar. “Dia emang belum naik haji, karena belum mampu. Tapi akhlaknya? Lebih tinggi dari kita yang tiap kumpul-kumpul atau arisan cuma bisanya gosip, ngomongin orang dan sebagainya.!”
Matanya berkaca-kaca. Tangannya mengepal.
“Maaf, Bu Haji… saya pamit dulu. Udah gak enak lagi kumpul-kumpul di sini.”
Dengan langkah cepat, Mbak Mia meninggalkan dapur. Suaranya makin jauh, tapi keheningan yang ia tinggalkan… masih menggantung di udara.
Retno tercekat. Ia ingin mengejar, tapi bingung harus berkata apa. Dapur yang tadi ramai kini jadi sunyi. Hanya suara panci yang mendidih pelan, dan aroma bawang yang menyengat hidung.
Tak menduga Mbak Mia akan selebay itu, padahal dia menilai obrolan ibu-ibu itu bukan pelecehan, hanya candaan biasa.
Setelah beberapa detik, Retno menoleh ke Bi Inah. Matanya menyipit jahil.
“Eh… tapi… Bi Inah, tapi beneran ‘Terong Basri’ itu segede itu ya?”
Seketika, ibu-ibu langsung meledak tawanya. Bi Inah gelagapan, mukanya merah. “A-a-aduuh Bu, saya cuma denger dari… eh… dari tetangga… yang lain… Paling hanya gosip aja, hahahaha.”
“Coba tunjukin segede yang mana?” cecar Retno sambil mengangkat alis, ekspresinya super kepo.
Semua ibu-ibu mulai cekikikan. Ada yang pura-pura motong kol, ada yang pura-pura ngulek sambal tapi jelas mereka semua mendengarkan.
“Udah deh… gak usah diterusin,” ucap Retno akhirnya sambil menepuk dahi. “Kita mau syukuran loh ini, bukan ajang gibah!”
Semua mengangguk, tapi senyuman masih mengembang di bibir mereka.
“Mulai sekarang,” lanjutnya lebih serius, “gak ada lagi yang nyebut ‘Terong Basri’. Bener kata Mbak Mia, Mang Basri itu gurru kita. Lagian… gimana kalau sampai anaknya denger? Bisa-bisa satu desa disemprot!”
“Tapi… kalau penasaran gimana, Bu Haji?” celetuk Mbak Srri, disambut tawa tumpah ruah seisi dapur.
Retno tak tahan, ikut tertawa. “Dasar emak-emak… ada aja bahan gibahnya!”
Ia berdiri, meluruskan punggung. “Saya ke atas dulu ya ibu-ibu, mau rebahan bentar. Dari kemarin belanja mulu, belum sempat selonjoran!”
“Iyaaaaa, Buuu!” jawab mereka kompak, sambil masih tertawa geli.
Dan dapur itu, yang sempat dibungkam oleh kemarahan Mbak Mia, perlahan kembali bernyawa. Tawa-tawa kecil mulai bertebaran lagi, menggoda udara yang sejak tadi penuh aroma bawang, santan, dan rempah-rempah khas dapur desa.
Obrolan ringan khas emak-emak mulai menggeliat, meski tak sekeras sebelumnya. Ada rasa canggung, tapi juga keinginan untuk mencairkan suasana.
Tak lama, Retno turun kembali dari lantai atas. Wajahnya masih terlihat lelah, tapi sorot matanya menyiratkan kegelisahan.
“Eh…” ucapnya pelan, seolah mengingat sesuatu, “Bi Inah… atau siapa kek, susulin Mbak Mia ya. Jangan dibiarkan pergi dengan hati panas. Kita gak boleh bermusuhan sesama warga, apalagi sesama ibu-ibu pengajian.”
Suasana langsung hening lagi. Ibu-ibu saling pandang. Wajah mereka menunjukkan rasa tak enak. Tadi mereka memang ikut menertawakan, bahkan menyulut candaan yang membuat Mbak Mia akhirnya meledak.
Mbak Srri yang sedang memotong kentang pura-pura tak mendengar, tapi Retno menatap langsung ke arahnya. “Mbak Srri aja, ya… paling tua, paling tenang, paling bisa ngomong baik-baik.”
Mbak Srri mendongak, wajahnya sedikit pucat. “Haduh…” desahnya lirih, nyaris tak terdengar.
Ia tahu, Mbak Mia bukan tipe yang gampang dilunakkan kalau sudah kecewa. Meski perasaannya lembut, tapi hatinya teguh. Kalau sudah merasa dilecehkan atau orang terdekatnya dipermalukan, maka pintu maaf tak langsung terbuka. Butuh waktu, butuh kesungguhan.
Namun Mbak Srri juga tahu, kalau bukan dia yang maju, mungkin tak ada yang cukup berani untuk menghadap Mbak Mia saat ini.
Dengan langkah pelan, ia menyeka tangannya di celemek dan berjalan keluar dari dapur. Suasana di belakangnya masih hening. Ibu-ibu yang lain hanya menatap punggung Mbak Srri dengan rasa waswas, seolah sedang mengantar prajurit ke medan perang.
Sementara itu, Retno kembali naik ke lantai dua. Tangannya memegang pinggang, punggungnya sedikit pegal. Tapi pikirannya masih berkecamuk. Ia memejamkan mata sejenak begitu sampai di atas. Duduk di tepi ranjang sambil menarik napas panjang.
Bersambung…
Di lantai dua rumahnya, Retno duduk di dekat jendela. Jemarinya menggenggam sebuah terong yang diam-diam ia ambil dari dapur sebelum naik ke atas.
Ia menatapnya lekat-lekat, memiringkan kepala seolah sedang membaca rahasia yang tersembunyi di balik bentuk dan teksturnya.
“Terong Basri…?” gumamnya lirih. ‘Masa sih segede dan sepanjang ini? Hampir mirip dengan punya Egar? Emangnya Mang Basri keturunan Banglades juga?’
Ada rasa penasaran yang mulai merayap diam-diam di sudut pikirannya. Ia ingat betul bagaimana tadi Bi Inah sempat gelagapan saat ditanya soal gosip yang ramai beredar. Semakin ditutup-tutupi, semakin mencurigakan.
Ia menimbang terong itu di tangannya, meremasnya pelan, lalu menggeleng.
“Ya Allah… aku ini kenapa malah mikir beginian?”
Tapi meskipun protes pada diri sendiri, rasa ingin tahu itu tak kunjung surut. Malah semakin mengendap.
Dulu, Retno tak pernah terpikir soal ‘ukuran’ atau ‘rasa’ terong siapa-siapa. Hidupnya lurus. Cukup dengan Pak Haji, lelaki tua yang kini menjadi suaminya dan percayai selama beberapa tahun ini.
Tapi belakangan ini, banyak yang berubah. Terutama setelah melihat rudalnya Egar dan Kevin. Dia merasa anak muda sekarang memang tak bisa dianggap sepele.
Bukan hanya karena bisik-bisik ibu-ibu yang mulai terbuka soal “selera dan ukuran”, tapi juga karena sikap Pak Haji sendiri. Suaminya itu makin hari makin menjauh.
Dulu, mungkin tak terlalu ia hiraukan soal peluk atau cium pagi. Tapi setelah semua itu hilang, barulah ia merasa… kosong. Dingin. Tak diperhatikan.
Dan diam-diam, kegetiran itu mengikisnya. Pikiran itu menampar batinnya sendiri. Ia mendesah panjang, memejamkan mata, dan tepat saat ia membuka mata kembali—
Kreeeek.
Pintu terbuka perlahan. Retno refleks panik. Tangannya terpeleset, dan… swoosh! Terong ungu yang sedang dia pegang itu meluncur ke udara, jatuh lurus ke arah pintu.
“Ya Allah!” teriaknya.
Di ambang pintu, berdiri Bi Inah dengan mata membelalak. Terong itu jatuh tepat di dekat kakinya. Ia menatap benda itu, lalu menoleh ke Retno yang wajahnya merah padam seperti habis kepergok mencuri gorengan.
Bi Inah mengangkat satu alis. “Bu Haji, ngapain di sini sama… ‘Terong Basri?” tanyanya curiga.
Retno buru-buru bangkit, tangan melambai-lambai panik. “Eh… anu… saya cuma… anu… uji kualitas! Iya! Ngecek kualitas terong! Bagus apa nggaknya!”
Bi Inah menyipitkan mata. “Ngecek kwalitas terong, sampai harus dibawa ke atas segala?”
Retno tertawa hambar, buru-buru meraih terong dan menyembunyikannya di balik punggung. “Iya… iseng aja, Bi.”
Bi Inah masih menyeringai. “Sebenarnya Bu, mereka salah sebut tadi,” ucapnya dengan nada misterius.
“Salah sebut apanya?” Retno masih belum paham.
“Bukan ‘Terong Basri. Yang bener itu…’ Terong Nizar.’”
Retno mengerutkan kening. “Lho, Nizar? Maksudmu anaknya Mang Basri yang jualan bubur itu kan?”
Bi Inah mengangguk mantap. “Yang mereka pernah lihat itu… ya, ‘punya’ Nizar, bukan punya bapaknya. Katanya sih gede banget. Ada yang pernah lihat saat Nizar mandi di sungai cuma pakai sarung, keliatan terongnya, karena sarungnya basah. Gak pake celana dalam.”
Retno memegangi dadanya. “Astaghfirullah! Itu anak masih delapan belasan, sama dengan Gifar, Bi”
“Nah itu dia yang bikin heboh, Bu… justru karena masih muda, masih suka bebas. Kadang kepergok… ya, kelihatan. Dan katanya sih, seusia gitu masih bisa nambah loh ukurannya, heheheh.”
“Astaga…” Retno menepuk pipinya sendiri. Antara syok dan malu.
Bi Inah makin santai, malah bersandar ke kusen pintu. “Ibu suka merhatiin Nizar gak?”
“Hah?! Enggaklah! mana sempat!” sangkal Retno.
Bi Inah nyengir. “Kalau dia lagi jualan bubur kata kemarin itu, keliatan gak? Dia kan masih pake sarung juga, hehehe. Coba deh besok-besok kalau beli bubur lagi perhatiin. Pasti ibu malah makin sering beli buburnya, hehehe…”
Retno tercekat. Ia memang sempat memperhatikan itu saat beli bubur, namun sama sekali tidak terlihat ada yang berbeda dengan selangkangan Nizar. Mungkin karena belum terlihat secara nyata, seperti Egar yang buanng air kecil di halaman belakang dan mengeluarkan penisnya langsung dari celananya.
‘Masa sih punya Nizar sama dengan punya Egar. Memangnya Nizar keturunan India? Setahuku dia asli orang sini, gak ada gurat India di wajahnya.’ Pikiran Retno melayang. Dan entah kenapa, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya.
“Ibu mau buktikan langsung?” tantang Bi Inah sambil tersenyum penuh makna.
“Ah, apaan sih! Kita malah ngobrolin Nizar,” sergah Retno cepat-cepat, wajahnya mulai hangat, entah karena malu atau karena ada sesuatu yang baru saja tumbuh makin subur tanpa izin. Setelah hati terguncang oleh Egar, kini oleh Nazar, sama-sama anak tiri, walau bukan anak tirinya.
Ia lantas menarik lengan Bi Inah agar ikut turun ke dapur. “Udah ah, kebanyakan ngobrol gak jelas. Nanti malah kebablasan ngomongin urusan terong orang melulu!”
Mereka tertawa kecil sambil berjalan menuruni anak tangga, tapi dalam hati Retno tak bisa menahan gelombang pikiran yang mulai menerjang seperti ombak.
Bi Inah dan Retno kembali ke bawah dengan langkah ringan. Aroma bumbu opor dan santan makin harum menyambutnya. Tapi bukan itu yang membuat mata Retno membulat.
Di pojok dapur, di dekat rak tempat menyimpan beras dan bumbu dapur, sudah berdiri Mbak Mia. Masih dengan celemek yang sama, rambutnya sedikit kusut, tapi wajahnya sudah lebih tenang.
Retno mendekat perlahan. Semua ibu-ibu yang tadinya berceloteh, langsung diam. Seperti tahu akan ada momen penting yang akan terjadi.
“Eh… Mbak Mia…” suara Retno pelan, nyaris seperti bisikan. “Maaf ya. Tadi semua keterlaluan. Saya tahu itu nggak lucu buat Mbak Mia.”
Mbak Mia menoleh. Wajahnya masih sedikit datar, tapi bukan dingin, lebih seperti capek, tapi sudah reda amarahnya.
“Iya Bu Haji, saya juga minta maaf kalau terlalu meledak-ledak,” jawabnya pelan. “Cuma kadang… ya gitu. Saya gak tahan kalau orang yang saya hormati digituin. Apalagi cuma karena candaan yang… ya, gak penting banget.”
Retno mengangguk cepat. “Iya, iya bener. Kita semua keterlaluan. Harusnya bisa jaga lisan.”
Bi Inah mengangkat tangan seperti menyerah. “Aduh, iyaaa… saya juga minta maaf. Sungguh. Tapi… boleh jujur ya.”
Semua menoleh ke Bi Inah.
“Sebenernya…” ucap Bi Inah sambil menunduk malu-malu, “gosip yang saya denger tuh… salah alamat. Bukan… bukan Terong Basri, tapi… Terong Nizar!”
Beberapa detik hening. Lalu Bu Rani yang pertama kali tertawa. Disusul Mbak Srri. Lalu yang lain tak bisa menahan, termasuk Mbak Mia yang akhirnya menutup mulutnya sendiri karena geli.
“TERONG NIZAR?!” teriak Mbak Srri sambil tertawa ngakak, sampai menepuk-nepuk paha. “Ya Allah, kenapa baru bilang sekarang, Bi?! Tadi udah heboh kayak mau perang!”
Bi Inah nyengir. “Saya juga baru keinget barusan… yang cerita ke saya tuh tetangga saya, dan dia bilang Nizar! Bukan Basri! Duh Gustiii…”
“Ya tapi sebenarnya sama aja sih, mereka kan bapak dan anak, hahahaha.”
“Ya ampun… jadi Mang Basri gak bersalah apa-apa toh!” ucap Mbak Srri sambil mengelap air mata karena kebanyakan ketawa.
“Kasihan dia,” celetuk Bu Rani, “ngajiin orang, eh malah keseret fitnah terong ankanya, hahahaha…”
Semua tertawa lagi. Tapi kali ini… tak ada rasa bersalah. Hanya rasa syukur dan kedekatan sebagai sesama ibu-ibu satu desa.
“Sebenarnya terong siapapun, tidak layak buat kita omongin, itu kan rahasia mereka. Namanya juga kemaluan, jadi malu kalau dibicarakan secara jelas, hehehe.”
Dapur itu pun kembali ramai dengan tawa. Panci mendidih, suara ulekan bersahutan, dan aroma masakan menggoda makin memenuhi udara. Tapi tak ada lagi yang membahas “terong”—kecuali yang akan dimasak sambal balado.
Dan Retno, diam-diam tersenyum lega. Acara syukuran ini mungkin akan jadi cerita yang lain dari biasanya. Tapi justru di sanalah letak keindahannya, di tengah riuh, di antara canda, dan dalam benang-benang persaudaraan yang kadang sedikit kusut, tapi selalu bisa diluruskan bersama.
Gaul dengan ibu-ibu kampung yang rumahnya di luar kompelks, ternyata memang jauh lebih indah. Tidak ada pamer-pameran, hanya kadang candaan mereka memang suka terlalu nyerempet.
Bersambung…
Malam harinya.
Suasana di lantai bawah riuh oleh suara doa-doa dan obrolan para tetangga yang menghadiri kenduri. Aroma masakan bercampur dengan bau dupa yang khas, menambah suasana hikmat di malam itu. Namun, bagi Retno, entah kenapa hawa di dalam rumah terasa begitu pengap.
Ia naik ke lantai dua, mencari udara segar di ruangan yang lebih sepi. Setengah menghela napas, ia duduk di sofa, mencoba menenangkan diri dari kepenatan yang tak jelas datangnya. Tangannya meraih terong ungu lagi yang tadi dia sembunyikan, tapi tanpa sengaja, terong itu tersenggol dan jatuh ke lantai dengan bunyi ‘Bluk!’
“Aduh!” Retno terkesiap, buru-buru berjongkok untuk meraihnya kembali. Namun, baru saja ia memegangnya sambil berjongkok, suara derit pintu loteng kembali terdengar.
Jantung Retno seketika mencelos.
Di ambang pintu, berdiri sosok yang sama sekali tak pernah ia duga—Nizar.
