Kakek Tua
Cerita Dewasa · 18+
Cerita Sex Kakek Tua – Cerita original, bukan hasil salin-tempel atau adaptasi platform mana pun. Belum pernah dipublikasikan. Plot dan ending-nya liar, tak mudah ditebak, dan bikin nagih.”
Hujan kembali deras malam itu, seperti hampir setiap malam sejak Eva menikah dengan Ustadz Kholil setengah tahun lalu. Rumah besar bergaya kolonial di pinggir kampung itu sunyi sekali setelah jam sepuluh malam. Lampu kristal di ruang tamu redup, hanya menyisakan cahaya kuning samar dari lampu tidur di kamar utama.
Ustadz Kholil sudah tertidur lelap di kamarnya, atau lebih tepatnya, terbaring tak sadar setelah minum obat tidur yang dokter resepkan untuk “kesehatan jantungnya”. Usia 70 tahun memang tak bisa dibohongi; tenaga lelaki itu sudah lama habis, bahkan untuk hal-hal yang seharusnya menjadi hak istri mudanya.
Eva atau yang biasa orang panggil Ustadzah Eva, duduk di teras belakang, gamis panjang berwarna hitam yang ia pakai malam itu terasa terlalu panas di kulitnya yang lembab.

Rambut panjangnya yang biasa ia ikat rapi saat tampil di panggung dangdut dulu, kini terurai bebas, sedikit basah karena gerimis yang menyusup dari atap. Ia menatap ponselnya, jari mengetik pesan singkat yang sudah jadi rutinitas.
“Listrik mati lagi. Gentong air bocor. Bisa tolong?”
Tak sampai dua menit, balasan datang:
“Sudah di jalan. Bawa senter.”
Eva tersenyum kecil, meletakkan ponsel di meja kayu jati. Ia bangun, berjalan pelan ke dapur belakang, memastikan pintu samping terkunci dari dalam tapi tak terlalu rapat—cukup untuk didorong pelan tanpa suara.
Tak lama kemudian, pintu itu berderit. Pak Bahar masuk, tubuhnya yang masih tegap meski usia 55 tahun basah kuyup oleh hujan. Jaket kulit lusuh yang ia pakai sejak masa preman dulu meneteskan air di lantai keramik.
Rambutnya yang mulai beruban di pelipis basah menempel di dahi, tapi matanya—mata yang pernah menakutkan preman kampung lain—kini penuh api yang berbeda saat menatap Eva.
“Bu Ustadzah,” sapanya pelan, suara seraknya hampir tertutup gemuruh hujan. “Ustadz Kholil…gimana?”
“Sudah tidur. Obatnya kuat malam ini,” jawab Eva singkat, lalu melangkah mendekat. Tangannya langsung menyentuh dada Pak Bahar, merasakan kaos basah yang menempel ketat di otot-otot yang masih keras, bukti bahwa lelaki ini tak pernah benar-benar berhenti berlatih meski sudah insyaf dan tobat.
Pak Bahar tak bicara lagi. Tangannya yang besar dan kasar langsung meraih pinggang Eva, menariknya rapat sampai tubuh mereka menempel.
Bau hujan bercampur aroma sabun colek murah dari tubuh Pak Bahar, kontras dengan parfum mahal yang Eva semprotkan tadi sore. Bibir mereka bertemu ganas, tanpa basa-basi. Lidah Pak Bahar menyusup masuk, mengeksplorasi mulut Eva seperti lelaki yang sudah lama menahan lapar.
Eva mengerang pelan di antara ciuman, tangannya merayap ke bawah, membuka resleting jaket lalu kaos Pak Bahar. Kulit dada lelaki itu hangat, berbulu halus, dan masih berotot meski usia tak muda lagi. “Pak Bahar… cepat,” bisiknya, suaranya serak penuh kebutuhan.
Mereka tak perlu ke kamar. Dapur belakang cukup gelap, hanya diterangi cahaya samar dari luar yang menembus jendela. Pak Bahar mengangkat Eva dengan mudah, meletakkannya di atas meja marmer dingin yang biasa dipakai memotong daging. Gamis Eva tersingkap cepat, kain itu naik sampai pinggang. Seperti biasa, ia tak mengenakan apa-apa di bawahnya—sudah jadi kebiasaan sejak mengetahui suaminya tak akan pernah “bangun” lagi di malam hari.
Pak Bahar berlutut, wajahnya tenggelam di antara paha Eva. Lidahnya langsung bekerja, menjilat dan menyedot dengan gerakan yang kasar tapi penuh pengalaman. Eva menggigit bibirnya keras, tangannya mencengkeram rambut lelaki itu, menariknya lebih dalam. “Ah… Pak… lebih dalam lagi…” desahnya, suaranya tertahan agar tak terdengar ke kamar depan.
Tak lama, Pak Bahar berdiri. Celananya sudah turun, memperlihatkan bukti bahwa usia 55 tahun tak membuatnya loyo seperti suami Eva. Ia besar, keras, dan berdenyut penuh tenaga. Eva menatapnya dengan mata lapar, lalu meraih dan menggenggamnya, mengusap pelan sambil menatap mata Pak Bahar.
“Masukin sekarang, Pak. Aku sudah nggak tahan,” katanya, kakinya membuka lebar di atas meja.
Pak Bahar tak menunggu lagi. Ia memasuki Eva dengan satu dorongan kuat, membuat meja marmer bergoyang pelan. Eva mendesah panjang, kepalanya terdongak, rambutnya menjuntai ke belakang. Gerakan Pak Bahar cepat dan dalam, setiap dorongan membuat tubuh Eva berguncang. Tangannya meremas payudara Eva melalui gamis, jarinya mencubit puting yang sudah mengeras sampai Eva menggelinjang.
“Lebih keras, Pak… aku mau lebih keras…” bisik Eva, kakinya melingkar di pinggang lelaki itu, menariknya lebih dalam setiap kali ia mendorong.
Pak Bahar menurut. Ia mempercepat ritme, tangannya mencengkeram pinggul Eva, menariknya rapat sampai tak ada jarak lagi. Suara hujan di luar menutupi derit meja dan desahan mereka yang semakin tak terkendali. Eva mencakar punggung Pak Bahar melalui kaos basahnya, meninggalkan bekas merah yang akan ia sembunyikan besok pagi.
Saat klimaks mendekat, Eva menarik wajah Pak Bahar mendekat, menciumnya ganas sambil menggigit bibir bawah lelaki itu. “Di dalam, Pak… keluarin di dalam aku…” pintanya, suaranya parau.
Pak Bahar menggeram pelan, dorongannya semakin kuat beberapa kali lagi, lalu melepaskan segalanya di dalam Eva dengan desahan panjang yang tertahan. Tubuh mereka bergetar bersama, napas tersengal, keringat bercampur hujan yang menetes dari tubuh Pak Bahar.
Mereka terdiam beberapa saat, masih saling menempel. Pak Bahar mundur pelan, membantu Eva turun dari meja. Gamisnya ia rapikan kembali, meski kusut dan sedikit basah. Eva menyentuh pipi lelaki itu, tersenyum tipis.
“Besok malam hujan lagi katanya,” katanya pelan.
Pak Bahar mengangguk, mencium kening Eva sekali sebelum berbalik pergi melalui pintu belakang, meninggalkan aroma hujan, keringat, dan rahasia yang semakin dalam.
Eva kembali ke kamarnya, berbaring di samping Ustadz Kholil yang masih terlelap tak sadar. Ia menatap langit-langit gelap, tangannya menyentuh perutnya sendiri, merasakan hangat yang masih tersisa.
Dan ia tahu, besok malam, ketika hujan kembali turun, pintu belakang akan berderit lagi. Mungkin Pak Bahar atau yang lainnya….
^*^
Pagi di sungai Cikupa selalu ramai sebelum matahari benar-benar bangun. Ember warna-warni berjejer, kain dipukul ke batu, dan cerita mengalir lebih deras dari arus.
“Eh, Mak Uun,” kata Bu Rina sambil mengucek baju, “kemarin aku papasan sama Eva.”
Mak Uun tidak langsung menjawab. Ia menepuk-nepuk sarung basah, lalu mendengus pelan. “Lewat depan rumahku juga. Senyumnya itu lho.”
“Senyum gimana?” sela Bu Yayah, tangannya cekatan tapi telinganya lebih cekatan.
“Bukan senyum orang salam,” jawab Bu Uun. “Senyum orang ngerti dirinya dilihat.”
Bu Rina terkekeh kecil. “Padahal bajunya panjang semua. Kerudungnya rapih. Tapi entah kenapa ya… kok rasanya beda.”
