Obsesi Nakal Ibu Kandung
Cerita Dewasa · 18+
DISCLAIMER
- Cerita ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca Ngocokers masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutya adalah tanggungjawab pembaca Ngocokers.
- Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.
- Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.
- Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu. Penulis harap pembaca Ngocokers cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan.
- Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.
Cerita Sex Obsesi Nakal Ibu Kandung – Namaku Rina. Aku sudah menikah dan memiliki seorang putri tunggal, Fara namanya. Usianya yang sudah beranjak remaja telah membuat dirinya tampak menarik. Wajahnya yang cantik dan imut menjadi nilai lebih darinya. Umurku sendiri baru 35 tahun, sedangkan suamiku, Mas Alan, 38 tahun.
Ada sebuah pengalaman yang sangat membekas dalam ingatanku. Waktu kecil dulu aku pernah diam-diam melihat ibuku dientot oleh kakekku, ayah kandung ibuku sendiri. Aku tidak tahu apa yang membuat ibu dan kakek melakukan hubungan seperti itu, aku yang juga tidak tahu harus berbuat apa akhirnya memilih diam.

Kini saat sudah memiliki putri, aku sering membayangkan kalau suamiku bersetubuh dengan anak gadis kami. Membayangkan bagaimana suamiku menggenjot anak gadisnya sendiri sampai anak gadis kami ini hamil olehnya. Tentu saja itu merupakan khayalan gila dari seorang ibu terhadap anak dan suaminya sendiri.
Saat aku berhubungan badan dengan suamiku, aku juga menganggap kalau aku ini adalah Fara, anak gadisnya. Hal itu membuatku orgasme lebih cepat. Selain itu, saat aku pergi ke pasar dan meninggalkan mereka berdua di rumah, aku juga sering membayangkan kalau mereka bersetubuh di belakangku selama aku pergi.
Seiring waktu, hanya dengan membayangkan tidak cukup lagi bagiku. Kini aku betul-betul berharap mereka berzinah, melakukan hubungan badan sedarah antara seorang ayah dan anak gadisnya.
Akupun berusaha menciptakan situasi-situasi agar suami dan anakku menjadi tertarik satu sama lain. Aku sampai membelikan putriku pakaian-pakaian yang seksi, lalu mengajarinya cara berpakaian yang membuat lekuk tubuhnya tercetak.
Sebenarnya sering suamiku memprotes cara berpakaian putri kami. Tapi tentu saja aku membela Fara.
“Memangnya kenapa sih Pa? kan cuma di rumah saja. Lagian cuma Papa sendiri laki-laki di sini” ujarku.
“Iya sih”
“Kalau gitu ya gak apa-apa dong Pa…”
“Tapi kan… Ya sudah lah” kata suamiku akhirnya mengalah. Maka bebaslah Fara berpakaian seperti itu di hadapan ayahnya.
Mungkin kalau pria lain yang melihat keadaan putri kami, pria itu sudah pasti akan sangat bernafsu. Bagaimana tidak? Seorang gadis cantik yang sedang segar-segarnya tampil dengan pakaian yang menggemaskan dan membangkitkan birahi, yang mana ibunya sendiri yang mengajarkan cara berpakaiannya itu.
Itupun sebenarnya cukup sering terjadi, karena teman-teman suamiku sering mampir ke rumah, begitupun bapak-bapak tetangga sebelah.
“Wah, Fara udah gede yah… cantik lagi” Itu yang selalu mereka katakan bila melihat putriku di rumah. Aku lihat mata mereka selalu melirik ke tubuh putri kami. Rasanya sungguh aneh saat anak gadisku dipelototin begitu, antara marah dan bangga karena putriku banyak yang menyukai.
Dengan keadaan Fara yang berpakaian seperti itu, aku jadi lebih sering meninggalkan suami dan putri kami berdua menonton tv, atau menyuruh suamiku membantu Fara mengerjakan PR-nya di dalam kamarnya Fara.
Saat mereka berduaan, akupun diam-diam memperhatikan dari jauh. Aku ingin tahu apakah suamiku mencuri-curi pandang ke arah anaknya.
Malam ini kami sedang duduk bersama menonton acara televisi. Sebenarnya ini adalah keadaan dan suasana yang biasa, hanya pikiranku saja yang tidak beres.
“Sayang, ayo sini mama pangku” kataku mulai melancarkan aksiku. Fara saat itu masih tetap setia mengenakan tanktop dan celana pendek sepaha bila sedang di rumah.
“Ihh… mama. Fara kan udah gede. Masa masih dipangku!?”
“Hihihi, udah gede apanya? udah gede apanya ayo…” kataku sambil menarik Fara, memeluknya lalu mengangkatnya ke pangkuanku sambil ku gelitiki.
“Hahaha… geli mah, ampun…”
“Ininya yah yang udah gede?” tanyaku sambil menyentil buah dadanya yang hanya ditutupi tanktop.
“Mama! Geli…!”
Bercanda seperti inipun memang sudah sering kami lakukan. Saling menggelitik dan bermain-main saat bersama-sama duduk menonton tv. Tapi kini aku mempunyai tujuan lain, yaitu sengaja membuat suamiku jadi terangsang dan bernafsu pada anaknya sendiri.
“Hihihi, Pa, lihat nih anakmu udah gede” ujarku memanggil Mas Alan. Kaki Fara ku buat jadi membuka lebar saat itu. Aku ingin suamiku melihat betapa putrinya kini sudah menjadi seorang gadis yang cantik dan menggairahkan. Membuat suamiku jadi berpikiran kotor pada anak gadisnya sendiri.
Mas Alan memang melirik ke arah kami, tapi dapat ku baca dari wajahnya kalau yang dimaksud ‘gede’ olehnya hanyalah umur putrinya yang sudah semakin bertambah, bukan ukuran-ukuran kewanitaan seperti buah dada, pinggul dan lekuk tubuh putrinya.
“Ayo sayang, minta pangku juga sama papa kamu sana” suruhku pada Fara.
“Pa… pangkuin Fara dong…” minta Fara manja.
“Iya-iya sini” kata mas Alan sambil membiarkan Fara duduk di pangkuannya. Mereka kini sama-sama menghadap ke arah tv. Suamiku tampak biasa-biasa saja, tidak terlihat tanda-tanda nafsu meskipun saat ini ada seorang gadis cantik yang sedang duduk di pangkuannya. Padahal aku berharap kalau suamiku ereksi, sehingga penis tegangnya akan mengganjal pantat anak gadis kami.
“Duh, iya nih kamu sudah gede. Berat amat sekarang” ujar mas Alan sambil mengusap-ngusap rambut Fara.
“Biarin… week. Nih rasain!” Fara lalu mengangkat sedikit pinggulnya, lalu menurunkannya lagi tiba-tiba ke bawah. Seakan menunjukkan kalau dia memang sudah lebih berat sekarang karena semakin dewasa. Namun yang ada itu malah membuat penis suamiku tertekan pantat putrinya.
“Duh, kamu ini” gerutu suamiku. Namun tetap membiarkan Fara terus di pangkuannya. Fara tampak nyaman sekali dipangku ayahnya, mereka begitu mesra. Merekapun terus menonton tv dengan posisi berduaan begitu, dan aku terus hanya memperhatikan.
Semakin lama, ku lihat sesekali pantat putriku ini bergeser-geser kesana-kemari di pangkuan suamiku. Apa suamiku sedang ereksi? Sehingga membuat Fara merasa tidak nyaman karena pantatnya terganjal? Kalau benar, apa putriku ini tahu kalau penis tegang ayahnyalah yang sedang mengganjal pantatnya saat ini?
Aku lalu bangkit dari tempat dudukku. Aku ingin meninggalkan mereka berdua lagi kali ini.
“Mau kemana ma?” tanya suamiku.
“Mau ke kamar, sudah ngantuk” jawabku sekenanya, karena tujuanku sebenarnya hanyalah ingin membiarkan mereka berduaan.
“Kamu mau tidur juga sayang?” tanyanya kini pada Fara.
“Belum ngaktuk Pa” jawab Fara cuek sambil tetap asik menonton tv.
“Ya sudah”
Akupun masuk ke kamar dan membiarkan suami dan anakku berduaan di sana. Dari dalam kamar aku mencoba mengintip mereka, tapi tidak ada gerakan ataupun obrolan yang aneh-aneh meski posisi mereka tetap tidak berubah. Akupun memutuskan untuk berbaring di ranjang. Tapi tanpa sadar aku benar-benar tertidur!
Saat aku terbangun esok paginya dadaku begitu berdebar-debar. Entah apa yang sudah ku lewatkan tadi malam. Apa mereka melakukan sesuatu selagi aku tidur? Atau bahkan suamiku dan putri kami sudah bersenggama? Pikiran-pikiran itu terus melintas di kepalaku. Perasaanku semakin tidak karuan karena aku tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, meskipun belum tentu semua yang ku pikirkan tadi benar-benar terjadi.
~~
Akupun melanjutkan terus aksiku. Ketika itu dengan nada bercanda aku menyuruh Mas Alan untuk memandikan Fara, tapi tentu saja baik Fara maupun suamiku menolaknya.
“Gak mau ah, Fara kan udah gede, masa dimandikan Papa” jawab Fara.
“Iya nih, mama ada-ada aja” kata suamiku ikut-ikutan.
“Hihihi… Kalau mama yang mandikan Fara, mau?” tanyaku lagi.
“Gak mau juga!”
Namun akhirnya Fara mau juga mandi denganku. Dia benar-benar sudah menjadi seorang gadis muda yang cantik. Tanda-tanda kewanitaannya benar-benar sedang tumbuh dengan baik. Pastinya akan membuat nafsu para lelaki bila melihat dia telanjang dan basah-basahan seperti sekarang ini. Aku ingin ayahnya juga melihatnya dengan pandangan nafsu.
Waktu aku ingin menyabuni badan, ku temukan botol sabun sudah mau habis. Ini kesempatanku!
“Sayang, sabunnya habis nih. Kamu ambilin gih ke belakang” suruhku pada Fara.
“Kok Fara sih ma?”
“Iya dong, masa mama yang ambil. Sana”
“Iyaa…”
Fara lalu melilitkan handuk ke tubuhnya, tapi ku cegah. Aku ingin memamerkan tubuh indah Fara kepada ayahnya saat ini. Tanpa banyak tanya Farapun menuruti. Aku memanfaatkan sifatnya yang masih polos dan belum mengerti betapa pentingnya menutupi bagian-bagian kewanitaaannya itu. Jadilah dia bertelanjang bulat dari kamar mandi ke dapur.
Pintu kamar mandi ku buka sedikit agar aku dapat mendengar apa yang akan terjadi. Dari sini aku memang tidak bisa melihat apa yang terjadi, namun aku masih bisa mendengar dengan jelas. Ku dengar suamiku terkejut dan menegur Fara kenapa keluyuran telanjang begitu di dalam rumah. Dijawab Fara kalau ingin mengambil sabun.
“Sabunnya dimana Pa? gak ketemu nih…”
“Bentar papa ambilkan”
Tidak terdengar suara sama sekali selama beberapa saat kemudian. Dadaku berdebar memikirkan suamiku sedang bersama putri kami yang bertelanjang bulat! Pastinya jarak antara ayah dan anak itu sangat dekat. Aku tidak tahu apa suamiku terangsang saat ini. Namun yang pasti, akulah yang terangsang berat karena memikirkan hal tersebut.
“Makasih Pa”
“Iya, sana cepat ke kamar mandi. Nanti malah masuk angin lama-lama telanjang di luar”
“Iya Pa”
Tidak lama kemudian Fara masuk kembali ke kamar mandi.
“Mama lagi ngapaiiiin!??”
“Eh, n-nggak lagi ngapa-ngapain” jawabku tergagap. Aku kedapatan olehnya sedang masturbasi menyemprotkan shower ke vaginaku! Untung kemudian bisa ku jelaskan kalau aku sedang membersihkan bagian tersebut. Kamipun mandi seperti biasa selanjutnya.
Handuk yang kami bawa saat itu cuma satu, jadi kami pakai berdua bergantian setelah selesai mandi. Tentu aku yang mengenakan handuk itu, sedangkan Fara ku suruh bertelanjang menuju ke kamarnya. Sekali lagi ketelanjangannya di lihat oleh ayahnya.
~~
Malam harinya aku mengajak Fara tidur bersama di kamar kami. Tentunya ini juga bagian dari rencanaku yang lain. Suamiku awalnya menolak karena harus berbagi ranjang dengan Fara, mungkin karena anak perempuannya itu sudah besar. Tapi setelah ku bujuk terus akhirnya dia mau juga.
“Kamu suka sayang kita tidur sama-sama kayak dulu lagi?” tanyaku pada Fara.
“Suka ma, udah lama nggak”
Sebelum tidur kami menghabiskan waktu untuk ngobrol-ngobrol tentang sekolahnya, teman-temannya, rencana liburan, hadiah ulang tahunnya yang akan datang dan lain-lain. Posisi Fara berada di tengah-tengah diapit oleh kami berdua.
“Menurut kamu Papa orangnya gimana sayang?” tanyaku kini mencoba membahas tentang ayahnya.
“Baik, gak pemarah”
“Kamu sayang tidak sama Papa?”
“Iya, Fara sayang banget sama Papa”
“Cuma sayang saja? Tidak cinta?” tanyaku lagi.
“Iya, Fara juga cinta Papa” jawab Fara polos. Tentu saja cinta yang dimaksud Fara bukanlah seperti perasaan cinta kepada kekasih, namun hanya perasaan cinta dari seorang anak kepada orangtuanya.
“Tuh Pa, anak kamu saja cinta sama kamu, masa kamu enggak? hihihi” tanyaku kini pada mas Alan. Aku ingin tahu bagaimana responnya.
“Ihh… Papa gak cinta yah sama Fara?” rengek Fara manja.
“Ah, gara-gara kamu ini Ma. Iya sayaaang… Papa juga cinta kok sama kamu” ucap suamiku yang disambut tawa renyah Fara. Mendengar hal ini membuatku semakin bersemangat. Ku dekati Fara dan ku bisikkan sesuatu padanya.
“Pa, kalau Papa cinta sama Fara, cium Fara dong Pa…” kata Fara kemudian. Ia menuruti apa yang ku bisikkan padanya barusan. Mas Alan yang mendengar permintaan Fara itu dibuat terkejut, diapun melotot kepadaku karena sudah mengatakan yang tidak-tidak pada putri kami. Aku hanya tertawa kecil saja.
“Iya, sini sayang…” ucap Mas Alan mau juga akhirnya,
“Cup”
“Yang kanan juga Pa” pinta Fara lagi.
“Iya-iya” saat mencium pipi kanan, suamiku sedikit menghimpit Fara karena putrinya itu berada di sisi kirinya.
“Fara juga cium dong Papanya” suruhku lagi, Fara pun melakukannya. Dia kini gantian menciumi pipi Papanya. Darahku berdesir melihat pemandangan cium-ciuman ini. Adegan cium-ciuman antara ayah dan putrinya. Walau sebenarnya hal ini tidak asing, namun baru kali ini mereka saling mencium berkali-kali, bahkan melakukannya di atas ranjang.
Saat putri kami sudah tidur, akupun melanjutkan aksiku untuk merangsang suamiku. Aku bermasturbasi di sebelah Fara. Suamiku tentunya terkejut melihat aksiku karena ada Fara di dekat kami, aku senyum-senyum saja. Ku katakan kalau aku sedang kepengen. Tentu saja suamiku menolaknya, mana mungkin kami ngentot saat Fara ada di tengah-tengah kami.
Saat mengocoknya, sering aku menyentuhkan penisnya ke paha putri kami. Tentunya aku pura-pura tidak sengaja saat melakukannya.
“Ma… hati-hati dong…”
“Kenapa Pa? geli yah kena paha Fara? Hihihi”
“Bukan gitu… Nanti kalau dia bangun gimana coba?”
“Iya deh… sorry” kataku sambil tersenyum. Ku lanjutkan terus kocokanku sampai akhirnya dia muncrat, tapi sengaja ku arahkan ke selangakangan putri kami. Jadilah celana pendek serta paha Fara berceceran sperma ayah kandungnya.
“Duh Ma… kena Fara nih… Makanya aku bilang hati-hati!” ujar suamiku berbisik keras.
“Wah… Gak sengaja Pa. Papa yang bersihkan yah, aku mau ke wc dulu”
“Lho? Kok aku sih ma yang ngebersihin?” tanya suamiku jengkel, namun aku terus saja memalingkan tubuhku berjalan ke wc.
Saat aku sudah keluar dari kamar, aku mengintip apa yang akan dilakukan suamiku. Dia tampak kerepotan membersihkan ceceran spermanya yang ada di sekitar selangkangan anak gadisnya. Sayangnya dia hanya sekedar membersihkan, tidak berperilaku aneh.
~~
Malam itu baru permulaan, karena setelah itu semakin sering ku ajak Fara tidur bareng dengan kami. Fara sepertinya amat senang bisa tidur bersama-sama dan sepertinya dia ketagihan, dia bahkan tidak mau lagi tidur di kamarnya. Bagiku ini pertanda bagus untuk mewujudkan khayalanku.
Sama seperti malam itu, aku dan suamiku juga terus saling membantu bermasturbasi walau ada Fara di tengah-tengah kami. Sehingga makin seringlah Fara terkena semprotan peju ayahnya karena selalu sengaja ku tembakkan ke arah selangkangannya. Kadang tidak hanya paha dan celana pendeknya saja yang kena, namun juga tangan dan bajunya.
Bahkan pernah suamiku menyemprot sangat kencang hingga ada yang mengenai wajah putri kami. Dan lagi-lagi, suamikulah yang ku suruh membersihkan ceceran spermanya itu. Mas Alan sepertinya sudah tidak keberatan lagi dengan kehadiran Fara di tempat tidur. Spermanya yang berceceran di tubuh putrinya tidak menjadi masalah lagi baginya.
Entah ada hubungannya atau tidak. Suamiku jadi lebih sering meminta ML. Apa ini sebagai pelampiasan nafsunya yang tak tersalurkan pada putrinya? Aku harap iya. Tentunya dia memintanya saat siang hari karena kalau malam ada Fara di tempat tidur kami. Walaupun sering aku mencoba mengajaknya ngentot setelah putri kami tidur, namun dia tetap menolaknya.
Sering saat kami ngeseks di kamar waktu siang hari, pintu kamar ku buat agak terbuka. Padahal ada Fara di rumah saat itu. Ya… aku sengaja membukanya sedikit dan berharap putri kami melihat apa yang sedang ku buat dengan ayahnya. Dan itu benar terjadi! Sering aku melihat kalau putriku sedang mengintip kami bersenggama.
Aku kini berpikir untuk tidak memberi jatah lagi pada suamiku. Saat suamiku kepengen, akupun menolaknya dengan berbagai macam alasan seperti sedang capek, sibuk dan sebagainya. Namun malamnya aku tetap membantu mengocok penisnya di samping anakku seperti biasa. Karena memang ini tujuanku, aku tidak ingin melayani suamiku agar malamnya dia melampiaskan nafsunya di samping putri kami.
“Ma, kita ML yuk…” pinta suamiku malam itu, akhirnya kini dia meminta ngeseks walau ada Fara yang sedang tidur di antara kami. Tapi aku sudah punya rencana lain. Aku tetap tidak akan memberinya jatah lagi.
“Capek Pa…” jawabku pura-pura lemas.
“Ayo lah Ma… Papa lagi kepengen nih…”
“Mama kocokin aja yah…” tawarku.
“Ya sudah Ma”
Dia lalu bangkit dan berlutut, sedangkan aku masih tetap berbaring sambil mengocok penisnya. Namun posisi Fara masih ada di antara kami.
“Fara cantik yah Pa?” tanyaku memancing sambil tetap mengocok penis suamiku.
“Iya, sama kayak mamanya” aku tersenyum.
“Anak gadis Papa ini udah makin gede aja… lihat nih kulit putihnya lembut, mulus dan licin” ujarku sambil menampar-nampar penis suamiku ke tangan anak kami. Suamiku hanya diam saja! biasanya dia pasti protes! namun kali ini tidak berkata apa-apa!
“Enak yah Pa?” tanyaku. Tentu saja yang ku maksud enak atau tidak waktu penisnya bersentuhan dengan kulit putri kami.
“Ngghh… Enak ma…”
“Geser dikit Pa, biar lebih enak mama ngocokinnya” pintaku. Diapun menggeser tubuhnya ke atas sehingga kini penis tegangnya tepat mengarah ke wajah Fara. Posisinya seperti akan men-cumshoot putri kami!
Ku melirik ke arah suamiku, dia ternyata memang sedang menatap wajah putri kami sambil penisnya tetap ku kocok. Aku harap dia memang sedang berpikiran kotor terhadap Fara.
Setelah sekian lama ku kocok, akhirnya dia muncrat juga. Anehnya dia tidak berusaha mengarahkan muncratannya ke tempat lain. Jadilah wajah putri kami berlumuran sperma kental suamiku. Pemandangan ini membuatku bergidik. Fara yang sedang tidur baru saja disemprotin peju, dan pelakunya adalah ayah kandungnya!
“Ihh.. Pa, kok muncratnya ke wajah Fara sih? banyak banget lagi… udah gak tahan yah?” godaku.
“I-iya Ma… kocokan mama enak banget” jawabnya.
Kocokanku yang enak atau kamu yang nafsu sama putrimu? Sampai-sampai muka putrimu sendiri dipejuin gitu, ujarku dalam hati.
Tampak Fara sedikit menggeliatkan badannya, mungkin tidurnya terganggu karena ada sesuatu yang mengenai mukanya.
“Cup cup cup… Fara sayang… tidur… tidur…” kataku berbisik sambil mengusap-ngusap bahunya agar dia tertidur lagi.
“Tuh Papa… untung Faranya gak kebangun. Ya sudah, mama tidur duluan yah Pa. Gak pengen nambah lagi kan ngepejuin muka Fara nya?” kataku menggoda suamiku.
“Apaan sih kamu ma? Aku kan gak sengaja nyemprot di muka Fara” katanya beralasan.
“Ya sudah, buruan bersihin gih, ntar dia beneran bangun. Kan gak lucu pas dia bangun nemuin peju di mukanya, peju papanya pula, hihihi”
Baru saja ku berbicara begitu, Fara kembali menggeliat. Tangan Fara tampak mengusap wajahnya sendiri. Mungkin dia berpikir kalau ada nyamuk di wajahnya, padahal itu sperma ayah kandungnya.
“Cup cup cup… tidur sayang…” Kataku lagi buru-buru mengusap bahu Fara biar dia lelap lagi.
“Kalau gak bobo ntar kena pejuin Papa lagi lho… hihihi” kataku lagi.
“Ma! Kamu ini, masa ngomongnya begitu!” katanya, aku hanya senyum-senyum saja, lalu merebahkan badanku pura-pura tidur, membiarkan suamiku sibuk membersihkan ceceran peju di wajah putrinya itu.
~~
“Ma… kocokin lagi dong…”
Malam esoknya juga demikan, dia meminta untuk dikocokin lagi olehku setelah aku tidak menyetujui menerima ajakan ngentotnya. Tapi kali ini aku tidak ingin membantunya. Aku ingin tahu apa yang akan dilakukan olehnya bila tidak ku bantu menuntaskan nafsunya itu. Aku berharap dia khilaf karena tidak tahan menahan nafsu hingga mencabuli putri kandungnya sendiri.
“Mama ngantuk banget pa, badan mama rasanya juga gak enak. Papa ngocok sendiri aja yah…”
“Yah… Kok gitu sih Ma?”
Aku tidak menjawab dan berpura-pura tidur setelahnya. Posisi tidurku menghadap ke arah suami dan putri kami. Dengan sedikit membuka kelopak mata, akupun mengintip bagaimana suamiku menuntaskan nafsunya. Akhirnya dia tetap juga mengocok penisnya di sana, di samping Fara.
Entah dia sengaja atau tidak, dia sangat sering menempelkan penisnya ke paha putri kami. Dan astaga! dia lalu bangkit dan menempelkan tubuhnya ke Fara, membuat batang penisnya jadi terselip di antara kedua paha anak gadis kami ini. Dia tampak ragu apa yang akan dilakukannya selanjutnya, diapun melirik ke arahku berkali-kali.
Suamiku melanjutkan aksinya lagi, sepertinya nafsunya yang sudah diubun-ubun tidak memikirkan lagi kalau gadis muda yang sedang ditindihnya itu adalah anak kandungnya sendiri. Aku memang tidak bisa melihat dengan jelas, tapi dia tampak sedang menggesek-gesekkan penisnya keluar masuk di sela-sela paha Fara.
“Nggggghh… Faraaa” erang suamiku sambil menyebut nama putri kami!
Tidak lama kemudian tubuh suamiku mengejang. Dia klimaks! Suamiku menumpahkan lagi pejunya ke tubuh putrinya, ke sekitaran selangkangan Fara. Bedanya kali ini bukan aku yang mengarahkannya, namun dia sendiri yang melakukannya dengan sengaja! Jantungku berdegub kencang. Oh tuhan… ini hampir mewujudkan khayalanku.
Bersambung…
Sejak kejadian malam itu, aku terus berpura-pura malas untuk melayani suamiku. Sehingga membuat suamiku akan terus mengulangi perbuatannya mengocok sebelum tidur di samping Fara, hingga akhirnya memuncratkan spermanya dengan sengaja ke arah putrinya ini. Baik paha, tangan maupun wajah Fara selalu menjadi sasaran tembak sperma ayah kandungnya.
