Menguntai Masa Lalu
Cerita Dewasa · 18+
Cerita Sex Menguntai Masa Lalu – Surat dari kampung halaman yang mengingatkan Kino pada acara pernikahan Alma di ibukota ternyata hanya satu saja dari serangkaian kejadian yang seakan melemparkan pemuda itu ke masa lalunya … Dua hari kemudian, pemuda itu menerima sepucuk kartu pos bergambar langit biru dan seekor burung camar yang terbang sendirian.
Dengan penuh tanya, Kino membulak-balik kartu pos misterius itu, mencari pesan apa yang tertulis di sana. Tidak ada tulisan apa pun di bagian yang biasanya berisi kabar dari si pengirim.
Juga tidak ada tulisan apa pun di bagian alamat pengirimnya, kecuali sebuah peringatan yang di-stempel-kan, berbunyi: SENDER NOT KNOWN berwarna merah.Kino mengamati gambar di kartu pos itu.

Kini ia mendapatkan kesan kuat dari sana. Langit biru dan burung yang sendirian … Kosong dan sepi. Biru dan sendu. Sendiri dan gundah. Dengan berdebar, Kino mengamati perangko-perangko yang tertempel di pojok kanan atas.
Jantungnya berdegup keras ketika menyadari dari mana perangko-perangko bergambar Ratu Elizabeth dan jam raksasa Big Ben itu berasal. Apalagi stempel cap pos menegaskan darimana kartu pos itu dikirim.
London!
Terduduk di dipan di kamarnya, Kino mendekap kartu pos itu di dadanya, seakan dengan demikian ia bisa meredakan debur jantungnya. Sebuah rasa sakit samar-samar menyeruak dari uluhati, naik ke dadanya, dan menyekat di tenggorokannya.
”Trista!”, desis Kino sambil memejamkan matanya yang tiba-tiba terasa perih.Tidak ada orang lain di London yang tahu alamatnya, selain bidadari itu! Tidak ada orang lain yang bisa mengirim rasa sunyi dan rindunya, selain wanita mempesona yang tercerabut dari kisah indah yang mereka jalani bersama dulu!
Kino menghempaskan tubuhnya di ranjang. Kartu pos terlepas dari genggamannya, melayang cepat sebelum terhempas di lantai dingin.Terlentang, pemuda itu memandang nyalang langit-langit kamar yang berwarna putih buram. Langit-langit itu kini berubah menjadi sebuah layar lebar. Dan sebuah film bermain di layar itu ….
Trista menyibakkan anak rambut yang tergerai di keningnya, tersenyum manis dan memandang penuh kehangatan. Cantik sekali ia, sekaligus menggairahkan dan mengundang rengkuhan sepenuh badan. Kedua matanya, pusat dari segala perasaannya, berbinar lembut sekaligus tegas.
Hanya ada kerinduan dan sayang dan kemesraan di sana. Bening memberikan gambaran dasar-dasar jiwanya yang terdalam. Indah bagai sengaja tercipta untuk menampilkan diri secara mempesona!
Trista tertawa renyai, membiarkan seluruh tubuhnya berguncang lembut, melepaskan keriangannya. Angin meniup rambutnya berkibar ramai. Bahunya bergerak-gerak seperti orang menari.
Seluruh wajahnya menyemburatkan keriangan yang tersebar ke segala penjuru. Setiap kali ia tertawa seperti itu, Kino selalu ingin menarik tubuhnya, merengkuh bahu yang mulus itu, mendekapnya sekuat tenaga!
Trista tergeletak di hamparan rumput biru, membiarkan rambutnya tergerai lepas menjadi bingkai dari wajahnya yang jelita. Kedua tangannya tergolek leluasa di atas kepalanya, membuat dadanya membusung menantang. Bahkan gaya grafitasi pun tak mampu menyembunyikan bukit indah yang mencuat kenyal di balik baju tipis putih.
Salah satu kakinya tertekuk, membuat rok panjangnya tersingkap sebatas paha, menampilkan keindahan pualam mulus. Senyum tetap tersungging di bibirnya yang merekah basah. Betapa kuatnya undangan di balik kepasrahan itu!
Kino memejamkan matanya kuat-kuat. Bayangan-bayangan di langit-langit itu hanya membangkitkan kesenduan yang menusuk.
Tidak ada yang sensual atau erotik di sana, walau pemuda itu masih bisa dengan jelas membayangkan tubuh telanjang yang bermandi peluh, yang ia ciumi penuh nafsu, yang ia peluk penuh birahi, yang ia selami berkali-kali. Tidak ada erotisme di bayangan-bayangan itu! Yang datang justru perasaan sakit tertusuk sembilu!
Sesungguhnyalah, sejak kecelakaan dan sejak bidadari itu menghilang ikut suaminya ke London, Kino berusaha sekuat tenaga membuang bayang-bayang Trista dari kehidupannya. Tetapi sungguh gegabah lah ia, kalau menyangka bahwa usaha itu mudah.
Sama sekali tidak! Sama sekali tak mungkin! Bayangan-bayangan itu datang seperti kabut di pagi hari, seperti rembulan di malam hari, seperti debu di siang hari.
Apalagi kalau Trista mengirimkan pesan sunyi-sepi-biru lewat kartu pos seperti ini!Kino bangkit, meraih kartu pos yang tergeletak di lantai, memandang gambarnya lekat-lekat, seakan-akan ingin memastikan bahwa semua ini bukan mimpi buruknya.
Kino bertanya-menduga dalam hati: apa yang bidadari itu rasakan ketika memilih-milih kartu pos? Apa yang mendorongnya mengirim pesan yang penuh kesunyian ini?
Ia merindukan ku! jerit Kino dalam hati. Ia juga merentangkan tali rindu itu melewati batas lautan. Betapa jauhnya kini ia berada, dan betapa kuatnya rindu itu menyeruak, tak mampu tercegah oleh batas-batas benua. Sekaligus pula, betapa terikatnya kita berdua! jerit Kino lagi. Terikat oleh keindahan masa lalu!
Kino menggeleng-gelengkan kepalanya seperti hendak membantah sendiri kata hatinya. Mana mungkin. Sekuat apa pun ia menggeleng-geleng, kata hatinya tak terbantahkan: ia terikat-kuat kepada sekeping masa lalu yang indah dan mempesona itu. Selamanya terikat. Sampai mati!
Kalau pun Trista tak mengirimkan rindunya, tak mencoba mengontaknya, tak membangun jembatan perasaan …. Kalau pun Trista tak melakukan apa-apa di London sana, Kino tetap tak akan bisa melepaskan diri dari ikatan mahakuat yang terlanjur telah tercipta.
Betapa menakutkannya!
Kino menunduk dan tak sengaja meremas-remas kartu pos itu menjadi gumpalan. Telapak tangannya basah oleh keringat, sehingga gumpalan itu menjadi lembek. Dengan tangan masih mengepal dan masih menggenggam gumpalan kartu pos, pemuda itu memukul-mukul dahinya. Dentuman-dentuman terdengar di telinganya setiap kali kepalan itu membentur dahi.
Setidaknya, dentuman-dentuman itu mampu meredam suara-suara lain di kepalanya.
******
Pada saat yang bersamaan, di rumah sebelah, Indi untuk yang kesembilan kalinya kembali ke depan cermin. Wajahnya serius, kedua matanya memandang seksama bayangan diri di cermin itu.Hmmm … lipstik ku terlalu tebal, bisiknya dalam hati sambil menggunakan tissu untuk menghapus bibirnya.
Hmmm … sebaiknya rambutku dibiarkan terlepas, karena toh terlalu pendek untuk diikat. Hmmm … kancing nomor dua sebaiknya kulepas supaya ada yang bisa kupamerkan. Hmmmm … rok ku agak terlalu ketat sehingga garis-garis celana dalamku terlihat. Tetapi, ah ….. biar saja! sergah gadis itu dalam hati sambil tersenyum nakal.
Sejam yang lalu, Indi menyelinap ke kamar orangtuanya, mencuri-pakai parfum ibunya. Ia memutuskan untuk tidak memakai parfumnya sendiri, karena terlalu “ramai” dan lebih cocok untuk ke pesta atau ke disko. Parfum mama jauh lebih lembut dan jauh lebih “dewasa”! begitu pikir Indi.
Ketika ia lewat di dapur, ibu menegurnya dengan lembut, membuat Indi merasakan mukanya terbakar, “Mau ketemu siapa, sih, sore-sore sudah rapi?””Mau belajar!” sahut Indi cepat sambil buru-buru berlalu.Ibunya tercengang, tetapi tak bertanya lagi, melanjutkan menggoreng pisang. Sejak kapan anak gadisku mencuri-pakai parfumku untuk belajar? tanyanya dalam hati.
Indi memang mau belajar matematika, dan sudah menguatkan hati untuk mengundang Kino mengajarinya! Kini ia harus mengatur jantungnya yang berdegup kencang sebelum pergi ke sebelah dan berteriak memanggil Kino. Sekali lagi ia mematut-matutkan diri di depan cermin. Kalau cermin itu bisa berbicara, pastilah ia akan mengeluh panjang lebar!
Sebelum ke rumah sebelah, Indi kembali ke dapur, dan dengan singkat mengatakan bahwa ia akan meminta Kino membantunya menjawab beberapa persoalan matematika. Indi bilang ia akan memakai ruang tengah untuk belajar. Ibunya agak tercengang, tetapi dengan bijak menyimpan komentarnya.
“Oh, yaa …,” seru Indi sebelum pergi,
“Boleh minta pisang gorengnya untuk Kak Kino, ya, Ma!” Lalu gadis itu melesat pergi, meninggalkan ibunya yang menggeleng-geleng pelan.
******
Kino masih memukul-mukul dahinya sendiri ketika ia mendengar suara Indi memanggil-manggil.Dengan lunglai, pemuda itu bangkit dan keluar dari kamarnya. Sekali lagi ia menggeleng kuat-kuat, menghela nafas dalam-dalam dan berharap agar kerisauan tak terpancar dari mukanya. Sambil memicingkan matanya karena harus menghadapi sinar terang di luar kamar, Kino menemui si empunya suara yang memanggil-manggil itu.
“Mengganggu?” teriak Indi dari balik tembok yang memisahkan rumahnya dengan rumah kost Kino. Kino tersenyum dan terus berharap agar kerisauannya tak terlalu kentara,
“Tidak. Tidak mengganggu!” Indi sejenak mengernyitkan keningnya, melihat ada sepercik gundah di wajah pemuda di depannya.
“Betul tidak mengganggu?” desak gadis itu. Kino menggeleng lagi,
“Tidak. Aku cuma agak sedikit capai.” Indi sejenak merasa kecewa. Ah, bagaimana kalau ia terlalu letih untuk mengajarkan matematika?
“Ada apa Indi?” tanya Kino sambil berjalan mendekat. Indi menggigit bibirnya,
“Hmmm … ada perlu dikit. Tapi, kalau Kak Kino capai, yaaa … ngga jadi, deh!” Kino tersenyum, mengetahui bahwa si centil ini pasti akan memintanya membantu menyelesaikan tugas-tugas matematika. Cantik sekali ia sore ini. Eh .. tetapi apa hubungannya cantik itu dengan tugas matematika? gerutu Kino dalam hati.
“Mau belajar matematika?” tanya Kino sambil berjalan lebih dekat. Kini hanya tembok yang memisahkan mereka berdua.
Indi mengangguk pelan, dan berucap samar,
“Kalau Kak Kino tidak keberatan …” Timbul keingingan Kino untuk menggoda,
“Bagaimana kalau aku keberatan?” Sayang sekali, Indi tahu bahwa ucapan itu cuma godaan. Maka gadis itu menyahut dengan mata berbinar,”Harus ada alasan, dong … kenapa Kak Kino keberatan.””Terserah aku, kan, mau keberatan atau tidak?” kata Kino sambil mengutuk dalam hati, mengakui bahwa tidak mudah menggoda si centil yang banyak akal ini.
“Iya .. terserah Kak Kino, tapiiiiii….,” kata Indi sambil mengerahkan semua kemampuan kekenesannya,”Harus ada penjelasan, kenapa keberatan.””Aku harus tahu dulu,” kata Kino pura-pura serius, “Kenapa aku harus membantu kamu?” ”Ada pisang goreng dan secangkir kopi?” jawab Indi sambil mengangkat kedua alisnya, menambah cemerlang kedua matanya yang bening.
Kino tertawa tergelak,”Ha ha ha … masak cuma dengan pisang goreng dan kopi sudah cukup alasan untuk membantu kamu!” Indi senang melihat pemuda di depannya tertawa tergelak. Setidaknya, Kak Kino tidak serisau yang aku duga sebelumnya, bisik gadis itu dalam hati.
“Selain itu, ada anugrah, lho, untuk orang yang mau membantu orang lain dalam kesulitan!” ucap Indi sungguh-sungguh. Kino menahan tawanya,”Aku tahu itu. Tetapi apakah kamu termasuk orang yang dalam kesulitan?” Indi tersenyum manis sekali,”Sungguh-sungguh dalam kesulitan!”
“Kesulitan apa, sih!?” sergah Kino tak mau kalah.”Macem-macem … selain matematika!” sahut Indi cepat-cepat,”Nanti Indi ceritain … kalau Kak Kino mau datang ke rumah sore ini!” Kino menyerah.
Percuma menggoda Indi, karena gadis itu punya indera keenam yang bisa mengetahui perasaanku! keluh pemuda itu dalam hati. Ia lalu mengangguk dan mengatakan akan mengganti baju.”Cihui!” jerit Indi sambil berlari kembali ke rumahnya.
*****
“Selamat sore tante,” ucap Kino sopan ketika ia tiba di rumah Indi dan menemui ibunya di ruang tamu.”Selamat sore Kino,” sahut ibu yang penuh senyum itu,”Ayo masuk.”
Bagi orangtua Indi, mahasiswa yang indekos di sebelah rumah itu bukanlah orang asing. Apalagi ayah Indi pernah ikut mengurus Kino ketika kecelakaan dulu. Sebatas pengetahuan kedua orangtua Indi, pemuda itu adalah “anak baik-baik” yang tidak pernah terdengar membuat ulah.
Samar-samar mereka menduga, terutama sang ibu, bahwa anak gadis mereka punya perasaan istimewa terhadap Kino. Tetapi tak terlalu banyak yang mereka ketahui, dan pada umumnya mereka membebaskan Indi menentukan sendiri pacar atau temannya.
“Kami mau belajar di ruang tengah,” kata Indi yang berdiri di sebelah ibunya,
“Jangan diganggu!””Lho … memangnya ibu mau mengganggu?” protes sang ibu.
“Pokoknya Indi ngga mau diganggu!” sergah si centil.”Mama, kan, juga perlu belajar matematika,” goda sang ibu. Sambil menarik tangan Kino yang masih terpana memandang “pertengkaran” di depannya, Indi mencibir dan menyergah,”Ahh .. mama suka ngarang!”
“Mama tidak perlu mengantar kopi ke sana?” goda sang ibu lagi.”Eh .. tidak usah tante!” kali ini Kino yang menyahut karena merasa tidak enak merepotkan tuan rumah. Indi terus menarik tangan Kino sambil berkata,”Kak Kino mau aja diganggu mama!””Tapi ngga enak dong .. kalau sampai merepotkan mama kamu!” protes Kino sambil terhuyung-huyung mengikuti langkah Indi.”Biar aja, kalau mama mau mengantar kopi, dan jangan protes lagi!” sergah Indi.
Kino pun diam, setelah menggerutu sebentar. Lalu mereka belajar. Sungguh-sungguh belajar, karena Indi memang punya beberapa pertanyaan pelik menyangkut beberapa rumus matematika. Dengan sabar Kino mengajari gadis yang biasanya centil dan manja itu.
Kali ini, Kino juga merasa heran sendiri, mengapa Indi terlalu serius. Baru kali ini ia mengajari gadis itu dengan keseriusan yang sama seperti kalau ia mengajar di tempat kursus. Tetapi tentu saja Kino tak mempersoalkan “kejanggalan” ini, dan malah berterimakasih dalam hati karena tidak membuang-buang waktu untuk meladeni si centil.
Selain serius, Indi juga tampak “lain” sore itu. Berkali-kali Kino mencoba menerka, apa yang lain di diri gadis itu. Selagi Indi serius mengerjakan soal matematikanya, pemuda itu diam-diam memandangnya dengan seksama. Indi tampak cantik sekali dengan pupur tipis dan lipstik yang tak terlalu kentara. Hmmm … pikir Kino, mungkin itu yang menyebabkannya cantik!
Dari posisi agak di samping, Kino bisa memandang profil wajah gadis itu. Hidungnya yang agak mancung, bulu matanya yang lentik, dan pipinya yang mulus. Kombinasi ini tampak indah di bawah seonggok rambut pendek yang lepas tergerai.
Beberapa anak rambut tampak menyeruak di sana-sini, seperti serabutan semak di taman. Bibir bawahnya tergigit-gigit oleh pemiliknya yang sedang serius; basah memerah-muda seperti jambu air yang berangkat matang.
Kalau memakai nilai 1 sampai 10, Indi boleh dimasukkan kategori 9,5. Tidak bisa sempurna, pikir Kino, karena anak centil ini sering terlalu mengandalkan kecantikannya untuk merajuk-merayu. Seandainya saja ia bisa lebih kalem dan dewasa, mungkin aku harus memberinya nilai 11!
Atau barangkali justru kemampuan merajuk-merayu itu yang membuatnya cantik? Ah, sebaiknya memang tidak usah terlampau repot memberi nilai. Indi memang cantik, apa pun alasan yang dipakai!Tiba-tiba Indi melirik, memergoki Kino yang sedang memandang dirinya.
“Kenapa?” tanya gadis itu pelan.
“Kamu selalu memakai make up walau di rumah?” tanya Kino terus terang, kadung sudah terpergok!Indi tersenyum, tidak menjawab pertanyaan itu, dan kembali menekuni persoalan matematika di bukunya. Gadis itu membiarkan Kino menjawab sendiri pertanyaannya. Membiarkan pula pemuda itu melanjutkan “peninjauan”-nya atas wajah atau bagian mana pun dari tubuhnya! Terserah dia, lah! sergah Indi dalam hati.
Kino menginterpretasi diam Indi itu sebagai “ya”. Hmmm … tetapi biasanya ia tidak memakai pupur kalau di rumah. Atau mungkin tidak terlalu kelihatan oleh ku! katanya dalam hati. Apa lagi yang “lain” hari ini? Rambutnya tergerai lepas, seperti biasanya. Lagipula terlalu pendek untuk diikat, pikir Kino. Bagaimana kalau ia memanjangkan rambutnya, sampai sebahu. Seperti rambut Trista, tergerai lepas.
Ah, … tanpa sadar bayangan bidadari itu bermain kembali di pelupuk mata Kino. Terbayang Trista duduk di depannya, serius menekuni semangkuk es buah di kedai yang selalu mereka kunjungi untuk rendesvouz.
Terbayang sinar mentari sore menerpa rambutnya yang legam, menimbulkan kilauan samar lembayung aneka warna, menambahkan guratan keindahan ke wajahnya yang sudah cantik mempesona. Terbayang betapa hangat rasanya membelai rambut itu dengan jemarinya!
“Hei!”sergah Indi membuat Kino tersentak,
“Koq melamun, sih?”
“Eh … ada apa?” sahut Kino tergagap.
“Kak Kino melamun, ya!” sergah Indi agak kesal karena tahu pemuda di sebelahnya tidak sungguh-sungguh sedang memperhatikannya. Kino tersenyum kecut,
“Maaf. Kamu sedang serius, dan aku tidak punya kegiatan. Memangnya ngga boleh melamun?” Indi mencibir,
“Boleh. Apa sih yang Kak Kino lamunkan?”
“Ah, tidak ada!” sahut Kino cepat.
Indi meletakkan pensilnya, menghadapkan tubuhnya ke Kino,
“Bohong. Mana mungkin ada orang melamunkan sesuatu yang tidak ada.” Kino menghela nafas,
“Kalaupun aku melamun sesuatu, tidak ada hubungannya dengan matematika.” Indi tertawa kecil,
“Habisnya, ada hubungan dengan apa, dong?”
“Apakah aku harus mengatakan semua yang aku lamunkan?” sahut Kino pura-pura kesal.
“Kalau boleh Indi tahu …,” kata Indi sambil mengerling genit.
“Soal matematikanya sudah selesai belum?” sergah Kino mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Sudah!” jawab Indi cepat,
“Sekarang Indi ingin tahu apa yang Kak Kino lamunkan!” Kino terdesak, tetapi tak ingin menyerah begitu saja,
“Aku mau minum kopi, boleh?” Indi menyorong secangkir kopi yang sudah mulai dingin, lebih dekat ke tempat Kino duduk.
“Silakan, jangan malu-malu. Pisang gorengnya sekalian!” kata gadis itu.
Dengan lega Kino mengangkat cangkir itu ke bibirnya, menikmati kopi yang memang sedap. Dua hirup ia teguk cairan hangat yang mempesona itu masuk menebarkan kenikmatan di dadanya. Sangat tepat campurannya: tidak terlalu pahit, tidak terlalu manis. Siapa pun yang membuatnya, harus diberi acungan jempol. Kino baru saja mau mengambil sepotong pisang goreng ketika Indi menyela,
“Ayo … cerita dulu, dong, sebelum makan pisang goreng!” Pemuda itu menghentikan gerakan tangannya,
“Wah, .. masak musti cerita dulu. Aku lapar!” Indi justru menarik piring pisang goreng menjauh,
“Cerita dulu … Tidak baik cerita dengan mulut penuh pisang!””Indi ..,” Kino memprotes,”Kamu tidak menghormati tamu …. dan 9urumu!”
Indi makin menjauhkan piring pisang goreng, tetapi dengan demikian ia makin mendekatkan tubuhnya ke Kino. Pemuda itu tak bisa meraih piring tanpa harus menyentuh badan Indi. Ketika Kino mencoba melakukannya, tubuh Indi justru jatuh ke pelukannya.
Cepat-cepat Kino menegakkan tubuhnya, takut kepergok ibu Indi, dan juga sadar akan jebakan yang dipasang si centil.”Cerita dulu!” sergah Indi bersikeras. Kino menarik nafas panjang, memutuskan untuk menyerah saja daripada tidak kebagian pisang goreng!
“Aku teringat Trista,” ujar Kino pendek. Indi terdiam. Ucapan pendek itu seperti sebuah kalimat panjang lebar yang perlu disimak sehari penuh sebelum bisa dimengerti maknanya.
“Aku teringat dia, karena tadi siang aku menerima kartu pos dari London,” kata Kino lagi sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.
Indi tetap diam. Menunduk memandang tangannya sendiri yang kini bermain-main dengan pinggiran piring. Kino menghela nafas panjang, berkata dalam hati: apakah aku harus ceritakan semuanya? Lalu, tanpa berpikir lagi, langsung berkata,
“Entah kenapa aku tiba-tiba sangat merindukannya. Bukan cuma karena kartu pos itu. Sejak lama aku tidak bisa melupakan dia. Hampir setiap hari bayangan wajahnya datang. Tidak siang, tidak malam, tidak pagi, tidak sore … Setiap saat.”
Indi merasakan dadanya sesak. Cara Kino mengucapkan pengakuannya terdengar sangat getir di telinga Indi. Terbayang saat ia pertama kali melihat kegundahan di wajah pemuda itu sewaktu ia memanggil-manggil dari balik tembok. Jadi, itulah yang ia risaukan. Betapa keruhnya kedua matanya waktu itu! Seperti sungai yang penuh lumpur akibat hujan lebat di hulunya. Betapa tersiksanya ia! kata Indi dalam hati.
Kino tak bisa menebak apa arti diam Indi, maka ia melanjutkan ceritanya karena merasa sudah terlanjur.
“Aku tak tahu, Indi, apakah hal ini baik atau tidak,” katanya, “Tetapi aku sungguh risau setiap kali menyadari bahwa aku tidak bisa lepas dari masa lalu yang getir itu. Sampai kapan aku harus terus terikat kepadanya? Aku seakan-akan terpenjara oleh kenangan yang manis sekaligus menyakitkan itu. Sampai kapan aku harus merasa sakit hati?”
Indi mengangkat mukanya. Kino berbicara setengah menunduk. Gadis itu merasakan kembali dadanya menjadi sesak oleh sebuah perasaan yang berisi campuran antara iba dan iri. Ia iba melihat pemuda yang ia senangi itu mengalami kegetiran. Ia juga iri kepada Trista, perempuan yang ia jumpai di rumah sakit dan yang ia akui sendiri sebagai perwujudan dari kecantikan wanita yang alamiah.
Kino mengangkat mukanya, menemukan kedua mata Indi memandang lekat. Sejenak mereka hanya saling pandang dalam sepi. Walau begitu, kedua hati mereka bercakap-cakap ramai, masing-masing dengan kegundahan dan kerisauannya sendiri.
Indi memaksakan sebuah senyum, yang tentu saja terlihat janggal dalam situasi seperti ini.
“Kenapa kamu tersenyum?” tanya Kino karena ia mengenali kejanggalan itu.
“Habis … harus bagaimana?” Indi balik bertanya, tangannya seperti tak sengaja menumpang di punggung telapak Kino.
“Cerita ku tadi lucu, ya?” tanya Kino, membiarkan gadis itu mengirimkan simpatinya lewat telapak tangan yang halus.
“Ceritanya sedih,” jawab Indi terus terang,
“Tetapi mendingan Indi anggap lucu. Daripada Indi ikut nangis!” Kino tertawa.
“Betul juga!” katanya,
“Sebaiknya kita menertawai kesedihan, daripada menangisinya!” Indi tersenyum lembut, mengelus-elus punggung tangan Kino seperti hendak meredakan gundah-nestapa di dada pemuda itu. Ia berucap pelan,
“Indi sebetulnya ngiri sama Kak Trista … kenapa harus selalu dia yang diingat. Tapi, lalu Indi pikir itu adalah hak Kak Kino. Jadi …..” Kino menunggu lanjutan kalimat itu. Tetapi, sampai lama tidak ada yang diucapkan lagi oleh Indi.
“Jadi ….?” tanya Kino sambil memandang lekat-lekat wajah manis yang kini berbinar lembut itu.
“Jadi …,” kata Indi sambil menghela nafas panjang,
“Jadi, sekarang Kak Kino boleh makan pisang goreng!”
Kino tertawa lagi. Betul-betul menikmati tawanya, karena gadis kenes centil di depannya ini memang pandai mencairkan suasana yang beberapa saat tadi penuh kegundahan. Sejenak Kino seperti mendengar syair lagu populer itu … buat apa susah, buat apa susah, susah itu tak ada gunanya …
“Husy!” sergah Indi sambil menyorongkan piring pisang goreng,
“Jangan tertawa terlalu keras, nanti mama sangka Kak Kino gila sehabis mengajar matematika!” Kino langsung menghentikan tawanya,
“Benar juga, sih … Aku bisa gila kalau setiap hari mengajar matematika seperti ini!” katanya.
“Seperti ini … seperti apa?” sergah Indi sambil ikut mengambil pisang goreng. Kino mengambil sepotong pisang yang tampak lezat menantang,
“Seperti ini … seperti kamu yang bisa becanda di depan orang yang sedang kesusahan!” katanya.
“Indi senang becanda,” kata Indi dengan mulut penuh,
“Apalagi kalau becanda-nya membuat Kak Kino gembira.”
“Merayu, nih!” sergah Kino juga dengan mulut penuh. Indi menelan pisang gorengnya, lalu berkata sungguh-sungguh,
“Tidak. Indi memang senang kalau Kak Kino gembira!”
“Kenapa harus membuat aku gembira. Biar saja aku sedih,” kata Kino bersikeras.
“Jangan di depan Indi, kalau mau bersedih,” sahut Indi ikut bersikeras.
“Jadi, aku harus pura-pura gembira, begitu?”
“Terserah. Yang penting jangan sedih. Kalau Kak Kino sedih, Indi akan terus becanda.”
“Kamu anggap hidup ini becanda, ya!”
“Memang. Apa sih susahnya becanda. Lagipula, Indi suka jika hidup ini gembira terus. Ngapain hidup kalau cuma untuk bersedih.”
“Kamu tidak pernah bersedih?”
“Pernah. Sering.”
“Jadi, apa yang kamu lakukan kalau kamu yang sedih?”
“Ya, anggap saja selingan. Indi akan berusaha gembira lagi!”
“Tetapi itu tidak gampang, kan?”
“Memang tidak gampang. Tetapi juga tidak sesulit matematika yang barusan Kak Kino ajarin!”
Kino tertawa. Senang sekali ia berkutat dalam percakapan ringan dengan Indi hari ini. Bahkan dengan takjub ia menyadari bahwa kegundahan yang tadi menelikungnya, kini hilang seperti kabut sirna oleh mentari. Indi bagai mentari itu … menyinari hari kelabunya. Tanpa maksud apa-apa, Kino menangkat tangannya, menyentuh ringan pipi Indi sambil berucap pelan,
“Terimakasih Indi. Kamu membuat aku gembira.” Indi menyandarkan pipinya lebih kuat ke telapak tangan Kino, tersenyum lembut dan menyemburatkan sinar matanya yang hangat. Sejenak mereka hanya berpandang-pandangan, dan Kino mengelus-elus pipi mulus yang terasa hangat itu.
“Kalau sudah selesai, aku mau pamit.” ujar Kino akhirnya. Indi mengangguk, lalu bangkit terlebih dulu. Kino meneguk sekali lagi kopinya, lalu bangkit menyusul Indi yang sudah mulai melangkah ke ruang tamu.
Di luar, senja telah datang dengan segala kemegahanNya. Indi bersandar di bingkai pintu depan, memandang Kino meninggalkan halaman sambil sesekali menengok dan melambaikan tangan.
Lalu pemuda itu hilang di balik tembok. Indi masih berdiri beberapa saat, memandang ke langit yang memerah, dan merasakan betapa indahnya senja kali ini. Sekali lagi ia menengok memastikan bahwa Kino sudah pulang, sebelum akhirnya masuk ke rumah.
Bersambung…
Setelah membantu Indi dengan PR-nya, hubungan Kino dengan gadis itu mencair kembali. Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, hubungan mereka tak pernah membeku secara total. Tetapi masing-masing pihak memang bersikeras bahwa “tidak ada apa-apa”, sehingga jadinya malah kisruh dan kaku. Masing-masing pihak terlibat oleh kesungkanan dan keraguan yang mereka ciptakan sendiri, seperti seorang nelayan yang terjerat jaring buatan sendiri.
Kino merasa lega, ia bisa berbicara lepas kembali di hadapan Indi. Sesungguhnya pemuda itu menyukai si centil karena mengingatkannya pada sikap lepas-terbuka yang selama ini ia tak bisa lakukan.
Indi seperti semacam rujukan bagi Kino tentang betapa mudahnya untuk tidak membohongi diri sendiri. Gadis itu biasa terus terang, bahkan untuk hal-hal yang sangat pribadi. Jika ia suka pada sesuatu, ia mengatakannya blak-blakan. Jika ia marah, ia menyampaikannya dengan lugas.
Sebaliknya bagi Indi, pemuda yang memikat hatinya itu juga adalah semacam suar yang mengingatkannya kepada kedewasaan. Kino bagi Indi adalah pemuda yang bisa keras-kepala secara baik dan benar! Pemuda yang tak terus-terang dan penuh bimbang, tetapi sekaligus bisa punya prinsip yang sekeras batukarang.
Setiap kali Indi membandingkan Kino dengan berbagai pemuda yang pernah dikenalnya, selalu datang kesimpulan bahwa Kino lebih “aman” untuk diajak mengarungi hidup belia yang penuh godaan sekaligus peluang ini.
Tahu sendiri lah, Indi ! Gadis itu menganggap hidup ini seperti lautan luas yang penuh gelombang, atau dataran pegunungan yang bergunduk-gunduk. Baginya, ombak adalah ayunan yang musti dinikmati walau bisa juga menenggelamkan mu sampai mati.
Pegunungan adalah keteduhan yang nyaman walau kalau meletus bisa juga membawa bencana. Hidup ini, buat Indi, harus diarungi dengan semangat yang membebas-lepaskan, tanpa harus lupa akan risiko dan bahaya di sana-sini.
Sementara bagi Kino, hidup ini bukan lagi cuma mengandung risiko atau kemungkinan bahaya. Ia sudah mengalami sebentuk bahaya dalam hidup ini, yang langsung menjelma tanpa peringatan. Ia sudah pernah terjerembab sangat dalam di jurang hitam asmara yang memabukkan itu.
Bahkan sampai kini pun ia belum sepenuhnya bisa keluar dari jurang tersebut. Itu sebabnya, Kino kini memandang hidup dengan penuh kegundahan dan sekelumit ketak-percayaan.
Kini pemuda itu selalu mempertanyakan keabsahan setiap perasaannya, atau ketepat-gunaan tindakannya. Akibatnya, ia terlihat lebih perenung dari biasanya. Wajahnya makin mengguratkan wajah seorang perenung yang prihatin.
Campuran antara Indi yang bebas-lepas dengan Kino yang gundah-waspada bisa semarak, tetapi juga bisa meruyak. Tergantung bagaimana mereka berdua memainkan peranannya masing-masing. Kita tahu, ada kalanya hidup ini bagai sebuah cerita panggung yang ditetapkan secara jelas oleh seorang sutradara.
Tetapi lebih sering, cerita itu sengaja dibuat oleh Sang Sutradara dalam bentuk lepas terbuka. Para aktor di dalam cerita itu punya peluang untuk menjalankan perannya secara bebas, selama masih dalam kerangka cerita.
Perjumpaan Kino dan Indi yang berikutnya adalah pada suatu kesempatan di Minggu sore, yang seakan-akan tercipta untuk mereka berdua. Tidak ada hujan, langit bersih, tetapi juga tidak terlalu panas karena angin basah bertiup agak kencang. Suasana sejuk mendominasi sejak siang, dan ketika sore tiba dengan kemegahanNya, udara semakin terasa nyaman.
Kino memutuskan untuk berjalan-jalan ke pertokoan di pusat kota, mencoba memulai perburuan kado untuk perkawinan Alma dengan Devin. Memakai jeans kesayangan dan kaos t-shirt merah tua, pemuda itu melangkah sambil bersiul-siul riang.
Pada saat yang sama, Indi menuju keluar karena ibunya minta gadis itu membelikan beberapa gulung benang. Rok selutut bercorak kembang biru-hijau dan kemeja ketat warna khaki membuat si centil tampak ceria sekaligus menggoda.
Keduanya bertemu di gang menuju jalan raya. Sama-sama tersenyum, mereka segera beriringan, melangkah ringan seperti di atas bantalan berkwintal-kwintal kapuk.
“Mau kemana?” adalah pembukaan yang terlontar dari mulut Kino.
“Kak Kino mau kemana?” balas Indi sambil tetap menjaga kemanisan senyum yang berhias lesung pipit samar-samar itu.
“Tidak baik menjawab pertanyaan dengan pertanyaan,” kata Kino sambil mengira-ngira berapa sendok gula pasir diperlukan untuk membuat senyum semanis senyum Indi.
“Tak baik menanyakan ke mana seorang gadis pergi sendirian,” sahut Indi sambil tertawa kecil karena ia memang suka tertawa kalau ada di sebelah pemuda itu.
“Jadi, aku harus menawarkan diri untuk mengawal. Bukan malah bertanya. Begitu?” kata Kino sambil menahan keinginannya untuk men-cowel pipi bersemburat merah muda yang menggemaskan di sebelahnya itu.
“Indi ngga berkata begitu, lho!” sergah Indi cepat,
“Kak Kino yang mau mengawal, kan?!”
“Mana mungkin aku bisa mengawal kalau tidak tahu kemana kamu mau pergi,” sahut Kino.
“Tidak jauh-jauh, kok!” ujar Indi sambil mendekatkan diri, sehingga kini mereka berjalan nyaris bersentuhan lengan.
“Jauh-dekat ongkosnya sama,” goda Kino menikmati rasa dekat yang menyeruak di antara mereka.
“Ongkosnya es krim, cukup ngga?” tanya Indi sambil berpikir keras mencari alasan untuk mama kalau nanti ia pulang agak terlambat.
Kino tertawa, tentu saja ia suka es krim, apalagi kalau sambil ngobrol dengan si centil yang punya segudang kekenesan. Lagipula, sore ini ia tidak ada acara apa-apa selain mencari kado. Maka ia menyatakan persetujuannya dengan perjanjian bahwa yang mentraktir adalah dirinya.
Biar bagaimana pun ia adalah pihak yang lebih “mampu”, karena punya penghasilan dari mengajar kursus. Sementara Indi toh cuma mengandalkan uang saku. Setelah agak membantah (karena bukan Indi namanya, kalau tidak membantah), akhirnya Indi setuju.
Mereka sudah tiba di tepi jalan raya, dan langsung naik ke angkot pertama yang muncul. Indi mengatakan kepada Kino ke mana ia harus pergi membeli benang, dan keduanya sepakat untuk mencari pesanan itu dulu sebelum mampir di kedai es krim favorit anak-anak tanggung kota B.
******
Benang pesanan ibu tidaklah susah dicari, karena Indi sudah tahu nama dan lokasi toko langganannya. Segera setelah keluar dari toko itu, Indi langsung menggamit lengan Kino dan menyeret pemuda itu ke kedai es krim yang kira-kira 10 menit jauhnya berjalan kaki.
Walau Kino membiarkan Indi menggandengnya, namun pemuda itu punya perasaan kurang nyaman berada di tempat umum dengan seorang gadis yang bukan pacarnya.
Tetapi Indi seperti menganggap bergandengan tangan adalah kelumrahan yang tak perlu dipersoalkan. Maka tanpa berusaha menolak, Kino membiarkan lengannya terpeluk dan terhenyak nyaman di dada si centil yang lembut itu.
Indi selalu bisa menerka perasaan Kino, maka ia berkata setengah berbisik,
“Anggap aja menggandeng adik!” Kino menggerutu,
“Adikku tidak secentil kamu, dan juga tidak nakal!” Indi malah mempererat pelukannya di lengan Kino, menekan keras-keras dada sebelah kirinya.
“Biarin! Indi memang suka nakal kalau di dekat Kak Kino!”
“Bagaimana kalau pacar mu memergoki kita!” sergah Kino dengan kekuatiran yang sesungguhnya.
“Siapa? … Si Randi yang Indi kenalin dulu itu?” sentak Indi dengan nada tak suka.
“Bukankah itu pacarmu?” desak Kino. Indi mencibirkan bibirnya,
“Aku ngga suka sama dia!”
“Sudah putus?” tanya Kino, tiba-tiba ingin tahu lebih banyak.
“Resminya, sih, belum putus!” kata Indi dengan ketus,
“Tapi sudah lama Indi ngga mau jalan sama dia lagi!”
“Jangan terlalu galak, dong. Kasihan …,” kata Kino sekenanya.
“Ah, apa peduli Kak Kino. Biarin saja dia marah sama Indi. Memang Indi pengin dia begitu!” sergah Indi.
“Kenapa kamu tidak suka lagi kepadanya?” tanya Kino.
Indi tidak segera menjawab karena kedai yang mereka tuju sudah tampak. Gadis itu hanya menggumam tak jelas lalu mempercepat langkahnya menyeret Kino.
******
Mereka duduk di sebuah meja yang cuma punya dua kursi, agak ke dalam kedai yang belum begitu ramai.
“Boleh Indi terus terang sama Kak Kino?” ucap Indi di antara suapan es krim. Kino menggumam meng-iyakan, sibuk menikmati coklat moka yang disukainya.
“Indi sudah terlalu banyak kenal cowok,” kata Indi,
“Kadang-kadang Indi merasa terlalu pemilih, dan terlalu gampangan.”
“Berapa, sih, pacar kamu?” tanya Kino sekenanya, ia masih sibuk menikmati es krimnya, belum terlalu serius menanggapi Indi.
“Mungkin sudah lebih dari selusin!” kata gadis itu sambil tertawa kecil,
“Indi ngga pernah bikin daftarnya! Tetapi pokoknya sudah banyak!”
“Kenapa kamu terlalu pemilih?” tanya Kino sekadar menimpali.
“Sebetulnya Indi ngga mau asal pacaran, tetapi soalnya banyak banget yang mau sama Indi,” celoteh gadis itu sambil terus menyuap,
”Jadi Indi asal terima saja kalau ada yang ngajak jalan-jalan atau nonton. Lagipula, Indi senang bergaul. Indi senang punya banyak teman.”
“Ya, kalau begitu tidak ada salahnya,” ujar Kino mencoba serius,
“Malah bagus, punya teman banyak, punya pacar banyak.”
“Kak Kino ini serius atau asal bunyi, sih!?” sentak Indi.
“Eh … serius, dong!” sahut Kino mencoba sekali lagi untuk terlihat serius, tetapi tentu saja tampangnya tak mendukung.
“Kenapa malah bilang banyak pacar adalah bagus?” cecar Indi sambil membelalakan matanya yang indah itu.
“Lho … katanya kamu suka banyak teman. Bukankah pacar juga teman?” ucap Kino membela diri.