Air sungai bergolak pelan, seperti ikut menyetujui.
Bu Yayah mencondongkan badan. “Kata suamiku, kalau disapa sama dia, suaranya lembut banget. Bukan lembut biasa. Lembut yang bikin orang mikir dua kali.”
“Lho, Ustadzah kok gitu?” Bu Rina pura-pura heran, padahal matanya berbinar.
“Makanya,” sahut Bu Uun. “Dulu katanya penyanyi dangdut, ya? Pantesan. Bawaan panggung itu susah ilang.”
Bu Rina menepuk air. “Tapi sama Ustadz Kholil kelihatannya nurut. Duduknya sopan, ngomongnya pelan.”
“Di depan suami,” kata Bu Yayah cepat. “Kalau suaminya ada, semua orang juga bisa jadi malaikat.”
Mereka terdiam sebentar. Hanya suara kain diperas dan air menetes. Lalu Mak Uun bicara lagi, lebih pelan, seolah takut didengar batu sungai.
“Bukan iri, ya. Umur beda jauh begitu, orang-orang juga maklum. Ustadz Kholil kan orang berada.”
“Iya,” Bu Rina mengangguk. “Anak-anaknya juga sudah sukses. Mau nikah lagi juga urusan dia.”
“Tapi istrinya itu,” Bu Yayah mengangkat alis, “kok kayak senang dites pandangannya orang.”
Bu Rina tersenyum miring. “Mungkin kebiasaan lama. Kalau dulu nyanyi, kan memang hidup dari tatapan.”
Air sungai kembali berisik. Seekor ayam lewat di tepi, mencari sisa nasi.
“Yang penting jangan sampai bikin kampung panas,” kata Mak Uun sambil berdiri, mengangkat ember. “Kita ini hidup cari tenang, bukan cari cerita.”
Bu Yayah tertawa kecil. “Tenang itu mahal, Mak. Apalagi kalau ada yang jalannya halus tapi bekasnya terasa.”
Mereka beranjak pulang, cucian bersih, gosip setengah kering. Di Cikupa, cerita memang begitu. Tidak pernah selesai, hanya pindah tangan.
Di bawah pohon waru, tiga lelaki paruh baya duduk memandang air sungai yang membawa daun dan rahasia.
Bah Karta menarik napas panjang, lalu menghembuskannya seperti orang melepas beban hidup. “Jaman sekarang itu aneh, Bun.”
Bah Bubun mengangguk sambil mengetuk-ngetuk pipa rokoknya. “Aneh gimana, Bah?”
“Bukan nikah mudanya,” jawab Bah Karta. “Itu mah urusan dapur orang. Yang bikin orang kampung ribut itu… caranya.”
Pak Ending yang dari tadi diam akhirnya nimbrung. “Caranya apa, Bah?”
Bah Karta melirik kiri kanan, lalu mendekat sedikit. “Cara Eva itu lho. Halus. Terlalu halus buat ukuran orang pesantren.”
Bah Bubun terkekeh, suaranya serak. “Heh, kamu mah kebanyakan mikir, Bah. Orang Eva bajunya rapih, ngomongnya sopan.”
“Iya sopan,” sahut Bah Karta cepat, “tapi sopannya kayak ada nadanya. Kalau nyapa, ‘Mang Karta…’ itu panjang di akhirnya. Bikin orang nengok.”
Pak Ending menggaruk kepala. “Aku juga pernah disapa. Biasa aja sih.”
Bah Bubun melirik tajam. “Biasa buat kamu. Tapi coba tanya jantung kamu, Ending.”
Pak Ending terdiam. Lalu tersenyum kecut. “Ya… agak beda dikit lah.”
Bah Karta menepuk lutut. “Nah, kan. Itu yang aku maksud. Bukan salah, tapi bikin orang salah mikir.”
Bah Bubun menghela napas. “Katanya dulu dia penyanyi dangdut?”
“Cerita warung kopi begitu,” jawab Bah Karta. “Entah benar entah tidak. Tapi kalau benar, ya wajar. Orang panggung itu biasa hidup dari perhatian.”
Pak Ending menatap sungai. “Kasihan juga Ustadz Kholil. Umurnya segitu, mungkin cuma pengen ada yang nemenin.”
“Iya,” Bah Bubun mengangguk. “Ustadz Kholil mah alim. Orangnya lurus.”
“Justru itu,” Bah Karta mengecilkan suara. “Kalau istrinya main halus di belakang, orang-orang kampung yang jadi panas. Bukan dia.”
Pak Ending mengangguk pelan. “Di kampung itu, yang berbahaya bukan yang terang-terangan. Tapi yang kelihatannya baik.”
Bah Bubun tertawa pendek. “Kamu ngomong kayak kiai aja.”
“Bukan,” jawab Pak Ending. “Aku ngomong kayak orang kampung yang nggak mau ribut.”
Angin sungai bertiup, membawa bau tanah basah.
Bah Karta berdiri, menepuk celana. “Sudahlah. Kita cuma bisa jaga mata, jaga pikiran. Orang lain mah biar urusannya sama Gusti.”
Bah Bubun ikut berdiri. “Betul. Tapi cerita tetap jalan.”
Pak Ending tersenyum tipis. “Namanya juga Cikupa. Air sungainya aja nggak pernah berhenti ngomong.”
Mereka pergi satu per satu, meninggalkan bangku bambu dan sungai yang terus mengalir, membawa gosip ke hilir, perlahan tapi pasti.
Lain di sung, lain di bawah pohon waru, lain pula obrolan di samping warung, walau themanya tak jauh-jauh amat.
Di samping warung Bu Wati, Rini dan Siti duduk saling berhadapan. Plastik es teh berembun, tapi mulut mereka kering karena terlalu sibuk bicara.
“Nin, ngomong-ngomong soal Eva,” kata Rini sambil mengaduk sedotan, “kamu sadar nggak, sejak dia ada di kampung, dua orang itu makin sering kelihatan mondar-mandir?”
Nina langsung mengangkat alis. “Yang kamu maksud… Pak Jaya sama Mang Udin?”
Rini nyengir. “Lah iya. Emang siapa lagi?”
Nina tertawa kecil, menutup mulut. “Dari dulu juga mereka bahan omongan. Bedanya sekarang kayak dapat panggung baru.”
Rini melirik ke arah jalan. “Pak Jaya itu kalau lewat rumah Ustadz Kholil, jalannya pelan banget. Padahal biasanya ngebut kayak dikejar setan.”
“Kalau Mang Udin,” sambung Nina, “tiap sore ada aja urusannya ke warung ini. Beli rokok sebatang, beli gula seperempat. Padahal di rumahnya lengkap.”
Rini menyandarkan badan. “Katanya sih cuma pengen ngobrol.”
Nina mendengus. “Ngobrol kok matanya keluyuran.”
Mereka terdiam sejenak ketika Bu Wati lewat membawa piring gorengan. Setelah Bu Wati menjauh, Rini kembali berbisik namun obrolannya langsung melenceng jauh.
“Eh, Rin, kamu denger nggak? katanya terong Pak Darsa itu gede dan panjang kaya blak mamba, bisa bikin klepek-klepek wanita sampe lupa jalan ke sawah!” kata Nina sambil mengedipkan mata, suaranya dibuat pelan tapi penuh nada nakal.
Rini menahan tawa sambil melirik ke sekitar, takut ada yang denger. “Iya sih! Tapi Bah Mardi beda lagi. Katanya dia tuh polos di luar, tapi dalemnya galak, bisa ngegas sampe pagi tanpa capek.”
Nina terkikik sampai hampir jatuh dari bangku. “Aduh, jangan sampe kita ketahuan gosipin mereka, nanti disulap jadi katak! Tapi serius, Rin, kalau boleh milih, mending Pak Darsa, setidaknya dia nggak bikin kita takut kalau sampai hamil, secara dia duda kaya raya bisa kasih biaya, hahahaha!”
“Nin, Pak Darsa kan udah lama sendiri, kamu bisa bayangin gak, gimana kalau dia begituan, hihihi….” Rini kemabli terkikik.
“Pastinya banjir bandang dong, hahahaha…” timpal Nina, tak kuasa menahan tawa.
“Tapi Rin, aku pernah gak sengaja liat punya Pak Darsa. Beliau lagi mandi berdiri di pancuran belakang rumahnya. Ya Tuhan, terongnya panjang dan gede banget. Aku langsung sembunyi di balik pohon, jantung berdegup kencang, tapi penasaran nggak bisa berhenti ngintip,” cerita Nina dengan suara bergetar campur malu, pipinya memerah seperti buah delima matang.