Aku juga makin sering mandi bersama Fara saat ada ayahnya di rumah. Tentu saja setelah itu Fara ku suruh ke kamarnya dengan bertelanjang bulat.
Suamiku yang sudah hampir dua minggu tidak ku layani, ku cekoki dengan pemandangan bugil putri kandungnya sesering mungkin. “Teruslah lihat tubuh putrimu ini suamiku sayang, membuatmu nafsu bukan?
Entah mungkin karena jarang ku layani, suamiku kini kelihatan jadi lebih sering memanjakan putrinya. Fara juga sepertinya semakin nempel pada suamiku.
Ia sekarang jadi lebih banyak menghabiskan waktu dengan ayahnya dibanding denganku. Bahkan saat ada teman-teman ayahnya, Fara tetap saja berpangku-pangku dan bermanjaan pada ayahnya.
“Pa, tadi malam onani lagi?”
“Iya mah, mama sih gak mau bantuin”
“Mama kan beneran capek Pa… Terus peju papa gimana? Kena Fara lagi dong?”
“Ya gak sengaja kena Fara nya…” jawabnya berbohong, padahal jelas-jelas yang ku lihat dia sengaja menyemprotkannya ke tubuh putrinya.
“Soalnya Fara suka ngeluh tuh ke aku, katanya badannya sering terasa lengket waktu bangun”
“Oh… gitu yah Ma, maaf deh. Papa bakal hati-hati” jawabnya. Dia mengatakan akan hati-hati? Seharusnya dia tidak onani lagi dan memaksaku untuk melayaninya, tapi ternyata tidak. Berarti dia memang ingin terus mengulangi perbuatannya untuk terus mengocok di samping putri kami. Benar saja, dia tetap terus mengulanginya.
Hingga akhirnya malam itu yang suamiku takuti terjadi juga. Fara terbangun sesaat setelah wajahnya disemprotin peju.
“Nghhh… Paaaaaaaaa!!! Apaan sih iniiiih???” teriak Fara kencang. Suamiku langsung terdiam tidak tahu harus berkata dan berbuat apa. Aku juga pura-pura terbangun.
“M-maaf sayang… i-itu…”
“Ihh.. kok Fara dikencingin siiiiiih?” Fara terlihat seperti ingin menangis saat itu. Diapun langsung berlari menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamar untuk mencuci muka. Saat kembali, wajahnya terlihat ngambek, dia sepertinya marah. Diapun keluar kamar untuk tidur di kamarnya. Baik aku dan suamiku sama-sama terdiam.
“Tuh kan Pa… makanya ku bilang hati-hati” kataku akhirnya dengan nada serius pada suamiku, padahal hatiku sangat senang karena akhirnya Fara mengetahui perbuatan Papanya. Aku penasaran apa yang akan terjadi setelah ini.
~~
Besoknya, dari pagi sampai Fara pulang sekolah dia tetap saja diam. Akupun menyuruh suamiku ke kamar putri kami untuk membujuknya agak tidak ngambek lagi.
“Mama gak ikutan bujuk? Masa cuma papa sendiri?”
“Mama lagi masak Pa… papa aja deh. Lagian itu kan salah kamu Pa” tolakku. Tentunya itu hanyalah alasanku agar mereka kembali berduaan, sekaligus aku ingin tahu bagaimana suamiku mengatasi masalah ini. Setelah beberapa menit mereka di dalam, akupun memutuskan untuk menguping apa yang sedang mereka bicarakan.
”…”
”I-tu… itu bukan pipis sayang” terdengar suara suamiku. Sepertinya Fara masih mengira kalau cairan itu adalah pipis ayahnya.
“Bukan pipis? Terus?”
“Itu peju, beda sama pipis” jelas suamiku.
“Pejuh? Tapi sama aja kan Pa, masa muka Fara dipe… dipejuhin sih?” tanya Fara polos.
“M-maaf sayang. Soalnya papa lagi nafsu waktu itu”
“Nafsu?”
“Iya.. nafsu. Papa tertarik sama kamu”
“Tertarik sama aku? Maksudnya Papa suka sama Fara?”
“Iya, karena papa suka dan cinta kamu”
“Gitu yah Pa? Jadi karena Papa nafsu sama Fara, terus papa buang pejuh ke Fara?” tanya Fara berusaha menyimpulkan.
“I-iya sayang… maaf yah”
“Gak apa kok Pa… kalau memang gitu Papa boleh kok nafsu terus sama Fara” ujar Fara santai. Tampaknya dia salah menyimpulkan penjelasan Papanya.
“Hah? I-iya, makasih sayang”
“Iya, sama-sama. Emang apa yang bikin Papa nafsu sama Fara? Jujur!” tanya Fara.
“I-tu… soalnya kamu cantik, terus badan kamu, terus pakaian kamu itu… Papa suka banget, bikin Papa nafsu” jelas suamiku kesusahan menjawab pertanyaan anaknya. Fara tertawa renyah mendengar jawaban Papanya karena menganggapnya pujian.
“Hihihi, makasih Pa. Berarti sekarang Papa nafsu dong sama Fara?” tanya Fara sambil tersenyum manis. Saat itu dia memang mengenakan tanktop ketat dan celana pendek sepaha seperti biasa.
“I-iya sayang… Papa nafsu lihat kamu”
“Hmm… kalau gitu Papa boleh kok kalau mau buang pejunya ke Fara lagi, Fara gak bakal marah” ujar putri kami. Darahku berdesir mendengarnya. Aku tidak menyangka kalau Fara akan berkata seperti itu. Memperbolehkan ayah kandungnya muncratin peju ke dia lagi!!
“K-kamu serius sayang?” terdengar suamiku juga terkejut mendengar perkataan anaknya.
“Iya… disiramin pejuh Papa lagi. Itu tanda suka dan cinta dari Papa kan? Sekarang boleh kok kalau Papa mau”
“Tapi… itu kan…” Suamiku tampaknya bingung dengan apa yang harus dia lakukan. “Apa yang akan kau jawab suamiku? Anak gadismu meminta spermamu di tubuhnya. Itu yang kamu mau bukan? Kau ketagihan ngepejuin anak gadismu sendiri bukan?” kataku dalam hati. Dadaku sungguh berdebar-debar menanti jawaban suamiku.
“Kenapa Pa?”
“Baiklah kalau begitu, tapi jangan sekarang, nanti ketahuan Mama” jawab Mas Alan. Suamiku menyetujuinya!!
“Emang Mama gak boleh tahu Pa?”
“Iya, kamu jangan kasih tahu mama yah… jangan kasih tahu mama apa yang baru kita bicarakan. Bilang saja kalau kamu udah maafin Papa”
“Oh… ya udah. Ini bakal jadi rahasia kecil kita berdua. Fara bakal rahasiakan kalau Papa nafsu sama Fara, gitu Pa? Oke?”
“Oke sayang… kamu memang pintar”
Ini sungguh situasi yang aneh. Mereka merahasiakan hal itu padaku, padahal akulah yang membuat mereka menjadi seperti sekarang ini.
“Terus kapan Papa mau buang peju ke Fara lagi?” tanya Fara kemudian.
“Kamu nanti malam tidur sama Papa Mama lagi kan?”
“Hmm… Iya Pa..”
“Kalau gitu nanti malam Papa bakal pejuin kamu lagi seperti biasa. Boleh kan sayang?”
“Ihhh… Jadi tiap malam Fara kena semprot pejuh Papa terus !??” Fara balik bertanya.
“Iya sayang, Maaf yah.. hehe”
“Ohh.. pantesan badan Fara lengket terus waktu bangun. Ya udah, nanti malam yah Pa. Gak usah diam-diam lagi, Fara mau kok bantuin”
Sepertinya sudah cukup apa yang ku dengar. Aku segera kembali ke dapur dan pura-pura tidak mendengar apa yang terjadi barusan. Sensasi ini sungguh luar biasa. Obsesiku semakin mendekati kenyataan. Aku tidak sabar menunggu malam tiba.
Malamnya Fara tidur lagi bersama kami. Suamikupun lagi-lagi meminta agar aku mau melayaninya, setidaknya membantu mengocok penisnya. Tapi aku yakin itu hanya pura-pura saja. Begitupun dengan diriku yang masih pura-pura malas melayaninya serta bertingkah seakan tidak mengetahui apa yang akan terjadi.
Setelah aku pura-pura terlelap merekapun memulai aksinya. Sesekali ku buka sedikit mataku agar bisa melihat apa yang mereka lakukan. Suamiku tampak membangunkan Fara yang sudah beneran tertidur.
“Sayang, bangun…” suamiku berbisik membangunkan putrinya.
“Nggmmhh… Papa mau pejuin Fara sekarang?”
“Ssssst… pelanin suaranya sayang!! ntar mama bangun”
“Ups, Papa mau pejuin Fara sekarang?” tanya Fara lagi dengan berbisik pelan.
“Iya, Papa mau ngepejuin anak gadis Papa sekarang, boleh kan sayang?”
“Boleh banget kok…”
Suamiku lalu tampak membuka celana tidurnya. Kemudian kembali tiduran di samping putri kami.
“Kocokin sayang” suruh suamiku.
“Gimana caranya Pa?”
“Gini…”
Aku tidak dapat melihat dengan jelas, tapi ku yakin Fara sedang mengocok penis ayahnya saat ini.
“Kamu memang pintar sayang”
“Hihi.. Makasih Pa… masih lama Pa keluar pejunya?”
“Bentar lagi kok, kamu mau papa keluarin dimana?”
“Terserah Papa aja, dimana yang papa suka” jawab Fara sambil tersenyum manis.
Beberapa saat kemudian suamiku bangkit dan berlutut di samping putri kami. Dia tampaknya akan menembakkan pejunya ke wajah Fara lagi!!
“Sayang.. Papa mau keluarin peju nih…”
“Iya Pah.. tumpahin aja”
“Crooot.. crooot” sperma suamiku dimuncratkan lagi ke wajah anak gadisnya itu. Bedanya kali ini putri kami sadar dan melihat langsung bagaimana penis ayahnya menembakkan sperma kental di wajah cantiknya!! Pemandangan yang sungguh membuatku blingsatan. Jantungku berdetak sangat kencang.
“Ih.. Pa, banyak banget. Geli, bau…”
“Maaf sayang…”
“Hihihi… Gak apa kok Pa, pasti karena Papa nafsu banget kan sama Fara?”
“Iya.. Papa nafsu banget. Sini biar Papa bersihin mukanya”
Suamiku lalu mengambil tisu dan membersihkan wajah anaknya.
“Cuma sekali aja Pa?” tanya Fara sambil membiarkan wajahnya dibersihkan Papanya.
“Kenapa? kamu masih mau Papa pejuin lagi? nakal yah…”
“Hehe, Mau aja kok…”
“Sudah, besok malam lagi. Ntar mama kamu bangun”
“Iya yah… ntar mama tahu rahasia kita lagi. Hmm… Papa suka pejuin muka mama juga?” tanya Fara polos.
“Pernah sih…”
“Enakan mana dari pejuin muka Fara?”
“Enakan pejuin muka kamu dong… soalnya kamu anak gadis Papa yang paling cantik”
“Emang cantikan mana, mama atau anak papa ini? Jujur lho…”
“Lebih cantik kamu…”
“Terus, nafsuin mana? Papa lebih nafsu sama siapa?”
“Nafsuin kamuuuu… anak papa sayaaaang”
“Hihihi, makasih Pa”
“Iya, sudah sana tidur. Besok kamu sekolah”
“Oke Pa… Malam…”
Hatiku serasa diaduk-aduk!! Fara mungkin memang polos bertanya seperti itu pada ayahnya, sedangkan ayahnya mungkin saja menjawabnya sesuai keinginan Fara. Tapi aku merasakan cemburu yang luar biasa dibanding-bandingkan dengan putriku sendiri seperti itu, namun memang ini yang aku inginkan.
~~
Setelah malam itu, merekapun terus mengulangi perbuatan tersebut. Putri kami selalu jadi pelampiasan nafsu suamiku. Tiap malam Fara pasti selalu disemprot peju ayah kandungnya. Pakaian, tangan, paha, dan mukanya ia relakan sebagai sasaran muncratan peju ayahnya. Bahkan sekarang mereka sudah berani diam-diam melakukannya di siang hari.
Pernah juga waktu itu aku tidak sengaja melihat mereka melakukannya saat Fara baru pulang sekolah. Fara mengocok penis ayahnya sambil masih mengenakan seragam SMP, pemandangan yang sangat menggairahkan.
“Duh, sayang… kamu cantik banget pake seragam gini”
“Hihihi… kenapa Pa? Papa mau pejuin seragam Fara juga? Boleh kok…”
“Terus besok kamu pakai apa?”
“Besok kan udah kering Pa”
“Tapi apa nggak bau sayang?”
“Gak apa kok… jadi pejuin aja kalau Papa memang mau…”
Setelah sekian lama mengocok penis ayahnya, suamikupun akhirnya muncrat. Pejunya menyemprot bertubi-tubi ke arah seragam putrinya. Baik kemeja putih maupun rok biru itu terkena ceceran sperma ayah kandungnya!! Dan Fara menerima dengan senang hati seragam sekolahnya dibuat kotor begitu.
“Udah Pa? lihat nih seragam Fara jadi kotor gini… Suka Pa?”
“Iya… makasih sayang… sana cepat ganti baju. Ntar ketahuan sama mama kamu”
“Oce Pa, hmm… Pa”
“Ya sayang?”
“Nanti Mama katanya mau pergi ke pasar. Kalau ntar papa mau pejuin Fara lagi boleh kok, Papa mau Fara pakai seragam apa? Mau pejuin seragam pramuka Fara juga? boleh kok… hihihi”
“Wah… boleh juga tuh sayang…”
“Ya udah, kita tunggu Mama pergi ya Pa…” ujar Fara. Mereka berencana berbuat mesum lagi nanti ketika aku pergi!! Benar saja, saat aku kembali aku memang menemukan ceceran sperma pada seragam pramuka putri kami.
Perbuatan mereka semakin hari semakin menjadi-jadi. Aku juga semakin sering meninggalkan mereka berdua dengan berbagai alasan seperti pergi ke pasar. Sensasinya sungguh aneh. Cemburu, tapi juga membuatku birahi.
Suami dan putri kami tentunya sedang berbuat mesum selama aku tidak di rumah. Tidak jarang bila ku pulang, aku mendapati ceceran peju baik di ruang tamu, di atas tempat tidur Fara, bahkan di meja makan.
Pernah juga aku melihat ada secuil peju di rambut Fara yang sepertinya luput saat dibersihkan, Aku pikir hanya itu, tapi ternyata juga ada noda yang sama di sela bibirnya!! Astaga!! Apa suamiku tadi menembakkan spermanya ke dalam mulut putri kami? Sepertinya memang iya karena nafas Fara bau peju. Aku pura-pura saja tidak tahu, bahkan membantu membersihkan noda itu dari sela birbinya.
“Kalau makan yang benar dong sayang… masa belepotan gitu” ujarku sambil tertawa. Fara juga ikutan tertawa.
“Hihihi, Habis Papa sih ma… Ups!!”
“Papa? Papa kenapa sayang?” tanyaku.
“Eh, Itu… tadi Papa ngasih Fara es krim” jawabnya berbohong. Aku hanya tersenyum mendengar jawaban bohongnya sambil mengusap lembut kepalanya.
“Kamu suka dikasih es krim sama Papa?”
“Suka banget…”
“Pasti enak banget yah es krim nya?”
“Enak banget mah… Fara jadi kepengen lagi”
“Kalau gitu minta aja lagi sama Papa”
“Boleh yah Ma?”
“Ya boleh dong… kamu minta yang sering yah es krimnya, minta yang banyak”
“Iya ma… ntar Fara minta lagi es krim yang banyak sama Papa, hihihi”
Sebuah tanya jawab yang aneh karena kami saling menyembunyikan sesuatu. Aku tentu tahu apa yang dimaksudnya dengan es krim itu adalah sperma kental ayahnya.
Ternyata suamiku memang sudah mulai ngepejuin mulut putrinya sendiri. Dadaku berdebar sangat kencang melihat pemandangan itu. Fara yang tidur terlentang di sampingku, dikangkangi suamiku lalu ditembakkan sperma kental ayahnya ke mulutnya. Fara menerima sperma ayahnya dengan senang hati, bahkan astaga!!
“Enak es krim papa sayang?”
“Agak bau sih, tapi enak kok.. Fara telan semua yah Pa?”
“Iya sayang…”
“Eh Pa, Mama tadi bilang agar Fara minta es krim yang banyak sama Papa lho…” kata Fara polos.
“Mama kamu bilang gitu?”
“Iya…”
“Kalau gitu Papa turutin deh… Ntar kamu bilang ke Mama yah kalau Papa bakal kasih kamu es krim tiap hari”
“Sip Pa… hihihi” Darahku berdesir mendengar obrolan mereka ini. Fara akan selalu dipejuin ayahnya!! Esoknya Fara bahkan benar-benar mengatakan kalau Papa setuju untuk ngasih dia es krim tiap hari.
Aku tersenyum saja padanya seakan tidak tahu apa es krim yang mereka maksud sebenarnya. Putri kami betul-betul jadi tempat pembuangan peju ayahnya setelah itu.
Tapi semua itu belum cukup bagiku. Obsesiku untuk melihat suami dan anakku bersetubuh masih belum kesampaian. Mereka belum melakukan perzinahan yang sesungguhnya. Aku ingin suamiku ngentotin putri kami.
Saya mau suamiku menyemprotkan semua pejunya tidak hanya di dalam mulut Fara, tapi juga di dalam rahimnya hingga membuat putri kami ini h4mil.
Sore ini aku kembali meninggalkan mereka berdua nonton tv dan mengintip mereka dari jauh. Mereka duduk berpangku-pangkuan. Aku pikir mereka hanya akan sekedar duduk mesra berduaan saja seperti biasa, tapi astaga!! Ku lihat suamiku mengeluarkan penisnya, setelah itu suamiku juga menyelipkan penisnya ke balik rok pendek Fara.
“Papa ngapain? Kok burungnya dikeluarin sih Pa?” tanya Fara berbisik.
“Gak ngapa-ngapain kok… Gak boleh sayang?”
“Iya, boleh kok. Tapi ngeganjal nih…”
Fara lalu membiarkan ayahnya menggesek-gesekkan penisnya ke selangkangannya. Sepertinya Fara juga sangat menikmatinya, ia bahkan ikut memaju-mundurkan pinggulnya seirama goyangan pinggul ayahnya.
“Fara, udah mau malam, buruan mandi gih…” kataku tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Ayah dan anak itu tentu saja terkejut bukan main karena kedatanganku. Terlebih suamiku karena penisnya ada di balik rok Fara saat ini. Namun aku pura-pura tidak mengetahuinya.
“Iya ma… bentar lagi” jawab Fara yang lebih terlihat santai.
“Kenapa bentar lagi sih? buruan dong… manja banget sama Papa kamu. Atau kamu mau mandi bareng sama Papa? Pa, mandiin anakmu gih…” suruhku pada suamiku. Setahuku mereka belum pernah sama-sama telanjang bulat, jadi ini kesempatanku untuk lebih mendekatkan mereka.
“Mandiin Fara mah?” tanya suamiku.
“Iya, kamu mau kan Fara dimandiin Papamu?”
“Nghhh… Mau deh Ma” jawab Fara tidak lagi menolak.
“Tuh Pa, dia mau tuh. Buruan gih, ntar keburu malam. Fara, ajak papa kamu mandi bareng dong…” suruhku pada Fara.
“Pa, mandi bareng yuk… Kan udah lama Fara gak mandi bareng Papa” pinta Fara manja. Suamiku tidak langsung menjawab. Mungkin dia ragu.
“I-iya deh” setuju suamiku akhirnya.
Merekapun setuju untuk mandi bersama. Setelah aku meninggalkan mereka lagi, Fara lalu bangkit dan berjalan ke kamar mandi kemudian disusul ayahnya. Aku sangat bersemangat menantikan mereka bakal sama-sama telanjang di dalam ruangan yang sempit. Aku harap suamiku jadi terangsang berat di dalam sana.
“Pa, mandiin Fara yang bersih yah…” teriakku pada suamiku dari balik pintu kamar mandi.
“Iya ma”
“Fara, kamu jangan nakal di dalam. Ntar gak dikasih es krim lagi lho” kataku kini pada Fara.
“Paling Papa yang nakal ma, hihihi” jawab Fara sambil tertawa.
Terdengar suara air tidak lama kemudian. Sepertinya mereka sudah mulai saling membilas dan menyabuni badan satu sama lain. Aku berusaha mencuri dengar apa yang mereka obrolkan di dalam. Fara sesekali tertawa geli cekikikan, mungkin karena geli karena badannya diusap-usap Papanya.
“Geli pa… jangan diremas-remas dong…”
“Ssstt… kamu ini kencang banget suaranya!!”
“Ups, sorry. Geli pa.. jangan diremas-remas gitu dong susu Fara…”
“Cuma ngebersihin kok sayang…”
“Tapi kan geli… ntar burung Papa aku remas juga lho biar keluar lagi es krimnya”
“Dasar kamu nakal. Kamu dengar kan tadi mama bilang jangan nakal?”
“Hihihi, iya yah… tapi kan Mama gak ngelihat Pa”
“Terus? Kamu mau kita nakal-nakalan sekarang?”
“Aku mau aja, emang Papa gak mau nakalin Fara?”
“Mau kok… ya udah nih Papa nakalin…”
“Ih… Pa, ngapain? kok burungnya diselipin di sana sih?”
“Iya sayang… Papa mau nyabunin sela-sela paha kamu pakai burung Papa”
Setelah itu hanya desahan-desahan saja yang terdengar samar-samar. Aku yang mendengar dari sini juga ikut-ikutan horni karenanya. Suamiku sedang menggesek-gesekan penisnya di antara paha Fara!! Ingin sekali rasanya aku melihat langsung apa yang mereka lakukan, tapi aku tidak bisa karena tidak ada celah.
Setelah itu barulah mereka mandi seperti biasa meskipun masih juga terdengar sesekali Fara cekikikan geli.
“Asik yah mandinya? Lama banget?” tanyaku pada mereka saat keluar dari kamar mandi.
“Tau tuh Papa” jawab Fara cuek.
Tampak hanya suamiku saja yang mengenakan handuk, sedangkan Fara dengan santainya berjalan telanjang bulat ke kamarnya.
“Pa,” panggilku pada suamiku.
“Iya ma?”
“Pakein Fara baju gih sekalian”
“Hah?”
***
Bersambung…
Pa, panggilku pada suamiku.
Iya ma?
Pakein Fara baju gih sekalian
Hah?
Iya Pakein Fara baju. Badan Fara tadi juga belum kering, handukin yang benar dong Pa gimana sih? Buruan sana ujarku lagi menegaskan. Aku bersikap sewajar mungkin agar suamiku tidak curiga.
Tapi Papa pakai baju dulu yah ma katanya, tentu saja tidak aku bolehkan. Tadi di kamar mandi aku hanya mendengar suara-suara mereka saja, aku ingin melihat mereka sama-sama telanjang sekarang.
Nanti saja Pa pakein baju dulu Faranya
Ngmm Ya sudah kalau begitu Ma
Dengan masih hanya mengenakan handuk, suamikupun menyusul Fara ke dalam kamarnya. Pintu kamar Fara yang tidak ditutup dengan rapat membuat aku bisa mengintip apa yang mereka lakukan di dalam. Aku memang tidak pernah puas melihat suami dan putriku bersama-sama dalam keadaan mesum begini. Fara masih dalam keadaan telanjang bulat sedangkan ayah kandungnya hanya mengenakan handuk.
Ngapain Pa? tanya Fara yang sepertinya heran karena Papanya ikut masuk ke kamarnya.
Disuruh mama handukin kamu yang benar, terus pakein kamu baju
Ih, emangnya Fara masih kecil dipakein baju segala
Tau tuh mama kamu Suamiku lalu menanggalkan handuk yang dikenakannya, sehingga penis tegangnya tampak sekali lagi dihadapan putrinya ini. Akhirnya aku bisa melihat mereka sama-sama bertelanjang bulat.
Fara
Handuk yang baru saja menutupi penisnya itu sekarang dia gunakan lagi untuk mengeringkan tubuh putrinya. Rambut, wajah, badan, hingga kaki Fara dihanduki sekali lagi oleh ayah kandungnya.
Bahkan suamiku masih saja terus menghanduki putrinya walau tubuh putrinya itu sudah kering. Dapat ku lihat kalau penis suamiku yang sedang tegang sengaja sering-sering digesekkan ke kulit tubuh Fara selama menghanduki anaknya ini.
Suamiku sepertinya sangat menikmati setiap momen menghanduki anak gadisnya. Begitupun dengan Fara, ia tampak sangat menikmati gesekan-gesekan dari handuk itu di kulitnya.
Saat handuk itu sampai di bagian selangkangannya, Fara terdengar merintih-rintih kecil. Ayahnya yang mendengar rintihan anak gadis remajanya jadi semakin bersemangat, dia makin cepat menggesek-gesekkan handuk itu di selangkangan putrinya.
Fara sampai memegang tangan ayahnya karena menerima gesekan handuk yang semakin menjadi-jadi diselangkangannya, entah itu isyarat agar jangan berhenti atau isyarat supaya berhenti.
Tapi sepertinya itu adalah isyarat agar jangan berhenti karena yang ku lihat berikutnya cukup mengejutkanku, Fara menggoyang-goyangkan pinggulnya!!