“Lain, dong!” sergah Indi kesal,
“Teman tidak mungkin mencium Indi, megang-megang Indi, atau yang lain-lain itu!” Kino melongo,
“Yang lain-lain itu?”
“Iya! Yang lain-lain itu. Kak Kino pura-pura bego!” sergah Indi dan tahu-tahu tangannya sudah mencubit. Kino menahan tawanya, melihat Indi cemberut tanpa kehilangan kekenesan, kecentilan dan kemanisannya.
“Si Randi itu, misalnya, terlalu doyan!” sergah Indi sambil mengaduk-aduk es krimnya dengan gemas,
“Lama-lama Indi sebel dan muak!”
“Orang doyan, kok, dipermasalahkan, sih!?” kata Kino.
“Bukan doyan bakso!” hentak Indi kesal,
“Dia doyan megang-megang Indi dan ngajakin yang aneh-aneh!” Kino tak bisa menahan tawanya. Cepat-cepat ia menutup mulutnya dengan punggung tangan, kuatir es krim muncrat ke mana-mana. Juga kuatir Indi tersinggung. Tentu saja Indi tersinggung, dan menghentak sambil mencubit lengan Kino,
“Brengsek! … Kak Kino malah ngeledek. Bukannya bantuin!” Kino membiarkan tangannya dicubit, toh tidak terlalu sakit. Ia membela diri,
“Lho … aku bukan meledek kamu. Aku tertawa karena cara kamu menjelaskan sikap pacar kamu!”
“Tapi dia memang kelewat doyan!” sergah Indi.
“Kamu juga, sih .., yang membuat dia doyan!” balas Kino. Indi sekali lagi mendelikkan matanya yang mempesona,
“Eh … Kak Kino sekarang malah belain dia, yaaa!!”
“Bukan membela, tapi kamu sendiri yang bilang bahwa kamu terlalu mudah, terlalu ….. apa itu? …. terlalu gampangan,” sahut Kino tak mau kalah. Indi menggerutu, mencibirkan bibirnya yang basah oleh es krim sampai berkilat-kilat,
“Kalau sekali-sekali, sih, Indi ngga keberatan. Tetapi dia selalu mengajak yang aneh-aneh, bikin Indi sebel!”
“Apa, sih, yang aneh-aneh itu?” tanya Kino karena ia memang tidak terlalu mengerti. Indi menatap pemuda di depannya dengan tajam, sampai Kino merasa agak rikuh juga dan menyesal telah bertanya.
“Kalau Indi cerita, Kak Kino janji ngga ngetawain yaaa!” tuntut gadis itu dengan kedua matanya tajam berderang.
“Kenapa musti tertawa?” tanya Kino.
“Pokoknya … tidak boleh tertawa. ….. Janji???” sentak Indi.
Kino mengangguk. Indi menghela nafas, lalu berucap agak pelan,
“Dia suka mengajak Indi oral sex .. ” Kino melongo. Bukan cuma karena kaget mendengar pengakuan Indi, tetapi juga karena perlu sejenak mencerna apa yang dimaksud dengan “oral sex” itu. Setelah otaknya berhasil menghubungkan kata “oral” dengan “mulut”, barulah Kino mengucapkan,
“Oooo … begitu.” Indi mendelik, mengancam dengan pandangannya yang sekaligus menakjubkan tetapi juga menakutkan. Setidaknya, menakutkan dalam ukuran seorang gadis centil yang ceria seperti dia.
“Kenapa musti mendelik begitu, sih?” sergah Kino.
“Awas kalau Kak Kino tertawa!” ancam Indi sambil bersiap mencubit.
“Apakah kamu penuhi permintaannya?” tanya Kino mencoba kembali ke persoalan yang mengagetkan itu. Indi menggeleng cepat.
“Ngga mau dan ngga akan mau!” Kino melepas nafas lega. Tadinya ia kuatir akan ada cerita-cerita lebih seram keluar dari mulut gadis yang mudah “berkicau” seperti burung parkit ini.
“Untuk Indi, itu sudah kelewatan,” ujar Indi dengan muka serius,
“Pasti dia terlalu banyak nonton be-ef … menyangka semua cewek mau diajak yang begituan!”
“Apa itu be-ef?” sela Kino, sungguh-sungguh tidak tahu. Indi mendelik lagi, kali ini bukan untuk marah tetapi untuk menunjukkan keheranannya.
“Kak Kino ngga tahu apa itu be-ef?” Kino menggeleng jujur.
“Ya ampun!” desis Indi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya,
“Itu, lho .. video-video porno yang berisi adegan orang begituan!”
“Oooooh ..,” Kino menepuk dahinya sendiri mengakui kebodohan dan kenaifannya,
“Maksud kamu blue film!”
“Ck .. ck .. ck!” Indi menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat rambutnya tergerai-gerai ramai,
“Kak Kino lama-lama semakin bloon!” Kino tertawa, mengakui ke-bloon-an itu tanpa tersinggung.
“Jangan bilang sama Indi bahwa Kak Kino ngga pernah nonton be-ef!” sergah Indi.
“Pernah. Tapi aku tidak suka,” jawab Kino cepat, teringat kenakalan-kenakalan di masa awal kuliah di rumah Ridwan yang punya selusin film biru.
“Indi juga ngga suka!” kata Indi sambil menyingkirkan gelas es-krim yang tinggal berisi sendoknya. Kino tertawa sebentar, lalu cepat-cepat melanjutkan makan es-krim yang tertunda. Dalam tiga suap, kosong sudah gelasnya.
“Kak Kino,” Indi berkata pelan,
“Boleh Indi tanya hal yang pribadi?”
“Hmmm ..,” gumam Kino sambil mengangguk. Ia tiba-tiba merasa dekat sekali dengan gadis manis di depannya; apalagi setelah Indi berterus terang tentang pacarnya tadi.
“Seberapa jauh hubungan Kak Kino dengan Kak Trista ..,” tanya Indi hati-hati, sambil memandang lekat-lekat pemuda di depannya, memantau dengan seksama reaksinya. Kino sejenak ragu-ragu, mengangkat mukanya dan membalas menatap Indi. Apakah ia akan berterus terang?
“OK …,” Indi menghela nafas panjang,
“Tidak perlu dijawab, kalau Kak Kino ngga mau cerita … ”
“Bukan begitu …,” ucap Kino cepat,
“Bukan aku tidak mau cerita.”
Indi diam, menunggu kelanjutan penjelasan pemuda yang entah kenapa semakin lama semakin ia sukai ini. Bukan wajahnya (walaupun wajah itu tergolong cakep). Bukan juga penampilannya (terkadang ia berpakaian sembrono, pikir Indi).
Bukan juga latar belakangnya (dia, kan, anak desa!). Bukan semua itu yang menarik perhatian Indi, melainkan kepolosan dan sekelumit misteri yang menyelimutinya. Indi seperti berhadapan dengan sebuah buku cerita yang menarik dan perlu dibaca sampai tamat berkali-kali!
Kino menghela nafas panjang sebelum berkata,
“Sebetulnya aku justru mencari orang yang bisa aku ajak bercerita … ” Indi tetap diam. Menunggu penuh harap, memainkan tissu dengan jemarinya yang lentik.
“Aku punya banyak cerita tentang dia,” lanjut Kino dengan suara pelan,
“Sering sekali cerita itu berulang-ulang di kepalaku, aku ceritakan kepada diriku sendiri. Sebenarnya, aku akan senang kalau ada orang lain yang mau mendengar.” Kino terdiam, sehingga Indi merasa perlu menyela,
“Kenapa ngga cerita sama Indi?” Kino memandang gadis di depannya,
“Aku tidak tahu bahwa kamu tertarik mendengar cerita tentang dia.” Indi balas menatap, menyiratkan pengakuan sejujurnya bahwa ia tertarik kepada cerita pemuda itu. Tertarik kepada si empunya cerita itu juga!
“Tidak seorang pun yang pernah mendengar cerita itu,” ucap Kino pelan sambil mengalihkan pandangan ke luar. Malam sudah menjelang, walau masih belia.
“Pasti ceritanya serem ..,” goda Indi. Kino tertawa,
“Betul …. Memang terkadang menakutkan. Terutama kalau aku ingat bahwa aku hampir tewas.”
Indi menggigit bibirnya, merasa tidak enak menyinggung peristiwa yang nyaris berakhir tragis itu. Tetapi dia juga masih ingin tahu lebih banyak. Maka ia diam saja, memandang seksama pemuda yang kini menunduk dan menggurat-guratkan jarinnya menggambarkan sesuatu yang abstrak di taplak meja.
“Kami sering berhubungan,” ucap Kino pelan, nyaris tidak terdengar.
Indi menahan rasa kagetnya sekuat tenaga. Ia tidak pernah menyangka begitu jauh. Kini ia mendengar dari pemuda yang ia sukai itu, ternyata tidak se-“suci” yang ia duga. Indi tak tahu harus bereaksi bagaimana terhadap pengakuan terbuka ini! Kino mengangkat mukanya, menatap sepasang bola bening yang sedang menembus raganya menelusup ke relung-relung dadanya mencari-cari kebenaran.
“Kamu kaget?” tanya Kino hati-hati, karena sebetulnya dirinyalah yang terkejut. Mengapa begitu mudah ia “buka kartu” di depan Indi? Indi mengangguk pelan. Tak sanggup berkata-kata. Keceriwisan dan kekenesannya sirna begitu saja. Kino menatap tajam gadis di depannya,
“Kamu minta aku cerita. Maaf kalau mengagetkan dan membuat kamu kecewa.” Indi cepat-cepat menggeleng, balas menatap tak kalah tajam. Keduanya saling pandang bertukar-tukar pesan rahasia yang tak seluruhnya bisa dimengerti bahkan oleh si empunya pesan.
“Sampai begitu jauh, Kak Kino berhubungan ..,” akhirnya Indi berbisik, seperti takut terdengar orang lain padahal kedai es-krim cuma berisi mereka dan sepasang muda-mudi lain di pojok sebelah sana.
“Ya ..,” sahut Kino sambil menghela dan menghempaskan nafas panjang,
“Kami berhubungan hampir setiap kali berjumpa. Aku seperti orang mabuk, Indi … tidak bisa menolak ajakannya, dan juga tak berhenti membujuknya untuk melakukan berulang-ulang.”
“Tidak takut hamil?” bisik Indi lagi.
Kino menunduk, mengenang rasa kuatirnya yang sempat muncul ketika ia tersadar dari pingsan setelah kecelakaan. Ia memang tidak mengatakan kekuatirannya kepada Trista waktu itu, dan ia merasa itulah salah satu bentuk ke-pengecut-annya. Kepada Indi kini ia mengakuinya,
“Aku sempat takut …. Tetapi kami memang tidak pernah membicarakan risiko itu.”
“Kak Kino menyesal?” tanya Indi pelan, perasaan iba muncul menggantikan rasa kaget. Padahal Indi bisa marah, atau jijik mendengar pengakuan seorang yang ia puja tetapi ternyata sudah ternoda. Tetapi gadis itu terlalu sulit memutuskan, apakah ia patut membuat penilaian tentang baik-buruknya Kino. Kino menghela nafas panjang lagi sebelum berkata,
“Ya, aku menyesal sekali dan sekaligus bertanya-tanya mengapa kami sampai melakukannya dengan begitu bernafsu dan tak pikir panjang.”
“Itu kah yang namanya cinta?” tanya Indi pelan.
Kino mengangkat muka dan menatap wajah Indi yang kini menunduk. Ada perasaan janggal pada diri pemuda itu mendengar pertanyaan yang datang dari seorang gadis centil-kenes dan nakal di depannya. Pertanyaan itu sederhana sekali, tetapi Kino tahu jawabannya tidak mudah.
“Barangkali …, ya. Barangkali memang itu namanya cinta,” jawab Kino.
Indi diam, memainkan telapak tangan dan menggigit-gigit kecil bibirnya yang masih basah oleh air putih penyerta es-krim.
“Barangkali juga bukan …,” bisik Kino. Indi mengangkat mukanya, memandang pemuda yang kini bermuka keruh seperti air sungai yang kebanyakan lumpur.
“Kak Kino tidak mencintainya?” tanya Indi pelan, entah kenapa dia menaruh harapan besar pada jawaban “tidak”.
Sejenak Kino diam saja, mengalihkan pandangan kembali ke luar. Malam beringsut menuju kelam. Lampu-lampu jalanan sudah menguasai suasana menggantikan Sang Surya yang telah lama beristirahat. Keramaian tak lagi seperti siang hari, tetapi juga belum sama sekali reda.
“Aku tidak tahu, Indi …,” akhirnya Kino menjawab,
“Aku sekarang selalu meragukan perasaanku sendiri. Aku tidak berani lagi mengatakan apa-apa tentang cinta.”
“Tetapi Kak Kino masih terus merindukannya,” desak Indi. Kino menatap Indi,
“Aku memang merindukannya. Aku selalu teringat masa-masa bersamanya. Tetapi aku juga tersiksa oleh perasaan menyesal dan bersalah. Itu sebabnya, aku tak merasa bahagia kalau merindukan dia.”
Indi tak bisa menahan tangannya mengusap lembut lengan Kino; ia ingin bersimpati sepenuhnya pada apa yang Kino hadapi, walaupun sekelumit cemburu dan iri tak henti-hentinya mendera minta perhatian. Indipun berkuat-hati memendam kedua perasaan itu, dan menggantikannya dengan simpati.
“Indi tidak setuju kalau Kak Kino menyalahkan diri sendiri,” kata gadis itu dengan sungguh-sungg
uh.
Kino tersenyum kecut mendengar ucapan simpatik yang datang dari gadis centil yang menggemaskan itu. Sudah sering ia menemukan banyak kedewasaan di balik penampilan Indi yang serampangan, nakal, dan berani itu. Sudah sering ia bersyukur berteman dengan Indi; kali ini ia bahkan semakin bersyukur.
“Menurut Indi, orang yang saling mencintai memang wajar kalau ingin berhubungan seks,” kata Indi lagi, kini kembali dengan gaya “sok-tahu”-nya.
“Kamu, kok, tiba-tiba menjadi ahli, sih?” goda Kino. Indi tertawa kecil,
“Bukan ahli … tapi Indi pernah baca seperti itu di majalah.”
“Lalu, apa lagi kata majalah itu?” tanya Kino, senang karena persoalannya bisa dibicarakan secara lebih ringan.
“Katanya, memang wajar kalau dua orang yang saling menyukai ingin melakukan hubungan-hubungan yang lebih jauh. Makanya, keduanya harus bisa mengendalikan diri,” kata Indi serius, mengalahkan keseriusan seorang penasihat psikologi.
“Bagaimana cara mengendalikan diri?” tanya Kino, lebih untuk menggoda katimbang mencari jawaban sesungguhnya.
“Katanya, harus menghindari peluang berduaan dan jangan terlalu sering bertemu,” jawab Indi, lalu buru-buru menambahkan,
“Itu kata majalahnya, lho!”
“Kalau menurut kamu sendiri bagaimana?” desak Kino.
“Menurut Indi?” tanya Indi sambil mengangkat alisnya menambah lebar kedua matanya,
“Menurut Indi …. itu cuma teori. Pada kenyataannya, susah!” Lalu gadis itu tertawa lepas dan riang. Kino pun ikut tertawa, sungguh-sungguh senang mendapatkan teman bicara yang bisa menetralisir kegundahan.
“Menurut Indi, orang yang nulis di majalah itu ngga pernah jatuh cinta!” sergah gadis itu di antara tawanya.
“Kenapa?” tanya Kino.
“Karena … kalau dia pernah jatuh cinta, pasti dia tahu bagaimana susahnya menghindari pertemuan dengan orang tersayang. Iya, kan?” kata Indi.
“Ah, kamu sok tahu saja!” goda Kino. Indi tertawa renyai, tak mau terpancing oleh godaan Kino.
“Kak Kino pura-pura membantah, padahal dalam hati bilang ya!”
“Memangnya kamu pernah jatuh cinta?” tanya Kino tiba-tiba.
Indi terdiam, dan sejenak tidak bisa menjawab. Kino tertawa senang melihat gadis itu kehilangan kata-kata. Indi memberengutkan mukanya, walau tentu saja malah membuatnya semakin menggemaskan.
“Pernah atau tidak?” desak Kino.
“Mau tambah es-krim?” Indi malah balik bertanya mengalihkan pembicaraan. Kino tergelak. Indi semakin merengut dan semakin manis. Ia juga semakin rajin mencubit lengan Kino.
Lalu pembicaraan mereka tak lagi teratur, melainkan penuh canda ringan yang tak banyak makna. Humor dan gosip menggantikan topik-topik sendu tentang rindu dan cinta. Kino senang sekali bisa lepas dari topik itu, sekaligus lega karena ternyata ceritanya tidaklah terlalu sulit untuk disampaikan kepada orang lain.
Tentu saja Kino juga sadar bahwa Indi kini menjadi salah satu teman teristimewa dalam hidupnya. Belum ada orang lain yang tahu tentang Trista sampai sejauh itu. Sebaliknya, Indi pun merasa mendapat kehormatan tersendiri dari pemuda yang memang ia kagumi ini. Menjelang pulang, Indi sempat bertanya dalam hati: apakah aku akan mendapat tempat istimewa di hatinya?
Pertanyaan itu tetap ia simpan sampai mereka berpisah di gang tempat mereka tinggal.
Dan Kino menepuk dahinya sendiri di kamar, ketika menyadari bahwa ia sama sekali belum membeli kado untuk Alma dan Devan!
Bersambung…
Kesempatan membeli kado akhirnya datang pada suatu pagi yang agak basah oleh hujan semalam. Kino tidak punya jadwal mengajar kursus, dan tidak punya kegiatan lain. Seusai mandi dan sarapan, ia memutuskan untuk pergi membeli kado. Berbekal uang secukupnya, ia memutuskan untuk pergi ke pertokoan yang sudah ia kunjungi bersama Indi beberapa waktu yang lalu.
Setelah mengunjungi setengah lusin toko dan kebingungan musti membeli apa, Kino memutuskan untuk kembali ke sebuah toko keramik. Ia berpikir, sebuah vas modern berwarna biru dan ungu mungkin tepat untuk kado perkawinan. Apalagi ada hiasan sepasang burung kecil di bagian dasar vas itu; mudah-mudahan bisa menggambarkan keserasian suami-istri. Begitulah pikir Kino sambil berbelok.
“Kino!” suara Rima menyentak pemuda itu, membuatnya menghentikan langkah.
“Hei, apa kabar!” seru Kino riang setelah tahu siapa yang berjalan mendekat dengan langkah panjang dan senyum lebar.
“Ngapain kamu di sini?!” sergah Rima sambil tahu-tahu sudah merangkul bahu Kino dan mendaratkan ciuman sekilas di pipi. Kino tak bisa menghindar, tetapi dia juga memang ingin sekali memeluk sobat lamanya ini. Sudah lama sekali rasanya ia tidak berjumpa Rima …
“Kamu semakin gemuk!” sergah Kino sambil mengamati Rima dari ujung kaki sampai ujung rambut. Rima tertawa,
“Menghina, ya!!”
“Tidak!” sahut Kino sungguh-sungguh, “Kamu memang semakin …. semakin … montok!” Tawa Rima tambah keras,
“Sialan kamu!”
Mereka berdiri berhadapan, sejenak saling pandang melemparkan segudang rindu. Sekelebatan, hari-hari indah ketika mereka masih melewati hari bersama seperti muncul kembali. Terbayang mereka, bersama Ridwan dan Tigor, duduk di rumput di kampus, bercanda dan saling meledek.
Terbayang mereka kedinginan di puncak gunung, memeluk lutut dan duduk berdempetan memandang senja memerah. Terbayang tawa riang yang memenuhi hari-hari bersama yang penuh kenakalan mahasiswa …
“Kemana saja kamu?” tanya Kino sambil menatap wajah sahabatnya dalam-dalam.
“Sibuk belajar,” ucap Rima pendek, tetapi jelas ia berbohong, karena senyumnya mengembangkan godaan. Kino mencibir,
“Sibuk dengan sang dosen!”
“Masih cemburu juga, nih!” kerling Rima sambil merangkul pinggang sahabatnya. Kino mulai melangkah lagi, setengah menyeret Rima bersamanya.
“Kamu jarang ke kampus lagi,” kata Rima. Kino menghela nafas,
“Ya .. aku menunggu semester berikutnya tahun depan, karena sudah ketinggalan jauh.”
“Aku sudah jarang ke kelas, karena sekarang banyak tugas akhir,” kata Rima merendengi langkah Kino.
“Untung ada bantuan dari seorang dosen ..,” ucap Kino tanpa menyembunyikan kesinisannya. Rima tertawa,
“Kamu koq cemburu banget kepadanya!” Kino mendengus,
“Dia mencuri sahabatku!” Rima mengeratkan pelukan di pinggang pemuda itu, agak tertatih mengikuti langkah Kino yang lebar.
“Jangan begitu, Kino!” katanya sungguh-sungguh,
“Kami waktu itu sedang jatuh cinta, menggebu-gebu. Tidak punya waktu untuk orang lain … hahahaha.” Kino tak ikut tertawa,
“Apa maksudmu … ‘waktu itu’ … ?”
“Ya, … waktu itu kami memang sedang getol pacaran!” sahut Rima ringan.
“Sekarang tidak lagi?” tanya Kino.
“Sekarang masih pacaran, dong!” sahut Rima cepat,
“Tetapi ngga seperti dulu. Dia sekarang tidak pencemburu lagi.”
“Bagus!” kata Kino, masih sinis. Rima mencubit pinggang pemuda itu pelan,
“Eh .. jangan ngambek terus dong!” Kino tak bergeming. Langkah keduanya kini mulai serasi.
“Kami akan segera menikah!” kata Rima tiba-tiba. Kino menghentikan langkah. Mereka berdiri di depan sebuah kedai kopi.
Kino menatap Rima lekat-lekat. Tidak salahkah yang aku dengar? tanyanya dalam hati. Rima balas menatap dengan mata berbinar. Senyum merebak di seluruh wajahnya yang memang tampak semakin sumringah saja.
“Menikah?” tanya Kino pelan dan penuh ketakpercayaan. Rima mengangguk kuat-kuat. Rambutnya yang kini sebahu tampak begerai ramai.
“Bagaimana dengan kuliahmu?” tanya Kino lagi, masih tak percaya.
“Aku, kan, sudah mendekati tahun-tahun terakhir,” jawab Rima,
“Gini-gini aku termasuk cermerlang di kelas, lho!” Tentu saja Kino tahu itu. Rima memang tomboy dan urakan. Tetapi ia juga punya otak encer dan bisa belajar penuh konsentrasi.
“Aku mau cerita banyak!” kata Rima lagi, sambil tahu-tahu sudah menyeret Kino masuk ke kedai kopi. Tertatih-tatih dan masih dengan kening berkerut, pemuda itu membiarkan dirinya diajak masuk.
******
“Mas Danu berpendapat, sebaiknya kami segera menikah saja,” kata Rima memulai cerita panjangnya, “Aku sudah diajak bertemu keluarganya kira-kira sebulan yang lalu. Mereka pada dasarnya setuju, dan tinggal mencari waktu untuk berkunjung ke keluargaku.”
Kino diam menyimak sambil mengaduk-aduk kopi susu di hadapannya dengan sendok kecil.
“Sebetulnya aku agak gentar,” lanjut Rima sambil mengangkat muka, menatap sahabatnya sebelum meneruskan,
“Kamu tahu sendiri, kan, keluargaku …”
Kino tak menyahut. Tentu saja ia tahu keluarga Rima yang berantakan, tentang kakaknya yang tewas akibat obat bius, dan ayahnya yang play boy (catatan redaksi: bagi yang belum tahu kisah Rima, silakan menjenguk di sini).
Seperti halnya Andang yang ia kenal saat berkelana sekilas dengan Obenk Sang Troubador, Rima adalah sebuah bukti hidup dari keluarga yang hancur lebur. Keduanya menjadi gadis bebas, bagai burung liar di belantara kehidupan.
Bedanya, Andang menjalani nasibnya dengan kegetiran yang nyaris fatalistis, sementara Rima melawannya dengan ketegaran dan tekad untuk lebih baik. Bedanya lagi, Andang sudah lama kehilangan keperawanannya, sementara Rima -sampai sejauh yang Kino tahu- masih menjaga kegadisannya.
“Aku sudah menguatkan hati,” kata Rima dengan suara pelan, ”
Aku tahu, pasti ayah akan acuh-tak-acuh menanggapi keinginan ku. Paling-paling ia akan berkata ..’terserah’!”
“Lalu, kenapa kamu gentar, kalau memang tahu ayahmu akan setuju saja?” tanya Kino.
“Bukan ayah yang aku kuatirkan, tetapi abangku yang paling tua,” sahut Rima sambil menghirup tehnya. Kino mengernyitkan kening,
“Ada apa dengan abangmu?”
“Dia ngga pernah setuju pada apa pun yang aku hendak kerjakan,” jawab Rima dengan kegetiran yang tiba-tiba menyelimutinya,
“Dia selalu bersuara minor setiap kali aku hendak melakukan sesuatu yang positif. Bahkan dia sebetulnya menentangku mati-matian ketika aku memutuskan melanjutkan sekolah.”
“Dia ingin kamu juga hancur seperti dia,” kata Kino menyimpulkan sendiri. Rima mengangguk,
“Ya .. sepertinya dia tak rela kalau cuma dia sendiri yang hancur tak berguna. Dia bahkan ingin menghancurkan adiknya sendiri. Dia selalu ingin menjerumuskan aku. Mendorongku berbuat yang tidak-tidak.”
Kino menghela nafas, teringat cerita Rima tentang abangnya yang selalu menyediakan kondom dan membawakan film-film biru untuk Rima. Ia tidak bisa menerima dengan akal sehat, mengapa seorang kakak bisa begitu tega ingin menjerumuskan adiknya sendiri. Semakin lama ia memikirkan hal itu, semakin menjijikkan rasanya. Apalagi jika ia ingat Susi, adiknya sendiri, yang sangat ia sayangi.
“Kini aku akan berontak, kalau memang ia ingin menentang,” lanjut Rima kembali dengan ketegasannya, walau wajahnya agak berubah keruh,
“Kalau perlu, aku akan lari saja bersama Mas Danu, daripada melibatkan dia dalam urusan keluarga ku yang brengsek!”
“Tidak ada keluarga lain?” sela Kino,
“Misalnya paman atau …. entah siapa …. dari pihak almarhum ibumu?” Rima menggeleng pelan, menunduk dan memainkan sendok di cangkir teh.
“Ayah memutuskan hubungan dengan keluarga ibuku setelah beliau meninggal,” katanya pelan, “Aku bahkan tak pernah tahu, siapa sebenarnya ibu. Pernah ayah keceplosan mengatakan bahwa orangtua ibuku, … kakek dan nenekku … tinggal di Singapura. Tetapi, di mana mereka tepatnya, aku tak pernah tahu.”
“Apakah pacarmu …. Mas Danu … telah tahu semua ini?” tanya Kino hati-hati. Rima mengangkat mukanya, dan Kino melihat kesedihan di kedua mata sahabatnya yang berucap agak serak,
“Sudah … tetapi belum sepenuhnya. Aku justru kuatir kepada keluarga Mas Danu … apakah nanti mereka bisa menerima kenyataan tentang keluargaku.” Kino mengangkat tangannya dari meja, mengelus pundak Rima untuk menyatakan simpati. Rima tersenyum kecut,
“Tidak ada jalan lain bagiku untuk keluar dari kemelut keluarga. Aku harus menempuh risiko ini, Kino … Kalau Mas Danu memang mencintaiku, dia pasti akan menerimaku apa adanya. Tetapi kalau dia tidak mencintai … ya, memang barangkali begitulah nasibku” Kino mengernyitkan kening,
“Mengapa kamu katakan ‘tidak ada jalan lain’?”
Rima menunduk dan menggigit bibirnya. Ia juga menarik nafas berkali-kali, seperti sedang berusaha mengeluarkan gumpalan-gumpalan yang menyumbat dadanya. Kino meremas-remas perlahan bahu sahabatnya, berusa sebisanya memberikan bantuan apa pun yang bisa ia kerjakan.
Ketika Rima mengangkat mukanya, Kino melihat airmata menggenang. Pemuda itu tiba-tiba menyadari, apa yang ingin diucapkan dan diceritakan oleh Rima ternyata bukan hanya kebahagian tentang pernikahan mendatang, tetapi juga kegetiran yang amat sangat.
“Kalau kamu belum mau bercerita, tak apa-apa ..” bisik Kino,
“Kita bicara tentang yang lain saja ..” Rima menggeleng kuat-kuat. Sebutir air matanya sempat terlempar, menetes keras di lengan Kino.
>“Aku memang ingin bercerita. Aku tak tahu harus bercerita kepada siapa, dan entah memang sudah diatur olehNya .. aku bertemu kamu. Aku ingin bercerita panjang lebar, Kino!” sergah Rima sambil menghapus air matanya dengan saputangan hijau muda. Kino melihat ke sekeliling. Kedai kopi sudah agak ramai oleh orang-orang yang tampaknya enggan sarapan di rumah. Sebagian besar tampaknya adalah para pegawai dari kantor-kantor yang ada di dekat pertokaan.
“Kamu mau cerita di sini, atau ….,” Kino tak sempat melanjutkan ucapannya.
“Tidak,” sela Rima,
“Mau kah kamu menemaniku jalan-jalan sambil ngobrol?”
Kino mengangguk, tetapi lalu ingat bahwa ia harus membeli kado. Sejenak ia menimbang-nimbang, apakah akan membeli kado dulu baru berjalan-jalan dengan Rima. Lalu ia memutuskan, sebaiknya menemani Rima dulu karena itu jauh lebih penting. Toh aku bisa membeli kado sepulang dari jalan-jalan! katanya dalam hati.
Maka mereka pun keluar dari kedai, berjalan berendengan menuju entah kemana saja kaki mereka melangkah.
Rima menunduk seperti sedang mengukur jalan dengan langkahnya yang agak gontai. Di tengah keramaian yang mulai terbentuk pagi itu, Rima berucap pelan ..
“Aku hamil, Kino!”
Kino mendengarnya seperti sebuah gelegar meriam. Langkahnya langsung terhenti, dan tangannya secara reflek mencekal pergelangan sahabat di sebelahnya. Rima ikut berhenti melangkah, membuang pandangannya dari tatapan Kino. Melihat ke seberang jalan, tetapi tak memandang apa-apa. Wajahnya menampilkan bias kepasrahan sekaligus ketegaran.
“Hamil?” bisik Kino seperti tak pernah mendengar kata itu sebelumnya.
Rima tak menjawab dan tetap mengalihkan pandangannya dari tatapan Kino. Ia tahu, pemuda di sebelahnya ini pasti kaget setengah mati. Itulah sebabnya, ia menyampaikan kabar gembira terlebih dahulu, tentang rencana pernikahan mereka. Kabar buruknya ia sampaikan belakangan agar tak terlalu mengejutkan. Tetapi …. ah, Kino pasti kecewa! sergah Rima dalam hati.
“Itu kah sebabnya kamu ingin menikah?” tanya Kino pelan, dan ia pun segera menyadari betapa bodoh dan konyolnya pertanyaan itu. Rima menengok dan memandang pemuda di sebelahnya. Ia tersenyum kecut dengan wajah yang tetap keruh,
“Apakah aku punya pilihan lain?” ia balik bertanya. Kino menatap mata sahabatnya yang kini bagai sumur tak berdasar. Pemuda itu menggeleng dan tidak bisa berkata apa-apa.
“Mas Danu tahu aku hamil, dan ia ingin bertanggungjawab. Itu sudah cukup bagiku,” kata Rima sambil mulai melangkah lagi diikuti Kino yang belum melepas pegangannya di pergelangan gadis itu.
“Dia memang sempat terpukul,” lanjut Rima dengan nada kecut,
“Semua pria rupanya memang begitu … terkejut jika tahu diri mereka harus bertanggungjawab.” Kino tak bisa menolak kebenaran yang menggetirkan di dalam kalimat Rima. Pemuda itu membisu saja.
“Aku sendiri bingung ketika tahu bahwa aku hamil … Aku terlalu terpikat kepadanya, sehingga selama berpacaran tak sempat berpikir normal,” kata Rima, kali ini sudah dengan agak tenang. Ia memang ingin bercerita sepuasnya, melepaskan semua yang selama ini ia simpan.
>“Aku bisa mempertahankan keperawananku dengan pacar-pacarku,” lanjut Rima,
“Tetapi dengan Mas Danu …. aku mabuk kepayang, Kino. Aku serahkan kegadisanku pada sebuah percumbuan yang tergesa-gesa. Aku bahkan tidak memintanya memakai kondom …., padahal aku punya kondom di tasku!” Kino menelan ludah, menghilangkan rasa kering yang tiba-tiba melanda kerongkongannya.
“Kamu ingin tahu di mana aku kehilangan kegadisanku?” tanya Rima. Kino terperangah. Apakah tempat itu kini relevan, setelah sebuah kegadisan sirna dalam percumbuan?
“Di kampus … di kantor Mas Danu, ketika ia kerja lembur!” kata Rima dengan kejelasan yang terasa janggal.
Kino semakin terperangah. Betapa ironisnya. Rima yang ia kenal adalah Rima yang hidup bebas di alam lepas, keluar-masuk disko, naik gunung, berenang setengah telanjang di pantai, biasa tidur di kamar kost pacar-pacarnya … tetapi justru kehilangan keperawanannya di kantor seorang dosen! Betapa kontrasnya hidup ini. Betapa tipisnya ambang benar-salah dan teori-praktek di dunia nyata ini.
“Kamu pasti kecewa sekali …,” kata Rima pelan.
“Tidak!” jawab Kino cepat, dan agak mengejutkan bahkan bagi dirinya sendiri. Rima tertawa getir,
“Kamu cuma bersikap sopan di depanku,”
“Tidak, Rima!” sergah Kino sambil mempererat cekalan tangannya,
“Aku memang kaget … tetapi tidak kecewa!” Rima meringis, dan Kino tersadar telah mencekal terlalu erat. Buru-buru ia melepaskan cekalan tangannya. Tetapi secepat itu pula Rima balik merangkul lengan pemuda itu.
“Tidak kecewa …,” kata Rima mengulang kalimat Kino,
“Apakah itu artinya kamu rela aku menyerahkan kegadisanku kepada Mas Danu?”
“Tidak,” sahut Kino cepat, tetapi ia lalu buru-buru meralat,
“Maksudku … ya … eh, bukan begitu. Maksudku, aku tidak mempersoalkan kegadisanmu!” Rima tertawa kecil dan getir,
“Kamu anggap gadis-tidaknya aku bukan persoalan?”
“Eh .. bukan begitu!” sahut Kino tergagap, “Kegadisan tentu saja penting … tetapi, maksudku …. bagaimana, begitu … Aku rasa kamu … Bagaimana pun … maksudku ….” Rima tertawa, kali ini lebih lepas, mendengar Kino gelagapan menjawab dalam kalimat yang tak beraturan. Menyadari Rima menertawai kegelagapannya, pemuda itu bersungut-sungut,
“Kenapa pertanyaannya susah-susah, sih!”
Rima meraih kepala pemuda yang 10 cm lebih tinggi darinya itu. Sambil tertawa kecil, ia mengacak-acak rambut Kino seperti seorang kakak mempermainkan adiknya. “Dari dulu kamu ngga pernah tegas kalau menjawab pertanyaan tentang aku!” sergahnya. Kino membiarkan rambutnya diacak-acak, merasakan kehangatan persahabatan di antara dirinya dengan Rima meruyak memenuhi suasana jiwa yang terusik oleh kabar-kabar tak terduga ini.
“Tetapi aku mengerti maksudmu, Kino!” kata Rima akhirnya.
“Mengerti apa? Aku belum bilang apa-apa!” sahut Kino masih bersungut-sungut.
Rima tertawa lagi, tiba-tiba merasakan dadanya sangat lapang setelah mengeluarkan kegundahan. “Aku mengerti bahwa kamu kecewa …. kecewaaaaaaaa sekali. Mungkin juga kamu marah kepada Mas Danu yang telah begitu ceroboh. Tetapi, berhubung kamu sayang sama aku … maka …. ”
Rima tak melanjutkan ucapannya, mempererat rangkulannya ke lengan pemuda sahabat yang ia sangat sayangi itu.
Kino membiarkan Rima mengambil kesimpulan seperti itu. Dalam hatinya Kino berucap … biar saja ia mengambil kesimpulan apa pun yang ia sukai. Saat seperti ini adalah saat yang membingungkan, bukan saja buat Rima atau Danu, tetapi juga buat diriku.
Apa bedannya aku dengan Danu? tanya hati kecilnya. Aku juga tidak memakai kondom ketika berhubungan dengan Trista … aku tak banyak menggunakan akal sehat ketika bergumul dengannya … aku menikmati setiap senti tubuhnya tanpa mau ada bungkus apa pun … Apa bedanya aku dengan Danu???
“Kamu sayang sama aku, kan?” desak Rima melihat Kino diam saja.
“Ya,” jawab Kino pendek.
“Mau dengar cerita lagi, ngga?” tanya Rima, tetapi Kino sudah tahu jawabannya karena nada pertanyaan itu penuh rajukan dan permohonan yang tak mungkin bisa ditolak.
Maka Rima pun melanjutkan cerita. Tentang hubungan mereka yang semakin lama semakin jauh dan semakin mendalam. Tentang perubahan sikap Danu, dari orang yang sangat posessive dan pencemburu menjadi kekasih yang penuh pengertian dan perhatian.
Rima mengatakan, setelah ia menyerahkan kegadisannya, Danu semakin sayang dan semakin lemah lembut. Selain itu, mereka juga semakin tak terkendali, berhubungan badan setiap kali ada kesempatan. Lebih sering mereka melakukannya di rumah kontrakan Danu, tetapi terkadang juga mereka mengambil risiko dengan masuk ke motel atau berhubungan di mobil yang diparkir di tempat-tempat gelap.
Sepanjang cerita Rima yang serba terbuka itu, dengan getir Kino melihat banyak sekali persamaan kisah itu dengan kisah cintanya bersama Trista. Begitu banyak kisah-kisah memabukkan yang bagai cermin jernih dari kehidupan cintanya sendiri. Bedanya, kini Rima punya kesempatan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih formal. Tentu saja, ada risiko … misalnya, kalau tiba-tiba keluarga Danu menolak. Tetapi setidaknya Rima masih punya kekasih di sampingnya pada saat yang menggalaukan seperti ini. Setidaknya Danu sudah berani bertanggungjawab.
Sedangkan aku? bisik Kino dalam hati. Aku sendirian menghadapi kegalauan yang kita ciptakan bersama. Kau jauh di sana, di negeri orang bersama suami mu yang sah .. sementara aku di sini menghadapi hari-hari yang menguntai masa lampau dalam seribu pertanyaan tak terjawab.
Dengan diam yang menggundahkan, Kino mendengarkan semua cerita Rima secara seksama. Sambil mendengarkan, ia membiarkan pula percakapan di hatinya berkecamuk, mencoba mencari makna yang lebih tegas tentang “cinta”. Apakah sesungguhnya ada makna yang jernih, tegas, terang, jelas, tak berwasangka … Apakah ada????
**********
Tanpa sadar, Kino dan Rima telah berjalan jauh meninggalkan pertokoan. Mereka akhirnya duduk di sebuah bangku dekat sebuah lapangan bola untuk umum. Rima tampak berkeringat, tetapi wajahnya kini jauh lebih cerah daripada ketika ia memulai ceritanya. Kino lebih banyak termangu-mangu, melupakan gerah yang membungkus tubuhnya seperti kepompong membungkus calon kupu-kupu.
“Kamu pasti bosen, yaaa!” sergah Rima sambil mencubit pelan pinggang pemuda di sebelahnya. Kino menggeliat kecil,
“Tidak … tidak bosan. Tetapi bingung …,” jawabnya terus terang. Rima menghela nafas panjang dan melepaskannya dalam sekali hempasan,
“Yaa .. memang membingungkan. Hidup ini seluruhnya … semuanya … sepenuhnya … membingungkan!”
“Mungkin seharusnya memang begitu,” kata Kino asal-asalan. Rima mencibir,
“Jawaban kamu juga membingungkan!” Kino tertawa,
“Lho .. aku, kan, memang bingung. Aku sudah mengaku sejak awal!” katanya membela diri.
“Boleh aku bertanya terus terang, Kino?” tanya Rima tiba-tiba.
“Boleh!” jawab Kino, lalu buru-buru menyambung,
“Asal jangan terlalu susah jawabannya!”
“Tetapi kamu harus terus terang,” kata Rima lagi.
“OK .. aku akan terus terang,” jawab Kino sambil berpikir, apa gerangan pertanyaan Rima itu.
“Kalau dulu aku menyerahkan kegadisan ku kepada kamu, apakah kamu mau?” tanya Rima sambil memandang lekat-lekat pemuda di sebelahnya, seakan takut kalau tiba-tiba pemuda itu lenyap tak berbekas. Kino terperangah, dan menengok tak percaya kepada sahabatnya. Rima terus menatapnya dengan matanya yang tajam dan penuh tantangan dan keterusterangan dan juga kehangatan seorang yang telah lama sekali dikenalnya.