Rini mencondongkan badan, tangannya memegang lengan Nina erat-erat.
“Aku sih waktu itu lagi bawa teh buat suamiku yang lagi dipijit sama Bah Mardi. Beliau cuma pake kolor, jongkok sambil urut punggung suamiku. Ya Tuhan kolornya tersingkap. Wah, ternyata dalemnya emang galak bener! kayak siap ngegas kapan aja. Aku hampir aja numpahin tehnya saking klepek-klepek diajak main mata sama dia.”
Nina tertawa pelan, tapi buru-buru menutup mulutnya saat mendengar suara langkah kaki dari kejauhan. “Hihihi, untung suamimu nggak curiga istrinya main mata.”
“Aman, suamiku kan ketiduran karena keenakan dipija Bah Mardit, hehehe.”
“Tapi Rin. Kita mesti jujur, Pak Darsa itu memang beda. Duda kharismatik, kaya raya, udah mateng banget. Kalau dia ngajak selingkuh kamu mau gak?” Nina kembali bicara serius.
Rini mengipas wajahnya lebih kencang. “Aduh, jangan bikin godaan deh! Aku aman kok, masih puas sama suamiku, meski kadang dia sakit pinggang. Tapi kalau dipaksa milih, aku sih mending Bah Mardi. Udah ketahuan polos luarannya, tapi dalemnya masih bisa ngegas sampe pagi, hahaha. Kamu mau coba deketin Pak Darsa ya?”
“Ih, kamu ini!” Nina pura-pura cemberut, tapi ikut tertawa sampai bahunya bergoyang. “Suamiku masih aman juga sih, hanya kadang penasaran juga sama terong tua yang besar, panjang dan masih perkasa, hahaha.”
“Udah ah jangan ngegosip aja. Yuk, pulang, nanti Mak Sati lewat, cemburu lagi sama kita gara-gara ngegosipin Bah Mardi.”
“Oke, tapi besok cerita lagi ya, ada gosip baru soal Eva yang katanya obsessed banget sama Pak Darsa, gak tahu kenapa, padahal katanya punya suaminya juga gede dan panjang, hihihi.”
“Gede dan panjang mungkin saja, tapi masih bisa berdiri gak? Aku denger-denger sih Ustadz Kholil udah gak berdaya.”
“Hah, terus ngapain nikah lagi sama mantan penyanyi dangdut yang bahkan usianya di bawah anak bungsunya?”
“Iya sih, seharunya Ustadz Kholil itu menikah lagi sama yang sebaya, biar seimbang dan bisa ngurus dia yang sudah mulai sering masuk angin, hihihi.”
Mereka bangun sambil saling dorong-dorongan kecil, meninggalkan warung dengan tawa yang masih bergema pelan di antara deru angin sawah. Langit masih terang, seperti rahasia Kampung Cikupa yang semakin terang benderang.
^*^
Di Cikupa, gosip tidak pernah datang dengan pintu depan. Ia masuk lewat warung kopi, melompat ke teras mushola, lalu bermalam di grup WhatsApp RT. Beberapa bulan terakhir, satu nama jadi langganan bisik-bisik. Ustadz Kholil.
Usianya 72 tahun, langkahnya pelan, tapi hartanya berlari kencang. Juragan tanah, anak-anaknya sudah mapan, dan sejak lama menduda. Ketika kabar menikah lagi muncul, warga hanya mengangguk pendek. Bukan hal aneh. Rezeki orang, jodoh orang.
Yang membuat alis terangkat bukan pengantinnya yang muda, tapi siapa dia.
Namanya Eva. Kini dipanggil Eva. Tapi di warung kopi, cerita punya versi lain. Katanya dulu ia bukan ustadzah, bahkan jauh.
Ada yang bersumpah pernah melihatnya bernyanyi dangdut di kecamatan sebelah, dengan lampu panggung dan suara yang bisa melunakkan lutut. Benar atau tidak, tak ada yang bisa membuktikan. Tapi gosip tak butuh bukti, ia hanya perlu mulut.
Setelah menikah, Eva berubah total. Kerudung rapi, gamis panjang, langkah tenang. Duduk di samping Ustadz Kholil seperti bayangan yang patuh. Banyak yang memuji. “MasyaAllah, hidayah,” kata mereka.
Namun waktu punya kebiasaan mengelupas cat.
Pelan-pelan, kegelisahan tumbuh. Bukan karena pakaian terbuka. Justru sebaliknya. Semuanya tertutup, terlalu rapi, terlalu pas. Cara bicara Eva lembut, manja, seperti nada akhir lagu dangdut yang sengaja ditahan. Jika menyapa lelaki, senyumnya tidak berlama-lama, tapi cukup untuk diingat. Matanya tidak nakal, hanya tahu caranya singgah.
“Dia itu halus,” bisik seorang bapak di pos ronda.
“Halus tapi bikin gelisah,” jawab yang lain.
Di belakang Ustadz Kholil, cerita-cerita kecil bermunculan. Tak ada yang kasar, tak ada yang bisa dituduh. Hanya rasa tidak nyaman yang menggantung, seperti bau parfum manis di udara malam. Tidak terlihat, tapi semua tahu itu ada.
Dan di Cikupa, itu sudah cukup untuk membuat kehebohan hidup sendiri. Dan Eva, sejatinya hanya sebuah titik diantara seliwean gosip kampung dan titik-titik krusial lainnya yang masih menyimpan sejuta misteri dan butuh dipecahkan.
Bersambung…
Di tengah hamparan sawah yang luas, padi hijau bergoyang lembut ditiup angin sore. Langit mulai berwarna jingga, memantulkan cahaya hangat ke permukaan air irigasi yang mengalir pelan di antara petak-petak sawah. Dua lelaki sepuh duduk bersandar di pematang, mengaso setelah seharian mengawasi para pekerja memperbaiki saluran air yang sempat tersumbat lumpur.
Pak Darsa, pemilik sebagian besar sawah di hamparan itu, mengisap rokok kreteknya dalam-dalam. Asap putihnya mengepul, membentuk lingkaran samar sebelum lenyap di udara senja.
Di sebelahnya, Bah Mardi, tetangga sekaligus sahabat lamanya, duduk termangu menatap bentangan padi yang berkilau keemasan. Rokok di bibirnya sudah lama mati, tapi tetap dibiarkan menempel tanpa niat dibuang.
Beberapa menit mereka hanya diam. Heningnya sawah sore itu hanya dipecah oleh suara gemerisik padi dan kicau burung pipit yang pulang ke sarang. Ngocoks.com Hening yang bukan canggung, tapi nyaman, seperti dua orang yang sudah terlalu lama saling memahami tanpa perlu banyak bicara.
Sampai akhirnya Bah Mardi berdehem pelan. “Pak…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.
“Hmm?” sahut Pak Darsa tanpa menoleh, matanya masih menatap langit yang perlahan memerah.
“Saya… masih sering kepikiran,” ucap Bah Madi ragu.
Pak Darsa menoleh sedikit, keningnya berkerut. “Kepikiran apa?”
Bah Mardi menarik napas panjang. “Ya itu… masih ada rasa pingin sama kenikmatan perempuan, tapi Mak Siti sekarang udah nggak mau lagi. Katanya kita ini udah tua, nggak pantas begitu-begituan.”
Pak Darsa terkekeh kecil, suara tawanya berat namun tak mengejek. “Lha, kita umur udah segini, masa masih mikirin urusan ranjang terus, Bah.”
Bah Mardi ikut tertawa hambar. “Namanya juga manusia, Pak. Birahi ini masih suka muncul. Tapi itu tadi, istri kalau dipaksa malah marah. Bilang saya nggak tahu diri, lah. Saya kan jadi bingung, harus gimana, Pak.”
Pak Darsa menghela napas pelan, menepuk bahu sahabatnya. “Sabar, Bah. Kadang kita memang harus ngalah sama waktu. Kalau istrimu udah nggak mau, ya diterima. Hidup ini memang ada masanya masing-masing. Saya udah lima tahun sendiri, sejak almarhumah meninggal. Nggak pernah lagi mikirin yang begituan.”
Bah Mardi menunduk. Langit di atas sawah kini jingga kemerahan, angin sore membawa aroma tanah basah. “Hidup ini aneh ya, Pak,” ujarnya pelan. “Udah tua, bukannya makin tenang, malah makin banyak yang dipikirin.”
Pak Darsa tersenyum tipis. “Begitulah, Bah. Hidup nggak pernah kehabisan cara buat nguji kita.” Ia menatap sahabatnya, lalu dengan nada bercanda menambahkan, “Ya kalau gitu, coba aja rayu Neng Fitri.”