Sepertinya Fara merasakan birahinya terpancing karena gesekan-gesekan handuk di vaginanya. Dia sudah 14 tahun dan sudah memasuki masa puber, jadi wajar bila insting seksnya sudah muncul dan merasakan nikmat bila kewanitaannya digesek-gesek seperti itu.
Tapi yang membuat hal ini tidak wajar adalah karena yang menggesek-gesekkan kelaminnya adalah ayah kandungnya sendiri.
Setelah beberapa lama ku lihat tubuh Fara mengejang dan kelojotan. Ya tuhan!! putri kami orgasme. Itu mungkin orgasme pertamanya. Ayahnya telah membuat anak gadisnya sendiri orgasme.
Tapi suamiku bukannya berhenti, dia terus saja menggesek-gesekkan kelamin Fara. Hal itu membuat tubuh Fara kembali kelojotan tidak lama kemudian.
Enak tidak sayang?
Nghh. Enak Pa kok bisa ngh kok bisa gitu yah?
Kamu tadi itu orgasme
Orgasme? Hmm Pa, lap lagi dong sepertinya masih belum kering nih pinta Fara. Tampaknya Fara ketagihan dengan sensasi nikmat yang baru dia kenal ini. Suamikupun menuruti kemauan Fara. Ia handuki lagi tubuh putrinya, atau lebih tepatnya menggesek-gesekkan handuk itu ke sekitaran vagina putrinya. Lagi-lagi tidak butuh waktu lama untuk membuat Fara mendapatkan orgasmenya kembali.
Suamiku tampaknya sudah sangat horni. Dia kemudian bangkit, lalu penis tegangnya kini secara vulgar dia gesekkan ke pantat putrinya. Dia menggerakkan pinggulnya seperti sedang meyetubuhi Fara, betul-betul ayah yang cabul!!
Nghh Papa mau keluarin peju Papa lagi ya? tanya Fara pada ayahnya yang ada di belakangnya.
Eh, i-i-iya, Papa mau keluarin peju lagi jawab suamiku tergagap saking bernafsunya.
Ya udah, keluarin aja Pa yang banyak kata Fara memperbolehkan.
Kamu nungging dong Aku terkejut mendengarnya. Apa suamiku akan menyetubuhi putrinya sekarang? Dadaku begitu berdebar-debar.
Nungging? Papa mau Fara ngapain?
Nyelipin burung Papa juga kok, Papa mau coba sambil kamu nungging jawabnya. Ternyata masih belum, kecewa akunya.
Oh Papa pengen ngocok di sana yah Pa? Iya deh, suka-suka Papa aja
Suamikupun kembali menggesekkan penisnya ke belahan pantat Fara dalam posisi putrinya ini sedang menungging. Setelah beberapa saat dia lalu menggesekkan penisnya di sela paha Fara, tepat di bawah vagina putrinya. Aku bergidik melihat suami dan putri kami telanjang-telanjangan dengan posisi begitu. Kalau ku lihat dari sini mereka seperti sedang bersetubuh dalam posisi doggy.
Rambut panjang Fara yang masih lembab tergerai dengan indahnya, sungguh seksi. Apalagi Fara juga mengeluarkan suara desahan di setiap kocokan penis ayahnya di pahanya. Aku yakin lelaki manapun tidak akan tahan melihat kondisi putriku saat ini. Apalagi oleh suamiku yang sedang mupeng-mupengnya menggesekkan penisnya di selangkangan Fara.
Cepat-cepat dia raih handuk tadi, dibentangkannya di sebelahnya, lalu dia tumpahkan spermanya di sana. Sangat banyak. Sepertinya dia tidak ingin mengotori tubuh Fara yang baru saja selesai mandi.
Udah keluar Pa pejunya?
Udah sayang makasih ya
Iya jawab Fara sambil tersenyum manis. Ada kebanggan tersendiri sepertinya bagi Fara membahagiakan ayah kandungnya dengan cara seperti ini, dengan cara memberikan tubuhnya sebagai pelampiasan nafsu ayahnya. Fara Fara kamu seharusnya memberikan lebih dari ini, ujarku dalam hati.
Mendadak timbul niat isengku untuk menganggu mereka. Akupun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.
Belum selesai Pa handukin Faranya? tanyaku tiba-tiba. Suamiku menjadi salah tingkah karena terkejut, handuk tadi dia lap-lapkan lagi ke tubuh putrinya seakan belum selesai menghanduki Fara. Dia lupa kalau handuk itu baru saja dia gunakan sebagai wadah penampung spermanya!! Jadilah tubuh Fara terkena lagi cairan peju ayahnya.
Tuh, kok masih basah saja sih badan Faranya? tanyaku pada Mas Alan pura-pura tidak tahu kalau itu adalah sperma. Fara tampak tidak terlalu peduli kalau tubuhnya terkena sperma ayahnya, tapi suamiku betul-betul terlihat panik. Saat dia mencoba mengelap badan Fara, yang ada peju itu jadi semakin menyebar merata di tubuh putrinya.
Sudah selesai Pa? tanyaku kemudian.
Su-sudah Ma Suamiku kini mengenakan handuknya kembali. Aku sedikit kecewa sih. Saya ingin suamiku terus telanjang di hadapan putrinya. Biar Fara melihat penis ayahnya sesering mungkin. Akupun ingin Fara tahu kalau Papanya ini selalu ngaceng dan horni bila di dekatnya. Tapi tidak mungkin aku memaksa suamiku terus bertelanjang, dia bisa curiga.
Ma, mumpung kamu udah di sini. Kamu saja ya yang makein Fara baju ujar suamiku masih berlagak keberatan, padahal aku tahu kalau dia sebenarnya ingin melakukannya.
Lho? Kok gitu sih Pa? nanggung Sayang, celana dalam yang Mama beliin kemarin belum kamu coba kan? tanyaku pada Fara.
Belum Ma
Suruh Papa kamu pakein gih sekaligus Mama pengen tahu pendapat Papa kamu bagus apa tidak kataku pada Fara sambil tersenyum melirik ke suamiku.
Oce Ma
Fara kemudian mengambil bungkusan yang berisi dalaman yang ku maksud lalu menyerahkan ke Papanya. Sungguh ganjil, seorang anak gadis baru saja menyerahkan celana dalam ke ayah kandungnya untuk dipakaikan!! Awalnya suamiku tampak ragu menerimanya, namun akhirnya dia tetap memakaikan celana dalam itu pada putrinya.
Gimana sayang? Bagus kan pilihan Mama? Cocok gak Pa? tanyaku pada mereka berdua setelah celana dalam bergaris-garis putih biru itu melekat di pinggul Fara.
Bagus kok Ma, cocok. Iya kan Pa? tanya Fara juga pada Papanya sambil memutar tubuhnya. Pastinya pria manapun bakal mupeng berat melihat keadaan putri kami sekarang.
Seorang gadis remaja SMP dengan tubuh yang sedang ranum-ranumnya hanya memakai celana dalam seksi!! Benar saja, ku lihat handuk yang dikenakan suamiku tidak bisa menyembunyikan kalau penisnya sedang tegang luar biasa saat ini.
I-iya bagus. Terus bh sama bajunya? tanya suamiku tampak tidak tenang, sepertinya dia sudah sangat horni. Teruslah begitu suamiku, sering-seringlah berpikir jorok pada putrimu.
Kalau Bh gak usah kali Pa, kan cuma di rumah saja. Iya kan sayang?
Iya Pa, gak usah jawab Fara. Aku memang sudah mengajarkan putriku ini kalau tidak perlu memakai bh jika di rumah, apalagi tujuannya kalau bukan untuk memancing nafsu ayahnya.
Nah Kalau baju, kamu saja yang pilih Pa suruhku pada suamiku.
Iya, Papa aja yang milihin kata Fara setuju.
Papa yang milih? tanya suamiku tampak terkejut.
Kenapa Pa? atau kamu mau kalau Fara gak usah pake baju? Pengen Fara cuma pake celana dalam kayak gini saja ya? godaku.
Kamu mau sayang tidak usah pakai baju? tanyaku iseng pada Fara.
M-masa tidak pakai baju? Kayak gembel saja. Iya iya Papa yang milihiin kata suamiku akhirnya setuju.
Suamiku lalu memilihkan baju dari dalam lemari. Dia memilihkan model pakaian yang belakangan sering dipakai putri kami, tanktop dan celana pendek ketat. Dulu dia memprotes pakaian anaknya itu, namun kini dia sendiri yang memilihkannya. Dia lalu membantu Fara berpakaian. Ya walaupun sudah berpakaianpun sebenarnya Fara tetap terlihat cantik dan menggairahkan juga.
Ayo Fara, bilang apa sama Papa? tanyaku pada Fara setelah dia selesai dipakaikan baju oleh Papanya.
Hmm makasih yah Pa
Makasih ngapain? Yang lengkap dong suruhku.
Makasih Pa udah mandiin Fara, ngelap badan Fara, terus makein Fara baju ujar Fara dengan senyum manis pada Papanya.
Iya sayang sama-sama jawab suamiku.
Hmm Ma, kapan-kapan boleh kan Fara mandi sama Papa lagi? tanya Fara.
Kamu pengen mandi sama Papa kamu lagi?
Iya Ma
Boleh kok sayang. Gak usah kapan-kapan, tiap kamu mau mandi ajak saja Papamu. Papa kamu gak bakal nolak kok mandi telanjang berdua sama gadis cantik kayak kamu. Iya kan Pa? tanyaku pada suamiku dengan senyuman penuh arti. Suamiku tampak sangat malu, sedangkan putri kami tertawa polos karena dipuji begitu.
I-iya sayang. Kalau itu mau kamu jawab suamiku.
Terus nanti Papa yang handukin sama makein Fara baju lagi kan Ma? tanya Fara lagi.
Iya habis kamu dimandiin, terus dihanduki dan dipej- dipakein baju sama Papa, mau kan Pa? tanyaku lagi, ups hampir saja keceplosan nyebut dipejuin.
Kalau kamu mau, kamu boleh kok gantian yang makein Papa baju sambungku lagi.
Kamu apaan sih Ma!!
Bercanda Pa, hihihi tawaku, Fara juga tertawa cekikikan.
Ya sudah yuk makan malam ajakku. Acarapun selesai.
Sejak saat itu Fara selalu mandi dengan ayah kandungnya. Tiap akan mandi putri kami akan mengajak Papanya, Pa mandi bareng Fara yuk Lelaki mana yang akan menolak diajak mandi oleh Fara? Lelaki mana yang tidak akan horni bila mendengar ajakan manja dari seorang gadis cantik untuk mandi bersama? Tak terkecuali ayahnya sendiri.
Setelah mereka selesai mandi aku masih sering melihat suamiku berbuat cabul pada putrinya. Tidak jarang saat menghanduki maupun memakaikan Fara baju, aku melihat suamiku memainkan penisnya ke tubuh putrinya sampai dia muncrat-muncrat.
Dia biasanya akan menumpahkan pejunya ke tisu atau handuk. Bila suamiku sedang nafsu-nafsunya barulah dia akan menumpahkan peju kentalnya itu ke langit-langit mulut putrinya maupun ke sekujur tubuh Fara, tidak peduli kalau putrinya ini baru saja mandi.
Bahkan sering juga dia tumpahkan ke celana dalam fara, padahal itu celana dalam yang baru saja ku belikan. Ya Aku juga memang makin sering membelikan putriku pakaian dalam model terbaru yang super seksi dan imut, semua itu dicobakan di depan ayahnya.
Dan aku selalu berlagak seakan-akan hanya mengetahui kalau suamiku cuma sekedar memandikan, menghanduki dan memakaikan Fara pakaian.
Pagi itu sebelum Fara pergi ke sekolah, aku melihat mereka akan melakukannya lagi. Suamiku sepertinya menjadi nafsu setelah memakaikan Fara seragam. Fara memang terlihat sangat cantik dengan seragam SMP putih biru itu, ditambah kaos kaki putih yang melekat di kakinya.
Papa mau keluarin peju lagi ya? tanya Fara melihat sang ayah mengelus-elus penisnya sendiri.
Iya sayang tolong kocokin yah…
Iya Pa
Pemandangan gadis SMP berseragam lengkap sedang mengocok penis pria dewasa seperti ini pastinya membuat semua orang terpana. Terlebih mereka adalah ayah dan anak kandung. Ayahnya duduk di atas tempat tidur, sedangkan anak gadisnya berlutut di lantai. Tidak butuh waktu lama bagi suamiku, pejunya pun muncrat-muncrat dengan banyaknya ke arah putrinya.
Ih Pa, kok muncratin pejunya ke seragam Fara sih? protes Fara. Kalau itu sesudah pulang sekolah seperti yang ku lihat sebelumnya Fara memang tidak akan memprotes, tapi sekarang dia baru akan berangkat sekolah.
M-maaf sayang Papa gak tahan Suamikupun membantu membersihkan wajah dan seragam Fara sebisa mungkin dengan handuk. Lalu menyemprotkan parfum yang banyak ke area seragam yang terkena peju. Tapi aku punya keinginan lain.
Fara, buruan. Entar telat Teriakku dari balik pintu.
I-iya Ma sahutnya. Pa udah, biarin aja, ntar Fara telat sambungnya lagi pelan pada Papanya.
Aku tidak ingin ceceran peju itu bersih-bersih amat. Sepertinya Fara terkesan lebih seksi bila pergi ke sekolah dengan sedikit bau peju dan sedikit bekas ceceran peju di seragamnya. Peju ayahnya akan menemani aktifitas belajarnya di sekolah. Aku jadi senyum-senyum sendiri memikirkannya.
~~
Waktu terus berlalu. Sekarang tidak hanya ayahnya yang terus ku coba pancing nafsunya, namun juga putri kami. Aku ingin Fara menjadi sedikit nakal di depan Papanya. Aku bahkan sengaja mendownload film porno lalu ku tunjukkan pada putriku. Fara tentu saja geli awalnya dipertontonkan adegan seperti itu.
Kok burungnya dimasukin ke sana sih Ma? tanya Fara polos. Dia yang masih belum ngerti tentu saja heran melihat kelamin wanita dimasuki penis.
Itu namanya ngentot sayang
Ngentot?
Iya, ngentot. Terus yang itu namanya bukan burung tapi kontol, dan punya kamu itu namanya memek jelasku. Aku tidak menyangka akhirnya aku mengajarkan kata-kata sevulgar ini pada putriku sendiri.
Kontol? memek? tanya Fara, rasanya sungguh aneh saat dia mengulangi setiap kata-kata yang baru ku ajarkan itu dari mulut mungilnya.
Hmm jadi yang waktu itu Papa dan Mama ngentot yah? tanyanya lagi. Ternyata dia memang pernah melihat aku dan Papanya bersetubuh.
Iya Ih, kamu ngintip ya? Dasar nakal, hihihi
Hihi, enak yah Ma rasanya ngentot itu?
Enak dong kamu pengen gak dientotin? Mau gak memek kamu dikontolin?
Dikontolin? Ih gak ah, sakit pasti
Kok gak mau sih? itu kan tanda cinta
Tanda cinta? Kok gitu sih Ma?
Iya Waktu itu kamu lihat kan kontol Mama ditusuk-tusuk kontol Papa? Itu tandanya Papa cinta sama Mama. Terus waktu kamu mandi sama Papa pasti kontol Papa tegang kan? Itu berarti Papa juga cinta sama kamu
Oh Iya yah dulu Papa kan pernah bilang kalau dia cinta sama Fara. Jadi karena Papa cinta sama Fara makanya kontolnya Papa jadi tegang ya Ma?
Iya tuh kamu pintar pujiku sambil mengelus rambutnya, dia hanya tersenyum manis.
Dia terus bertanya-tanya selama menonton, seperti Ih kok kontolnya dimasukin ke mulut sih Ma? Gak jijik apa? Atau dia bertanya Itu cowoknya kok nyusu sih? Emang ada air susunya? Kok pantat ceweknya dimasukin kontol juga sih Ma? dan berbagai macam pertanyaan polos lainnya. Semua pertanyaan putriku ini ku jawab dengan rinci dan memakai bahasa yang vulgar.
Kenapa sayang? Kamu udah pernah lihat peju? pancingku.
Eh, gak kok ma. Mirip es krim yah Ma peju itu
Iya, mirip es krim yang sering dikasih Papa sama kamu jawabku. Dasar Fara, dia pikir aku tidak tahu apa, hihihi.
Mmmh Kalau cewek juga bisa orgasme kan Ma?
Bisa dong kenapa? Kamu udah pernah orgasme? Kapan? tanyaku menggodanya, aku tentu saja tahu kalau putriku ini pernah orgasme, orgasme yang didapatkannya pertama kali dari ayahnya sendiri.
Eh, nggak pernah kok Ma
Beneran?
Iyah sumpah deh
Iya-iya Mama percaya hihihi. Oh ya sayang, kamu jangan kasih tau Papa ya kalau Mama ajarin beginian
Hmm? Gak boleh ya Ma?
Iya, jangan ya
Oce Ma
Tidak hanya satu video tentunya yang aku perlihatkan padanya, tapi banyak. Mungkin lebih dari satu jam kami ibu dan anak nonton film porno bersama. Aku sampai horni sendiri, aku penasaran apa Fara juga horni, mungkin saja iya. Fara yang sangat tertarik bahkan meminta dikirimkan ke ponselnya. Aku penasaran apa yang akan terjadi pada anak gadisku setelah menonton semua film-flm porno ini.
Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu. Suamiku pulang!! Cepat-cepat ku matikan film porno yang masih diputar di laptop.
Tuh, bukain pintu Papa pulang suruhku pada Fara.
Iya Mah
Ingat ya jangan kasih tau Papa kataku lagi mengingatkan, Fara mengangguk paham.
Fara pergi ke depan membukakan pintu untuk ayahnya. Aku menyusul tidak lama kemudian. Ternyata suamiku membawa dua orang temannya lagi. Belakangan ini mereka memang jadi sering kemari.
Fara mencium tangan kedua bapak itu. Seakan mencuri kesempatan, ku lihat mereka mengelus rambut Fara, matanya juga kelayapan menelanjangi anak gadisku. Ternyata putriku memang punya daya tarik yang tinggi. Dan sepertinya bapak bapak ini juga punya pikiran jorok pada putriku. Ya kalau itu cuma sekedar dalam pikiran mereka ya tidak apa, aku tidak bisa berbuat banyak.
Udah pulang Pa? tanyaku.
Iya ada tamu nih. Tolong buatkan minum dong Ma
Iya Pa, bentar
Fara, bantuin Mama kamu gih suruh suamiku.
Enggak ah, malas jawab Fara enteng lalu duduk di samping Papanya. Dari dapur aku dapat melihat mereka. Seperti biasa, Fara tetap saja nempel pada Papanya meskipun di depan teman-teman ayahnya. Suamikupun tetap berusaha meladeni obrolan teman-temannya meskipun Fara terus bergelayutan manja di pangkuannya.
Duh, Faranya manja amat Pak Alan komentar salah satu teman suamiku, Pak Rudi.
Iya nih Pak, beruntung banget bapak punya anak gadis secantik Fara ujar Pak Prabu ikut-ikutan.
Haha, bisa aja bapak-bapak ini jawab suamiku. Aku yang baru mengantarkan minum kemudian juga ikut duduk bersama mereka.
Iya nih bapak-bapak, Fara manja banget sama Papanya. Papanya sih suka ngasih dia es krim ujarku menimpali. Suamiku tampak sedikit terperanjat mendengar omonganku barusan.
Oh Fara suka es krim?
Iya om jawab Fara.
Kapan-kapan Om kasih es krim mau? tawar bapak itu pada Fara. Ku lihat Fara melirik ke ayahnya sambil tersenyum.
Mau banget Om Boleh kan Pa? Boleh kan Ma?
Iya boleh kok jawab suamiku. Aku juga mengangguk boleh sambil tersenyum kecil. Tentu saja yang dimaksud Bapak ini adalah benar-benar es krim. Bukan es krim kental yang biasa diberikan Papanya. Aku bergidik membayangkan kalau mereka juga memberikan putriku es krim yang seperti diberikan suamiku.
Sayang, udah sore.. cepat mandi sana. Pa, mandiin Fara nya dulu suruhku pada suami dan putri kami.
Hah? Fara nya masih mandi sama Papanya? Tentu saja tema-teman suamiku tidak habis pikir mendengar Fara yang sudah sebesar itu masih saja mandi dengan ayahnya. Fara yang sudah jadi gadis remaja cantik, memang sangat ganjil rasanya mandi bertelanjang bulat dengan pria dewasa meskipun itu adalah ayah kandungnya sendiri.
Iya Pak, mandi telanjang berdua. Apalagi mereka itu kalau mandinya lama banget. Gak tahu deh ngapain aja.. hihihi ujarku memancing.
Ih, mamaaaa Fara gak ngapa-ngapain kok di dalam sama Papa, iya kan Pa? balas Fara.
I-iya jawab suamiku tergagap.
Oh. Gitu? terus waktu Papa kamu makein kamu baju kok juga lama ya? godaku lagi pura-pura tidak tahu. Aku berusaha menahan tawa melihat ekspresi semua orang di sini, terlebih ekspresi teman-teman suamiku. Saya memang sengaja menanyakan semua hal ini sekarang di hadapan orang lain. Karena ingin tahu bagaimana respon mereka berdua dan respon teman-teman suamiku.
Pak Alan juga makein Fara baju?? tanya teman suamiku lagi makin terkejut.
Iya Pak, emang kenapa Pak? Kan putri sendiri. Iya kan Pa? kataku membantu menjawab.
I-iya Pak
Ku lihat wajah mereka semua jadi mupeng karena ceritaku ini. Mereka pasti sudah membayangkan yang tidak-tidak tentang Fara.
Memang Fara adalah putri suamiku sendiri, tapi pastinya tidak ada seorang ayah yang masih memandikan dan memakaikan baju anak gadisnya yang sudah sebesar ini. Mereka pasti iri sekali dengan suamiku, mereka mungkin ingin sekali jadi bapak angkatnya Fara biar juga bisa ngerasain mandiin Fara, hihihi.
Ya sudah Pak, saya permisi mau mandi dulu. Tunggu sebentar yah Pak. Yuk sayang ujar suamiku pada teman-temannya lalu mengajak Fara ke kemar mandi.
Baiklah kalau begitu kami tunggu balas teman-temannya.
Suami dan putriku lalu masuk ke kamar mandi. Aku sendiri kembali ke dapur karena tidak mungkin menguping apa yang mereka lakukan di dalam saat ini. Namun kali ini mereka mandi lebih cepat, sepertinya mereka tidak melakukan hal yang aneh sekarang karena ada teman-teman suamiku menunggu. Tapi astaga!!
Fara tetap seperti biasa bertelanjang bulat sehabis mandi menuju ke kamarnya!! Tentu saja hal itu dapat dilihat oleh teman-teman suamiku. Anak gadisku yang cantik sedang dinikmati ketelanjangannya oleh bapak-bapak ini. Dadaku berdebar kencang. Apa suamiku lupa kalau ada teman-temannya saat ini?? Ada orang lain yang menyaksikan tubuh telanjang putri kami, bukan anggota keluarga!!
Fara!! kamu kok gak pakai handuk? Papa kamu mana? tanyaku menyusul Fara sebelum dia masuk ke kamar, entah kenapa aku jadi pengen menunjukkan tubuh putriku pada mereka. Mereka juga sudah melihat tubuh Fara, sekalian saja ku goda. Tapi hanya menunjukkan sebentar saja, tidak lebih.
Itu Ma, Papa lagi eek. Ya Fara keluar dulu, masak nungguin Papa selesai? bau!! jawabnya polos.
Iya, tapi masa kamu keluyuran bugil gini? Lihat tuh om om itu liatin kamu. Ntar mereka jadi cinta lho gara-gara liat susu kamu ini, hihihi kataku sambil melirik ke arah teman-teman suamiku. Posisi Fara menghadap ke arah mereka, jadi mata mereka dapat dengan leluasa melihat buah dada serta vagina Fara.
Emangnya gak boleh yah Ma om om itu cinta sama Fara? Nanti kontol om om itu tegang yah Ma? aku tidak menyangka Fara akan mengatakan itu, teman-teman suamiku mungkin mendengarnya!! Aku seharusnya mengajarkan Fara agar tidak mengucapkan kata itu sembarangan, tapi terlambat. Ya sudah lah.
Bukannya gak boleh sih… tapi mereka kan udah cinta sama istrinya. Masa kamu ambil juga sih? Sudah sana masuk kamar pakai baju, atau Mama suruh om om itu yang makein? Mau? Om tolong pakein Fara baju dong hihihi godaku. Aku yakin bapak-bapak itu semakin mupeng sekarang, mereka mungkin berharap benar-benar dibolehkan memakaikan Fara baju.
Gak mau, mau dipakein baju sama Papa!! rengek Fara. Untung Fara juga hanya ingin sama Papanya.
Ya sudah tunggu di dalam kamar gih, jangan di luar gini. Malu dilihat sama om-om itu. Iya kan Om? tanyaku pada bapak-bapak itu.
I-iya jawab mereka serentak.
Ya deh Ma Fara masuk dulu yah om Farapun masuk ke dalam kamarnya.
Maaf yah Pak Faranya bandel banget, habis mandi main nyelonong aja telanjang ke kamar
Iya Bu gak apa. Tapi Faranya kok udah tahu kontol yah bu Rina? tanya salah satu mereka. Gawat!! Mereka memang mendengarnya!!
I-itu Pak s-saya yang ajarin kataku mengaku, aku tidak tahu harus berkata apa lagi.