“Pertanyaan apa itu?” sergah Kino.
“Lho .. kenapa malah balik bertanya, sih!?” sergah Rima sambil memelotokan matanya yang sama sekali tak menakutkan itu.
“Pertanyaan mu terlalu susah!” sergah Kino membela diri.
“Pokoknya jawab!” desak Rima sambil mencubit lengan Kino dan mengancam akan mencubit lebih keras lagi.
“Tetapi kamu, kan, tidak menyerahkan kegadisanmu kepadaku!” sahut Kino bersikeras.
“Memang tidak!” kata Rima cepat,
“Aku bertanya ‘ k a l a u ‘ .. seandainya dulu aku menawarkan kegadisanku.”
“Aku tak tahu, karena itu semua cuma ‘ k a l a u ‘ .. bagaimana aku bisa menjawab?”
“Kamu tidak pernah tertarik bercumbu denganku?”
“Ah! .. Kamu sudah tahu jawabanku. Pura-pura tidak tahu saja!”
“Kenapa dengan Trista kamu mau?” Kino tersentak. Darimana Rima tahu bahwa dia dan Trista sudah berhubungan begitu jauh?
“Darimana kamu tahu bahwa aku berhubungan begitu jauh dengan Trista!?” sergah Kino tanpa pikir panjang. Rima tertawa tergelak, dan Kino merasakan mukanya merah padam setelah tahu bahwa si tomboy yang sedang hamil itu ternyata memancingnya untuk mengaku! Ternyata kalimat terakhir itu adalah sebuah tebakan yang tersembunyi!
“Sialan kamu!” sergah Kino sambil meraih leher Rima dan memitingnya secara main-main. Rima membiarkan dirinya diraih ke pelukan pemuda itu, sambil terus tertawa riang karena berhasil mengorek pengakuan tak langsung tentang hubungan sahabatnya itu dengan Trista.
“Jawabanku atas pertanyaanmu adalah: tidak mau. Biar dibayar 1 milyar, aku tidak mau tidur dengan kamu!” kata Kino sambil mengacak-acak rambut Rima.
“Apa, sih, kelebihan Trista dari yang lain?” goda Rima sambil melepaskan diri dari pelukan Kino.
“Dia tidak centil seperti kamu!” sahut Kino cepat sambil melepaskan pelukannya dan merapikan duduknya.
“Maksudku … dalam soal hubungan seks .. apa, sih, kelebihan Trista?” desak Rima yang kini telah kembali dengan kenakalan dan godaan-godaannya.
“No comment!” sergah Kino seperti seorang pejabat menghindari desakan wartawan. Rima tertawa senang,
“Apa, sih, bedanya dengan …. misalnya … dengan Alma!”
“Aku tidak tahu … Aku tidak pernah berhubungan seks dengan Alma!” jawab Kino terus terang.
“Bohong!”
“Terserah … mau percaya atau tidak!”
“Dengan Indi?” Kino menoleh dan menemukan kedua mata Rima mengerling nakal, penuh dengan sinar kemenangan, selain sinar lembut yang memang sering terlihat di mata orang hamil.
“Ada apa dengan Indi?” Kino balik bertanya. Rima tersenyum manis,
“Kamu tidak sayang kepadanya?”
“Hei!” sergah Kino,
“Apa hubungannya semua ini dengan cerita kamu dan rencana pernikahan kamu?”
“Aku, kan, perlu mengirim undangan!” sahut Rima cepat.
“Ya, tentu … Tetapi apa hubungannya dengan Indi?”
“Aku cuma ingin tahu, lho .. apakah di undangan nanti harus ditulis untuk Kino dan Indi … begitu!”
Tahu bahwa Rima hanya bermaksud menggoda, Kino meraih lagi leher gadis itu dan memitingnya lebih keras, membuatnya menjerit-jerit minta ampun. Untung saja lapangan bola tidak sedang berpenghuni, dan tempat mereka duduk agak tersembunyi. Kalau tidak, mungkin sebentar lagi Kino akan ditangkap hansip dengan tuduhan mencoba mencelakai seorang wanita!
Di tengah canda-canda seperti ini, seringkali datang kenyataan-kenyataan yang mengundang tanya. Betapa benarnya persoalan yang diangkat oleh Rima, walau dengan godaan dan ke-tidak-serius-an. Rima memang perlu bertanya: kepada siapa kah sebetulnya Kino jauh cinta … Kepada Alma yang datang dari masa SMA-nya … Kepada Trista yang membangkitkan kenyataan-bergairah … Kepada Indi yang muncul seusai galau …
Atau tidak kepada siapa-siapa?
*******
Setelah melepas lelah cukup lama, Kino teringat tujuan utamanya pagi ini: membeli kado untuk pernikahan Alma dan Devan. Ia mengajak Rima ikut serta, dan sahabatnya itu mengiyakan. Maka berendengan lah mereka, berjalan santai kembali ke pertokoaan yang telah mereka tinggalkan dua jam silam. Percakapan pun bertukar-tukar topik, tidak lagi sepenuhnya membicarakan kisah cinta.
“Bagaimana dengan kuliahmu, Kino? Apa rencana mu?” tanya Rima sambil mengayun-ayunkan tangan pemuda yang ia gamit di sebelahnya.
“Tahun ajaran baru nanti aku akan kuliah lagi. Praktis aku harus mengulang, dan tertinggal dua semester dari yang lain,” jawab Kino, “Tetapi aku sudah siapkan semua. Orangtua ku juga sudah membelikan meja gambar dan peralatan lainnya. Mudah-mudahan segalanya berjalan lancar.”
“Aku dengan kamu sekarang bekerja part time?” tanya Rima.
“Ya,” kata Kino tertawa kecil,
“Enak juga rasanya … punya penghasilan sendiri walaupun cuma sedikit!”
“Kalau nanti sudah kuliah lagi, apakah mau kerja terus?”
“Barangkali ‘ya’ .. kalau memang ada waktu, aku ingin terus mengajar kursus. Lumayan untuk nonton atau membeli kaset.”
“Aku juga ingin segera lulus dan bekerja,” ujar Rima sambil mengibaskan rambut dari mukanya.
“Kamu harus menunggu sampai bayi mu lahir,” kata Kino. Rima tertawa kecil,
“Ya! .. aku juga sudah tidak sabar menunggu dia lahir!”
“Laki-laki atau perempuan?” tanya Kino. Rima tertawa lebih keras,
“Ah, kamu ngaco! .. Aku belum tahu, karena baru hamil sebulan!” Kino menatap sahabatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Kamu tidak kelihatan sedang hamil ..,” ucapnya. Rima merajuk,
“Kelihatan seperti apa, sih, aku ini?”
“Seperti …..,” Kino menghentikan ucapannya, berpikir keras mencari kata-kata yang tepat.
“Seperti apa?” desak Rima.
“Seperti seseorang yang baru pulang dari berlibur!” sahut Kino sekenanya. Rima mencubit lengan pemuda di sebelahnya,
“Kamu menjawab asal-asalan! Apa hubungannya aku dengan liburan!”
“Maksudku, kamu tampak cerah!” jawab Kino membela diri sambil meringis, “Kamu seperti seseorang yang baru kembali dari istirahat panjang.”
Rima tertawa senang. Sesungguhnya lah ia senang mendengar ucapan sahabatnya itu. Ia memang merasa sedang lepas dari sebuah peristirahatan panjang. Ia telah cukup lama beristirahat melenakan diri bersama Danu, dan kini sedang menerima hasil dari kelenaan itu dalam sebentuk jabang bayi yang tumbuh perlahan namun pasti.
Mereka tiba di toko yang tadi hendak dikunjungi Kino. Setelah berdiskusi sejenak dengan Rima, pemuda itu menetapkan keputusannya membeli vas biru-ungu dengan gambar sepasang burung kecil di dasarnya. Menurut Rima, pilihan Kino itu menunjukkan cita-rasa artistik.
Sambil tertawa, Kino mengatakan tak percuma ia memilih jurusan arsitektur. Penjaga toko tersenyum mendengar percakapan kedua sahabat itu. Ia juga tersenyum dengan alasan lain: .. vas itu berhasil dijualnya dengan harga 5% lebih mahal dari seharusnya!
Setelah membayar dan meminta penjaga toko membungkus vas itu dengan kertas kado, Kino memutuskan untuk melanjutkan obrolan di tempat kost Rima. Mereka naik angkot meninggalkan pertokoan yang kini sudah hiruk pikuk itu.
******
Rima menyewa sebuah paviliun di bilangan kota B yang cukup elit. Berbeda dengan tempat kost Kino yang cuma sebuah kamar plus kamar mandi, tempat tinggal Rima dilengkapi ruang tamu sekaligus ruang belajar dan sebuah dapur kecil. Letaknya agak terpisah dari rumah induk, tetapi masih dalam satu halaman berlingkungan tembok. Sebuah taman yang asri tampak terawat di sebelah paviliun itu, tepat di bawah jendela kamar tidur Rima.
Bukan baru kali ini Kino berkunjung ke tempat kost Rima. Tetapi inilah pertama kali ia kembali menjenguk setelah hampir setahun ia tidak mampir. Dengan agak kikuk, pemuda itu masuk mengikuti Rima.
“Kamu, koq, seperti orang kebingungan, sih!?” sergah Rima sambil menyeret tangan pemuda itu.
“Berbeda dengan yang dulu …,” kata Kino pelan seperti kepada dirinya sendiri.
“Ah, apaan nya yang beda!” ujar Rima, “Dari dulu memang sudah begini.”
“Dulu cat temboknya kuning ..,” kata Kino lagi. Rima tertawa sambil meninggalkan Kino termangu di ruang tamu yang apik.
“Kamu betul-betul ngaco!” terdengar suara Rima dari dalam, “Dari dulu tembok paviliun ini berwarna putih! Belum pernah berganti warna. Emangnya bunglon!”
Kino menghempaskan tubuhnya di sofa, meregangkan otot yang lumayan letih setelah berjalan lumayan panjang. Ia juga menghela nafas dalam-dalam menikmati udara segar setelah terpanggang matahari terik di luar sana. Tanpa kesungkanan lagi, Kino membuka sepatunya dan merebahkan tubuhnya di sofa yang terasa sejuk.
Sepuluh menit kemudian, Rima muncul dengan sebuah baki berisi dua botol minuman ringan. Ia juga sudah berganti baju, tidak lagi bercelana jeans dan berkaos. Sebuah daster longgar kini membalut tubuhnya, tanpa sepenuhnya menyembunyikan apa yang seharusnya disembunyikan.
Kino tetap merebahkan tubuhnya. Rima duduk di lantai dekat kepalanya, menyerahkan botol minuman lengkap dengan sedotannya. Dengan segera keduanya meneguk lebih dari setengah isi botol masing-masing. Dahaga segera hilang, berganti kesegaran yang menyejukkan dada.
“Mau gado-gado?” tanya Rima sambil mengacak-acak rambut Kino.
“Kamu saja … Kamu yang sedang ngidam, kan?” sahut Kino. Rima mencubit hidung Kino,
“Sialan kamu! Aku belum merasakan apa-apa, bego!” Kino tertawa,
“Aku pikir kamu sudah mulai ngidam … Mungkin perlu durian atau rujak cingur!” Rima bangkit menuju dapur sambil berteriak ke arah rumah utama,
“Bi Inem … tolong belikan gado-gado dua bungkus!” Kino menggerutu sendirian dengan suara pelan,
“Aku belum lapar, dipaksa makan gado-gado. Dasar orang hamil!” Rima muncul kembali dan tanpa aba-aba langsung merebahkan tubuhnya terlentang di sebelah Kino. Sudah tentu tak ada tempat cukup untuk dua orang di sofa panjang itu. Maka tubuh Rima lebih banyak ada di atas tubuh Kino katimbang di atas sofa.
“Apakah orang hamil selalu aneh-aneh begini?” keluh Kino sambil menggeliat menggeserkan tubuhnya lebih ke tengah. Rima tertawa. Bahu dan bagian atas tubuhnya berguncang-guncang.
“Sekali-sekali kamu mau, dong, ditimpa orang hamil!” katanya.
“Untung baru hamil sebulan …,” gerutu Kino. Rima tertawa lebih keras lagi,
“Aku kangen kepada mu Kino. Dulu kamu yang sering menggendong kalau aku capek naik gunung!” Kino tertawa kecil, teringat kisah manis ketika dulu mereka masih sering naik gunung.
“Ingat waktu aku nangis di lereng Burangrang?” tanya Rima sambil menatap langit-langit, menikmati tidur di atas tubuh atletis sahabatnya.
“Ingat,” jawab Kino sambil mengenang saat itu, “Kamu tersesat karena ngotot mau pipis sendirian tanpa mau diantar siapa-siapa.” Rima tergelak,
“Iya! .. Aku masih keras kepala dan bandel sekali waktu itu. Aku masuk ke hutan karena mendengar ada suara gemercik air. Aku pikir di dekat-dekat situ ada kali kecil untuk cebok!”
“Padahal kali itu jauh di dasar jurang. Suaranya terdengar nyaring karena itu bukan kali kecil!” sambung Kino. Rima sejenak bergidik,
“Ihh .. ngeri juga kalau ingat waktu itu aku hampir jatuh!”
“Sebenarnya itu salah kami juga,” kata Kino, teringat bahwa waktu itu rombongannya terdiri dari tiga orang veteran pendaki termasuk dirinya dan selusin pendaki pemula termasuk Rima.
“Aku menangis karena setelah setengah jam berputar-putar, aku tak menemukan kali itu. Lalu aku pipis di bawah pohon besar dan …..,” Rima menghentikan ceritanya, bergidik lagi. Kino tertawa,
“Aku ingat kamu berteriak-teriak karena pantat kamu diserbu lintah!”
Rima tergelak, sekaligus juga bergidik bila ingat peristiwa mengerikan dan menjijikkan itu. Sejak peristiwa itu lah, ia tak pernah lagi sembarangan buang air di gunung, dan selalu minta diantar Kino atau yang lainnya.
Riang dan penuh warna … satu demi satu kepingan masa lalu datang bergantian dalam percakapan Rima dan Kino. Keduanya seperti sedang memutar sebuah koleksi film tentang tahun-tahun silam. Betapa indahnya masa itu, ketika tak seorang pun di antara mereka memikirkan apa-apa selain diri mereka sendiri.
Ketika semua canda dan tawa hanya berpusat pada kehidupan belia dan seputar kampus. Mana ada kegundahan waktu itu … semuanya berjalan lancar seperti lancarnya air sungai bening di gunung. Tak ada pikiran tentang cinta yang rumit, atau tentang kehidupan yang tak selalu memenuhi janji, atau tentang politik yang membingungkan … semuanya indah belaka.
Betapa bedanya saat ini. Kini ada saja hal-hal yang memerlukan pemikiran mendalam. Ada saja keputusan yang harus diambil dengan lidah yang terasa pahit. Ada saja peristiwa pelik yang terbawa sampai ke mimpi. Setelah tertawa-tawa hampir setengah jam, keduanya terdiam kehabisan nafas. Keduanya menerawangkan pandangan ke langit-langit. Suasana tiba-tiba sepi, kecuali oleh teriakan beberapa penjual makanan atau alat-alat dapur di luar.
Lalu terdengar Rima menghela nafas panjang, dan dengan perlahan ia membalikkan tubuhnya, menelungkup di atas tubuh Kino, menghenyakkan dadanya yang kini mulai subur.
“Aku selalu ingin kembali ke masa-masa itu, Kino …,” bisik Rima sambil merebahkan kepala di dada sahabatnya Kino tersenyum, mengusap rambut gadis yang dulu selalu minta dipeluk sebelum tidur di dalam sleeping bag di puncak gunung.
“Mustahil …,” kata Kino, tetap menerawangkan mata ke langit-langit,
“Tidak mungkin bisa, kecuali kalau film Back to The Future bisa jadi kenyataan.” Rima tertawa, mempererat pelukannya,
“Mungkin sudah ada orang yang berhasil membuat mesin waktu, entah di negara mana ..,” katanya.
“Kalau pun ada, aku tak mau memakainya,” kata Kino. Rima mengangkat mukanya dari dada pemuda itu,
“Kenapa? Tidak ingin kah kamu kembali ke masa lalu?” Kino menunduk, menatap wajah sahabatnya dekat sekali di mukanya,
“Aku tidak bisa memastikan, ke bagian mana dari masa lampau itu aku ingin kembali.” Rima melipat kedua tangannya di atas dada Kino, menyandarkan dagunya di kepalan tangan,
“Kembali ke saat pertama-tama kita membentuk persahabatan,” usulnya. Kino tersenyum, memainkan anak rambut di dahi Rima,
“Ke masa perploncoan?” Sinar mata Rima langsung berbinar riang,
“Ya! .. ke saat-saat perploncoan. Kamu mau kembali ke sana?”
“Boleh juga!” sahut Kino.
“Ayo kita kembali ke masa itu, lalu kita perbaiki hal-hal yang selama ini salah!” ujar Rima bersemangat. Kino tertawa,
“Kamu boleh berhayal seenaknya … tetapi tetap sebagai hayalan!”
Rima ikut tertawa dan Kino senang sekali melihat wajah sahabatnya telah berubah menjadi wajah riang yang dulu ia kenal. Ah .. tanpa harus sungguh-sungguh kembali ke masa lalu, mereka toh bisa melihat masa lalu itu di wajah masing-masing.
Kalau kita sungguh-sungguh mengenang masa lalu, kita toh akan bisa melihat semuanya di mata kita masing-masing. Kino melihat di sepasang mata sahabatnya, betapa indah masa itu. Bening dan transparan, kedua mata Rima menyiratkan gambar-gambar seperti sebuah proyektor memproyeksikan film di layar putih.
Lalu Rima menaikkan tubuhnya lebih tinggi, dan tanpa dapat dicegah ia mencium Kino di bibirnya. Sejenak suasana berubah hening. Keduanya menikmati ciuman lembut yang berbalut rindu kepada masa lampau. Rima memejamkan matanya. Kino memandang takjub wajah yang dekat-lekat.
Nafas keduanya beralun teratur. Tidak ada ketergesaan. Tidak ada perburuan. Ciuman itu benar-benar selembut kapas sehalus sutra. Lalu Rima membuka matanya. Sepasang sahabat itu bertatapan dalam jarak yang tak punya makna. Sebentuk air bening merebak di kelopak mata Rima ketika ia berbisik,
“Terimakasih untuk persahabatan ini, Kino …”
Kino tak menjawab. Dengan rasa sayang yang kini penuh merebak di dadanya, pemuda itu merengkuh Rima dan memeluknya erat-erat. Perlahan ia merasakan airmata gadis itu mulai membasahi kaosnya. Untuk beberapa jenak, keduanya berpelukan seperti layaknya sepasang sahabat yang sudah lama tak berjumpa.
Ketika terdengar suara Bi Inem membuka gerbang luar, barulah keduanya memisahkan diri. Tanpa sepatah kata, Rima bangkit menghapus air mata dan merapikan dasternya, lalu menuju dapur untuk menyiapkan piring dan sendok-garpu.
Mereka makan dalam sepi yang menggigit.
Lalu Kino berpamitan. Rima melepaskannya dengan ciuman ringan di pipi. Pemuda itu pun melangkah keluar, menyambut terik dan gersang yang datang menyerbu. Tetapi tentu saja ia tak peduli pada semua rasa fisik ini. Ia tak bisa lagi peduli kepada panas atau debu, manakala rasa jiwanya telah begitu luluh dalam kenangan-kenangan masa lampau.
Di atas angkot, Kino memandang kado di tangannya. Minggu depan ia harus ke ibukota untuk menghadiri pernikahan Alma dan Devan. Ia sudah bisa menduga, pertemuan dengan Alma nanti pastilah akan menguntai kembali masa lalunya. Apalagi di ibukota juga ada Mba Rien ……
Bersambung…
Sebetulnya Kino enggan menelpon Ridwan, tetapi ia juga sedang agak kebingungan memikirkan tempat menginap di ibukota. Ayah dan Ibu memang pernah menyuruhnya menginap di salah seorang paman dari pihak Ibu, tetapi Kino tidak terlalu antusias mengingat bahwa paman itu dikenal agak pelit dan kurang ramah.
Lagipula, Kino belum pernah bertemu pria yang konon membujang karena terlalu pemilih itu. Sebelum menelpon Ridwan, ia telah pula menelpon Tigor sekadar mencari tahu tentang ibukota. Namun sahabatnya itu jarang di rumah, dan setelah tiga kali mencoba Kino akhirnya menyerah. Ia memutuskan untuk menelpon Ridwan di suatu malam.
Ridwan sendiri yang mengangkat telpon di ujung sana, dan suaranya terdengar riang ketika tahu siapa yang menelpon.
“Gila! Sudah lama juga kita tidak kumpul-kumpul!” umpat Ridwan tanpa berusaha menyembunyikan kegirangannya.
“Ya .. sudah lama. Kamu terlalu sibuk dengan band-mu!” balas Kino mengumpat, juga tanpa menyembunyikan keriangannya.
“Tetapi kami memang sibuk, No! .. Kami akan segera mengajukan diri untuk rekaman!” sahut Ridwan antusias.
“Betul?! .. Wah, hebat kalian!” seru Kino, sungguh-sungguh gembira mendengar bahwa band Ridwan ternyata bukan cuma kumpul-kumpul tak berguna.
“Mudah-mudahan, sih, bisa lolos seleksi. Kami sudah menyiapkan 12 lagu!” jawab Ridwan,
“Sekali-sekali datanglah ke sini, berikan penilaianmu tentang kami!”
“Boleh juga!” sahut Kino antusias,
“Asal kalian tidak marah kalau aku kritik habis-habisan!”
“Ha .. ha .. ha! Jangan mentang-mentang anti hard-rock, dong!” sergah Ridwan karena ia tahu Kino tak terlalu suka musik cadas itu.
“Bukan anti musik keras, Wan!” bela Kino,
“Aku cuma tidak begitu suka kalau musik tidak sesuai lirik. Kalau musiknya keras, liriknya juga harus keras, dong!”
“Ya, aku setuju. Makanya, tolong dengarkan lagu kami. Berikan pendapatmu, apakah liriknya cukup keras dan menggigit!” kata Ridwan semakin bersemangat.
“Okay, aku akan mampir ke sana, kapan-kapan!” kata Kino,
“Tetapi aku menelpon kamu sekarang ini bukan untuk urusan itu.”
“Urusan apa, nih!?” tanya Ridwan,
“Urusan cewek atau bukan?” Kino tergelak,
“Kalau urusan itu, tak mungkin aku tanya kamu, Wan!” Ridwan ikut tergelak,
“Wah, kamu masih terus sentimen kepadaku!”
“Aku perlu bantuanmu, karena aku harus ke Jakarta minggu depan!” ujar Kino.
“Oooo .. aku tahu!” seru Ridwan, “Urusan dengan Alma belum selesai, kan?!”
“Yah, bisa dikatakan begitu,” jawab Kino,
“Aku memang ingin ke Jakarta untuk mengakhiri urusan dengan Alma. Dia menikah dengan Devan, dan selesailah sudah ….. ” Ketika Kino membiarkan kalimatnya menggantung, Ridwan pun menyela,
“Tuntas!” Kino tertawa kecil,
“Ya, memang begitu, Wan. Hubunganku dengan dia memang sudah tuntas. Tetapi aku bersyukur karena tidak menyakitkan kedua pihak!” Terdengar Ridwan menghela nafas dalam, lalu ucapannya berubah serius,
“Kamu beruntung Kino.”
“Maksudmu?”
“Aku sudah sering putus hubungan, dan selalu tidak enak di kedua belah pihak. Atau setidaknya, selalu menambah jumlah gadis yang membeciku!”
“Itulah kau, Wan. Seenaknya ganti-ganti pacar.”
“Bukan salahku, dong! Mereka memang juga tidak terlalu menyenangkan untuk diajak pacaran terlalu lama!” ucap Ridwan sengit.
“Ah, selalu begitu alasanmu!” sergah Kino menghindari perdebatan terlalu lama, “Makanya, jangan mengeluh kalau musuhmu tambah banyak.”
“Mungkin memang harus begitu, No! Sekarang aku malas memikirkan pacaran. Mendingan cari teman saja, dan kalau okay, yaa … main-mainlah sedikit!” ujar Ridwan sambil tertawa keras. Kino ikut tertawa,
“Terserah kau sajalah, Wan!”
“Okay .. sekarang apa yang kau perlukan di Jakarta? Tempat menginap? Mobil? Atau uang saku?” kata Ridwan ringan.
“Jangan menghina, Wan! Gini-gini aku sudah punya penghasilan sendiri. Aku cuma perlu informasi di mana bisa menginap murah di Jakarta.” sahut Kino sengit.
“Kalau cari informasi itu, kenapa tidak cari di buku kuning!” ujar Ridwan tak kalah sengit,
“Kalau tanya kepadaku, jawabnya singkat: aku tidak tahu.” Kino tertawa,
“Sialan kau, Wan! Tidak pernah mau membantu tanpa meledek terlebih dulu.”
“Sudahlah, jangan banyak sungkan. Kau perlu tempat menginap, kan?!” desak Ridwan.
“Ya!” ucap Kino akhirnya.
“Jangan kuatir. Malam ini juga aku telpon Jakarta, dan besok pagi aku beritahu alamat tempat kamu bisa menginap,” ucap Ridwan tegas, dan lalu buru-buru menambahkan,
“Gratis!”
“Rumah siapa?” tanya Kino buru-buru, karena ia juga tidak terlalu senang menginap di rumah orang yang tak dikenal.
“Bukan rumah siapa-siapa,” sahut Ridwan cepat,
“Aku bisa minta kamar hotel untuk tiga atau empat hari. Ngga usah banyak cingcong, lah!”
“Eh, jangan bawa-bawa orang tua, dong!” sergah Kino, kuatir kalau Ridwan akan meminta uang dari ayahnya untuk membiayai hotel.
“Siapa yang bawa-bawa orangtua?” sahut Ridwan sengit,
“Hotel itu punyaku juga. Sudahlah, tunggu saja kabar besok pagi!” Kino menghela nafas dan berkata serius,
“Aku tidak mau berhutang budi.”
“Kau terlalu banyak omong, No. Itulah problem kamu!” sergah Ridwan enteng,
“Sudahlah, sekarang aku mau mandi. Jangan lupa kapan-kapan main ke sini dan mendengar lagu-lagu kami.”
Percuma saja Kino mencoba memperpanjang percakapan. Ridwan segera mengucapkan bye dan menutup telpon. Beberapa saat Kino masih memegang gagang telpon, sebelum akhirnya menerima kenyataan bahwa persahabatan memang bisa memberikan sesuatu yang serba tak terdua. Sambil menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya, ia meletakkan gagang telpon.
******
Seminggu kemudian Kino berangkat ke Jakarta berbekal alamat hotel bintang tiga yang diberikan Ridwan. Ia berencana untuk tinggal dua hari, sehingga hanya membawa ransel berisi beberapa potong t-shirt, sebuah celana panjang formal dan batik untuk menghadiri pesta perkawinan. Ia juga membawa beberapa alamat lain, termasuk alamat sanggar Mba Rien dan telepon rumah Andang di Jakarta.
Rima sempat menghubungi Kino sebelum ia berangkat. Gadis itu memberi juga alamat rumahnya di Jakarta, kalau-kalau Kino memerlukan bantuan. Sedangkan Tigor sempat memberinya informasi berharga tentang cara-cara menghindari copet di bis atau di stasiun.
Sambil bercanda, Kino mengatakan bahwa tidak percuma ia punya teman asal Medan! Tanpa merasa tersinggung sama sekali, Tigor bahkan berkata serius tentang orang-orang yang perlu dihubungi jika Kino kena copet. Tentu saja Kino menolak tawaran itu, walaupun ia tahu bahwa ucapan Tigor memang benar. Sahabatnya itu memang punya informasi tentang gangster ibukota yang ‘hijrah’ dari Medan!
Akan halnya Indi, gadis centil itu bereaksi ringan mendengar kabar keberangkatan Kino ke Jakarta. Beberapa hari menjelang keberangkatan itu, Kino berpapasan dengan Indi di gang dekat rumahnya. Gadis itu sedang sibuk belajar mempersiapkan diri untuk ujian akhir, dan jarang keluar rumah. Sudah beberapa kali pula ia meminta Kino mengajari matematika, dan setiap kali pula pelajaran berlangsung serius walau tak sepenuhnya lekang oleh canda.
“Jangan lama-lama!” sergah Indi sambil mendelikkan matanya yang indah itu.
“Kenapa musti mendelik begitu?” kata Kino.
“Biar Kak Kino ngerti!” sahut si centil. Ketika Kino tak berkata apa-apa selain mengernyitkan keningnya, Indi menyambung,
“Biar Kak Kino ngerti bahwa Indi ngga suka ditinggal lama-lama!”
Kino tersenyum, tetapi tak berkata apa-apa karena toh Indi juga sudah melangkah menuju rumahnya. Bagi Kino, ucapan terakhir itu sudah mewakili segalanya. Ia tak perlu memperpanjang percakapan, selain juga takut membayangkan ke mana arah percakapan kalau itu diperpanjang!
******
Begitu menginjakkan kakinya di statisiun Gambir yang hiruk pikuk itu, Kino sudah mengambil keputusan tetap: ia tak suka ibukota. Terlalu gaduh dan terlalu campur-aduk. Semuanya berbaur: keindahan dan keburukan, kenyamanan dan kegerahan, keteraturan dan kesembronoan … tumplek menjadi satu!
Teringat pesan Tigor, pemuda itu menyimpan baik-baik dompetnya di ransel dan memeluk ransel dekat-dekat di dadanya. Kalau pun copet mau berusaha lebih keras, ia harus berhadapan dengan sepasang tangan yang tak pernah lupa berlatih karate. Tentu saja, Kino juga berdoa keras agar tak ada seorang copet pun bermaksud mencoba-coba. Biar bagaimana pun Kino tak lupa informasi Tigor bahwa setiap copet juga membekali diri dengan sebuah belati pendek. Percuma menggunakan karate kalau berhadapan dengan orang nekad berbekal senjata tajam.
Hotel yang dituju Kino tidaklah jauh dari stasiun dan, sesuai anjuran Tigor lagi, pemuda itu memutuskan untuk berjalan kaki saja, melintasi taman Monas yang amat luas dan sedang lumayan hijau. Selepas stasiun, Kino mencangklong ringan ranselnya dan menembus udara berdebu yang bising oleh mobil, bajaj, bis, motor, dan entah apa lagi.
Setengah jam kemudian, dengan tubuh penuh keringat dan wajah sedikit berdebu, Kino tiba di lobby hotel yang teduh dan apik. Seorang bellboy mengantarnya ke sebuah kamar di lantai tiga. Berkali-kali Kino mengucapkan terimakasih di dalam hati kepada Ridwan dan berjanji akan membalas budi sahabatnya itu kelak di kemudian hari. Kamar yang ia huni dilengkapi AC dan kamar mandi sendiri. Ranjangnya berukuran dobel dan warna interiornya menunjukkan bahwa sang perancang punya selera tinggi. Untuk seorang calon arsitek semacam Kino, kamar ini patut diberi nilai 7 atau bahkan 9!
Berhubung hari sudah menjelang sore dan karena badan terasa lengket penuh keringat, maka hal pertama yang ia lakukan adalah mandi sepuasnya, menggunakan shower yang berpengatur suhu dan menghabiskan setengah botol body shower harum-segar yang tersedia di sana!
Selesai mandi, Kino mengangkat telpon di sebelah ranjang dan menghubungi nomor telepon sanggar Mba Rien, sekadar untuk mengucap salam. Sebetulnya, pemuda itu agak gentar, karena Mba Rien kini bukan orang sembarangan. Wajahnya sudah sering menghias majalah-majalah ibukota, dan sebentar lagi film yang dibintanginya akan beredar. Tetapi Kino juga sangat ingin mendengar kabar tentang wanita istimewa itu!
Sebuah suara merdu dan profesional terdengar di ujung sana,
“Rainbow Enterprise, selamat sore … Santi di sini, ada yang bisa saya bantu?” Mmm … nama sanggarnya pun sudah berbahasa Inggris, gumam Kino dalam hati, lalu segera berkata, “Selamat sore, bisa bicara dengan Mba Rien?” Sejenak hening di ujung lain. Sang operator sedang berpikir, siapa gerangan yang memanggil boss-nya dengan ‘mba’ .. dan bagaimana menghadapinya.
“Maaf, boleh saya tahu siapa yang menelpon?” ujarnya hati-hati.
“Nama saya Kino,” kata Kino polos, sambil menyebutkan nama kota tempat ia dan Mba Rien berasal.
“Keluarga Ibu Rien?” tanya operator itu, masih hati-hati.
“Bukan. Saya tetangganya,” jawab Kino terus terang.
Nah, informasi terakhir ini segera mengubah sikap sang operator, yang sekarang bisa lebih tegas dan berkata cepat,
“Ada urusan apa dengan Ibu Rien?”
“Ah, tidak …,” jawab Kino,
“Saya cuma mau mengucapkan halo. Sudah lama tidak jumpa.”
“Ibu Rien sedang tidak ditempat. Boleh saya catat pesan dan alamat Anda?” jawab Santi sang operator, kembali ke nada profesional yang nyaris sudah terstandar.
“Mmm … boleh,” sahut Kino ragu-ragu,
“Sampaikan saja bahwa Kino menelpon.”
Santi sang operator lalu mencatat nama Kino, nama hotel dan nomor kamar yang disebutkan pemuda itu, di secarik kertas. Lalu kertas itu diletakkannya begitu saja di dekat telpon, bukan di sebuah tempat khusus yang menampung pesan-pesan penting.
Bagi Santi sang operator, Kino adalah satu dari ribuan penggemar yang sering menelpon untuk segala urusan. Biasanya, pesan-pesan dari penggemar ini akan masuk ke bagian promosi, dan ditangani oleh seseorang yang khusus menjawab surat-surat fans. Sudah hampir pasti, Rienduwati Sang Primadona tak akan membaca sendiri pesan-pesan itu!
******
Nyaris pada waktu yang sama, Alma sedang berbicara di telpon dengan salah satu sekretaris Rien. Berbeda dengan Kino yang tidak punya strategi, gadis itu berhasil ‘menembus’ penghalang di pihak operator dan kini tinggal satu langkah saja dari pesawat telpon di meja Rien.
“Saya ingin secara pribadi meyampaikan undangan untuk Ibu Rien,” ucap Alma sabar, tahu bahwa sang sekretaris sedang berusaha menghindari boss-nya dari gangguan-gangguan kecil seperti ini.
“Tetapi Ibu Rien sedang sibuk menerima tamu. Nanti saya sampaikan saja pesan Anda,” sahut sang sekretaris berusaha keras menyembunyikan kekesalannya.
“Saya bisa menunggu,” jawab Alma bersikeras.
“Baiklah kalau begitu!” ucap sang sekretaris ketus, lalu segera menekan tombol hold.
Sambil menggerutu, sang sekretaris membereskan beberapa surat di mejanya. Pada saat yang sama, Rien melintas di depan mejanya, dan mendengar gerutuan itu.
“Eh .. sore-sore begini kok menggerutu,” hardiknya dengan suara lembut yang selalu bisa membuat anak buahnya terperangah.
“Eh … Ibu … maaf … ngga apa-apa .. ada orang mendesak ingin bicara dengan ibu … padahal kan lagi ada tamu …,” ucap sang sekretaris terbata-bata. Sambil meletakkan secarik draft surat di meja, Rien mengernyitkan dahi,
“Siapa yang mendesak itu?” Sang sekretaris angkat bahu,
“Katanya ingin menyampaikan undangan pernikahan.” Rien menjulurkan tangannya yang terkenal karena gemulai tarian-tariannya itu,
“Sini .. berikan telpon itu, biar saya terima sebelum kembali ke tamu.”
“Tapi …,” sang sekretaris salah tingkah,
“Saya sudah suruh dia menunggu, Bu!” Rien tersenyum lembut dan manis, tetapi sekaligus tegas dan berwibawa,
“Paling-paling cuma sebentar. Berikan telpon itu.” Dengan agak ketakutan, sang sekretaris buru-buru menyerahkan gagang telpon dan mematikan tombol hold.
“Mba Rien?!” suara Alma riang di seberang sana.
“Siapa ini?” tanya Rien lembut.
“Saya, Mba Rien … Alma!” seru suara di seberang sana penuh sukacita.
“Hei, Alma!” seru Rien ketika tahu siapa yang menelpon,
“Kamu mau menyampaikan undangan pernikahan!?”
“Iya, mbak,” kata Alma langsung tersipu.
“Kamu yang menikah?” sergah Rien, belum yakin bahwa si imut-imut yang dikenalnya itu akan segera menikah. Sedangkan dirinya saja masih hidup bersama, dan enggan menikah!
“Iya, mbak,” jawab Alma lagi, tambah tersipu, walaupun tentu saja Rien tidak bisa melihat rona merah di pipinya. Rien tertawa lepas, membuat sang sekretaris semakin merasa bertambah salah,
“Hebat, kamu Alma. Ngalahin mba Rien!” Alma ikut tertawa,
“Ahh .. Mba Rien gitu … Alma, kan, udah gede.” Rien tertawa lagi dengan kerenyahan yang lepas mempesona itu,
“Oh iya ya! .. Kamu sekarang udah gede. Mbak ingatnya kamu masih pake seragam putih-abu-abu dan rambut dikepang ….. Kapan pestanya?”
“Hari Sabtu ini, Mbak. Saya sudah kirim undangan dua minggu yang lalu, tapi pasti ngga langsung sampai, deh!” kata Alma, lalu buru-buru menyambung dengan memohon,
“Datang yaaa, Mbak!? …. pleaaase.” Rien cepat-cepat berkata sambil tertawa ringan,
“Ada seratus undangan di meja Mba Rien … Maaf, belum semuanya dibaca.” Dengan satu tangan lainnya, Rien menulis di secarik kertas dan menyerahkan ke sang sekretaris yang sejak tadi meringkuk kecut. Isinya singkat: cari undangan dari Alma!
“Iya, Alma juga ngerti, Mbak …,” kata Alma,
“Pasti Mba Rien sibuk banget. Alma justru juga mau minta maaf karena mengganggu acara, Mba Rien.”
“Mbak juga minta maaf,” ucap Rien lembut dan sungguh-sungguh,
“Tapi mbak pasti datang, Alma.”
“Aduh, terimakasih buaaaaaaa…nyak, Mbak. Senang sekali Alma mendengar Mba Rien akan datang. Kino juga pasti senang bisa bertemu! Dia akan datang di pesta.” seru Alma tanpa menyembunyikan sukacitanya yang meluap-luap.
Mendengar nama Kino disebut, sejenak Rien terperangah. Entah kenapa, dalam sekian detik Rien merasakan sebuah sentakan di dadanya. Pemuda itu …. tentu saja … ia masih ingat pemuda itu. Ia juga mendengar kecelakaan itu, dan menyesal karena tidak bisa menjenguknya karena sibuk. Bagaimana keadaannya sekarang? Masihkah malu-malu dan berwajah teduh dengan sinar mata penuh tanya?
“Mba akan datang, dan senang bisa bertemu Kino nanti,” ucap Rien tenang setelah dengan cepat bisa mengendalikan perasaannya,
“Sekarang mba harus kembali ke tamu, ya … ”
“Oh, iya .. Mbak … maaf mengganggu!” ucap Alma terbata-bata.
“Ngga apa-apa,” sahut Rien cepat,
“Selamat, deh! .. Sampai ketemu di pesta!” Lalu Rien menyerahkan telepon ke sang sekretaris yang tergopoh-gopoh menerima. Sambil melangkah cepat kembali ke tamu-tamunya, Rien berseru singkat,
“Cari undangan itu sampai ketemu sekarang juga!”
Sang sekretaris segera melesat ke luar ruangan dan sebentar kemudian terdengar kagaduhan di bagian administrasi ketika semua orang dikerahkan untuk mencari sebuah undangan di antara ribuan amplop yang belum dibuka di rak surat-menyurat untuk promosi dan hubungan masyarakat Setelah tak kurang dari satu jam, undangan berwarna biru itu berhasil ditemukan.
Tanpa sedetik pun menunda, sang sekretaris langsung menyerahkannya ke Rien yang segera memasukkan amplop itu ke tas pribadinya. Sang sekretaris bisa bernafas lega dan pulang dengan sukacita!
******
Sementara itu, di kamar hotelnya Kino kebingungan hendak ke mana menghabiskan waktu. Ia tidak terlalu mengenal Jakarta, dan cenderung tidak mau tahu. Kalau pun teman-temannya sering bercerita tentang ibukota yang megah ini, Kino cuma senang jadi pendengar. Ia jarang terpikat oleh gemerlapnya metropolitan, mungkin karena pada dasarnya ia adalah seorang pemuda desa. Gunung, pantai, sungai dan hutan, lebih menarik bagi Kino!