“Hah?” Bah Mardi langsung menoleh, kaget bukan main.
Pak Darsa tertawa lebar. “Lho, siapa tahu cocok. Kan dia sering main ke rumahmu. Lagian suaminya jarang pulang, kadang cuma sebulan sekali kan?”
“Edan kamu, Pak!” seru Bah Mardi, separuh malu separuh marah. “Fitri itu istri anak saya!”
Pak Darsa masih tertawa geli. “Hehehe, becanda, Bah. Tapi ya, jangan sampai beneran kejadian. Dosa besar itu.”
Bah Mardi menggeleng kuat-kuat, wajahnya merah. “Kalau beneran sampai ada yang begitu, artinya dunia ini memang udah rusak, Pak.”
Pak Darsa menatap sahabatnya sejenak, masih tersenyum samar. Ia tak benar-benar bercanda, gosip di kampung Cikupa memang sedang ramai. Saat ini sedang marak gosip perselingkuhan antar tetangga malah masih punya ikatan saudara.
Dan dari warung kopi beberapa hari lalu, telinganya sempat menangkap kabar, kalau Bah Mardi justru pelaku utamanya dalam semua perselingkuhan itu, termasuk dengan Eva yang sedang trending.
Obrolan siang itu pun berakhir menggantung. Tak ada kesimpulan, tak ada nasihat yang benar-benar menenangkan. Hanya dua lelaki tua yang tiba-tiba merasa lebih muda dari biasanya. Mereka kemudian beralih membicarakan harga gabah, buruh panen, dan irigasi yang mulai bocor lagi. Sampai akhirnya berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.
Tapi di hati kecil Pak Darsa, masih menyimpan rasa yang janggal.
Tadi, ketika ia menyebut nama Neng Fitri, matanya sempat menangkap perubahan di wajah Bah Mardi, sekilas, tapi jelas. Ada sesuatu di sana, entah malu, entah terkejut, atau justru sesuatu yang lain.
“Jangan-jangan Bah Mardi beneran kepikiran sama menantunya,” gumam Pak Darsa dalam hati.
Senja hampir turun ketika Pak Darsa tiba di rumah besarnya. Halamannya luas, dikelilingi pohon mangga tua dan lumbung besar tempat menyimpan hasil panen. Ia menaruh topi caping dan cangkul yang tadi cuma ia bawa untuk gaya, sebab pekerjanya yang mengurus semua urusan kebun dan sawah.
Lalu mencuci kaki di pancuran belakang, kemudian duduk di kursi bambu di teras, dan menyalakan rokok. Asapnya melingkar-lingkar di udara yang mulai lembap. Di depan sana, kebun-kebun yang menjadi sumber rezeki banyak orang mulai gelap perlahan.
Pak Darsa mengembuskan asap terakhir, menatap jauh ke cakrawala. “Hidup ini lucu,” gumamnya pelan. “Semakin banyak yang kita punya, semakin sedikit yang bisa benar-benar kita nikmati.”
Pak Darsa, berusia 65 tahun, pensiun PNS yang kini merambah dunia bisnis bidang pertanian. Dengan rambut sebagian sudah memutih, tubuh tegap, dan sorot mata tajam, Pak Darsa adalah sosok yang paling disegani dan dihormati oleh semua warga Cikupa.
Walau telah lama menduda, kesetiaan pada mendiang istrinya tak tergoyahkan. Senantiasa menolak semua upaya banyak wanita yang mendekat. Dia merasa tak pernah kesepian karena hari-harinya diisi dengan olahraga, mengurus kebun, sawah, mengelola usaha, serta bersilaturahmi dengan sanak saudara baik yang dekat maupun jauh. Bahkan masih rajin mengunjungi anak dan cucunya yang tinggal di tempat lain.
Pak Darsa juga dikenal dermawan, tulus, tutur katanya lembut dan bijaksana, tak heran jika membuat banyak orang meminta nasihat darinya. Namun di balik ketenangannya, ia menyimpan banyak rahasia besar yang tak pernah diceritakan pada siapapun.
Sementara Bah Mardi setahun lebih muda dari Pak Darsa dan memang lebih terbuka, lebih gaul dan lebih mesum dalam kesehariannya.
^*^
Ketika Pak Darsa melangkah pulang dan menutup hari dengan rokok serta renungan, Bah Mardi justru membelokkan langkahnya.
Ia tidak langsung menuju rumah. Kakinya membawa tubuhnya ke arah kebun singkong di ujung kampung, tempat Mak Uun biasa memetik daun menjelang magrib. Matahari sudah rendah, sinarnya menembus sela daun singkong yang lebar, menciptakan bayang-bayang seperti jaring.
Mak Uun berdiri membungkuk, keranjang anyam di pinggangnya sudah setengah penuh. Kerudungnya sedikit longgar karena keringat, tapi gerakannya cekatan, terlatih.
“Assalamu’alaikum, Mak Uun,” suara Bah Mardi muncul dari balik batang singkong.
Mak Uun menoleh, agak terkejut. “Wa’alaikum salam. Eh, Bah Mardi. Kok sore-sore ke sini?”
Bah Mardi tersenyum, senyum orang yang seolah tidak punya maksud apa-apa. “Nengokin saja. Tadi dari sawah. Kepikiran cucu. Anak-anak sehat semua, Mak?”
Mak Uun kembali memetik daun. “Alhamdulillah. Cucu juga sehat. Paling bikin capek ya yang kecil, lari terus.”
Bah Mardi tertawa kecil. “Namanya juga cucu. Bikin capek, tapi kalau nggak ada, malah kangen.”
Ia mendekat sedikit, menjaga jarak yang masih pantas, tapi cukup dekat untuk membuat Mak Uun sadar akan kehadirannya.
“Pak Ukar gimana sekarang?” tanya Bah Mardi, nadanya berubah lebih lembut. “Masih sering pusing?”
Mak Uun menghela napas. “Masih. Tangan kanannya suka lemas. Kalau jalan juga nggak bisa jauh. Saya ya gini, Bah. Kebun, dapur, semua sendiri.”
Bah Mardi mengangguk-angguk, ekspresinya penuh simpati. “Kasihan, Mak. Istri setia memang berat bebannya.”
Mak Uun tersenyum tipis. “Sudah kewajiban.”
Bah Mardi melirik tangan Mak Uun yang memetik daun tanpa henti. “Mak Uun kuat, ya. Perempuan zaman sekarang jarang yang kuat begitu.”
Mak Uun tertawa kecil, agak kikuk. “Ah, Bah Mardi bisa saja.”
“Bener,” lanjut Bah Mardi. “Kalau perempuan kuat begitu, laki-laki jadi… ya kadang merasa kecil.”
Mak Uun berhenti memetik sebentar. “Maksudnya?”
Bah Mardi pura-pura berpikir. “Maksudnya, kadang laki-laki pengen berguna. Pengennya masih dibutuhin.”
Mak Uun menunduk, merapikan daun di keranjang. “Kalau sudah tua mah, yang penting saling ngertiin.”
“Iya,” sahut Bah Mardi cepat. “Tapi ngerti itu kan luas. Bukan cuma soal makan sama obat.”
Nada suaranya turun, hampir berbisik. Angin sore lewat, menggerakkan daun singkong, membuat suasana terasa lebih sempit.
Mak Uun berdehem. “Bah Mardi, ngomongnya kok jadi aneh.”
Bah Mardi langsung tertawa kecil, mengangkat kedua tangan. “Lho, jangan salah paham, Mak. Saya cuma kasihan sama orang-orang yang hidupnya sepi tapi nggak berani bilang.”
Mak Uun mengikat keranjang di pinggang, berdiri tegak. “Sepi itu urusan hati. Nggak semua perlu ditemani orang.”
Bah Mardi mengangguk, tapi matanya tidak sepenuhnya mundur. “Betul. Tapi kadang, ditemani ngobrol saja juga sudah cukup menghangatkan.”
Mak Uun menatapnya lama, lalu berkata tegas tapi pelan, “Bah Mardi, kita ini sama-sama sudah tua. Jangan bikin orang salah sangka.”
Bah Mardi tersenyum, kali ini lebih tipis. “Mak Uun benar. Saya kebablasan. Mungkin karena lihat Mak Uun masih segar, jadi lupa umur sendiri.”
Mak Uun menghela napas, lalu memalingkan wajah. “Saya pulang dulu. Magrib sebentar lagi.”