Oh bu Rina yang ajarin?
Iya, itu agar dia ngerti sedikit saja kok bapak bapak
Iya Bu Rina, anak remaja sekarang memang seharusnya diajari yang benar tentang hal begituan biar gak salah jalan ujar mereka. Fiuh, untung saja mereka menganggap positif omonganku barusan.
Tapi ku yakin itu hanya di omongan saja, mereka pasti memang horni dan nafsu pada putri kami. Silahkan saja kalau mereka sekedar ingin menjadikan Fara objek onaninya, tapi cukup sekian pertunjukannya.
Mau kemana Pak Rudi? tanya suamiku.
Eh, ng-nggak, mau ke kamar mandi
Oh, silahkan Pak sebelah sana suamikupun masuk ke kamar Fara.
Bersambung…
“Kamu ini, buka baju itu di dalam kamar mandi, jangan di luar gitu…” protes suamiku jaim.
Pernah juga saat itu Fara kelupaan mengajak Papanya, diapun keluar dari kamar mandi basah-basah telanjang bulat, lalu menyeret Papanya ke dalam kamar mandi. Sungguh pemandangan yang ganjil!! Aku tidak tahu apakah Fara berbuat itu karena kepolosannya, namun dia terlihat seakan menikmati ketelanjangannya itu.
Saat berangkat sekolahpun dia kini tidak hanya mencium pipi ayahnya, tapi sudah mulai mencium bibir seperti waktu dia TK dulu. Omongannya, bahasa tubuhnya, kini terlihat lebih nakal dan menggemaskan bagi kaum lelaki. Aku tidak tahu apakah ini pengaruh dari video porno yang ku berikan. Tapi yang jelas Fara menjadi seperti ini, itu semua gara-gara aku, ibunya.
Suamiku memang belum menyetubuhi Fara, tapi dia sudah memperlakukan anak gadisnya itu bagaikan ‘mainan seks’. Hasrat seksnya yang dia pendam selama ini karena tidak ku layani, dia lepaskan semuanya pada anak gadisnya. Begitupun halnya dengan Fara, dia semakin hari juga semakin sempurna mengabdikan dirinya sebagai ‘mainan’ sang ayah, baik saat akan tidur, mandi, maupun saat mereka ku tinggal berduaan dimanapun itu.
Sore itu aku mengintip lagi apa yang mereka lakukan setelah mandi sore. Mereka bukannya handukan di kamar mandi namun malah di dalam kamar Fara. Itupun setelah ku lihat suamiku lebih seperti membelai Fara dibanding menghanduki.
“Kenapa Pa? kok berhenti?” tanya Fara melihat Papanya berhenti membelai, padahal tubuhnya masih sangat basah. Tapi aku rasa Fara bertanya seperti iu bukan karena tubuhnya belum kering, namun karena dia ingin terus dibelai sang ayah.
“Papa mau buang peju lagi?” tanya Fara lagi menebak.
“Iya, boleh kan sayang?”
“Boleh kok Pa, boleh banget malah” jawab Fara riang.
Suamiku tersenyum. Dia kemudian bangkit lalu mencium bibir Fara. Ini bukan sekedar ciuman ayah dan anak, tapi sudah ciuman sepasang kekasih karena ternyata mereka berciuman menggunakan lidah!! Tubuh telanjang mereka yang masih basah menempel berhadap-hadapan, menimbulkan suara decakan karena kulit basah mereka yang beradu.
Entah siapa yang memulai, mereka kini sama-sama terjatuh ke atas ranjang. Mereka melanjutkan aksi cium-ciuman itu di sana, saling bergumul dan meraba tubuh. Membuat ranjang putrinya itu jadi ikut-ikutan basah. Sungguh pemandangan yang panas dan erotis!! Suamiku terlihat lebih bernafsu menjamah tubuh putrinya dibandingkan menjamah tubuhku, istrinya sendiri.
Suamiku tampak begitu bernafsu, mungkin karena dia sudah menahan nafsunya sekian lama. Fara yang dijilati dan diciumi ayahnya malah tertawa geli cekikikan.
“Aw… Pa geli… hihihi” pinta Fara manja sambil ketawa-ketawa. Namun yang ada itu malah membuat suamiku semakin bernafsu.
“Pa… stop dulu… Pah…” pinta Fara, tapi suamiku tetap saja lanjut.
“Pa.. geli, Ngh.. stop.. dulu” setelah berkali-kali memohon untuk berhenti barulah akhirnya suamiku menghentikan aktifitasnya.
“Ish, Papa nafsuan amat ih… gak tahan banget yah sama Fara? hihi”
“Maaf sayang, Papa gak kuat. Tapi kenapa kok suruh berhenti?” tanya suamiku terengah-engah menahan nafsunya.
“Katanya mau ngeluarin peju, kok malah jilat-jilatin Fara sih?” tanya Fara.
“Itu juga cara biar Papa bisa keluar pejunya…”
“Oh… tapi jangan lama-lama Pa, ntar ketahuan Mamah” Fara lalu bangkit dari pelukan ayahnya, dia lalu menuju lemari dan mengambil sepotong celana dalam.
“Pakein dulu Pa…” kata Fara sambil menyerahkan celana dalam itu.
“Baru lagi ya sayang?” tanya suamiku memperhatikan celana dalam berenda yang ada di genggamannya.
“Iya Pa, bagus kan?”
“Bagus kok”
Suamikupun memakaikan celana dalam itu tanpa mengelap badan anaknya dulu. Setelah celana dalam berenda itu menempel di pinggul Fara, yang ada itu malah membuat nafsu suamiku semakin menjadi-jadi.
Bagaimana tidak? tubuh remaja anak gadisnya yang masih sangat basah hanya dibalut celana dalam. Celana dalam itupun menjadi transparan karena basah sehingga memperlihatkan belahan vagina Fara.
“Duh… Pa… kok diciumi lagi sih?” rengek Fara manja. Tapi kali ini suamiku sepertinya tidak peduli lagi dengan rengekan anaknya. Dia terus saja menjamah tubuh putrinya. Seorang pria dewasa yang telanjang bulat sedang menggerayangi tubuh remaja 14 tahun yang hanya mengenakan celana dalam di atas ranjangnya sendiri, yang mana tubuh mereka masih sama-sama basah.
Setelah beberapa lama, mereka duduk berhadap-hadapan di tepi ranjang. Fara duduk di paha ayahnya. Mereka masih tetap berciuman dengan posisi itu. Mulut mereka seperti tidak ingin lepas, lidah mereka terus saja saling membelit. Mereka juga saling menjilati wajah satu sama lain. Wajah Fara terlhat mengkilap karena dijilat-jilat sang ayah, begitupun wajah suamiku yang dijilat-jilat putriku.
“Sssh… Pa…” Fara merintih memanggil ayahnya. Dia tidak berusaha melepaskan diri sama sekali meskipun gerakan ayahnya semakin cabul. Malah dia juga ikut-ikutan menggoyangkan pinggulnya seirama gerakan pinggul ayahnya!! Mereka seperti masih menahan-nahan diri agar jangan sampai bersenggama, tapi tubuh mereka jelas menginginkan itu.
“Ngghhh… Pa, sakit… hati-hati dong…”
“Maaf sayang, Papa gak sengaja”
Aku yakin kalau kepala penis suamiku baru saja masuk ke dalam vagina putrinya, tapi sepertinya dikeluarkan lagi olehnya karena mendengar rintihan Fara barusan. Ku lihat dengan seksama kalau penis itu kembali bergesekkan dengan vagina Fara, tapi kemudian terlihat menghilang lagi yang disertai rintihan putrinya, “Pa…
“Ih… Papa!! Kok gak sengajanya sering amat sih?” tanya Fara. Suamiku tidak menjawab, dia hanya mengajak putrinya berciuman lagi sambil terus melanjutkan aksi menggesek-geseknya. Dia sudah sangat bernafsu.
Setelah beberapa kali gesek-masuk gesek-masuk, ku lihat kepala penis suamiku kembali hilang, namun kali ini tidak keluar lagi. Fara walaupun terlihat sangat kesakitan tapi dia tetap membiarkan penis ayahnya di dalam tubuhnya. Mereka bersetubuh!! Suami dan putriku bersetubuh!! Tubuhku panas dingin menyaksikannya.
Namun…
“Dugh!! Kreekkk…” Aduh…!! Aku yang terlalu semangat dan penasaran membuat tumpuanku goyah. Akupun terjatuh, sehingga pintu tempat aku bersembunyi jadi terdorong terbuka. Terang saja mereka kaget bukan main melihat kedatanganku. Fara ku lihat langsung melepaskan diri dari pangkuan ayahnya lalu membetulkan celana dalamnya.
“Mama??” kata mereka hampir serentak. Duh… rencanaku untuk mengintip mereka bersetubuh diam-diam gagal!! Namun aku berusaha mengontrol diri karena akulah yang punya kendali saat ini. Aku tidak ingin seakan-akan akulah yang tertangkap basah sedang mengintip.
“Ohh… jadi ini ya yang dilakukan ayah dan anak gadisnya tiap selesai mandi?” tanyaku pura-pura seakan baru tahu kelakuan mereka.
“B-bukan Ma… i-ini…” suamiku tampak sangat panik, dia tentunya tidak menyangka benar-benar ketahuan olehku, namun Fara terlihat lebih santai meskipun juga ikut diam. Tampak jelas raut wajah horni mereka berdua yang betul-betul merasa tanggung karena aksi cabul mereka tiba-tiba terhenti.
“Apa? sudah jelas-jelas aku melihat kamu menyetubuhi putrimu sendiri Mas” tuduhku lagi.
“Bu-bukan!!”
“Terus kalau bukan, apa dong namanya?”
Suamiku terdiam, aku yakin dia tidak bisa mengelak setelah tertangkap basah olehku.
“Maaf Ma, a-aku… aku tidak tahan” kata suamiku akhirnya.
“Sudah tidak tahan?”
“Iya… Maaf Ma… Maaf…”
“Baiklah aku maafkan, tapi ada syaratnya”
“Syarat? Apa itu Ma?”
Aku tersenyum sebentar sebelum berkata, “Aku ingin melihat kalian bersetubuh”
“Hah?” suamiku terkejut bukan main.
“Iya, aku ingin melihat kamu ngentot dengan Fara”
“Tapi Ma…”
“Kenapa Pa? Kalian belum selesai kan? lanjutin gih… Sudah terlanjur terjadi juga, jadi cepat selesaikan. Setubuhi Fara”
Suamiku diam sejenak. Dia tampaknya masih tidak percaya dengan apa yang baru ku katakan. Mungkin saja kalau dia tadi memang benar-benar tidak sengaja meskipun dia sudah sangat bernafsu. Entahlah, namun apapun itu aku ingin melihat mereka bersetubuh sekarang.
“Tapi… apa itu tidak apa-apa? dia putriku sendiri, lagian dia masih 14 tahun” ujarnya kemudian masih berusaha meyakinkan diri. Dia masih ragu. Tentu saja, karena Fara adalah putri kami sendiri. Tapi aku yakin nafsu bisa mengalahkan segalanya.
“Sudah Pa… Gak apa-apa Pa… Lanjutin saja. Kamu pasti sudah lama punya khayalan untuk menyetubuhi putrimu ini bukan? Tidak usah pikirkan norma-norma. Bebaskan saja khayalan dan fantasi kamu”
“Sayang, kamu juga mau kan berzinah dengan Papa kamu?” tanyaku kini pada Fara.
“Berzinah? Berzinah itu ngentot yah Ma?” tanya Fara polos. Aku sangat senang tiap mendengar Fara mengulangi kata-kata yang ku ajarkan ini.
“Iya… berzinah itu ngentot, kamu mau kan dizinahi sama ayah kandungmu? Mau kan memek kamu dikontolin sama Papa?” ujarku dengan menggunakan kata-kata ‘liar’ untuk memanaskan suasana.
“Hmm… karena Fara cinta sama Papa, Fara mau deh Ma dizinahi” jawab Fara dengan riangnya, seakan dizinahi ayahnya merupakan bentuk pengabdian pada orangtua.
“Tuh Pa… putrimu sudah bersedia tuh untuk kamu zinahi, entotin gih… hihihi”
“Fara, kocokin dong kontol Papa… bikin ngaceng lagi” suruhku pada Fara. Tanpa perlu disuruh dua kali Farapun mendekat ke arah Papanya. Dia lalu meraih kontol suamiku yang tadi terlanjur menciut.
“Fara kocokin yah Pa…” kata Fara minta izin ke Papanya.
“I-iya sayang…” jawab suamiku tidak menolak. Meskipun dia tadi sempat ragu, tapi memang tubuhnya tidak bisa berbohong untuk mendapatkan kenikmatan dari tubuh putrinya. Fara lalu mulai mengocok, tidak butuh waktu lama untuk membuat kontol ayahnya tegang kembali karena kocokannya. Jemari Fara yang mungil lentik mengocok penis ayahnya dengan telaten.
“Hmm… kayakya ada yang kurang, sayang… coba masukin ke mulut kamu”
“Masukin ke mulut Ma?”
“Iya… Kontol Papa kamu masukin ke mulut kamu. Kamu belum pernah coba kan? cobain gih… pasti ayahmu makin cinta sama kamu…” Fara tidak langsung melakukannya, dia menatap dulu sekian lama padaku, lalu menatap ke ayahnya.
“Mau Fara emut Pa kontolnya?” kata Fara yang lagi-lagi meminta izin dahulu pada ayahnya.
“E-emang kamu bisa?” tanya suamiku.
“Bisa kok, Fara udah pernah lihat” jawab Fara sambil melirik padaku. Tentu saja maksudnya itu sudah pernah lihat dari film porno yang ku berikan.
“Ya sudah sayang… silahkan” setuju suamiku yang dibalas senyum manis anaknya.
Aku terpana melihat pemandangan ini. Aku yakin suamiku juga demikian. Anak gadisnya sendiri sedang mengoral penisnya. Fara mengecup ujung kepala penis suamiku beberapa kali, kemudian berusaha memasukkan semua penis itu ke dalam mulut mungilnya.
“Arggghh…” Erang suamiku. Suamiku pasti merasakan sensasi nikmat yang luar biasa. Penisnya sedang dikocok pakai mulut oleh anak gadisnya di hadapan istrinya sendiri!! Cukup lama Fara mengemut penis ayahnya, dia terlihat sangat lihai meskipun ini yang pertama baginya.
“Ugh… berhenti dulu sayang… Papa gak kuat” pinta suamiku setelah beberapa saat, Farapun menghentikan aksinya.
“Kenapa berhenti sih Pa? pejuin aja mulut Fara…” kataku sambil tertawa kecil. Mendengar hal itu Fara juga tertawa dan memasukkan penis itu sekali lagi dalam mulutnya. Tentu saja membuat ayahnya terkejut.
“Dasar Fara, kamu nakal yah ternyata… hihihi, ayo sayang… bikin Papamu enak” suruhku menyemangati Fara. Gerakan kepala Fara terlihat lebih cepat sekarang.
“Nghh… Fara… arggghhh” suamiku kini juga mulai memegang kepala putrinya lalu memaju-mundurkan seperti sedang menyetubuhi mulut anaknya. Sungguh cabul!!
Gerakan pinggul suamiku semakin cepat, hingga akhirnya tubuhnya kelojotan dan memuncrakan pejunya ke dalam mulut Fara. Putri kami terus menutup mulutnya, mengapit penis itu dengan bibir selama peju ayahnya menyemprot memenuhi rongga mulutnya. Dan dia melakukan itu sambil terus tersenyum pada ayahnya.
“Sayang jangan langsung telan” suruhku, Fara sedikit mengangguk.
“Sekarang kasih lihat sama Papa kamu…” suruhku lagi. Farapun membuka mulutnya lebar-lebar dihadapan ayahnya, menunjukkan bagaimana benih-benih ayahnya yang dulu menciptakan dirinya kini malah dia tampung di mulutnya. Karena sperma itu sangat banyak, membuat sperma itu sebagian meluber ke dagu Fara hingga ada yang tercecer ke buah dadanya karena tidak mampu ditampung oleh mulut Fara yang kecil.
“Gimana Pa, suka ya ngelihat Fara seperti ini? Mulut anak gadis sendiri kok dipejuin sih? hihihi” tanyaku pada suamiku. Dia tidak menjawab, tapi aku tahu dia sangat suka. Pemandangan gadis remaja dengan mulut penuh sperma serta sebagian tubuh berceceran sperma seperti ini pastinya sangat menggairahkan bagi para lelaki.
“Oke sayang, sekarang telan peju Papa kamu” suruhku pada Fara, diapun menelan sperma itu perlahan. Semua sperma itu kini perpindah ke dalam lambung putri kami.
Meskipun baru saja keluar, tapi penis suamiku hanya setengah layu. Mungkin birahinya yang masih tinggi membuatnya demikian. Tidak butuh waktu lama untuk penis itu kembali tegang sepenuhnya.
“Pa, Fara…” panggilku pada mereka berdua.
“Ya Ma?” jawab mereka serentak.
“Tunggu apa lagi?” tanyaku sambil tersenyum. Mereka saling pandang, suamiku yang mengerti tanpa menunggu lagi langsung menciumi putri kami. Dia juga memainkan jarinya ke vagina Fara tanpa melepaskan celana dalam putrinya itu terlebih dahulu. Dia kini tidak malu lagi melakukan hal bejat pada putrinya di depan istrinya.
Suamiku lalu merebahkan Fara ke atas ranjang. Dia lalu melepaskan celana dalam putrinya ini. Fara yang sepertinya juga sudah horni nurut-nurut saja, bahkan dia membantu dengan mengangkat pinggulnya. Sekarang mereka sama-sama polos kembali.
“Kamu yakin Ma tidak apa?” tanyanya padaku, ujung kepala penisnya sudah menempel di permukaan vagina Fara.
“Jangan tanya aku, tanya Fara dong Pa…”
“Sayang, kamu yakin?”
“Iya Pa, masukin aja… Zinah… zinahi Fara…” rintih Fara yang tampak tidak tahan untuk ditusuk-tusuk sang ayah. Suamiku yang mendengar persetujuan putrinya tanpa menunggu lagi langsung menghujamkan kontolnya. Penis suamiku kini masuk seutuhnya!!
“Arggghhhhhhh” jerit Fara tertahan. Tampak darah perawannya mengalir pelan. Dia baru saja diperawani oleh ayahnya sendiri.
“Sakit… Sakit Pah…” rengek Fara merintih. Aku tahu betapa sakitnya hilangnya perawan itu, terlebih bagi Fara karena umurnya masih 14 tahun!! Suamiku lalu mendiamkan penisnya beberapa saat di dalam vagina Fara agar terbiasa.
“Lanjutin Pa…” ujar Fara beberapa saat kemudian, sepertinya tubuhnya sudah terbiasa dengan benda tumpul itu. Suamiku kembali menggerakkan pinggulnya, makin lama semakin kencang. Wajah mereka sama-sama merah padam kerena saking birahinya, terlebih oleh suamiku. Kenyataan bahwa wanita mungil yang sedang digenjotnya saat ini adalah darah dagingnya sendiri pastilah membuatnya semakin bernafsu.
“Gimana Pa? enak?” tanyaku pada suamiku. Dia tidak menjawab. Aku juga menanyakan Fara pertanyaan yang sama, dan dia juga tidak dijawab.
“Dasar… kalian ini, asik berzinah ria sampai-sampai Mama dicuekin, hihihi” ujarku. Tapi tidak masalah bagiku. Aku rela tidak tidak dihiraukan demi menyaksikan obsesiku yang jadi kenyataan ini.
“Pa, dia itu putri kandungmu lho…” ujarku lagi menggoda suamiku. Aku ingin membuatnya makin terangsang.
“Enak yah Pa ngentotin anak gadis sendiri?”
“Dia masih empat belas tahun lho… tapi kayaknya Fara suka tuh dizinahi sama kamu. Entotin terus dia Pa, jangan kasih ampun”
Aku terus menerus mengata-ngatai agar suamiku semakin bertambah birahinya.
“Sayang… Papa mau keluarin peju…” erang suamiku. Tentu saja suamiku merasa ingin cepat keluar. Udah penisnya dijepit vagina remaja yang super rapat, terus mendengar omonganku lagi, siapa yang gak tahan coba pengen cepat-cepat ngecrot?
“Keluarin saja di dalam rahim Fara Pa, bikin putrimu… Bunting” ujarku.
“Croooottttt” suamiku sepertinya tidak kuasa mendengar kata ‘bunting’. Dia ejakulasi. Tubuhnya mengejang dengan hebatnya. Dia menyemprotkan pejunya ke rahim putrinya. Sangat banyak hingga meluber ke luar dari vagina Fara, turun perlahan membasahi sprei tempat tidur anaknya ini.
“Hihihi, Papa, banyak banget sih pejunya, kamu benar-benar pengen bikin Fara bunting yah?” ujarku menggodanya.
“Sayang, kamu pengen gak dibuntingi sama Papa?” tanyaku pada Fara, dia mengangguk. Aku merinding membayangkan kalau Fara benar-benar sampai hamil oleh ayahnya di usianya yang baru 14 tahun dan masih duduk di bangku SMP ini.
“Terus kalau Fara benar-benar hamil gimana Ma?” tanya Fara.
“Kamu nikah saja sama Papa. Kamu mau kan nikah sama Papa kamu?” jawabku bercanda.
“Mmh… Mau deh” aku tertawa mendengar jawaban polosnya.
“Hihi, emang kamu mau kasih berapa anak ke Papa?” tanyaku.
“Kalau tiga gimana?”
“Boleeeh…”
Kami kemudian sama-sama diam sejenak meresapi apa yang baru saja terjadi. Suami telah memperawani putrinya sendiri. Mas Alan juga sepertinya tidak percaya kalau akhirnya dia telah merenggut kewanitaan Fara. Mungkin semua ini sangat melenceng dari norma, tapi sensasi persetubuhan sedarah itu pastinya sungguh sangat luar biasa.
“Pa…” panggil Fara.
“Ya sayang?”
“Lain kali lagi yuk…”
“I-iya… kapanpun kamu mau” jawab suamiku.
“Papa juga, kapanpun Papa pengen entotin Fara, entotin aja Pa” kata Fara sambil tersenyum.
“Mmh… Terus Mama gimana?” tanya Fara padaku.
“Mama gak apa-apa kok sayang… kamu ngentot saja yang baik sama Papa, gak usah pikirin Mama, oke?”
“Benar Ma gak apa-apa?” tanya suamiku juga.
“Iya Pa, kalau kamu nanti mau tidur berdua di kamar Fara juga gak apa kok”
Fara dan suamiku tersenyum, merekapun berciuman lagi. Bercumbuan dan saling menjamah di atas ranjang. Ku lihat penis suamiku tegang lagi.
“Ya, ampun… belum puas yah? Ya udah, kalian lanjutin gih main-mainnya… Mama gak bakal ikut-ikutan sekarang. Nih kunci dulu pintunya” kataku bangkit ke luar kamar. Sebelum menutup pintu aku berkata, “Selamat berzinah ria yah kaliannya…” ayah anak itu hanya senyum-senyum, lalu melanjutkan lagi berciuman, melanjutkan lagi perzinahan mereka.
Aku buru-buru menuju dapur, membuka lemari pendingin dan mengambil terong dan timun. Aku tidak tahan untuk bermasturbasi. Ya… aku rela hanya bisa bermasturbasi, sedangkan suamiku sedang enak-enakan menggenjot putri kandungnya sekarang.
~~
Sejak saat itu, hampir tiap hari aku melihat suami dan anakku bersetubuh. Mereka melakukannya di berbagai tempat. Baik di kamar Fara, di kamar mandi, bahkan di ranjang kamarku tempat aku dan suamiku biasa bersetubuh. Suara erangan dan rintihan nikmat persetubuhan sedarah itu selalu ku dengar. Entah sudah berapa kali mereka bersetubuh.
Obsesiku memang sudah kesampaian untuk melihat suamiku menyetubuhi putri kami sendiri. Tapi tenyata selanjutnya aku punya ide yang lebih gila lagi. Aku ingin teman-teman suamiku tahu kalau suamiku telah menyetubuhi Fara. Aku ingin suamiku menyetubuhi Fara di depan teman-temannya, bapak-bapak tetangga kami.
“Kamu jangan gila Ma!! Masa aku menyetubuhi Fara di depan orang lain!!?” tentu saja suamiku terkejut mendengar permintaanku. Walaupun begitu, aku dapat melihat dari mata suamiku kalau dia juga terangsang mendengar ideku ini. Tampak ada tonjolan dari balik celananya.
“Mereka selama ini kan juga sudah punya pikiran jorok ke Fara, kamu pasti sudah tahu itu kan Pa?” Ya… melihat Fara bermanja-manjaan dengan Papanya saja itu sudah bisa bikin mereka horni, aku penasaran bila mereka melihat Fara disetubuhi, apalagi oleh Papanya sendiri.
“I-iya… tapi kan…”
“Mereka cuma boleh melihat saja kok… tidak boleh macam-macam sama Fara. Juga mereka harus janji tidak boleh cerita sama orang lain. Lagian kita kan mau pindah rumah Pa… jadi kita gak bakal ketemu mereka lagi” bujukku terus.
“Tapi gimana caranya? Terus kamunya?”
“Ya kamu ngaku saja kalau kamu sudah pernah bersetubuh dengan Fara. Terus mereka pasti tidak percaya tuh, suruh liat saja. Aku bakal keluar rumah hari itu, jadi kalian bebas pengen ngapain aja” jawabku.