Kino memutuskan untuk turun ke lobby hotel dan dari sana menimbang-nimbang, ke mana hendak menghabiskan malam pertamanya. Dari jendela kamar, tadi ia sempat memandang ke luar dan takjub melihat deretan mobil yang terjebak kemacetan ketika semua orang berebut pulang dari kantor. Sambil menggeleng-geleng, Kino bergumam sendirian, “Apa enaknya duduk di mobil yang tidak bergerak?”
Di lobby hotel, Kino tak segera bisa mengambil keputusan. Ia keluar menuju halaman depan, dan segera mengumpat dalam hati karena uap panas seperti menyerbu ke seluruh pori-porinya. Secepat itu pula ia akhirnya masuk lagi ke lobby, berlindung di kesejukan AC dan keteduhan interior yang didominasi warna kuning gading.
Seorang petugas hotel mendekatinya, dan bertanya,
“Perlu taksi, mas?” Kino agak terperanjat, dan buru-buru menggeleng. Petugas hotel itu tersenyum maklum, diam-diam memandang pemuda itu dari ujung sepatu ke ujung rambut. Dengan pengalaman selama 6 tahun, petugas itu tahu bahwa Kino tidak akrab dengan ibukota, dan mungkin baru pertamakali menginap di hotel. Walau itu tak seluruhnya benar, adalah kenyataan bahwa Kino memang sedang kikuk dan tak tahu harus ke mana.
Petugas itu bertanya lagi dengan sopan,
“Mau jalan-jalan di sekitar hotel, barangkali?” Kino tak tahu harus menjawab apa, maka ia berkata jujur,
“Saya belum pernah ke mari.” Petugas itu mengembangkan senyumnya lagi, yang memang sudah terlatih dan tertata sebagai bagian dari jasa hotel ini,
“Ada taksi yang bisa membawa keliling kota dengan bayaran tidak terlalu mahal …”
“Ah, saya tidak punya rencana jalan-jalan,” ucap Kino, tiba-tiba merasa agak rikuh karena perhatian petugas itu berkesan berlebihan.
“Mungkin ingin melihat-lihat hiburan malam di sekitar sini …,” desak si petugas, masih dengan sopan, tetapi juga dengan penuh perhitungan.
“Hiburan apa?” tanya Kino polos. Petugas itu tersenyum lagi,
“Melihat-lihat tarian di night club? Atau berdisko?” Segera Kino menyadari, apa yang dimaksud dengan “hiburan” itu. Cepat-cepat ia menjawab,
“Oh .. tidak. Saya tidak bermaksud mencari hiburan seperti itu.” Belum mau menyerah, petugas itu berkata lagi, kali ini dengan agak pelan,
“Atau barangkali perlu melepas lelah sambil dipijat …” Mendengar tawaran terakhir ini, Kino akhirnya memutuskan untuk segera menghindar,
“Tidak. Saya akan kembali ke kamar saja. Terimakasih atas tawarannya.” Walaupun kecewa, petugas itu tetap memasang senyum, dan bahkan membungkuk sopan membiarkan Kino meninggalkannya.
Melihat tarian? Berdisko? Pijat? … huh! … Kino mengumpat dalam hati sambil berpikir keras bagaimana caranya menghabiskan malam yang tiba-tiba terasa mengerikan. Ia sama sekali belum mengantuk, belum lapar, belum ingin berleha-leha. Kino melemparkan tubuhnya ke kasur dan sejenak menerawang memandang langit-langit. Setelah 5 menit ia akhirnya memutuskan untuk menelpon Andang.
Agak lama telpon berdering di ujung sana tanpa ada yang mengangkat. Ketika Kino hampir menyerah, telpon akhirnya diangkat dan suara Andang terdengar mengantuk,
“Halo …”
“Andang?” sergah Kino gembira,
“Ini Kino!” Sejenak hening, lalu Andang berucap malas,
“Di mana kamu?” Kecewa sekali Kino mendengar reaksi Andang yang kurang antusias. Tidakkah gadis itu ingin bertemu? Atau barangkali aku yang terlalu bersemangat! pikirnya. Dengan suara yang tidak lagi girang, Kino menyebut nama hotel tempatnya menginap dan berkata,
“Maaf mengganggu tidurmu, … tidak tahu bahwa kamu tidur sore-sore.” Terdengar Andang menguap, lalu berucap sengau,
“Aku bergadang …. biasa …., sama teman-teman ke disko sampai pagi.” Hening sejenak. Kino dengan kisruh lalu berkata,
“Aku cuma ingin menyapa, mumpung ada di Jakarta. Maaf … kembali lah tidur.” Andang menguap lagi,
“It’s okay … sekarang aku sudah tidak mengantuk lagi.”
Hening lagi. Kino tak tahu harus berkata apa. Tadinya ia ingin bertemu dengan gadis itu, sekadar mengobrol. Tetapi kini keinginannya sirna mendengar gadis itu kurang antusias.
“Kapan sampai?” akhirnya Andang memecah kesunyian.
“Kira-kira satu jam yang lalu,” sahut Kino pendek.
“Ada urusan apa?” Kino dengan singkat menceritakan maksudnya, tanpa lebih jauh menerangkan siapa Alma.
“Kapan kamu mau pulang?” tanya Andang, nadanya sudah agak normal. Seakan-akan gadis itu baru mulai ingat, siapa yang diajaknya bicara.
“Mungkin langsung setelah pesta,” jawab Kino, sambil berpikir bahwa kalau memang Jakarta seperti ini, ia memang sebaiknya buru-buru kembali.
“Apa rencana mu malam ini?” tanya Andang, kini suaranya menyiratkan sedikit antusiasme. Gadis itu baru sadar sepenuhnya, bahwa Kino mungkin bermaksud menemuinya.
“Tidak ada,” jawab Kino jujur. Sejenak hening. Lalu Andang berucap,
“Tunggu di sana. Aku jemput setengah jam lagi.”
“Tapi ..,” Kino belum selesai bicara. Klik, telpon sudah ditutup di ujung sana.
“Sialan!” umpat Kino sambil menghempaskan tubuhnya kembali ke kasur. Orang-orang Jakarta tidak tahu sopan santun! umpatnya lagi dalam hati. Tetapi untunglah malam ini aku punya teman untuk ke luar dari sangkar yang sekarang terasa terlalu sempit! pikirnya lagi.
******
Empat puluh lima menit kemudian, Kino sudah berada di sebelah Andang yang menyetir Peugeot biru tua, menyelinap gesit di antara ratusan kendaraan lain.
“Lapar?” tanya gadis itu tanpa melepas pandangannya ke depan.
“Belum,” sahut Kino pendek.
Sejak berjumpa tadi, keduanya tidak banyak bicara. Kino turun menemui Andang di lobby, dan agak terperangah melihat gadis itu cuma bercelana pendek, memakai kaos ketat dan bersandal jepit. Petugas hotel yang tadi menawarkan hiburan malam memandang curiga ke pasangan muda itu, tetapi lalu tersenyum sendiri dengan kesimpulan pribadinya.
“Aku lapar,” kata Andang seperti tak peduli pada jawaban Kino,
“Temani aku makan, ya!?”
“Aku tidak punya pilihan lain,” ucap Kino kecut.
Andang tertawa pendek. Lalu ia berkonsentrasi mengendalikan mobilnya, berbelok untuk mengambil jalan potong, menembus kampung yang terasa kontras dengan gedung-gedung tinggi yang memagari boulevard Thamrin. Sambil memandang ke luar jendela, Kino menegaskan keputusannya: aku tak suka Jakarta!
Setelah berkali-kali berbelok, dan setelah melewati setidaknya dua pasar yang jorok, mereka tiba lagi di wilayah yang mewah. Jalannya kembali lebar, berhias pohon, dan betul-betul berbeda dengan kampung yang tadi mereka lalui. Dalam 10 menit, Kino menembus dua dunia: kemiskinan yang kelewatan dan kemewahan yang berlebihan.
Lalu mereka tiba di halaman sebuah restoran yang namanya memakai bahasa Inggris.
Tanpa banyak bicara, Andang keluar dari mobil, dan Kino mengikutinya dengan diam pula. Restoran itu pasti restoran mahal, tapi Andang tampak santai masuk dengan pakaian rumah. Kino agak kikuk, tetapi lalu memutuskan untuk ikut santai. Toh, aku tidak bermaksud makan di sini! pikirnya.
Andang langsung melihat menu, sementara Kino mengawasi interior dan mencoba membuat penilaian estetika.
“Kamu ngga mau makan?” tanya Andang tanpa mengangkat muka dari menu.
“Tidak. Aku mau minum saja,” sahut Kino lalu menyebut nama minuman ke pelayan yang sejak tadi berdiri sigap di sebelah mereka. Andang memesan makanan Eropa yang Kino tak pernah dengar namanya.
“Aku tidak menyangka akan bertemu kamu lagi,” kata Andang ketika pelayan sudah pergi. Kino memandang gadis di depannya, mereka-reka apa gerangan yang hendak disampaikannya.
“Aku tidak berharap ketemu kamu,” kata Andang lagi dengan nada datar.
Kino diam saja, masih belum terlalu yakin mengenai apa sebetulnya yang ingin disampaikan gadis yang pernah tidur bersamanya dan menangis di dadanya ini.
“Dunia kita berbeda jauh,” ucap Andang sambil menantang pandangan Kino. Pemuda itu melihat sebuah ketegaran di sepasang mata yang sebenarnya keruh oleh gelisah dan gundah itu. Ada tumpukan simpati dalam diri Kino terhadap gadis yang punya sejarah getir ini. Betul bahwa dunianya sangat berbeda dengan duniaku, kata Kino dalam hati, tetapi kegetiran tak harus selalu menjadi batas antara seseorang dengan orang lainnya.
“Aku ingin bertemu,” ucap Kino akhirnya. Giliran Andang yang terdiam, mengalihkan pandangannya ke luar, menembus jendela kaca besar yang menepis panas di luar untuk melindungi interior restoran dalam keteduhan semu.
“Apa kabarmu?” tanya Kino pelan.
“Baik.” jawab Andang pendek.
“Obenk dan kawan-kawan?”
“Baik….. Terakhir aku bertemu mereka dua hari yang lalu.”
“Masih mengamen di tempat yang sama?”
“Mereka sekarang ada di kampung-kampung di pinggir Jakarta.”
Kino tersenyum, membayangkan lirik-lirik lagu Obenk. Pastilah kali ini pemuda kerempeng itu akan mengekspos kekumuhan kota besar, dan menegaskan ketidak-adilan. Dasar komunis!
Hening lagi. Sampai datangnya makanan pesanan, keduanya tak banyak bicara. Andang makan dengan lahap. Kino pelan-pelan menikmati minuman dinginnya sambil memandang gadis di depannya. Lapar sekali dia! katanya dalam hati.
******
“Ayo ke rumahku!” ucap Andang setelah mereka kembali ke mobil.
“Apakah aku punya pilihan lain?” tanya Kino sambil tertawa.
“Tidak!” jawab Andang pendek.
Mobil kembali berbelok-belok, menembus kampung-kampung kumuh lagi, melewati sebuah lapangan bola yang tiang gawangnya sudah rubuh semua, merangkak di antara mikrolet yang berderet-deret entah dari mana dan mau ke mana …. Senja baru saja turun dengan segala kemegahanNya yang bersemburat jingga. Tetapi panas belum mau sirna, dan debu masih mau jadi raja.
Di dalam mobil, lagu-lagu The Queen mengalun menutupi kegaduhan dan kehiruk-pikukan di luar. Udara sejuk yang datang dari AC menyembunyikan terik dan gerah di luar. Segala yang ada di dalam mobil Peugeot mewah ini menampik kenyataan-kenyataan di luar sana.
Rumah Andang pun menampik kekumuhan di belakang tembok tingginya. Ketika sampai, Kino terperangah melihat betapa besar dan luasnya rumah itu. Terletak di sebuah kompleks perumahan mewah, namun berbatasan dengan sebuah kampung yang jelas berpenghuni penduduk dengan penghasilan setara sebuah batu yang menghias pagar tembok rumah Andang.
Tetapi rumah besar dan luas itu juga sangat sepi. Ketika mereka tiba, hanya ada seorang lelaki kekar (yang kemudian Kino tahu adalah satpam rumah) membuka pintu garasi dan seorang pembantu setengah baya membuka pintu depan. Andang langsung mengajak tamunya ke lantai atas, yang adalah sebuah kamar luas dengan perabot mewah.
“Aku akan suruh pembantu membeli pizza untuk kamu,” kata Andang sambil turun kembali meninggalkan Kino termangu-mangu.
Sebuah stereo set modern terletak di pojok ruangan. Kino mengamati koleksi kaset yang berjejer rapi, berjumlah ratusan. Sebuah poster besar Freddy Mercury menghiasi tembok. Di pojok lain, ada sebuah televisi yang layarnya tiga kali lebih lebar dari layar televisi di rumah kostnya. Sebuah video player terpasang di atasnya. Sederet video cassete memenuhi meja kecil di sebelahnya. [catatan penulis: setting cerita ini adalah pada masa sebelum compact disc]
Andang muncul lagi dengan dua botol minuman dingin. Setelah menyerahkan sebotol ke Kino, gadis itu dengan santai menggeletakkan tubuhnya di kasur tipis yang membentang di atas tikar rotan di depan televisi. Kino ikut duduk di sebelahnya.
“Mau nonton?” tanya Andang acuh-tak-acuh. Kino menggeleng.
“Musik?” Kino menggeleng. Lalu tertawa kecil, menyadari betapa hampanya kemewahan kalau penghuninya sendiri dilanda kebosanan.
Andang membalikkan tubuhnya, menelungkup dan membiarkan pantatnya yang seksi tampil sempurna. Kino jadi serba salah. Apalagi gadis itu juga tidak berkata apa-apa, dan kesunyian memenuhi kamar luas mewah yang sejuk itu. Di luar, malam telah mulai menjelang. Lampu-lampu taman tampak mulai menyala.
“Kakiku pegal sekali,” ucap Andang pelan,
“Jojing satu malam penuh!” Kino meletakkan botol minumannya di lantai,
“Aku pijat, ya?!” katanya menawarkan. Andang tidak menyahut, tetapi ia menggeser tubuhnya lebih dekat ke tempat Kino duduk.
Dalam diam, Kino memijat betis gadis yang mulus dan halus itu. Sebagai pendaki, Kino tahu bagaimana memijat kaki yang lelah, dan setelah beberapa saat Andang tertawa kecil sambil menyatakan terimakasihnya: “Di mana kamu belajar mijet, No?!”
Kino tidak merasa perlu menjawab. Pijatannya menyebarkan rasa nyaman ke kedua betis Andang yang memang pegal itu. Sambil tetap menelungkup, gadis itu meraih remote control dan menekan beberapa tombol. Sesaat kemudian, lagu lembut dari Roberta Flack memenuhi kamar.
Dalam waktu singkat, rasa pegal perlahan sirna, berganti rasa nyaman. Kino mengerahkan segala kemampuannya, dan memang memberikan kenikmatan tangan kukuh pada tubuh lembut yang letih.
Lalu kenyamanan itu menyebar lebih ke atas ….
“Kino ..,” tiba-tiba Andang berucap pelan.
“Mmmm ..,” sahut Kino.
“Pahaku juga letih …,” Kino tertawa kecil lalu memijat lebih ke atas. Celana Andang terlalu pendek untuk menutupi paha sintal yang ditumbuhi bulu-bulu halus nyaris tak kentara itu.
“Ke atas dikit …,” bisik Andang sambil tertawa.
Kino memijat pangkal paha yang terasa hangat dan lembut, sedikit di bawah dua bukit belakang yang padat dan seperti sedang berusaha keras melepaskan diri dari kukungan kain celana.
The first time, ever I kissed your mouth … I thought the sun, rose in your eyes…. Roberta Flack bernyanyi lembut. Pijatan Kino kini bukanlah pijatan untuk keletihan. Tidak lagi menekan-membebaskan otot-otot yang tegang. Tidak lagi mengurai urat yang kaku.
“Mmmmmm …,” Andang bergumam sambil memejamkan matanya.
Kino menelan ludah, merasakan jantungnya berdegup kencang ketika seperti tanpa sengaja tangannya naik lebih ke atas, merayapi bukit yang gempal dan kenyal. Ia meremas pelan namun tanpa keraguan, menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar membuat nyaman.
“Hhhmmmm…,” Andang mengerang.
Dengan masih menelungkup, gadis itu menggunakan kedua tangannya untuk membuka celana pendeknya. Dalam diam, ia memelorotkan sang celana. Dengan diam pula, Kino membantu menarik turun penutup yang tak terlalu berarti itu. Tubuh Andang bagian bawah kini cuma berlapis sebuah celana dalam nilon merah jambu …
Agak gemetar, Kino meletakkan kedua telapak tangannya di kedua bukit indah di hadapannya. Dengan kedua ibu jarinya, pemuda itu melakukan gerakan mengurut mulai dari pangkal paha sampai ke atas tulang ekor. Jalur yang dilalui jari-jari itu memaksa Andang merenggangkan sedikit kedua pahanya. Sebuah aliran hangat merayap cepat di selangkangannya, dan tanpa menahan diri gadis itu mendesah.
Tidak ada penghalang berarti antara jemari Kino dengan lembah lembab yang menguak malu-malu itu. Celana nilon tipis tak mampu menutupi bayangan basah merekah. Dari belakang, keindahan kedua bibir kewanitaan Andang bernuansa liar. Dari belakang, posisi gadis ini bagai seekor domba betina yang siap ditunggangi si jantan.
Tetapi sayang sekali Kino bukan seekor domba jantan. Pemuda itu penuh keraguan. Hanya kedua tangannya saja yang rajin mengikuti aliran birahi, tetapi pikiran dan hatinya berada di tempat lain. Pikirannya berkelana ke pengalaman terdampar di markas Sang Troubador, ke saat percumbuan yang tergesa dan tak terlalu berkesan itu. Hatinya berada jauh di kota B, bersama sahabat-sahabat yang hilang dan bersama seorang gadis centil-manis yang sedang sibuk belajar untuk ujian akhir.
Kino tetap memijat, dan tetap menimbulkan gairah yang mulai menggelegak di antara kedua paha Andang. Berkali-kali pemuda itu menelan ludahnya sendiri, memandang dengan takjub betapa seluruh bagian bawah tubuh gadis itu seperti sedang berayun-ayun terbuai gelombang yang tak kasat mata.
Desah dan erangannya juga tambah keras.
“Oooh … teruskan, Kino … teruskan … ohhh…,” ucap Andang tersendat-sendat. Kedua tangannya mencengkram pinggiran kasur, mencari penguatan. Jemari Kino menjelajah lebih ke dalam, menyeruak di sela karet yang tak kuasa membentengi lembah basah di bawahnya. Ujung jarinya menyentuh kelembutan yang membecek, kehalusan yang menggelincirkan.
“Ngggg … aku pengin Kino ….. aaaah …. lagi, Kino ….. lagi,” desah Andang berulang-ulang, sambil merenggangkan kedua kaki tanpa mengubah posisi telungkupnya.
Kino menyelinap lebih dalam, menyentuh gerbang kenyal yang berdenyut, menerbitkan jerit kecil yang mengungkapkan kenikmatan. Pinggang gadis itu bergerak-gerak, dan terangkat dari kasur …. jari Kino menerbobos lebih dalam … meluncur lancar dalam licin yang basah …. Lalu Andang tak tahan lagi. Gadis itu tiba-tiba membalik, sekaligus meloloskan celana dalamnya dalam satu gerakan, membuka kedua pahanya lebar-lebar dan menarik tangan Kino kembali ke lembah basah yang semakin basah itu.
Dengan satu tangannya, Andang menguak bibir-bibir bawah yang telah menebal itu lebar-lebar. Dengan jari tangan yang lainnya, gadis itu menggelincir-gelincirkan tonjolan kecil di lepit atas yang kini memerah-muda itu. Gerakannya serampangan, tergesa-gesa dan penuh tuntutan. Kino menyelinapkan satu jari, lalu dua …. lalu tiga ….
“Aaaah!” Andang menjerit nikmat, merasakan banjir bandang terbit di pinggulnya dan menerobos cepat ke seluruh tubuhnya. Kino mengeluar-masukkan jari-jarinya dengan kecekatan yang membuat dirinya sendiri heran.
Pemandangan di depan matanya membuat pemuda itu merasa agak mabuk. Bukan mabuk yang memusingkan, melainkan mabuk yang membirahikan. Kedua paha mulus itu terentang lebar. Kewanitaan yang basah kuyup itu terkuak lebar. Pemiliknya terpejam nikmat dan mengerang-erang tiada henti ….
Dengan jeritan kecil yang panjang, Andang mencapai puncak birahi … tak kuasa lagi melakukan apa-apa dengan tangannya … menggelepar lepas seperti ikan yang dilempar ke daratan ….
Lalu sepi menjelma.
******
Mereka tak melanjutkan permainan panas itu, karena terdengar suara pembantu di bawah mengatakan bahwa pizza pesanan sudah tiba. Andang tergeletak lesu, terkapar dengan tubuh bagian bawah telanjang. Ia jelas letih, tetapi wajahnya merona merah dan kedua matanya menebarkan gairah yang belum sepenuhnya padam.
“Kamu benar-benar pinter memijat!” sergah gadis itu sambil tersenyum. Kino diam saja, mengusapkan jemarinya yang lengket di sana-sini ke celana dalam Andang.
“Nginep di sini saja, yaaa!” kata Andang lagi, sambil bertelektekan di satu siku. Kino menggeleng. Ia tidak bisa menginap di kamar gadis yang barusan dibantunya mencapai klimaks ini. Ia tidak berani. Ia menjadi sangat pengecut! Andang tersenyum, tidak tersinggung oleh penolakan yang tanpa basa-basi itu. Gadis ini bisa membaca hati pemuda di depannya, karena pemuda itu memang tak pernah bisa menyembunyikan isi hatinya.
“Ayo kita makan pizza. Aku juga lapar lagi!” seru Andang dan tiba-tiba sudah bangkit, memakai celana pendeknya tanpa merasa perlu memakai celana dalamnya. Kino tidak menjawab, tetapi ikut bangkit, meletakkan celana dalam Andang yang kini ternoda cairan cintanya sendiri di lantai. Berdua mereka turun dan menikmati pizza di ruang makan yang juga berperabotan mewah.
Andang mencairkan suasana yang kikuk dengan berceloteh tentang Obenk dan kelompoknya. Kino merasa kerikuhannya lenyap, dan sebentar kemudian terdengar derai tawa mereka sambil mengunyah. .
Lalu Kino minta diantar pulang kembali ke hotelnya, dan Andang menuruti permintaan itu tanpa banyak cing-cong. Tanpa mengganti baju dan kembali hanya dengan bersandal jepit, gadis itu mengantar Kino sampai hotelnya, dan mencium pipi pemuda itu sekilas sebelum menghilang di balik keramaian lalulintas malam ibukota.
Beberapa saat Kino masih berdiri di pintu lobby, mengantar Peugeot gadis itu dengan pandangannya. Sang petugas hotel yang tadi menawari hiburan malam kembali mendekat, dan berdehem sopan di sebelahnya.
“Perlu pesan makan malam, mas?” tanyanya sopan. Kino tersenyum dan berkata singkat,
“Saya sudah makan lebih dari yang saya perlukan.”
Sang petugas sejenak terpana, tetapi lalu tertawa lebar, membuat kesimpulan pribadinya lagi tentang “makan” yang dimaksud tamunya. Kino berbalik dan menuju lift untuk kembali ke kamarnya.
Bersambung…
Pesta pernikahan Alma dan Devin berlangsung di sebuah gedung sewaan di bilangan selatan Jakarta. Mengenakan batik bernuansa coklat dan celana krem, Kino hadir sendirian, turun dari taksi yang membawanya dari hotel. Dengan agak kikuk, karena baru kali ini hadir dalam pesta pernikahan di sebuah gedung mewah, Kino melangkah masuk.
Beberapa orang berpakaian daerah menyambut para tamu, mengingatkan pemuda itu pada acara-acara kerajaan di cerita pewayangan.
Para pengunjung antri mengisi buku tamu. Kino patuh berdiri di belakang pengunjung yang terakhir masuk, menunggu giliran sambil melihat-lihat ke sekeliling. Sebagian besar tamu menggunakan batik. Tetapi pakaian-pakaian modern juga tak sedikit, dan bahkan tampil semakin nyata di antara lautan lukisan tradisional.
Kino memandang kagum kepada sepasang muda yang tampil bagai sejoli burung merak. Pria-nya memakai jas biru gelap dengan dasi kupu-kupu sutra putih, sementara yang wanita memakai long-dress ungu dengan belahan di samping sampai hampir ke pinggangnya. Buat apa berpakaian begitu panjang kalau akhirnya disobek setinggi itu? pikir Kino sambil tersenyum geli.
Serombongan pemuda-pemudi metropolitan juga telah hadir. Para pemudanya memakai jas yang tidak selalu serasi dengan celana. Ada yang memakai jas hitam bercelana putih. Ada yang memakai jas hijau tua bercelana krem.
Sementara para wanitanya memakai pakaian ketat, rok pendek yang tak menyembunyikan kemulusan, dan baju-baju berleher rendah atau tipis menerawang. Celoteh mereka ramai sekali. Lepas terbuka, dan tampak wajar belaka.
Seorang pria gaek tiba dengan gagah, memakai setelan jas hitam, berdasi biru terang, dan memegang tongkat kayu yang tampak terawat. Banyak orang menyambutnya, menyalaminya. Pria itu tampak berwibawa, apalagi ia memegang cangklong di tangan kirinya, mengepul-ngepulkan asap tipis.
Seseorang di barisan Kino terdengar berbisik agak keras menyebut identitas si tamu istimewa, dan pemuda itu akhirnya tahu bahwa pria gaek tersebut adalah seorang pemilik bank besar di Jakarta. Kemana istrinya? tanya Kino dalam hati.
Barisan pengisi buku tamu beranjak sangat perlahan, dan orang-orang yang berbaris di belakang Kino juga semakin panjang. Tetapi pria terhormat itu tampak tidak perlu menunggu di barisan. Dia maju dengan langkah tegap, diiringi serombongan orang yang membungkuk-bungkuk sopan, melewati antrian dan langsung mengisi buku tamu di sebuah meja khusus. Enak memang, menjadi orang terkenal dan terkemuka. Tidak perlu antri.
Selagi asyik memandangi dunia kecil di sekelilingnya itulah, Kino melihat sebuah mobil mewah berhenti di kaki tangga pintu masuk. Beberapa orang gadis berpakaian seragam panitia terburu-buru menuruni tangga.
Pintu belakang terbuka, dan sebuah kaki indah muncul menapak aspal. Sepatu ber-hak tingginya tampak mahal, terbuat dari bahan yang berkilauan tanpa harus menyilaukan mata. Seorang anggota panitia membuka pintu lebih lebar, sementara yang lainnya tampak membungkuk-bungkuk sopan. Siapa lagi ini? pikir Kino.
Pintu terbuka lebih lebar, kedua kaki indah telah menjejak aspal, dan kini tubuh semampai berbalut kebaya modern hijau-biru muncul. Sejenak pandangan Kino masih terpaku pada kesibukan panitia yang menyambut tamu itu, lalu pemuda itu mengangkat pandangannya untuk melihat wajah sang tamu ….. dan ia melongo.
Mba Rien!
Cantik sekali primadona tari dan bintang film itu tampil dengan senyum lembutnya. Selayaknya bintang yang biasa menerima sambutan, Mba Rien mengangguk kecil dan sopan (tetapi juga penuh kewibawaan dan sedikit kesombongan) kepada para penyambutnya.
Sebuah tiara (mahkota) kecil yang bergermerlapan tampak menghiasi bagian samping kepala wanita cantik itu. Kino melongo lebih lebar, menyadari bahwa rambut Mba Rien yang legam itu kini tampak jauh lebih indah dan menjadi bingkai sempurna bagi wajahnya yang tradisional.
Terdengar bisik-bisik kaum wanita di barisan antrian. Beberapa orang ibu segera memperbincangkan peran Rien dalam sebuah film di televisi. Kino mengikuti dengan pandangan takjub, Mba Rien melangkah gemulai diiringi para panitia dan beberapa perwakilan keluarga.
Sama halnya dengan sang pemilik bank, wanita cantik itu tak perlu antri dan langsung menuju meja khusus. Dua langkah di belakangnya, seorang pria ganteng berjas putih tampak berjalan santai dan seperti tidak peduli pada kesibukan di sekitarnya.
Rambutnya yang gondrong dibiarkan tergerai menyentuh bahu. Wajahnya betul-betul ganteng dan gayanya menandakan bahwa ia juga biasa ada di bawah sorotan spotlight panggung. Kilatan-kilatan lampu blitz dari para pemotret amatir maupun profesional tidak membuatnya bergeming.
Tiyar … bisik Kino dalam hati. Itu pasti Tiyar, pasangan hidup bersama Mba Rien sebagaimana yang ia baca di sebuah majalah gosip.
Kedua pasangan celebrity itu cepat sekali menghilang dari pandangan orang-orang yang masih patuh menunggu giliran mengisi buku tamu. Dengan gundah Kino berpikir: berani kah aku mendekati dan menegur Mba Rien? Akan kah dia masih mengenali seorang pemuda desa berbatik coklat yang tidak keren ini?
Ketika tiba gilirannya mengisi buku tamu, dan menyerahkan kado yang dibawanya, Kino memutuskan untuk tidak usah mengambil risiko mendekati Mba Rien. Jangan-jangan aku nanti diusir oleh para panitia yang tampaknya sibuk menjaga pasangan bintang itu dari serbuan para penggemar! pikir pemuda itu.
Lalu ia pun masuk ke ruang pesta dan semakin merasa kecil serta tak berarti, di tengah lautan orang yang riuh-rendah berbicara. Wangi aneka parfum bercampur-aduk.
Warna-warni pakaian menciptakan mosaik yang agak memusingkan. Tingkah laku sopan dan tertata apik menimbulkan kesan serba formal, menjelmakan semacam penjara maya bagi keserampangan dan kemerdekaan. Kino agak gelisah, dan menuju ke sebuah sudut yang agak sepi.
Acara tampaknya segera akan dimulai. Seseorang dari wakil keluarga tampak menuju microphone, mengucapkan selamat datang dengan rangkaian kalimat sopan yang berbunga-bunga. Kino menjulur-julurkan lehernya untuk melihat panggung pendek di depan. Kursi-kursi di panggung itu masih kosong.
Pengantin dan keluarganya masih belum muncul. Sebuah sambutan pendek terdengar dibacakan dalam intonasi bergaya pejabat. Kino tak terlalu mengerti apa isi sambutan itu, karena mengandung juga beberapa bahasa daerah yang halus dan bahasa asing.
Kemudian ada musik daerah menggema, dan untuk pertamakalinya Kino merasa berada di sebuah wilayah yang ia kenal. Tentu saja ia akrab dengan langgam musik ini, karena berasal dari sudut-sudut kenangan di desanya.
Tersenyum lega, Kino melangkah mengikuti gerakan tamu yang ingin maju melihat pertunjukan tarian dan barisan pengantin. Tetapi karena gerakannya kurang gesit, Kino harus puas dengan posisi agak di belakang. Untungnya ia bertubuh cukup tinggi, sehingga dengan agak menjulurkan lehernya, pemuda itu bisa melihat iring-iringan pengantin secara jelas.
Di belakang serombongan penari yang bagi Kino agak kurang disiplin itu, tampak iring-iringan pengantin dan keluarganya. Wah, hampir saja pemuda itu tak mengenali bapak dan ibu Alma yang memakai pakaian tradisional dan ber-makeup agak kelewat tebal.
Dalam beberapa detik, Kino sempat berandai-andai, ayah dan ibunya beriringan di rombongan pengantin. Sambil tersenyum kecut, pemuda itu cepat-cepat membuang pikiran sembarangannya!
Alma tampak cantik sekali, walau jelas bahwa ia juga letih. Kino menatap lekat-lekat wajah yang dulu selalu ia rindukan itu. Ah, kedua matanya masih seperti dulu, membiaskan manja dan kekeras-hatian sekaligus.
Apakah ia masih suka merajuk sekaligus merengek dan merayu? pikir Kino sambil memandang ke seluruh sudut wajah yang pernah ia dekap lama-lama di dadanya itu. Alma menatap ke depan tak berkedip, melangkah seperti robot.
Sebuah senyum tipis tampak menghiasi keletihan di wajahnya. Di sebelahnya, Devan tampak gagah dan tegar. Kino harus mengakui, pemuda itu cocok menjadi pendamping Alma yang manja dan penuh kelembutan.
Lalu terjadilah sebuah keajaiban yang memang tidak selalu bisa dijelaskan dengan akal sehat. Ketika pasangan itu melintas di depan Kino, entah karena apa Alma menengok ke arah pengunjung yang menonton. Kedua matanya yang bening, letih sekaligus bahagia itu segera menemukan wajah Kino di antara lautan wajah lainnya.
Senyum Alma mengembang lebih lebar. Wajahnya tiba-tiba seperti melepaskan berjuta-juta elektron berisi salam perjumpaan sekaligus perpisahan. Kino menyambut senyum itu dengan senyum pula, mengangkat tangan untuk melambai sekejap.
Dalam perjumpaan pandangan yang cuma berusia 30 detik itu, Kino menerima pesan-pesan lembut yang berlipat-lipat ganda. Ada ucapan terimakasih di pandangan itu. Ada pula ungkapan maaf di sana. Ada salam perpisahan yang takjim dan tulus.
Semuanya tersampaikan dalam sekelebatan pandangan bening merasuk kalbu. Sebuah tusukan sembilu yang tak terlalu menyakitkan terasa menembus dada Kino. Pemuda itu menghela nafas panjang, menahan udara segar di paru-parunya selama beberapa detik, lalu menghempaskan kelegaan.
Rombongan pengantin berlalu menuju pelaminan. Tamu-tamu bubar kembali ke tempat masing-masing. Kino merasa pesta seakan-akan telah usai baginya.
******
Setelah beberapa sambutan lainnya, seorang pembawa acara bersuara merdu mempersilakan para tamu memberi selamat kepada pengantin, atau menikmati hidangan yang tersedia. Kino tadinya bermaksud menikmati hidangan lebih dahulu, tetapi ia merasa itu tidak sopan.
Maka sekali lagi pemuda itu ikut antrian tamu yang menanti giliran bersalaman. Sekali lagi pula ia melihat tamu-tamu istimewa, termasuk Mba Rien dan Tiyar, tidak perlu antri karena diberi kesempatan terlebih dahulu.
Dengan pandangannya Kino mengikuti segala gerak-gerik Mba Rien. Ia kini tampak sophisticated, pikir Kino, tidak saja cantik tetapi juga modern dan penuh percaya diri. Kebaya-nya bergaya masa-kini tanpa harus menampik keindahan tradisional.
Rambutnya tidak digelung atau disanggul, melainkan dibiarkan tergerai indah. Wajahnya seperti tidak memakai make-up, yang justru menambah tegas kecantikannya. Sebetulnya ia tidak super-cantik, tetapi keindahan mata dan bibirnya mendominasi hal-hal lain yang tidak begitu menonjol di wajahnya.
Inilah wanita yang dulu membuka dunia seksualitas ku, pikir Kino lagi dengan agak kecut. Pemuda itu ingat dengan sejelas-jelasnya apa saja yang pernah wanita itu lakukan kepadanya.
Ia ingat ciuman bibir yang indah dan sensual itu. Ingat jemari lentik yang tidak saja pandai menampilkan gerakan tari, tetapi juga membangkitkan gairah kejantanannya. Ingat wajahnya yang memerah-muda dan matanya yang terpejam ketika menikmati orgasme ….
Gila! sergah hati Kino. Kenapa bayangan-bayangan sensual itu yang muncul, dan bukannya kesuksesan Mba Rien sebagai penari dan bintang film?
Antrian bergerak begitu lambat. Terlihat Mba Rien menyalami dan mencium Alma. Lalu keduanya berbincang-bincang pendek. Dari kejauhan, Kino tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Tetapi tampak sekali bahwa Alma sangat berterimakasih karena kehadiran wanita yang terkenal itu. Begitu pula kedua orangtua Alma dan Devan, tampak sekali bangga akan kehormatan yang diberikan seorang bintang kepada anak dan menantu mereka.
Apakah ia akan mau bercakap denganku? kembali Kino bertanya gelisah dalam hati. Kalau pun ia mau berbincang denganku, apa yang akan aku bicarakan dengannya? Apakah ia ingat peristiwa-peristiwa itu …. Ah! .. Kenapa harus selalu kembali ke sana … kembali ke kenangan-kenangan sensual belaka.
Tetapi … Ah! … memang cuma itulah kenangan bersama Mba Rien!! Sungguh gila memang, tetapi itulah kenyataannya: Kino pernah bermain cinta dengan bintang terkenal itu! Bintang terkenal itu pula yang memperkenalkannya pada dunia seksual! Itu kenyataan!
Mba Rien dan Tiyar akhirnya selesai mengucapkan selamat dan melangkah turun dari panggung pelaminan menuju bagian ruangan pesta yang berisi meja-meja makanan dan minuman. Beberapa gadis tampak mendekat dan menyorongkan kertas serta pena untuk minta tandatangan.
Mba Rien menerima dengan sopan, tetapi juga terlihat tergesa-gesa. Seorang panitia tampak berusaha mengurangi “serbuan” penggemar lainnya dengan menggiring pasangan celebrity itu menuju sebuah pojok yang lagi-lagi tampaknya dipersiapkan khusus untuk tamu VIP.
Kino tak lagi bisa melihat Mba Rien dari tempatnya berdiri mengantri. Lama setelah itu, barulah Kino mendapat giliran menyalami pengantin dan kedua orangtua mereka. Ayah dan Ibu Alma mengucapkan terimakasih dan
“…salam untuk Ayah – Ibu ..”. Pemuda itu tersenyum saja dan berkata bahwa kedua orangtuanya juga menyampaikan salam dan selamat. Kemudian Kino menyalami Devan dengan kokoh, dan Alma berbisik ke suaminya,
“Ini Kino yang aku pernah ceritakan …”, dan Devan tersenyum penuh arti. Bagi Kino, senyum Devan itu mengandung dua hal, kecurigaan dan kemenangan. Kino tidak suka pikiran yang terbit di kepalanya ini, tetapi entah kenapa dia juga yakin bahwa Devan tidak suka kepadanya.
“Terimakasih Kino, terimakasih banyak…,” bisik Alma ketika pemuda itu menyalaminya. Sebetulnya gadis itu ingin menyorongkan pipinya untuk ciuman, tetapi karena Kino tidak terlihat berupaya, ia membatalkan maksudnya.
“Semoga banyak rejeki dan banyak anak,” ucap Kino mencoba bercanda, tetapi suaranya agak bergetar.
Alma tertawa kecil, tetapi tidak berkata apa-apa. Kino melanjutkan langkah menyalami ibu dan ayah Devan yang tak begitu ia kenal. Keduanya pun tak terlalu peduli dan hanya mengembangkan senyum sopan yang tampaknya sudah terstandar untuk semua tamu.
Baru saja Kino hendak melangkah meninggalkan panggung pengantin ketika terdengar suara Alma memanggil. Pemuda itu menengok dan melihat Alma sedang menyalami seseorang, tetapi wajahnya menengok ke arahnya dan berkata cukup keras, “Jangan pulang dulu, aku mau foto bersama Mba Rien dan kamu!”
******
Para tamu di sudut VIP tampaknya kurang meminati hidangan yang tersedia. Mereka hanya berbincang-bincang sopan antar mereka, atau dengan anggota keluarga pengantin. Rien dan Tiyar tentu saja menjadi pusat perhatian.
Tetapi keduanya sudah terbiasa menerima semua itu, sehingga seakan-akan sudah punya jawaban-jawaban standar untuk setiap pertanyaan yang diajukan. Tiyar berupaya mendominasi percakapan, karena dia memang telah ada kesepakatan di antara pasangan celebrity ini, yaitu Tiyar menjadi semacam “juru bicara” mewakili mereka berdua.
Pelan-pelan Rien menyingkir dari kerumunan dan mendekati sekelompok panitia dari keluarga pengantin untuk mencari semacam “perlindungan”.
Tentu saja kelompok itu bersukacita, dan langsung mengelilingi wanita cantik itu seperti lebah-lebah penjaga melindungi lebah ratu. Mereka menawarkan makanan, tetapi Rien yang sedang ber-diet untuk menjaga kondisi tubuhnya hanya mengambil sepiring kecil buah-buahan dan meminta air putih sebagai minumannya.
Beberapa saat kemudian, Tiyar tampak mendekat dan berbisik,
“Mau sampai selesai?” Rien menjawab pelan,
“Sampai selesai acara salaman. Alma meminta waktu untuk foto bersama.”
“Kita punya acara lain, lho ..,” bisik Tiyar lagi dengan agak mendesak. Rien tersenyum lembut,
“I know … tetapi aku sudah berjanji.”
Tiyar menggerutu, tetapi ia tidak berkata-kata apa lagi dan menyingkir menuju meja-meja makanan. Pria itu sebenarnya heran, kenapa kekasihnya sangat menaruh perhatian kepada perkawinan “orang biasa” ini.