“Ati-ati, Mak,” kata Bah Mardi. “Salam buat Pak Ukar.”
Mak Uun melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Bah Mardi berdiri sendiri di kebun singkong, senyum di wajahnya perlahan pudar. Ia menghela napas panjang, lalu meludah kecil ke tanah.
“Dunia ini memang kejam,” gumamnya. “Yang dilarang justru sering kelihatan paling dekat.”
Senja turun perlahan, menutup kebun, menutup obrolan yang tidak selesai. Tapi seperti gosip lain di Cikupa, yang tidak selesai justru biasanya baru akan mulai.
Bersambung…
Pagi itu, Pak Darsa sedang menyesap kopi hangatnya di teras depan. Uap tipis mengepul dari cangkir seng kesayangannya, sementara matanya mengawasi kebun mangganya yang rimbun dan terawat. Daun-daun bergoyang pelan ditiup angin pagi, seperti sedang berbisik tentang rahasia kampung yang tak pernah benar-benar sepi.
Langkah kaki yang sudah dikenalnya sejak puluhan tahun lalu terdengar mendekat.
Suara batuk kecil mengiringi kedatangan Bah Juni, tetangga jauhnya yang memang terbiasa mampir tanpa janji. Bah Juni, pensiunan satpam sebuah bank swasta yang dulu dikenal galak tapi rapi, kini rambutnya sudah memutih, namun tubuhnya masih tegap.
Ada sisa-sisa wibawa seragam satpam yang belum sepenuhnya tanggal dari caranya berjalan dan memandang sekitar. Ia duduk bersila di bangku bambu di samping Pak Darsa, wajahnya penuh rahasia yang seolah sudah tak sabar untuk dikeluarkan.
Pak Darsa melirik sekilas. Dalam hati, ada sesuatu yang mengganjal. Entah kenapa, akhir-akhir ini Bah Juni sering terdengar menyebut nama Pak Rosid dengan nada yang berbeda. Bukan sekadar cerita kampung biasa. Ada getar lain, seperti rasa iri yang disamarkan.
Pak Darsa melirik sekilas. Ia menangkap gelagat aneh dari Bah Juni pagi itu. Ada sorot mata yang terlalu bersemangat, seperti orang yang membawa kabar besar. Entah kenapa, di benaknya terlintas pikiran bahwa Bah Juni seolah menyimpan rasa iri pada Pak Rosid. Bukan iri yang diucapkan, tapi terasa di sela nada dan bahasa tubuhnya.
“Selamat pagi, Pak Darsa. Sudah lama tak ngopi bareng,” sapa Bah Juni, mengambil cangkir kopi yang disodorkan Pak Darsa.
“Pagi juga, Bah. Ada kabar apa pagi ini? Kok wajahnya berseri-seri begitu,” balas Pak Darsa, tersenyum tipis, tapi dalam hati ia sudah menduga akan ada berita hangat yang datang.
Bah Juni mendekatkan badannya, suaranya dibuat pelan, nyaris berbisik. “Ini Pak… saya kok punya firasat nggak enak ya sama Pak Rosid. Pemilik warung besar itu lho.”
Pak Darsa mengangkat alis, berusaha tetap tenang. “Pak Rosid? Ada apa dengan dia? Setahu saya dia orang baik, rajin sedekah juga.”
“Betul Pak, orangnya baik memang. Tapi… kok akhir-akhir ini saya sering lihat dia terlalu akrab sama Eva,” kata Bah Juni, matanya melirik ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang mendengar. “Padahal kan… istrinya Pak Rosid juga masih seger, lagian Eva kan punya suami.”
Pak Darsa menyeruput kopinya, ekspresinya tetap tenang, namun otaknya mulai bekerja cepat. Ia tidak langsung percaya, tapi juga tidak menolak mentah-mentah. Di kampung kecil seperti Cikupa, cerita seperti ini jarang muncul tanpa jejak.
Kecurigaan Bah Juni terhadap Pak Rosid menambah daftar panjang benang kusut di Kampung Cikupa. Pak Darsa teringat pada Bah Mardi, Pak Bakar, dan Bah Danu, nama-nama yang belakangan ini sering muncul dalam percakapan setengah berbisik. Kini, nama Pak Rosid ikut masuk ke pusaran itu.
“Memang kalau urusan hati, bisa bikin mata gelap ya,” tambahnya, lebih sebagai komentar untuk dirinya sendiri daripada pertanyaan pada Bah Juni.
Bah Juni mengangguk-angguk setuju. “Iya, Pak. Makanya saya jadi curiga. Apa jangan-jangan… mereka ada main mata di belakang layar ya? Makanya saya sampaikan ke Bapak, Bapak kan masih saudaranya dengan Pak, suapaya dinasihatin.”
Pak Darsa tersenyum ramah. Senyum orang yang tahu, mendengar adalah bagian dari menjaga kampung, tapi menelan mentah-mentah cerita adalah hal yang berbeda.
“Terima kasih infonya, Bah. Saya akan perhatikan. Memang kita harus saling mengingatkan kalau ada yang tidak beres di kampung.”
Kopi di cangkirnya tinggal setengah. Pak Darsa menatap kebun mangganya lagi. Ia tahu, pagi itu bukan sekadar tentang kopi dan obrolan tetangga. Ada cerita panjang yang baru saja mulai ditarik benangnya, dan siapa pun yang salah menarik, bisa membuat semuanya kusut.
Di balik senyum itu, Pak Darsa tahu satu hal. Di Kampung Cikupa, bukan hanya rahasia yang beredar. Rasa iri pun bisa berjalan pelan, menyamar sebagai kepedulian.
Setelah Bah Juni pamit, Pak Darsa kembali duduk sendirian. Daftar orang yang patut dicurigai kini bertambah. Jika tadinya ia berencana menyelidiki tiga teman dekatnya kini bertambah lagi, Pak Rosid yang tak lain adalah sepupunya sendiri.
Sebenarnya tidak terlalu aneh, Rosid muda terkenal agak nakal. Namun setelah anaknya menikah tidak terdengar lagi, mungkin sadar karena sudah pnuya cucu atau perkakasanya sudah tidak maksimal berukuran cenderung kecil. Atau keuangannya seret karena dikendalikan oleh Bu Rosid, istrinya.
“Kalau bener ada main. Apa yang diincar Eva dari Rosid? Kurang apa Ustadz Kholil? Kurang perkasa? Si Rosid juga sama. Lagian kenapa Eva nikah sama Ustadz Kholil dari fsisiknya aja udah keliatan aki-aki’ gumannya dalam hati.
Pak Darsa baru saja berganti pakaian hendak pergi ke sawah, kemeja lengan panjangnya sudah rapi terselip di balik celana kain. Topi caping tergeletak di meja samping pintu, siap dikenakan. Namun, belum sempat ia melangkah keluar, tiba-tiba terdengar suara salam dari pintu depan.
“Assalamualaikum, Pak Darsa…”
Pak Darsa menoleh, senyum tipisnya mengembang melihat Mak Siti berdiri di ambang pintu, membawa piring yang ditutupi tudung saji kecil. Aroma gurih goreng singkong renyah langsung menyebar di udara.
“Waalaikumussalam, Mak Siti. Wah, bawa apa ini?” sambut Pak Darsa ramah, meskipun dalam hati ia sudah sedikit curiga. Biasanya, jika Mak Siti datang dengan membawa sesuatu, ada udang di balik batu, atau lebih tepatnya, ada permintaan pinjaman uang di balik makanan.
Mak Siti melangkah masuk, meletakkan piring berisi goreng singkong di meja. Wajahnya terlihat agak gelisah, senyumnya pun dipaksakan. “Ini Pak, sedikit oleh-oleh. Tadi saya goreng singkong, kebetulan renyah. Jadi saya bawakan untuk Bapak,” ucapnya, matanya menatap lantai, menghindari pandangan Pak Darsa.
Pak Darsa mempersilakan Mak Siti duduk. “Terima kasih banyak, Mak. Jadi merepotkan. Ada apa ini, kok tumben pagi-pagi sudah ke rumah saya?” tanyanya, langsung ke inti, tahu bahwa Mak Siti tidak akan datang hanya untuk mengantar goreng singkong.
Mak Siti menghela napas panjang. Wajahnya kini berubah murung, sorot matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Ia memainkan ujung jilbabnya, lalu dengan agak malu-malu dia mengutarakan maksud kedatangannya.
“Begini, Pak. Saya mau minta tolong sama Bapak. Tolong nasihati Bah Mardi, suami saya.”