Pemuda itu memakai sarung, baju koko dan kopiah hitam, berdiri agak kikuk, mungkin tak menyangka ada orang di lantai dua. Matanya sempat tertuju pada terong ungu yang dipegang Retno, sebelum kemudian beralih menatap Retno yang masih setengah membungkuk.
Hening.
“A—anu… Nizar?” suara Retno tercekat di tenggorokan.
Nizar menggaruk belakang kepala yang tidak gatal. “E—eh, maaf, Bu Haji. Saya… saya numpang ke kamar kecil. Yang di bawah penuh, tadi disuruh Bi Inah ke kamar mandi lantai dua aja,” katanya dengan suara yang dibuat setenang mungkin, seolah tak terjadi apa-apa.
“Oh… oh, iya, silakan…” Retno buru-buru berdiri tegak, berusaha menyembunyikan terong ungu di belakang tubuhnya dan menata ekspresinya, meskipun dadanya masih berdebar kencang.
Nizar melangkah melewati sofa tanpa komentar. Namun, sebelum masuk ke kamar mandi, ia sempat melirik sekilas mendapati tangan Retno yang masih memegang terongnya, lalu menatap Retno sejenak dengan ekspresi yang sulit ditebak. Mereka beradu pandang namun sama sekali tak mengelurkan kata-kata.
Saat pintu kamar mandi tertutup, Retno menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Ya Allah… kenapa aku jadi setegang in ngadepin Nizari?” bisiknya, berusaha menenangkan diri, lalu kembali turun bergabung kembali dengan ibu-ibu. Nizar pun tak lama sudah kembali lagi gabung dengan para kendurian.
Kenduri masih berlangsung. Suasana masih seperti tadi. Namun jantung Retno seketika tersentak saat melihat Nizar duduk kembali di antara orang-orang yang mengikuti kenduri. Awalnya dia sama sekali tidak tahu kalau Nizar ikut serta dalam kendurinya, namun kini seluruh perhatiannya seolah tersedot.
Seolah memiliki kehendak sendiri, matanya terus mencuri-curi pandang ke arah pemuda hitam manis, hidung mancung dan berpostur tinggi dengan sarung dan kemeja kokonya.
Bayangan pertemuan mereka tadi di lantai dua kembali berkelebat di benaknya, membuat dadanya berdebar lebih kencang. Malu, menebak-nembak apa yang dipikirkan Nizar tentang dirinya yang sedang memegangi terong. Semua pertemuan hangat saat membeli bubur seolah hilang, berganti jadi ketegangan.
“Astagfirullah…” Retno berusaha menenangkan pikirannya, mengendalikan debaran di dadanya yang terasa semakin tak wajar. Ia mengalihkan pandangan, mencoba fokus pada lantunan doa-doa yang menggema di sekelilingnya. Namun ‘Terong Nizar’ kembali menggema di benaknya.
Setiap kali suara Nizar terdengar samar di tengah lantunan zikir, debaran itu kembali datang. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya, sesuatu yang tidak seharusnya. Sesuatu yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya. ‘Benarkah punya Nizar sebesar terong ungu itu? Berarti hampir sama dengan punya Egar?”
Retno menelan ludah, jemarinya saling meremas di atas pangkuan. Ia harus segera menata hatinya, sebelum perasaan yang tak jelas ini semakin jauh menyesatkannya.
Suasana kenduri masih dipenuhi lantunan doa dan zikir. Para tamu duduk bersila di karpet dan tikar, sementara hidangan kenduri mulai disajikan. Retno berusaha mengalihkan pikirannya dengan sibuk menuangkan teh ke dalam cangkir-cangkir kecil, membagikannya kepada tamu yang duduk di dekatnya.
Namun, matanya kembali menangkap sosok Nizar yang duduk tenang di sudut ruangan, menyimak doa dengan khusyuk. Sekali lagi, bayangan ‘Terong Nizar’ itu menyeruak di benaknya. Pipinya terasa panas. Ia buru-buru menundukkan kepala, takut jika seseorang menangkap kegelisahan yang tersirat di wajahnya.
“Bu Haji, tolong ambilkan sendok lagi, kurang nih,” suara seorang ibu-ibu menyadarkannya dari lamunannya.
“Eh, iya, Bu Retno, tunggu bentar” Retno buru-buru bangkit menuju dapur. Setidaknya, menjauh dari keramaian bisa membuat pikirannya lebih jernih.
Di dapur, ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Namun, baru saja ia hendak mengambil sendok dari rak, suara batuk halus terdengar dari belakang.
“Hm, Bu Haji…”
Jantung Retno berdegup keras. Perlahan, ia menoleh. Dan benar saja, di ambang pintu dapur, Nizar berdiri dengan ekspresi canggung.
“Oh, Nizar…” suara Retno hampir tercekat di tenggorokan.
“Maaf, saya cuma mau ambil air putih, Bu,” ujar pemuda itu sambil menunjuk teko di meja.
“Eh… iya, iya, silakan…” Retno buru-buru bergeser, memberi jalan. Namun, saat tubuh mereka berdekatan, aroma maskulin khas tubuh Nizar samar-samar tercium. Sekali lagi, perasaan aneh itu muncul. Sesuatu yang tidak seharusnya.
Nizar menuang air ke dalam gelasnya, lalu menatap Retno sesaat sebelum berkata pelan, “Tadi… di atas, saya benar-benar nggak sengaja, Bu. Ibu suka sama terong ya?”
Retno menegang. Ia tahu apa yang dimaksud lelaki itu.
Nizar melanjutkan, “Saya harap, kita bisa melupakan itu… kecuali…”
Deg. Kata-kata itu seharusnya melegakan, tapi justru ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa bergetar.
“I-iya, Zar,” jawabnya dengan suara lirih, tanpa berani menatap wajah, justru dia memperhatikan kain sarung Nizar yang agak menyembul dan pikirannya semakin kacau. Sibuk menbak-nebak ukurannya.
Nizar mengangguk kecil, lalu beranjak pergi membawa gelasnya, kembali ke ruangan kenduri. Sementara Retno tetap berdiri di tempatnya, sendok yang seharusnya ia ambil masih tergeletak di rak.
Acara kenduri pun akhirnya selesai. Satu per satu tamu berpamitan. Retno sibuk membantu merapikan piring dan gelas, meskipun pikirannya masih melayang.
Nizar pun bersiap pulang. Saat ia melewati teras, sekilas tatapannya kembali bertemu dengan Retno. Hanya sedetik. Tapi cukup untuk membuat dada wanita itu kembali berdesir.
“Kenapa anak tiri orang kok malah mendebarkan?” bisiknya dalam hati.
Setelah semua tamu pulang, piring-piring bersih tersusun rapi, dan dapur kembali sunyi, rumah Retno akhirnya kembali ke keheningannya yang biasa. Lampu-lampu luar dipadamkan satu per satu, dan suara jangkrik mulai terdengar samar di luar jendela.
Di dalam kamar, Retno duduk sendiri di sudut ranjang. Lampu kamar menyala redup. Ia melepas kerudungnya perlahan, lalu mengelus pelan rambutnya yang sama sekali belum beruban. Tapi bukan itu yang membuatnya termenung. Sementara Haji Gofur, suaminya, sudah terlelap di kamar satu lagi sejak kenduri selesai, karena kelelahan.
Pandangan Retno menatap kosong ke arah cermin di pojok kamar. Namun, yang muncul di bayangannya bukanlah dirinya sendiri, melainkan… Nizar.
Sosok pemuda hitam manis, kulit agak legam berkilat seperti kopi yang baru diseduh. Hidungnya mancung dan tegas, matanya tajam tapi tidak seram.
Tubuhnya kurus namun kekar, ototnya menonjol jelas setiap kali ia mengangkat karung atau memanggul sesuatu. Ciri khasnya: selalu mengenakan kain sarung dan kemeja koko atau celana pendek lusuh, tapi entah kenapa tetap tampak percaya diri.
“Ya Allah… ada apa ini?” batinnya, sambil menunduk, merasa malu pada dirinya sendiri.
Ia mencoba mengalihkan pikiran, tapi bayangan Nizar justru makin jelas. Cara ia tertawa, lebar dan jujur. Cara ia berbicara dengan sopan pada para ibu-ibu. Bahkan, cara ia menyeka peluh dengan ujung sarungnya.
“Nizar itu masih muda… seumuran dengan Gifar…” gumam Retno, mencoba menertawakan pikirannya sendiri. Tapi rasa itu tetap bertahan. Bukan sekadar kagum. Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih diam-diam, dan lebih tak terduga.
Ia berdiri pelan, membuka jendela kamarnya yang menghadap ke halaman belakang. Angin malam masuk, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa wangi masakan. Sepi. Tapi dalam sepi itu, Retno merasa pikirannya tidak tenang.
Nizar kini mengisi ruang hatinya yang kosong, meski ia tahu… itu bukan tempat yang seharusnya. Tapi… siapa yang bisa mengatur rasa? Nizar bahkan terasa jauh lebih mendebarkan dibanding Egar. Apakah karena dia seorang santri yang jauh lebih menantang atau….
Di kejauhan, lolongan anjing sayup terdengar. Dan Retno masih berdiri di tepi jendela, bertanya-tanya: apakah ini hanya angin lewat di malam sunyi, atau… pertanda akan datangnya taman asmara yang indah?
Bersambung…
Hari terus berlalu, bayangan Nizar melekat, namun Retno berusaha keras menyingkirkannya. “Dia masih terlalu muda!” hiburnya.
Pagi itu, rumah besar Retno masih tetap berdiri anggun di antara pepohonan yang rapi ditata di pekarangan depan. Sinar matahari memantul lembut di kaca jendela, menembus tirai tipis berwarna krem yang menjuntai di ruang tamu. Suasana rumah tampak elegan dan tenang, seperti pemiliknya.
Retno duduk di sofa empuk berlapis beludru, mengenakan setelan satin warna sage green yang lembut, rambutnya ditata rapi meski tanpa dandanan mencolok. Di jemarinya yang terawat melekat beberapa cincin berlian kecil yang berkilau sederhana.
Dia menyeruput teh rosella dari cangkir porselen mahal sambil membuka-buka katalog baju pengajian di tablet. Namun pikirannya tak sepenuhnya di sana. Rumah itu begitu sunyi, padahal luas dan megah. Hanya suara burung di luar jendela dan denting sendok yang sesekali menyentuh cangkir.
“Bu…” suara Bi Inah pelan, tapi cukup membuat Retno menoleh.
“Hmm?”
“Itu… Bu Wiwid tadi nelpon. Katanya, kain buat seragam pengajian ibu-ibu RT sebelah belum dibeli ya?”
Retno langsung mendongak, lalu menatap Bi Inah yang membawa nampan berisi kue-kue kecil.
“Astagfirullah, iya ya? Aku malah lupa total, Bi.”
Bi Inah tersenyum maklum. “Mungkin Ibu bisa beli sekarang. Masih pagi, toko belum terlalu ramai.”
Retno mengangguk pelan, lalu meletakkan tablet di pangkuannya. “Iya deh. Sekalian aku pengen lihat toko baru yang katanya lebih lengkap itu…”
“Mobilnya sudah siap, Bu. Mau saya panggilin Bang Madun?”
Retno berdiri, merapikan shawlnya yang menjuntai di pundak. “Gak usah, aku nyetir sendiri aja. Pengen jalan pelan-pelan, sambil cuci mata.”
Bi Inah hanya mengangguk, lalu mengawasi Retno yang berjalan menuju kamar untuk berganti pakaian. Dalam hati, perempuan setengah baya itu tahu… Retno bukan hanya ingin cari kain hari ini. Tapi juga sedang mencari sesuatu yang bahkan dia sendiri belum tahu namanya. Mungkin terong muda?
Retno berangkat sendiri dengan mobilnya. Tujuannya jelas: membeli kain warna ungu untuk seragam pengajian ibu-ibu RT se desanya. Biasanya dia ke toko langganan, tapi kali ini, ia sengaja mencoba toko tekstil milik orang India yang katanya lebih lengkap dan lebih murah.
Begitu masuk, suasana toko sudah ramai. Puluhan pengunjung sibuk memilah-milih kain, dan para pramuniaga hilir mudik melayani pembeli. Tapi Retno tak terburu-buru. Ia melangkah pelan, matanya menyapu deretan rak kain warna-warni, sesekali meraba tekstur yang ia pikir cocok dengan rancangan seragam yang sudah dipesan para tetangga.
Di tengah kesibukan itu, sebuah suara tiba-tiba menyapa.
“Bisa saya bantu, Kak?”
Deg!
Jantung Retno langsung terasa mencelus. Refleks, ia menoleh ke belakang.
Seorang lelaki muda berdiri di sana. Celana jeans selutut, kaos oblong marun, dan senyum manis yang tak bisa didefinisikan selain… bikin dag dig dug. Retno sempat mengira dia pelanggan lain. Tapi melihat raut wajahnya yang hampir seperti bintang film India, mengingatkan Retno pada Egar, hanya ini versi wajahnya lebih bersih. Dan Retno yakin kalau pemuda ini bukan pegawai biasa. Mungkin anak atau saudara pemilik toko besar ini.
Perawakannya lumayan tinggi, posturnya proporsional. Wajahnya hitam manis bersih, hidung mancung lengkap dengan kumis tipis yang membuat wajahnya tampak lebih dewasa. Dan senyumnya, benar-benar Egar, bikin hidung mancungnya terlihat makin sempurna.
“Kakak cari apa?” ulang pemuda itu dengan suara hangat.
Lamunan Retno buyar. Ia tersentak kecil, lalu dengan gugup mencoba menjawab.
“Eh… i-iya, Mas… sa-sa… saya mau cari itu…” Lidahnya rasanya mendadak beku. “Cari terong Mas…”
“Hah cari terong saya?” Pemuda itu balik tanya dengan wajah melongo, namun tangannya bergerak.
“Haduh!” Retno seketika berseru dalam hati. ‘Oh my God! Kenapa tangannya harus mengelus-elus selangkangannya?’ gerutu Retno dalam hati. Matanya pun seolah dituntun untuk terus memperhatikan tangan pemuda itu yang bergerak lembut di selangkangannya.
“Kakak mau cari kain ungu atau terong ungu saya? Boleh. Punya saya memang gak ungu, tapi tetep bagus kok. Kalau ukurannya sih jangan diragukan lagi, hehehehe.” Pemuda itu bicara santai dengan tangan yang terus mengelus-elus depan celananya.
‘Hah, apa lagi maksud lelaki gila yang satu ini? Astaga! Kenapa mataku jadi fokus pada tangan dan selangkangannya?’ umpat Retno dalam hatinya.
“Kakak beneran mau cari terong saya?” Pemuda itu seakan ingin memastikan.
“Eh, jangan ngomong sembarangan ya, kamu!” sergah Retno seraya membuang muka. Menghindari tatapan mata lelaki muda itu yang diarasanya sedang mentertawakan, melecehkan sekaligus hendak menerkamnya.
“Hehehe, liat aja dulu, Kak. Siapa tahu suka. Gak ungu sih warnanya, agak hitam dan gak telalu hitam banget sih tapi cukup indah kok, hehehe,” timpalnya makin kurang ajar. Senyum seringainya benar-benar mengejek Retno dan itu sangat memalukan.
“Tolong ya omongan kamu dijaga, Mas! Saya mau cari kain warna ungu, bukan terong kamu!” sergah Retno ketus. Berharap pemuda itu berhenti menggodanya. Retno benar-benar malu karena telah salah menyebut ‘terong mas’ yang bisa diartikan macam-macam oleh pemuda itu.
“Oh, mau cari kain warna ungu, habis tadi Kakak bilangnya cari ‘terong mas.’ Saya pikir punya saya yang agak hitam, besar dan panjang ini, hehehe.” Pemuda bermata jernih itu masih terus menggoda Retno.
“Apa hubungannya kain yang saya cari dengan ukuran terongmu, heh? Dasar ngawur kamu!” sergah Retno dengan nada yang mulai nyolot.
“Jelas ada hubungannya dong, Kak. Nanti kita lihat saja. Kakak mau cari kain ungu bahan apa? kulit, sutera, sypon atau katun?” tanya pemuda itu dengan nada masih tetap santun dan ramah.
“Kira-kira yang cocok yang mana, ya? Saya mau seragam pengajikan dan bikin couple-an sama suami, buat ke acara resepsi keponakan,” ujar Retno, suaranya mulai tenang, meski dalam hatinya masih terasa getar-getar aneh yang tak biasa.