Ia memang pernah mendapat penjelasan singkat, bahwa Alma adalah tetangganya di kota kecil nun di sana. Tetapi kenapa gadis itu begitu penting, Tiyar tidak pernah mendapat penjelasan. Tentu saja Tiyar juga tak banyak tahu tentang Kino, karena Rien memang tidak pernah menyinggung soal pemuda itu.
Ketika Tiyar sudah menjauh, Rien duduk di balik sebuah pilar, terlindung dari kerumunan orang. Tetapi ia masih bisa melihat ke sekeliling ruangan pesta, dan diam-diam wanita itu mencari-cari sebuah wajah di antara lautan ratusan wajah.
Tadi ia mendengar dari Alma bahwa Kino sudah hadir, dan Rien pura-pura menerima kabar itu dengan biasa saja. Padahal, ia sempat merasa aneh juga ketika mendengar nama itu disebut.
Rien kini adalah seorang yang terkenal. Namanya sering menjadi jaminan bagi pengunjung yang berlimpah atau penonton yang berlipat ganda. Oleh sebab itu, ia kini juga sudah banyak menerima tawaran kontrak untuk iklan dan kegiatan-kegiatan sosial.
Citra Rien kini adalah sebuah modal besar yang dengan mudah bisa diterjemahkan menjadi uang dalam jumlah besar. Tetapi Rien juga adalah wanita yang datang dari kota kecil, tempat ia menjadi seorang 9uru tari tak terkenal. Saat menjadi orang tak terkenal itu lah yang kini agak mengganggu pikirannya.
Sewaktu masih tak terkenal, hubungannya dengan Kino tak terlalu menggelisahkan pikirannya. Rien bahkan menganggap “insiden” dengan pemuda itu adalah kenakalan-kenakalan kecil yang mewarnai masa mudanya.
Ia masih ingat semua sensasi seksualitas yang menandai insiden-insiden itu, dan untuk beberapa saat seringkali ia merasa mukanya panas kalau bayangan kenangan itu muncul di benaknya. Walau bagaimana pun, kenangan itu sangat membekas di diri wanita itu.
Kini Rien berpikir keras, bagaimana seharusnya ia menghadapi kehadiran Kino kembali dalam kehidupannya. Tentu saja ia bisa dengan mudah menghindar darinya, menyuruh Tiyar menyingkirkan pemuda itu dengan caranya sendiri. Ia juga bisa saja menolak dengan halus permintaan Alma untuk berfoto bersama, dengan alasan yang selalu bisa ia ciptakan.
Tetapi di sini lah keanehannya … Rien tidak ingin mengindari Kino. Ia bahkan ingin bertemu pemuda itu, karena jauh di dalam lubuk hatinya ia menyadari bahwa Kino adalah bagian dari masa lampau yang sesungguhnya.
Pemuda itu adalah salah satu keping penting dari mosaik indah sejarah hidupnya. Sebagaimana halnya sanggar tari kecil di sudut kota yang kini telah lapuk itu, Kino adalah pilar dari bangunan kehidupan masa kini yang gemerlap.
Rien berdiri sejenak dan memusatkan pandangannya ke seorang pemuda berpakaian batik coklat …Wanita itu tersenyum diam-diam. Hmmm … dia masih seperti dulu. Rambutnya agak gondrong dan tetap agak berantakan.
Wajahnya masih seperti itu: sedikit berkerut di bagian kening, dengan mata yang selalu gelisah walau juga hangat. Bibirnya masih sering membentuk garis tipis tegas tanda kekeras-hatiannya.
Tanpa disadari oleh Kino, wanita cantik itu memandangnya lekat-lekat, menimba kenangan-kenangan yang pernah ia jalani dengan segala kenakalan dan kejenakaan.
Hutan kenari, sepeda tua, pantai yang panas, sungai yang teduh, bioskop tua, jalan raya yang lenggang ….. semua gambar-gambar kenangan itu bermain di depan mata Rien, membentuk semacam latar buram bagi wajah Kino yang masih belum sadar bahwa dirinya sedang menjadi pusat perhatian.
******
Kino sedang terlanda bosan. Ia sudah makan sepiring nasi lengkap dengan lauk-pauknya. Laparnya sudah hilang. Kini ia merasa letih berdiri dan sedang berpikir-pikir hendak ke mana setelah pesta. Ia mencari tempat duduk dan menemukan sebuah kursi kosong di dekat pintu menuju ruang belakang.
Baru saja Kino duduk, terdengar pembawa acara mengumumkan bahwa pengantin bermaksud istirahat dan para tamu dipersilakan menikmati terus hidangan yang tersedia. Dalam hati Kino bergumam, siapa yang mau makan lebih banyak? Tampaknya semua orang sudah kenyang, dan kini mereka semua saling berbincang menimbulkan suara riuh.
Lalu pembawa acara mengatakan bahwa pengantin bermaksud mengadakan foto bersama, dan saat itulah Kino mendengar namanya disebut.Agak gentar, Kino bangkit dan berusaha menenangkan debur jantungnya. Ini lah saat-saat yang tidak terlalu ia sukai.
Ia tidak suka pada kenyataan akan bertemu dengan seorang bintang sekaligus seorang wanita yang memperkenalkannya pada dunia seksualitas! Tetapi ia juga sangat ingin bertemu wanita itu. Setidaknya, ia ingin melihat Mba Rien lebih dekat. Ingin memeriksa apakah wanita itu masih Mba Rien yang dikenalnya dulu?
Beberapa saat langkah Kino agak limbung, tetapi pemuda itu lalu menguatkan hati dan melangkah lebih pasti menuju panggung.Rien juga melangkah ke panggung dari sudut yang berseberangan.Kino merasa seluruh dunia sedang memandang ke arahnya.
Ia menunduk dan melangkah lebih cepat, seakan dengan demikian ia bisa melarikan diri dari pusat perhatian. Tentu saja para tamu memandang mereka berdua. Beberapa orang berbisik-bisik, siapa pemuda berbatik coklat yang berjalan menunduk itu? Mungkin saudara-nya Alma. Mungkin bekas pacarnya. Mungkin tetangganya. Mungkin … mungkin … mungkin … Aneka gosip pun bertebaran.
Tiyar berdiri memandang dari jauh dan mengernyitkan dahi. Ia tidak diajak foto bersama, dan dalam hati pria itu mendongkol juga. Walau demikian, ia juga sudah terbiasa melihat Rien di-“bajak” untuk berfoto oleh penggemarnya. Cuma ia agak heran melihat seorang pemuda asing diajak ikut berfoto. Siapa dia?
Alma tersenyum lebar melihat dua orang yang ia kagumi berjalan ke arahnya. Hatinya berdebar dan sekaligus berbunga-bunga. Biar bagaimana pun, kedua orang inilah yang merupakan bukti nyata bahwa ia berasal dari sebuah kota kecil yang teduh dan damai nun di sana.
Keduanya merupakan simbol-simbol yang selalu mengingatkan Alma bahwa ia bukanlah seseorang yang tiba begitu saja di ibukota; ia adalah pohon kecil dengan akar-akar yang tertanam ratusan kilometer jauhnya dari Jakarta!
Devan berdiri kikuk ketika akhirnya Kino mengapit pasangan pengantin itu. Rien tersenyum kepada Kino dan berucap pelan,
“Apa kabar dik Kino …” Kino gelagapan menjawab, dan Alma tertawa melihat kegugupan Kino,
“Kenapa jadi gugup begitu, No!?” Kino tersipu dan menjawab sekenanya,
“Aku gugup berhadapan dengan seorang bintang …” Kali ini Rien yang tertawa renyah,
“Jangan nakal begitu, ya, Kino …” Devan berdiri dengan perasaan tidak enak, tak mengerti apa yang terjadi di sekelilingnya.”Habis ini, Mba Rien mau ngomong sama kamu,” kata Rien kepada Kino,”Jangan lari, yaaa… “”Biar saya iket dia, Mba!” sergah Alma sambil tertawa,
“Dia memang kelihatannya mau lari ..”
Kino tak bisa berkata apa-apa. Untunglah juru foto terdengar meminta mereka untuk berdiri diam menghadap kamera. Buru-buru semuanya mengatur diri dan tersenyum ke arah fotografer.
Kilatan-kilatan blitz segera memenuhi ruangan. Kino berusaha keras menampilkan wajah wajar, walau ia sendiri tak yakin apakah kewajaran bisa tampil di saat seperti ini.
Dalam waktu kurang dari tiga menit, acara berfoto itu usai, dan cepat sekali Mba Rien sudah meraih tangan Kino dan setengah menyeret pemuda itu turun dari panggung pelaminan. Acara foto masih berlanjut dan kesibukan baru pun muncul di panggung, membuat kejadian Rien menyeret Kino tak terlalu diperhatikan.
“Mau dibawa ke mana aku, Mba?” sergah Kino dengan kocak. Rien tertawa geli sambil menyahut cepat,”Jangan banyak omong … ikut saja!” Tiyar berdiri keheranan melihat keduanya melangkah cepat ke arahnya.”Pulang sekarang?” tanya pria itu tanpa mempedulikan anggukan sopan Kino.
”Ya ..,” sahut Rien pendek lalu dengan cepat pula saling memperkenalkan kedua pria di sisinya”Tiyar, ini Kino …. Kino, ini Tiyar” Lalu ketiganya bergegas menuju pintu keluar. Tiyar dan Rien berjalan duluan. Kino seperti dibawa terbang oleh sepasang malaikat.
******
Di mobil sedan mewah miliknya, Rien duduk diapit oleh Tiyar dan Kino. Baru saja mereka duduk, Rien sudah memberondong Kino dengan pertanyaan-pertanyaan.”Kenapa ngga mampir ke sanggar Mba Rien … bukankah sudah Mba kasi alamatnya?””Aku sudah menelpon, tapi …””Ah, pasti kamu ditolak oleh operator.
Kenapa ngga bilang bahwa kamu saudara saya?!” Kino tak bisa menjawab.”Bagaimana dengan kesehatan kamu? Maaf, Mba Rien, ngga bisa menjenguk waktu itu …””Saya sudah sehat.””Kok bisa kecelakaan seperti itu, sih?””Ceritanya panjang, mba ..” Rien tertawa,”Bisa untuk cerita sinteron, yaaa ..!”
Kino merasa diolok-olok, tetapi ia tak pula bisa marah.”Mba becanda, lho … Jangan tersinggung yaa ..,” kata Rien, lalu wanita itu melakukan apa yang dulu sering ia lakukan: mengacak-acak rambut Kino seperti ibu mengacak-acak rambut anak lelakinya.”
“Kamu ngga kangen sama Mba Rien?” sergah wanita itu sambil mencubit lengan Kino. Kino tersipu. Apa yang harus ia jawab? Tiyar menyela,
“Semua orang kangen sama kamu, Rien …” Rien tertawa lalu menengok ke arah kekasihnya,
“Hei … jangan cemburu, dong!””Aku tidak cemburu,” gerutu Tiyar,
“Tetapi kasihan, dong, sama Kino … pertanyaan kamu kok aneh begitu!” Kino tersenyum mendengar gaya Tiyar membelanya. Diam-diam ia menyukai orang yang konon adalah kekasih sejati Rien itu. Kenapa mereka tidak menikah saja? tanyanya dalam hati. Seperti tak peduli pada gerutuan Tiyar, Rien mengulangi lagi pertanyaannya,
“Kangen atau tidak?” Kino mengangguk pelan, tak berani berkata-kata. Takut kata-katanya keluar dengan tak beraturan.
“Masih kayak dulu saja kamu … Malu-malu!” sergah Rien sambil mencubit lagi lengan Kino.
Mobil melaju cepat menembus malam. Jakarta bermandikan cahaya lampu. Dalam kelam, kota ini tak terlalu menampilkan kekeruhan dan kekacauan siang hari. Sudut-sudut gelap kota menyembunyikan ketidak-sempurnaan dan ketidak-senonohan. Kino sejenak mengalihkan pandangannya ke luar jendela, bertanya dalam hati: .. kemana aku akan dibawa?
Bersambung…
Sejenak hening, kecuali suara ban mobil mendesing cepat, mesin mobil berderum halus menembus malam di bawah langit yang tak berbintang . Kino memandang ke luar jendela, mengernyitkan kening entah untuk apa. Lampu jalanan, lampu reklame, lampu mobil, berbaur menjadi satu, berkelebat-kelebat seperti sekumpulan kunang-kunang raksasa yang berkeliaran cepat dalam kelam malam.
Setelah beberapa saat, Rien memecah keheningan:
“Mba Rien ingin mengajakmu ke sanggar … ada rehearsal di sana, untuk pertunjukkan minggu depan. Kamu bisa ikut, kan? … Kita bisa ngobrol sementara mbak supervisi mereka. Bisa, kan?” Lagi-lagi Tiyar yang menyela dengan nada pembelaan,
“Kamu gimana, sih .. Rien … Dia kan masih berpakaian batik resmi seperti itu … Mungkin tidak nyaman untuk dia. Lagipula nanti kamu sibuk, tidak sempat ngobrol …” Rien tertawa renyai mendengar pembelaan Tiyar, tetapi perempuan cantik yang kini terdengar bossy itu tak mau menyerah. Ia berkata ringan,
“OK .. sekarang kita antar dulu Kino ke hotelnya … ” Setelah menanyakan nama dan alamat hotel, Rien lalu memberi perintah pendek ke supir sedan untuk menuju hotel tempat Kino menginap.
“Kamu ganti baju dulu, deh .. yang agak santai sedikit. OK?” kata Mba Rien lembut, sambil sekali lagi mengacak-acak rambut Kino,
“Mba kangen, lho .. sama kamu!”
Kino tersenyum saja, membiarkan rambutnya diacak-acak, merasakan kehangatan di balik perlakuan perempuan yang sampai sekarang masih dianggapnya sebagai kakak yang tak pernah ia punya. Kino senang diperlakukan sebagai adik oleh perempuan semerbak di sebelahnya itu.
Tidak cuma karena perempuan itu seorang bintang, melainkan lebih karena perempuan itu adalah pemandu pertamanya ketika memasuki alam kedewasaan. Jauh di lubuk hati, Kino sebenarnya merasakan kenyamanan yang aneh … Ia merasa bahwa dunia dewasa yang membingungkan di sekitarnya itu, kini terasa lebih teduh karena di sebelahnya ada seseorang yang tahu bagaimana memandu dirinya.
“Saya juga kangen .. ” akhirnya Kino berkata pelan. Tiyar terdengar tertawa sambil berucap ringan,
“Ngga usah merasa terpaksa mengatakan kangen, Kino ..”
“Ehhh … biar saja!” sergah Rien sambil tertawa,
“Dia memang kangen … kamu aja yang cemburu …” Terdengar Tiyar menggerutu, tetapi Kino merasakan gerutuan itu tak terlalu serius. Apakah Tiyar benar-benar cemburu?
“Sambil menuju hotel, kamu cerita dong bagaimana kuliah kamu …,” sergah Rien sambil menggeser duduk agak menghadap Kino.
“Aku sedang cuti kuliah, Mba ..,” kata Kino, menatap keluar jendela, melihat kelebatan mobil lain yang berpapasan. Rien mengerutkan kening,
“Lho .. katanya sudah sembuh ..”
Kino menjelaskan bahwa cuti kuliahnya bukan karena ia masih sakit, melainkan karena ia sudah tertinggal dalam pelajaran. Secara singkat, pemuda itu menjelaskan proses kesembuhannya, bagaimana ia menghabiskan waktu istirahatnya di kampung halaman, dan bagaimana sekarang ia bekerja sambilan sebagai pengajar kursus matematika.
Mendengar Kino sempat pulang kampung, Rien langsung menyambar dengan pertanyaan-pertanyaan seputar keadaan kota kecil tempat dulu mereka merenda masa-masa penuh kenangan itu!
Kino sempat tersipu ketika Rien menanyakan hutan kenari yang dulu sering mereka kunjungi berdua. Rien pun sebenarnya sempat merasakan sedikit getar di lubuk hatinya ketika ia mengajukan pertanyaannya. Tetapi wanita itu kini jauh lebih matang daripada dulu, dan dengan capat bisa menguasai diri. Tidak begitu halnya dengan Kino.
Pemuda itu memerlukan lebih banyak waktu untuk bisa menjawab pertanyaan Rien dengan tenang. Tentu saja Rien mengetahui hal itu, dan dengan bijak perempuan cantik itu melunakkan suaranya, perlahan-lahan menuntun Kino menenangkan dirinya.
Kino pun tambah yakin .. Mba Rien masih seperti dulu … seorang perempuan dewasa yang tahu bagaimana berlaku lunak dan hangat kepada seorang “adik” yang masih hijau dalam belantara hidup.
“Pantai tempat kita berenang masih ramai?” tanya Rien bersemangat.
“Masih ..,” jawab Kino, “Tetapi kini terlalu ramai … terlalu banyak warung makanan dan minuman, sehingga banyak sampah.”
“Yah .. begitulah memang kebiasaan buruk kita .. kalau ada tempat populer, pasti kotor,” Tiyar ikut nimbrung dalam percakapan tanpa diundang. Pria itu tidak suka dijadikan kambing congek dalam mobil yang baginya kini terasa agak sempit itu. Rien tersenyum, membalikkan tubuhnya sejenak untuk menghadap ke arah kekasihnya, merangkul leher pria itu dengan mesra dan memberikan kecupan ringan di pojok bibirnya sambil berucap ringan,
“Sorry honey … aku tidak bermaksud mentelantarkan kamu!” Kino merasa agak tidak enak, lalu berusaha membawa Tiyar kedalam percakapan,
“Memang betul … pantai itu menjadi terlalu populer, dan pemerintah daerah cuma bisa memungut pajak, tetapi tidak mengurus kebersihannya.” Tiyar senang mendengar perkataan Kino, yang jelas-jelas menganggapi ucapannya. Pemuda itu tahu diri juga .. bisiknya dalam hati.
“Ah .. jangankan di daerah, di Jakarta saja juga sama. Pemerintah kurang serius mengurus kebersihan!” sergah Rien, senang karena tidak ada kekisruhan di antara dua pria yang mengapit duduknya.
Lalu pembicaraan jadi lancar, dan tidak lagi terkonsentrasi pada Kino atau kota kecil kelahirannya. Pembicaraan kini beralih ke masalah-masalah sosial yang berhubungan dengan kota kecil maupun kota besar. Kino ikut bersemangat, mengungkapkan kesan pertamanya tentang Jakarta yang jorok dan terlalu ramai.
Rien tertawa mendengar cara Kino mengkritik ibukota secara terus terang. Tiyar malah ikut mendukung kritik Kino dan berkata bahwa ia sudah berkali-kali mengusulkan agar Rien memindahkan sanggar dan kantornya dari ibukota ke kota lain di Selatan.
Tetapi Rien bilang, ibukota adalah sumber uang yang terbesar di Indonesia, dan sanggarnya memerlukan dana cukup besar agar bisa berkembang lebih pesat. Kino akhirnya mendengar untuk pertamakalinya, betapa ternyata Mba Rien adalah seorang wanita dengan ambisi besar.
Sejak mengenalnya di kota kecil dulu, Kino memang sudah menyangka bahwa Mba Rien adalah perempuan keras hati yang tak kenal menyerah. Tetapi baru kali ini ia mendengar langsung dari mulut perempuan itu, impiannya tentang sebuah studio mini untuk memproduksi film-film pendek … sebuah production house.
“Sebentar lagi, TV swasta akan berkembang di Indonesia,” kata Rien tanpa menyembunyikan gairah ambisius di suaranya, “Mbak ingin paling dulu siap, sebelum yang lain punya pikiran tentang production house. Saat ini, orang lain masih berpikir tentang film-film panjang untuk bioskop, atau film pendek untuk televisi. Mbak ingin membuat serial … sebuah cinetron .. untuk televisi swasta!”
“Banyak yang kurang sadar bahwa membuat serial memerlukan teknik dan keseriusan berbeda, dibandingkan membuat film panjang,” lanjut Rien tanpa menunggu reaksi para pendengarnya,
“Mbak sudah belajar lewat buku-buku … Mbak juga sudah memikirkan bagaimana mengaitkan keahlian panggung dengan pengelolaan sinetron … Atau mengaitkan antara tarian tematis dengan cerita sinetron!” Kino diam menyimak, merasakan semangat Mbak Rien mem-bludak seperti hendak memenuhi seluruh rongga di dalam mobil. Tiyar terdengar menggerutu pelan,
“Kamu semangat banget, sih!” Rien tertawa renyai, dan justru menambah semarak suasana penuh ambisi yang ia ciptakan lewat kata-katanya.”Biarin .. Aku memang lagi penuh semangat!” sergah Rien sambil meraih paha kekasihnya, mencubit gemas.
“Kamu ngga senang, ya .. kalau aku semangat?!” Tiyar menggerutu lagi,”Senang, sih .. senang… Tapi kalau tiap hari mendengar kata-kata yang sama, aku bosan juga!” Kino tertawa mendengar pertengkaran dua orang di sebelahnya.”
Lho .. aku cerita untuk Kino, kok … bukan untuk kamu,” sahut Rien, sambil berbalik penuh menghadap Tiyar dan merangkul leher pemuda itu. Tiyar membela diri,”Ah .. pasti Kino juga ngga ngerti apa yang kamu ucapkan .. Ya, kan, Kino?” Kino tertawa lagi,
“Ya … memang belum ngerti sepenuhnya!” Rien ikut tertawa,
“Sialan kamu, Tiyar … Bersekutu dengan Kino untuk melawanku!”
Perempuan molek-cantik itu lalu merangkul kekasihnya lebih erat, tanpa tedeng aling-aling menggigit kecil kuping Tiyar, membuatnya mengaduh. Kino agak tersipu melihat pertunjukkan kemesraan yang berbaur dengan keakraban dan keterbukaan itu.
Tampaknya mereka biasa bertengkar tanpa harus bersitegang, pikir Kino sambil menonton bagaimana Tiyar balas menggigit leher Mba Rien, membuat perempuan itu ikut menjerit manja.
Tak terasa, mobil akhirnya memasuki halaman hotel tempat Kino menginap.”Kami tunggu di sini, ya!” ujar Rien sambil mendorong Kino pelan keluar mobil. Ada sedikit ketergesaan di dorongan itu, dan Kino tahu bahwa ia memang diminta cepat-cepat.
Dengan langkah lebar setengah berlari, Kino menuju front office untuk mengambil kunci, dan melesat naik ke kamarnya dengan lift. Di kamar, ia cepat-cepat membuka batik dan celananya, berganti t-shirt putih bergambar The Police dan jeans lusuh kesayangannya.
Sepatu kulit pun ia tukar menjadi sepatu basket biru tua. Setelah menyisir sekedarnya dengan jari tangan, ia melesat kembali ke bawah.Tak sampai 10 menit kemudian, rombongan kecil itu telah meninggalkan halaman hotel, kembali menembus malam Jakarta yang seakan-akan justru bertambah ramai.
******
Sanggar Pelangi terletak di pinggiran ibukota, tetapi tak terlalu jauh dari pusat. Hanya perlu 20 menit untuk mencapai tempat yang luas dan berwujud padepokan itu. Sebuah rumah tua tampak asri dan terang berderang, agak menjorok ke dalam.
Kino segera bisa menebak bangunan itu berasitektur jaman kolonial, cukup terawat mengingat usianya yang mungkin sudah seabad. Beberapa bagian temboknya sudah mengalami renovasi, tetapi berandanya yang lebar tampak masih asli, lengkap dengan pilar-pilar khas bangunan Eropa jaman kolonial.
Sebuah pintu gerbang besi yang lebar tampak dibuka oleh seorang satpam ketika mobil yang mereka tumpangi mendekat. Lalu ban mobil menjejak jalan berkerikil, menimbulkan bunyi ramai.Rien, Tiyar dan Kino turun di depan rumah tua yang sudah ramai oleh beberapa orang, laki dan perempuan.
Semuanya tampak berpakaian ringkas; yang perempuan memakai celana senam ketat dan kaos warna-warni, yang laki memakai celana pendek sedikit di atas lutut dan singlet yang biasa dipakai pemain basket. Kino agak kikuk melangkah sedikit di belakang Rien dan Tiyar yang berjalan cepat menuju beranda.
Semua orang yang ada di beranda menengok, sebagian menyambut dengan ramai, sebagai hanya memandang. Sebagian lagi memandang seksama ke arah Kino, membuat pemuda itu tambah kikuk.
Sebelum masuk beranda, Rien rupanya bisa merasakan kekikukan Kino. Ia melambatkan jalannya. Dengan santai, wanita itu menggandeng tangan Kino dan setengah menyeretnya masuk. Semakin banyak kini orang memandang ke arah pemuda yang baru mereka lihat.
Sebagian berpikir, apakah ini pemain baru yang akan ikut pertunjukkan? .. kenapa baru sekarang ia muncul? .. atau mungkin ini adik Rien? .. tetapi betulkah ia punya adik?Sambil berjalan masuk, Rien memberikan perintah-perintah singkat.
Kino takjub melihat betapa ampuhnya perintah itu. Sekejap, suasana ramai berubah menjadi kesibukan yang terarah. Tiyar pun langsung ikut sibuk, dan tampaknya ia bertanggungjawab pada segala sesuatu yang berhubungan dengan sound system dan musik.
Di belakang rumah ada sebuah halaman luas dan sebuah panggung sederhana tanpa hiasan. Di kiri-kanan panggung ada beberapa speaker, bersebelahan dengan tiang-tiang lampu sangat terang. Panggung dan daerah dalam radius 3 meter berada dalam gemilang cahaya yang menghapus kelam malam. Beberapa serangga malam mulai berkumpul di sekitar lampu, sebagian bahkan sudah hangus terbakar.
Di depan panggung, yakni bagian yang menghadap belakang rumah, ada sederet kursi. Ke sanalah kini Rien dan Kino menuju. Setelah melepaskan kebaya dan menyerahkannya ke salah seorang anakbuah, perempuan cantik itu kini hanya memakai semacam vest satin yang tidak menyembunyikan bahunya yang indah.
Sambil lalu, ia melepaskan pula jepitan rambutnya, membiarkan rambutnya tergerai lepas semakin bebas. Ia lalu duduk di salah satu kursi, menepuk kursi sebelahnya untuk Kino, dan meraih sebuah megaphone kecil berwarna merah.
Tiyar sudah menuju pojok kanan panggung, ditemani dua pria kekar yang cuma memakai celana pendek dan kaos lusuh. Pemuda itu sudah melepaskan jasnya, dan kini asyik dengan seperangkat amplifier dan sound-mixer.
Rien menyetel volume megaphone, dan sebentar kemudian terdengar suaranya yang nyaring berwibawa, “OK anak-anak … ayo kita mulai … act one!”
Tiyar mengangkat jempol tanpa mengangkat muka. Musik mengalun samar, dimulai dengan suara synthesizer bagai mengguyur suasana yang sejenak sepi. Lalu ada suara dentang, seperti suara xylophone bergabung dengan genta dan gender gamelan. Sesekali ada suara gendang kulit, bertalu tegas memberi ritme di sana-sini.
Rien tampak serius, tidak melepaskan pandangannya dari panggung yang kini mulai diisi oleh tiga penari wanita, berjalan pelan dan menunduk menuju tengah. Tanpa mengalihkan muka, Rien berucap pelan kepada Kino, “Ini salah satu ciptaan favorit Mbak Rien … tentang wanita-wanita petani …”Kino ingin menyela, menanyakan kenapa mereka berjalan menunduk, tetapi tak berani mengganggu konsentrasi.
Lalu musik berubah riang. Ketiga penari mulai bergerak dinamis. Kino melihat gabungan antara gerakan-gerakan bahu penari Bali dan gerakan-gerakan tangan serta kaki dari balet modern.
“Ceritanya, mereka sedang bersiap menuju ladang …,” ucap Rien menjelaskan,
“Lihat, mereka tampak bergairah, bukan?” Kino mengangguk, tapi tentu saja Rien tidak melihatnya. Rien berbicara lewat megaphone,”Kurang gesit, Peppy … kaki kamu kurang gesit!” Penari yang dipanggil Peppy, yang berada di tengah, sejenak melirik lalu mempercepat gerakan kakinya.”Bukan kurang cepat!” sergah Rien keras,”Kurang gesit … kurang banyak gerakan!”
Peppy mengernyitkan kening, agaknya ingin protes tetapi tidak berani. Ia memperbanyak gerakan kakinya, dan Rien menggerutu, “Kamu kurang menyimak .. kebanyakan pacaran.”Penari yang lain tampak menahan senyum.
Peppy cemberut, tetapi kini gerakannya memang tampak lebih gesit. Musik tambah bergairah. Tiga penari pria masuk, melenggang tetapi tidak santai, melainkan agak sedikit menyerupai gerakan robot.
“Nah .. ini petani pria … melambangkan mekanisasi di bidang pertanian,” ucap Rien kepada Kino. Lalu ke arah panggung, Rien kembali memberi perintah lewat megaphone,”Andre dan Tungki kurang kaku … kayak bencong!” Semua penari menahan senyum, tetapi terus bergerak dalam alunan tari yang –setidaknya menurut Kino– sudah sangat bagus.
Tetapi Rien selalu melihat ada saja yang kurang. Perempuan cantik itu terus memberikan instruksi, kadang-kadang terdengar ceriwis, tetapi lebih banyak berupaya memberi motivasi. Para penari tampak sudah terbiasa dibentak dan disindir; bahkan berkesan acuh-tak-acuh.
Sepanjang latihan, Rien bercerita tentang ciptaannya. Kino tak terlalu mengerti, tetapi toh ia bisa menikmati tarian-tarian di panggung. Pada umumnya, tarian itu dinamik sekali.
Gerakan-gerakannya penuh energi, selain juga penuh gerakan yang menegaskan keindahan tubuh pria maupun wanita. Di sana-sini ada gerakan sensual, yang bagi Kino berkesan agak kebarat-baratan.
Terutama gerakan mengangkat kaki oleh penari perempuan, dan berdiri dengan kaki terentang lebar serta lutut menekuk. Mana mungkin petani Indonesia bertingkah begitu, bisik Kino dalam hati.
Seperti yang telah diduga Tiyar ketika masih di mobil, Rien terlalu sibuk untuk mengobrol dengan Kino. Ia sangat serius, menumpahkan seluruh perhatiannya ke anak-anak buahnya. Sering pula ia menghentikan keseluruhan tarian, naik ke atas panggung dan memberi contoh gerakan-gerakan yang ia inginkan, sebelum menyuruh ulang bagian yang tadi terinterupsi.
Ketika Rien sedang ada di panggung, Tiyar tahu-tahu sudah berada di belakang kursi Kino, menepuk pundaknya.”Hei .. kamu ngga haus?” ujarnya ringan. Kino mengatakan ya, memang ia agak haus.”C’mon … ikut saya. Tinggalkan saja si Rien ..,” kata pemuda ganteng-gondrong itu sambil berjalan ke arah rumah. Kino tak punya pilihan lain selain ikut.
Mereka menuju sebuah ruangan yang tampaknya memang ditata untuk sebuah bar kecil. Ada meja tinggi di pojok ruangan, lengkap dengan beberapa rak untuk aneka minuman keras.”Bir dingin?” tanya Tiyar sambil menuju sebuah lemari es besar.”Kalau ada soft drink.. boleh juga,” jawab Kino, tak terlalu ingin minum alkohol.”
Anak kampus baik-baik …,” gumam Tiyar. Kino tertawa kecil,”Aku tidak terlalu suka alkohol.””Nih .. tangkap,” ucap Tiyar sambil langsung melayangkan sekaleng Coca-Cola. Untung Kino cukup sigap untuk menangkapnya.
Untuknya sendiri, Tiyar memilih sebotol bir ukuran sedang. Dengan cekatan ia membuka tutupnya, lalu langsung meneguk tanpa gelas sambil duduk di salah satu kursi tinggi di depan bar. Kino ikut duduk di sebelahnya, merasakan bahwa pemuda pacar Mbak Rien ini sangat rileks dan mudah diajak berkawan.
Kino suka kepada orang semacam dia; tak terlalu formal, tak terlalu pedulian kepada statusnya. Padahal, menurut koran atau majalah, Tiyar adalah salah seorang tokoh muda di bidang musik ibukota.
“Kamu suka lihat tarian Rien?” tanya Tiyar sambil lalu.
“Tidak,” jawab Kino terus terang. Tiyar tertawa terbahak.
“Aku juga tidak .. tetapi banyak orang yang suka,” katanya sambil menyorongkan semangkuk kacang goreng ke dekat Kino.”Aku lebih suka musik,” kata Kino.
“Bagus,” kata Tiyar sambil tersenyum,”Asal jangan bilang begitu karena di depanku.”
“Memang aku lebih senang musik, terutama country rock,” kata Kino sambil meraih kacang.
“Pasti kamu suka camping juga, kan?” tebak Tiyar dengan jitu. Kino mengiyakan,”Memang biasanya musik semacam itu disukai pencinta alam.””Ah .. kalian memang suka mengada-ada,” sergah Tiyar,”Aku juga mencintai alam, tetapi aku tidak suka musik semacam itu. Terlalu sederhana!”Kino tersenyum. Dalam banyak hal, Tiyar menyerupai Obenk Sang Troubador : terbuka, tanpa tedeng aling-aling. Mungkin semua seniman begitu, pikir Kino.
“Aku juga suka jazz-rock,” ucap Kino karena tahu Tiyar memimpin sebuah kelompok jazz-rock terkenal.”Tetapi kamu ngga terlalu suka, kan?” sambar Tiyar sambil meneguk bir yang kini cuma tinggal setengah botol, “Banyak orang suka musik itu, tetapi tidak terlalu mendalaminya.
Sehingga biasanya cepat bosan.” “Aku suka iramanya yang riang,” sela Kino tak terlalu peduli kepada sindiran Tiyar.”Nah .. itu contohnya!” sambar Tiyar,”Padahal jazz-rock banyak mengungkapkan kegetiran, bukan keriangan.”
Kino tertawa,”Oh, ya ? Selama ini aku menyangka itu musik yang riang … ” Tiyar menggerutu,”Jazz justru adalah musik getir yang berasal dari orang kulit hitam yang tertindas di Amerika .. sedangkan rock adalah musik pemberontak generasi yang kecewa … Keduanya tidak riang sama sekali!” Tiyar turun dari kursinya, menuju seperangkat sound system dan menyetel sebuah kaset.
Musik jazz-rock langsung memenuhi ruangan.”Let me explain to you, young man …,” katanya sambil kembali ke tempat duduk.
Kino tertawa mendengar kata “young man” .. padahal mungkin usia mereka tak terlalu jauh terpaut. Tetapi Kino memberikan perhatian sepenuhnya kepada apa yang kemudian dijelaskan oleh Tiyar. Lagipula, ternyata Tiyar memang pandai memberi penjelasan, dan Kino berkesimpulan bahwa musisi ini bukan cuma punya bakat tetapi juga punya otak.
Untuk beberapa lama, Tiyar mendominasi percakapan, menjelaskan seluk-beluk kelahiran jazz yang menarik itu. Ia juga menjelaskan apa bedanya rock dengan jazz, walaupun bagi Kino perbedaan itu tak begitu penting. Keduanya adalah musik yang ekspresif.
Kino mencoba mengatakan bahwa country-rock juga ekspresif, tetapi Tiyar menampiknya dan mengatakan bahwa musik yang dimaksud oleh Kino itu lebih mengandalkan lirik daripada bunyi. Benar juga ! pikir Kino sambil teringat Obenk Sang Troubador dan lirik-lirik lagunya yang provokatif.
Lancar sekali percakapan antara keduanya berkembang. Tiyar suka sekali bicara tentang musik, dan Kino adalah teman berbincang yang menarik baginya. Terutama karena bagi Tiyar, pemuda “desa” di depannya ini ternyata punya cukup banyak pengetahuan; tidak hanya menelan mentah-mentah penjelasannya tentang jazz-rock, melainkan juga mendebat di sana-sini.
Memang ada saja ucapan Kino yang menunjukkan ketidak-tahuan mendasar tentang sejarah dan konteks musik, tetapi Tiyar diam-diam kagum kepada keberanian pemuda itu untuk berdebat dan mengakui ketidak-mengertiannya.
Sedangkan bagi Kino, Tiyar adalah seseorang yang sama sekali berbeda dengan teman-teman yang selama ini dikenalnya. Dalam banyak hal, bagi Kino, musisi pacar Mba Rien ini mirip dengan Obenk, sehingga tidak terlalu asing. Kino sudah mulai memahami keeksentrikan pikiran orang-orang di bidang seni.
Tetapi, berbeda dengan Obenk yang terlalu radikal dan acuh-tak-acuh, Tiyar menunjukkan keramahan yang tidak dibuat-buat. Sebelumnya, Kino sempat kuatir pada perilaku orang-orang terkenal pada umumnya. Ia tadinya berpikir, Tiyar adalah pemuda elit, ganteng, dan sombong karena sudah menjadi celebrity.
Ternyata semua praduga itu tak beralasan; Tiyar betul-betul tidak seperti celebrity yang jual-mahal. Walaupun, pikir Kino lagi, mungkin saja dia begitu karena aku mengenal Mba Rien dengan baik. Barangkali kalau aku bukan siapa-siapa, sikap Tiyar akan lain. Tetapi, pikiran seperti ini segera pula ia buang jauh-jauh.
Percakapan menjadi tak hanya lancar tetapi juga dinamik. Suara tawa keduanya kadang-kadang terdengar meningkahi. Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 00.30. Suara musik di halaman belakang sudah mereda, bahkan lalu berhenti sama sekali.
Rien tiba-tiba muncul, langsung merangkul Tiyar dan menyergah ke arah Kino, “Hei … kenapa ninggalin Mbak Rien sendirian!””Dia yang menculik ..,” sahut Kino sambil melirik ke Tiyar.
Rien tertawa renyai, meraih botol bir dari tangan Tiyar dan langsung meneguk isinya. Itu adalah botol ketiga yang diminum Tiyar, tetapi pemuda itu tampaknya masih biasa-biasa saja. Kino sudah menerima tawaran bir dari pemuda itu, tapi bahkan belum menghabiskan setengah isinya.
“Kamu nginep di sini saja, ya Kino ..,” kata Rien sambil menghapus keringat dari lehernya yang jenjang. Tiyar memeluk mesra pinggang kekasihnya, menciumi lehernya yang masih berkeringat.”Aku harus pulang ke B besok pagi, Mbak ..,” ucap Kino menolak halus.
“Apakah harus besok?” sergah Rien sambil menggelinjang karena Tiyar mencium pundaknya yang terbuka.”Tidak harus, sih ..,” jawab Kino, “Tetapi kamar hotel memang cuma dibayar sampai besok.””Ya sudah ..,” sela Rien mengambil keputusan secepat kilat, “Sekarang kamu ambil pakaian mu, pindah ke sini saja … Besok Mbak Rien ajak ke general rehearsal di Gedung Kesenian. Ada kamar tamu yang bisa kamu tinggali.”
“Tapi ..,” Kino berpikir keras tentang apa alasan yang musti diajukan. Ia tidak punya alasan! Jadwal kursusnya masih tiga hari lagi.
“Ngga ada tapi-tapian ..,” sergah Rien sambil tertawa renyah, “Ayo … kamu minta antar Mang Soleh ke hotel!” Perempuan cantik itu lalu melepaskan diri dari pelukan kekasihnya, meraih tangan Kino dan menyeretnya ke beranda depan.”Aku harus telpon ibu semang di B … nanti dia khawatir,” kata Kino mencoba memberikan alasan.”
Telpon dari sini saja,” potong Rien, lalu berteriak ke sopirnya yang sedang menonton TV di ruang depan,”Mang Soleh .. tolong antar adik saya yang cakep ini ke hotelnya, terus bawa lagi ke sini!” Mang Soleh bangkit dengan patuh, lalu menuju ke luar sambil mengajak Kino,”Ayo …” Rien mengacak-acak rambut Kino,
“Sana … ambil pakaian kamu, dan nanti ke sini lagi. Setelah sampai, minta Mang Soleh mengantar kamu ke kamar tidur, yaa …” Lalu kepada Mang Soleh, wanita itu memberi perintah-perintah pendek,”Mang Soleh nanti antar dia, .. terus tolong bilang ke Inem untuk membereskan kamar tamu.”Mang Soleh mengangguk-angguk patuh. Kino tak bisa berkata apa-apa lagi.
******
“Anak baik …,” kata Tiyar setelah Rien kembali ke bar.
“Siapa? Si Kino?” tanya Rien sambil menjatuhkan diri ke pelukan kekasihnya, “Dia memang baik … “”Kenapa kamu ngga pernah cerita tentang dia sebelumnya?” tanya Tiyar menyelidik.
Rien menyembunyikan wajahnya di leher Tiyar, menggumam manja,”Karena kamu ngga pernah tanya …” Tiyar menggerutu,”Bagaimana aku bisa bertanya tentang sesuatu yang tidak aku ketahui?” Rien tertawa, menggigit leher Tiyar,”Salah kamu sendiri, kenapa ngga tahu … “”Siapa sih dia?” desak Tiyar.