Pak Darsa terdiam sesaat, menyeruput kopi sisa. Ia menduga masalah rumah tangga, tapi tidak menyangka akan secepat ini. “Nasihati bagaimana, Mak? Memangnya Bah Mardi kenapa?” tanyanya lembut, mempersiapkan diri mendengar keluh kesah.
Air mata Mak Siti mulai menggenang di pelupuk matanya. “Saya sudah lama, Pak, merasa Bah Mardi itu kurang peduli lagi sama saya. Sudah tidak seperti dulu. Malam-malam sering keluar, dengan alasan macam-macam. Tapi pulangnya… ah, sudahlah Pak. Pokoknya saya merasa dia sudah jauh berubah.”
“Saya ini cuma mau suami saya kembali peduli lagi sama saya, Pak. Bapak kan panutan di kampung ini, Bah Mardi juga pasti dengar nasihat Bapak.” Ia mengusap air mata yang kini mulai menetes di pipinya.
Pak Darsa mendengarkan dengan saksama.
“Saya mengerti, Mak. Sabar ya. Saya akan coba bicara dengan Bah Mardi. Tapi saya juga minta Mak Siti untuk lebih bersabar dan terus berdoa. Semoga hati Bah Mardi bisa kembali terang,” kata Pak Darsa menenangkan, meski dalam benaknya, ia tahu ini bukan masalah sederhana yang bisa diselesaikan hanya dengan nasihat.
Mak Siti mengangguk, merasa sedikit lega. “Terima kasih banyak, Pak Darsa. Saya percaya sama Bapak.”
Setelah Mak Siti pamit pulang, Pak Darsa kembali duduk, pandangannya kosong menatap piring goreng singkong di depannya. Kepalanya pusing. Ngocoks.com Tiba-tiba sebuah ingatan lama melintas di benaknya seperti hembusan angin sepoi dari masa lalu.
Ia teringat pesan mendiang istrinya, yang disampaikan dengan suara lembut tapi tegas saat ia masih sehat, sebelum sakitnya merenggutnya lima tahun lalu.
“Pak, jangan ikut campur urusan orang lain, apalagi masalah rumah tangga. Itu bisa jadi bumerang. Bisa menimbulkan salah paham yang tak terduga, dan akhirnya kita sendiri yang terluka,” kata istrinya waktu itu, sambil memegang tangannya erat, matanya penuh kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman hidup panjang.
Pak Darsa menghela napas panjang, tangannya meraih cangkir kopi yang sudah kosong, seolah mencari pegangan. Pesan itu terngiang jelas, seperti bisikan yang tak pernah pudar. Ia sadar, kecurigaannya terhadap Bah Mardi, gosip Pak Rosid, atau siapapun bisa saja membawanya ke jurang yang dalam jika ia terlalu mendalami.
Kampung Cikupa memang penuh rahasia, tapi apakah tugasnya untuk mengungkap semuanya?
Sebagai duda sepuh yang dihormati, ia tahu reputasinya bisa tercoreng jika salah langkah, terutama jika nasihatnya untuk Bah Mardi justru memicu konflik lebih besar, seperti yang dikhawatirkan istrinya.
“Benar juga kata almarhumah,” gumamnya pelan, matanya menatap ke kebun mangga yang hijau, mencoba menimbang antara rasa tanggung jawab dan kehati-hatian.
Akhirnya, Pak Darsa memutuskan untuk menarik diri sementara. Ia akan tetap mengawasi dari jauh, tapi tak akan campur tangan langsung. Mungkin, waktu yang akan mengungkap kebenaran, tanpa ia harus menjadi pusat badai.
Bersambung…
Langit senja semakin pekat, mewarnai sawah dengan nuansa ungu dan oranye. Bah Mardi berjalan pulang menyusuri pematang, langkahnya agak gontai.
Pikirannya masih dipenuhi percakapan dengan Pak Darsa. Rayuan Pak Darsa tentang Fitri, menantunya sendiri, terngiang-ngiang. Walaupun ia menyangkal keras, ada gejolak aneh di dadanya setiap kali nama Fitri disebut.
Dari kejauhan, sosok seorang wanita sedang berjongkok di tepi saluran irigasi. Rambutnya yang panjang terurai, punggungnya melengkung indah saat membilas beras di dalam baskom. Bah Mardi menyipitkan mata. ‘Ah, itu pasti Ratna, istrinya Badri.’
Feeling Bah Mardi benar, dia memang Ratna, yang suaminya sedang pergi merantau, kerja memabngun IKN di Kalimatan. Badri jarang pulang, sama seperti Herman, suami Fitri. Bahkan hingga berbulan-bulan.
Bibir Bah Mardi terusngging, dia pikir ini kesempatan emas.
Ia melangkah mendekat dengan santai, seolah tak sengaja berpapasan. “Lho, Neng Ratna? Kok sore-sore begini masih di sawah sendirian?” sapa Bah Mardi, nadanya dibuat ramah dan sedikit genit.
Ratna sedikit terkejut, mendongak. Wajahnya yang masih muda dan ayu terlihat memerah tipis.
“Eh, Bah Mardi. Iya ini, berasnya kotor kena pasir sedikit, jadi saya cuci ulang di sini biar bersih,” jawabnya lembut sambil menunduk lagi, melanjutkan cuciannya.
Bah Mardi berdiri di dekatnya, pura-pura melihat air irigasi yang mengalir. “Memang rajin sekali ya, Neng Ratna ini. Pantas saja Badri sangat sayang dan bangga sama istrinya. Pasti masakannya juga enak,” pujinya, sengaja mengaitkan dengan Badri yang sedang tidak ada.
“Neng sering sendirian begini, apa tidak takut? Banyak tikus sawah berkeliaran, loh. Atau… jangan-jangan takut ada yang nyulik?” Kali ini, nada suara Bah Mardi lebih dalam, diselingi kekehan kecil yang disengaja.
Ratna mengangkat wajahnya lagi, tatapan matanya bertemu pandang dengan Bah Mardi. Ada sedikit kegugupan di sana, tapi juga sebersit rasa penasaran. “Ah, Abah ini ada-ada aja. Saya sudah biasa kok,” katanya, mencoba menutupi kegugupannya dengan senyum tipis.
Bah Mardi semakin mendekat, satu tangannya bersandar di pohon pisang yang tumbuh di tepi pematang.
“Biasa apanya, Neng? Abah yakin, kalau ada Abah di sini, hati Neng Ratna pasti lebih tenang?” ucapnya, memamerkan senyum termanis yang ia punya. Mata tuanya tak lepas dari wajah Ratna yang kini semakin memerah.
Ratna buru-buru berdiri, jantungnya berdebar kencang. Ia mencoba mencari alasan untuk pergi. “Sa-saya sudah selesai, Bah. Maaf mau cepat-cepat pulang, takut keburu gelap.”
Bah Mardi tidak mudah menyerah. Ia malah melangkah sedikit lebih maju, menghalangi jalan Ratna.
“Buru-buru kenapa, Neng? Justru kalau gelap begini, obrolan kita akan semakin hangat, tidak ada yang mendengar,” bisiknya, suaranya kini terdengar begitu dekat di telinga Ratna, membuat bulu kuduk wanita alim itu berdiri. Tangannya bergerak pelan, seolah ingin meraih sesuatu.
Ratna terkesiap, mundur selangkah. Ia menatap Bah Mardi, matanya mencari tanda bahaya. Namun, yang ia lihat hanya sorot mata tua yang penuh ‘rayuan’, ditambah senyum mengembang yang membuatnya semakin cemas.
“Bah… Abah ini kenapa?” ucap Ratna, suaranya tercekat. Ia mencoba melangkah ke samping, namun Bah Mardi dengan sigap kembali menghalangi.
“Kenapa? Abah kan cuma pengen ngobrol sama Neng Ratna. Kan jarang-jarang kita bisa berduaan begini,” ujar Bah Mardi, suaranya melunak, namun tangannya kini perlahan terangkat. Jari-jari keriput itu hampir menyentuh lengan Ratna, namun Ratna buru-buru menepis.
“Maaf, Bah. Saya benar-benar harus pulang. Anak saya sendirian di rumah…” Ratna berbohong. Ia ingat betul anaknya, Ari, sedang bermain di rumah neneknya di ujung kampung.
Bah Mardi terkekeh pelan. “Oh, anak Neng Ratna? Bukannya lagi main di rumah neneknya? Abah tadi lewat sana, lihat kok.”
Mata Ratna membulat. Ia tak menyangka Bah Mardi tahu. Rasa malu dan takut bercampur aduk. Ia mencoba berpikir cepat. “T-tapi… saya harus masak, Bah. Suami saya nanti pulang…”
“Suami Neng kan di Kalimantan. Pulangnya juga masih lama, kan?” potong Bah Mardi dengan cepat, matanya berbinar licik.