Pesona dan keramahan pemuda di hadapannya membuatnya sedikit lupa diri, dan kenangan indah saat ngobrol bersama Egar kembali menggoda. Bahkan lupa jika dia hanya akan membeli kain untuk seragam ibu-ibu pengajian.
“Wow, couple-an sama suami? Emangnya Kakak udah menikah?” Pemuda itu bertanya sambil tersenyum, nada suaranya ringan tapi membuat Retno merasa seperti sedang dibelai angin yang halus dan hangat. Harum tubuhnya juga perlahan tercium, segar, maskulin, menusuk hidung, dan entah bagaimana, begitu mendebarkan.
Tatapan matanya tampak menjalar naik turun ke tubuh Retno, seolah menakar sesuatu yang lebih dari sekadar ukuran pakaian. Sorot matanya tajam, tapi tak kasar. Justru seperti sedang mengagumi dengan kekaguman yang tulus—atau setidaknya, terasa begitu di mata Retno.
Retno balas menatap, kali ini lebih percaya diri. Ada rasa aneh yang muncul: senang, tersanjung, bahkan bangga. Sudah lama dia tidak merasa dilihat seperti ini, semenjka Egar pindah dan tinggal di kosan. Terakhir kali? Entah kapan. Suaminya sendiri sudah jarang memujinya.
“Hei, kamu kok malah bengong?” tegur Retno sambil menyunggingkan senyum kecil. Ia sadar ini kesempatan untuk mengembalikan kendali, setidaknya untuk menjaga dirinya tidak hanyut terlalu jauh dalam pesona pemuda ini.
“Sumpah, Kak, saya nggak nyangka. Saya kira Kakak masih seusia saya… dua puluh satu tahun.” Pemuda itu bicara dengan nada yang nyaris seperti desahan ringan, membuat Retno sedikit kikuk, tapi juga geli.
“Ada-ada aja kamu. Aku ini udah emak-emak, tahu, udah punya suami!” jawab Retno sambil tertawa kecil, meski sorot matanya tak lepas dari wajah sang lelaki muda.
“Amazing…” gumam lelaki itu pelan, hampir tak terdengar. Tapi senyum di wajahnya bertambah cerah.
“Gimana ada gak kain warna ungunya?” Retno sudah mulai bisa mengendalikan keadaaan dan sukses membuyarkan lamunan pemuda itu.
“Oke deh, Kakak. Kita ke belakang aja, ya. Di sana koleksi kainnya lebih lengkap, kualitas impor, harganya juga bersahabat. Saya yakin Kakak bakal suka,” ucap pemuda itu sambil meraih tangan Retno. Genggamannya ringan, tapi cukup erat untuk membuat jantung Retno berdetak dua kali lebih cepat.
“Eh, sebentar. Kamu ini siapa, sih?” tanya Retno, mencoba menahan langkahnya sejenak.
“Nama saya Arvin, panggil saja Arvin, saya anaknya pemilik toko ini, lebih tepatnya anak tirinya sih.” Arvin menjawab santai dan agak lengkap, sambil memamerkan senyum sempurna dengan gigi putih bersihnya.
Bersambung…
“Ibu saya Sunda-India, kalau ayah asli India, mereka sudah cerai, ayah saya kembali ke India, sementara ibu saya nikah lagi sama asli pribumi sini yang mempunyai toko ini.”
Arvin menjelaskan panjang lebar yang sontak kian mengingatkan Retno pada Egar. Matanya pun refelks memandang selangkangan Arvin, namun tak terlihat jelas karena terhalang kaosnya. Namun bayangan penis Egar yang hitam, besar dan panjang seketika memenuhi kembali isi kepanya.
‘Kenapa aku selalu berhadapan dengan anak tiri orang lain? Ada apa dengan anak tiri? Sementara anak-anak tiriku malah kurang deket denganku.,’ batin Retno.
Ia mengangguk dan membalas, “Saya Retno.” balas Retno.
“Kak Retno cantik, ayo ikut saya!” Arvin kembali menarik tangan Retno dengan lembut namun mantap.
“Eh, mau kemana?” Retno agak kaget.
“Ya ke gudang, Kak. Kkan katanya mau nyari kain warna ungu kwalitas super.”
Seperti kerbau dicucuk hidungnya, Retno melangkah mengikuti. Tak ada keberanian untuk menolak. Entah kenapa tubuhnya mengikuti begitu saja, padahal dalam hati ia merasa… sesuatu tak biasa sedang terjadi.
Mereka berjalan melewati lorong-lorong rak kain, hingga akhirnya tiba di bagian belakang toko. Suasananya sedikit gelap dan sepi, nyaris seperti gudang. Retno mulai merasa ragu, tapi belum menarik tangannya dari genggaman Arvin.
“Silakan Kak Rettno, pilih-pilih dulu. Banyak kain bagus di sini,” ucap Arvin tanpa melepaskan genggamannya.
Retno menunjuk ke salah satu kain ungu tua yang tersusun agak jauh.
“Coba yang itu, Vin,” katanya.
Arvin menoleh sejenak ke arah kain tersebut, tapi kemudian kembali menatap Retno. “Oke, nanti saya ambilkan, Kak. Tapi sebelum pegang kain itu, coba Kakak raba dulu kain yang satu ini,” bisik Arvin dengan suara rendah. Ia menarik tangan Retno, namun alih-alih menuntunnya ke gulungan kain, tangan Retno malah diarahkan ke selangkangannya dan dengan sangat jelas Retno bisa merasakan sesuatu yang kenyal, keras, besar dan panjang di sana.
“Hah!” Retno menjerit tertahan oleh keterkejutan dan rasa tak percaya. Tubuhnya membeku, tak tahu harus menarik diri atau membiarkan waktu berhenti di situ.
Suasana di gudang itu tiba-tiba terasa membeku. Sunyi, hanya terdengar napas Retno yang sedikit memburu dan detak jantungnya yang hingga ke pelipis.
Tangan Arvin bergetar menggerak-gerakan tangan Retno, seolah meminta Retno untuk mengelus dan meremas benda di dalamnya.
Mata Retno yang masih terbelalak, beradu pandang dengan mata Arvin yang sendu penuh gairah dan emosi yang campur aduk tak bisa lagi dimengerti. Retno ingin marah, takut, heran dan entah kenapa, benda kenyal namun keras yang sedang dipegang dan diremasnya itu seperti sangat susah dilepaskan.
“Gimana terongnya gede dan panjang kan? Mau lihat warnanya gak? gak ungu tapi agak hitam berurat,” bisik Arvin sambil tersenyum.
“Astaga!” Retno tersentak, sejurus kemudian tersadar. Ia menarik tangannya dengan cepat dan menatap Arvin dengan sorot mata tajam. Bibirnya bergetar, menahan kata-kata yang sempat menggumpal di kerongkongan.
“Kamu… ini… keterlaluan, Arvin!” Suaranya bergetar, antara menahan malu, marah dan entah apa lagi.
Kemudian, tanpa peringatan, Arvin melakukan hal yang membuat Retno terkesiap. Dengan gerakan cepat dan berani, ia menunduk dan menarik resleting celananya, lalu memelorotkan jeans selututnya hingga ke paha. Di hadapan mata Retno yang masih terbelalak kaget, sebuah pemandangan tak terduga terpampang jelas.
Penis Arvin yang “hitam berurat” seperti yang ia sebutkan sebelumnya, kini berdiri tegak, memerah, dan terlihat sangat mengagumkan. Ukurannya yang besar dan panjang, dengan urat-urat menonjol di sepanjang batangnya, benar-benar memancing imajinasi Retno yang selama ini terkubur. Sesuatu yang kenyal dan keras di tangannya tadi hanyalah permulaan. Realitasnya jauh lebih nyata dan mendebarkan.
Retno tak bisa berkata-kata. Pikirannya kosong, namun tubuhnya bereaksi di luar kendali. Rasa malu, amarah, dan kekaguman bercampur aduk menjadi gairah yang membakar. Panas menjalari seluruh tubuhnya, terutama di area sensitifnya. Napasnya memburu, matanya tak bisa lepas dari kejantanan Arvin yang kini berada tepat di depan wajahnya.
Arvin tersenyum miring, senyum penuh kemenangan dan daya pikat yang tak terbantahkan. Ia melihat tatapan Retno yang penuh hasrat, dan tahu bahwa ia telah berhasil memancing birahi wanita dewasa itu. Tanpa menunggu, ia melangkah maju, mendekat ke arah Retno yang masih membeku.
“Gimana, Kak Retno? Lebih bagus dari yang Kakak bayangkan, kan?” bisik Arvin, suaranya serak dan sensual, semakin membius Retno.
Retno merasa kakinya lemas. Ia kehilangan keseimbangan dan tanpa sadar terduduk di atas tumpukan gulungan kain yang lembut. Posisi ini membuatnya semakin terkejut, karena kini, penis Arvin yang tegang dan memerah itu, persis sejajar dengan wajahnya. Jarak mereka begitu dekat, Retno bisa merasakan hawa panas dan aroma maskulin yang kuat dari tubuh Arvin.
Matanya melotot, menatap lekat-lekat ujung kejantanan Arvin yang berdenyut-denyut. Tenggorokannya tercekat, menelan ludah pun terasa sulit. Gairah yang tak terbendung membakar dirinya, membangkitkan sisi liar yang telah lama ia pendam. Bayangan Egar, Nizar, bahkan suaminya sendiri seolah sirna digantikan oleh kehadiran Arvin yang begitu nyata dan menggoda di depannya.
Retno mengangkat tangan kanannya, ragu-ragu. Ujung jarinya gemetar saat mendekati penis Arvin. Ia ingin menyentuh, merasakan tekstur urat-urat yang menonjol itu, namun juga takut akan konsekuensinya. Di sisi lain, Arvin menanti dengan sabar, senyumnya tak pernah pudar, matanya memancarkan gairah yang sama besarnya.
Retno menatap penis Arvin yang tegang itu dengan tatapan penuh kerinduan yang tak terbendung. Jaraknya begitu dekat, hanya beberapa senti dari bibirnya yang setengah terbuka. Aroma maskulin yang kuat, campuran keringat segar dan feromon alami, membuat kepalanya pusing.
Birahi Retno sudah menguasai sepenuhnya, tak ada lagi ruang untuk malu atau penolakan. Dengan gemetar, tangan kanannya akhirnya menyentuh batangnya yang panas dan berurat, jari-jarinya melingkar lembut, merasakan denyutannya yang kuat.
“Ahh… Kak Retno…” desah Arvin pelan, pinggulnya sedikit maju, mendorong penisnya lebih dekat ke wajah Retno.
Retno tak menolak. Ia membuka mulutnya perlahan, lidahnya keluar menyentuh ujung kepalanya yang memerah dan licin oleh cairan pra-ejakulasi. Rasa asin-manis itu langsung membakar seluruh indera penciumannya. Ia menjilat pelan, memutar lidah di sekitar glans, membuat Arvin menggenggam jilbab Retno dengan lembut tapi tegas.
Retno semakin berani. Mulutnya kini membungkus kepala penis Arvin, menghisap pelan sambil tangannya mengocok batangnya yang tebal. “Mmmh…” erangannya teredam oleh kehadiran daging panas itu di mulutnya.
Ia menggerakkan kepalanya maju-mundur, semakin dalam, lidahnya menari di sepanjang urat-urat yang menonjol. Arvin mengerang lebih keras, “Sial… Kakak… enak banget mulutnya…” Pinggulnya mulai bergoyang ritmis, menyetubuh wajah Retno dengan lembut tapi mendominasi.
Retno duduk lebih nyaman di gulungan kain, tangan kirinya meraih bola-bola Arvin yang kencang, meremas pelan sambil mulutnya bekerja lebih cepat. Ia menghisap kuat, lidahnya menekan bawah batang, membuat Arvin menggeliat.
“Kak… aku… mau keluar…” bisik Arvin dengan suara parau, napasnya memburu. Retno tak berhenti; malah ia percepat ritmenya, mata mereka bertemu—tatapan Retno penuh kepatuhan dan nafsu, sementara Arvin memandang dengan kemenangan liar.
Tiba-tiba, tubuh Arvin menegang. “Aku… keluar, Kak!” erangnya keras.
Penis Arvin berdenyut hebat di mulut Retno, menyemburkan jet demi jet sperma hangat dan kental yang memenuhi mulutnya. Retno menelan sebagian, sisanya meleleh di sudut bibirnya, tapi ia tetap menghisap hingga tetes terakhir, membersihkan setiap inci dengan lidahnya yang rakus.
Arvin ambruk pelan, menarik penisnya keluar dengan desahan puas, meninggalkan Retno yang tersengal, wajahnya basah oleh keringat dan sisa klimaksnya.
Retno masih tersengal, wajahnya memerah oleh campuran malu dan kepuasan yang membara. Sperma Arvin yang tersisa di sudut bibirnya ia hapus pelan dengan jari, tapi tatapannya tak lepas dari pemuda itu yang kini berdiri dengan celana setengah turun, penisnya masih setengah tegang dan berkilau oleh air liurnya.
Bersambung…
Birahi Retno belum padam, malah semakin menggelegak. “Arvin… sekarang giliran kamu,” bisiknya serak, suaranya penuh perintah yang tak terduga dari dirinya. Ia bangkit sedikit dari gulungan kain, menarik rok satinnya ke atas, memperlihatkan paha mulus dan celana dalam renda yang sudah basah kuyup.
Arvin tersenyum lebar, matanya menyala kembali. “Siap, Kak Retno. Aku janji bikin Kakak terbang,” jawabnya sambil berlutut di depannya.
Dengan tangan mantap, ia merenggut celana dalam Retno ke bawah, memperlihatkan vaginanya yang sudah mengkilap oleh cairan hasrat. Aroma wanita dewasa yang matang langsung memenuhi udara gudang yang sepi itu. Jarinya menyentuh klitoris Retno yang bengkak, menggosok pelan sambil bibirnya mendekat.
“Basah banget, Kak… ini buat aku ya?”
Retno mengangguk lemas, tangannya meraih rambut Arvin, menekan kepalanya lebih dalam. Lidah Arvin langsung menyerang, menjilat panjang dari bawah vagina hingga klitoris, memutar-mutar dengan keahlian yang membuat Retno melengkungkan punggungnya.
“Ahhh… Arvin… enak… terus…” erangnya tak terkendali, suaranya bergema pelan di gudang. Arvin menghisap klitorisnya kuat, lidahnya menyelam ke dalam lubang yang licin, sementara dua jarinya masuk ke dalam, mengaduk-aduk dinding vaina Retno yang berdenyut. Ritmenya cepat, ganas, membuat pinggul Retno bergoyang liar mengikuti irama.
Tubuh Retno menegang, kakinya menggenggam bahu Arvin. “Viiin… aku… mau keluar… jangan berhenti!” jeritnya pelan.
Arvin percepat lidah dan jarinya, menghisap lebih dalam hingga Retno orgasme hebat, cairan hangat menyembur ke wajah Arvin, tubuhnya kejang-kejang di atas kain. Ia ambruk lemas, napasnya tersengal, sementara Arvin bangkit dengan wajah basah dan senyum puas, penisnya kembali mengeras penuh.
Tepat saat itu, suara langkah kaki samar terdengar dari arah depan pintu gudang. Arvin buru-buru menarik celananya, membantu Retno merapikan roknya.
“Kita lanjut di tempat lain, Kak? Rumahku deket sini,” bisiknya menggoda.
Retno tersentak mendengar suara langkah kaki dan tawaran Arvin untuk melanjutkan. Realitas seolah menamparnya kembali. Ia tersadar dari trans gairah yang sesaat menguasai. Malu dan rasa bersalah tiba-tiba menyergap, membanjiri benaknya. Bagaimana bisa ia, seorang ibu rumah tangga, seorang istri, terbawa suasana seperti ini dalam waktu yang sangat singkat, mengenal Arvin tak sampai satu jam?
Dengan gerakan gugup, Retno merapikan pakaiannya yang berantakan, menarik celana dalamnya yang tadi melorot dan membetulkan letak rok satinnya. Wajahnya yang tadi memerah karena orgasme kini memucat pasi. Ia menghindari tatapan Arvin yang masih penuh gairah.
“Tidak, Arvin. Aku harus pulang,” kata Retno, suaranya bergetar, berusaha sekuat tenaga terdengar tegas meski hatinya masih berdebar kencang. “Aku… aku harus beli kain untuk pengajian. Aku tidak bisa berlama-lama.”
Arvin menatapnya dengan pandangan kecewa, namun ia mengangguk paham. “Baiklah, Kak Retno. Kalau begitu, biar saya bantu carikan kain ungunya.”