“Bukannya kamu pengen lihat kami gituan di depan teman-temanku Ma?”
“Iya”
“Terus?”
“Kan sudah ku bilang kalau aku ingin membiarkan kalian bebas” jawabku. Sebenarnya hanya dengan membayangkannya saja itu sudah cukup bagiku. “Tapi… tolong kamu rekam saja untukku Pa, atau suruh teman-temanmu itu yang merekam” lanjutku lagi.
“Hah!!?” Suamiku tampak makin terkejut saja dengan ideku ini. Tapi aku tahu dadanya sedang berdebar kencang memikirkan hal tersebut sekarang. Bersenggama dengan anak gadisnya di depan orang lain sambil direkam!!
“Terus kalau nanti mereka tidak tahan gimana Ma?”
“Ya kamu jaga dong anakmu… Gimana Pa? Setuju?” tanyaku lagi. Ia lalu berpikir sangat lama, wajar memang karena ide ini sangat gila dan beresiko.
“O-oke deh Ma…” setuju suamiku akhirnya.
Hari minggu, teman-teman suamiku datang lagi ke rumah. Mereka dan suamiku asik ngobrol dengan tetap ada Fara di samping suamiku. Ku dengar mereka sering bertanya-tanya tentang Fara pada suamiku seperti, “Faranya masih sering mandi sama Pak Alan? Masih dipakaikan baju juga?” Tampaknya mereka masih saja penasaran dengan itu.
“Fara, mama pergi ke pasar yah… Kamu gak apa kan Mama tinggal?” kataku pamit pada Fara.
“Gak apa kok Ma” jawabnya. Akupun meninggalkan rumah. Membayangkan anak gadisku menjadi satu-satunya wanita di antara mereka makin membuatku birahi. Selama di pasar dadaku selalu berdebar-debar memikirkan apa yang sedang terjadi di rumahku. Bayangan-bayangan suami dan putri kami bersetubuh di depan bapak-bapak itu terus memenuhi pikiranku.
“Sudah mau pulang bapak-bapak?” sapaku pada mereka.
“Eh, i-iya Bu Rina… Pamit dulu Bu…” jawab mereka agak tergagap.
“Tumben buru-buru? Ada apa?”
“Gak ada apa-apa kok Bu”
“Oh.. Ya sudah, hati-hati di jalan Pak”
Akupun masuk ke dalam rumah. Aku langsung mencari suami dan anakku. Meskipun suamiku berkata akan merekamnya, tapi aku lebih penasaran mendengar ceritanya langsung. Ternyata mereka ada di dalam kamar Fara, tapi astaga!!! Aku melihat tubuh putriku penuh dengan ceceran sperma!!
“Pa…!!”
“Eh, M-mama” jawab suamiku.
“Kok Faranya penuh peju gini sih Pa!!?”
“Kamu gak apa sayang?” tanyaku pada Fara. Apa anak gadisku baru saja dipejuin ramai-ramai oleh mereka? Kalau benar ini tentu saja di luar dugaanku, atau mungkin mereka juga…
“Gak apa kok Ma… Tapi Papa tuh… masa ngentotin Fara di depan om-om itu sih…”
“Ha? Dasar Papa kamu ini” ujarku pura-pura tidak tahu sambil mencubit pinggang suamiku.
“Emang gimana ceritanya sayang?” tanyaku lagi pada Fara sambil mengambil handuk untuk mengelap badan Fara, tapi tidak jadi ku lakukan. Soalnya Fara terlihat lebih seksi dengan badan penuh sperma begini.
“Iya, awalnya Fara dicium-cium sama Papa… Om om itu muji-muji Fara terus Ma. Terus Papa bilang kalau Papa pengen ngentotin Fara di depan om-om itu”
“Terus kamu bolehin?”
“Agak malu sih ma, tapi Fara bolehin juga” jawabnya.
“Terus sayang?”
“Papa suruh Om itu ngerekam Ma…”
“Om itu Mau?”
“Mau kok… terus Papa mulai telanjangi Fara Ma di depan om-om itu, tapi Ma…”
“Tapi apa sayang?”
“Waktu Papa ambil handycam ke kamar, om-om itu yang lanjutin nelanjangi Fara” lanjut putriku. Aku bergidik membayangkan bagaimana putriku ditelanjangi oleh bapak-bapak itu. Seorang gadis belia yang cantik jelita, membiarkan dirinya ditelanjangi oleh pria-pria berumur. Jantungku makin berdetak cepat.
“Kamu ditelanjangi sampai bugil?”
“Iya Ma… Papa sih lama, Om om itu deh yang bantuin”
“Kamu ini gimana sih Pa? kok orang lain sih yang telanjangi Fara?” tanyaku pada suamiku.
“Aku juga gak tahu Ma, waktu aku balik dari kamar, ternyata Fara lagi ditelanjangi mereka” ujar suamiku. Ya sudahlah kalau begitu, menurutku tidak masalah. Toh cuma ditelanjangi, paling digerepe-gerepe ‘sedikit’.
“Terus sayang?”
“Mereka mulai merekam Ma, Fara disuruh hisap kontol Papa sambil liat ke kamera yang dipegang om itu Ma… ya Fara ikutin” jawab Fara enteng dengan lugunya. Membayangkan putriku yang cantik telanjang sendirian diantara pria-pria disana, bahkan mengulum penis ayahnya sungguh membuat dadaku berdebar. Aku tidak menyangka hanya mendengar ceritanya saja bisa membuatku sangat horni.
“Terus?”
“Fara dientotin sama Papa Ma di ruang tamu… Om itu terus aja muji Fara. Eh, Papa bilang silahkan aja kalau mereka mau ngocok. Mereka ngocok deh Ma sambil liat Fara dientotin sama Papa” terang Fara.
“Terus Papa kamu keluarin pejunya dimana sayang?”
“Di dalam Ma… banyak banget”
“Enak ya Pa ngentot di depan orang lain? hihihi” tanyaku pada suamiku, dia hanya tersenyum nyengir.
“Udah? gitu aja?”
“Belum selesai Ma…” kata Fara.
“Belum selesai?”
“Iya Ma, soalnya om-om itu bilang gini Ma… Faranya gak di anal sekalian Pak?” kata Fara berusaha menirukan gaya bicara bapak-bapak itu.
“Anal?” tanyaku terkejut, “Fara nya kamu analin Pa?” tanyaku lagi pada suamiku. Aku tentu saja tidak menyangka kalau Fara bakal dianal.
“Iya Ma, Fara nya mau kok, katanya dia juga penasaran”
“Beneran sayang? Kamu gak dipaksa kan sama Papa? Emang gak sakit?” tanyaku pada Fara.
“Sakit sih Ma… Tapi gak dipaksa kok Ma…”
“Oh…”
“Terus om-om itu pengen Fara pake seragam sekolah Ma…” lanjut Fara.
“Ha? Kamu dianal sambil pake seragam??”
“Awalnya sih iya Ma… tapi lama-lama kancing kemeja Fara mulai dibukain satu-satu, terus cuma pake rok aja, terus Fara bugil lagi” terang Fara. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Sungguh mesum, Fara dicabuli beramai-ramai dengan seragam sekolah SMP nya. Ini melebihi khayalanku, juga khayalan suamiku tentunya.
“Terus sayang?”
“Terus mereka tumpahin pejunya ke seragam Fara Ma, Papa juga. Basah deh seragam Fara kena peju… lihat tuh Ma” kata Fara sambil menunjuk ke sudut ruangan, ada seragam SMP nya Fara yang berlumuran cairan putih kental di sana.
“Udahan? Terus peju di badan kamu ini?”
“Iya… terus kan kami istrihat. Fara mandi sama Papa”
“Mereka gak ikut mandiin kamu kan sayang?”
“Gak Ma, gak boleh sama Papa. Tapi mereka bantu handukin Fara”
“Bantu handukin kamu?”
“Iya… Mereka juga ambil foto-foto Fara sambil handukin. Terus katanya mereka nafsu lagi, mereka bilang pengen ngentotin Fara Ma, mereka pengen genjotin memek Fara…”
“Kamu bolehin!!??”
“Nggak, Fara maunya cuma sama Papa aja”
“Oh…” bagus deh.
“Jadinya mereka ngocok deh Ma sambil pegang-pegang Fara, gak apa kan Ma kalau cuma dipegang-pegang? Habisnya enak sih… hihihi”
“Dasar kamu. Iya gak apa, terus mereka tumpahin ke badan kamu?”
“Iya Ma… mereka tembakin peju mereka ke Fara. Kotor lagi badan Fara Ma, padahal Fara baru mandi” ujar Fara santai sambil membuka lebar tangannya, menunjukkan ceceran sperma yang mulai mengering di sekujur tubuhnya. Memang bukan bau sabun yang tercium dari tubuhnya, tapi bau peju yang pekat.
“Masa kamu biarin aja sih Pa? Kalau Fara nya diperkosa gimana coba?” tanyaku pada suamiku.
“Aku juga gak mau Ma sebenarnya… Waktu itu aku sedang menerima telpon dari bos” jawab suamiku beralasan.
“Jadi kamu cuma bisa ngelihatin anakmu dipejuin orang lain?”
“Mau gimana lagi Ma, tidak mungkin aku menyela omongan Bos” ujar suamiku, tampaknya dia berkata jujur.
“Ya sudah Pa, gimana lagi”
“Tapi itu tandanya om om itu cinta sama Fara kan Ma?” tanya Fara polos.
“Iya… Om itu cinta sama kamu, hati-hati lho ntar kalau istri mereka tahu kamu bakal dimarahi, hihihi” ujarku, Fara nya malah cekikikan sambil meletakkan telunjuk di bibirnya, tanda agar jangan memberi tahu mereka. Sungguh nakal dan menggemaskan tingkah putri kami ini.
“Eh Ma… Tapi kontol om-om itu gede gede lho Ma, apalagi punya Om Rudi. Punya Papa aja kalah Ma… Fara jadi ngebayangin kalau masuk ke memek Fara gimana” kata Fara kemudian. Aku terkejut bukan main mendengarnya, demikian juga suamiku. Fara jadi keterusan!! Ku lihat raut wajah cemburu dari suamiku karena punyanya dibandingkan dengan punya bapak-bapak tetangga oleh putrinya sendiri.
“Dasar kamu nakal, emangnya kamu mau memek kamu dimasuki kontol Om Rudi?” godaku yang sepertinya malah membuat suamiku makin cemburu.
“Mmmh… Yang boleh masuk ke memek Fara cuma punya Papa sih Ma, tapi…”
“Tapi apa?”
“Tapi kalau Papa kasih izin… Fara gak nolak kok” katanya melirik nakal pada ayahnya. Makin terkejut aku dan suamiku mendengarnya. Perkataannya sungguh bikin aku gemas. Polos dan lugu tapi ternyata putriku ini ‘nakal’ juga. Aku kini jadi ikut-ikutan tertarik membayangkan putriku disetubuhi oleh bapak tetangga itu.
“Mama sih terserah Papa aja. Kalau Papa kasih izin Mama setuju aja kamu dimasukin kontol om-om tetangga kita itu” ujarku. Aku ingin tahu bagaimana respon suamiku. Farapun benar-benar meminta izin pada ayahnya.
“Gimana Pa? Boleh gak memek anak Papa dimasukin kontol Om Rudi? Papa rela gak?” tanyanya. Sungguh pertanyaan yang pastinya makin membuat perasaan suamiku tidak karuan. Suamiku tampak lama diam berpikir. Sepertinya dia juga penasaran!! Apa yang akan kau jawab mas? Apa kamu rela putrimu bersetubuh dengan orang lain?
“Papa gak tahu, lihat nanti saja deh” cuma itu yang dikatakan suamiku. Diapun pergi ke kamarnya. Ya sudah, tapi kok Fara nya…
“Sayaaang!!! Kamu kok langsung tiduran gitu sih?” tanyaku pada Fara karena dia seenaknya langsung tiduran di atas ranjang. Padahal ceceran sperma dibadannya masih belum dibersihkan.
“Ngantuk Ma… capeeeek” jawab Fara santai. Aku paham dia pasti capek, tapi kan…
“Iya Mama tahu, tapi bersihkan dulu dong badannya… Lihat tuh jadi kotor gitu spreinya” suruhku lagi, tapi dia tetap tidak menghiraukan. Tetap saja berbaring memeluk guling dengan nyamannya. Dasar Fara… Apa dia tidak risih badannya lengket-lengket begitu?
“Bandel banget sih… Ya sudah kamu tidur dulu bentar, tapi ntar jangan lupa bersih-bersih” kataku mengalah. Akupun membiarkan Fara tertidur dengan badan masih berlumuran peju!! Bisa-bisanya putriku ini tidur dengan nyenyaknya dengan kondisi seperti itu, pemandangan yang sangat ganjil. Aku lalu keluar dari kamarnya yang penuh bau peju ini.
~~
Beberapa hari berlalu, tiap sore tetangga teman-teman suamiku ini selalu main ke rumah. Tentu saja aku tahu maksud tujuan kedatangan mereka yang sebenarnya. Namun mereka tidak berani berbuat macam-macam pada Fara karena ada aku di rumah. Paling jauh mereka hanya punya kesempatan meraba Fara sebentar saja.
…
“Sayang…” panggil suamiku pada Fara hari itu.
“Ya Pa?”
“Papa mau bilang sesuatu sama kamu”
“Hmm? Mau bilang apa Pa?”
“Anu… tentang yang kamu bilang waktu itu”
“Yang waktu itu yang mana sih Pa?”
“Itu… Yang katanya kamu pengen cobain kontol Om Rudi”
“Oh yang itu… Kenapa Pa? Papa pengen Fara ngentot sama Om Rudi? Kapan Pa?”
”…”
“Gimana Pa? Papa pengen lihat Fara ngentot-ngentotan sama orang lain ya? Papa rela?”
“Tidak!! Papa tidak rela. Papa tidak mau kamu disetubuhi sama orang lain!!” ujar suamiku. Aku tidak menyangka suamiku berkata demikian. Sesaat aku tadi berpikir kalau dia akan merelakan putrinya dientotin teman-temannya. Keraguannya lenyap, dia kini tampak benar-benar yakin kalau Fara cuma miliknya.
“Papa cuma mau kamu milik Papa. Cuma Papa yang boleh ngentotin kamu” lanjutnya.
”…”
“Pa…” panggil Fara, dia terlihat tersenyum.
”… Fara juga gak rela kok”
“Sayang…?”
“Iya… Fara juga gak rela kalau dientotin sama selain Papa. Fara juga maunya cuma sama Papa aja. Papa cemburu ya waktu itu? Hihihi, maaf yah Pa…”
“Tentu saja Papa cemburu sayang. Kamu itu milik Papa, masak Papa kasih ke orang” Senyum manis Fara mengembang mendengar perkataan ayahnya ini.
“Makasih Pa… Fara jadi yakin kalau Papa benar-benar cinta sama Fara… sama kayak Fara cinta sama Papa”
“Jadi… jadi kamu sengaja ya bikin Papa cemburu?”
“Iya Pa, maaf ya… hihihi” ujar Fara sambil memeluk Papanya.
“Dasar kamu memang nakal”
Aku terpana melihat adegan ini. Sungguh manis. Sepertinya cinta suamiku terhadap putrinya jauh lebih besar dibandingkan cintanya padaku, tapi tidak masalah. Ini memang keinginanku. Ini memang obsesiku. Karena memang seharusnya seorang ayah adalah cinta pertama dan cinta sejati bagi anak gadisnya, bukan begitu?
“Pa…” Panggil Fara.
“Ya sayang?’
“Berzinah lagi yuk…” pinta Fara dengan senyum manis.
“Kamu pengen Papa genjotin lagi?”
“Iya Pa… sampai bunting kalau boleh”
“Dasar kamu nakal, boleh kok”
“Boleh kan Ma?” tanya Fara padaku. Aku tersenyum mengangguk. Akupun meninggalkan mereka berduaan. Membiarkan mereka saling membagi cinta mereka.
Kamipun pindah rumah dua minggu kemudian. Untung saja, kalau tidak, mungkin lama-lama Fara benar akan disetubuhi oleh tetangga kami. Putri dan suamiku kini betul-betul menjadi kekasih sejati. Saling mencintai lebih dari sekedar ayah dan anak. Hubungan sedarah mereka tentu saja sangat tabu, tapi cinta dan nafsu mengalahkan segalanya.
“Sayang…” panggilku pada putriku.
“Ya Ma?”
“Ini Mama baru beliin celana dalam lagi. Suruh Papamu pakein gih” kataku sambil menyerahkan bungkusan plastik berisi beberapa helai pakaian dalam.
“Makasih Ma… Pa, lihat nih… baru lagi lho… Ih, ada empat helai Pa, lucu-lucu” kata Fara menunjukkan bungkusan celana dalam itu pada Papanya.
“Pa… Mandi bareng yuk Pa… Habis itu handukin Fara” ujar Fara manja.
“Iya iya… Terus habis itu?” tanya suamiku.
“Habis itu cobain celana dalam”
“Terus, habis itu?”
“Ngentot sama Papa sampai malam”
Bersambung…
Simpel… karena ane emang gak niat bikin begitu…
Apalagi trisom, ane tentu aja kepikiran bikin trisom tapi ane emang gak pengen. Perasaan kalau ibunya ikut2an main trisome sama suami dan anaknya itu malah lebih terlalu biasa bagi ane.
Inti ceritanya ya tentang gimana si ibu membuat putrinya jadi bisa ML dengan suaminya
Hehe… bikin judul baru dong kalau gitu… soalnya udah gak incest lagi.
misal “Fara, anak gadisku yang doyan peju”
Suatu hari sepulang sekolah, aku terkejut mendengar apa yang dikatakan Fara. Dia mengaku dapat hadiah peju dari teman-teman cowoknya!!
“Gimana ceritanya sayang?” tanyaku penasaran juga was-was.
“Waktu itu mereka minjam hape Fara Ma, mereka terkejut lihat banyak film bokep di hape Fara. Terus mereka nanya ’ kamu suka nonton bokep ya Fara? kamu udah pernah ngentot ya? Fara jawab iya Ma” kata Fara santai. Aduh… putriku ini, kok film pornonya masih aja di simpan sih? pake jawab iya pula pernah ngentot.
“Terus?”
“Terus kata mereka, mereka sebenarnya udah lama nafsu sama Fara Ma… Terus waktu pulang sekolah Fara diajak ke wc Ma sama mereka. Fara ngikut aja”
“Ha? Kamu diapain sayang?”
“Fara ditelanjangi sama mereka Ma, ada banyak cowok Ma di sana, Fara sendirian cewek” Jantungku berdebar-debar mendengarnya.
“Kamu ditelanjangi rame2 di wc sekolah??” sungguh gila. Anak gadisku ternyata dijadikan mainan seks oleh teman-temannya cowok di sekolahnya. Jantungku rasanya mau copot.
“Iya Ma… Terus mereka ngocok rame-rame Ma…”
“Apa!!!? terus mereka pejuin kamu?”
“Nggak Ma…”
“Terus?”
“Mama buka deh Ma tas Fara” katanya, meski masih bingung kuturuti saja perkataannya. Ku raih tas Fara dan ku buka. Bau sperma langsung menyeruak!! Aku terkejut melihatnya, seluruh isi tas Fara berlumur peju, termasuk buku-buku tulis dan buku pelajaran. Sungguh melecehkan!!
“Mereka tumpahin peju mereka ke dalam tas kamu??”
“Iya Ma, tapi gak itu aja Ma…” Fara lalu menunjukkan tempat minum tupperw*re nya. Tampak cairan kental yang banyak di dalam sana, begitu tutupnya ku buka, ternyata bau menyegat itu lagi!! Mereka mengisi tempat minum Fara dengan sperma. Sungguh gila!!
Bersambung…
*Cuma iseng / bukan bagian dari cerita*
Setelah kejadian itu, hampir tiap hari aku selalu menemukan ceceran sperma di dalam tas maupun di tempat minum Fara. Memang awalnya aku terkejut, namun anehnya aku tidak merasa marah sama sekali. Aku bahkan jadi horni membayangkannya, ada perasaan dan sensasi tersendiri ketika memikirkan putriku dicabuli orang seperti itu, hingga akupun membiarkan mereka mengulangi perbuatan bejat mereka pada putriku ini berkali-kali.
Tiap hari sesudah Fara pulang sekolah, terpaksa aku selalu membersihkan ceceran sperma itu dari tas dan tempat minumnya. Tanganku bersentuhan langsung dengan cairan-cairan kental tersebut. Suamiku masih belum tahu, akupun tidak berniat memberitahunya, aku takut dia malah ngamuk.
Hingga akhirnya suatu hari teman-teman Fara yang cowok itu main ke rumah, ada empat orang. Fara berbisik padaku kalau mereka itu orang-orang yang suka pejuin tasnya. Aku sih berharap mereka sedikit ganteng lha, tapi ternyata dari tampangnya jelas kalau mereka itu murid nakal dan bengal. Bahkan Fara juga mengatakan kalau mereka itu sebenarnya kakak-kakak kelasnya yang umurnya udah tua dan sering gak naik kelas.
Mereka yang biasanya hanya melihat Fara mengenakan seragam kini akhirnya dapat melihat Fara dengan tanktop dan hotpant. Mereka tampak sangat horni, Fara sendiri cuek-cuek saja. Akupun tetap berusaha ramah pada mereka dan tidak terlalu memperdulikan penampilan mereka yang amburadul itu. Mereka sering curi kesempatan gerepe-gerepein Fara di belakangku, tapi tentu saja si aku tau.
“Sayang, kamu udah mandi belum?” tanyaku pada Fara.
“Iya Ma, bentar lagi…”
“Ajak teman-temanmu mandi bareng gih sekalian” suruhku. Tentu saja mereka terkejut. Aku menyuruh mereka mandi seakan mereka semua masih anak-anak saja, padahal umur mereka sudah remaja semua. Terlebih mereka semua laki-laki dan putriku sendirian cewek.
“Mandi sama mereka Ma?” tanya Fara.
“Iya, Papa kan di luar kota beberapa hari, jadi biar ada yang temani kamu mandi”
“Hmm… Iya deh Ma”
Dan merekapun pergi, empat cowok dan satu cewek itu ke kamar mandi untuk mandi bersama. Aku melihat mereka menelanjangi Fara beramai-ramai sebelum akhirnya pintu kamar mandi tertutup dan aku tidak bisa melihat apa-apa lagi. Hanya tertawa cekikikan Fara yang terdengar. Dari cerita Fara ku tahu kalau mereka hanya mandi biasa saja, Fara bilang mereka takut macam-macam karena ada aku.
Merekapun lanjut ngobrol dan nonton film, tapi sorenya hujan turun dengan lebatnya. Akupun punya ide yang lebih gila lagi. Aku menyuruh mereka untuk nginap saja, lagian kan sekarang lagi libur sekolah.
“Beneran tante?” tanya mereka terkejut.
“Iya… Kalian tidurnya di kamar Fara saja, temani Fara. Mau kan?” tanyaku.
“Wah, aku sih mau tante”
“Iya tante, aku juga mau…” ujar mereka setuju dan tampak antusias. Tentu saja mereka mau.
“Tapi udah minta izin orangtua kalian belum?”
“Itu sih gampang tante, kita udah biasa kok gak pulang ke rumah, hehe” Gila, ternyata mereka cukup liar juga, dan aku membiarkan mereka bergaul dengan putriku!! Akupun ke kamar Fara untuk menyiapkan kasur tambahan untuk mereka.
Malamnya, aku terbangun tengah malam. Ku lihat lampu kamar Fara masih saja menyala. Akupun mencoba mengintip apa yang sedang mereka lakukan, dan ASTAGA!!! Putriku sedang dicabuli!! Mereka sedang mengocok penis mereka beramai-ramai mengellingi Fara yang sedang bersimpuh telanjang bulat!! Tangan mereka juga menggerepe-gerepa badan Fara, meremas-remas susunya, memainkan clirotis Fara, sampai menciumi Fara.
Hingga akhirnya mereka menumpahkan sperma mereka hampir bersamaan ke tubuh Fara. Tubuh Farapun penuh peju. Setelah itu mereka berpakaian kembali, tapi Fara lagi-lagi seenaknya tidur telanjang bulat dengan tubuh penuh peju. Gila banget.
“Kamu semalam ngapain aja sama mereka sampai malam?” tanyaku pada putriku esok paginya. Teman-teman Fara itu masih tidur dengan nyenyaknya di kamar Fara.
“Mama lihat?”
“Gak semua”
“Mmmh, mereka cuma ngocok aja kok Ma…”
“Beneran cuma ngocok?”
“Iya, awalnya sih mereka katanya pengen ngentotin Fara, tapi Fara cuma mau ngentot sama Papa. Jadi mereka ngocok aja Ma, gak apa kan Ma?”
“Iya gak apa… tapi jangan kamu kasih tau Papa ya kalau kamu sering dipejuin teman-temanmu itu”
“Iya Ma, nanti Papa marah yah Ma?”
“Iya…”
Beberapa saat kemudian aku ke kamar Fara, mereka ternyata sudah bangun. Tampak ceceran peju mereka di lantai.
“Waduh… peju siapa nih? Kecil-kecil kok udah main semprot-semprot peju sih? Emang udah bisa keluar pejunya? Jangan-jangan ini iler doang… Hihihi” godaku berlagak bloon tidak sengaja menginjak peju mereka. Fara yang juga ada di sana tertawa cekikikan. Mereka tampak pucat awalnya, tapi melihat aku yang malah senyum-senyum membuat mereka jadi santai kemudian.