“Sudahlah, Neng. Tidak usah buru-buru. Kalau Abah temani jalan pulang, bagaimana? Sekalian Abah mampir sebentar ke rumah Neng, mau minta air minum, haus sekali Abah habis dari sawah.”
Ratna berdiri mematung. Pikirannya kalut. Ia ingin menolak, namun takut Bah Mardi akan berbuat lebih nekat di tempat sepi seperti ini. Lagipula, ia tidak punya alasan kuat lagi untuk menolak. Dengan terpaksa, ia mengangguk pelan. “Ba-baik, Bah.”
Bah Mardi tersenyum lebar penuh kemenangan. Ia menyingkir dari jalan Ratna, lalu berjalan di sampingnya dengan langkah yang kini terasa lebih ringan.
Sepanjang jalan pulang, Bah Mardi tak henti-hentinya melontarkan pujian dan candaan genit, membuat Ratna semakin tidak nyaman. Sesekali ia mencoba mencuri pandang, mengamati lekuk tubuh Ratna yang berjalan di sampingnya.
Ketika sampai di depan rumah Ratna, Bah Mardi langsung masuk tanpa diminta. Rumah itu terasa sepi, hanya ada suara jangkrik dari pekarangan. Ratna melangkah masuk dengan perasaan campur aduk. “Bah. Saya ambilkan minum dulu.”
“Tidak perlu buru-buru, Neng. Pelan-pelan saja,” kata Bah Mardi, matanya menelusuri setiap sudut ruangan.
Ia duduk di kursi tamu yang terbuat dari bambu, merasa nyaman seolah rumah itu miliknya sendiri. Pandangannya terpaku pada bingkai foto Badri dan Ratna yang terpajang di dinding.
“Sayang sekali Badri tidak ada, ya, Neng? Neng Ratna pasti sering kesepian di rumah sebesar ini sendirian,” ujarnya, nadanya kini lebih mendayu.
Ratna datang dengan segelas air putih. Tangannya sedikit gemetar saat menyodorkannya. “Iya, Bah. Lumayan sepi,” jawabnya lirih, ia enggan menatap mata Bah Mardi.
“Nah, kalau begitu… mungkin Abah bisa menemani Neng Ratna sesekali, biar tidak terlalu sepi,” ucap Bah Mardi, menerima gelas itu. Matanya tak lepas dari Ratna, seolah sedang menelanjangi setiap ketakutan dan kegelisahan wanita muda itu.
Ratna meneguk ludah. Matanya tanpa sengaja menangkap pandangan ke arah selangknagan Bah Mardi. Sebuah tonjolan yang jelas, mengintip dari balik kain celana Bah Mardi yang sudah lusuh.
Otaknya seketika berkelebat pada semua gosip miring yang beredar di antara ibu-ibu kampung. Bah Mardi, si tua-tua keladi, yang katanya ‘jago’ di ranjang, bahkan melebihi pria-pria muda. Desas-desus tentang bagaimana ia bisa “ngegas sampai pagi” tanpa lelah, dan bagaimana beberapa wanita yang pernah dekat dengannya berakhir klepek-klepek.
Perasaan Ratna campur aduk. Ketakutan, rasa tidak nyaman, namun juga… sebersit rasa penasaran yang memalukan. Sudah berbulan-bulan suaminya merantau. Rumah terasa begitu kosong dan sunyi, dan kebutuhan seorang wanita muda sepertinya terpendam begitu dalam. Tonjolan di celana Bah Mardi itu seolah menjadi simbol dari semua gosip yang selama ini ia dengar, menggerogoti pertahanannya.
“Jadi, Neng Ratna bagaimana? Mau Abah temani, biar tidak sepi?” suara Bah Mardi kembali memecah keheningan, nadanya kini lebih berani, seolah tahu apa yang sedang berkecamuk di benak Ratna. Matanya menatap Ratna lekat, penuh arti, seakan menantang. Senyum liciknya semakin melebar.
Ratna memalingkan wajah, pipinya terasa terbakar. Ia berpegangan erat pada sisi meja, mencoba menenangkan detak jantungnya yang semakin menggila.
“A-Abah… jangan begitu,” katanya lirih, suaranya nyaris tak terdengar. Ia berusaha mencari kekuatan, mencari alasan untuk menolak, untuk mengusir pria tua itu. Namun, di antara ketakutan yang mencekam, ada bisikan lain dalam dirinya, bisikan dari naluri yang sudah lama terabaikan.
Bah Mardi, melihat reaksi Ratna, semakin yakin. Ia perlahan beranjak dari duduknya, mendekati Ratna yang masih berdiri kaku di samping meja.
“Kenapa, Neng? Abah kan cuma mau bantu Neng biar tidak kesepian. Abah tahu kok, bagaimana rasanya ditinggal suami lama-lama,” bisiknya, iai berdiri begitu dekat hingga Ratna bisa merasakan napas hangat Bah Mardi di rambutnya. Tangannya terulur, mencoba meraih lengan Ratna.
Ratna memejamkan mata. Pertarungan antara moralitas dan hasrat, antara rasa takut dan rasa penasaran, sedang berkecamuk hebat dalam dirinya.
“Mamaaaaa…” Tiba-tiba suara seorang anak berteriak dari kejauhan, dia baru kembali dari main di rumah neneknya.
Suara cempreng Ari itu memecah ketegangan seperti pecahan kaca. Bah Mardi kaget setengah mati. Matanya melotot, seringainya luntur seketika. Tanpa pikir panjang, ia bergegas membalikkan badan, melewati Ratna, lalu melesat keluar lewat pintu dapur, kabur secepat kilat.
Ratna membuka mata. Tubuhnya lunglai, bersandar pada meja. Ia menarik napas dalam-dalam, lega yang teramat sangat membanjiri relung hatinya. Air mata nyaris menetes. Ia berucap syukur, terlepas dari godaan buaya darat itu.
“Tapi…. sepertinya gede dan panjang juga anunya…,” pikir Ratna penasaran juga kagum.
Bersambung…
Suara Ustadz Asep yang lantang membacakan ayat-ayat Al-Quran bergema di mushola kecil itu, diikuti hembusan angin malam yang membawa aroma tanah basah dari sawah di sekitar.
Para bapak-bapak duduk bersila di atas karpet, wajah-wajah mereka tenang, mata tertuju pada ustadz yang sedang menjelaskan tentang kesabaran menghadapi godaan dunia. Bah Mardi duduk di baris belakang, tangannya memegang tasbih, tapi jari-jarinya tak bergerak. Matanya kosong, menatap pola karpet mushola tanpa benar-benar melihat.
Bayangan Ratna terus menghantui. Wajah ayu itu, pipi memerah saat ia mendekat, lekuk punggungnya saat berjongkok di tepi irigasi, dan… tonjolan celananya yang sempat ia pamerkan dengan sengaja.
Bah Mardi menelan ludah, merasa panas di dada. Ia ingat betul bagaimana Ratna memalingkan muka, tapi matanya sempat melirik ke selangkangannya. Sebuah tatapan yang penuh kegugupan, tapi juga seolah terpikat.
“Kenapa harus terganggu anaknya sih?” gumamnya dalam hati. Ia mencoba fokus pada pengajian. Tapi semakin ia usir, semakin jelas gambar Ratna di rumahnya tadi sore, saat tangannya hampir menyentuh lengan wanita itu.
Ustadz Asep tiba-tiba menoleh ke arahnya, seolah merasakan kegelisahan. “Bah Mardi, bagaimana? Ada yang ingin ditanyakan tentang godaan syaitan yang sering mengganggu hati?” tanya sang ustadz dengan suara lembut tapi tegas.
Bah Mardi tersentak, wajahnya memerah. Ia buru-buru menggeleng. “Tidak, Ustadz. Saya… cuma lagi mikirin urusan sawah,” bohongnya, suaranya pelan.
Para bapak di sekitar tersenyum simpati, tapi Bah Mardi merasa seperti tertangkap basah. Ia menunduk, memutar tasbih lebih cepat, tapi pikirannya kembali melayang. Ratna… suaminya jauh di Kalimantan, rumah sepi, dan ia hampir saja… Astaghfirullah.
Rasa bersalah bercampur dengan hasrat yang tak kunjung padam, membuat dada sesak. Malam itu, pengajian terasa begitu panjang baginya.