Rien merangkul leher kekasihnya, menciumi dagunya yang kokoh dan harum, “Dia bagian dari masa lampauku, honey … dan tidak semua masa lampau harus aku ceritakan, karena it has nothing to do with you …”
“Apa hubungannya dengan Alma yang pernikahannya kita hadiri tadi?” tanya Tiyar tidak mau menyerah begitu saja.”Alma datang dari kota yang sama, my dear … I’ve told you that … Sedangkan Kino adalah pacar Alma waktu mereka sama-sama di SMA dulu,” kata Rien sambil lagi-lagi menciumi dagu kekasihnya. Seorang penari pria muncul,
“Sorry mengganggu boss, … kami mau permisi pulang supaya besok bisa bangun pagi.”
“Iya .. Rino ganteng,” sahut Rien tanpa mengangkat muka dari pelukan kekasihnya, “Makasih yaa …, bilang sama teman-teman kamu yang lain. Besok jangan sampai terlambat.”
“Okay, boss … selamat malam!” sahut Rino. Beberapa penari perempuan muncul di belakang Rino, berteriak hampir berbarengan,”Mba Rien .. kami pulang dulu.” Tiyar menggerutu keras,
“Orang lagi pacaran kok diganggu sih …” Para penari itu cekikikan, salah seorangnya membalas canda Tiyar,”Salah sendiri, kenapa pacaran di tempat umum …””Eh … Astri sudah bisa ngeledek, yaa .. ” sergah Rien, lagi-lagi tanpa mengangkat muka.
Ia sudah kenal semua suara dari ke-25 penari utama. Astri tertawa,”Bye mba Rien .. selamat pacaran!” Lalu mereka semua hilang ditelan malam, meninggalkan Tiyar dan Rien sendirian di bar. Dua orang pembantu terdengar sibuk mengunci pintu-pintu dan mematikan lampu di halaman belakang.
Tiyar meraih pinggang Rien, dan sekali angkat ia meletakkan wanita molek itu di pangkuannya. Rien menggumam manja, mengangkangkan kakinya untuk memeluk pinggang kekasihnya.
“Jadi … Alma dan Kino itu adalah bagian dari masa lalu kamu …,” kata Tiyar melanjutkan diskusi yang terputus.”Take me to bed, darling …” bisik Rien tak mempedulikan ucapan kekasihnya.”Cerita dulu, dong .. siapa mereka.” desak Tiyar.”Ngga mau … aku capek ngomong dari tadi.” bantah Rien.”Alasan …,” gerutu Tiyar.”Bener … aku capek ngomong.
Sekarang maunya di-kelonin,” kata Rien sambil tertawa manja. Tiyar mengangkat dagu Rien dengan ringan, langsung melumat bibir menggairahkan yang ceriwis itu.”Mmmmmm …” erang halus menyeruak dari mulut wanita yang kini memejamkan matanya.
Bagi Rien, waktu-waktu seperti ini, seusai rehearsal yang meletihkan secara fisik maupun batin, Tiyar adalah tumpuan hatinya. Wanita itu selalu merasa ingin dimanja dan dibelai dan disayang dan dicumbu pada saat-saat seperti ini.
Dengan gairah yang tak melupakan kelembutan-kasih, Rien membuka mulutnya, mengajak lidah kekasihnya untuk bermain-main dalam pergulatan yang memercikkan bara-bara birahi.Tiyar melayaninya. Tiyar suka melayani kekasih dan pujaannya ini.
Dengan tangannya yang kukuh, ia rengkuh tubuh molek di pangkuannya. Ia henyakkan tubuh kenyal-sintal itu ke seluruh bidang-tegar badannya. Rien pun mengerang manja-pasrah, merasakan pelukan itu sekaligus sebagai pijatan sensual pelepas lelah.
Ciuman mereka tambah bergairah. Rien merangkul leher pemuda kesayangannya, membiarkan bibirnya dilumat habis, terkadang kasar terkadang lembut. Membiarkan seluruh rongga mulutnya yang harum, basah, hangat dan lembut itu dijelajahi oleh lidah nakal yang pandai membangkitkan selera.
Nafas keduanya mulai memburu. Pusat-pusat sensasi di seluruh tubuh Rien seperti simpul-simpul elektronik yang mulai berpijar. Rasa geli-gatal yang nikmat mulai muncul di sana-sini, meminta perhatian dan menagih remasan-remasan.
“Take me to bed, darling …” bisik Rien terengah-engah di antara lumatan kekasihnya.Tak menunggu permintaan berikutnya, Tiyar membopong Rien dengan ringan. Melangkah cepat ke kamar utama, mendorong pintu terbuka dengan satu kakinya, menyelinap masuk dan menutup pintu dengan kaki yang sama.
Pelan-pelan Tiyar meletakkan tubuh molek Rien di ranjang. Rok panjangnya tersingkap di sana-sini, wanita itu menggeliat sensual, menunggu tahap-tahap selanjutnya. Ia suka memasrahkan dirinya, setelah tadi bertindak sebagai boss yang penuh perintah dan instruksi. Kini, menggeletak mewah di ranjang, ia ingin menjadi obyek dari kekasihnya. Ia ingin pasrah diberlakukan begini-begitu …
Tiyar pun memahami kebutuhan itu. Dengan tenang dan penuh percaya diri, pemuda itu menelanjangi kekasihnya satu demi satu. Setiap kali selembar penutup tubuhnya terbuka, Tiyar menciumi bagian tubuh Rien yang kini terpampang.
Setelah membuka vest dan sebelum membuka beha, Tiyar menenggelamkan seluruh wajahnya, menghela keharuman tubuh Rien yang tersembunyi di sela-sela bukit dadanya, di pangkal lengannya, di sekujur depan perutnya yang halus. Rien mengerang, menggeliat, menggumam … Oooooooh.
Setelah beha terkelupas-lepas, Tiyar menciumi puncak-puncak payudara yang mencuat seperti menantang perang. Dengan ujung lidahnya yang cekatan, ia menebarkan rasa geli yang menggelisahkan ke puting-puting coklat yang tegak meminta perhatian.
Rien mengerang lebih keras, menyorongkan dadanya ke depan, menggeliat-geliat menyatakan kegelisahannya. Tiyar menangkap salah satu puncak gairah itu dengan mulutnya yang hangat. Rien menjerit kecil, merasakan sebagian dari jiwanya seperti tersedot ke sana.
Lalu Tiyar membuka rok, dan menciumi paha mulus yang segera terpampang bagai dua pilar pualam dari patung karya maestro Italia itu. Dengan segera ia menggelincirkan ciuman dari lutut ke arah pangkal paha, menyebabkan Rien semakin ingin membuka diri, mempertontonkan dengan terus terang keinginan-keinginannya yang liar-hewani.
Kedua tangan wanita yang selalu ekspresif dalam tarian-tariannya itu kini mencengkram seprai, meremas gemas setiap kali ciuman Tiyar turun semakin mendekati lembah yang sekarang cuma berlapis sehelai celana-dalam nilon tipis menerawang.Angin malam di luar terdengar berkesiut ….Dengan kedua tangannya, Tiyar menarik turun celana dalam yang tak berdaya itu.
“Mmmmmm …,” Rien mengerang penuh antisipasi.
Tanpa harus melepaskan celana itu sama sekali, Tiyar melanjutkan perjalanan ciuman-kecupannya ke wilayah yang kini menebarkan aroma seksual wanita yang bergairah. Paha Rien agak berkeringat, tetapi justru memberikan aroma menggairahkan bercampur wangi sabun mandi dan lotion. Perjalanan bibir Tiyar membias-binarkan aliran kenikmatan, seperti sungai kecil yang mengalir dari hulu menuju muara pelepasan.
“Aaah!” Rien menjerit kecil ketika akhirnya Tiyar mengecup ringan sebuah sudut tersembunyi di balik rambut-rambut halus yang harum oleh deodoran khusus itu.Angin malam terdengar lagi, berkesiut dan menggemerisikkan dedaunan …
Permainan cinta yang mengandalkan lidah Tiyar yang menyelinap dan menjilat tangkas itu kini menjadi bagian integral dari malam yang telah usai. Perjalanan Rien menuju puncak sensasi sedang berlangsung, pada saat Sang Pagi sedang memulai hitungan pertamanya.
*******
Sementara itu mobil sedan yang ditumpangi Kino tiba di hotel 15 menit dari keberangkatannya.
“Saya musti berbenah dulu, Mang Soleh ..,” jelas Kino sebelum turun dari mobil,
“Mang Soleh mau minum kopi di lobby?” Mang Soleh yang pendiam itu tersenyum,
“Jangan repot-repot, den Kino … saya tunggu di mobil saja.” Kino merasa tidak enak, maka ia mendesak,”Tapi saya perlu waktu, Mang … masih harus check-out segala.
Ayo, deh, saya pesankan kopi.”Mang Soleh tersenyum lagi, ia sebetulnya tidak suka berpura-pura tidak mengantuk, tetapi statusnya sebagai supir menyebabkan ia merasa perlu berbasa-basi. Ketika Kino mendesak terus, akhirnya ia setuju ikut ke lobby. Kino menghela nafas lega. Kepada pelayan hotel yang kini sudah sepi itu, Kino memesan kopi. Lalu ia naik ke kamarnya.
Sengaja Kino bersantai-santai membereskan pakaian dan memasukkannya ke tas. Ia ingin memberi waktu cukup bagi Mang Soleh untuk menikmati kopinya. Selain itu, ia juga merasa agak gerah. Udara Jakarta terlalu panas baginya yang biasa diselimuti kesejukan kota B. Maka Kino memutuskan untuk mandi cepat-cepat di bawah shower.
Barulah, setelah 20 menit silam, Kino turun menuju front office. Petugas hotel tampak mengantuk, dan sempat salah mengeluarkan bon ongkos hotel. Setelah minta maaf, petugas itu mengeluarkan bon yang tercatat untuk kamar Kino. Ia membaca sejenak, lalu tersenyum sopan dan berkata,”Tidak ada yang perlu dibayar, semuanya dalam tanggungan Tuan Ridwan..” Kino yang sudah mengeluarkan dompet merasa perlu meminta klarifikasi,
“Saya pikir hanya gratis untuk kamar, sedangkan makan malam dan minuman harus saya bayar.” Petugas hotel melihat lagi catatan di bon secara sekilas, lalu berucap pasti,”Tidak .. semuanya sudah dibayar atas namA Tuan Ridwan.””Wah .. kalau begitu, terimakasih banyak atas layanannya yang bagus!” kata Kino sungguh-sungguh. Petugas hotel mengangguk sopan,
“Terimakasih kembali. Kami senang melayani Anda ..” Kino meninggalkan hotel 45 menit setelah keberangkatannya dari sanggar sekaligus rumah Mba Rien.
******
Tanpa sengaja, Kino memberikan kesempatan kepada Rien untuk menikmati orgasme pertamanya sebelum wanita itu mendengar suara ban mobil mencercah kerikil … Baru saja wanita itu meregang untuk terakhir kalinya setelah Tiyar menyedot-nyedot, menggigit-gigit kecil, bagian-bagian sensitif di kewanitaannya. Walau samar-samar karena telinganya dipenuhi suara degup jantungnya sendiri, Rien masih bisa mendengar suara mobil memasuki halaman.
“Itu Kino datang … ” bisik Rien, masih terengah-engah dalam gelimang denyut nikmat yang tersebar dari episentrum seksual di selangkangannya ke seluruh tubuh yang kini mulai basah oleh keringat tipis.Tiyar sedang membuka celana dalamnya, tersenyum mendengar kepedulian Rien di tengah keasyikan foreplay mereka.
“Kamu tidak perlu menyambutnya, kan?” bisik Tiyar sambil memeluk dan menciumi leher kekasihnya. Kejantanannya yang telah menegar kini memberikan sentuhan ketegasan di perut Rien yang naik-turun dengan ramainya. Rien tertawa kecil, lalu mengerang manja, memberikan jawaban yang lebih dari cukup kepada pertanyaan Tiyar.
“Aahh ..,” Rien mendesah,
“Jangan berhenti, Tiyar …. hmmmmmmm … biar saja Kino ke kamarnya …. Oooooh … aaaah..” bisik Rien terengah-engah. Susah sekali bagi Rien untuk bicara, karena kini Tiyar meremas dadanya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain membuka pahanya. Sambil mengulum salah satu puting payudara wanita molek itu, Tiyar memposisikan diri di antara kedua pahanya, kemudian ia mendorong penuh kepastian …
“Uuuuh ….,” Rien mengerang panjang, merasakan pusat kenikmatan yang masih berdenyut ramai di bawah sana terhujam oleh kepejalan-kekenyalan yang menjanjikan. Ia mengangkat kedua pahanya, memberikan akses dan keleluasaan. Tiyar mendorong lebih dalam, merasakan cengkraman lembut di sepanjang kejantanannya.
Dan itulah awal hujaman-hujaman yang selanjutnya. Awal dari sebuah pergulatan yang melahirkan kemanusiaan itu sendiri. Sebuah pergulatan yang ramai dan bergairah, membawa serta kegaduhan yang tertahan dari erangan dan jeritan-jeritan kecil, serta suara-suara sensual dari bertemunya dua seks dalam gelimang lendir-cinta.
“Terima kasih banyak Mang Soleh .. ” kata Kino sambil meletakkan tas pakaiannya di ranjang yang tampaknya baru saja dirapikan. Inem, pembantu rumahtangga utama Mba Rien muncul membawa handuk baru.
“Ini handuk untuk mas Kino ..,” kata pembantu setengah baya itu,
“Ibu Rien bilang, mas Kino istirahat saja, besok pagi saya bangunkan untuk sarapan…” Kino tersenyum, menggumamkan terimakasih. Ia mengeluarkan dompet untuk memberi sekedar uang rokok kepada Mang Soleh, tetapi pria tua itu sudah tak tampak lagi.
Kamar tamu tempat Kino menginap terletak di bagian depan rumah, terbatas oleh bar dan ruang tamu. Ada kamar mandi kecil, persis seperti kamar di hotelnya. Sambil berganti baju untuk tidur, Kino mengedarkan pandangan.
Hmmm … rapi dan asri sekali kamar ini, pikir Kino. Ada sebuah poster tarian Rien terpampang di tembok. Kino membaca tulisan di poster itu, menyadari betapa Mba Rien kini adalah salah satu tokoh ternama di bidang tarian modern.
Kino lalu bersiap tidur, karena memang ia merasa sangat letih dan mengantuk. Tidak lama setelah ia merebahkan kepalanya di bantal, pemuda itu sudah tenggelam di alam mimpi.
Bersambung…
Keesokan harinya, setelah sarapan lumayan besar (semangkuk bubur kacang ijo, secangkir teh manis, dan sepotong pisang rebus), Kino tak punya pilihan lain selain ikut Rien dan Tiyar menuju gedung kesenian untuk final rehearsal. Di meja makan Tiyar masih tampak mengantuk walaupun pria itu sudah menenggak satu gelas besar kopi.
Mbak Rien, sebaliknya, tampak sangat cerah dan penuh binar semangat. Cerewet-nya juga sudah dimulai sejak pagi, memberondong Kino dengan pertanyaan tentang apakah tidurnya nyaman, apakah istirahatnya cukup, apakah Inem sudah menyiapkan kamar mandi, apakah sarapannya cukup … dan seterusnya, dan sebagainya.
“Kamu tidak perlu memberitahu ibu semang di B, supaya dia ngga kuatir?” sergah Rien sambil meneguk pure tomato juice-nya (cuma itu sarapannya). Kino mengangguk saja, karena mulutnya masih sibuk mengunyah pisang rebus.
“Sana .. pakai telpon di ruang tengah,” sambung Rien, setengah memerintah. Kino mengangguk lagi.
“Kamu ngga ada acara lain, kan?” cecar Rien; Kino mengomel dalam hati: sudah aku bilang ‘tidak’ tadi malam, kenapa masih tanya lagi? Kino menggeleng, meraih cangkir teh dan buru-buru mendorong pisang masuk ke perut.
“Hari ini mbak Rien akan sibuk sekali, tetapi mbak ingin kamu ikut ke gedung kesenian,” kata Rien sambung-menyambung, Kino berucap dalam hati: ya … ya … ya …
“Tadi malam terpikir sama mbak Rien, kalau kamu suka seni rancang-merancang, mungkin kamu bisa kasih komentar tentang setting panggung,” ujar Rien lancar seperti mobil di jalan bebas-hambatan. Ya … ya … ya, kata Kino dalam hati.
“Kata Tiyar, kamu juga suka musik,” sambung Rien,
“Siapa tahu kamu bisa kasih saran …”
Kino tersenyum saja. Tiyar menguap, lalu menyela,
“Kamu cerewet banget sih, pagi-pagi ..” Kino tertawa kecil mendengar komentar pria yang rambutnya masih acak-acakan itu.. Rien mencibir dan mencubit paha kekasihnya. Tiyar mengaduh, kopi nyaris tumpah. Inem yang sedang meletakkan tambahan pasokan pisang rebus menjerit latah,
“Eh .. tombol .. eh, to-ol,.. eh .. botol …” Kino terbahak mendengar Inem berjuang untuk tidak mengucapkan kata jorok. Tiyar menggeleng-geleng sambil berdecak. Rien menghardik,
“Husy! .. Bi Inem jangan ngomong jorok!”
“Eh … tidak, tuan putri .. Eh … bi Inem cuman kaget … Eh .. botol, .. eh to-ol … eh …,” sahut Inem tergagap-gagap.
Kino hampir tersedak karena tertawa. Tiyar acuh-tak-acuh melanjutkan minum kopi. Rien ikut tertawa, lalu menepuk bokong Inem penuh canda. Seketika latah perempuan setengah baya itu hilang.
******
Mereka tiba di gedung kesenian setengah jam kemudian. Rien dan Tiyar langsung menuju belakang panggung, sementara Kino ke depan panggung. Setelah sejenak mengedarkan pandangan ke interior gedung (Kino mengagumi tembok dengan lapisan khusus untuk sound-proof), pemuda itu duduk di baris keempat dari bibir panggung.
Layar berwarna merah tua yang tampak tebal dan berat, lengkap dengan rimpel-rimpel selayaknya layar panggung di mana-mana, masih tertutup. Menengok ke belakang, Kino melihat lubang-lubang tempat proyektor (rupanya, ini juga berfungsi sebagai bioskop, pikir pemuda itu).
Juga ada beberapa lubang lain, dan Kino sadar bahwa itu adalah untuk lampu-lampu sorot. Ada balkon di belakang dan di kiri-kanan, pasti karena mengikuti gaya gedung-gedung opera di Eropa, pikir Kino sambil mengagumi langit-langit yang tinggi sehingga ruangan tidak terlalu panas.
Terdengar suara orang bercakap-cakap dan masuk dari pintu samping. Kino menengok dan melihat serombongan pria dan wanita masuk sambil berbincang-bincang. Mereka juga menengok sejenak ke arah Kino tetapi lalu sibuk lagi berbincang-bincang sambil menuju kursi di baris paling depan.
Seorang dari pria-pria itu membawa seperangkat alat foto yang tergantung berat di bahunya. Seorang wanita bercelana jeans dan berkaos tanpa lengan juga membawa tustel, tetapi tidak selengkap yang pria. Anggota rombongan yang lainnya tidak membawa apa-apa.
Tiba-tiba kepala Rien muncul dari sisi kiri layar di atas panggung. Rombongan itu langsung berhenti berbincang-bincang. Sebagian melambaikan tangan ke arah Rien. Pria yang membawa tustel berteriak,
“Hallo mbak … Sibuk, nih?!” Rien cuma tersenyum manis dan balas melambai. Lalu ke arah Kino, perempuan cantik itu berseru,
“Sini .. sebentar.” Kino bangkit dari duduknya, melangkah ke panggung, dan melihat dari sudut mata ke arah rombongan yang kini memperhatikan setiap langkah pemuda itu. Walau tidak mendengar apa-apa, Kino tahu beberapa di antara rombongan itu pasti bertanya-tanya, siapa gerangan anak muda ini. Kino naik lewat tangga di sisi panggung, agak gamang berdiri di atas lantai kayu yang agak berdebu. Rien tersenyum manis,
“Kamu oke-oke saja?” Kino mengangguk, dan Rien berkata lagi, cukup pelan untuk hanya didengar oleh Kino,
“Sebentar lagi kita akan mulai … Kalau haus kamu bisa ambil minum di belakang panggung .. Mbak sudah bilang ke pengurus gedung bahwa kamu adalah anak-buah mbak Rien …”
Kino tersenyum mendengar penjelasan si boss. Lalu Rien berbisik sambil melirik ke bawah panggung,
“Itu rombongan wartawan … Kalau mereka tanya-tanya, kamu bilang saja ngga tahu apa-apa… Okay?”
“Memangnya ada apa?” tanya Kino polos. Rien tersenyum sabar,
“Udah deh .. jangan banyak tanya dulu. Pokoknya nurut sama mbak. Okay?”
“OK boss,” jawab Kino walaupun hati-kecilnya justru semakin penasaran.
“That’s my boy,” kata Rien sambil tahu-tahu sudah mengacak-acak rambut Kino seperti biasanya. Untung rambut pemuda itu sudah dikeramas sehingga tidak mudah teracak-acak.
Lalu Mbak Rien mengatakan akan segera menyuruh anak buahnya untuk memulai pertunjukan, dan dia mungkin akan berada di ruangan belakang (tempat proyektor) untuk ikut mengatur lampu. Secepat munculnya, perempuan cantik yang bossy itu kembali menghilang di balik layar. Kino kembali ke tempat duduknya.
Rombongan yang tadi mengacuhkannya kini kembali memperhatikan langkah-langkah pemuda itu. Tidak enak juga rasanya, karena kini Kino tahu bahwa mereka adalah wartawan. Tetapi kenapa harus merasa tidak enak? tanya Kino dalam hati, tanpa bisa menjawabnya sendiri.
Sejenak setelah duduk, lampu interior meredup, lalu mati sama sekali. Bagus, pikir Kino, karena perubahan dari terang ke gelap berlangsung perlahan, sehingga mata penonton tidak sepenuhnya “buta” ketika interior gelap total. Panggung dan layarnya kini menjadi bagian yang paling jelas terlihat, walaupun tidak ada sinar sama sekali, kecuali dari tulisan “keluar” di atas setiap pintu.
Musik latarbelakang mulai terdengar. Tadinya Kino menyangka itu suara angin dari luar, atau suara lalulintas yang menyelinap masuk. Tetapi kemudian ia sadar bahwa pertunjukan akan dimulai. Bagus, pikir Kino lagi, musik memang perlu untuk membangkitkan suasana dan “memisahkan” penonton dari dunia sesungguhnya di luar.
Suara-suara dentang piano kini mulai jelas, ditingkahi gendang yang membawa suasana tradisional, dan denting gamelan yang memperkuat warna Indonesia. Hmmm … tukas Kino dalam hati …. sebetulnya ini bukan warna Indonesia, melainkan terlalu Jawa-sentris.
Tetapi, baru saja Kino ingin mencatat tentang ‘kelemahan’ ini untuk komentar nanti, terdengar suara seruling yang membawa nada-nada Sumatra. Ahh …. katanya dalam hati, … Tiyar rupanya tidak mau terlalu memihak ke satu suku.
Layar terbuka perlahan. Lampu hijau mulai disorotkan, mendominasi panggung, dan memberi penegasan kepada lukisan latarbelakang yang menampakkan suasana pedesaan. Hmmm … ucap Kino dalam hati … mbak Rien rupanya tidak bisa melepaskan diri dari latarbelakang dirinya: seorang putri desa.
Diam-diam Kino mulai memperhatikan secara lebih rinci, mencari-cari di lukisan besar itu, apakah ada bagian-bagian yang di-“impor” langsung dari desa kecil tempat mereka dulu mengawali segalanya?
Tetapi kemudian pemuda itu tersenyum sendiri dan mengumpat dalam hati: GR sekali kamu, menyangka bahwa apa yang terjadi denganmu adalah hal yang signifikan dalam tarian Rien Sang Maestro … !
Kino membuang pikirannya yang melantur ke masa lalu, berusaha berkonsentrasi ke apa yang kini ada di panggung. Penari-penari wanita muncul lebih dahulu.
Wah .. kini mereka tampil semakin cantik-semarak dengan kostum lengkap. Beda sekali dengan ketika latihan tadi malam. Kino tak bisa lagi mengenali siapa-siapa. Bukan saja karena ia baru sekali melihat mereka, tetapi juga karena make-up mereka cukup tebal.
Selagi para penari itu berdiri diam di tengah panggung, menunggu clue dari musik untuk memulai act one itulah, Kino merasakan ada suatu kejanggalan. Insting arsitekturalnya muncul begitu saja.
Aspirasi seni di dadanya tiba-tiba muncul, dan ia merasakan .. bukan melihat … ada sesuatu yang tidak cocok. Matanya berusaha mencari-cari sumber dari perasaan itu. Bulak-balik ia melihat ke penari, ke sekeliling panggung, ke latar belakang, ke atas, ke bawah ….
Penari mulai bergerak, musik semakin menegas, adegan mulai mengalir lancar. Kino masih belum menemukan di mana sumber kejanggalan yang ia rasakan.
Wah .. pikirnya dalam hati … mungkin karena aku terlalu memaksa diri untuk kritis, padahal aku tidak punya bekal untuk menjadi kritikus.
Mungkin karena mbak Rien tadi di meja makan menukas soal pendapatnya tentang panggung, padahal mungkin perempuan itu cuma basa-basi. Tapi .. ah, tidak … aku betul-betul merasakan ada yang tidak cocok. Tetapi di mana? Bagian mana?
Sampai adegan pertama usai, dan adegan kedua (ketika penari pria muncul dengan gerakan-gerakan mekanik mereka) mulai diperagakan, Kino masih berjuang dengan debat di kepalanya.
Tetapi sampai adegan kedua itu pun usai, dan layar diturunkan untuk persiapan adegan berikutnya, Kino masih belum bisa memastikan apa yang menjadi sumber kerisauannya. Sia-sia saja ia mencari-cari di gerakan penari, di tata panggung, di gambar latarbelakang …. semua tampaknya bagus-bagus saja.
Dua orang dari rombongan wartawan tampak memisahkan diri, dan tahu-tahu sudah duduk di sebelah Kino.
“Boleh duduk di sini, mas?” sapa seorang di antaranya, si wanita ber-jeans dan membawa tustel itu. Kino mengangguk ramah. Tentu saja mereka boleh duduk di mana mereka suka.
“Dari media massa mana, mas?” tanya teman si wanita, seorang pria yang memakai kemeja lengan panjang formal, tetapi tidak memasukkan kemejanya ke balik ikat pinggang.
“Saya bukan dari media massa,” jawab Kino.
“Ooooh …,” kata si wanita,
“Dari Sanggar Pelangi?” Kino menggeleng, dan berpikir cepat untuk mencari jawaban selanjutnya.
“Ooooh ..,” guman si pria. Lalu hening.
“Kenal mbak Rien di mana?” tukas si wanita. Wah .. dasar wartawan, pikir Kino.
“Kami satu kampung halaman,” jawab Kino cepat. Tidak tahu musti menjawab apa, selain itu.
“Ooooh ..,” guman si pria. Dia pintar bergumam, pikir Kino.
Adegan berikutnya segera dimulai. Kino berterimakasih karena para “pengganggunya” tahu diri dan berhenti bertanya, mengalihkan perhatian mereka ke atas panggung.
Pada adegan kelima, ketika penari-penari sedang memperagakan kegiatan menuai padi, barulah Kino menemukan kejanggalan itu. Ah .. tentu saja! Lukisan yang menjadi latarbelakang itu terlalu natural … terlalu mirip potret sawah … terlalu sempurna.
Padahal, gerakan tari, musik dan suasana keseluruhan yang dibangkitkan adegan-adegan di panggung itu adalah sesuatu yang kontemporer, terkadang abstrak, terkadang norak dan erotis. Lukisan latarbelakang yang tidak berganti-ganti sejak adegan pertama itu terlalu “resmi” untuk sebuah tarian yang kontemporer.
Mungkin latar seperti itu lebih cocok untuk panggung wayang orang .. atau panggung sandiwara 17-Agustus-an di kampung-kampung. Bukan untuk tarian modern !
Kino merasakan kepuasan memenuhi dadanya … akhirnya ia bisa memberikan kritik ke Mbak Rien. Tetapi, terlebih dari itu, Kino juga seperti menemukan-kembali dirinya yang sesungguhnya. Kenapa dia dulu memilih arsitektur?
Bukankah karena ada gairah seni rupa di dalam dirinya? Dia tidak suka tari-tarian … (kecuali kalau yang menari Mbak Rien, tentu saja!) … ia tidak terlalu suka musik, karena ia cuma sekedar mempunyai hobi main gitar.
Ia suka interior dan pemandangan alam. Ia suka manipulasi atas bentuk-bentuk fisik. Nah, itulah kesukaannya sesungguhnya seadanya !
Dalam hati pemuda itu menegaskan diri untuk segera menyampaikan kritiknya kepada Mbak Rien pada kesempatan jumpa pertama setelah rehearsal nanti. Adegan-adegan selanjutnya di panggung tiba-tiba menjadi kurang penting, dan kurang menarik.
Merasakan kerongkongannya kering, Kino lalu bangkit, permisi dengan sopan kepada dua orang di sebelahnya, dan berjalan dalam gelap menuju pintu keluar. Ia lalu berbelok ke arah belakang panggung, bertanya ke seorang satpam yang tampaknya sudah tahu siapa Kino, dan diantar ke sebuah ruangan yang ternyata adalah sebuah kamar besar dengan sebuah lemari es di salah satu pojoknya. Di kulkas yang berdengung lembut itulah Kino menemukan minuman kesukaannya.
Duduk sendirian di sebuah bangku plastik, pemuda itu melepas dahaga dalam diam. Suara musik dari panggung terdengar jelas sekali dari sini. Bahkan terlalu keras, karena memang ruangan belakang ini tidak dirancang dengan akustik yang memadai seperti ruang penonton.
Kino mengidarkan pandangan. Poster-poster tertempel di sekeliling dinding, menjadi semacam stempel bagi pertunjukan-pertunjukan kelas wahid yang pernah tampil di gedung kesenian ini. Beberapa poster menampilkan wajah Mbak Rien.
Bagian yang paling menarik dari wajah itu, yakni kedua matanya yang bersinar tajam tanpa harus menusuk kalbu, tampil sempurna dalam salah satu poster. Kino bangkit dari duduknya, mendekat ke arah poster itu dan memperhatikan secara lebih seksama.
“Cantik, ya?!” sebuah suara membuat Kino terkejut, nyaris saja menumpahkan minuman di botol yang digenggamnya.
“Sorry … aku bikin kamu kaget,” sambung si pemilik suara, yang ternyata adalah salah satu penari wanita.
“Tidak apa-apa,” sahut Kino cepat, tersenyum kikuk ke perempuan yang masih berkostum lengkap dengan peluh bersimbah nyata di leher dan sebagian bahunya.
“Minum dulu, sebelum adegan selanjutnya,” ucap si penari memberi penjelasan tanpa diminta sambil menuju kulkas. Aku tidak bertanya, begitu kata hati Kino, tetapi tentu saja bibirnya terkunci. Cuma bergumam saja.
“Kamu saudara-nya Mbak Rien, ya?” tanya penari itu tanpa menengok dari kesibukannya memilih minuman.
“Bukan. Saya tetangganya,” kata Kino, lalu menyebutkan nama kota tempat mereka berasal. Si penari telah menemukan minuman kegemarannya, memutar tubuh seperti layaknya penari balet di panggung, dan beseru riang,
“Oooh … dari kota itu ! Waduh,… aku suka tuh .. sama kota itu. Masih gimanaaa … gitu. Masih asri dan sejuk.” Komentar standar orang kota tentang desa, ucap Kino sinis dalam hati. Tetapi bibirnya tersenyum. Si penari berjalan mendekat. Kini keduanya berdiri dekat poster Mbak Rien yang tadi sedang diperhatikan oleh Kino.
“Kenapa tumben kamu ke sini. Aku belum pernah lihat kamu sebelumnya,” kata si penari dengan keceriwisan yang menyaingi boss-nya.
“Sibuk kuliah,” jawab Kino pendek.
“Wow .. anak kampus, nih!” sergah si ceriwis sambil membelalakkan kedua matanya yang penuh warna eye shadow panggung.
“Anak kampus, dan anak kampung,” sambung Kino tanpa bermaksud apa-apa, tetapi si ceriwis tergelak-gelak mendengar ucapannya.
“Terlalu merendah,” sergah si ceriwis setelah selesai tertawa.
“Apa peran kamu?” tanya Kino, merasa perlu gantian bertanya. Bosan menjadi serangan pertanyaan sejak pagi.
“Primadona,” sahut si ceriwis sambil tersenyum lebar, tetapi buru-buru ia menyambung, “Eh … ngga ding … Aku cuma penari biasa.”
“Merendah juga, nih?” sergah Kino balas menyerang. Si ceriwis tertawa dengan tawanya yang lepas itu,
“Ngga … aku memang cuma penari biasa, dibandingkan my amazing boss,” katanya sambil mengerling ke arah poster Mbak Rien.
“Tetapi kamu penari utama di karya Mbak Rien kali ini, kan?” tebak Kino, “Kalau tidak, mana mungkin kamu bisa ada di sini, enak-enak minum sementara yang lain sedang menari.” Si ceriwis tertawa lagi,
“Iya, deh … terserah kamu saja!” katanya, lalu ia meletakkan botol seenaknya di lantai, berjalan kembali ke pintu yang memisahkan panggung dengan ruang istirahat, dan melambai sambil berseru, “Udah yaa … aku mau mejeng lagi di panggung!”
Kino tersenyum melihat tingkahnya. Centil tapi percaya diri! sergah pemuda itu dalam hati. Lalu ia kembali memperhatikan poster Mba Rien, dan mengakui bahwa wajah di poster itu benar-benar photogenic.
******
Rehearsal tahap pertama usai ketika matahari sudah menjadi raja langit yang sesungguhnya. Panas Jakarta betul-betul membara ketika Kino setengah diseret oleh Mbak Rien yang mengajaknya makan siang.
Perjalanan menuju mobil terasa sangat jauh di bawah panggangan sang surya yang tampak murka. Tiyar tidak ikut, karena pemuda itu mau makan bersama-sama crew-nya di warung Padang dekat gedung kesenian.
Tetapi ada dua orang lain ikut makan dan nebeng mobil Mbak Rien, yaitu si ceriwis yang tadi bercanda dengan Kino di ruang istirahat, dan seorang penari pria yang gayanya sama saja. Bahkan si pria terkadang lebih kemayu dibandingkan rekan wanitanya.
Kino agak rikuh juga ketika si lemah-lembut yang bernama gagah Andy itu memandang dengan sorot mata aneh. Di mobil, Kino memilih duduk di sebelah supir, walau diprotes Mbak Rien. Alasan Kino, ia ingin melihat-lihat pemandangan dengan lebih jelas.
“Eh … sejak kapan kamu suka memandang Jakarta!” sergah Mbak Rien, tetapi ia juga berhenti memaksa.
Mobil meluncur cepat keluar halaman, tetapi berubah menjadi keong ketika sudah masuk jalanan yang penuh sesak oleh segala bentuk kendaraan. Beringsut pelan, mobil mewah yang interiornya sesejuk udara pegunungan itu berusaha keluar dari jebakan kemacetan.
Di belakang, Mbak Rien mendapat timpalan keceriwisan dari dua orang sekaligus. Kino sering tersenyum mendengar mereka berbicara seperti mitraliur dalam perang dunia: .. tret .. tet … tet …tet ..tet …tet … beruntun dan bersambung-sambung.
Apakah tidak mengganggu konsentrasi? pikir Kino sambil melirik ke sopir yang tampaknya acuh-tak-acuh; pasti sudah “kebal” mendengar celoteh majikannya.
“Gimana komentarmu, Kino!” tiba-tiba Mbak Rien berseru.
“Tentang apa?” tanya Kino, bersiap-siap memberikan komentar tentang latarbelakang panggung.
“Tentang Wanda dan Andi ini,” sahut Mbak Rien, membuat Kino agak kecewa. Ternyata bukan tentang latarbelakang panggung …
“Bagus,” jawab Kino pendek. Ia tidak punya komentar lain selain itu!
“Bagus apanya?” seru Mbak Rien, “Si Andi ini kayak orang kurang gizi menarinya. Si Wanda kelewatan centil, kayak cacing kepanasan.” Andi (yang sebetulnya gagah perkasa) tertawa mirip tawa perempuan, Wanda (si ceriwis itu) menggerutu manja. Kino tersenyum saja.
“Kamu memang ngga ngerti tari-tarian, kan?” desak Mbak Rien penuh godaan,
“Cuma senang nonton Mbak Rien nari … ” Kino merasakan mukanya bertambah panas, selain memang sinar mentari cukup kuat menerobos kaca-film di jendela mobil.
“Betul begitu, Kino?” si ceriwis Wanda ikut menggoda.
“Betul,” jawab Kino seadanya.
“Polos banget kamu,” sela Andi dengan suara dibuat-buat. Wah … Kino jadi tambah jengah.
Mbak Rien tertawa melihat Kino duduk gelisah di depan, lalu sambil memijat-sayang tengkuk pemuda itu, sang maestro berucap lembut,
“Memang Kino dari dulu sayang, kok, sama mbak Rien-nya …”
“Seberapa sayang?” desak Wanda, betul-betul menunjukkan ke-ceriwisan-nya.
“Husy! ” sergah Andi, suaranya persis Wanda,
“Jangan memancing gosip yaaa … ”
“Gosip apa?” tukas Mbak Rien,
“Kino itu adik saya yang paling saya sayangi. Ngerti ?!”
Wanda cekikikan. Andi menahan tawa. Sopir tenang-tenang saja. Jalanan masih macet alang-kepalang. Matahari seperti sedang mengamuk karena merasa orang-orang Jakarta tidak mempedulikan panasnya.
******
Restoran yang mereka kunjungi terletak di sebuah hotel bintang lima. Dengan santai Rien memeluk lengan Kino yang berjalan di sebelah kanannya. Di sebelah kiri Rien, si ceriwis Wanda menggamit lengan boss-nya menunjukkan kepada dunia bahwa dia adalah penari kesayangan Sanggar Pelangi.
Sementara si bencong Andi berlenggak-lenggok seperti merak di depan mereka. Harum semerbak datang dari parfum ketiganya, membuat Kino merasa sedang berjalan-jalan di taman bunga.
Sebuah meja tampaknya memang sudah disiapkan untuk rombongan Rien, dan pelayan restoran berdasi kupu-kupu itu tampak sangat ramah selayaknya orang yang memang sudah lama mengenal sang maestro.
Sebelum tiba di meja mereka, sepasang bintang yang Kino kenal lewat film di layar bioskop tampak melambai. Rien membalas lambaian itu. Belum lagi usai basa-basi antar bintang itu, dari salah satu pojok seorang pria melambai, dan Kino segera mengenalinya lagi sebagai salah seorang penyanyi rock terkenal.
Para pengunjung restoran yang lain ikut menengok dan memperhatikan Rien. Beberapa orang segera berbisik-bisik membicarakan entah apa saja yang berkaitan dengan bintang, baik bintang panggung maupun bintang layar putih.
Kini Kino tidak saja merasa sedang berjalan di taman bunga, tetapi juga sedang terbang di langit penuh bintang …
******
Makan siang itu sebenarnya tidaklah terlalu enak buat Kino, terlalu banyak daging dan kurang banyak rempah-rempah ( terutama kurang cabai dan terasi! ); tetapi Kino menikmati es-krim penutupnya yang sedap dan penuh coklat itu. Ia juga menikmati segelas ukuran-sedang bir dingin, yang ternyata memang cocok untuk suasana terik Jakarta !
Suasana makan siang itu sendiri juga terasa aneh bagi Kino. Sepanjang makan, Wanda dan Andy tak berhenti-hentinya bercanda, seakan hidup mereka cuma untuk bercanda. Sepanjang canda itu pula seringkali Kino mendengar istilah dan ungkapan yang tak ia kenal.
Terlebih lagi, banyak bagian-bagian dari canda itu yang sebetulnya tidak lucu, atau porno. Tetapi kenapa keduanya tertawa-tawa? Apakah memang demikian cara orang-orang panggung bercanda? Kino bertanya-tanya terus sambil mencoba menikmati steak yang empuk tapi agak hambar itu.
Lagi-lagi Mbak Rien mengerti apa yang berkecamuk di diri pemuda itu. Ia mencondongkan tubuhnya yang semerbak ke arah Kino, dan berbisik,
“Kamu ngga betah, ya?” Kino tersenyum, melirik ke arah Wanda dan Andy takut menyinggung perasaan mereka. Tetapi keduanya seperti tak peduli pada dunia sekeliling. Maka ia menggeleng jujur,
“Makanannya kurang cocok dengan selera saya; dan banyak pembicaraan mereka yang tidak saya mengerti.” Rien tersenyum lembut,
“Salah mbak Rien juga, sih … mengajak mereka ikut.” Kino merasa tidak enak,
“Eh .. bukan begitu, mbak. Memang saya belum terbiasa saja.”