“Udah bisa dong tante… Itu beneran peju kok… Kalau gak percaya pengen lihat? Hehehe” Gila, ternyata mereka beneran mesum. Pake nantangin aku segala. Hmm… Lihat gak yah?
***
Bersambung…
Entah kenapa rasanya aku ingin terus menggoda bocah-bocah tanggung mesum ini.
“Benar sayang kalau ini peju?” tanyaku pada Fara.
“Iya Mah… itu peju mereka. Seenaknya aja semprotin Fara pake peju!! Marahin mereka Ma!! hihihi” ujar Fara sambil cekikikan.
“Dasar yah kalian, seenaknya aja semprotin peju kalian ke anak tante!!” kataku memasang ekspresi marah, tentu saja aku tidak benar-benar marah. Mereka yang tahu kalau aku cuma pura-pura malah cengengesan.
Aku lalu duduk di atas tempat tidur ikut ngumpul dengan mereka semua. Kami ibu dan anak sedang dikelilingi para remaja pria mesum!! Tanganku lagi-lagi menyentuh cairan kental, kini yang ada di kasur Fara. Aduh… Sperma mereka ada dimana-mana gini. Kamar putriku betul-betul penuh aroma peju.
“Emang kalian udah sering yah coli di depan cewek?” tanyaku kemudian.
“Gak kok tante, baru dengan Fara aja”
“Coli doang di depan cewek secantik Fara, emang gak pengen kalian cobain lubang surganya Fara?” godaku. Tampak mereka terkejut mendengar omonganku. Tapi sepertinya itu malah membuat mereka makin bersemangat, begitu juga diriku.
“Gak boleh sama Fara tante, katanya cuma untuk Papanya. Emang benar yah tante kalau Fara sering gituan sama Papanya?”
“Iya benar, hampir tiap hari Fara digenjot ayah kandungnya” kataku menekankan kata ‘ayah kandung’. Sepertinya mereka masih sulit percaya kalau Fara sering bersetubuh dengan ayahnya sendiri.
“Kenapa? Kalian sendiri udah pernah gituan belum?” tanyaku kemudian.
“Saya belum pernah tante, Amir tuh yang pernah” jawab Dodi.
“Beneran Mir?? Sama siapa sih? kecil-kecil udah pernah gituan ternyata kamu” tanyaku.
“Hehehe… Iya tante, sama pacar aku dulu, terus sama kakak tiri, terus sama janda sebelah rumah” jawabnya.
“Hah? Sering?”
“Lumayan sering…” Gila nih bocah, ternyata dia sudah pengalaman ngentot, bahkan dengan perempuan yang lebih tua.
“Tapi kamu jangan coba macam-macam sama anak tante ya… Dia cuma mau sama Papanya. Awas kalau Fara ngadu ke tante kalau kamu ngentotin dia!!”
“Iya tante, tapi kalau cuma pegang-pegang boleh kan?”
“Boleh… kalau cuma gerepe-gerepe sampai kamu muncrat sih gak masalah. Itupun kalau Faranya mau. Kalau dia gak mau ya gak boleh dipaksa, iya kan sayang?”
“Mmh.. Iya Ma…” jawab Fara tersenyum pada mereka. Mendengar itu Amir langsung meraih Fara kemudian memeluknya. Betul-betul seenaknya saja Amir ini. Putriku sedang dipeluk-peluk mesra oleh remaja lusuh seperti dia di depanku, dan aku sebagai ibu kandungnya Fara hanya tersenyum membiarkan!!
“Kalian jangan tiru si Amir yah… Masa kecil-kecil udah pernah gituan, gak boleh… Umur 18 tahun nanti baru boleh” kataku sok menasehati mereka, padahal putriku sendiri yang masih 14 tahun ku tuntun agar berzinah dengan ayahnya sendiri.
“I-iya tante…”
“Kalau kita ngentot sama tante aja boleh nggak? Tante pengen cobain kontol aku nggak? Kayanya lebih gede dari punya suami tante lho… hehe” ujar salah satu dari mereka. Sungguh lancang dan kurang ajar. Sangat tidak pantas sebenarnya mereka ngomong seperti itu. Seandainya ada suamiku di sini mendengarnya mungkin mereka sudah dihajar habis-habisan.
“Hahahaha… Ya ampun… Kalian ini bandel banget sih dibilangin, udah tante bilang belum boleh gitu-gituan… kalian itu masih dibawah umur”
“Habis tante cantik sih… Pantas saja anaknya juga cantik” kata Amir sambil menciumi pipi Fara, yang lain juga ikut-ikutan mencium dan meraba Fara. Putriku digerayangi di depanku!! Tapi karena mereka tidak menyakiti Fara, bahkan ku lihat Fara menggelinjang dan mendesah keenakan, jadinya ku biarkan saja.
“Emang lebih nafsuin siapa? Tante atau Fara hayo…?” kataku. Libidoku mulai naik, aku semakin tertarik meladeni omongan mereka.
“Sama-sama nafsuin, soalnya sama-sama cantik sih tante, hehe”
“Huuuu… Udah bisa ngerayu yah kalian… Pandai banget. Hmm… terus, ini seandainya aja yah, cuma seandainya. Kalau kalian disuruh milih, kalian pengen ngentot dengan Tante atau Fara?” tanyaku pada mereka sambil memasang senyum nakal. Sebuah pertanyaan yang pastinya membuat mereka semakin mupeng.
“Kalau aku sih sama tante duluan” kata Amir menjawab pertama, dia tampaknya yang paling bersemangat.
“Ha? Tante duluan? Berarti anak tante kamu entotin juga dong habis itu… dasar maruk!! Kalian semua pengennya gitu juga?” tanyaku pada yang lain.
“Iya tante… hehe”
“Dasar kalian…” gerutuku pura-pura kesal, tapi tetap tersenyum sesudah itu.
“Jadi boleh nggak nih tante?” tanya Bayu, si anak yang paling kurus, botak lagi.
“Apa? ngentotin kita berdua? Nggak lah ya…”
“Yaaah… Kalau dipejuin aja boleh nggak tante? Hehe”
“Hah? Kalian mau pejuin tante juga? Duh… Fara, teman-teman kamu ini kok genit-genit sih??” kataku menjawab pertanyaan mereka sambil tertawa-tawa. Melihat aku tidak marah dan menolak, pastinya membuat mereka makin berani.
“Iya, tante… kita jadi pengen nih… Kan kata tante pengen tahu kita bisa keluarin peju atau nggak, hehehe…”
“Iya tante… boleh yah?” kata mereka terus-terusan membujukku. Duh, kok aku jadi ikut-ikutan gini sih? Sebenarnya aku penasaran juga sih. Bagaimana sperma-sperma muda itu menempel di kulitku, merasakannya di mulutku, bahkan masuk ke dalam rahimku. Tapi kalau nanti keterusan dan aku hamil? Masak aku selingkuh dengan bocah-bocah tanggung gak jelas ini sampai mengandung anak mereka?
“Hmm… gimana yah… Sayang, emang boleh Mama ikutan?” tanyaku pada Fara.
“Mmmh… Mama mau ikutan? Ikutan aja Mah…” ucap Fara polos sambil masih tetap digerayangi beramai-ramai.
“Tuh tante… Faranya penasaran tuh lihat mamanya yang cantik juga dipejuin sama kita, hahaha” kata mereka sambil tertawa mesum. Salah satu dari mereka kemudian langsung berdiri dan menurunkan celana dalam mereka, kemudian mulai mengocok di depanku. Sembarangan aja nih bocah, padahal aku belum bilang iya.
“Dasar kalian genit. Ya sudah, kali ini saja yah… Cuma ngocok saja yah di depan tante…” ujarku akhirnya yang disambut sorak gembira penuh tawa mesum. Yang lainpun kini mulai melepaskan celana dalam mereka, ada juga yang bugil total. Tampaklah penis-penis ukuran standar khas remaja itu di depanku.
“Tante, buka dikit dong bajunya” pinta mereka. Ku turuti perkataan mereka, ku turunkan dasterku sampai ke pinggang. Merasa tanggung, akupun meloloskan seluruh daster itu dari tubuhku, hanya menyisakan bh juga celana dalam.
“Puas kalian? Dasar abg mesum” kataku.
“Dibuka semua aja dong tante. Bugil, pasti lebih cakep” pinta mereka.
“Lha, kalian kan sudah sering lihat Fara bugil” kataku.
“Tapi tante kan belum…”
“Nggak, cukup segini saja atau Tante pake lagi nih baju tante” kataku. Bagaimanapun aku harus tegas. Kalau nggak bakal keterusan.
“Ya sudah, yok kita bugilin anak gadisnya saja, hahaha” ucap Amir. Meski ucapannya terkesan kurang ajar namun aku tetap tersenyum dan membolehkan. Merekapun mulai menelanjangi putriku, langsung di depan ibunya. Mereka lepaskan tanktop dan celana pendek Fara bersama-sama, tentu saja juga diiringi remasan dan elusan tangan mereka yang kurang ajar.
Gilanya aku bahkan membantu melepaskan celana dalam Fara yang merupakan pakaian terakhir yang melekat pada tubuhnya, bagaikan tanda kalau aku mempersilahkan mereka berbuat mesum sesuka hati pada putri kandungku. Aku penasaran apa yang akan dilakukan suamiku bila dia ada di sini, apa dia juga akan berbuat sama?
Mereka mengocok penis mereka sambil menggerepe-gerepe Fara. Bahkan ada yang meminta Fara mengulum penisnya. Putriku yang tampak keenakan diraba-raba seluruh tubuhnya menuruti dan membiarkan semua perlakukan cabul mereka. Begitupun diriku, sebagai ibunya Fara juga hanya membiarkan.
Saat mereka menghujam penisnya dalam-dalam ke mulut Fara sampai Fara mau muntahpun aku tetap juga membiarkan. Meskipun ini tidak pantas dilakukan oleh seorang ibu, tapi sensasinya sungguh luar biasa. Rasanya sungguh aneh melihat Fara, anak kandungku sendiri, dicabuli dan dilecehkan begitu oleh orang-orang seperti mereka.
“Uh… enaknya nih cewek, coba aja dibolehin ngentot” racau salah satu dari mereka.
“Iya, padahal kan enak kalau kita entotin anaknya di depan ibu kandungnya, hahaha”
“Tante, Faranya keenakan tuh… kita entotin aja boleh nggak? hehe”
“Nggak, dasar kalian bandel” jawabku gemas dengan rasa penasaran mereka yang kebelet pengen ngegenjotin vagina putriku. Bagaimanapun kalau Fara gak mau, aku juga gak bakal bolehin.
“Kalau gitu tante telanjang dong… atau Faranya kita entotin nih… hehehe” pinta mereka seenaknya.
“Huuu… pake ngancam segala. Emang segitu pengennya ya lihat tante telanjang?”
“Iya tante, kita kan penasaran juga bagaimana tubuh wanita dewasa”
“Ampun deh tante sama kalian. Ya sudah, cuma kali ini saja lho…” aku mengiyakan. Akupun bangkit, melepaskan bhku, mereka bersorak. Lalu ku turunkan celana dalamku, mereka semakin bersorak. Dasar abg labil.
“Puas?” tanyaku sambil mengerlingkan mata.
“P-puas tante… gede… mantap” Mata mereka menelusuri setiap tubuh telanjangku, terutama buah dada dan daerah vaginaku yang ditumbuhi rambut yang cukup lebat. Kocokan mereka semakin cepat. Tentu saja. Siapa sih yang gak bakal mupeng? Udah ngelihat tubuh telanjang remaja cantik seperti Fara, kini malah melihat ibunya yang gak kalah cantik juga bertelanjang.
“Awwwhh!!” teriakku kencang saat buah dadaku tiba-tiba dicaplok mulut Bayu, si bocah ceking. Tentu saja aku langsung mendorongnya. Sialnya, dia sepertinya malah sengaja menjatuhkan badannya ke arah Fara. Mereka berduapun tersungkur di lantai kamar. Fara sampai mengaduh kesakitan.
“Kamu ini apaan sih!!?? Jangan ngelunjak yah…” ujarku cukup kesal, sebenarnya aku hanya terkejut sih tadi dia tiba-tiba menyentuhku.
“Sorry tante, gak tahan” jawabnya sambil masih terus menghimpit Fara. Tuh bocah malah membuat gerakan cabul menggoyangkan pinggulnya seperti menyetubuhi Fara, tapi tidak benar-benar memasukkan penisnya, hanya menggesekkan di belahan pantat Fara saja. Tidak lama dia melakukannya, Bayupun bangkit dan kembali berdiri di depanku bersama teman-temannya yang lain.
Suasana pagi yang dingin, lalu nafsu mereka yang memang sudah tinggi, membuat mereka sepertinya tidak butuh waktu lama untuk memuntahkan peju.
“Tante… ohhh… ugghhhh” erang mereka.
“Crooot… crooot…”
Sperma merekapun berhamburan hampir bersamaan. Sebagian besar mengenai wajahku, aku dibukkake para remaja tanggung!! Peju-peju mereka juga meleleh sampai ke buah dadaku, bahkan ada yang terus meleleh hingga ke permukaan vaginaku. Sangat banyak. Entah kenapa aku membiarkan perbuatan mesum mereka ini padaku.
“Tuh kan tante, benar kan kalau kita udah bisa ngeluarin peju, hahaha”
“Dasar, iya iya…” kataku mencubit gemas perut mereka bergantian. Mereka mengaduh sok kesakitan meskipun cubitanku tidak keras.
“Lihat tuh Fara, Mama kamu kita pejuin” ujar mereka kurang ajar pada putriku, namun baik aku dan Fara malah tersenyum manis.
“Ma, ini mereka kok dari kemarin pejunya gak abis-abis yah? Emang peju ga bisa abis ya Ma?” tanya Fara polos. Duh, putriku ini, mamanya habis dipejuin malah bertanya seperti itu.
“Nggak tuh… mereka bandel sih. Jadinya pejunya ada terus” jawabku sekenanya.
“Tante, Om tau nggak nih kalau anak dan istrinya kita pejuin? Kalau Om tau gimana yah? Kayanya seru nih kalau kita pejuin tante dan Fara di depan Om, hehe” kata mereka semakin kurang ajar.
“Paling kalian bakal kena hajar, hihihi… Mau kena hajar?” tapi aku tetap saja meladeninya dengan ramah.
Setelah membersihkan wajah dan tubuhku dari ceceran sperma mereka. Aku lalu bangkit, berniat untuk mengenakan pakaian kembali lalu membuat serapan pagi. Tapi mereka tiba-tiba bilang.
“Tante, kayaknya asik deh kalau kita ngelihat Tante dan Fara lesbian, hehe”
APA??? Gila saja!!
***
Bersambung…
Ane lanjut dikit ah extra storynya, sorry lama…
“Lesbian?”
“Iya tante, hehe”
Gila mereka ini. Mereka lebih cabul dari yang ku bayangkan!! Kalau begini terus sih lama-lama aku dan Fara bakal disetubuhi mereka juga. Gawat.
“Lesbian itu apa sih Ma?” tanya Fara polos yang disambut tertawaan teman-temannya.
“Hmm… Itu… Kamu tau kan kalau cowok sama cewek gitu-gituan? Nah… kalau cewek sama cewek namanya lesbian sayang” terangku. Lagi-lagi aku mengajarkan putriku sesuatu yang tidak pantas diajarkan oleh seorang ibu.
“Mmm… Terus, cara lesbian gimana Ma? Mama udah pernah?”
“Mama belum pernah sayang. Caranya ya hampir sama kaya cowok dan cewek. Pegang-pegang, ciuman, tapi gak ada masukin kontol ke memek. Diganti saling jilatin memek atau gesek-gesekin memek”
“Ohh…” gumam Fara ngangguk-ngangguk. Putriku sepertinya tertarik!!
“Hehe, gimana Fara? Mau kan lesbian sama Mama kamu? Enak lho…”
“Iya Fara, kamu lesbian dong sama Mama kamu…” kata mereka berusaha mempengaruhi Fara agar mau beradegan lesbi denganku, ibu kandungnya sendiri.
“Nnggg…” Fara tampak berpikir, cukup lama. Barulah setelah itu dia melirik padaku dan berkata, “Ma, lesbian yuk…” Degh!! Putriku mengajak ibunya sendiri untuk lesbian. Semua ini gara-gara teman-temannya!!
“Tuh tante, diajak lesbian sama anaknya… hahahaha… Mau yah tante”
“Iya tante, mau ya…” bujuk mereka terus berusaha meyakinkanku. Ah… apa yang harus ku lakukan? Kenapa aku jadi horni membayangkan bercumbu dengan Fara meskipun kami sama-sama perempuan, terlebih dia putri kandungku sendiri. Masa iya aku mewujudkan fantasi gila mereka itu? Mempertontonkan adegan lesbian antara seorang ibu dan anak gadisnya?
“Duh… kalian ini, ngebet banget sih? emang apa enaknya sih lihat lesbian?” tanyaku yang tetap saja berusaha ramah dalam keraguanku. Aku senang sih aku dan putriku jadi pusat perhatian, itu sudah naluri para wanita, tapi tentunya bukan dengan cara seperti ini.
“Pengen lihat aja tante, kita kan gak pernah lihat secara langsung. Apalagi ibu dan anak, hehehe” kata mereka sambil mendorong Fara ke arahku, “ayo Fara netek sana” suruh mereka seenaknya. Aku tentu saja terkejut. Namun putriku ini dengan lugunya malah menuruti omongan mereka. Aku tidak dapat mengelak.
“Wooohhh…” Terang saja suasana langsung jadi heboh, bagaimana tidak? Sangat jarang bukan melihat gadis remaja secantik Fara menetek ke ibunya? Mana kami berdua sama-sama telanjang bulat pula. Waktu Fara bayi saja aku tidak pernah menyusui dia sambil telanjang bulat, sekarang aku malah menyusui dia yang sudah remaja, apalagi di hadapan pria lain yang seumuran putriku.
“Kok gak ada susunya sih Ma?” tanya Fara polos sejenak melepaskan mulutnya.
“Ngh? Iya… kamu kan bukan dedek bayi lagi sayang. Jadi udah gak ada lagi air susu Mama” ujarku sambil mengelus kepala putriku. “Ohh…” Farapun melanjutkan lagi neteknya, dia malah tersenyum melirik pada teman-temannya yang mesum itu seakan menggoda mereka. Tentu saja mereka tampak semakin mupeng melihat aksi kami ibu dan anak.
“Udah ah. Enak aja nyuruh kami lesbian, gak semudah itu…” kataku melepaskan kepala Fara setelah 2 menitan membiarkan putriku menyusu. Hampir saja aku terbawa suasana.
“Yaaaah, kok berhenti sih tante?” protes Amir, teman-temannya juga tampak kecewa. Biar saja. Tapi mereka terus saja ingin kami lanjut.
“Kamu ini!! Ya sudah gini saja, kita adakan pertandingan. Kita tanding siapa yang tahan lama orgasme. Kamu masturbasiin tante dan tante juga bakal coliin kamu. Kalau tante yang lebih cepat orgasme, tante bakal nurutin permintaan kalian lesbian sama anak tante, tanpa paksaan dan kalian nyuruh kita ngapain saja bakal kita lakukan.
“Tapi kalau kamu yang lebih cepat orgasme, kamu dan teman-temanmu harus pulang sekarang juga dan gak boleh main kemari lagi. Gimana? Setuju?” lanjutku lagi.
“Yaaaah… kok gitu sih?” protes mereka.
“Ya ampun… Mau atau tidak?” tanyaku berusaha tegas. Aku harus berusaha menahan mereka sebisa mungkin. Meski aku tertarik, tapi ini bukan suatu hal yang bisa dilakukan seenaknya dan bisa dilihat oleh mereka dengan mudahnya. Walaupun aku sendiri tahu kalau tawaranku ini saja sudah lumayan gila. Membuat mereka pergi secepatnya dari sini sepertinya hal yang lebih penting saat ini.
“Hehehe, oke deh tante” setujunya akhirnya.
“Tante serius lho… malah cengengesan gitu…” kataku sedikit sebal tapi tetap berusaha ramah.
“Iya tante…”
“Ya sudah, mau mulai sekarang tandingnya?”
“Oke…” jawab Amir, sepertinya dia sendiri yang akan maju.
“Sini…” kataku tersenyum sambil menepuk ranjang, isyarat agar Amir duduk di sebelahku dan segera memulainya.
Kamipun mulai saling membantu masturbasi satu sama lain. Ku raih penisnya cepat-cepat, aku ingin semua ini cepat berakhir. Amir yang tidak mau kalah juga mulai mengelus bibir vaginaku dan memainkan klirotisku. Dia tampak sangat grogi, begitu juga aku. Duh… Ini salah satu saat-saat paling erotis yang pernah ku alami.
Di saat bersaman, teman-teman Amir yang lain malah menggerayangi Fara. Sepertinya tubuh Fara lebih sensitif dariku. Dia mudah saja merintih kenikmatan saat dicumbu dan digerepe-gerepe mereka. Tidak butuh waktu lama untuk membuat putriku orgasme. Untung saja aku yang bertanding, bukan Fara. Sebenarnya aku juga sudah sangat terangsang, namun ku coba menahannya sebisa mungkin.
“Ayo Ma… samangat Ma…” kata Fara menyemangatiku, padahal dia sedang digerayangi habis-habisan sekarang. Tubuh mungilnya yang telanjang bulat terombang-ambing dalam pelukan dan rabaan nakal para remaja tanggung itu. Kulitnya yang putih bening sangat kontras dengan kulit mereka yang gelap. Melihat anak kandungku dicabuli oleh mereka seperti itu malah membuatku semakin horni.
“Ngghhh.. ssshhhh” aku mulai mendesah. Bagaimanapun aku tidak tahan untuk mengeluarkan suara rintihan karena ulah tangan nakal Amir. Ku harap itu juga bisa menjadi senjata bagiku agar Amir semakin terangsang.
Setelah beberapa menit saling mengocok, belum tampak tanda-tanda orgasme dari Amir, sedangkan aku semakin kewalahan. Kalau begini terus aku yang bakal kalah. Akupun memutuskan untuk mencoba sesuatu yang mungkin bisa membuat dia lebih terangsang. Aku bangkit sebentar lalu duduk di pangkuan Amir, kemudian ku gesek-gesekkan kelaminku yang sangat becek di batang penisnya.
Barulah si Amir tampak mulai kesusahan menahan birahinya, meskipun begitu, dia pergunakan kesempatan itu untuk meraba dan meremas buah dadaku dari belakang. Betul-betul cabul nih anak.
“Shhh… Mir… kamu ini.. jangan curang…” rintihku karena remasan tangannya. Sungguh tidak adil memang karena bagian sensitif wanita lebih banyak ketimbang lelaki. Tapi akhirnya ku biarkan saja. Diapun kini leluasa menggerayangi tubuhku dari belakang selagi penis dan vagina kami bergesekan. Tapi…
“Jleb!!” Penisnya masuk ke vaginaku!! Sangat lancang!!
“Mir!! Kamu apa-apaan sih!! jangan dimasukin gitu dong!!” protesku. Tapi dia tidak mendengarkan, dia menahan pinggulku yang mencoba melepaskan diri darinya. Duh… kenapa begini sih? Ini sih bukan lagi tanding masturbasi. Sepertinya dia yang tidak tahan akhirnya memasukkan penisnya ke vaginaku.
Teman-temannya tentu saja terkejut melihat aku kecolongan Amir. Mereka hanya bisa melongo menatap dengan iri. Tampang mereka itu justru malah membuatku ingin tertawa, meskipun bukan saat yang tepat untuk tertawa saat ini.
“Ihh… Mama ngentot sama Amir…” komentar Fara lugu melihat ibunya ditusuk temannya.
“Ssh… Sayang… bukan… Temanmu ini yang nakal” kataku membela diri.
“Mama curang, kan Fara duluan yang dipejuin, kok Mama dulu sih yang dientotin… hihihi” komentarnya lagi sambil tertawa. Aku hanya tersenyum mendengar omongan polosnya itu. Ibunya sedang digenjot pria lain yang bukan ayahnya dia malah berkomentar begitu, dasar Fara.
“Udah Mir.. lepasin!!”
“Amir!” Tapi dia tetap saja tidak mendengar, terus saja menggenjotku seenak hatinya karena tenagaku kalah besar darinya untuk bisa melepaskan diri.
“Shhh… ughhh… Miiir…”
“Stop… ssshhh…” Argh… tidak… Aku terangsang berat karena genjotannya. Ku pikir tadi dengan dia menusukkan penisnya di dalam vaginaku setidaknya bisa membuatnya semakin cepat orgasme, tapi justru aku yang semakin kewalahan. Meski ukurannya lebih kecil dari punya suamiku namun kocokannya begitu mantap mengaduk vaginaku.
“Ahhh.. shhh” Tidak… Aku tidak kuasa menahan gelombang orgasmeku yang akan segera datang. Gawat!! Aku akan kalah…
Namun tiba-tiba…
“Brengsek!! Apa yang kalian lakukan??!!!” teriak seseorang. Suamiku pulang!! Dia datang lebih cepat dari yang dia katakan. Diapun mendapati istri dan anak gadisnya sedang dicabuli beramai-ramai oleh para remaja tanggung yang tidak jelas. Istrinya sedang disetubuhi sedangkan anaknya sedang digerayangi.