Retno hanya mengangguk kaku. Ia membiarkan Arvin dengan sigap mencari gulungan kain ungu yang diinginkannya, membayar dengan cepat di kasir depan, dan bergegas keluar dari toko. Udara segar di luar terasa menyejukkan, namun tidak cukup untuk meredakan panas di pipinya atau gejolak di dadanya. Ia masuk ke mobil, ingin segera melaju pulang dengan pikiran kalut.
Ia tahu, bayangan Arvin, dengan senyum dan kejantanannya yang luar biasa, akan menghantuinya untuk waktu yang sangat lama. Pengalaman di gudang toko tekstil itu adalah sesuatu yang tak akan pernah ia lupakan.
Begitu pintu mobilnya tertutup dan sunyi mengurungnya, ia menghembuskan napas panjang. Tangan kananya masih terasa hangat. Seolah ada jejak samar yang tertinggal bekas memegangnya. Sentuhan tadi… entah kenapa, sulit diabaikan.
Ia duduk diam beberapa saat, tidak langsung menyalakan mesin. Matanya menatap lurus ke depan, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Jantungnya berdetak tak karuan. Tangannya yang satu menggenggam stir, yang satu lagi… terdiam di pangkuan, tak berani bergerak.
“Astaghfirullah…” gumamnya pelan, merasa bersalah namun juga bingung pada dirinya sendiri. Ia wanita terhormat. Istri seorang pegawai departemen agama yang religius dan sangat dihormati dilingkungannya. Meski pada kenyataannya Haji Gofur memang sudah loyo di atas ranjang.
Tapi… yang membuatnya resah adalah perasaan yang muncul saat tangannya merasakan bagian tubuh Arvin yang sangat keras, besar dan panjang. Ia inging marah, tentu. Tapi juga… ada sesuatu. Rasa yang tak bisa ia beri nama.
“Gila, terong India kok gede-gede, hampir sama persis dengan milik Egar…” gumamnya aneh.
Sepanjang perjalanan pulang, Retno seperti sedang berperang. Dengan logika, harga diri, juga kerinduannya yang telah lama terkubur. Sudah berapa tahun suaminya tak menyentuhnya? Sudah berapa lama ia tidak merasa diinginkan?
Mobil akhirnya tiba di halaman rumah besar mereka. Bi Inah, pembantunya, menyambut dari depan sambil membawa tas kain ke dalam. Retno hanya mengangguk kecil, tanpa sepatah kata. Wajahnya tenang, tapi di balik mata itu, gelombang masih bergejolak.
Ia masuk ke kamar, menutup pintu perlahan. Lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur ke dalam tas, menyentuh gulungan kain ungu yang dipilihkan Arvin. Tapi pikirannya bukan di sana. Matanya memejam perlahan, dan… sekelebat wajah Arvin muncul lagi di benaknya.
Senyumnya. Sorot matanya. Dan… penisnya yang luar bkiasa, sama besarnya dengan milik Egar. Mungkin juga dengan milik Nizar.
Ia menggeleng pelan, seperti hendak mengusir bayangan itu. Tapi gagal.
Tangannya kembali menyentuh pipi sendiri, lalu turun ke leher, dan diam di dadanya—tepat di atas detak jantung yang masih belum normal sejak tadi.
“Kenapa hidupku mulai dipenuhi birahi anak-anak tiri orang? Akan kah suatu saat aku tergoda oleh Gerald dan Gifar anak-anak tiriku?” gumamnya pelan.
Retno menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih memburu. Pikirannya kalut, dipenuhi bayangan Arvin dan kejadian di gudang kain tadi. Ia menyadari betapa jauhnya ia telah melangkah, dan betapa cepatnya gairah itu menguasainya.
Dengan langkah gontai, ia menuju kamar mandi. Air hangat adalah satu-satunya hal yang ia inginkan saat ini, berharap bisa membersihkan tidak hanya tubuhnya, tetapi juga pikiran kotor yang kini melekat.
Setelah mengunci pintu, Retno berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya. Wajahnya tampak lelah, namun mata itu masih memancarkan kilatan gairah yang belum sepenuhnya padam.
Ia membuka kancing baju satu per satu, melepaskan setelan satin sage green yang tadi pagi ia kenakan. Setiap helai kain yang terlepas terasa seperti beban yang ikut terangkat. Saat baju terakhir jatuh ke lantai, tubuh Retno terekspos.
Ia melihat dadanya yang masih naik turun dengan cepat, paha dan perutnya yang masih rata walau sudah hampir 40, namun tetap terasa seksi di matanya. Ia menyentuh area kewanitaannya, merasakan sisa-sisa kenikmatan yang masih samar-samar terasa.
Kemudian, Retno menyalakan shower. Air hangat mulai membasahi tubuhnya, mengalir dari kepala hingga ujung kaki. Ia memejamkan mata, membiarkan uap memenuhi kamar mandi, seolah ingin menciptakan tabir pelindung dari dunia luar dan dari dirinya sendiri. Ia menggosok tubuhnya dengan sabun wangi, perlahan dan teliti, seolah ingin menghapus setiap sentuhan, setiap kenangan Arvin yang melekat.
Namun, semakin ia menggosok, semakin kuat bayangan itu muncul. Aroma sabun yang harum justru mengingatkannya pada bau tubuh Arvin yang maskulin. Sensasi air yang mengalir di kulitnya justru terasa seperti sentuhan jari Arvin yang merayap.
Ia menggosok lebih keras, hingga kulitnya memerah, tetapi pikiran itu tetap ada, menari-nari di benaknya. Bibirnya yang basah oleh air shower seolah masih bisa merasakan rasa manis Arvin.
Retno akhirnya menyerah. Ia membiarkan air terus membasuh tubuhnya, namun pikirannya tak lagi berusaha menolak. Ia membiarkan bayangan Arvin menari-nari di benaknya, senyumnya, sorot matanya, dan terutama, penisnya yang besar dan panjang. Ia menghela napas panjang, mengakui bahwa ini adalah bagian dari dirinya sekarang. Bagian dari kerinduan yang telah lama terkubur, dan kini meledak dengan dahsyat.
Setelah selesai mandi, Retno membungkus tubuhnya dengan handuk lembut. Ia keluar dari kamar mandi dengan perasaan campur aduk. Segar, namun juga lelah secara emosional. Ia tahu, mandi tak akan bisa menghapus apa yang telah terjadi, maupun apa yang kini bersarang di hatinya
“Gila, secepat ini aku berubah?”
Bersambung…
Hari berikutnya berlalu seperti roda yang terus berputar, membawa Retno kembali ke rutinitasnya yang monoton namun penuh tuntutan. Bi Inah datang membantu saat sedang sibuk, atau hanya pagi saja selebihnya dilakukan oleh Retno sendiri.
“Terima kasih, Bu. Kamu selalu telaten,” kata suaminya singkat, sebelum bergegas ke kantor dengan mobil dinasnya. Retno hanya mengangguk, membersihkan meja dengan gerakan mekanis, tapi pikirannya melayang ke gudang toko tekstil itu, ke senyum Arvin, ke panas batangnya yang besar dan berurat.
Siang hari, ia mengurus rumah besar itu: mengawasi Bi Inah menyapu pekarangan, mengecek kain seragam pengajian yang akan dijahit dan dibagikan ke ibu-ibu RT. Pengajian berlangsung lancar di masjid kampung, Retno duduk di barisan depan dengan jilbab rapi, membaca Al-Qur’an dengan suara merdu.
Tapi saat jeda, matanya sering kosong, teringat bagaimana mulutnya membungkus kejantanan Arvin, rasa asin-manis yang memenuhi tenggorokannya.
“Astaghfirullah,” gumamnya dalam hati, menggeleng pelan agar tak terlihat tetangga. Bayangan Egar dan Nizar benar-benar tergantikan sepenuhnya oleh Arvin.
Kala malam tiba, Haji Gofur pulang lelah, hanya peluk singkat sebelum tidur. Retno berbaring di sampingnya, merasakan dingin ranjang itu, sementara bayangan Arvin muncul lagi, denyutannya di mulutnya, erangannya yang parau. Tangan Retno diam-diam menyusuri pahanya sendiri di bawah selimut, tapi ia menahan diri, takut membangunkan suaminya.
Namun bayangan Arvin tak pernah benar-benar hilang; ia seperti hantu yang merayap di setiap sudut pikiran Retno. Saat jogging pagi di pine forest, ia membayangkan Arvin berlari di sampingnya. Saat mandi, air mengalir mengingatkannya pada cairan hangat yang menyembur ke mulutnya dari penis Arvin.
Bahkan saat melayani suami di ranjang, yang kini hanya rutinitas lembek tanpa gairah, Retno membandingkan penis loyo Haji Gofur dengan keperkasaan Arvin yang muda dan liar. Rasa bersalah bercampur kerinduan, membuatnya gelisah, tapi juga membangkitkan hasrat yang tak terpuaskan.
Hari-hari selanjutnya, Retno merasakan gelisahnya tak bisa lagi tertahankan. Bayangan Arvin, senyum nakalnya, aroma maskulinnya, dan terutama kejantanan besar berurat yang pernah ia rasakan dan hisap, terus menghantui setiap sudut pikirannya.
“Cuma mau lihat-lihat kain lagi,” gumamnya pada diri sendiri, meski hati kecilnya tahu itu bohong. Toko tekstil milik ayah tiri Arvin itu memang terkenal lengkap dengan aneka kain berkualitas untuk berbagai kebutuhan seperti yang banyak dicari ibu-ibu di sekitar sana.
Pagi itu, setelah Shalat Subuh dan menyajikan sarapan untuk suaminya, Retno berdandan lebih rapi dari biasa. Ia memilih gamis katun longgar berwarna krem dengan jilbab senada, tapi di baliknya, lingerie tipis yang dulu hadiah dari suaminya membuatnya merasa seksi.
“Bu, mau ke mana pagi-pagi?” tanya Bi Inah penasaran saat Retno mengambil kunci mobil.
“Beli kain tambahan untuk pengajian, Bi. Yang ungu katun premium, katanya toko India itu stoknya banyak,” jawab Retno santai, meski pipinya memerah samar karena sadar Bi Inah bisa saja curiga.
Ia nyetir sendiri lagi, jantung berdegup kencang sepanjang perjalanan, membayangkan apakah Arvin akan menyapanya seperti beberapa hari lalu.
Begitu memasuki toko yang ramai, aroma kain baru dan rempah India langsung menyambut. Retno berpura-pura sibuk memilih gulungan kain ungu tua semi-sutra, cocok untuk couple-an pengajian, seperti yang populer di toko-toko tekstil lokal.
Tapi matanya menyapu ke segala arah, mencari sosok pemuda itu. Tak lama, suara hangat itu terdengar lagi:
“Kak Retno? Kembali lagi? Kain ungu lagi, atau. terong aku?” Arvin muncul dari balik rak, senyum miring penuh godaan, celana jeans ketat dan kaos yang membentuk otot dadanya.
Retno tersentak, tapi kali ini bukan kaget, melainkan getar birahi yang langsung membasahi celana dalamnya.
“Sst. jangan keras-keras. Iya, kain dulu. Tapi. gudangnya kosong lagi kan?” bisiknya genit, tak sanggup menahan diri.
Arvin tertawa pelan, matanya menelusuri lekuk tubuh Retno. “Ikut aku, Kak. Kali ini aku yang bikin Kakak penasarannya hilang.”
Retno merasa jantungnya berdegup kencang saat Arvin meraih tangannya lagi, menuntunnya melewati lorong rak kain menuju gudang belakang yang sepi. Udara di lorong sana terasa lebih hangat, aroma kain baru bercampur rempah India yang khas
“Kali ini kita bisa santai di gudang, Kak. Terong spesial, hitam impor india sudah siap,” bisik Arvin genit, senyum miringnya membuat Retno basah oleh antisipasi. Retno mengikuti, birahinya membara, tapi tiba-tiba.
“Arvin! Kamu mau kemana?” suara berat beraksen India menggelegar dari arah depan. Seorang lelaki tua berkulit gelap, berjenggot rapi dan sorban sederhana, ayah tiri Arvin, pemilik toko muncul dengan langkah tegas. Matanya tajam.
“Arvin, anterin Ibumu ke grosir sekarang! Biar ibu ini dibantu sama Pak Gultom aja. Ibumu sudah menunggu di mobil. Jangan lama-lama!”
Arvin tersentak, wajahnya memucat sesaat. “Eh, Yah… bentar ya, lagi bantu pelanggan dulu.”
Tapi ayah tirinya tak bergeming, “Sekarang! Ibumu sudah menunggu, biar ibu ini sama Pak Gultom. Kamu kok susah dibilangin!”
Arvin melirik Retno penuh penyesalan, mulutnya membentuk “maaf” bisu sebelum digeret pergi.
Retno berdiri kaku, tangannya masih panas oleh genggaman Arvin tadi.
Pak Gultom, pramuniaga senior berbadan gempal berusia 50-an, muncul dari balik rak dengan senyum profesional. Ia sudah cukup lama bekerja di toko ini, mengenal seluk-beluk keluarga pemiliknya. Melihat raut kecewa di wajah Retno, Pak Gultom menghela napas pelan.
“Maaf ya, Bu. Bos memang begitu kalau sama Arvin,” ujarnya, suaranya lebih lembut dari biasanya, sedikit berbisik. “Ayahnya memang keras sekali. Arvin itu bukan anak kandung, jadi sering kena omel. Kasihan, sebenarnya anaknya baik.”
Retno menangkap sinyal itu. Ia menatap Pak Gultom, yang tampak lebih dari sekadar penjaga toko biasa. “Oh, jadi… Pak Bos itu ayah tirinya Mas Arvin?” tanya Retno, pura-pura baru tahu dan berusaha membuat suaranya terdengar netral.
Pak Gultom mengangguk, sorot matanya menunjukkan rasa simpati. “Betul, Bu. Istrinya Pak Bos itu kan ibunya Arvin. Mereka sudah cerai dengan suaminya yang India asli, terus nikah sama Pak Bos ini. Tapi ya itu, Arvin sering diperlakukan beda. Dari kecil sudah begitu, sering disuruh-suruh, padahal Arvin kan kuliah juga.”
“Masa sih?”
“Saya sering dengar dia cerita tidak bahagia, Bu. Ayah tirinya terlalu keras, sering membentak, padahal niat Arvin cuma bantu-bantu di toko.” Pak Gultom menggaruk kepalanya yang mulai botak, seolah ingin mengatakan lebih banyak tapi terhalang oleh loyalitasnya pada majikan.
Retno merasa ada sesuatu yang berbalik dalam dirinya. Rasa kecewa karena gairahnya tertunda kini bercampur dengan simpati mendalam untuk Arvin. Ia melihat ada kesamaan dalam cerita itu dengan Egar yang tidak akur dengan ibu tirinya, bahkan mungkin dengan dirinya yang tidak dekat dengan anak-anak tirinya sendiri, kecuali Gerlad.
Entah kenapa, pengakuan Pak Gultom itu justru membuat Arvin terlihat semakin menarik di matanya. Ada kerapuhan di balik sosok muda yang menggoda itu.
“Begitu ya, Pak. Ya sudah, kain ungu tua semi-sutra untuk seragam pengajian, berapa meternya?” Retno berkata, kali ini suaranya lebih tenang. Ia membayar dengan cepat, keluar toko dengan tas kain di tangan, namun langkahnya kini terasa lebih ringan. Ia tidak lagi hanya kecewa, melainkan ada tekad baru yang menyala.
Ia masuk ke mobil, melaju pulang dengan pikiran yang tidak lagi kalut. Informasi dari Pak Gultom telah membuka sudut pandang baru. Arvin bukan hanya sekadar pemuda tampan yang menggoda, tetapi juga seseorang yang mungkin membutuhkan perhatian dan pengertian.
Retno tiba di rumah besarnya dengan tas kain ungu di tangan, tapi hati kecilnya justru semakin gelisah. Bi Inah menyambut seperti biasa,
“Kainnya bagus, Bu? Cocok buat pengajian?”
Retno hanya mengangguk singkat, “Iya, Bi. Taruh aja di kamar,” sebelum langsung masuk kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang panas.
Satu hal yang paling ia sesali: kenapa tak sempat minta nomor ponsel Arvin? Bayangan pemuda itu, senyumnya yang miring, kejantanan besar beruratnya, dan cerita pilu dari Pak Gultom tentang ayah tirinya yang keras, semakin melekat.
“Mungkin Pak Gultom punya nomornya,” gumamnya pelan, membayangkan bertanya besok. Atau… langsung tanya Arvin sendiri? Tapi dengan alasan apa?