“Don’t worry … Kamu ngga salah. Seharusnya kita makan berdua saja,” kata Rien lembut,
“Kita ngga lama-lama di sini. Habis makan es-krim bisa langsung kembali ke gedung kesenian.”
“Boleh tidak ikut?” tanya Kino terus-terang. Rien mengernyitkan dahinya,
“Kenapa? Kamu pasti bosan menonton tarianku, ya?” Kino tertawa kecil,
“Sudah saya bilang, saya ngga ngerti …” Rien ikut tertawa, lalu mengacak-acak rambut Kino sambil menghardik,
“Dasar anak kampus!”
“Tapi saya suka penataan cahaya dan musiknya,” ucap Kino cepat, melihat kesempatan untuk mengajak Mbak Rien berdiskusi tentang pikirannya. Rien berhenti menyuap, memberikan perhatian penuh ke pemuda itu,
“Betul? Apa-nya yang menarik?”
“Pencahayaannya canggih, dan bisa membantu menimbulkan suasana. Musiknya juga tepat untuk tarian modern.” jawab Kino.
“Bagaimana dengan dekorasi panggung?” tanya Rien, dan Kino merasa pancingannya mengena !
“Hmmm … boleh juga,” kata Kino, “Tetapi rasanya latarbelakang panggung kurang cocok.”
Kini Rien sepenuhnya memperhatikan Kino, meletakkan sendok garpu, dan menopangkan dagu di tangannya, memandang dengan kedua matanya yang indah itu. Kino jadi merasa kikuk,
”Eh … jangan tersinggung lho, mbak.”
“Siapa yang tersinggung?” sahut Rien cepat,
“Ayo, bilang sama mbak, apa-nya yang kurang cocok.”
Lalu Kino menjelaskan bahwa latarbelakang lukisan itu secara teknis melukis sangatlah bagus. Bahkan sangat menyerupai potret dalam ukuran besar, mengingatkan orang pada kepiawaian pelukis besar Basuki Abdullah. Tetapi, menurut Kino, lukisan itu terlalu formal untuk tarian yang eksentrik dan modern. Seharusnya, lukisan latarbelakang juga berkesan modern atau abstrak, atau surrealis.
“Kamu punya ide?” tanya Rien, kini sudah lupa sama sekali kepada makanannya. Kino mengangkat muka dari piring yang dihadapinya, memandang Rien ragu-ragu.
“Ayo … katanya kamu anak arsitektur,” sergah Rien sambil tersenyum manis, “Punya ide mengganti dekorasi panggungku?”
“Hmmm … punya, sih … tetapi ….,”
“Ngga ada tapi-tapi-an,” sela Rien, “Mbak tunggu sore ini di sanggar. Kamu gambar ide kamu di kertas.”
“Tapi .. bagaimana dengan …..,” Kino tergagap. Rien tersenyum dan kini tampil lagi sebagai boss yang memberi perintah pendek,
“Kamu boleh jalan-jalan sama Mang Soleh keliling Jakarta. Ngga usah ikut ke gedung kesenian. Nanti sore kita ngobrol di sanggar. Okay?” Kino melongo. Wanda dan Andi melihat ke arahnya. Si ceriwis langsung berkomentar,
“Banyak orang mati bengong di meja makan, lho, Kino … ” ,Kino tersadar, dan ikut tertawa sebisanya. Andi menambah dengan komentar tendensius,
“Daripada bengong, mendingan ikut kita nonton nanti malam ..” Rien langsung memotong,
“Kino dan Mang Soleh akan jalan-jalan. Kita kembali ke gedung kesenian naik taksi.” Wanda dan Andi saling pandang. Tetapi siapa yang berani membantah keputusan boss?
Bersambung…
Kino tak bisa menjawab, ketika Mang Soleh menanyakan kemana mereka hendak pergi. Tentu saja, pemuda itu tidak tahu apa yang menarik dari Jakarta yang bising dan panas ini. Maka yang terpikir adalah menelpon Andang, mungkin gadis itu punya ide tentang tempat yang bisa dikunjungi, dan mudah-mudahan tempat itu banyak pohonnya!
“Kamu ada di mana, sih?” tanya Andang di telpon; suaranya masih dibalut kantuk. Kino heran, kenapa gadis itu selalu terdengar mengantuk kalau ia telpon siang-siang. Apakah semua gadis Jakarta punya kebiasaan tidur siang?
Kino menyebutkan nama jalan tempat bilik telepon dari mana ia menelpon, dan Andang menguap berkali-kali sebelum berkata,
“Tunggu di sana, nanti aku jemput.”
“Tapi aku ada supir yang bisa mengantar,” kata Kino.
“Hah? Sejak kapan kamu punya supir?” sergah Andang, menyangka Kino bercanda. Kino menceritakan secara ringkas duduk perkaranya.
“Hah? Sejak kapan kamu bergaul sama bintang panggung?” kini Andang benar-benar kaget, sekaligus juga curiga jangan-jangan Kino sedang mabuk karena panas Jakarta. Kino tertawa kecil, lalu menegaskan bahwa ceritanya benar-belaka.
“Nanti aku ceritakan lebih panjang,” katanya. Di seberang sana Andang terdiam, sehingga Kino mendesak
“Ayo beritahu alamat kamu, nanti aku ke sana,” Andang lalu menyebutkan alamatnya, sambil berjanji bahwa dia akan sudah mandi ketika Kino tiba.
Lalu Kino menutup telpon, beranjak ke mobil dan menyerahkan alamat yang tadi ditulisnya di atas secarik kertas kepada Mang Soleh. Supir itu bilang, tempat yang mereka akan tuju tidak terlalu jauh. Mobil pun segera meluncur lagi, menyelinap lagi di antara keramaian-kebisingan.
Mang Soleh benar; tidak sampai 15 menit mereka sudah tiba di daerah yang Kino kenal karena dia pernah diajak mampir oleh Andang. Gerbang besar rumah itu kembali membuka, dan mobil masuk seperti kereta kencana memasuki halaman istana.
Sempat terpikir oleh Kino, “istana” Andang juga mirip dengan “penjara” karena temboknya yang tinggi dan kawat berduri di atasnya. Kalau saja ada menara jaga di salah satu sudut halaman, lengkaplah kesan penjara itu.
“Disuruh langsung ke atas, den..,” ujar seorang pembantu yang membuka pintu untuk Kino. Ah, di mana-mana di Jakata ini selalu ada pembantu yang memberikan petunjuk, pikir pemuda itu.
Kino naik ke lantai atas, melewati ruang tamu mewah yang lengang. Ia tahu kemana harus menuju.
******
Andang tidak ada di kamarnya, tetapi gadis itu berteriak dari kamar mandi ketika mendengar pintu kamarnya dibuka,
“Tunggu ya say, aku belum selesai mandi …” Kino tersenyum maklum sambil menghenyakkan tubuhnya di salah satu sofa yang seperti diletakkan begitu saja di tengah ruangan.
Sebagaimana yang pernah ia lihat sebelumnya, kamar Andang kali ini pun berantakan. Kaset-kaset tergeletak di sana-sini. Bantal tidur ada di lantai. Sepatu tanpa pasangannya menggeletak dekat pintu. Be-ha tersampir dekat kaki lampu baca. Setidaknya setengah lusin majalah teronggok di dekat jendela.
Tetapi kamar itu juga bersih. Terlebih lagi, kamar itu juga sejuk. Jadi, walaupun berantakan, Kino bisa mengerti kenapa pemiliknya betah berlama-lama di dalam kamar. Apalagi ada perangkat audio yang mengalunkan musik lembut mengguyur kalbu. Kino mengenali lagu yang sedang mengalun, dan ikut menyanyikan beberapa bait yang ia hapal.
.. it’s a little bit funny .. this feeling inside … i’m not those ones who can… easily hide …
Tak berapa lama kemudian, Andang muncul dari kamar mandi yang secara strategis terletak di pojok kamar.
“Hai … ‘pa kabar,” ujarnya sambil melenggang ke lemari pakaian yang menyatu dengan tembok kamar. Rambutnya masih basah karena keramas. Tubuhnya yang putih-padat terbungkus handuk besar. Wajahnya tampak segar, dan senyumnya tampak cerah.
“Baik ..,” jawab Kino pendek sambil memperhatikan gadis itu dengan santai membelakanginya, mencari-cari pakaian di lemari yang mungkin bisa dipakai untuk ngumpet oleh tiga orang dewasa sekaligus.
“Kamu selalu mengganggu bobo siangku?” kata Andang sambil menarik sebuah celana jeans dari gantungannya. Kino tertawa kecil,
“Kamu kebanyakan tidur,”
“Biasa, lah … pulang pagi, nge-disko,” kata Andang memberi penjelasan tanpa diminta. Dan tanpa memutar tubuhnya pula, gadis itu menanggalkan handuk besar yang menutupi tubuhnya. Seketika di hadapan Kino terpampang pemandangan yang menggiurkan.
Tapi Kino tak tergiur. Ia cuma terkesiap sejenak, lalu langsung maklum pada tingkah laku gadis yang memang serba bebas itu. Mungkin kalau ia tidak mengenal Andang luar-dalam, pemuda itu sudah pingsan … atau sebaliknya sudah menyergap tubuh mulus yang cuma terbalut celana dalam tipis itu.
“Padahal aku males ketemu kamu, No … ” kata Andang sambil memakai celananya yang sempit sehingga perlu usaha ekstra. Dari belakang, tubuh seksi itu terlihat menggeliat-geliat seperti seorang penari striptease Kino tertawa kecil lagi,
“Ya udah … setelah kamu selesai pakaian, aku mau permisi.”
“Enak aja… Aku udah capek-capek mandi kamu tinggal,” sergah Andang sambil mengancingkan celananya.
“Mandi kok capek, sih? Bukannya malah tambah segar …,” timpal Kino.
Andang tertawa mendengar komentar Kino. Ia mengambil sebuah t-shirt, lalu sambil mengenakannya gadis itu memutar tubuh. Karena tidak memakai be-ha, sejenak payudaranya yang sintal terpampang sebelum akhirnya terbungkus oleh kaos ketat yang tentu saja tak mampu menyembunyikan secara sempurna apa yang harusnya tersembunyi.
“Kamu mau kemana, sih?” kata Andang mengganti topik sambil mencari-cari sepatunya.
“Ngga tahu … justru aku mau tanya kamu,” sahut Kino sambil mendorong sebuah sepatu yang ada di dekat kakinya. Mungkin itu yang dicari Andang. Gadis itu mengabaikan sepatu yang disodorkan Kino, terus sibuk mencari-cari ke kolong meja,
“Siang-siang gini mau ke mana … Aku juga ngga tahu,”
“Ke tempat yang banyak pohonnya,” kata Kino sembarangan. Andang tertawa sambil menarik sepasang sepatu dari bawah meja,
“Mana ada tempat yang banyak pohonnya di Jakarta…”
“Pokoknya ke tempat yang sejuk… ” kata Kino tak mau menyerah.
“Tempat yang sejuk di Jakarta justru ngga ada pohonnya, tuh di hotel-hotel bintang lima atau di mall,” kata Andang sambil mulai memakai sepatunya.
“Apa yang bisa dilihat di mall, selain toko-toko dan pajangannya?” kata Kino setengah mengeluh karena harapannya untuk bertemu tempat sejuk penuh pepohonan telah pupus.
“Ngeliatin orang-orang … kamu ngga suka?” sahut Andang.
“Apa, sih, yang menarik dari orang-orang itu?”
Andang tertawa mendengar nada putusasa di ucapan Kino,
“Kadang-kadang ada yang menarik juga, lhoo … Misalnya pakaiannya, cara jalannya, rambutnya, make-upnya …. yaaa macem-macem lah … ”
“Ngga ada pilihan lain?” ucap Kino memelas.
Andang telah selesai memakai sepatunya, lalu sambil bangkit ia menyergah,
“Ngga ada … udah deh jangan banyak protes .. Yuk kita jalan ” Kino bangkit dengan malas. Andang meraih lengan pemuda itu, menyeretnya turun seperti seorang ibu menyeret anaknya yang ogah ke sekolah.
“Sama sekali ngga ada pilihan lain?” Kino masih mencoba.
“Cerewet!” sergah Andang sambil terus menyeret Kino turun.
******
Andang ngotot membawa mobilnya sendiri, dan Kino akhirnya meminta Mang Soleh untuk kembali ke gedung kesenian. Sejenak Mang Soleh mem-protes karena katanya ia diberi tugas oleh Mbak Rien untuk ‘mengawal’ Kino sampai nanti sore.
Andang bersikeras untuk mengajak Kino naik mobilnya, dan membujuk Mang Soleh untuk memberi tahu boss bahwa Kino akan diantar nanti sore ke sanggar. Setelah Kino juga akhirnya memberi jaminan, barulah sopir yang setia itu dengan enggan membiarkan Kino pergi bersama Andang, sementara ia sendiri kembali ke gedung kesenian.
“Aku tidak betah kalau disupirin orang lain,” kata Andang memberi alasan ketika mereka sudah meluncur keluar rumah.
“Tapi Mang Soleh memang cuma ingin menjalankan tugas,” kata Kino membela supirnya,
“Dia pasti merasa bersalah kalau nanti Mba Rien bertanya kemana aku,”
“Kok kamu bisa kenal sama Rien, sih?” tanya Andang tanpa melepas pandangan dari jalan,
“Dia, kan, orang yang nge-top di kalangan artis, lho … Pernah muncul di sinetron … dan wajahnya sering tampil di cover majalah ” Kino membenarkan semua ucapan Andang,
“Aku kenal dia sejak sebelum nge-top… sejak masih di kampung halaman dulu,”
“Oh .. dia itu dulunya orang kampung juga, ya, ..,” kata Andang sambil tertawa kecil. Kino tersenyum,
“Hampir semua orang yang aku kenal, dulunya orang kampung. Kamu sendiri juga orang kampung, lah …”
“Iya, deh … iyaaaa ..,” sergah Andang, “Tapi yang penting ngga kampungan,”
“Kadang-kadang kamu kampungan juga,” goda Kino.
“Biarin… asal keren .. kamu juga suka, kan?,” balas Andang cepat.
Kino tertawa. Tadinya ia ingin mendebat bahwa ia tidak terlalu suka, cuma memang sedang memerlukan gadis itu untuk petunjuk jalan-jalan. Tetapi pikiran itu ditahannya saja. Tidak enak mengganggu gadis itu terlalu jauh; lagipula dia yang memegang setir. Bagaimana kalau dia ngambek dan meninggalkan aku di tengah jalan, pikir Kino.
“Biasanya orang yang sudah nge-top lupa sama teman-temannya sekampung,” gumam Andang sambil dengan cekatan menghindari tabrakan dengan sebuah sepeda motor yang tiba-tiba memotong jalan.
“Mbak Rien memang bukan orang biasa,” kata Kino, lalu menyesal mengucapkan pujian yang terlalu tinggi itu. Seperti yang segera ia sadari, ucapan pendek ini memancing pertanyaan lebih jauh dari Andang.
“Pasti kamu punya hubungan istimewa dengan dia. Kalau tidak, mana mungkin … ” ucap Andang, lalu segera menyambung, “Kamu dulu pacaran sama dia, ya?”
“Bukan. Aku tetangganya, dan adikku dulu belajar menari di sanggarnya” sahut Kino cepat-cepat sambil berdoa agar pembicaraan tidak bertambah panjang.
“Alaaaah …. mana mungkin kalau cuma tetangga bisa ngasih pinjem mobil lengkap dengan sopirnya segala …,” sergah Andang sambil mencibir,
“Pasti kamu ada apa-apa-nya.” Kino tertawa, lebih sekadar menutupi kegelisahannya daripada menertawai ucapan Andang,
“Kamu memang suka gosip, Dang ….” Andang mencibir lagi tanpa mengalihkan pandangan dari jalan,
“Ngga usah bohong deh sama aku … Apalagi kamu juga ngga pintar berbohong.” Kino tertawa lebih keras, terutama karena kata-kata terakhir itu memang benar.
“Aku ngga bohong. Dia memang tetanggaku, dan memang mengajar adikku menari. Titik,”
“Terserah kata kamu …. tapi aku ngga percaya,” sahut Andang.
“Ya, terserah kamu juga deh!” sergah Kino, merasa tak bisa menang melawan gadis yang selain cekatan menyetir ternyata juga cekatan berdebat.
“Diam-diam ternyata kamu playboy juga, yaaa …,” goda Andang sambil tertawa kecil. Sejenak muka Kino terasa memerah, untung tidak ada yang melihat.
“Ah, kamu sembarangan saja … dia baik kepadaku, aku baik kepadanya. Titik,” Andang tergelak mendengar nada defensif di ucapan-ucapan Kino. Percuma saja pemuda itu bersembunyi di balik senyum, tawa, atau kata-katanya. Andang bukan gadis kemarin sore yang bisa dibohongi dengan mudah.
“Santai aja, No … kenapa sih musti ngibulin Andang?”. Karena aku harus melindungi reputasinya, ucap Kino dalam hati. Tetapi mulutnya terkunci. Cuma gerutuan yang tak jelas keluar dari kerongkongannya.
“Hi .. hi ..hi … ngedumel nih ..” goda Andang, tetapi gadis itu lalu buru-buru menambahkan,
“Iya .. deh, aku ngga mau menyinggung tentang dia lagi .. ” Kino bernafas lega, dan Andang tertawa cekakakan mendengar pemuda di sebelahnya menghela dan menghempaskan nafasnya kuat-kuat.
Untung juga mereka sudah sampai di tempat yang dituju. Andang berkonsentrasi mencari tempat parkir, dan topik tentang Mbak Rien pun lenyap seperti uap air terbang ke angkasa yang terik.
******
Kino tidak tahu tempat apa yang ia masuki bersama Andang ini, apalagi gadis itu juga tidak memberi penjelasan sejak mereka turun dari mobil dan melenggang bergandengan seperti adik-kakak (sebab tidak semua orang yang bergandengan adalah pacaran).
Yang jelas, mereka memasuki sebuah mall modern, lengkap dengan air mancur mewah di halaman depannya dan lift tabung kaca yang menegaskan keinginan arsitekturnya untuk menampilkan suasana futuristic.
Interiornya yang didominasi warna serta elemen-elemen metalik, ditambah banyaknya kaca cermin maupun tembus pandang, melengkapi kesan kepada para pengunjung bahwa mereka sedang berada di sebuah pesawat ruang angkasa semacam Enterprise-nya film seri Star Trek.
Lalu mereka memasuki salah satu dari puluhan toko; tetapi yang mereka masuki ini tidak berisi barang-barang dagangan. Melainkan Kino melihat sederet mesin permainan (games) komputer yang menimbulkan suara-suara berisik serta aneh, dilengkapi musik digital-robotik yang monoton.
Suara-suara tembakan terdengar di mana-mana, kadang berdesing, kadang berdenyut menandakan pelurunya terbuat dari butiran cahaya laser.
Para pengunjung sebagian besar asyik berhadapan dengan layar yang membiaskan warna-warna kuat sehingga wajah-wajah mereka pun kehilangan warna aslinya. Ada seorang pemuda yang sebelah atas wajahnya berwarna biru sementara dari mata ke bawah berwarna kelap-kelip kuning dan merah.
Asap rokok memenuhi ruangan, seakan-akan kabut yang menjadi bagian tak terpisahkan dari suasana futuristic ini. Kino tahu tempat seperti ini, karena di kota B juga ada. Tetapi ia belum pernah melihat yang seluas dan seberisik ini. Apalagi interiornya juga ditata sedemikian rupa sehingga menambah kesan megah di angkasa luar.
Sambil terseret-seret oleh langkah Andang yang lebar, pemuda itu berusaha menyerap semua keunikan dan ke-baru-an wilayah yang dimasukinya ini. Nuraninya menolak kesimpang-siuran suasana ruang permainan ini, tetapi benaknya mengatakan bahwa kenyataan yang begini-ini adalah bagian tak terpisahkan dari modernitas Jakarta.
Mesin-mesin itu memamerkan kecanggihan teknologi komputer, sementara para pemainnya mempertunjukkan fanatisme buta yang menakutkan. Sebuah campuran yang bisa fatalistis …
“Aku ngga suka main games, Andang ..,” sergah Kino dengan rasa takut yang tiba-tiba menyergapnya. Pemuda itu harus berteriak pula untuk mengatasi keberisikan ruangan.
“Siapa yang ngajak kamu main? Kita ke belakang, ketemu sama yang punya dan berkenalan dengan dunia ku!” sahut Andang tak kalah keras suaranya.
“Hah!?” sergah Kino bertambah heran,
“Untuk apa kita ketemu dia? Dan apa itu ‘dunia kamu’??”
“Kamu memang cerewet!” adalah jawab Andang.
******
Di belakang ruangan permainan ada sebuah pintu yang cukup berat, sehingga Kino perlu membantu Andang mendorongnya terbuka. Pintu itu menuju sebuah lorong agak gelap.
Setelah mereka berdua masuk, pintu itu menutup dengan sendirinya, dan kebisingan ruangan permainan tiba-tiba sirna. Sepertinya, pintu itu memisahkan dua dunia, atau mungkin juga memisahkan neraka dan surga, pikir Kino dengan kecut.
Andang terus menyeret pemuda itu, menuju ujung gang yang membelok ke kiri. Di situ ada pintu lagi, kali ini terkunci dan Andang harus bicara lewat sebuah interphone. Setelah menunggu beberapa detik, pintu terbuka dan sebuah wajah gemuk muncul sambil menyeringai lebar dan riang.
“Halooooooo … anak manis, apa kabar … sudah lama tidak kelihatan!” ujar si empunya wajah dengan suara keperempuan-perempuanan (padahal dia laki-laki!). Kino bergidik sejenak. Sehari ini dia sudah bertemu dua orang yang seperti ini ! Andang menerima sambutan si gemuk dengan pelukan dan kecupan cepat di kedua pipi. Kino memperhatikan saja, memahfumi bahwa beginilah cara orang modern saling menyapa.
“Halooooo … selamat datang, senang bertemu Anda, nama saya Buwana!” si gemuk tahu-tahu sudah menyodorkan tangan ke Kino, dan pemuda itu gelagapan menyambutnya.
“Kino,” ucapnya cepat sambil agak mengernyit merasakan bahwa telapak tangan si gemuk itu dingin sekali.
Andang tersenyum manis memandang ke Kino, seakan-akan memberi penguatan kepadanya.. Gadis itu tahu bahwa pemuda yang diajaknya ini tidak biasa masuk ke dunianya. Tetapi sejak dari rumah tadi ia sudah bersikeras untuk memperlihatkan kepada Kino bahwa dunia ini bukan cuma gunung, gitar, kampus, atau buku ….
******
Kesan pertama pada diri Kino tentang ruangan yang mereka masuki ini adalah kegemerlapan yang artifisial. Di mana-mana ada warna cerah dan terang. Di mana-mana ada lampu dan hiasan-hiasan dari kaca. Lukisan-lukisan yang terpampang di dinding memperlihatkan erotika yang abstrak … gambar-gambar seronok yang tersamar … adegan-adegan seksual yang tersembunyi.
Andang menggamit lengan pemuda itu, menariknya dekat sekali seperti kuatir Kino akan lari.
“Ini namanya ORIFICE … klab khusus untuk anak-anak penggede, pengusaha muda, artis …!” bisik gadis itu, dan Kino berpikir keras untuk mencerna maknanya.
“Mau minum apa?” seru Buwana yang kini sudah berada di sebuah bar yang ramai. Tak ada orang lain yang mempedulikan Andang dan Kino. Semuanya tampak sibuk berbincang-bincang sambil tertawa-tawa. Riang sekali, pikir Kino. Andang melambaikan tangannya, meneriakkan
“.. nanti saja!” sambil terus melangkah. Kino sendiri sama sekali tidak haus, karena itu merasa tak perlu menyahuti tawaran si gemuk yang ternyata bisa bergerak lincah itu.
Ada sebuah meja dengan dua kursi kosong. Ke sanalah Andang membawa –atau tepatnya menyeret– Kino. Meja itu terletak di dekat sebuah panggung yang terang tetapi kosong.
Lantai panggung itu terbuat dari kaca tebal dan ada berbagai lampu di bawahnya, sehingga dari tempatnya duduk, Kino melihat panggung itu seperti sebuah lampu sorot raksasa dalam posisi terlentang. Cuma sinarnya tidak terlalu terang. Cukup untuk membuat ruangan tidak terlalu gelap saja.
“Tempat apa ini, Andang?” bisik Kino sambil menyorongkan tubuhnya ke gadis yang kini mengeluarkan sebungkus rokok filter dan sebuah lighter berwarna perak.
“Klub .. tempat ngumpul … tempat ketemu-ketemu,” ucap Andang kalem, seperti seorang ibu sedang menjelaskan kepada anaknya. Kino melihat ke sekeliling. Memang tampaknya orang-orang di sini sedang saling bertemu, sedang berkumpul. Tetapi untuk apa?
“Tempat cari jodoh juga ..,” sambung Andang seperti bisa membaca pikiran Kino.
“Hah?” sergah Kino dengan tampang bloon, “Cari jodoh untuk menikah?”
Andang tertawa sambil menyelipkan sebatang rokok di antara bibirnya, menyalakannya dengan cekatan, dan menghela serta menghembuskan asap pertamanya, “Soal menikah atau tidak, aku ngga tahu. Tapi mereka di sini untuk mencari pasangan. Sekedar berteman, atau lebih dari itu, atau seterusnya … mana gua tahu!”
Kino melihat sekeliling lagi. Pasangan apa? Memang ada pasangan laki dan perempuan duduk seperti mereka. Jumlahnya cuma sedikit. Cuma tiga pasang, termasuk Andang dan Kino. Kebanyakan adalah pasangan sejenis. Lelaki dengan lelaki, perempuan dengan perempuan. Ah, mungkin mereka belum menemukan pasangan … Andang kembali bisa membaca pikiran pemuda di hadapannya,
“Pasangan di sini bukan berarti laki dengan perempuan, lho …”
“Maksudnya?” Kino semakin bloon. ,Andang tertawa.
“Aduhhh … kamu bener-bener kampungan, Kino. Di sini bisa saja pasangan laki dengan laki, atau perempuan dengan perempuan. Suka-suka mereka saja, lah!”
Kino memandang gadis di depannya lekat-lekat. Pikirannya bekerja secepat mungkin. Tentu saja, walau kampungan, Kino pernah mendengar semua cerita-cerita, semua gosip dan kabar angin, tentang homoseksualitas.
Tetapi mendatangi dan melihat sendiri dunia mereka adalah sesuatu yang sama sekali baru. Sesuatu yang revolusioner !! Semua ucapan Andang dan pemandangan di klab ini harus masuk dulu ke dalam otak Kino untuk dicerna berdasarkan pengetahuannya yang terbatas …
“Makanya, jangan di kampus melulu … Sekali-sekali lihatlah dunia yang sesungguhnya Kino,” kata Andang sambil dengan nikmatnya menghembuskan asap rokok.
Seorang gadis berjalan mendekat, dan Kino terkesiap. Gadis itu nyaris menampilkan seluruh dadanya karena memakai kaos yang begitu tipis dan leher begitu rendah! Selain itu, roknya sangat-sangat-sangat pendek, sehingga sebagian celana dalamnya (yang juga sangat-sangat-sangat terbatas) terlihat setiap kali ia melangkah gemulai.
“Mau pesen apa?” kata gadis itu sambil memandang Kino dengan wajah yang bersinar nakal, menggoda, sekaligus menyelidik.
“Makanan kecil saja, Yuni….. Keripik kentang dan kacang goreng,” sahut Andang cepat, menyelamatkan sahabatnya dari kegelagapan yang memalukan. Gadis yang dipanggil Yuni itu mengatakan,
“Okay ..”, lalu melenggang dengan sangat seksi meninggalkan Kino yang masih melongo.
“Awas, nanti kemasukan lalat kalau bengong begitu!” sergah Andang sambil tertawa renyai. Kino menggeleng-gelengkan kepalanya, seperti hendak mengusir sesuatu yang melekat di kepalanya dan yang membuatnya gelisah.
“Itu tadi namanya pelayan restoran, Kino …,” ujar Andang sambil tertawa kecil,
“Kamu belum pernah lihat pelayan restoran?” Kino menggerutu,
“Dia mau melayani orang makan, atau apa?” Andang tertawa lebih keras,
“Bisa juga diminta melayani yang lain. Asal dia mau, lho …”
“Kamu kenal dia? Kok memanggil namanya?”
“Di rok mini-nya, kan, ada tulisan namanya Yuni Yuanita,” sahut Andang masih tertawa, “Mata kamu melihat bagian yang mana, sih?” ,Kino tersipu. Sialan betul si Andang, mengajak ke tempat yang aneh ini! gerutunya dalam hati.
“Take it easy, Kino … nikmati saja suasana dan pemandangannya,” kata Andang sambil mematikan rokoknya dan bersiap dengan batang yang kedua.
Kino diam. Melihat lagi ke sekelilingnya. Orang-orang asyik dengan kegiatan mereka masing-masing. Musik lembut mengalun. Denting sendok garpu beradu dengan piring porselin kadang-kadang terdengar.
Suara tawa di sana-sini sesekali terdengar. Biar bagaimana pun, Kino harus mengakui bahwa tempat ini terasa santai. Bukan cuma terlihat santai, tetapi juga terasa sampai ke tulang sum-sum! Semua orang tampak rileks, seperti berada dalam sebuah mesin raksasa yang bisa membuat orang melupakan apa saja yang merisaukan di luar sana.
Kino juga melihat bahwa tidak ada satu pun jendela yang bisa menghubungkan pandangan pengunjung dengan dunia luar. Segalanya terbuat dan terbentuk di dalam ruangan ini, tanpa referensi sama sekali dengan dunia luar.
Seakan-akan ini sebuah gua yang menyimpan dan memelihara waktu tersendiri, berbeda dengan dunia nyata di luar sana. Perlahan-lahan Kino bahkan melihat bahwa orang-orang yang ada di sini pun tidak seperti orang-orang di dunia nyata.
Pakaian mereka, wajah mereka, rambut mereka, suara mereka … semuanya berbeda. Orang-orang di luar sana terkesan sibuk, berjuang dalam terik Jakarta, berwajah tegang dan penuh kerut … Orang-orang di dalam sini terkesan lepas dari segala kekangan atau kesibukan, berwajah riang dan berbinar-binar …
Lalu Andang memberi penjelasan tanpa diminta. Penjelasan ini memberi tambahan kesan yang semakin membuat Kino tercengang. Pertama-tama, Kino kaget mendengar bahwa untuk masuk ke klab ini, seseorang harus menjadi anggota atau dibawa oleh anggota.
Yang membuat pemuda itu kaget adalah uang yang harus dibayar untuk menjadi anggota. Jumlahnya sama dengan harga rata-rata sebuah rumah ukuran sedang di kota B. …. dan iuran per bulannya sama dengan bayaran kost-nya sebulan plus makan pagi dan makan malam !!
Kedua, Kino kaget mendengar penjelasan tentang panggung yang saat ini masih kosong. Kata Andang, kalau malam hari panggung itu adalah satu-satunya yang bercahaya di ruangan ini. Di atas panggung itu ada berbagai pertunjukkan, dimulai dengan sebuah pertunjukan sulap, lalu beberapa nyanyian dengan iringan mesin karakoke, dan ditutup dengan striptease.
“Tetapi ini masih siang, … so dont worry … kamu ngga akan melihat orang telanjang,” ujar Andang.
“Aku juga ngga ingin lihat!” gerutu Kino, walaupun dia sendiri tidak terlalu yakin apakah betul-betul tidak ingin melihat! Andang tertawa,
“Iya… kamu udah sering lihat aku telanjang … Kamu sudah kebal !!!” Kino menggerutu lagi,
“Itu, sih, lain ….”
Andang tertawa lebih keras. Gadis itu menikmati perbincangannya dengan Kino yang terus menerus menggerutu, “Kenapa lain? Karena kamu juga pernah memegang selain melihat?”
Muka Kino rasanya terbakar oleh jengah. Apa yang diucapkan Andang tentu saja benar, walau kesan yang ditimbulkan oleh memori dengan gadis itu tidaklah terlalu nyaman.
Ah, kebenaran memang tidak selalu nyaman, bukan? Andang tiba-tiba merasa kasihan. Ia cepat-cepat menghentikan tawanya, meraih tangan Kino yang cemberut, membelai punggung lengannya, dan berucap mesra,
“Maaf sayang … becandaaaaa ….”
“Kenapa, sih, kamu bawa aku ke sini?” sergah Kino tak mempedulikan rajukan Andang.
“Supaya kamu pernah,” sahut Andang cepat, sambil terus membelai lengan pemuda itu.
“Kenapa harus ‘pernah’ … kenapa tidak kamu ceritakan saja?”
“Lain, dong!” sergah Andang, “Kalau cuma cerita, kamu ngga bisa ngerasain suasananya. Kalau datang sendiri, kamu bisa tahu lebih banyak.”
“Tetapi kenapa aku harus tahu yang beginian?” ujar Kino bersikeras.
“Memangnya kenapa? Kamu tidak ingin tahu yang beginian?” tantang Andang.
Kino tidak menjawab. Yuni Yuanita yang seksi dan berpakaian minim itu sudah datang dengan dua piring makanan kecil. Setelah gadis itu pergi, Kino baru menjawab,
“Aku yang tanya lebih dulu, kenapa jadi kamu yang balik bertanya.” Andang tersenyum manis, mengangkat tangannya untuk mencuil dagu Kino,
“Karena kamu sendiri yang bisa jawab pertanyaan kamu, anak kampus!” Sebelum Kino bisa menyahut, gadis itu sudah menyambung lagi,
“Yuk .. makan dulu keripik kentang dan kacangnya. Sedap, lho ..”
“Ini seperti dunia yang berbeda …,” ujar Kino, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun.
“Betul … seratus!” kata Andang santai sambil mengambil dan menyuap sepotong keripik.
“Dunia kamu?” tanya Kino sambil ikut menyuap sejumput kacang.
“Kalau malam hari, aku sering ke sini … jojing dan cari temen..,” jawab Andang.
“Bukankah teman kamu sudah banyak?”
“Teman itu ada dua, Kino … teman yang seperti kamu, dan teman yang cuma berusia dua atau tiga jam.”
“Dua atau tiga jam?”
“Ya .. teman yang cuma jadi teman selama dua jam atau lebih sedikit. Setelah itu bisa ditinggalkan dan dicari gantinya.”
“Itu bukan teman …”
“Bukan, memang,” sela Andang,
“Tetapi tetap saja bisa dibilang teman dalam tanda kutip… Kan, aku sudah bilang ada dua jenis teman.”
“Semua temanku tetap teman walaupun sudah bertahun-tahun,” Andang tertawa,
“Kamu kok yakin bener mereka masih teman kamu!”
“Aku masih menganggap mereka teman!”
“Tapi, apakah mereka masih mau dianggap teman?” sahut Andang cepat.
Kino terdiam. Apakah mereka masih mau dianggap teman? pertanyaan itu berulang di kepalanya. Masihkah? Andang tersenyum melihat pemuda di depannya terdiam,
“Sorry .. Kino .. aku terlalu sinis, ya?” Kino menghela nafas panjang,
“Ah .. tidak … memang kadang-kadang kamu banyak benernya…”
Andang tertawa lepas. Kino senang melihat gadis itu tertawa seperti ini. Seperti tak punya beban apa-apa. Mungkinkah karena dia berada di “mesin” raksasa ini?
“Apa, sih, artinya ORIFICE ?” tanya Kino tiba-tiba teringat nama klab ini. Andang menurunkan volume suaranya,
“Itu nama ngga resmi. Nama yang resmi adalah Moonlite Night.”
“Lalu apa artinya ORIFICE?”
“Artinya …,” Andang kini berbisik, ” .. lubang pelepasan manusia…vagina misalnya, atau dubur …” ,Kino terdiam. Andang tertawa terbahak.
******
Gadis seperti Andang adalah gadis yang bebas, dan Kino telah tahu itu sejak petualangannya dengan Sang Troubadour dulu. Tetapi melihat dan mengunjungi Moolite Night alias Orifice membuat segala pengalaman gila-gilaan dengan kelompok eksentrik itu jadi hambar.
Jadi, pikir Kino, inilah sebuah dunia buatan -artificial sphere- yang khusus dirancang untuk membebaskan manusia dari kegelisahan-kegelisahan mereka. Ini lah sesungguhnya “panggung” itu … seperti halnya panggung tempat Mba Rien menari.
Tempat di mana manusia-manusia merancang dan menemukan dirinya sendiri, terlepas dari kenyataan yang mungkin menyakitkan.
Selama mereka duduk-duduk dan berbincang, Buwana –sang pemilik dan pengurus klab– bulak-balik bertandang. Kino kagum melihat kelincahan orang yang terlalu gemuk ini, walaupun terkadang terlihat susah bernafas setiap kali ia harus bergerak.
Di pergelangannya, yang mungkin sama besarnya dengan betis Kino, melingkar dua macam rantai. Satu terbuat dari emas yang berkilau-kilauan, dan satu lagi dari serangkaian batu permata.
Setiap kali tangan Buwana bergerak –dan ini selalu ia lakukan setiap berbicara– gelang emas menimbulkan suara gemerincing, sementara gelang permata menimbulkan kilauan berkerejap aneka warna. Kadang-kadang sulit bagi Kino untuk berkonsentrasi kepada apa yang si gemuk ucapkan, karena pada saat yang sama matanya terpaut pada gelang-gelang itu.
“Ini gelang keberuntungan!” ucap Buwana ketika melihat pandangan Kino selalu mengarah kepada gelangnya, “Kamu punya gelang?” Kino menggeleng cepat-cepat. Andang menyela,
“Dia ngga perlu gelang, Buwana! Dia perlu banyak buku bacaan.”
“Aiiiiihhhhh … yaaaaaaa!” Buwana berseru dengan gayanya yang kemayu,
“Anak kampussss …. rajin belajar, dong!”
Kino tersenyum kikuk, tak biasa menanggapi reaksi-reaksi semacam ini. Baginya, reaksi itu terlalu artifisial pula. Ah, tapi mungkin reaksi yang dibuat-buat seperti ini memang cocok untuk suasana yang juga artifisial di klab ini.
“Andang ini pacar kamu yaaa …?!” tiba-tiba Buwana bertanya, sambil mengerdipkan satu matanya. Kino cepat-cepat menggeleng. Andang kembali menyela,
“Pacar sementara … ha ha ha ha ha ha!”
Buwana tertawa dengan gayanya yang kemayu. Kino ikut tertawa, sekedar sopan santun. Andang menepuk punggung tangan Kino,
“Husy! .. Kamu ikut tertawa, padahal kamu ngga ngerti!” Kino tersipu.
“Ya .. memang aku tidak mengerti. Tetapi tidak enak kalau tidak ikut tertawa.”
Buwana terbahak. Andang terpingkal. Kino bingung, apa yang lucu dari semua percakapan ini? Lalu Buwana permisi untuk menyambut tamu lain. Kino bernafas lega. Andang tersenyum melihat tingkah laku pemuda itu.
“Relaks, Kino …,” kata gadis itu,
“Di sini kita bisa tertawa walaupun tidak ada alasan untuk tertawa.”
Kino mengidarkan pandangannya lagi. Ya, memang seringsekali terdengar tawa. Macam-macam tawa. Ada yang wajar saja, lepas dan menerawang ke seantero ruangan seperti angin sepoi-sepoi. Ada yang cekikikan seperti pemiliknya sedang kegelian digelitiki seribu ulat bulu.
Ada yang terbahak-bahak seakan-akan tidak ada lagi waktu untuk tertawa besok. Tetapi tak sedikit pula Kino mendengar tawa-tawa artifisial. Tawa yang seperti tak seharusnya keluar dari mulut pemiliknya.
“Kenapa mereka selalu tertawa?” tanya Kino.
“Gembira … mungkin,” jawab Andang santai, “Atau mungkin juga karena pengaruh obat bius.”
Menurut Andang, di klab ini orang juga bisa mengkonsumsi obat bius dengan leluasa. Kino pernah mendengar tentang tablet-tablet yang bisa membawa orang ke alam hayal. Duh, pikirnya, .. belum cukup mengurung diri dalam dunia artifisial yang penuh kaca dan cahaya, orang-orang itu juga perlu menjauh dari pikiran mereka sendiri ! Perlu menjelajah alam hayal dengan bantuan bahan-bahan kimia itu !
“Narkotik sama saja dengan kehancuran, Andang ..,” ucap Kino. Andang mencibir,
“Tahu apa, sih, kamu tentang narkotik .. ngga pernah nyobain kok bisa ngomong!” Kino tersenyum mengakui,
“Begitu kata orang-orang …”
“Yang ngomong gitu kan orang-orang yang tidak memakai narkotika,” sergah Andang.
“Tetapi orang kan bisa mati kalau overdosis,” ucap Kino, teringat cerita Mira tentang kakaknya yang tewas oleh narkotika.
“Lebih banyak lagi yang mati ketabrak mobil di Jakarta,” sambar Andang.