“Kurang ajar!! Pergi kalian brengsek!!” teriaknya lagi. Terang saja remaja-remaja tanggung ini terkejut bukan main. Amir yang tadinya sedang nikmat-nikmatnya menggenjotku dan hampir membuatku kalah malah sampai orgasme karena saking terkejutnya, diapun menumpahkan spermanya di dalam vaginaku. Aku disiram sperma pria lain di depan suamiku!!
“Cepat pergi brengsek!!!” teriak suamiku lagi. Amir lalu melepaskan diriku, begitupun teman-temannya yang sedang asik mencumbui tubuh telanjang Fara. Mereka langsung kocar-kacir memakai pakaian mereka. Lari pontang-panting ke luar kamar, kabur sesegera mungkin dari rumahku. Di antara mereka ada yang sempat terkena terjangan kaki dan tinjuan suamiku.
“Kamu apa-apaan sih Ma!!?? Apa yang kamu lakukan? Kenapa kalian berdua telanjang bulat begini hah !!??”
“Itu…”
“Ituu apa?”
“Itu Pa, teman-teman Fara nakal banget… Gini…”
Akupun menceritakan semuanya pada suamiku. Mulai dari cerita hari kemarin dimana teman-teman Fara yang mandi dan tidur bersama Fara, lalu dipejuin mereka. Bagaimana aku juga disuruh ikut telanjang sampai akhirnya disuruh lesbian.
Awalnya suamiku tampak sangat murka mendengarkan semua ceritaku. Dia pikir aku sudah berlebihan mengekploitasi Fara sampai aku juga ikut-ikutan. Tapi akhirnya dia bisa sedikit tenang. Atau… dia malah horni mendengar ceritaku?
“Terus kamu iyakan omongan mereka Ma?”
“Aku tentu saja gak mau Pa… Aku tidak pernah telanjang di depan pria lain selain kamu, masa disuruh lesbian pula di depan mereka, dengan putri sendiri pula. Tapi mereka terus saja memaksa. Jadinya aku nantangin mereka buat tanding siapa yang duluan orgasme. Kalau mereka menang baru deh boleh lihat kami lesbian.
“Terus?”
“Tapi dasar mereka bandel, malah akhirnya nyelip juga di vagina Mama Pa… Untung saja kamu datang. Kalau tidak, mungkin aku bakalan kalah, terus aku dan Fara bakal disuruh lesbian, bahkan paling buruk kita bisa dientotin mereka bergiliran” sambungku lagi. Aku mengatakannya sambil tersenyum dan hampir tertawa.
“Tapi… kamu disetubuhi mereka itu…”
“Gak apa kan Pa? gak sengaja kok… lagian daripada Fara yang dientotin teman-temannya, iya kan?” kataku membenarkan tindakanku. Meskipun ku tahu itu bukan sesuatu hal yang benar dari awalnya.
“Tapi kan Ma…”
“Mama janji gak akan berbuat seperti itu lagi. Mereka juga kan kalah, jadi mereka tidak akan kemari lagi, apalagi setelah kamu hajar begitu. Mana berani mereka, bahkan tidak berani lagi mengganggu Fara” ujarku.
“Maaf yah Pa mereka tadi keluarnya di dalam. Habis Papa juga kagetin dia sih jadinya dia keluar di dalam deh… Tapi gak apa, jadinya kan mereka kalah, hihihi” lanjutku lagi.
Akhirnya dia merelakan apa yang terjadi, meskipun aku tahu kepalanya masih terbakar api cemburu dan juga horni yang amat sangat karena mendengar ceritaku barusan. Ya… akhirnya diapun melampiaskannya dengan menyetubuhi Fara. Menggenjot anak kandungnya sendiri dengan buasnya. Aku juga langsung mencuci vaginaku, bakal runyam kalau aku sampai hamil oleh remaja tanggung itu.
Extra story: Fara dan teman-temannya yang nakal -End
Tapi petualangan putriku masih belum selesai…
Bersambung…
Extra story 2: Fara dan 9urunya (Kolaborasi dgn Mojo Joss)
Sejak pengusiran teman-temannya Fara beberapa hari yang lalu, suamiku semakin ketat menjaga pergaulan Fara. Tapi tidak hanya itu, suamiku juga semakin sering ngentotin Fara. Seperti halnya pagi ini, di saat aku sibuk menyiapkan sarapan pagi, suamiku justru tengah sibuk menghajar vagina mungil putri kandungnya itu sambil berdiri.
Gadis kecilku tampak kerepotan meladeni nafsu ayahnya yang begitu bersemangat, meja makan yang menjadi tempatnya bertumpu sampai bergoyang dibuatnya.
“Papa, hati-hati lho seragam Fara nanti kotor, bisa-bisa ketahuan teman-temannya kalo Fara dientotin ayahnya sebelum sekolah” ujarku.
“Iya Ma… biar gak kotor nanti papa semprotin di memeknya Fara aja…” jawab suamiku. Aku tertawa melihat suamiku yang merasa terganggu oleh peringatanku, tapi niat usilku justru semakin menjadi.
“Masih lama ya?” tanyaku mendekat sambil mengintip batang suamiku yang bergerak cepat menusuk-nusuk vagina putrinya.
“Papa sekarang kuat banget Mah… Kalo Fara udah pipis dua-tiga kali baru deh tuh papa pipisin memeknya Fara” jawab Fara yang membuat suamiku tersenyum bangga dan semakin kencang menghajar vagina Fara.
“Tuh kan… Fara udah mau pipis lagi nih Ma, pipis bareng yuk Pa, pipisnya yang banyak biar makin cinta sama Fara” Suara Fara yang merengek manja akhirnya berhasil membuat suamiku orgasme.
“Papaaa… Fara mulai pipis niiiiih…” Fara semakin menunggingkan pantatnya.
“Iya sayang… ini papa pipisin juga memeknya Fara…” jawabnya sambil mengejat-ngejat menghambur banyak sperma di vagina putrinya. Fara sampai tertawa geli akibat dinding rahimnya yang menerima semburan sperma cukup banyak dari ayahnya sendiri.
Selesai makan, Fara langsung mengambil tas dan mengenakan sepatunya.
“Sayang, sini sebentar,” panggilku berbisik. “Tadi Fara sudah disayangin sama Papa, jadi Fara harus belajar dengan semangat ya…” pesanku yang dijawab Fara dengan senyuman meski wajahnya terlihat kelelahan. Farapun berangkat ke sekolah diantar Papanya.
Selama sendirian di rumah, hampir seharian aku disibukkan mencari cara baru agar kehidupan seks suami dan putriku semakin penuh sensasi. Hingga akhirnya aku mendapat telpon dari sekolah Fara tentang prestasi Fara yang menurun jauh, dan itu membuatku sangat kaget, apalagi 9uru BK yang menangani masalah siswa akan langsung datang ke rumah.
Hanya dalam waktu satu jam pintu rumahku diketuk seseorang yang ternyata itu adalah kepala sekolah. “Maaf bu, akhirnya saya langsung yang datang ke rumah Fara,” ucap kepala sekolah yang memiliki tubuh tinggi dengan wajah garang namun berwibawa.
Pak Wawan dengan gamblang menerangkan bagaimana merosotnya prestasi putriku di sekolah, padahal Fara tengah bersiap menghadapi ujian kenaikan kelas. Tiba-tiba Fara yang tengah kami bahas datang dari sekolah dengan wajah tampak berkeringat.
“Lho, kamu pulang sendiri sayang?” tanyaku heran.
“Nggak Ma, dijemput papa kok… tuh masih di mobil lagi benerin celana” jawab putriku santai.
Aku langsung menepuk jidatku mendengar jawaban polos putriku, dan benar saja, tidak lama masuklah suamiku, pakaiannya memang telah rapi tapi aku masih dapat melihat bercak sperma di celana suamiku.
“Wah… ada bapak kepala sekolah. Ada apa pak kok sampai berkunjung kerumah kami?” sapa suamiku ramah. Akhirnya Pak Wawan kembali menerangkan alasan kedatangannya.
Sementara Fara dengan cuek melempar tasnya sembarangan lalu berbaring seenaknya didepan tv yang tidak jauh dari mereka. Namun saat ponselnya berdering, Fara bergerak mengambilnya lalu bertiarap membelakangi kami, kakinya bergerak-gerak ditekuk, hingga membuat selangkangannya terbuka, membuat orang nomor satu disekolahnya itu tidak konsen berbicara.
Suamiku yang menangkap situasi itu tidak bisa berbuat apa-apa, tapi terlihat jelas rasa tidak sukanya atas sikap Pak Wawan yang terus mempelototi selangkangan Fara.
“Jadi bagaiamana Pak, Bu, apakah memang ada masalah yang mengganggu Fara belajar hingga prestasinya menurun?” tanya pak Wawan bersamaan dengan gerak mata yang melotot saat menangkap penampakan celana dalam Fara yang putih.
“Oh ya, satu hal lagi, saya sering mendapatkan laporan bahwa Fara sering tidur di kelas karena kecapean dan cara duduknya yang sembarangan,” ucapnya berusaha menjaga wibawanya sebagai seorang 9uru. Tapi yang membuatku ingin tertawa adalah tatap matanya yang tak beralih sedikitpun dari penampakan di selangkangan anak gadisku.
Niat usilku tiba-tiba muncul, ingin sekali mengerjai Pak Wawan yang tampak sangar dan galak ini. Yaah… setidaknya aku berusaha membantu putriku agar orang ini tidak lagi galak terhadap Fara di sekolah.
“Sebenarnya begini pak, Fara ini anak yang manja dan kalo belajar sering minta di temani ayahnya sambil minta disayangin, tapi justru saat disayang-sayang sama ayahnya itu belajarnya jadi terganggu,” terangku.
“Maksud ibu terganggu bagaimana? Bukannya bagus jika belajar sambil ditemani dan disayangi oleh ayahnya?” tanya Pak Wawan tidak mengerti.
“Maksud saya, disayanginya sambil begituan, ng… gimana ya…” ucapku pura-pura bingung menjelas dan membuat Pak Wawan juga semakin bingung. Sementara suamiku menunjukkan wajah protes.
“Fara, kesini sebentar sayang” panggilku, lalu menyuruh Fara mendekat. “Tolong tunjukin cara kamu belajar di rumah pada Pak Wawan,” pintaku.
“Di depan Pak Wawan Ma?”
“Iya… di sini, di depan Pak Wawan. Soalnya Pak Wawan bingung melihat prestasi kamu yang menurun” jawabku.
Fara akhirnya mau, dengan malu-malu Farapun berjongkok di depan ayahnya.
“Tapi ma…” protes suamiku.
“Tidak apa Pa… mungkin Pak Wawan bisa memberi solusi cara belajar yang lebih baik,” jawabku menahan geli melihat suamiku yang salah tingkah saat Fara mengeluarkan batang penisnya. Aku segera bangun mengambil tas Fara dan mengambil beberapa buku pelajarannya.
Mulut Pak Wawan sampai menganga lebar saat Fara melahap batang penis ayahnya, lalu dengan santai membuka dan membaca buku pelajaran yang ku serahkan. Lelaki bertampang galak itu tak mampu bersuara!!
“Pa… udah keras nih, udah boleh dimasukin ke memeknya Fara ga?”
Aku tak mampu lagi menahan tawa melihat wajah suamiku yang memerah malu bagaikan udang rebus, sedangkan mulut Pak Wawan terbuka lebar saat melihat Fara mengangkat rok birunya hingga ke pinggang, lalu dengan malu-malu menurunkan celana dalamnya. Fara melakukan semua itu dengan gerakan yang cenderung lambat, terang saja mata Pak Wawan termanjakan olehnya.
“I.. itu.. itu beneran mau dimasukin?”
“Iya Pak… Kalo bapak ingin melihat lebih jelas bapak bisa duduk di samping saya” tawarku yang memang duduk berhadapan dengan suamiku dan Fara.
Pak Wawan segera berpindah duduk sejajar di sampingku, bersama-sama dengan seksama menyaksikan bagaimana Fara dengan tingkahnya yang khas berusaha memasukkan penis ayah kandungnya itu ke lubang vaginanya yang imut. Perlahan penis ayahnyapun amblas seluruhnya. Fara lalu mulai menggoyangkan pinggulnya sambil tersenyum malu-malu padaku dan kepala sekolahnya.
“Ini sayang, sambil mengerjakan pe-er matematika saja ya…” ucapku meletakkan buku matematika di atas meja yang ada di depan Fara. Gadis kecilku tersenyum dengan imutnya, lalu mengerjakan PR sambil di pangku oleh ayahnya. Hal seperti ini memang sudah sering mereka lakukan, tapi tentunya tidak di depan kepala sekolah Fara yang kini juga ikut menyaksikan.
“Papa… nyayangin Faranya yang benar dong… Biar Pak Wawan bisa tau masalah nya, mungkin bisa memberi Fara dan Papa sebuah solusi” ucapku pada suamiku yang hanya diam menyandarkan tubuh ke sofa.
Suamiku tampak ragu saat menyelusupkan tangannya ke seragam Fara, dia sepertinya tidak ingin Fara telanjang di depan Pak Wawan. Tapi segera ku protes, soalnya kan setiap malam saat Fara belajar di meja kamarnya selalu dalam keadaan bugil dengan ditemani kontol ayahnya di dalam vagina. Jadi sekarang harus begitu juga dong…
Akhirnya dia mau juga. Kemudian satu persatu kancing seragam Fara dilolosi hingga menampilkan bra mungil yang membekap payudara belia nya.
“Ayo dong Pa… nyayanginnya yang benar…” ingatku lagi saat melihat suamiku berhenti sampai di situ. Akhirnya lelaki yang telah menemani hidupku selama bertahun-tahun itu melepas seluruh kain yang melekat ditubuh Fara.
“Ohh.. mulus banget. Kok bisa payudara Fara bisa sampai sebesar itu?” tanya Pak Wawan menyaksikan gumpalan daging yang diremasi oleh suamiku.
“Itu karena tangan suami saya selalu megang-megang nenennya setiap malam, Pak. Kemarin teman-temannya Fara waktu nginap disini juga pernah ikut-ikutan megang, malah ada yang sampai netek kok. Bapak kalo pengen nyobain megang boleh kok, hihihi”
Suamiku sontak melotot protes mendengar aku menawarkan payudara putrinya untuk dipegang. “Boleh kan Pa nenennya Fara dipegang-pegang 9urunya? Cuma megang aja kok, teman-teman Papa dulu kan juga pernah, malah sampai coli di wajahnya Fara”
Suamiku tak lagi berkutik, dia turunkan tangannya memberi kesempatan kepada Pak Wawan yang menghulurkan tangannya lalu meremasi payudara anak gadisnya di hadapannya sendiri. Dapat ku lihat wajah Pak Wawan yang tampak sangat bernafsu saat menggerayangi buah dada putriku ini.
“Bagaimana Pak? Memang besarkan nenenya Fara? hihihi” godaku.
“I… iya, tapi itu bisa juga karena bibitnya yang juga besar” ucap Pak Wawan dengan mata beralih menatap payudaraku yang memang membusung.
“Hihihi, bapak bisa aja, tidak juga pak, punya saya kecil kok”
“Tidak, tidak, saya yakin payudara ibu juga besar, jauh lebih besar dari punya Fara” kini giliran wajahku yang bersemu merah mendengar pujian lelaki itu, apalagi matanya terus menatap kebelahan kaos dada yang rendah. Dia berkata seperti itu padaku saat ada suamiku di sana!!
“Ih… bapak koq tidak percaya banget sih?” ucapku dengan manja, tiba-tiba otakku bergerak cepat berimprovisasi.
“Pa, boleh gak Pak Wawan ngebuktiin omongannya?” tanyaku pada suamiku. Terang saja suamiku terkaget mendengar pertanyaanku. “Masa anaknya boleh dipegang tapi ibunya ga boleh sih? hihihi” lanjutku lagi.
Setelah melihat suamiku mengangguk pasrah, tangan Pak Wawan segera melayang dan hinggap diatas payudaraku, Oohh… sensasi ini, payudaraku yang diremasi dengan penuh nafsu oleh lelaki lain di bawah tatapan cemburu suamiku sungguh benar-benar membuat vaginaku berdenyut liar.
“Pak Alan, boleh saya meremas dari dalam? karena bra mamanya Fara terlalu tebal” tanya Pak Wawan yang terlihat semakin penasaran, lagi-lagi suamiku cuma bisa mengangguk.
“Awhhhhh…” aku tidak tahan untuk melenguh ketika menatap suamiku yang cemburu melihat jari-jari pria ini meremasi puting istrinya.
“Betulkan dugaan saya? buah dada mamanya Fara ini besar. Beruntung banget Pak Alan punya istri dan anak yang punya payudara besar seperti ini,” ucapnya sambil masih asik meremas buah dadaku dan buah dada Fara. Aku semakin belingsatan, remasan lelaki dewasa berpengalaman memang jauh berbeda dengan remasan cowok-cowok remaja teman-temannya Fara kemarin.
Kulihat suamiku semakin cepat menggerakkan pinggul Fara yang duduk di pangkuannya, dan dengan diam-diam tubuhnya mengejat-ngejat menghambur sperma di vagina Fara. Gila, suamiku justru bernafsu melihat payudaraku digerayangi lelaki lain!!
“Ma, mama pengen disayangin sama Pak 9uru ya? Terus memeknya dientotin dan dipipisin juga seperti Papa pipis di memek Fara ya?” tanya Fara polos.
Pertanyaan Fara yang lugu itu mengagetkanku, seandainya apa yang diucapkan Fara benar-benar terjadi. Tiba-tiba aku ingin merasakan sensasi disetubuhi lelaki lain di depan suamiku yang tengah menggarap putrinya.
“Lho? kok jadi seperti pesta seks gini ya? Pegang-pegangnya sudah dulu ya Pak? Mungkin bisa dilanjutkan lain kali, hihihi” ucapku menarik tangan lelaki itu keluar dari kaos ku. Meski enggan Pak Wawan tak dapat berbuat apa-apa, apalagi saat melihat lelehan sperma yang mengalir dari celah vagina Fara yang masih menjepit penis ayahnya.
“Jadi bagaimana Pak? Tentang masalah cara belajar Fara itu?” tanyaku.
“Eh, iya… cara Pak Alan menyayangi Fara jelas angat mengganggu belajar Fara, seharusnya Pak Alan jangan sampai membuat tubuh Fara bergerak-gerak, itu membuat konsentrasi Fara jadi hilang”
“Maksud bapak? Apa bapak bisa memberikan contoh?” tanyaku. Lagi-lagi suamiku melotot mendengar aku menawarkan hal gila pada 9uru Fara itu. Sangat berbeda dengan wajah Pak Wawan yang sumringah senang bukan main.
“Jadi begini, bila bapak menemani Fara belajar sambil duduk pangkuan begitu jelas akan mengganggu Fara, jadi ada baiknya Fara belajar sambil tengkurap” terangnya sambil menatap erat mataku, wajah wibawanya sebagai seorang 9uru lenyap tak berbekas, berganti dengan wajah cabul serigala yang bersiap memangsa anak ayam yang tidak lain adalah putri kandungku sendiri!!
“Ayo sayang, lakukan apa yang dikatakan 9urumu” perintahku yang dipatuhi Fara dengan berdiri hingga batang suamiku yang telah melemas terlepas dari vagina mungilnya.
“Bapak mau Fara tiarap di sofa atau di karpet depan tv?” tanyaku senyum-senyum.
“Eh, biar di sofa saja bu, tidak apa-apa” jawab Pak Wawan. Tanpa harus diperintah, Fara bisa mengerti dengan apa yang diinginkan 9urunya, dengan cepat gadis mungil ku berbaring di sofa memamerkan pantat montoknya.
“Yap, silahkan dilanjutkan belajarnya Fara, biar bapak yang berpura-pura menjadi ayahmu” ucap lelaki itu sambil… melepaskan ikat pinggangnya dan menurunkan celananya!!
Bukan hanya suamiku yang kaget, tapi aku pun dibuat panik. Aku tadi mengira Pak Wawan hanya akan meremasi tubuh Fara sambil menyuruh Fara belajar, tapi melihat lelaki itu melepaskan celananya jelas ini akan menjadi sesuatu yang sangat gila. Jantungku berdebar cepat, tapi gilanya aku juga ikut bernafsu, penasaran bagaimana reaksi suamiku melihat putri kami akan dientoti 9urunya didepan matanya.
Tanpa tendeng aling-aling, Pak Wawan mulai bersiap, menaiki sofa dan duduk diatas paha mulus putriku, sementara dari celah celana boxer nya dapat kulihat kepala penis yang berada tepat di belahan pantat Fara.
“Tunggu, tunggu, apa bapak akan melakukan… nghh… itu pada Fara?” tanya suamiku ragu-ragu.
“Ya, jika itu perlu, karena saya harus memberikan contoh yang benar” jawab Pak Wawan sambil memegangi penis dibalik celana boxer yang ku yakin batangnya itu sudah dalam kondisi siap tempur.
“Jangan! Jangaan!! jangaaan lakukan itu pada Fara!!” tolak suamiku cepat.
“Lalu pada siapa? Apa saya harus mempraktekkan cara belajar yang benar pada istri bapak sebagai contoh?” tanyanya sambil terkekeh mesum.
Gila!! jantungku berdebar kencang, hatiku berteriak girang, kulihat wajah suamiku yang panik sekaligus cemburu. Aku sungguh penasaran apa yang akan dilakukan suamiku. Apa yang akan kau jawab suamiku?
“Ayolah Pa… kita harus kooperatif untuk kebaikan Fara” kataku ikut-ikutan yang malah membuat muka suamiku makin memerah.
“Tepat sekali kata Bu Rina, tapi semua terserah Pak Alan pada siapa saya harus mencontohkan ini” sambung Pak Wawan cepat.
Wajah suamiku sangat bingung, tubuh siapa yang akan diserahkannya kepada Pak Wawan, si mungil Fara putrinya, ataukah tubuh istrinya?
Bersambung…
Suamiku terdiam terpaku, menatap Pak Wawan yang masih duduk di atas paha Fara yang tiarap di atas sofa dengan buku matematika di depannya.
“Jadi gimana Pa? Sama siapa Pak Wawan harus mencontohkannya?” desakku sambil berusaha menahan tawa melihat tingkah suamiku yang kebingungan.
Tiba-tiba Pak Wawan beranjak dari tubuh Fara. “Ya sudah jika Pak Alan keberatan tidak apa-apa” ujar lelaki itu sambil kembali mengenakan celananya. Ku lihat suamiku menghela nafas lega, tapi aku langsung melotot memasang wajah judes dan itu membuatnya benar-benar terkejut dan kembali bingung.
“Maaf Pak, saya permisi mau ke WC dulu” kata Pak Wawan kemudian menuju ke kamar mandi.
Kesempatan itu langsung digunakan suamiku untuk menanyakan sifatku, yang menurutnya justru mendukung niat 9uru cabul itu untuk menyetubuhi putri kami. Namun aku mengelak, aku beralasan itu untuk kebaikan Fara. Ya… aneh memang, entah kenapa aku justru berharap perbuatan cabul itu benar-benar terjadi.
“Papa marah ya kalau ada orang yang mau sayang-sayangan sama Fara?” tanya Fara polos.
“I.. iya sayang… Papa gak mau kalau ada orang lain yang juga menyayangi kamu” jawab suamiku.
“Oohh… Terus, kenapa tadi papa gak suruh Pak 9uru ngasih contoh sama mama aja Pa?”
Degh!! Aku kaget mendengar celoteh Fara, segera ku menoleh melihat wajah suamiku. Jelas dari wajahnya kalau dia semakin bingung, yang entah kenapa semakin membuatku ingin tertawa.
“Kamu gak marah kalo Pak 9uru sayang-sayangan sama mama?” tanya suamiku setelah lama terdiam.
“Enggak… Kenapa harus marah? Kan bagus kalo ada orang lain yang juga sayang sama mama…” jawab putriku itu polos banget. Terang saja suamiku terkejut mendengar jawabannya.
Setelah beberapa saat berpikir, aku cukup kaget mendengar perkataan suamiku. Dia setuju untuk membiarkan 9uru itu yang mencontohkan langsung pada Fara. Sepertinya suamiku lebih memilih menyerahkan Fara dibandingkan diriku untuk ‘dikerjai’ si 9uru cabul, dan itu cukup membuatku terharu, tapi entah kenapa tubuhku ikut bergairah karenanya.
“Papa setuju untuk membiarkan Pak Wawan membantu Fara belajar, tapi jika 9uru itu tidak mampu memberikan solusi yang baik, Papa akan segera menyuruhnya pulang…” lanjutnya seakan ingin menegaskan, terlihat jelas dari wajahnya jika suamiku tertekan.
Saat Pak Wawan kembali dari kamar mandi, suamiku langsung mengutarakan kalau dia akhirnya setuju untuk membiarkan pria itu mempraktekkannya langsung pada Fara, terang saja Pak Wawan langsung tersenyum lebar penuh kemesuman.
Kami memutuskan untuk berpindah ke kamarnya Fara, di tempat biasanya Fara belajar sambil di sayang-sayang sama ayahnya. Meskipun suamiku setuju, tapi sepertinya dia ingin ‘les private’ ini berakhir secepatnya.
“Jadi Pak 9uru boleh nemani Fara belajar ya?” tanya putriku lugu, lalu memandang ke arah ayahnya.
“Iiya sayang… Pak 9uru mau menemani belajar sambil sayang-sayangan sama Fara, papa udah bolehin kok…” ucapku sambil mengelus rambut Fara.