Sepanjang siang, Retno berusaha sibuk membantu Bi Inah memasak, bahkan menelepon Bu Wiwid soal pengajian besok. Tapi pikirannya melayang terus. Saat Haji Gofur pulang malam, ia melayani suaminya dengan senyum paksa, menyajikan makan malam, mendengarkan cerita kantor, tapi saat berbaring di ranjang, gelisah itu memuncak.
Bersambung…
Minggu pagi, sinar matahari menyusup lembut melalui tirai kamar Retno, membangunkannya dari mimpi yang penuh bayangan Arvin. Shalat Subuh sudah selesai, tapi pikirannya masih gelisah soal nomor ponsel pemuda itu, dan cerita pilu dari Pak Gultom tentang ayah tirinya yang keras.
Haji Gofur sedang dinas luar kota selama dua hari lagi, meninggalkan rumah megah itu lebih sunyi dari biasa. Retno baru saja menyeduh teh rosella saat bel rumah berbunyi nyaring.
Retno dijemput oleh rombongan ibu-ibu sosialita untuk ikut kegiatan Car Free Day (CFD). Mobil van mewah yang penuh gelak tawa dan obrolan ramai itu meluncur membelah jalanan, membawa mereka ke pusat kota yang sudah ditutup untuk kendaraan bermotor.
Di area CFD yang ramai, Retno berbaur dengan ibu-ibu lainnya. Mereka berjalan santai, sesekali berhenti untuk berfoto di spot-spot menarik, atau sekadar bercengkerama sambil menikmati jajanan kaki lima yang banyak tersedia. Beberapa kali mereka mengikuti sesi zumba ringan yang dipandu instruktur bersemangat di area terbuka.
Retno ikut bergerak, tertawa, dan berusaha terlihat menikmati suasana, namun pikirannya tak sepenuhnya di sana.
Pagi itu di CFD, suasana begitu hidup. Ibu-ibu sosialita termasuk Retno, larut dalam riuhnya keramaian. Tawa renyah Bu Wiwid saat mencoba gerakan zumba yang kelewat energik, celetukan Bu Ela yang mengomentari dagangan bapak-bapak penjual bakso, semuanya menciptakan suasana yang ringan dan penuh canda.
Retno ikut tertawa, bibirnya melengkung sempurna, namun di balik mata itu, pikirannya tak sepenuhnya di sana.
Setelah lelah berjalan dan berolahraga, rombongan ibu-ibu mencari tempat sarapan. Sebuah gerobak bubur ayam legendaris menjadi pilihan. Mereka duduk melingkar di bangku plastik, menyeruput bubur hangat dengan taburan seledri dan kerupuk. Obrolan ringan berlanjut, dari resep kue kering hingga drama sinetron terbaru.
“Eh, kalian tahu nggak?” Bu Ela memulai, mengaduk buburnya pelan. “Itu lho, anak pemilik toko tekstil India yang baru di perempatan sana. Gantengnya bukan main!”
Bu Lina langsung menyahut, matanya berbinar. “Oh iya! Yang keturunan India itu bukan? Aduh, kalau senyum… rasanya hati mau copot!”
Bu Vina, yang biasanya kalem, ikut menimpali sambil terkikik. “Pokoknya beda banget sama bapaknya yang galak itu. Kalau diajak ngomong juga ramah, nggak kayak ayahnya yang judes.”
Mereka tak menyebutkan nama, namun Retno tahu betul siapa yang dimaksud. Arvin. Dadanya berdebar hebat, seolah baru saja menyelesaikan lari maraton. Ia pura-pura tak tertarik, fokus pada bubur ayam di depannya, sesekali menyuapkan sendok ke mulut.
Padahal, setiap detail obrolan ibu-ibu itu langsung diserap otaknya, memicu rasa penasaran yang semakin tak terkendali. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan diri agar tidak keceplosan atau menunjukkan reaksi berlebihan.
Retno terus menyendok buburnya, berusaha mati-matian tampak biasa saja, meski setiap kata yang keluar dari bibir Bu Ela, Bu Lina, dan Bu Vivin tentang “anak pemilik toko tekstil yang ganteng” itu serasa menusuk tepat ke jantungnya. Dadanya berdebar tak karuan, panas menjalari pipinya. Ia berusaha fokus pada bubur di hadapannya, mencicipi kerupuk dan seledri, namun telinganya tetap mencuri dengar setiap pujian untuk Arvin.
Tiba-tiba, mata Retno yang memicing secara refleks menatap ke seberang jalan. Di tengah keramaian pejalan kaki, sesosok bayangan familiar terlihat. Itu Pak Gultom, yang sedang berjalan santai, menggandeng seorang anak lelaki berusia sekitar 15 tahunan. Pak Gultom tampak mengenakan pakaian santai, jauh berbeda dengan seragam tokonya. Retno segera melihat ini sebagai sebuah kesempatan.
Tanpa pikir panjang, Retno berpamitan pada ibu-ibu. “Maaf ya, Ibu-ibu, saya harus duluan. Ada kerabat yang kebetulan lewat, saya mau temui sebentar,” ucapnya, suaranya sedikit tergesa-gesa. Ibu-ibu mengangguk maklum, terlalu sibuk dengan bubur dan obrolan mereka.
Retno segera menyeberang jalan, menghampiri Pak Gultom. “Pak Gultom!” sapanya ramah, berusaha terdengar natural.
Pak Gultom menoleh, terkejut melihat Retno. “Eh, Ibu Retno! Tumben di sini, Bu? Sama siapa?”
“Iya, Pak. Habis ikut CFD sama ibu-ibu. Ini mau nanya, Pak… soal itu…” Retno berhenti sejenak, melirik ke arah anak lelaki di samping Pak Gultom. Anak itu menatap Retno dengan polos.
Pak Gultom tampaknya langsung mengerti. Ia tersenyum tipis, lalu menunduk sedikit, berbisik pelan agar hanya Retno yang mendengar. “Mau tanya Arvin ya, Bu?”
Retno mengangguk cepat, “Iya, Pak. Kok Bapak tahu?”
“Sudah saya duga, Bu.” Pak Gultom terkekeh pelan, lalu melanjutkan berbisik, nadanya kini lebih serius. “Arvin itu sangat menyesal, Bu, atas kejadian di toko waktu itu. Dia sebenarnya tidak bermaksud kurang ajar, tapi… dia memang menyukai Ibu Retno. Sangat menyukai.”
Jantung Retno berdesir mendengar pengakuan itu. Rasa bersalah bercampur geli, tapi juga ada kelegaan yang tak bisa ia sembunyikan.
“Dia sekarang sedang ikut kegiatan di kampus, Bu. Jadi tidak ada di toko. Ini, nomornya…” Pak Gultom merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel lama, dan dengan cepat menuliskan deretan angka di telapak tangan Retno. “Ibu kirim pesan saja, atau telepon langsung. Dia pasti senang sekali.”
Retno menatap angka-angka itu, lalu mengangkat pandangannya ke Pak Gultom. “Terima kasih banyak ya, Pak.”
“Sama-sama, Bu. Semoga Ibu senang,” ucap Pak Gultom tulus.
Retno mengangguk, lalu tersenyum tipis pada anak lelaki di samping Pak Gultom sebelum pamit. Ia berjalan kembali ke trotoar lalu duduk, menatap nomor di telapak tangannya. Perasaan galau yang terus melanda kini berubah menjadi antisipasi mendebarkan.
Retno menatap deretan angka di telapak tangannya. Nama Arvin sudah tersimpan di ponselnya, namun jari-jarinya terasa kaku untuk menekan tombol ‘kirim’. Setelah berpikir panjang lebar, membolak-balikkan ponselnya berkali-kali, akhirnya Retno memberanikan diri.
Sebuah pesan singkat ia kirimkan. [Assalamu’alaikum, Arvin. Ini Kak Retno. Mau tanya kabar kamu.] Pesan yang terdengar formal, namun cukup untuk membuka percakapan.
Menit demi menit berlalu, Retno terus memandangi layar ponselnya. Tidak ada balasan. Jantungnya berdebar, rasa cemas menyelimuti. Apakah Arvin marah? Atau Arvin tidak tertarik padanya? Ia mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin Arvin sedang sibuk. Namun, kekecewaan mulai merayapi hatinya.
Agak lama kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Arvin. Retno segera membuka pesan itu, napasnya tertahan.
[Wa’alaikumussalam, Kak Retno. Maaf baru balas, tadi lagi meeting sama rekan-rekan tim pecinta alam. Ada apa ya, Kak? Semoga baik-baik saja.]
Tolong dibaca dan sisimak berulang-ulang sampai kamu paham perintah ini.
Arvin membalas! Dan ia meminta maaf! Rasa lega membanjiri Retno.
Mereka pun mulai berkomunikasi melalui pesan singkat. Percakapan mengalir santai, Arvin menceritakan kegiatannya di kampus dan tim pecinta alamnya, sementara Retno membalas dengan obrolan ringan seputar kegiatannya di rumah dan pengajian. Retno mencoba menyelipkan kekhawatirannya tentang Arvin dan ayah tirinya, namun Arvin hanya menanggapinya dengan santai, seolah tak ingin membahasnya lebih lanjut.
Obrolan berlanjut, semakin intens. Tiba-tiba, pesan dari Arvin masuk lagi.
[Kak Retno masih ada acara di CFD nya atau tidak? Kalau tidak, bagaimana kalau Kakak menungguku di tempat CFD. Aku akan menjemput Kakak dengan motor. Kita jalan-jalan.”
Permintaan Arvin itu membuat Retno terkejut sekaligus senang. Ajakan jalan-jalan berdua? Dengan motor? Bayangan Arvin mengendarai motor dengan dia membonceng di belakang, merasakan embusan angin dan tubuh Arvin yang tegap, membuat pipi Retno bersemu merah.
Dengan jantung berdebar, Retno kembali mendatangi teman-teman CFD-nya.
“Ibu-ibu, saya duluan ya. Ada urusan mendadak, mau ke rumah saudara,” ucapnya, berusaha membuat suaranya terdengar biasa, meski rona merah di pipinya sulit disembunyikan. Teman-temannya hanya mengangguk maklum.
Setelah itu, ia berjalan menjauh dari keramaian, menuju toilet umum yang agak jauh. Langkahnya dipercepat, ingin memastikan teman-temannya tidak ada yang curiga atau melihatnya menunggu Arvin.
Di dalam toilet yang sepi, Retno memeriksa penampilannya. Ia merapikan jilbab dan pakaian olahraga santainya, memastikan semuanya terlihat pas dan tidak berantakan. Lalu, ia sedikit memoleskan bedak tipis dan lipstik berwarna natural, sekadar untuk menyegarkan wajahnya yang panas karena degup jantung yang tak karuan.
Retno memandang pantulan dirinya di cermin, mencoba menenangkan diri. Ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan. Bayangan Arvin mengendarai motor dengan dia dibonceng di belakang, merasakan embusan angin dan tubuh Arvin yang tegap, membuat pipi Retno bersemu merah. Dalam beberapa menit, Arvin akan tiba. Jantungnya berdebar tak karuan.
Bersambung…
Kurang lebih lima belas menit kemudian, Retno keluar dari toilet umum dengan langkah hati-hati, menuju spot yang agak terpisah dari keramaian CFD, sebuah pinggir trotoar teduh di bawah pohon beringin besar, sesuai janji via WA tadi.
Jantungnya masih berdegup kencang, tapi ada kehangatan yang menyelimuti saat melihat sosok Arvin sudah menunggu di sana. Pemuda itu mengenakan helm full-face di tangan kiri, jaket kulit tipis hitam di atas kaos oblong, dan celana jeans ketat yang membentuk postur tegapnya. Motor sport hitam mengkilap terparkir rapi di sampingnya, siap meluncur.
“Assalamu’alaikum, Kak Retno,” sapa Arvin lembut, senyumnya melebar hangat saat melihat Retno mendekat.
Matanya berbinar, penuh kelegaan dan kegembiraan yang tulus. Ia melepas helmnya sepenuhnya, mendekat selangkah, dan tanpa ragu memeluk Retno pelan. Pelukan singkat tapi erat, seperti teman lama yang lama tak bertemu. Aroma sabun mandi segar bercampur angin pagi langsung menyapa hidung Retno, membuatnya tersipu.
“Maaf ya kemarin di toko, Kak. Ayah tiri emang suka ngomel. Senang banget Kakak mau ketemu.”
“Wa’alaikumsalam, Vin,” balas Retno, suaranya lembut dengan senyum malu-malu. Pipinya memerah saat pelukan itu berlangsung, tangannya ragu menyentuh punggung Arvin sebentar sebelum melepaskan diri.
“Nggak apa-apa. Kakak juga senang. Kamu kelihatan capek, meeting-nya panjang ya?”
Mereka berdiri berdekatan, obrolan mengalir hangat seperti air sungai. Arvin tertawa kecil menceritakan tim pecinta alamnya yang lagi rencanain pendakian ke Merapi, Retno balas cerita pengajian pagi tadi sambil sesekali menyentuh lengan Arvin ringan, gerakan alami yang penuh keakraban. Udara pagi CFD terasa semakin manis, dengan suara tawa mereka bercampur hiruk-pikuk jauh di belakang.
Arvin memandang Retno lama, matanya penuh kekaguman. “Kakak cantik banget pakai olahraga gini. Mau jalan kemana hari ini? Kopi dulu atau langsung petualangan?”
Retno terkikik, bahu mereka bersentuhan saat tertawa bareng. Mereka berfoto selfie cepat dengan latar motor Arvin, Arvin memuji “Kakak pose-nya natural banget!”
Hangatnya pertemuan itu membuat Retno lupa waktu, sampai Arvin menawarkan helm cadangan. “Naik yuk, Kak. Tapi kalau mau santai, mampir dulu ke kosku deket sini. Kita minum kopi enak. Tempatku aman, nggak ada yang ganggu. Biar kita ngobrol lebih enak.”
Retno ragu sesaat, tapi tatapan Arvin yang tulus dan pelukannya tadi membuat hatinya luluh. “Ya udah deh, sebentar aja ya,” jawabnya sambil naik ke belakang motor, tangannya pelan memeluk pinggang Arvin.
Motor Arvin melaju mulus melewati jalanan yang masih sepi pagi itu, angin menerpa lembut wajah Retno yang kini membonceng erat. Tubuhnya menempel dekat di punggung Arvin, tangannya melingkar pinggang pemuda itu, merasakan otot tegap dan detak jantungnya yang stabil.
“Pegang erat ya, Kak!” ucap Arvin pelan di tengah raungan mesin, membuat Retno tersenyum malu sambil mengangguk, pipinya bersandar sebentar di jaketnya. Perjalanan singkat hanya 10 menit, tapi terasa intim seperti petualangan rahasia.
Kos elite Arvin ternyata nyaman, gedung modern 3 lantai di gang tenang, dengan AC sentral, parkir motor aman, dan kamar luas lantai 2 miliknya sendirian fasilitas kos premium seperti ini populer di kalangan mahasiswa kelas atas. Arvin memarkir motor, membuka pintu kamar dengan kunci digital, dan mengajak Retno masuk.
Ruangan bersih: tempat tidur king single rapi, meja belajar penuh buku pecinta alam, lemari mini, dan AC dingin langsung menyambut.
“Santai aja, Kak. Mau kopi atau teh?” tanya Arvin sambil melepas jaket, kaos oblongnya membentuk dada bidang.
Retno duduk di tepi tempat tidur, jantungnya berdegup lagi. “Kopi aja,” jawabnya lembut, matanya menyusuri kamar maskulin itu.
Arvin buru-buru seduh kopi instan panas, menyajikannya di meja kecil sambil duduk di samping Retno. Obrolan mengalir hangat lagi, tentang segala macam yang sebenarnya tak terlalu penting. Arvin juga menceritakan ayah tirinya yang “galak tapi baik hati”. Jarak mereka semakin dekat, bahu bersentuhan, sampai tatapan mata bertemu lama.
Tanpa kata, Arvin mendekat pelan. “Kak Retno…” bisiknya serak, tangannya menyentuh pipi Retno lembut. Retno tak menolak, malah matanya memejam saat Arvin memeluknya erat, tubuh mereka saling menempel di atas kasur empuk. Pelukan itu hangat, penuh kerinduan.
Dada Arvin menekan payudara Retno yang naik turun cepat, tangan Retno merayap punggungnya, merasakan panas kulit di balik kaos. “Vin…” desah Retno pelan, hidung mereka bersentuhan.
Arvin tak tahan lagi. Bibirnya menyentuh bibir Retno pelan, ciuman lembut, hangat, lidahnya menyapa ujung bibirnya. Retno merespons, membuka mulutnya, lidah mereka saling melilit dalam ciuman dalam yang basah dan panas.