“Itu, kan, kecelakaan. Kalau overdosis itu sama dengan bunuh diri,” kata Kino tak mau kalah.
“Ah, sama saja. Sama-sama mati. Apa bedanya,”
“Neraka dan surga. Itu bedannya,”
“Pernah ke sana?”
Kino tertawa lepas. Bicara dengan Andang selalu harus berdasarkan “pernah” … bicara tentang seks, harus “pernah” .. bicara tentang kebebasan, harus “pernah” … bicara tentang Jakarta, harus “pernah” …
“Aku emang sudah terlanjur brengsek, Kino ..,” sergah Andang sambil menyalakan rokoknya yang kelima,
“Jangan terlalu serius, dong …”
“Aku suka berbincang sama kamu,” ucap Kino tak menjawab langsung peringatan gadis di depannya, “Tetapi ngga harus setuju, kan?”
“Justru kadang-kadang aku takut kamu keseret ..,” ucap Andang serius. Kino tertawa,
“Lho .. kamu sudah nyeret aku ke sini!” Andang ikut tertawa,
“Iya juga ya …”
“Tidak apa-apa. Aku ngga gampang terpengaruh, kok!” ucap Kino sambil meneguk minuman dingin yang barusan dipesan dari si minim Yuni. Andang tersenyum, memandang pemuda di depannya dengan pandangan lembut,
“Itu yang aku suka dari kamu.” Kino membalas pandangan gadis di depannya,
“Kenapa suka?”
“Karena aku pernah jatuh cinta sama orang seperti kamu,” kata Andang berubah serius.
“Dia persis seperti kamu. Tegar dan tidak gampang menyerah,” sambung gadis itu melihat Kino diam saja, “Aku pertama-tama ingin sekali menghancurkan dia. Membuatnya rusak.”
Kino mengernyitkan keningnya.
“Ya .. memang aku jahat sekali waktu pertama kenal sama dia,” ujar Andang tanpa menunggu reaksi Kino, “Aku sedang kecewa kepada semua yang ada di dunia ini. Kamu, kan, tahu cerita keluargaku …” Tentu saja Kino tahu. (baca Sang Troubador – pen.)
“Dia tiba-tiba muncul, entah dari mana. Aku kenal lewat seorang teman yang profesinya gadis panggilan. Temanku itu bilang, cowok ini anak baik-baik dan suka kepadaku. Aku kaget juga. Kok ada yang suka kepada cewek seperti ini … rusak dan ngga perawan lagi …”
Kino menyimak setiap ucapan Andang. Musik lembut berubah menjadi latarbelakang yang menguatkan nuansa cerita gadis itu.
“Aku tanya sama temanku, kenapa bukan dia saja yang jadi pacarnya. Tetapi temanku bilang dia cuma mau denganku. Ya .. iseng-iseng aku terima undangannya makan malam. Cerita punya cerita, kami pun pacaran. Tapi pacarannya sopan sekali … cuman pegang-pegang tangan ..”
Kino tertawa kecil.
“Aku berusaha menariknya ke duniaku. Aku ajak dia ngumpul dengan Obenk dan teman-teman. Aku ajak dia ke sini, nonton striptease. Dia pertama-tama ngga mau. Tetapi akhirnya mau saja menemani aku ke mana-mana. Cuma anehnya, dia ngga berubah. Tetap saja alim dan ngga mau lebih dari mencium pipiku. Aku sempat frustrasi, dan akhirnya marah, lalu aku putusin dia.”
Sebuah piring terdengar jauh pecah berderai, seakan-akan memberi sound effect kepada ucapan Andang. Sejenak para pelayan sibuk menuju meja tempat terjadinya kecelakaan, tetapi lalu suasana berubah lagi seperti semula dengan cepatnya.
“Tahu ngga apa yang terjadi dengan dia setelah aku putusin?” Kino menggeleng.
“Dia menjadi aktif di gereja, dan sekarang jadi pastur!”
“Hah?” akhirnya Kino bersuara. Andang tertawa kecil,
“Asyik, kan, ceritanya?” Kino berdecak,
“Itu kisah sungguhan atau cuma karangan kamu?” Andang tertawa lebih keras,
“Kino … apa sih bedanya antara kisah dan kenyataan?”
*****
Mereka meninggalkan Moonlite Night alias Orifice ketika jam menunjukkan pukul 5 sore. Pengunjung klab semakin banyak, dan beberapa di antara mereka tampaknya baru pulang dari kerja. Lengkap dengan tas kulit buatan luar negeri, setelan jas Hugo Boss atau yang lebih mahal dari itu, dasi sutra, dan minyak wangi yang tetap semerbak walau sudah disemprotkan sejak tadi pagi.
Cerita tentang diri Andang sebenarnya panjang. Tetapi gadis itu menolak melanjutkan kisah pribadinya. Kino tidak mendesak, dan melirik ke arlojinya karena tiba-tiba teringat akan janji kepada Mbak Rien untuk merancang panggung.
Andang mengerti isyarat yang diberikan Kino. Gadis itu memanggil Yuni Yuanita, membayar semua bon walaupun Kino mendesak untuk ikut membayar, dan memberikan tip yang lumayan besar. Si minim Yuni tersenyum lebar melihat dua lebar uang yang diselipkan ke ikat pinggangnya oleh Andang.
Lalu Andang mengantar Kino sampai di gerbang Sanggar Pelangi.
“Mau mampir dulu, nDang?” tanya Kino sebelum turun dari mobil.
Andang tersenyum manis, “Ini bukan rumah kamu, bego … jangan sok menawarkan mampir!” Kino tertawa,
“Aku juga cuma basa-basi ..”
“Tetapi mungkin lain kali aku mau dikenalin ke Mbak Rien,” sambung Andang sambil mendorong Kino keluar dari mobil.
Dengan suara ban agak berderit, mobil Peugeot Andang meninggalkan Kino. Pemuda itu berdiri sejenak di gerbang memandang mobil hilang di tikungan, sebelum akhirnya melangkah masuk dan mengucap salam ke seorang Satpam yang sudah mengenalnya.
Bersambung…
Rumah besar yang menjadi markas Rainbow Enterprise itu terasa lenggang dan semakin asri ketika Kino masuk dan mengucap salam. Mbak Rien dan gang-nya ternyata belum pulang. Bi Iyem yang membuka pintu dan terbungkuk-bungkuk menyilahkan pemuda itu masuk.
Sehari ini sudah berkali-kali Kino menghadapi orang yang membungkuk-bungkuk menyatakan hormat, dan ia rikuh. Ia sungguh tidak biasa. Di B atau di kota kelahirannya, Kino jarang berhadapan dengan para pembantu. Kalaupun ada pembantu di kota kecil tempat ia dilahirkan, mereka tidaklah se-“semangat” bi Iyem dalam menyambut tamu atau tuan rumah.
“Mau minum kopi, den ..,” tawar Iyem, padahal Kino belum lagi lima kali melangkah dari pintu depan menuju kamar tempatnya menginap. Kino tersenyum dan menjawab sopan,
“Terimakasih, bi Iyem .. Nanti saya buat sendiri selesai mandi.” Iyem tersipu mendengar jawaban sopan itu, dan kembali terbungkuk-bungkuk menawarkan jasanya yang lain, “Nanti saya siapkan perlengkapan mandi, dan handuk baru ..”
“Tidak usah bi Iyem,” sela Kino cepat-cepat, “Handuk yang kemarin masih bisa dipakai, bi Iyem bisa mengerjakan yang lain.”
“Eh .. tapi,” ujar Iyem ragu-ragu, “Tapi tadi tuan putri telpon untuk menyiapkan handuk baru.” Kino tersenyum lagi,
“Ah, tidak perlu. Nanti bilang saja ke Mbak Rien bahwa saya tidak perlu handuk baru.”
Dengan wajah kuatir, Iyem akhirnya mengundurkan diri, dan Kino merasa sangat tidak enak karena telah menyebabkan pembantu yang setia itu merasa bersalah. Tetapi pemuda itu bersikeras pula untuk tidak terlalu merepotkan perempuan setengah baya yang latah dan selalu tampak kuatir itu.
Kino memutuskan untuk segera mandi dan mencuci rambutnya. Udara Jakarta, dan debu-debu yang menyertainya, telah membuatnya gerah dan merasa dekil sekali. Padahal sebelum berangkat tadi dia sudah keramas, dan padahal dia lebih banyak naik mobil katimbang di luar mobil. Tetapi tetap saja badan terasa lengket dan jorok.
Selesai mandi, ia mencari Iyem dan menanyakan di mana bisa mendapatkan beberapa helai kertas serta perlengkapan tulis. Tergopoh-gopoh, pembantu itu menuju kamar besar yang tampaknya adalah ruang kerja Mbak Rien. Lalu ia muncul lagi dengan beberapa kertas dan sekotak pensil serta sebuah karet penghapus yang harumnya seperti permen.
Kino menuju beranda belakang, memilih sebuah tempat duduk yang dekat dengan sebuah meja bundar.
Iyem muncul lagi, membungkuk-bungkuk lagi, menawarkan apakah Kino mau kopi dan pisang goreng atau kue-kue lainnya. Kino merasa tidak enak juga, sehingga ia mengiyakan tawaran perempuan setengah baya itu, sambil mengatakan bahwa ia tidak terlalu lapar sehingga tidak perlu pisang goreng atau yang lainnya.
Lalu Kino mulai bekerja. Menumpahkan imajinasinya dalam coret-coretan awal. Sejak di kamar mandi tadi ia sudah berusaha mengkonsepsikan idenya tentang tarian-tarian Mba Rien.
Pemuda itu sudah melihat beberapa sequence tarian, dan sudah mendengar cerita panjanglebar tentang skenario yang ingin ditampilkan Mbak Rien di panggung. Dari apa yang dilihatnya, dan dari penjelasan sang maestro, Kino memutuskan bahwa latarbelakang yang cocok adalah tampilan bergaya deconstructivism.
Dari kuliahnya, Kino tahu bahwa deconstructive architecture berupaya menampilkan bentuk-bentuk asli dari imajinasi dan kreativitas manusia yang tidak dikukung oleh aturan-aturan tentang stabilitas atau kewajaran. Selama ini arsitektur konon dianggap sebagai displin yang kaku dan konservatif, serba penuh aturan.
Gaya dekonstruktiv berupaya melawan semua itu dan tidak takut menampilkan garis, lengkung, atau tataran yang tidak harmonis. Tidak ada stabilitas atau keseimbangan. Semuanya tampil seenaknya, sangat ekspresif, menantang dan melawan.
Kino mengenang karya-karya awal aliran ini dari Bernard Tschumi, Frank Gehry dan Peter Eisenman di Amerika Serikat; atau Daniel Libeskind di Italia, Rem Koolhaas di Belanda, Zaha Hadid di Inggris, dan Coop Himmelblau di Austria.
Cepat sekali tangan Kino bergerak mencoret-coret. Kadang-kadang menimbulkan suara derit yang membuat pendengarnya ngilu. Kalau sudah menggambar begini, pemuda itu memang seperti kesetanan. Dahinya berkerut serius, telinganya seakan tidak mendengar apa-apa, matanya tak pernah diangkat dari kertas di depannya, dan tangannya bergerak cepat seakan-akan punya energi tersendiri.
Tetapi apa yang telah ia corat-coret tidak selamanya memuaskan. Sebab itu, setidaknya sudah 5 lembar kertas A-4 ia remas dengan marah, dan ia singkirkan ke pinggir meja. Setidaknya satu pensil sudah patah karena ia kelewat semangat menggurat dan menekan.
Iyem yang datang dengan kopinya seperti hantu saja bagi Kino : tak terlihat sama sekali. Suara-suara alam yang sedang menyambut malam hilang sebelum sampai ke telinganya. Seakan-akan ada sebuah kubah maya yang mengukung pemuda itu, mencegahnya dari gangguan-gangguan.
Pada kertas ke tujuh, Kino baru bisa tersenyum kecil. Ia menjauhkan kertasnya sepanjang rentangan tangan, menelengkan kepalanya untuk memeriksa apa yang telah ia buat. Hmmmm … pikirnya, apa yang kugambar ini sudah cukup revolusioner dan pasti mengganggu pemandangan. Justru kesan “menganggu” itu yang ia ingin tampilkan !
Apa yang digambarnya adalah bagian tengah atas dari latarbelakang panggung. Ada garis lurus dan lengkung yang tidak harmonis, diperkuat di sana-sini oleh bentuk-bentuk yang mewakili alam, seperti pohon, air, batu. Tetapi semua bentuk itu tampil tidak beraturan dan cenderung “melawan” kewajaran.
Misalnya, Kino membiarkan gambar batu menggantung sembarangan di dekat sebuah garis berkelok yang terpotong oleh segitiga. Pohon ia buat tanpa gambar daun yang rinci, melainkan berupa lembaran-lembaran lebar yang kokoh seperti hendak menyatakan ketegaran melawan angin.
Setelah puas dengan bagian itu, Kino mulai memikirkan bagian-bagian lainnya. Kini gerakan tangannya semakin pasti dan tidak lagi mencoba-coba. Ia sudah berhasil membuat core idea dari keseluruhan bangunan latarbelakang. Kini tinggal melanjutkan percabangan-percabangannya saja.
*****
Tak kurang dari dua jam Kino menggambar sendirian di beranda belakang. Begitu seriusnya ia menggambar, suara mobil yang masuk halaman depan tidak terdengar. Ia juga tidak menyadari, Mbak Rien melepas kedua sepatunya, berjingkat-jingkat di belakangnya, meletakkan telunjuk di bibirnya agar Iyem tidak mengucap salam.
Dari tempatnya berdiri, perempuan cantik itu melongok menjulurkan lehernya. Ia bisa melihat sebagian gambar yang sudah dibuat Kino. Kurang puas dengan apa yang dilihatnya, Rien melangkah perlahan lebih dekat. Sejenak ia mengernyitkan dahi. Lalu pelan-pelan bibirnya membentuk huruf O tapi tak ada suara yang keluar.
Apa yang dilihatnya menimbulkan kesan “mengganggu” tetapi sekaligus mencengangkan. Biar bagaimana pun, Rien adalah seorang seniman. Ia tahu apa yang membedakan “seni” dan gambar anak-anak TK. Gambar Kino sekaligus menyatakan bahwa ketidak-teraturan anak-anak TK adalah seni pula !!
Sejenak Rien termangu dan membelalakkan matanya yang indah itu. Oh,… adikku yang ganteng ini ternyata punya bakat hebat, sergahnya dalam hati.
Tak kurang dari tiga menit maestro tari itu mencermati karya-karya Kino yang berserakan di meja. Lalu, dengan tanpa menimbulkan suara, Rien melangkah surut pelan-pelan. Setelah agak jauh dari Kino, perempuan itu berlari cepat ke kamarnya untuk mandi dan berganti baju.
Ia ingin segera mendiskusikan apa yang telah dilihatnya, dan ingin merasa segar-bugar setelah rehearsal yang melelahkan. Untuk berdiskusi tentang sesuatu yang begitu revolusioner dari tangan anak muda yang tahu-tahu muncul setelah lama menghilang, diperlukan badan segar dan pikiran jernih !!
Dari telpon di kamar mandinya, sambil melepas semua baju, Rien mengontak Tiyar yang masih di studio musik. Pria itu sedang mengurus rekaman musik pengiring tarian Rien dan mengatakan tidak akan pulang malam ini. Rien tidak sabar, ingin mengabarkan apa yang barusan di lihatnya di beranda belakang.
“Gila, honey ..,” seru Rien di telpon, “Anak itu punya bakat gede … Kamu musti lihat sendiri!”
“Oh ya?” suara Tiyar kedengaran tidak bersemangat mendengar pacarnya sekali lagi memuji pemuda kutu-buku itu.
“Bener .. sangat orisinal dan ekspresif!” seru Rien bersemangat sambil melemparkan behanya ke lantai. Kedua payudaranya yang indah terbebas dari kukungan.
“Tapi aku masih sibuk nih, Rien ..,” jawab Tiyar malas.
“Iya, aku tahu … terusin saja, tapi kamu musti segera lihat besok. Kita musti pikirkan bagaimana caranya mengganti latarbelakang dalam seminggu!”
“Hah? Apa tidak terlalu riskan?” sahut Tiyar, kali ini agak terganggu karena mengubah latarbelakang panggung tidak sama dengan mengganti ban mobil yang kempes.
“Ah .. kita bisa akalin ..,” sergah Rien cepat sambil meloloskan celana nilon tipis dari tubuhnya yang kini telanjang bulat.
“Thomas pasti ngomel kalau kamu suruh gonta-ganti latarbelakang!” gerutu Tiyar.
“Nanti aku telpon dia, supaya besok ikut diskusi!” potong Rien sambil mengatakan goodbye dan meletakkan gagang telpon lalu masuk ke shower.
Di seberang sana, Tiyar termangu sejenak memandang gagang telepon di tangannya. Huh .. anak itu ternyata bisa menyita perhatian Rien yang terkenal cerewet, pikirnya. Betulkah anak itu cuma “bagian dari masa lampau” … atau … Ah, pikiran gila! sergah Tiyar dalam hati lalu kembali ke ruangan monitor soundsystem untuk melanjutkan kerjanya.
******
Gambar terakhir, yakni bagian paling kanan dari latarbelakang panggung, selesai pada saat malam sudah benar-benar menghalau hari. Langit sudah gelap, dan segerombolan nyamuk muncul di beranda belakang yang halamannya memang penuh tumbuh-tumbuhan itu.
Kali ini barulah Kino merasakan gangguan dari mahluk-mahluk yang berdenging itu. Sambil mengumpulkan semua gambar-gambarnya, pemuda itu mengusir nyamuk yang mengitari kepalanya.
Kopinya sudah lama dingin, ia hirup dengan sekali tegukan untuk menghabiskannya. Lalu sambil menggeliat merenggangkan pinggangnya yang kini terasa penat, Kino bangkit untuk masuk ke dalam untuk menemui Mbak Rien-nya. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah dia sudah pulang?
Belum sempat ia membalikkan tubuh, sepasang tangan harum menutup kedua matanya dari belakang. Kino tersenyum, mengenali tangan itu walaupun tak melihat orangnya. Kino juga agak tersentak, karena pemilik tangan itu bukan cuma menutup telinganya, tetapi juga menempelkan tubuhnya. Tentu saja, ia kenal tubuh itu!
“Ngga nyangka .. kamu ternyata berbakat seniman juga” bisik Rien tanpa melepaskan takupan kedua tangannya.
Kino tersenyum dan me-relaks-an tubuhnya setelah pasti bahwa yang memeluk dari belakang adalah Mbak Rien-nya. Sejenak tadi ia sempat juga kuatir, jangan-jangan ada mahluk halus yang menyelinap ke sanggar.
“Kenapa sih kamu ngga bilang dari dulu bahwa kamu seniman?” bisik Rien lagi, mempererat pelukannya.
“Aku memang bukan seniman, mbak,” sahut Kino, “Maunya, sih, jadi arsitek saja.” Rien tertawa kecil,
“Ya, sama aja … arsitek itu juga seniman. Mba juga baru sadar, kamu kan dari dulu ingin jadi arsitek beneran!”
“Ini baru coba-coba, lho, Mbak ..,” ujar Kino sambil mengangkat tangannya yang memegang kertas-kertas berisi gambar rancangannya, “Belum tentu bagus.”
Rien melepaskan takupan tangan dan pelukannya, sehingga pemuda itu kini bisa berbalik sempurna.
“Sekarang kamu musti jelasin, se-detil-detilnya … apa saja ide kamu tentang panggung Mbak Rien!”, ucap perempuan cantik yang kini berdiri dekat sekali di depan Kino. Keharuman yang lembut memancar dari seluruh tubuhnya yang terbungkus daster mewah.
“Di sini?” tanya Kino lucu. Rien mencubit ujung hidung pemuda itu,
“Nyamuk-nyamuk di sini ngga ngerti arsitektur, Kino!” Kino tertawa, membiarkan Rien menyeret tangannya masuk.
“Kita ngobrol di studio, ya …,” ucap Rien tanpa menunggu reaksi Kino, lalu ia berteriak seenaknya, “Iyeeem … tolong belikan soto ayam Pak Saidi untuk makan malam!”
Terdengar suara Iyem menyahut dari belakang.
Kino tertatih-tatih diseret Rien masuk ke sebuah ruangan yang pintunya terbuat dari kayu seperti pintu-pintu rumah Bali. Inilah studio sang maestro tari itu: sebuah kamar luas yang berisi seperangkat stereo, beberapa poster pertunjukan, sebuah meja dan sebuah sofa panjang.
Salah satu dindingnya tertutup total oleh cermin, sehingga ketika lampu dinyalakan Kino sempat menyangka bahwa ruangan itu dua kali lebih luas dari sesungguhnya.
Rien menyeret Kino ke sofa, menghenyakkan tubuhnya dan membawa serta tubuh pemuda itu ke sebelahnya.
“Okay ..,” ujar Rien selayaknya boss di mana-mana, “Sekarang kamu yang ngomong dan Mbak Rien yang pasang kuping.”
“OK boss,” ucap Kino sambil meletakkan gambar-gambarnya dalam urutan yang benar, dari kiri ke kanan. Ada tujuh gambar yang Kino selesaikan. Setelah menarik nafas panjang, pemuda itu mulai menjelaskan dengan suara pelan dan teratur.
“Kamu kok seperti sedang menghadapi ujian, sih?!” sela Rien sambil merengkuh bahu Kino. Kino tertawa,
“Katanya harus se-detil-detilnya …”
“OK.. OK .. teruskan,” ucap Rien cepat.
“Kalau saya ngga salah, pada umumnya penari muncul dari sebelah kiri. Betul, mbak?” kata Kino.
“Ya .. tul ..,” sahut Rien.
“OK .. mudah-mudahan Mbak bisa melihat bahwa latarbelakang yang saya buat ini menimbulkan kesan mengalir ke kanan..”Rien memiringkan kepalanya, pipinya mengusap bahu Kino lembut,
“Hmmm…. yaa … ya .. kira-kira begitu.”
“Memang sih tidak langsung terlihat ‘mengalir’ …. karena penarinya tidak ada, dan tidak ada gerakan. Sebab itu, sewaktu pembukaan nanti mungkin perlu permainan lampu …” kata Kino sambil menggerakkan tangannya menggambarkan gerakan lampu sorot dari kiri ke kanan.
“Boleh juga …. di mana sih kamu belajar tentang panggung?” sela Rien sambil memeluk pinggang Kino, sehingga kini mereka duduk seperti sepasang kekasih di bangku taman bunga.
Sejenak Kino tidak menjawab. Bukan karena tidak punya jawaban, tetapi karena tiba-tiba kenangan tentang sebuah sanggar sederhana tempat seorang gadis mengajarkan tarian kepada serombongan anak-anak kecil muncul perlahan …
“Hei ..!” sergah Rien, “Ditanya kok diam.” Kino tersenyum,
“Belajar dari Mbak Rien sendiri ..”
“Hah?!,” seru Rien, “Kapan kamu belajar dari Mbak Rien … kita terakhir ketemu 5 atau 6 tahun yang lalu, kan?”
“Ingat waktu Mbak menari di kota kita dulu?” tanya Kino.
“Hmm .. hmmm,” gumam Rien meng-iya-kan.
“Saya kan selalu nonton .. dan selalu ingat bagaimana Mbak menari dengan bagus sekali. Sejak itu saya suka memperhatikan panggung dan berpikir-pikir tentang dekorasi panggung,” ucap Kino. Rien tertawa kecil, lalu berucap setengah berbisik,
“Sejak dulu kamu memang suka sama Mbak Rien …” Kino terdiam. Keduanya terdiam. Ruang studio terasa sangat lengang.
Sebuah perasaan sayang yang entah datang dari mana, menyelinap perlahan ke diri Rien. Juga ada sedikit rasa hangat di kedua matanya. Sebelum kehangatan itu berubah menjadi air mata, perempuan itu buru-buru memecah keheningan.
“Eh … kok jadi bengong … Ayo teruskan, Kino!” Kino tersentak, kembali dari sebuah perjalanan pendek yang melenakan ke masa lampau.
“Sorry … Mbak terlalu banyak bertanya, yaa ..,” kata Rien sambil merenggangkan pelukannya. Kino ingin mengatakan, teruskan peluk saya … Tetapi mulutnya berucap lain,
“Ah, ngga apa-apa Mbak .. Saya cuma tiba-tiba inget masa lalu …” Terdengar Rien menghela nafas lalu berucap pelan, “Memang, masa lampau bisa datang tiba-tiba … Tetapi mendingan kita sekarang ngomongin masa kini…” Kino tertawa,
“OK .. boss … Saya lanjutkan … Ini bagian tengah yang menggambarkan inti dari tarian Mbak Rien ..”
“Intinya adalah ….,” Rien menyela dan membiarkan ucapannya mengambang.
“Pemberontakan,” sahut Kino cepat.
“Revolusi,” sambung Rien.
“Terpendam ..,” sambung Kino.
“OK … revolusi yang terpendam … revolusi perasaan …,” kata Rien seperti sedang menyimpulkan sebuah diskusi panjang.
“Revolusi perasaan yang terpendam?” tanya Kino.
“Perasaan memang selalu terpendam, Kino ..,” kata Rien, “Sedangkan apa yang kita sampaikan ke dunia luar itu adalah wakil dari perasaan kita ..”
“Hmmm …,” gumam Kino sambil merapikan gambar-gambarnya yang sempat tergeser-geser karena gerakan tangan.
“Ngerti apa ngga?” sergah Rien sambil merangkul Kino lagi dengan rasa sayang seorang kakak kepada adiknya.
“Ngga!” sahut Kino sambil tertawa lepas.
“Yaaa .. sudah!” rajuk Rien sambil menyandarkan pipinya ke bahu pemuda itu, “Ngga usah terlalu ngerti … asal sekarang bisa jelasin bagaimana caranya membuat latarbelakang yang morat-marit kayak gitu ..”
“Ini namanya dekonstruktif, Mbak … bukan morat-marit ..,” kata Kino sambil tertawa.
“Terserah kamu, lah …,” kata Rien sambil mempererat pelukan di pinggang pemuda itu,
“Bagi Mbak Rien, tetap saja morat-marit …” Belum sempat Kino memprotes, Rien sudah menyambung lagi,
“Tapi Mbak suka! .. Suka sekali!!”
“Apakah kira-kira penonton nanti mengerti, Mbak?” tanya Kino agak kuatir, karena kesan morat-marit itu kini semakin kentara setelah Rien mempersoalkannya.
Rien tertawa renyai, dadanya berguncang menimbulkan desakan-desakan lembut di lengan Kino, “Setengah dari penonton tarian Mbak adalah mereka yang kelebihan duit, Kino … sepertiganya adalah mereka yang pengen nonton Mbak Rien .. sepertiganya lagi yang ngga tahu kenapa menonton … sisanya adalah sesama seniman, kritikus, wartawan.”
“Jadi … mereka ngga peduli .. begitukah?” sela Kino agak kecewa.
“Mereka suka sensasi, Kino ..,” ujar Rien sabar mendengar kekecewaan di ucapan pemuda itu, “Justru rancangan kamu yang gila-gilaan ini bisa menimbulkan sensasi …”
“Mbak ngga peduli apakah mereka mengerti atau tidak?” desak Kino masih kecewa.
Rien memperbaiki duduknya, kini menghadap Kino di sebelahnya. Satu kakinya ia naikkan ke sofa seenaknya. Lalu dengan kedua tangannya ia memutar wajah Kino agar menghadapnya.
“Dengar adikku yang cakep …,” ujar Rien pelan sambil memandang dengan matanya yang indah itu, “Mbak menari untuk menyampaikan sesuatu. Mbak tidak bisa terlalu peduli, apakah yang Mbak sampaikan itu bisa diterima atau tidak.
Kalau setiap kali mau menari, Mbak harus mikirin itu … kapan bisa menari, dong?” Kino diam, menyimak setiap kata maestro tari di depannya, yang kini kembali menjadi kakak perempuannya yang molek dari sebuah kota kecil dengan hutan kenari, kali yang bening, dan pantai yang ramah.
“Kamu juga harus begitu, Kino …,” sambung Rien lembut, satu tangannya seakan tak sengaja mengusap-usap pipi pemuda itu, “Kalau kamu mau jadi arsitek beneran .. kamu harus berani menyampaikan sesuatu kepada dunia.
Apa yang kamu gambar ini bener-bener ekspresif … Jadi jangan mikir yang ngga-ngga .. Pokoknya, kamu sampaikan dulu kepada penonton. Terserah, mereka mau ngerti atau ngga!” Kino mengangguk, tetapi gerakannya terbatas karena Rien masih memegang kedua pipinya.
Rien tersenyum dengan seluruh wajahnya, membinarkan kelembutan yang selalu bisa ditimba oleh Kino. Pemuda itu tiba-tiba merasa bersyukur bertemu lagi dengan seseorang yang begitu penuh percaya diri di tengah kegalauan yang selalu menimbulkan keraguan ini.
“Ingat waktu kamu masih SMA?” bisik Rien. Kino menelan ludah, merasakan tenggorokannya terlalu kering. Bagaimana ia bisa lupa masa indah itu?
“Ingat yang mana?” tanya Rien agak serak. kedua matanya berbinar menggoda. Kino tersenyum kecut,
“Ingat semuanya ..” ucapnya pelan. Rien tertawa kecil,
“Ingat kenakalan-kenakalan Mbak Rien dengan kamu?”
Kino mengangguk, menggeser sedikit tubuhnya sehingga kini mereka berdua berhadapan. Ah … pemuda itu tiba-tiba ingat pula ketika mereka duduk di pasir, berhadapan seperti ini. Ketika itu Mbak Rien membiarkan Kino merasakan untuk pertamakalinya bagaimana menyentuh tubuh wanita sebagai lelaki dewasa .. bukan sebagai anak-anak, atau remaja.
“Coba deh kamu pikir-pikir,” bisik Rien, “Semua yang indah itu terjadi dengan begitu saja, kan? Tidak ada rencana, tidak ada ‘sebelumnya’ atau ‘sesudahnya’ … Semuanya tau-tau terjadi.” Kino menunduk, tak sengaja memandang tubuh di depannya yang tak terlalu sempurna tertutup daster.
“Sudah lama Mbak pengin ngomong sama kamu, Kino .. tetapi ngga pernah ada waktu.” ujar Rien sambil menarik leher pemuda itu, membawanya ke pelukan.
Kino tadinya agak kikuk, tetapi lalu membiarkan tubuhnya dipeluk Rien. Dengan kemanjaan yang kentara, wanita itu menyandarkan kepalanya ke pipi Kino, dan mereka sejenak terdiam seperti sepasang kekasih yang tidak tahu, hendak berpisah atau baru berjumpa?
“Apa yang Mbak ingin sampaikan?” bisik Kino sambil kini balas memeluk. Ia merasakan kehangatan yang berbeda dari pelukan seorang wanita. Apa bedanya, ia sendiri tidak tahu. Ia hanya tahu bahwa pelukan ini berbeda … Rien tertawa kecil,
“Sebetulnya barusan sudah Mbak sampaikan, semua apa yang Mbak ingin katakan sejak 5 tahun lalu.”
“Oooo ..,” gumam Kino.
Rien tertawa lebih keras, “Kayaknya kamu tidak terlalu ngerti …” Kino ikut tertawa,
“Ngerti sedikit, .. tetapi lebih banyak ngga ngerti-nya.”
Tangan Rien mengacak-acak rambut Kino. Ia selalu begitu kepadaku, pikir pemuda itu. Ia selalu menunjukkan sayang dengan caranya yang khusus.
“Tidak usah mengerti, Kino ..,” ucap Rien lembut, “Tidak usah … biar saja jadi misteri sampai kapan pun.”
Lalu mereka melepaskan pelukannya masing-masing, seperti ada komando dari seorang sutradara film yang tidak tampak. Dan Kino melihat ada air bening samar mengambang di kedua mata Mbak Rien.
“Mbak menangis?” tanya Kino lugu.
“Hampir ..,” jawab Rien sambil tersenyum manis sekali. Kino mengernyitkan keningnya, berpikir : apakah menangis adalah bagian dari misteri wanita?
Sejenak hening lagi. Mereka saling pandang. Lalu Rien memajukan wajahnya … dan Kino mengangkat satu tangannya untuk menyentuh pipi perempuan yang dulu mengundangnya ke dunia penuh misteri menakjubkan itu .. Lalu Rien memejamkan matanya yang indah, membuka bibirnya yang selalu basah, menawarkan sebuah ciuman yang tak mungkin bisa ditolak oleh Kino.
Bagi seorang pria, apakah rasanya bibir seorang wanita? Ada yang bilang seperti mentega lembut yang bisa dilahap perlahan, mencair oleh kehangatan nafas kita. Ada yang bilang seperti beledru yang membasah setelah dikulum beberapa lama.
Ada yang bilang seperti gulali, permen kapas yang dijual orang di pasar malam itu. Tetapi buat Kino, ciuman ini adalah sungai, pantai, dan hutan kecil … adalah angin sepoi-sepoi yang membawa keharuman tanah basah dan daun-daun yang berguguran … adalah aliran air yang menyelinap di balik batu-batu tempat bersembunyinya ikan-ikan kecil … adalah lidah-lidah ombak yang menjilat pantai tanpa kenal letih …
Rien mengerang pelan, menghamburkan nafas hangat ke sekujur wajah Kino. Mulutnya membuka lebih lebar, memberikan keleluasaan bagi lidah Kino untuk menyentuh lidahnya sendiri yang hangat dan basah .. Ketika sentuhan itu benar-benar terjadi, tubuh keduanya bagai tersengat listrik.
Ciuman mereka terlepas. Rien menarik wajahnya. Kino menurunkan tangannya.
Lalu Rien bangkit cepat-cepat dan keluar meninggalkan studio. Kino tetap duduk, menunduk. Nafasnya tidak teratur. Pikirannya buntu.
******
Terdengar Iyem mengetuk pintu studio. Kino tersentak dari lamunan yang entah sudah berapa lama.
“Makan malam sudah siap, den … Ibu Rien sudah menunggu di meja makan,” kata pembantu itu dengan sopannya.
“Iya, bi Iyem .. saya segera kesana,” ucap Kino cepat.
Lalu ia membereskan gambar-gambar di meja. Menumpuknya dalam urutan yang benar. Pikirannya masih bingung. Ada apa tadi dengan Mbak Rien? Terlebih-lebih lagi, ada apa dengan diriku sendiri? Kenapa itu terjadi lagi? Ciuman tadi begitu lembut tetapi juga sekaligus begitu membiuskan. Padahal awalnya adalah sebuah pelukan ke-ibu-an. Awalnya adalah sebuah kewajaran tentang kenangan-kenangan manis …
Dengan sangat kikuk, Kino menemui Mbak Rien-nya di meja makan. Perempuan itu tersenyum manis, seakan-akan tidak ada apa-apa 10 menit yang lalu.
“Mbak lapar sekali … dan ada soto kesayangan Mbak Rien …,” ujarnya santai sambil menepuk kursi di sebelahnya, menandakan bahwa Kino harus duduk di sana. Kino duduk dengan hati-hati, seakan-akan takut gerakannya menimbulkan gempa bumi. Rien menakupkan telapak-tangannya ke tangan Kino setelah pemuda itu duduk, lalu berucap pelan,
“Maaf tadi Mbak Rien keterusan …,” senyumnya merebak manis, kedua matanya menyebarkan keteduhan seakan-akan menyiramkan air sejuk ke sekujur tubuh Kino.
“Saya juga minta maaf ..,” ucap Kino serak.
“OK …,” jawab Rien cepat, tetap tersenyum dengan senyumnya yang indah dan penuh percaya diri, “Kita sama-sama minta maaf. Lupakan ciuman tadi, sekarang kamu musti makan. Soto ini enaaaaaaaaaaak .. sekali!”
Kino tersenyum, menghela nafas panjang merasakan kekakuannya mencair dengan cepat seperti es disiram air panas. Ia menyendok nasi, menumpahkan kuah soto ayam ke nasinya, dan mulai makan dengan lahap. Ia memang lapar.
“Sekarang kamu ceritakan apa, sih, dekonstroktusi itu ..,” ucap Rien di antara suapannya.
Lalu Kino pun bercerita tentang seseorang bernama Jacques Derrida yang mendefinisikan dekonstruksi sebagai pola pikir baru di kalangan filsuf Barat. Ide tentang sesuatu yang “tidak mapan” ini lalu menyebar, termasuk ke arsitektur lewat tangan-tangan tokoh semacam Bernard Tschumi dan Peter Eisenman.
“Apa sih yang membedakan arsitektur dekonstruktif dari lainnya?” tanya Rien penuh ingin tahu. Ia memang tertarik pada pandangan-pandangan baru dalam seni dan budaya.
“Dekonstruksi menjauh dari pikiran dasar arsitektur yang membedakan antara struktur dengan dekorasi … abstraksi dengan figurasi … figur dengan latarbelakang … dan seterusnya.” jawab Kino meniru dosennya.
“Maksudnya?” desak Rien sambil menambahkan sambal ke nasi sotonya.
“Dekonstruksi justru ingin lepas dari perbedaan-perbedaan itu. Misalnya, kan, tidak harus struktur berbeda dari dekorasinya. Kan bisa saja dekorasi itu struktur …” jawab Kino bersemangat.
“Jadi struktur itu ngga harus kaku, gitu?” tanya Rien.
“Ya .. struktur bisa saja dekoratif, lemah-gemulai , tidak harus selalu tegak lurus ..Makanya bangunan-bangunan yang dekonstruktif bisa saja mencang-mencong atau meliuk-liuk,” sahut Kino.
Lalu Rien mengatakan bahwa dalam seni tari juga ada pemikiran-pemikiran yang “anarkis” seperti itu. Langsung saja pembicaraan kedua orang di meja makan ini bersambung-sambung. Baru kali ini Kino menemukan lawan bicara yang satu minat dalam soal seni. Pemuda itu semakin bersemangat, sehingga tak kurang dari satu jam mereka berbincang-bincang di meja makan.
Tidak cukup dengan itu, mereka pindah ke depan televisi. Walaupun televisi menyala dan menyiarkan sebuah film, Rien dan Kino tak peduli, karena kini asyik berdiskusi tentang segala hal di bidang seni. Juga, Rien mulai mengajak Kino untuk membicarakan lagi rancangan latarbelakang yang ia buat.
Beberapa bagian dari gambar Kino mendapat kritik tajam dari Rien, dan pemuda itu terkadang perlu berdebat untuk mempertahankan pendiriannya. Tetapi akhirnya memang ada beberapa bagian yang perlu diganti.
Rien juga mengingatkan bahwa rancangan di kertas gambar belum tentu bisa sepenuhnya diterjemahkan ke dekorasi panggung yang sesungguhnya.
“Bagaimana membuat garis melengkung yang begini panjang dari ujung kiri sampai hampir ke tengah?” sergah Rien sambil menunjuk ke gambar Kino.
“Bambu, Mbak Rien … gunakan bambu,” sahut Kino.
“Mana ada bambu segitu panjang, Kino … apalagi di Jakarta!” ucap Rien sengit.
“Disambung-sambung,” sahut Kino cepat.
“Pake apa nyambungnya, cah bagussss??? Nanti patah di tengah-tengah!” sergah Rien sambil mengacak-acak rambut Kino.
Kino terdiam, ia memang belum memikirkan semua aspek teknis dari rancangannya.
“Bagaimana kalau garis itu diperpendek,” usul Rien.
“Ngga lucu jadinya, Mbak ..,” protes Kino, “Justru garis lengkung ini ingin mencari perhatian. Kalau pendek, mana ada yang memperhatikan.”
“Ganti dengan garis yang tidak terlalu melengkung..,” desak Rien.
“Tambah ngga lucu … seperti dipaksakan,” sahut Kino tak mau kalah.
Mereka terdiam. Sama-sama berpikir keras tentang bagaimana menampilkan sebuah garis melengkung, hampir setengah panggung, tapi tidak terlalu besar. Ketika jam menunjukkan pukul 1 dini hari, dan belum ada kesepakatan tentang beberapa hal, Rien akhirnya menyerah.
Cerita Sex Istri Jalang
“Ya sudah …,” ujar Rien sambil menguap lebar dan merentangkan kedua tangannya meregangkan tubuh yang pegal, “Besok pagi kamu musti ngomong sama Thomas.”
“Siapa itu?” tanya Kino sambil membereskan kertas-kertas yang berantakan.
“Thomas itu ahli dekorasi panggung. Dia memang bukan seniman, tetapi teknisi yang banyak akal. Kalau dia tidak ngomel besok pagi, kita bisa bujuk dia untuk mencari bambu yang kuat.” jawab Rien sambil bangkit dari duduknya.
“Mbak Rien mau bobo dulu …,” ucap Rien sambil menguap lagi, “See you tomorrow ..”
“OK .. Mbak.. saya beresin dulu gambar-gambar ini,” sahut Kino.
Rien tidak berkata apa-apa lagi, berjalan gontai ke kamar tidurnya. Lalu Kino mendengar pintu ditutup, dan akhirnya sepi pun meraja di rumah besar itu.
TAMAT