Gadisku tersenyum mengangguk, begitupun sang 9uru. Jelas sekali kalau 9uru itu tidak sabar untuk menyicipi tubuh belia Fara. Wajahnya berbinar saat menatap tubuh mungil putriku yang sedari tadi masih tetap bertelanjang bulat. Dia terus memandangi selangkangan putriku yang bersih dari rambut kemaluan.
“Ehhm…” suamiku berdehem cukup keras, mencoba mengingatkan 9uru itu agar tidak berpikir yang macam-macam dan segera melakukan tugasnya, meskipun rasanya tidak mungkin melarang pikiran jorok pak Wawan yang semakin menjadi-jadi terhadap putri kami.
“Hehehe, maaf…” Pak Wawan tertawa tersipu, “jadi begini, sebenarnya tidak salah menemani putri kita belajar sekaligus menyayangi mereka, hanya saja usahakan agar Fara tidak disibukkan oleh hal lain selain belajar seperti mengoral batang kita”
Hihihi, mendengar kata-kata itu sukses membuat wajah suamiku memerah. Pak Wawan lalu meminta Fara untuk duduk di kursi, sementara dirinya masuk kebawah meja. Aku langsung bisa menebak apa yang akan dilakukannya. Setelah meminta Fara untuk mulai mengerjakan PR nya dengan kaki mengangkang, Pak Wawan langsung memulai aksinya menjelajahi vagina Fara dengan lidahnya.
Ya ampun… putriku sedang dioral!! Aku berusaha menahan tawa, harus kuakui idenya cukup nakal, akal bulusnya untuk menikmati vagina Fara tak dapat membuat suamiku mengajukan protes.
“Gimana sayang belajarnya? enak sama Papa atau sama Pak 9uru?” tanyaku iseng.
“Ngghh… samaa Paakk 9uruu maaa… mmhhh… pelan-pelan Pak… geliii…” jawab Fara sambil merintih, tangannya bergerak tak jelas, menuliskan angka-angka dengan sembarang.
Dari sudut mataku kulihat suamiku yang tidak tenang, Fara dengan jelas lebih mengakui 9urunya dan itu membuat suamiku sangat cemburu.
“Ma, apa mama bisa menggantikan Fara? biar Fara bisa melihat cara belajar yang benar? Ini… ini untuk kebaikan putri kita juga” ucap suamiku kemudian. Aku benar-benar terkejut, dia sepertinya tidak tega melihat putrinya dibegitukan oleh pria lain, padahal Pak Wawan baru saja mulai. Meski kulihat wajah suamiku yang sangat cemburu, tapi aku tidak menduga jika akhirnya dia lebih memilih menyerahkan tubuhku kepada kepala sekolah itu.
Akhirnya suamiku mengutarakan usulnya kepada Pak Wawan. Pak Wawan sedikit keberatan awalnya, tapi tidak terlalu mempermasalahkannya karena yang akan dia dapatkan juga tidak kalah menggairahkan, ibunya Fara.
Akupun bertukar dengan Fara. Aku sendiri berdebar-debar dibuatnya. Vaginaku akan dioral oleh pria lain di depan suamiku sendiri!! Perasaanku campur aduk, antara penasaran bagaimana rasanya ‘dikerjai’ pria lain dan senang melihat ekspresi tak karuan dari suamiku. Dari bawah meja, dapat kulihat senyum mesum Pak Wawan yang tak dapat ku balas dengan senyum serupa, aku harus menjaga semuanya agar berjalan apa adanya.
Tepat di depan suamiku, seorang lelaki kini sedang menurunkan celana dalamku, mengusapi pahaku yang membuat seluruh tubuhku merinding. Dan saat tanganku menggapai pulpen, ku rasakan lidahnya yang panas mulai menyapu bibir vaginaku.
“Eeemmpphhh…” sekuat tenaga aku menahan lenguhanku, mana mungkin aku merintih di depan suami dan putriku sendiri. Yang bisa kulakukan hanyalah membuka pahaku semakin lebar dan membiarkan lidahnya masuk semakin dalam. “Ooopppmmhhh…”
Ternyata tulisanku lebih parah dibandingkan Fara, bahkan untuk menuliskan angka satu yang tegak lurus pun aku tak mampu. Lidah Pak Wawan bergerak terlalu liar, menyapu dinding dalam vaginaku dengan intens.
Kakiku mengapit kepala Pak Wawan. “Oooowwwhhh… Paaakk…” akhirnya suara itu terlepas juga tepat di saat bibir lelaki yang ada di selangkanganku menyedot kuat, membuat cairan yang ada di relung vaginaku berpindah ke mulutnya, hampir saja aku mendapatkan orgasme ku.
Aku menatap wajah suamiku dengan pandangan tak menentu, sementara di selangkanganku lelaki lain dengan bebasnya melahap liang kewanitaanku. Benar saja dugaanku, suamiku ikut terbakar gairah, tangannya memeluk Fara dari belakang meremas payudara putri kami. Sementara selangkangannya menggosok-gosok pantat bulat Fara yang terekspos bebas.
“Oke… mungkin untuk ini cukup,” ucap Pak Wawan keluar dari bawah meja. Aku tertawa kecil saat melihat kumis tipis lelaki itu penuh dengan cairan dari vaginaku. Dia sendiri juga sepertinya ingin menunjukkan pada suamiku bagaimana cairan vagina istrinya kini berlumuran di bibirnya. Terang saja suamiku semakin panas.
Aku lalu berdiri dan hendak mengenakan kembali celana dalam ku, tapi dicegah oleh Pak Wawan. Entah apa maunya, namun ku turuti saja dan tidak mengenakan celana dalamku dulu.
“Jadi dalam belajar, pastikan putri anda bla.. bla.. bla..” Celoteh yang keluar dari mulut Pak Wawan memang terdengar ilmiah, tatapan matanya pun tegas ke arah suamiku, tapi yang membuat aku kelimpungan adalah gerakan tangannya tak henti meremasi pantatku, menyusuri belahannya dengan jari-jarinya yang kasar.
Sementara tangan suamiku yang sempat terdiam, kembali bergerak meremasi payudara Fara. Gilaaa… Ini tak ubahnya seperti pesta seks!!
“Oke, Pak Alan, kita lanjutkan pada tahap selanjutnya, bisa bapak ambilkan buku pelajaran yang lain, agar bapak bisa mempraktekkan langsung kepada Fara sambil melihat saya mencontohkan pada istri bapak,” ucapnya. Suamiku cuma bisa menganguk lalu mengambil buku PR lainnya di tas dengan dibantu putrinya.
Saat itulah Pak Wawan berbisik di telingaku, “dari tadi siang saya sudah tidak sabar pengen ngentotin memek ibu di depan suami ibu, hehe..” ujarnya mesum. Uuughh… jantungku berdebar cepat, dinding vaginaku terasa berdenyut. Aku bergairah mendengar ucapannya itu. Tiba-tiba aku merasakan batang kejantanan Pak Wawan menggesek-gesek belahan pantatku.
“Oh ya… Bapak biasanya menemani Fara belajar dalam keadaan bugil kan?” tanya Pak Wawan pada suamiku. Meski sudah tahu, dia tetap saja menanyakannya.
“I.. iya”
“Kalau begitu Bu Rina juga harus bugil dong Pak… hehe”
“T.. ta.. tapi, apa harus begitu Pak?” tanya suamiku masih berberat hati.
“Turuti saja Pa… ini kan demi putri kita juga…” kataku membela Pak Wawan.
“Tenang saja Pak… saya tidak akan betul-betul menyetubuhi istri Pak Alan ini kok, cuma akan memberikan contoh posisi yang benar saja, hehe” ujarnya menenangkan suamiku yang terlihat panik, meskipun aku tahu kalau dia hanya berbohong, jelas kalau pria ini ingin curi-curi kesempatan untuk menyetubuhiku.
Suamikupun hanya bisa pasrah. Aku lalu melepaskan semua pakaian yang ada di tubuhku dibantu oleh Pak Wawan. Kini kami ibu dan anak sudah sama-sama telanjang bulat, tidak hanya di depan suamiku, tapi juga di hadapan pria lain. Ini membuatku sangat malu. Bibir lelaki itu tersenyum saat kedua tanganku berusaha menutupi selangkanganku.
Karena kasur milik Fara terlalu sempit, Pak Wawan memintaku dan Fara untuk mengambil posisi tiarap di atas karpet, lalu menaruh buku pelajaran di depan kami. Persis seperti posisi Fara di sofa tadi.
Pak Wawan kembali berbisik padaku, “sekarang ikuti saya, dan lakukan senatural mungkin, anggaplah Pak Alan memang sedang menemani dan membimbing Fara belajar,” sepertinya dia sangat ingin merasakan nikmatnya jepitan vaginaku!!
Aku sungguh tidak tahu apa yang ada di pikiranku, meskipun aku risih sekaligus malu, tapi aku malah nurut-nurut saja saat pantatku yang terbuka ditunggingkan olehnya. Dia lalu menaiki tubuhku dan duduk diatas pahaku yang masih terkatup rapat. Aku langsung bisa merasakan batangnya yang mengeras tepat berada dibelahan pantatku.
“Oke, Bu Rina dan Fara silahkan mengerjakan PR seperti biasa, dan Pak Alan silahkan perhatikan saya, bagaimana cara memberikan kasih sayang tanpa mengganggu anak belajar”
“Tapi istri saya tidak beneran akan bapak… ngg… gituin kan?” tanya suamiku lagi memastikan.
“Hahaha… Tidak… Tenang saja Pak…” jawabnya licik.
Berbeda dengan Fara yang berusaha serius mengerjakan PR matematikanya, aku justru tak mampu sedikitpun menelaah buku biologi yang ada di depanku. Pak Wawan mulai menciumi punggungku, bibirnya menggumam tak jelas.
Kecupannya ringan yang diiringi usapan tangan ke sekujur tubuhku, sesekali meremas pantatku membuat batangnya semakin terjepit dan menyentuh liang anusku. Aku merinding saat pinggul Pak Wawan bergerak pelan menusuk anusku. Gilaaaa… aku tau dia hanya ingin menggodaku!!
Dari sudut mata dapat kulihat suamiku yang tegang memperhatikan ulah Pak Wawan di atas tubuhku, meski bergerak meremasi payudara Fara aku tau jika suamiku tak dapat menikmatinya seperti biasa. Perhatiannya sepenuhnya tertuju ke tubuhku. Takut kalau tubuh istrinya benar-benar akan disetubuhi pria ini, hihihi.
“Papa, sayangin Fara yang bener dong…” ucapku usil menggodanya, sementara batang Pak Wawan semakin nakal menggoda liang anusku.
“Eeehh… papa kan cuma memperhatikan Pak Wawan memberikan contoh Ma” elaknya, lalu mulai memeluk Fara dan menciumi lehernya, ku dengar Fara tertawa geli atas ulah ayahnya.
Saat suamiku asik mencumbu Fara, aku tak membuang kesempatan untuk membuka pahaku lebih lebar dan menunggingkannya lebih tinggi agar batang Pak Wawan berhenti menggoda anusku.
“Eeeemmmpphh…” aku melenguh tertahan, tebakan ku sangat tepat, batang itu dengan segera bergerak maju mundur menyundul bibir vagina yang sangat basah. Ugh…
“Fara… gimana sayang belajarnya? bisa?” tanyaku pada Fara yang sesekali tertawa saat suamiku menciumi telinganya.
“Bisa sih ma… tapi papa kan juga sering ngajak cipokan, jadi belajarnya sering terhenti” jawabnya polos.
“Memang, saat berciuman aktifitas membaca dan menulis pasti sulit untuk dilakukan, jadi ada baiknya itu dilakukan saat Fara istirahat sejenak,” beber Pak Wawan yang seluruh tubuh kekarnya kini menindih tubuhku.
Aku berusaha untuk tersenyum wajar pada Fara yang menatapku, meski tubuhku terbakar gairah cumbuan panas sang kepala sekolah. Aku dan putrikupun terus bertatap-tatapan, sambil sesekali saling melempar senyum walau tubuh kami sama-sama sedang ditindih pria. Fara ditindih ayahnya, dan aku ditindih kepala sekolahnya Fara.
“Ok, sudah sepuluh menit, Fara bisa istirahat sejenak, Pak Alan silahkan manfaatkan waktu dengan baik, hehe” ucap lelaki di atas tubuhku ini dengan santainya. Dengan gerakan yang tiba-tiba tangan Pak Wawan segera meraih pipiku dan melabuhkan ciuman yang sarat dengan nafsu.
Aku tergagap, meladeni permainan lidah Pak Wawan yang panas sambil menatap Fara dan suamiku yang tak kalah kaget. Aku merintih saat payudaraku diremas dengan kuat olehnya. Fara dan suamiku melihat bagaimana ibu juga istrinya sedang diciumi dengan buasnya oleh pria lain!!
“Pa, ciumin Fara juga dong kaya mama” rengek Fara tidak mau kalah yang mengagetkan suamiku, Fara memintanya sambil masih menatap ibunya. Suamikupun menuruti, dia sepertinya ikut bernafsu melihat istrinya dicabuli orang lain. Hingga akhirnya kami sibuk dengan aktifitas masing-masing. Akupun berhenti menatap wajah Fara yang kini tertutup oleh suamiku, berganti menatap wajah tegas sang kepala sekolah yang sibuk menikmati lidahku di dalam mulutnya.
“Apa ibu berani meminta izin pada suami ibu untuk memasukkan kontol saya ke memek ibu?” tantang Pak Wawan di telingaku setelah percumbuan lidah yang panas.
Tantangan pak Wawan membuat tubuh ku semakin panas. Seharusnya aku hanya memperbolehkan Pak Wawan menggesek-gesekkan penisnya saja, tidak benar-benar menyetubuhiku seperti yang dia katakan pada suamiku tadi. Tapi entah kenapa aku jadi tertantang menyetujui permintaannya itu. Aku sangat penasaran. Tubuhku sangat ingin merasakan dimasukin sebatang penis, sangat-sangat ingin!!
“Ayo sayang… dilanjutkan lagi belajarnya,” ujarku mencoba mengingatkan Fara dan suamiku yang masih asik bertukar ludah. Aku ingin Pak Wawan segera bisa memasukkan penisnya ke vaginaku.
Fara tersenyum bahagia, “Asik ya Ma belajar bareng gini, hihihi…” ucapnya sambil menyeka liur ayahnya yang ada di sekitaran bibir mungilnya, “Tapi Ma, biasanya kalo habis ciuman memek Fara langsung dientotin kontolnya Papa” katanya lagi.
Yup, teriak hatiku girang, ini lah kesempatanku untuk menggoda suamku sekaligus menjawab tantangan Pak Wawan, bahkan mungkin lebih nakal lagi.
“Oh ya? asik dong belajar sambil dientotin Papa? tapi Mama boleh juga gak ya belajarnya sambil dientotin 9urunya kamu? hihihi” tanyaku.
Fara langsung menoleh ke ayahnya. “Pa… Mama boleh gak dientotin 9urunya Fara?” tanyanya polos. Aku berusaha menahan tawa melihat kebingungan suamiku yang memperhatikan selangkanganku yang ditindih oleh Pak Wawan.
Bisa saja suamiku berfikir batang pria itu sudah menusuk liang vaginaku, untuk itu aku sedikit mendorong tubuh Pak Wawan yang memelukku agar duduk seperti semula, hingga suamiku dapat melihat dengan jelas kalau penis lelaki itu masih bermain-main di depan bibir vaginaku.
“Boleh Pa? kalau istrimu dientotin Pak Wawan?” tanyaku ikut-ikutan meminta izin untuk disenggamai pria lain, lalu menggenggam batang keras milik Pak Wawan. Dengan pelan kepala suamiku mengangguk. Dia setuju!! Meskipun cemburu tapi sepertinya dia juga sangat horni.
“Yeee… boleh kok, Ma…” teriak Fara girang. Bisa-bisanya Fara kegirangan begitu, dia tidak sadar dan tidak paham akan beban berat dan cemburu yang dialami oleh ayahnya. “Ayo ma, masukinnya bareng” teriak Fara ikut-ikutan memegang penis ayahnya.
“Ayooo…” jawabku tak kalah girang tertawa melihat ulah putriku.
Dapat ku lihat bagaimana Fara mengikuti gerakanku mengarahkan batang penis yang ada di tangan ke bibir vagina, lalu menunggingkan pantat lebih tinggi dan perlahan melahap batang penis kedalam rongga vagina.
“Ooowwwhh…” Gilaaa… Fara mencontoh gerakanku dengan sempurna, bibirnya mendesah mengikuti desahanku. Putriku tersenyum menatap wajah ibunya yang tak lagi mampu menyembunyikan rasa nikmat. Yang mana selama ini liang vaginaku hanya dipuaskan oleh buah timun ataupun jari-jariku, kini kembali terisi oleh batang kejantanan seorang lelaki, dan itu tepat di depan suami dan putri kandungku!!
“Ma, mama… sambil contohin Fara belajar yang benar dong, ma…” tegur suamiku yang sangat cemburu mendengar rintihan nikmat dari bibirku.
Aku tersipu malu, kembali menurunkan pantatku yang terangkat tinggi dengan perlahan, menjaga agar batang Pak Wawan tidak lepas dari vaginaku. Aku memegang buku di depanku dengan bibir tertutup rapat, menahan rintihan nikmat yang bisa saja keluar, begitupun dengan Fara yang berusaha menulis rumus-rumus di bukunya.
“Urgghhh… gila. Benar tebakan saya, memek ibu legit banget, Ooohhsss…” erang Pak Wawan di telingaku saat menusukkan batangnya dalam-dalam.
Aku hanya tersenyum, tidak berani menjawab karena ada suamiku yang hanya berjarak dua meter, yang ku bisa lakukan hanyalah mengangkat pantatku sedikit lebih tinggi agar Pak Wawan dapat lebih mudah menikmati liang vaginaku.
Tak hanya itu, aku berusaha memainkan otot vaginaku, dan benar saja Pak Wawan semakin keras meremasi pantatku, batangnya dibiarkan tertanam di dalam vaginaku menikmati pijatan kemaluanku.
“Bu.. saya tidaak tahaaaan… saya mau keluar di memek ibuu…” erangnya dengan suara tertahan.
Aku tertawa dan semakin bersemangat hingga tanpa sadar aku sampai menungging-nungging, tapi untungnya suamiku tidak lagi memperhatikan kami.
“Baru dijepit memek ibunya Fara aja udah pengen ngecrot, gimana kalo ni batang dipake buat ngentot memeknya Fara, hihihi…” ujarku manja menggoda Pak Wawan yang sedang mati keenakan.
“Pengen banget saya nyicipin memek putrinya ibu, tapi sepertinya suami ibu protektif banget… ayoo buu empot ayamnya mainin lagi, hehehe” balasnya mesum.
“Bener nih minta di empot lagi? ntar keburu ngecrot lho, hihihi. Lagian masa bapak gak bisa sih nyari akal buat ngentoton putri sayaa?” kataku lagi. Ughh… aku benar-benar ibu yang kurang ajar, menawarkan tubuh anak gadisku sendiri pada 9uru di sekolahnya. Tapi entah kenapa aku sangat ingin melihat vagina Fara dimasuki oleh batang selain milik suamiku.
Tiba-tiba ku dengar suara Fara merintih, kini posisinya kembali menungging, bibirnya tak henti mengerang akibat tusukan suamiku yang seperti orang kesurupan, “PAPAAAA… PIPISSSNYAAA BAREEENG YAAA… AAAHHH…” rengek Fara kencang, tapi mata putriku itu justru menatap Pak Wawan, seolah menantang kepala sekolahnya itu untuk ikut menikmati tubuh mungilnya.
“Iyaaa, iyaaaaa sayang… Papaaa pipisin sekaraaang yaaa… Oooowwhh… Faraaa…” teriak suamiku yang kehilangan kontrol seolah tak ada kami disitu. Batang besar nya yang terselip di vagina sempit Fara muncrat-muncrat menghamburkan sperma bersamaan dengan tubuh putrinya yang ikut mengejang.
“Ckckckck… nikmat banget sepertinya memek nya Fara… saya boleh nyoba tidak Pak?” ucap Pak Wawan yang tak henti memandangi tubuh Fara yang masih menggelinjang.
“Eehhh, Eeenng anu Pak, Fara kan masih SMP, sebaiknya jangan dibiasakan dulu disetubuhi sama orang lain. Mungkin nanti kalo sudah SMA, ketika Fara sudah bisa menentukan pilihan nya,” ucap suamiku, tubuhnya terduduk diatas karpet, membuat vagina Fara yang basah dialiri oleh sperma ayahnya menjadi tontonan Pak Wawan.
“Saya bisa menjamin nilai-nilai Fara akan bagus dan dia tidak harus belajar,” bujuk Pak Wawan tak mau menyerah. Dan itu benar-benar membuatku tertawa. Terbukti tubuh indah dan kecantikan putriku bukan hanya berhasil memikat teman-teman sekelasnya, tapi juga 9urunya yang notabene adalah pendidik yang harus menjaga moralnya.
“Pak Wawan, udah dengar sendiri kan ucapan suami saya, bapak bisa menunggu sampai Fara lulus sekolah, nanti ketika acara perpisahan SMP, bapak entotin aja Fara nya di ruang kepala sekolah bareng 9uru-9uru yang lain, hihihi” ucap ku cekikikan yang tak lain bertujuan menggoda suamiku yang langsung melotot galak ke arahku.
Tapi berbeda dengan suamiku yang marah, Fara justru tertawa kecentilan, “Yey… Berarti setelah acara perpisahan sekolah, Fara boleh ngentot sama Pak Tommy yang ganteng itu, Ma?” tanya Fara bersemangat.
“Iya sayang…” jawabku tersenyum. Suamiku langsung menepok jidatnya, sementara aku semakin tak mampu menahan tawa mendengar celoteh polos putriku.
“Ayo Pak, lanjutin yuk…” ajakku pada Pak Wawan. “Sayang… burungnya Pak Wawan boleh nggak pipis di memeknya mama?” tanyaku pada Fara yang langsung dijawabnya dengan anggukan dan senyum imutnya.
“Tapi Maa…” protes suamiku.
“Tenang aja Pa… mama nggak lagi subur kok, Papa gak boleh egois lho…” ingatku pada Mas Alan, aku membalik tubuhku menjadi telentang, seolah bersiap untuk persetubuhan yang sesungguhnya.
“Ooowwhhhh… Ssshhh… aawhhh… pelan-pelaaaan Paaak…” erangku yang sudah menebak akan serangan tiba-tiba Pak Wawan yang langsung mengayuh tubuhku dengan kecepatan penuh. Seenaknya menggenjot memekku sekencang-kencangnya di depan suamiku.
Masih dapat kudengar celoteh Fara yang menanyakan arti dari kata egois kepada suamiku, namun tak mendapatkan jawaban karena suamiku sedang tertegun menyaksikan bagaimana pinggul istrinya ikut bergerak liar meladeni setiap tusukan kontol panjang Pak Wawan. Pandangannya yang penuh cemburu justru membuatku semakin bersemangat dan semakin membuka selangkanganku.
“Ma, Mama terakhir haid seminggu yang lalu kan? Berarti Mama sedang suburkan?” tanya suamiku panik yang ternyata masih mencoba mengingat masa menstruasiku, tapi bibirku yang tengah dilahap dengan ganas oleh Pak Wawan tak bisa menjawab. Justru tanganku merengkuh dan meremas pantat kekar lelaki yang tengah menyetubuhiku.
“Bu Rinaaa… saya ngecrot dimana Bu? Aaahh… aah… aah…” tanya Pak Wawan yang mulai panik bersiap menerima orgasme. Aku tak menjawab, sambil tersenyum nakal kepada suamiku aku meremas pantat Pak Wawan semakin keras. Dan itu cukup menjadi jawaban bagi lelaki yang sedang mengayuh tubuhku penuh birahi.
Ooohh… Gilaaa… ini sungguh gilaaa… aku mendapatkan orgasme ku yang paling gila seiring semburan panas sperma lelaki lain, di bawah tatapan cemburu suamiku yang mengira aku dalam masa subur.
“OOOOWWHH… maaf paaahh… mamaaahh lupaaa kalo sedaaaang SUBUUUURRR… mama bisa haMIIILLLLL” teriakku di antara badai orgasme, tapi justru membuat Pak Wawan menusukkan batangnya semakin dalam seperti ingin menghamiliku. Jelas saja suamiku langsung blingsatan, tapi tak mampu untuk mencegah.
Cerita Sex Sang Pewaris
“Aahhh… kasian Mas Alan…” gumamku di sela orgasme, karena terlalu asik dengan tubuh Fara, suamiku sampai tidak memperhatikan jika aku masih rutin meminum pil pencegah kehamilan, dan yang semakin membuatku ingin tertawa adalah ingatannya yang begitu lemah tentang masa menstruasiku. Tapi biarlah dia berfikir begitu, ini hukuman karena sudah menginzinkan tubuhku dinikmati lelaki lain, pikirku.
“Makasih Bu… Pak Alan makasih ya…” ucap Pak Wawan cengengesan.
“Iya Pak… makasih juga sudah mengajari kami…” balasku.
Setelah persetubuhan panas itu, kami semua segera berbenah. Fara langsung tertidur karena kecapean. Pak Wawan juga bersiap untuk pulang dengan hati riang. Hanya suamiku yang tampaknya masih saja berat kepalanya karena memikirkan apa yang terjadi barusan, hihihi… rasain. Ya… setidaknya sampai saat ini tubuh putriku masih milik ayahnya seorang.
* * *
Extra story: Fara dan 9urunya -End