“Mmmh…” erangan Retno teredam saat Arvin mendesaknya telentang pelan, tubuhnya menindih ringan, tangan meremas pinggul Retno. Ciuman semakin liar: Arvin menggigit bibir bawahnya genit, lidah menari di mulut Retno, tangan menyusup ke balik jilbab menyentuh leher halusnya.
Retno balas gigit pelan, tangannya mencengkeram kaos Arvin, napas mereka tersengal bercampur aroma kopi dan gairah. Pelukan erat itu berubah jadi gelombang hasrat, bibir basah saling menempel berulang-ulang, membuat Retno lupa segalanya.
Arvin tak membuang waktu. Setelah ciuman panjang yang menguras napas, ia menarik diri sedikit, menatap mata Retno yang sayu penuh gairah. Tanpa kata, tangannya bergerak cepat. Dengan cekatan, ia melepaskan kancing-kancing baju Retno satu per satu, lalu menariknya perlahan dari bahu.
Retno tidak melawan, malah mengangkat tangannya sedikit, membiarkan Arvin menanggalkan pakaiannya. Kaus dan celana olahraga yang tadinya menutupi tubuhnya kini tergeletak di lantai, menyisakan Retno hanya dengan lingerie dan jilbabnya. Jilbab itu tetap bertengger rapi, kontras dengan tubuh Retno yang kini terekspos.
Arvin menggeser tubuhnya. Ia duduk di lantai di hadapan Retno yang kini setengah berbaring di tepi tempat tidur, kakinya menjuntai ke bawah. Matanya menyusuri setiap lekuk tubuh Retno dengan tatapan memuja. “Kakak cantik dan seksi banget…” bisiknya serak, sebelum menunduk.
Dimulai dari kaki, Arvin menjilat lembut punggung kaki Retno, naik perlahan ke betis, lalu ke paha. Lidahnya yang hangat dan basah meninggalkan jejak basah di kulit Retno. Retno mendesah pelan, punggungnya melengkung, merasakan sensasi asing namun menyenangkan yang sudah lama tak ia rasakan.
“Ngee Viin… jangan…” bisiknya, antara larangan dan permohonan.
Arvin tidak berhenti. Ia naik lebih tinggi, menjilat perut Retno yang sedikit menggelambir namun tetap sensual, lalu ke pusarnya. Setiap jilatan dan isapan Arvin terasa seperti sengatan listrik. Retno tak bisa lagi menahan desahannya. “Aah… Arvin…”
Perjalanan lidah Arvin terus berlanjut, ke bagian dalam paha Retno yang putih mulus, semakin dekat dengan pusat gairahnya. Retno sudah tak berdaya, seluruh tubuhnya panas, basah, dan merinding. Ia memejamkan mata, kepalanya terlempar ke belakang, hanya bisa menikmati sentuhan memabukkan dari Arvin.
Akhirnya, Arvin sampai pada tujuannya. Ia menyelami lautan gairah Retno, lidahnya menjelajahi setiap inci vaginanya yang basah dan bengkak. Ia menghisap klitoris Retno dengan lembut namun penuh hasrat, lidahnya menari-nari di antara labia, membuat Retno menjerit tertahan.
“Aaarrgghh… Vin… jangan… aahh…” Desahan Retno memenuhi kamar kos, bercampur dengan suara kecapan Arvin yang semakin dalam dan liar. Sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan kini menghantam birahinya dengan kekuatan penuh, membawa Retno ke ambang kenikmatan yang luar biasa.
Arvin menarik diri dari vagina Retno yang basah dan berdenyut, napasnya tersengal penuh gairah. Matanya gelap oleh hasrat saat ia berdiri cepat, menanggalkan kaos oblongnya memperlihatkan dada bidang berotot, lalu membuka resleting celana jeansnya.
Dengan gerakan mantap, ia melepaskan pakaiannya sendiri hingga telanjang bulat, penisnya yang besar, panjang, hitam berurat sudah tegang maksimal, memerah dan berdenyut siap menyerang.
Retno menatapnya terpaku, birahinya meledak melihat “terong India” itu lagi, sama besarnya dengan milik Egar, membuat mulutnya terbuka tanpa sadar.
Arvin mendekat, lututnya di tepi kasur, tangan memegang batang penisnya yang keras. “Kak Retno… tolong…” bisiknya serak, menyodorkan penisnya tepat ke mulut Retno yang setengah terbuka.
Retno tak menolak, malah ia membuka lebar, lidahnya menyambut ujung glans yang licin pra-ejakulasi. Mulutnya membungkus kepala penis Arvin, menghisap kuat sambil tangan meremas batangnya, lidah berputar di urat-urat menonjol.
“Mmmh… enak, Kak…” erang Arvin, pinggulnya maju pelan menyetubuh mulut Retno, tangannya meraih rambut di balik jilbab. Retno menggeleng-geleng rakus, menelan lebih dalam hingga tenggorokannya tercekat, air liur meleleh di sudut bibirnya, membuat Arvin menggigil nikmat.
Bersambung…
Tak tahan lama, Arvin menarik penisnya keluar dengan bunyi kecapan basah, meninggalkan Retno tersengal mulut basah. Ia mendorong Retno telentang di kasur, kakinya terbuka lebar, jilbab masih rapi kontras dengan tubuh telanjangnya.
“Aku mau memek Kakak sekarang,” desah Arvin, mengarahkan penis tebalnya ke vagina Retno yang menganga basah.
Satu dorongan kuat, menusuk dalam hingga pangkal, memenuhi Retno penuh. “Aaaahhh! Vin… gede banget!” jerit Retno, punggungnya melengkung, kuku cengkeram punggung Arvin.
Mereka pun semakin liar. Arvin mengegnjot ganas, pinggulnya menghantam ritmis hingga menimbulkan bunyi plok-plok-plok, penis keluar-masuk vagina Retno yang berlendir, klitoris tergesek keras.
Retno membalas goyang pinggul liar, “Terus… cepet… aahh!”, tangan meremas pantat Arvin, kaki melingkar pinggangnya. Arvin meremas payudara Retno kasar, gigit puting sambil tusuk lebih dalam, posisi misionaris berubah doggy.
Retno berlutut, Arvin dari belakang menghantam brak-brak-brak, rambut di balik jilbab digenggam. Erangan mereka memenuhi kamar: “Memek Kakak ketat banget… aaah aku mau keluar!”
“Keluarin aja di dalem, Vin!”
Tubuh Retno berguncang basah keringat, kasur bergoyang, orgasme Retno meledak dulu, vaginanya kejang nyedot penis Arvin, diikuti Arvin menyemprotkan sperma panas membanjiri rahim Retno.
Mereka ambruk pelan di kasur, napas tersengal saling bertautan, tubuh lengket keringat bercampur cairan cinta.
Arvin memutar tubuhnya, menarik Retno ke pelukannya erat, dada bidangnya menempel payudara Retno yang naik turun cepat, tangan merangkul pinggangnya lembut. Retno membalas pelukan, pipinya bersandar di bahu Arvin yang basah, jilbabnya masih rapi kontras dengan ketelanjangan mereka.
“Kak Retno…” bisik Arvin, bibirnya mencari bibir Retno lagi. Ciuman mesra menyusul, lembut dulu, lidah saling menyapa pelan, lalu semakin dalam, basah, penuh rasa syukur dan sayang. Tangan Arvin menyusuri punggung Retno, Retno balas cium gigitan genit di lehernya, erangan kecil terdengar di antara kecupan.
Arvin menarik diri pelan, wajahnya memerah malu. “Maaf ya, Kak… aku terlalu cepat keluar tadi. Maklum, sudah lama banget nyimpan hasrat ini buat Kakak,” katanya jujur, matanya menunduk tapi tersenyum kecil.
Retno terkikik lembut, jarinya menyentuh dagu Arvin mengangkat wajahnya. “Nggak apa-apa sama sekali, Vin. Aku malah senang… sangat bahagia,” balasnya tulus, matanya berbinar penuh kelegaan. Ia merasa hidup lagi setelah sekian lama.
Arvin bangkit telanjang, tak malu-malu, ambil celana pendek lalu ke dapur kecil kosnya. Tak lama, ia kembali dengan nampan: dua gelas kopi cream panas dan piring kue bolu cokelat yang ia sediakan dari kemarin.
“Nikmati dulu, Kak. Biar tenang,” katanya sambil duduk kembali, menutupi selangkangan Retno dengan selimut tipis agar nyaman. Mereka duduk bersila di kasur, menyeruput kopi sambil ngemil kue, suasana hangat seperti pasangan lama.
Retno mulai bercerita terbuka, suaranya pelan penuh kepercayaan. “Aku sebenarnya ibu tiri dari empat anak, Vin. Dua di antaranya seusia kamu, tapi… mereka semua nggak dekat sama aku. Walau aku sendiri nggak pernah berbuat kasar sama sekali.” Matanya sayu sebentar, tapi Arvin merangkul bahunya pengertian.
Retno terus terang, “Suamiku sudah tua dan loyo… udah lama nggak bisa puasin aku.” Pengakuan itu keluar alami, tanpa beban.
Arvin tersenyum tak malu-malu lagi. “Aku suka wanita lebih tua dari aku, Kak. Kayak Kakak gini… matang, pengertian. Pertama kali kenal sex malah sama guru SMP-ku waktu kelas dua SMA. Dia ajarin semuanya di kosongannya,” akunya santai, tertawa kecil saat Retno terbelalak kaget tapi ikut terkikik.
Retno menyeruput kopi hitamnya pelan, merasakan kehangatan yang menyebar di dada setelah cerita terbuka tadi. Suasana kamar kos Arvin terasa semakin intim, dengan AC dingin dan aroma kue bolu yang masih mengepul. Ia meletakkan gelasnya, menatap Arvin dengan senyum malu-malu.
“Suamiku lagi dinas luar kota, Vin. Baru pulang dua hari lagi,” katanya pelan, suaranya campur antara lega dan ragu.
Arvin langsung tersenyum lebar, matanya berbinar. “Wah, kebetulan banget, Kak. Kalau gitu, tetap aja di kosan aku hari ini. Santai dulu, ngobrol-ngobrol. Nanti malam aku anterin pulang, aman kok. Biar nggak buru-buru,” sarannya hangat, tangannya menyentuh lengan Retno lembut, penuh perhatian.
Retno ragu sesaat, tapi kehangatan Arvin dan kebebasan sementara tanpa suami membuatnya mengangguk. “Yaudah deh… tapi jangan nakal-nakal terus ya,” godanya sambil terkikik.
Arvin tertawa, langsung ambil ponselnya. “Oke, Kak. Sekarang aku pesen makan siang dulu. Mau apa? Ayam geprek atau nasi goreng spesial?”
Tak lama, ia memesan via aplikasi—nasi goreng seafood dan ayam geprek pedas dengan es teh manis dua, lengkap es krim penutup. Pesanan tiba cepat, 20 menit kemudian, dikirim ojek online ke pintu kos.
Mereka makan berdua di meja kecil, duduk bersila santai dengan pakaian longgar yang Arvin pinjamkan ke Retno, kaos oversized dan celana pendeknya. Suasana riang: Arvin suapin Retno es krim sambil bercanda,
“Pedasnya ayamnya nggak ada apa-apanya dibanding Kakak tadi,” membuat Retno cubit lengannya sambil tertawa ngakak.
Mereka makan lahap, obrolan mengalir tentang mimpi Retno jadi pilot waktu kecil, cerita Arvin soal pendakian gunung, tangan sesekali bersentuhan genit. Piring bersih, perut kenyang, suasana makin mesra.
Setelah makan, Arvin bangkit, tarik tangan Retno. “Mandi yuk bareng, Kak. Biar fresh lagi. Airnya hangat, ada sabun wangi,” ajaknya genit tapi tulus.
Retno tersipu, tapi ikut, mereka masuk kamar mandi kecil tapi bersih, shower nyala air hangat mengguyur. Arvin lepas handuk pembungkus tubuhnya, Retno juga, jilbabnya dilepas sementara rambutnya basah terurai.
Mereka mandi bareng: Arvin siram punggung Retno sabun busa, tangan merayap payudara dan perutnya pelan, Retno balas gosok dada Arvin sambil ciuman basah di bawah air.
“Enak ya, Vin…” desah Retno, tubuh mereka licin bergesekan, gairah mulai menyala lagi di antara cipratan air.
Setelah mandi bareng yang penuh kehangatan dan sentuhan intim, gairah kembali membakar Retno dan Arvin. Begitu air shower dimatikan, tubuh mereka yang basah dan licin bergesekan, membuat hasrat semakin tak tertahankan. Arvin meraih tangan Retno, menuntunnya kembali ke kasur. Di kasur yang kini sedikit lembab, Arvin membalikkan tubuh Retno.
Retno berlutut, kedua tangannya menopang tubuh di kasur, bokongnya terangkat seksi. Arvin segera memposisikan dirinya di belakang Retno. Penisnya yang sudah tegang kembali menyapa vagina Retno yang basah dan siap. Tanpa basa-basi, Arvin mendorong penisnya masuk, menusuk dalam dari belakang.
“Aahhh…” desah Retno, punggungnya melengkung, merasakan hantaman yang begitu memuaskan. Arvin mencengkeram pinggul Retno, mulai mengentot dengan ritme cepat dan bertenaga.
“Plok-plok-plok” suara desahan kulit bertemu kulit mengisi kamar kos. Rambut Retno yang basah terurai menari-nari setiap kali Arvin menghantam. Retno mendesah-desah tak karuan, giginya menggigit bantal, merasakan setiap dorongan Arvin yang begitu pas dan dalam.
“Enak, Bangeeet Vin… terus… lebih cepat… lebih dalaaaam aaaah sssst…” pintanya.
Arvin semakin liar, menghantam lebih dalam, lebih cepat. “Kak Retno… ketat banget…” erangnya di telinga Retno, napasnya memburu.
Keringat kembali membanjiri tubuh mereka. Retno merasakan tubuhnya tegang, vaginanya semakin menjepit penis Arvin. Ia akan segera klimaks.
“Aahhh… aku… keluar lagi Viiin…!” jerit Retno, tubuhnya bergetar hebat, orgasme yang kuat mengguncangnya. Arvin mengikutinya tak lama kemudian, menggenjot beberapa kali lagi dengan keras, lalu menyemburkan seluruh isinya ke dalam vagina Retno dengan desahan panjang.
Mereka ambruk dalam posisi itu selama beberapa saat, napas tersengal, tubuh saling menempel, hangat dan puas.
Setelah gairah mereda, mereka bangkit. Kali ini, mereka mandi lebih bersih, membersihkan sisa-sisa persetubuhan yang memabukkan. Air hangat kembali membasuh tubuh, membersihkan dan menyegarkan.
Setelah mandi, mereka mengeringkan tubuh, lalu tanpa bicara lebih lanjut, Arvin menarik selimut. Mereka berdua naik ke kasur, berpelukan erat, merasakan kelelahan yang menyenangkan setelah pelepasan gairah yang begitu intens.
Sinar matahari siang menembus celah gorden, menciptakan suasana yang remang dan damai. Dalam dekapan Arvin, Retno merasa aman, dicintai, dan benar-benar puas. Tak lama kemudian, mereka berdua tertidur lelap, menikmati tidur siang yang pulas, membiarkan tubuh beristirahat dari aktivitas pagi yang penuh gairah.
‘Akhirnya anak tiri orang yang pertama kali menyetubuhiku, setelah bersuamikan Pak Gofur,’ bisik Retno dalam hati sebelum terlelap lebih dalam di mimpi-mimpi indahnya.
Bersambung…
Retno terbangun dari tidur siangnya, merasakan kehangatan pelukan Arvin dan aroma maskulin yang menenangkan. Sinar matahari sore yang temaram menembus gorden kamar kos, menandakan waktu telah berlalu begitu cepat. Ia membuka mata perlahan, menemukan Arvin masih terlelap, napasnya teratur dan tenang.
Senyum tipis tersungging di bibir Retno. Ia merasa segar, puas, dan entah kenapa, jauh lebih muda. Kehangatan yang ia rasakan dalam dekapan Arvin sungguh membuatnya nyaman dan sejenak melupakan segala kompleksitas hidupnya.
Retno terbangun dari tidur siangnya, merasakan kehangatan pelukan Arvin dan aroma maskulin yang menenangkan. Sinar matahari sore yang temaram menembus gorden kamar kos, menandakan waktu telah berlalu begitu cepat. Ia membuka mata perlahan, menemukan Arvin masih terlelap, napasnya teratur dan tenang.
Tak lama kemudian, Arvin terbangun. Matanya perlahan terbuka, menemukan Retno yang sedang menatapnya dengan senyum lembut. Ia tersenyum balik, lalu menarik Retno lebih erat ke dalam pelukannya.
“Kak Retno…” bisiknya serak, suaranya masih parau karena baru bangun. Mereka berpelukan hangat, dada Arvin menempel pada payudara Retno yang lembut.
Arvin menarik napas dalam, lalu berkata pelan, “Ini pertama kalinya aku berani bawa wanita ke kamar kosku, Kak. Biasanya aku nggak pernah gini. Kamu spesial.”
Retno tersenyum, jarinya menyentuh pipi Arvin lembut. “Aku juga baru kali ini berani benar-benar selingkuh, Vin. Sudah lima tahun jadi istri orang yang nggak mampu lagi kasih kepuasan. Lama banget rasanya kayak mati gini.” Suaranya pelan, penuh pengakuan yang lama terpendam.
Arvin mendengarkan dengan penuh perhatian, tangannya mengusap punggung Retno pelan. Retno melanjutkan, “Aku sebenarnya sudah tiga kali menikah. Dua pernikahan sebelumnya gagal karena dikhianati. Suami pertama selingkuh sama adikku sendiri, yang kedua kabur bawa uang tabunganku. Makanya sekarang aku hati-hati, tapi… sama kamu beda rasanya.”
Arvin memeluknya lebih erat, mengecup kening Retno lama. “Aku paham, Kak. Makasih udah cerita. Kamu nggak sendirian lagi sekarang.”
Mereka diam sejenak, lalu Arvin bicara lagi, “Kita sepakat ya, nggak saling mengikat. Sama-sama punya status beda. Nggak saling mengikat, tapi juga nggak saling tak peduli.”
Retno mengangguk, menghargai sikap Arvin yang dewasa. Arvin menghargai status Retno sebagai istri seseorang, sementara Retno mengerti keluarga Arvin punya pilihan lain untuk masa depannya. Walau Arvin mengaku, “Aku tertarik bahkan terangsang sama wanita seusia Kakak bahkan lebih. Belum pernah pacaran apalagi bercinta sama yang seusia atau di bawahku.”
Retno tersenyum paham, merasa lega dengan kesepakatan itu, seperti dinamika hubungan non-eksklusif yang kadang muncul di narasi affair wanita paruh baya Indonesia.
Mereka berpelukan hangat di kasur kos yang temaram, setelah kesepakatan tak saling mengikat tapi saling peduli itu. Arvin mengecup kening Retno lama, lalu bangkit sambil tarik tangannya.
“Mandi lagi yuk, Kak. Biar fresh sebelum pulang,” ajaknya genit.
Retno tersenyum, ikut ke kamar mandi. Air hangat mengguyur tubuh mereka lagi, sabun busa saling gosok punggung dan dada, ciuman basah di bawah shower, tapi kali ini lebih santai, penuh keakraban tanpa tergesa. Mereka keluar segar, Retno pakai pakaian olahraganya lagi, jilbab rapi, Arvin jaket kulit siap antar.
Jam tujuh malam, Arvin mengantar Retno pulang dengan motor sportnya. Angin malam sejuk menerpa, Retno peluk pinggang Arvin erat, bahu bersandar punggungnya. Sebelum sampai rumah Retno, Arvin belok ke sebuah warung tenda pinggir jalan yang ramai, lampu neon kuning, asap sate ayam menggoda, kursi plastik sederhana.
“Makan malam dulu yuk, Kak. Biar kuat pulang,” usul Arvin sambil parkir motor.
Mereka pesan sate ayam tusuk 20, lontong, sambal kacang pedas, teh tarik dingin dua. Duduk berhadapan di meja tenda, obrolan mengalir hangat: Arvin cerita rencana pendakian Merapi besok sore, Retno doain selamat sambil suapin sate ke mulut Arvin genit.
“Makasih traktirannya, Kak. Enak banget,” kata Arvin sambil pegang tangan Retno sebentar di bawah meja.
Retno tersenyum bahagia, “Sama-sama, Vin. Hati-hati ya di gunung.” Mereka makan lahap, tawa kecil bercampur suara penggorengan, suasana malam terasa romantis sederhana.
Setelah kenyang, Arvin antar Retno melanjutkan perjalanan pulang. Motor Arvin membelah jalanan malam yang kini ramai dengan lampu-lampu kota. Angin malam menerpa wajah Retno, tapi kali ini ia merasa hangat di pelukan Arvin. Perjalanan terasa lebih singkat.
Arvin mengantarkan Retno sampai ke halaman rumahnya yang besar. Namun, dia tak pulang lagi. Malam itu, mereka berdua menghabiskan malam di rumah Retno, laksana pasangan pengantin baru. Rumah yang tadinya sunyi dan megah, kini diisi tawa renyah Retno dan bisikan mesra Arvin.
Mereka berbagi cerita, tawa, dan sentuhan-sentuhan hangat, menjalin ikatan yang semakin dalam di bawah naungan kesunyian malam. Arvin tidur di kamar Retno, memeluknya erat sepanjang malam, memberikan kehangatan dan rasa aman yang sudah lama tak Retno rasakan.
“Kak, maaf sekedar bertanya. Apakah kakak punya keinginan atau kepikiran untuk menjalin hubungan terlarang dengan anak-anak tiri kakak, atau setidaknya dengan salah seorang diantara mereka?” tanya Arvin serius.
Retno tersentak kaget. Wajahnya memerah dan dengan segera dia menggelengkan kepala. Memang tak pernah terlintas sedikit pun di benak Retno untuk menjalin hubungan terlarang dengan Ginanjar, Gerlad apalagi Gifar.
“Kenapa?” tanya Arvin penasaran.
“Mereka sama sekali tidak dekat denganku, kecuali Gerald. Dan mereka semuanya sangat religius seperti ayahnya. Aku rasa itu sangat mustahil terjadi,” balas Retno lirih.
Arvin tersenyum, masih banyak sebenarnya yang ingin dia katakan namun tak ingin mengubah malam itu menjadi perdebatan atau membicarakan sesuatu yang belum pasti.
Ketika subuh menjelang, Arvin berpamitan pulang. Ia memeluk Retno erat, mengecup keningnya lama. Ketika Bi Inah datang pagi itu, rumah sudah rapi. Tidak ada tanda-tanda bekas “pertempuran” semalam. Hanya senyum tipis yang tersungging di bibirnya dan binar mata yang berbeda yang menjadi saksi bisu akan malam penuh rahasia itu.
Hari-hari Retno terjalin lebih indah, walau tak ada lagi komunikasi dengan Arvin. Mereka memang sepakat tidak saling komunikasi daring, demi menjaga kemananan bersama terutama Retno. Arvin berjanji jika sudah kembali akan segera menghubungi Retno, mungkin satu atau dua minggu kedepan.
Kepercayaan diri Retno tumbuh subur, mirip transformasi wanita paruh baya kebanyakan yang menemukan pemberdayaan diri melalui pengalaman pribadi dan dukungan sosial.
Retno bahkan makin bersemangat mengurus rumah dan memberikan perhatian pada suaminya. Dia tak banyak lagi menuntut jatah malam, sudah menyadari kondisi suaminya yang hanya beberapa bulan lagi akan pensiun.
Dunia Retno menjadi sangat berwarna; ia makin sadar begitu banyak lelaki muda yang justru sangat menyukai ibu-ibu. Arvin dalam obrolannya malah mengatakan hampir semua teman-temannya memiliki kesamaan selera, menyukai wanita seusia ibu mereka, fenomena age-gap relationship yang kadang lebih diterima di Asia Tenggara karena norma budaya.
Retno kini berjalan lebih tegak, tersenyum lebih lebar saat pengajian atau kumpul-kumpul bersama teman-temannya, merasa diinginkan dan berharga lagi.
Seminggu telah berlalu kabar berita dari Arvin sama sekali tidak ada. Mungkin dia masih pendakian atau sudah pulang namun sengaja tak mengabari. Namun hal itu sama sekali tak membuat Retno bersedih kalau kangen memang pasti ada.
Ia sudah menemukan dunianya yang baru, kembali aktif dalam berbagai kegiatan ibu-ibu dan sesekali melirik-lirik anak muda lain baik di sekitaran kompleks atau di tempat lain. Dunia dia rasakan tak lagi sempit.
Kepercayaan dirinya yang tumbuh subur membuatnya bercahaya, langkahnya ringan saat melakukan apapun, senyumnya lebar di pengajian, bahkan saat jogging ke hutan pinus usai Subuh, ia sadar tatapan kagum dari pemuda-pemuda komplek yang lewat selalu mengikutinya.
Retno tak lagi bergantung pada satu orang; dunia terasa penuh kemungkinan. Dan dia sangat menikmati itu, serasa kembali terlahir.
Siangnya rajin beraktivitas di luar, di rumah pun melayani suami dengan penuh dedikasi. Berkali-kali Haji Gofur memujinya dan merasa senang karena istrinya kini jauh lebih banyak tersenyum bahagia dibanding sebelumnya yang tampak murung.
Retno sadar hubungan dengan Arvin hanyalah pelarian semata, baik bagi dirinya maupun Arvin, karena dia yakin Arvin pun tidak mungkin hanya bercinta dengannya saja. Pengalaman pertama itu dia anggap sebagai pintu pembuka untuk keberaniannya yang lebih jauh. Mendeklarasikan kebebasan emosional dari tekanan patriarki dan rutinitas.
Bersambung…
Pagi itu, udara masih sejuk menyisakan embun tipis di rumput halaman belakang. Retno sudah terbiasa memulai hari dengan olahraga ringan sendirian: stretching, jogging kecil di tempat, dan beberapa gerakan yoga sederhana yang ia pelajari dari video online dan juga senam bersama ibu-ibu kompleks.
Ia mengenakan legging hitam ketat yang menonjolkan lekuk pinggul dan paha yang masih kencang, dipadukan kaos olahraga longgar berlengan pendek, serta jilbab modern warna abu-abu muda yang menutup dada dengan rapi.
Tubuhnya berkeringat tipis, napas teratur, pikirannya relatif tenang setelah hampir sebulan penuh berusaha melupakan kejadian-kejadian aneh nan tak terduga itu.
Arvin sudah sibuk dengan pilihan barunya dan Egar sudah pindah kost ke mess bengkel, jauh dari komplek. Nizar pun sudah kembali ke pesantren. Walau sebenarnya melupakan Nizar apalgi Egar sangatlah mudah, karena dua anak tiri orang itu, memang belum sampai meninggalkan jejak yang krusial di tubuhnya, hanya baru menyentuh perasaan dan angannya saja.
Kini tak ada lagi sapaan pagi di pagar dari Egar, tak ada lagi suara sapu daun atau angkat galon yang membuat jantungnya berdegup tak karuan. Retno sudah mulai meyakinkan diri bahwa semuanya hanyalah gejolak sesaat, fantasi kesepian seorang istri yang terlalu lama ditinggal.
Ia bahkan mulai tidur lebih nyenyak, tanpa mimpi-mimpi liar yang membuatnya terbangun basah. Pengalaman bersama Arvin sudah cukup membuatnya sadar jika lelaki muda memang hanya mencari pelampiasan.
Tiba-tiba…
Krek… krek…
Suara ranting kecil patah dari arah semak pembatas halaman. Retno tersentak, hampir kehilangan keseimbangan saat sedang melakukan pose warrior. Ia menoleh cepat, tangan refleks menahan dada.
Di sana, di sisi halaman tetangga yang dulu sering ia intip dari jendela, berdiri Egar.
Ia tampak baru selesai olahraga juga: celana pendek olahraga hitam yang agak pendek hingga memperlihatkan paha berotot kecokelatan, kaos tanpa lengan mirip tank top abu-abu gelap yang basah keringat menempel ketat di dada bidang dan perut six-pack yang terbentuk dari kerja fisik, bukan gym.
Sepatu kets lusuhnya masih berdebu tanah, rambutnya acak-acakan, dan keringat mengalir dari leher ke bahu. Napasnya masih agak cepat, tapi matanya langsung tertuju pada Retno.
Untuk sesaat, keduanya sama-sama membeku.
“…Tante Retno?” suara Egar pecah lebih dulu, terdengar kaget tapi juga… senang?
Retno buru-buru menegakkan badan, tangan menyeka keringat di dahi. Jantungnya langsung berdegup kencang lagi, seperti tombol replay yang ditekan setelah lama mati. “Egar? Kamu… kok di sini pagi-pagi?”
Egar tersenyum kecil, agak canggung, mengusap lehernya dengan punggung tangan. “Aku baru balik ke kostan bengkel semalam, Tan. Pagi ini rindu jalan pagi di komplek lama, jadi muter-muter aja. Kebetulan lewat sini…”
Ia berhenti bicara, matanya sempat melirik sekilas ke penampilan Retno, legging yang membentuk lekuk tubuh, kaos yang sedikit basah di bagian dada karena keringat, jilbab yang tetap rapi tapi wajahnya memerah karena olahraga atau karena kehadirannya?. Egar cepat-cepat memalingkan pandang, tapi Retno tahu ia sudah melihat.
Retno menelan ludah, mencoba bersikap biasa. “Oh… iya ya. Lama nggak ketemu. Kamu sehat?”
“Alhamdulillah, Tan. Tante juga kelihatan sehat… tambah fit malah,” balas Egar, suaranya pelan tapi ada nada hangat yang membuat Retno merinding halus. “Masih rajin olahraga pagi ya?”
“Iya… biar badan nggak kaku,” jawab Retno singkat, tapi suaranya agak bergetar. Ia buru-buru membungkuk pura-pura merapikan sepatu, menghindari tatapan Egar yang terasa terlalu dalam.
Mereka basa-basi sebentar: tentang kerja Egar di bengkel yang semakin ramai, tentang Pak Haji yang masih sering dinas luar, tentang cuaca yang akhir-akhir ini panas sekali. Percakapan ringan, seperti dulu saat pertama kali mereka ngobrol di taman malam itu.
Tapi ada yang berbeda sekarang, udara di antara mereka terasa lebih tebal, lebih elektrik. Setiap kali Egar mengangguk atau tersenyum, otot lengan tanpa lengan itu menonjol, keringat mengalir pelan, dan Retno harus berusaha keras agar tatapannya tak turun ke tonjolan familiar di celana pendek itu.
“Tan… aku dulu pindah karena mikir lebih baik jaga jarak,” kata Egar tiba-tiba, suaranya lebih rendah. “Tapi… ternyata susah lupa.”
Retno menatapnya, dadanya naik turun cepat. “Maksudnya Gar…”
Egar mengangkat tangan, seperti menenangkan. “Aku nggak maksud apa-apa, Tan. Cuma… senang bisa ketemu lagi. Bahkan cuma lewat gini.”
Ia tersenyum tipis, lalu mengangguk hormat. “Aku lanjut jalan dulu ya, Tan. Hati-hati olahraganya.”
Egar berbalik, mulai berlari pelan menjauh. Retno memandang punggungnya yang lebar, kaos basah yang menempel, langkahnya yang kuat. Tubuhnya bereaksi lagi, panas merayap dari dada ke perut bawah, seperti api kecil yang tiba-tiba hidup kembali setelah sebulan redup.
Ia berdiri di tempat, tangan mengepal. Napasnya tersengal, bukan karena olahraga, tapi karena sesuatu yang lain.
“Ya Allah… lagi?” gumamnya pelan, tapi kali ini senyum kecil muncul di bibirnya, senyum yang campur antara takut dan… rindu.
Satu bulan usaha melupakan ternyata sia-sia. Garis batas yang dulu jebol, sekarang seperti baru saja retak lagi. Dan Retno tahu, pertemuan kembali pagi ini dengan Egar bukan akhir. Mungkin justru awal dari sesuatu yang lebih dalam… atau lebih berbahaya.
Setelah pertemuan pagi tadi di halaman belakang, Retno merasa seperti ada angin panas yang tiba-tiba menyapu seluruh tubuhnya. Jantungnya masih berdegup tak karuan, meski Egar sudah berlari menjauh dan menghilang di tikungan jalan komplek.
Ia buru-buru masuk ke rumah, menutup pintu belakang dengan pelan, seolah takut suara itu akan memanggil Egar kembali.
Hari Minggu. Bi Inah libur, seperti biasa. Rumah besar terasa lebih sunyi dari biasanya, hanya suara angin di luar, ayam tetangga yang sesekali berkokok, dan detak jam dinding di ruang tamu.
Retno memutuskan untuk mengalihkan pikiran. Ia tak mau lagi membiarkan bayangan Egar, kaos tanpa lengan basah keringat, otot lengan yang menonjol saat berlari, celana pendek yang kembali membuat imajinasinya liar, menguasai kepalanya.
Ia mulai dari dapur. Membersihkan meja makan yang masih ada sisa sarapan, menyapu lantai keramik yang dingin di bawah telapak kakinya. Sambil bekerja, ia bersenandung pelan, lagu-lagu lama yang biasa ia dengar di radio dulu: “Bunga Citra Lestari… Kasih Putih…”, suaranya lembut, hampir seperti bisikan, seolah bernyanyi untuk menenangkan diri sendiri.
Tapi semakin ia bergerak, semakin sulit mengabaikan apa yang dirasakannya. Saat membungkuk mengambil ember dari bawah wastafel, legging hitamnya menempel lebih ketat di bokong dan paha.
Pikirannya langsung melayang: bagaimana kalau Egar melihatnya seperti ini? Bagaimana kalau Egar tiba-tiba muncul di pintu belakang lagi, seperti pagi tadi, dan melihatnya dalam posisi ini?
Retno menggeleng cepat, menampar pipinya sendiri pelan. “Astaghfirullah… Retno, stop.”
Ia pindah ke ruang keluarga, mengelap meja kaca dengan kain lap, menyusun bantal sofa yang sedikit berantakan. Setiap gerakan membuat payudaranya bergoyang ringan di balik kaos olahraga longgar, dan ia sadar sekali keringat pagi tadi belum sepenuhnya kering, kaosnya sedikit transparan di bagian dada, memperlihatkan garis bra olahraga yang tipis.
Sambil menyeka jendela, ia tak sengaja melirik ke luar, ke halaman belakang, ke pagar tanaman yang memisahkan rumahnya dengan rumah lama Egar. Kosong. Tak ada siapa-siapa. Tapi bayangan Egar pagi tadi masih terasa nyata di sana, seperti jejak panas yang belum hilang.
Retno menghela napas panjang, meletakkan kain lap. Ia duduk di sofa, tangan menutup wajah. “Kenapa harus sekarang lagi, ya Allah… Sudah sebulan aku baik-baik aja.”
Tapi tubuhnya tak bohong. Ada hangat yang kembali merayap di perut bawahnya, lembab yang mulai terasa di antara paha. Ia menggeser posisi duduk, mencoba mengabaikan, tapi malah membuat sensasi itu lebih terasa.
Akhirnya, ia bangkit lagi, memutuskan membersihkan kamar tidur utama, kamar yang ia bagi dengan Pak Haji Gofur, meski sudah lama tak ada keintiman di sana.
Ia mengganti sprei, melipat selimut, menyusun bantal. Saat membungkuk untuk merapikan ujung sprei yang jatuh ke lantai, ia membayangkan Egar di belakangnya, tangan kuatnya memegang pinggulnya, napas panas di leher… seperti Arvin.
Retno tersentak sendiri, langsung berdiri tegak. Napasnya tersengal. “Cukup!”
Ia berjalan ke kamar mandi, membuka keran air dingin, mencuci muka berulang-ulang. Air mengalir deras, membasahi jilbabnya sedikit, membuat kain itu menempel di leher dan dada. Di cermin, wajahnya memerah—bukan hanya karena olahraga atau kerja rumah, tapi karena sesuatu yang jauh lebih dalam.
Retno memandang pantulan dirinya lama. Usia 37, garis halus di sudut mata, tapi tubuhnya masih responsif, masih haus akan sentuhan yang dulu pernah membuatnya merasa hidup kembali terutama saat bersama Arvin.
Ia tahu, hari ini ia berhasil menahan diri. Tapi pertemuan pagi tadi seperti membuka pintu yang sudah ia kunci rapat selama sebulan. Dan Retno tak yakin, apakah ia masih punya kekuatan untuk menutupnya lagi.
Sambil kembali ke dapur untuk membuat teh, ia bersenandung lagi, kali ini lebih pelan, lebih getir. Lagu yang sama, tapi nadanya kini terdengar seperti permohonan.
“Kasih putih… yang kau beri… tak pernah pudar…”
Tapi di hatinya, ia tahu: yang pudar bukan kasih, tapi ketenangannya sendiri. Dan Egar, pemuda yang seharusnya hanya tetangga, kini kembali menjadi bayangan yang tak mau pergi. Entah apa sebenarnya yang salah dengan Retno.
Bersama Haji Gofur, sudah jelas Retno punya empat anak tiri, tiga diantaranya laki-laki dewasa, namun justru kini sering terlihat sesuatu dengan anak-anak tiri orang lain. Arvin, Egar juga Nizar. Apakah ini hanya kebetulan atau justru…
Bersambung…
Retno akhirnya selesai membersihkan kamar tidur utama, sprei baru terhampar rapi, bau sabun laundry segar memenuhi udara. Ia berdiri di depan cermin panjang, memandang pantulan dirinya.
Jilbab abu-abu yang sedikit lembab karena keringat kerja rumah, kaos olahraga yang menempel ketat di lekuk dada montoknya, puting samar menonjol karena kain basah, legging hitam membalut pinggul lebar dan paha kencang seperti pelukan lembut tapi menggoda. Setiap napas membuat dada naik turun, kain bergesek pelan di kulit sensitif.
Ia menghela napas panjang, mencoba meyakinkan diri bahwa hari ini akan berlalu biasa saja. Tapi panas di perut bawahnya tak kunjung redup, seperti bara yang tersisa setelah api padam sebulan lalu—malah semakin membara, lembab yang makin terasa di antara paha.
Ia berjalan ke kamar mandi lagi, berniat mandi air dingin. Pintu ditutup pelan, dikunci. Air keran dibuka deras, tapi bukannya langsung guyur, Retno bersandar di dinding ubin dingin, mata terpejam.
Bayangan Egar pagi tadi muncul lagi, tak diundang: kaos tanpa lengan basah keringat menempel di dada bidang, otot naik turun, celana pendek menonjolkan garis V di perut bawah, dan tonjolan samar di sana—besar, panjang, menggoda. ‘Lebih besar dari milik Arvin,’ batinnya, membuat pipinya memerah dan lembahnya berdenyut pelan.
Setelah mandi, ia berdandan dengan daster rumahan tipis berwarna krem yang jarang dipakai di luar. Kain sutra halus menempel lembut di kulit masih hangat, tanpa bra atau celana dalam—hanya sensasi kain tipis bergesek setiap langkah, membuat putingnya menonjol samar dan lembah basahnya terasa lebih terbuka, lebih haus.
Ia bersenandung pelan, suara lembut dan sendu mengalun lagu itu lagi:
‘Ku tak tahu mengapa tiba-tiba sahaja, di dalam hati ini sering rindu padamu. Ingin kumeluahkan tak berdaya.’
‘Ku tahu engkau jua sangat sayang padaku, kau pun sering merindu bila tidak bertemu. Ternyata kau dan aku punya rasa.’
‘Kau dan aku sudah ditakdirkan bertemu dan tiba-tiba kita jatuh cinta. Ini semua sudah suratan ilahi dan kita harus tabah hadapi kenyataan.’
‘Biar apapun terjadi aku harap engkau tabah. Menerimaku sebagai teman barumu, semoga kita saling sayang, bahagia.’
‘Usahlah engkau pergi selagi di hatiku. Masih menyayangimu, oh sayangku. Bila sehari tak jumpa, aku rindu.’
Bait demi bait lagu ‘Kita Ditakdirkan Jatuh Cinta’ mengalun dengan sendu di hati Retno, seperti sedang bicara langsung pada dirinya sendiri—atau pada Egar yang tak ada di sana.
Saat sedang berdiri di teras, tiba-tiba.
“Selamat pagi, Bu Retno, permisi hehehe.” Tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Retno dan sontak membuyarkan semua lamunannya.
“Eh selamat siang juga, Mas!” balas Retno dengan suara yang sedikit gelagapan. Dia bahkan baru menyadarinya jika ternyata di depan matanya telah berdiri seorang lelaki berusia kira-kira empat puluh tahunan, lengkap dengan motor dan gerobak sayurannya. Lelaki itu Mas Pento namanya.
Mas Pento pedagang sayuran yang reputasinya sebagai penyebar gosip sudah tidak diragukan lagi. Dia lah biang gosip sejati antar kampung dan perkomplekan yang bisa dia lalui saat menjajakan dagangannya.
Manga Fajar sudah malang melintang dengan dunia gosif dan infotainmentnya yang lengkap, akurat sedikit meragukan. Namun anehnya semua terpaksa percaya, karena fakta-fakta selanjutnya dijamin akurat.
Retno biasa bertemu dengan Mas Pento saat hendak berbelanja bahan makanan untuk masakannya di rumah. Tapi kali ini Retno sedang tidak minat untuk belanja bahan sayuran karena persediaannya masih banyak.
“Bu Retno udah belanja sayuran di tempat lain ya?” tanya Mas Pento santun karena melihat Retno yang masih tetap berdiri tertegun di beranda rumahnya. Wajahnya memang mengarah kepadanya namun pandangan matanya terlihat tidak fokus.
“I…iya Mas, habisnya Mas Pento kok siang amat ke sininya?” jawab Retno pura-pura membenarkan pertanyaan Mas Pento.
“Oh gitu, gak liat-liat dulu sayurnya, barang kali buat stock, Bu. Masih seger-seger loh Bu Retno. Kuat disimpan sampai dua hari, bahkan jika tidak dimasukan ke dalam kulkas pun.” Mas Pento terus melancarkan rayuan tingkat dewanya yang selalu sukses membuat semua emak-emak diberbagai kampung dan kompleks tak kuasa menolak tawarannya.
“Gak ada gosip terkini, Mas, hihihi?” tanya Retno sambil terkikik dan berjalan mendatangi Mas Pento.
“Hah!” Mas Pento sedikit tersentak. “Tumben ibu bertanya gosip, hehehe?” tanya Mas Pento masih dengan mode wajah pas-pasannya yang melongo.
“Iya, kan biasanya juga saya mah gak usah bertanya, toh Mas Pento sendiri yang suka langsung menebarkan beritanya dan gosip terpanasanya, hehehe,” balas Retno seraya senyum dikulum.
“Hehehe, iya sih, Bu. Habisnya kan biasanya juga Ibu belanjanya bareng-bareng sama emak-emak yang lain. Kalau sekarang udah ketinggalan infonya. Tuh sok dilihat dulu sayurannya, Bu,” balas Mas Pento sambil terus melirik Retno seakan matanya menangkap ada sesuatu yang beda dalam diri Nynya Haji Gofur itu.
“Masak apa ya, Mas?” Retno bertanya bingun pada dirinya sendiri sambil melirik-lirik isi gerobak sayuran Mas Pento.
“Nih ada terong, mentimun, wortel, lobak, dan pare. Wih ukurannya gede-gede lagi, Bu.” Mas Pento bersemangat menawarkan dagangannya yang justru ditankap oleh Retno sebagai modus untuk mengarahkan pikirannya kembali pada bentuk ular hitam milik suaminya Widia.
‘Astaga! Ada apa dengan diriku? Mengapa mendengar kata besar dan panjang aja aku langsung inget sama itu. Padahal kan emang kata-kata itu sudah biasa diucapkan dan didengar?’ maki Retno dalam hatinya.
Ajaibnya justru seketika itu pula Retno merasakan kembali adanya getaran-getaran dan gairah aneh dalam dirinya saat mendengarnya sambil menatap salah satu terong ungu yang dia perkirakan ukurannya hampir sama persis dengan penisnya Halim.
“Gimana Bu Retno? Mau beli apa?” Mas Pento kembali membuyarkan lamunan Retno.
“I.. iya Mas, tapi saya bingung masaknya. Mau dibikin apa ya? hehehe.” Retno berusaha menghilangkan salah tingkah dan perasaan-perasaan aneh dalam dirinya.
“Atuh gampang itumah, Bu. Kalau terong bisa dibikin terong balado. Mentimun sama wortel bisa dimasak jadi acar kuning. Lobak bisa ditambahin kalau ibu bikin sop atau soto. Nah, kalau pare bisa dibikin tumis pare, hehehhe,” jawab Mas Pento menerangkan olahan makanan apa saja yang bisa dibut dari bahan sayuran yang dijualnya tersebut.
Dan hal itu bukan sesuatu yang asing buat Retno, karena sejatinya memang bukan itu yang Retno bingungkan.
“Ya kalau Bu Retno, gak pake buat masak, mungkin bisa dipake buat kegiatan yang lain, hehehehe.” Mas Pento bicara sambil cengengesan dan terus menatap wajah Retno yang makin gelagapan bingung.
“Kegiatan lain apa maksudnya, Mas?” tanya Retno spontan.
“Ah Ibu suka pura-pura. Emak-emak di sini juga suka gitu kalau lagi kurang puas sama suaminya,” jawab Mas Pento sekenanya.
“Hah! Suka gitu gimana, Mas? Apa hubungannya kurang puas dengan suaminya sama sayuran ini?” Retno benar-benar tidak tahu arah pembicaraan Mas Pento yang mulai ngelantur gak jelas.
“Suka gitu Ibu mah, hehehehe. Rata-rata kalau yang gak puas sama penis suaminya, kan suka nyari ganti sementara. Apalagi kalau para suaminya sedang gak ada. Ada juga yang suka minta dibantuin sama Mamang. Udah gak aneh emak-emak di sini mah, Bu.” jawab Mas Pento makin percaya diri dan sedikit menjijikan.
“Aduh saya beneran gak ngerti deh dengan omonganmu, Mas.” Lagi-lagi Retno bingung mengkap makna dari isi permbicaraan sang biang gosip itu.
“Nanti deh saya jelasin dan bantuin ya kalau ibu sudah siap, hehehe.” Mas Pento menjawab sambil jalan pelan menuju ke arah Retno.
“Mas Pento mau jelasin apanya?” Retno bertanya yang kina tambah pusing.
“Tapi ini rahasia ya, Bu. Banyak Emak-emak di sini yang suka memasukan terong atau mentimun atau pare ke dalam kemaluannya, demi untuk memuaskan hasrtanya, jika mereka tidak mendapatkan dari suaminya,” terang Mas Pento sambil berbisik.
“Hah! Gila kamu Mas!” sentak Retno sambil mundur satu langkah, kedua matanya inetns menatap wajah Mas Pento yang masih cengar-cengir.
“Kalau ibu gak percaya, tanya aja sama Bu Idan, dia kan sahabat ibu juga.” Dengan santainya Mas Pento menantang Retno.
“Astaga! Bu Idan suka melakukan itu?” Tak sadar Retno pun berteriak tak percaya.
“Hehehe kalau Bu Idan sih gak butuh bantuan lagi, punya suaminya kan emang udah segede ini,” jawab Mas Pento sambil mengambil terong ungu dan memeprlihatkannya pada Retno.
Deg!
Jantung Retno seketika terasa berhenti berdetak. Terong yang diambil dan diperlihat Mas Pento adalah terong yang sejak tadi dia perhatikan karena besar dan panjangnya memang benar-benar seperti satu ukuran dengan Pak Idaan.
“Kok Ma…ma..mas tahu sih terong punya Pak Idan gede dan panjang?” Entah mengapa Retno tiba-tiba saja bertanya begitu.
“Hehehe tahu lah Bu. Pak Idan kan suka mijit bapak-bapak yang punya ukuran kecil dan kurang perkasa. Masa pemijatnya kalah besar sama yang dipijat hehehe. Saya juga pernah dipijat sama dia, dan hasilnya memang luar biasa,” ucap Mas Pento sambil mengarahakan terong ungu yang dipegangnya pada selangkangannya, seolah-olah meminta Retno untuk melihat penisnya di balik celannya.
Cerita Sex Artis Papan Atas
“Ih apaan sih Mas. Udah ah saya gak jadi beli, besok aja atau kapan-kapan!” sergah Retno sambil setengah berlari masuk kembali ke rumahnya.
“Oke Bu, siaaaap. Besok ya!” jawab Mas Pento setengah berteriak dari luar, tak lama kemudian suara mesin motornya kembali hidup.
“Dasar ak-aki sinting!” sergah Retno sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, lalu menengadahkan wajahnya menatap langit-langit yang kembali menampilkan bayangan terong ungu milik Arvin, Egar juga Nizar.
“Astagfirullah!” sergah Retno, sambil beberapa kali mengusap wajahnya yang terasa seperti terjerang api membara.
Bersambung…
Cerita ini kurang lebih ada 20 episode, nantikan kelanjutannya yang akan di update hanya di situs Ngocoks.