Bah Mardi pulang dari mushola dengan langkah gontai, malam sudah gelap pekat, hanya diterangi cahaya lampu di teras rumah-rumah tetangga. Suara azan Isya masih samar-samar bergema dari masjid jauh, tapi pikirannya tak kunjung tenang.
Bayangan Ratna terus menempel seperti bayang-bayang panjang di bawah bulan sabit, membuat dadanya sesak. Ngocoks.com Ia membuka pintu kayu rumah sederhana itu, aroma masakan sederhana, sayur lodeh dan ikan asin, menyambutnya, tapi tak mampu mengusir kegelisahan.
Mak Siti sudah menunggu di ruang tengah, berdandan lebih rapi dari biasanya. Rambutnya disanggul sederhana, dasternya diganti dengan yang lebih baru, warna merah muda yang jarang ia pakai. Ada sentuhan bedak tipis di wajahnya yang mulai keriput, dan senyumnya agak genit saat melihat suaminya masuk.
Malam Jumat ini, ia pikir, mungkin kesempatan untuk mendekatkan diri lagi. Sudah lama mereka tak berbagi ranjang dengan mesra, dan Mak Siti merasa kesepian di balik rutinitas harian. “Bah, sudah pulang? Aku sudah siapkan makan malam,” katanya lembut, suaranya dibuat manja, sambil mendekat dan menyentuh lengan suaminya pelan.
Bah Mardi mengangguk singkat, tapi matanya menghindar. Ia duduk di bangku kayu, tangannya memainkan ujung kain sarung. “Capek hari ini, Siti. Sawahnya lagi rewel, irigasinya macet lagi,” gumamnya, alasan lama yang sudah sering ia lontarkan. Padahal, badannya tak benar-benar lelah; yang lelah adalah hatinya, terbelah antara rasa bersalah dari pengajian tadi dan hasrat yang membara pada Ratna.
Mak Siti tersenyum kecut, menyembunyikan kekecewaan di balik gerakan menyendok nasi. Ia duduk di sebelah suaminya, mencoba menyentuh tangannya lagi. “Bah, udaah lama kita nggak… deket-deketan.” Nadanya genit, tapi ada nada memohon di sana.
Namun Bah Mardi hanya menggeleng pelan, bangkit dan berjalan ke kamar tanpa sepatah kata lagi. Di balik pintu, ia berbaring menatap langit-langit gelap, pikirannya kembali ke Ratna, wajah memerah, bulu kuduk berdiri.
Bah Mardi gelisah sendiri berguling-guling di atas kasur tipis, bayangan Ratna masih menghantui seperti kabut pagi yang tak mau hilang. Akhirnya, ia bangkit pelan, mengenakan sarung dan kaus lusuh, lalu berjalan ke ruang tengah di mana Mak Siti masih duduk sendirian.
“Mak, Abah keluar sebentar ya. Mau ke rumah Pak Bahar, dia minta dipijat. Pinggangnya lagi pegel katanya. Sekalian ngobrol soal rencana penanaman padi bibit unggul, program desa yang katanya besok ada rapat,” kata Bah Mardi, suaranya dibuat biasa saja, tapi matanya menghindar.
Mak Siti menoleh, alisnya berkerut. Ia tahu betul itu hanya dalih. Sudah berapa kali suaminya ke Pak Bahar di malam-malam seperti ini, pulangnya pagi buta dengan bau kretek dan alasan capek yang tak masuk akal.
Cemberutnya semakin dalam, bibirnya mengerucut, tapi ia tak bisa mencegah. “Hati-hati di jalan, Bah. Jangan lama-lama,” gumamnya pelan, suaranya penuh kekecewaan yang tertahan. Ia bangkit, lalu mematikan saklar dengan keras mematikan lampu, seolah ingin memadamkan amarahnya sendiri. Di hati, Mak Siti bertanya-tanya, apa yang sebenarnya disembunyikan suaminya malam demi malam.
Bah Mardi mengangguk singkat, lalu melangkah keluar, pintu bambu berderit pelan di belakangnya. Udara malam dingin menyapa kulitnya, tapi hatinya justru panas. Bukan ke rumah Pak Bahar ia menuju, tapi pikirannya melayang ke arah lain, ke rumah Ratna.
Malam semakin sunyi, hanya suara jangkrik dan angin yang menggoyangkan daun-daun sawah. Bah Mardi menyeka keringat dingin di dahinya, tangannya gemetar saat hendak keluar dari persembunyiannya dan melangkah mendekat rumah Ratna.
Namun, saat ia hampir melangkah keluar dari balik pohon, sebuah cahaya senter tiba-tiba membelah kegelapan dari arah jalan setapak. Bah Mardi tersentak, cepat-cepat menarik tubuhnya lebih dalam ke balik rimbunnya dedaunan. Dari balik celah daun mangga, ia melihat Pak Bahar, mertua Ratna, berjalan mendekat dengan langkah tegap, membawa senter kecil.
Bah Mardi menahan napas. “Sial! Kenapa Pak Bahar datang malam-malam begini?” pikirnya kesal. Ia terpaksa tetap bersembunyi, mengawasi Pak Bahar yang kini sudah berada tepat di depan rumah Ratna, mengetuk pintu. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan terlihat Ratna menyambutnya dengan senyum.
Bah Mardi melihat Pak Bahar masuk ke rumah Ratna. Pintu rumah tertutup kembali. Seketika, pikiran Bah Mardi mulai berputar liar. Ada kecurigaan aneh yang timbul di benaknya. Mengapa mertuanya datang malam-malam begini? Dan mengapa Ratna masih menyalakan semua lampu? Ini tidak biasa.
Dengan rasa penasaran yang membuncah dan kecurigaan yang semakin menguet, Bah Mardi memutuskan untuk tidak pergi. Dia justru semakin merapatkan diri ke balik pohon mangga, mencoba mengintip ke dalam rumah Ratna dari celah gordeng jendela yang sedikit terbuka.
Dari balik kaca jendela, Bah Mardi melihat Ratna dan Pak Bahar sedang duduk berdua di ruang tamu, wajah Pak Bahar tampak merah padam seperti sedang marah.
“Pokoknya kalau si Mardi, datang lagi ganggu kamu. Langsung bilang sama Bapak. Kurang ajar tua bangka itu berani-beraninya mau ganggu menantuku.”
Wajah Bah Mardi seketika memucat, dengan perasaan yang tak menentu, dia mundur perlahan setelah itu kabur dengan tergesa-gesa. Tak menduga Ratna menceritakan semua yang terjadi tadi sore pada mertuanya. Bah Mardi sangat tahu siapa Pak Bahar, mantan jawara yang sudah tiga kali masuk penjara kasus penganiRian yang dua diantaranya hingga korban cacat permanen.
Bah Mardi berlari pulang, napasnya tersengal, keringat dingin membasahi punggungnya. Ia membuka pintu rumah dengan tangan gemetar, lalu langsung menuju kamar. Di sana, Mak Siti sudah terbaring di ranjang, sepertinya sudah tertidur lelap setelah penantian panjang.
Ia melangkah mendekat ranjang, hatinya masih berdegup kencang karena ketakutan. Tanpa sepatah kata, ia merebahkan diri di samping istrinya, lalu menarik tubuh Mak Siti ke dalam pelukannya. Kepalanya menyembunyikan wajah pucatnya di bahu Mak Siti, seolah mencari perlindungan dari ancaman yang membayanginya.
Tubuh Mak Siti yang hangat, dan aroma minyak telon yang samar-samar, sedikit menenangkan gejolak ketakutan dalam dirinya.
Mak Siti tersentak, terkejut dengan pelukan mendadak itu. Ia mengerjapkan mata, mencoba menyesuaikan diri dengan kegelapan. Tidak biasanya Bah Mardi memeluknya seperti ini, apalagi setelah pergi dengan segala alasan. Ia merasakan tubuh suaminya bergetar dan napasnya yang tidak beraturan.
Ada keanehan yang kuat, tapi di sisi lain, ia juga merasakan kehangatan yang sudah lama hilang. Perlahan, Mak Siti membalikkan tubuh, menghadap suaminya. “Mau malam jumtan ya, Bah?” tanyanya parau.
“Iya, Mak,” balas Bah Mardi pelan.
Bah Mardi berusaha fokus, sekuat tenaga mencoba membangkitkan gairah yang sudah pudar, tapi pikirannya masih terpecah, antara ketakutan akan amarah Pak Bahar dan rasa bersalah yang menggerogoti, juga memenuhi keinginan istrinya untuk mengulang kembali kebersamaan yang sudah lama ia tinggalkan.
Namun, untuk malam ini, ia biarkan alur mengalir, seolah pelukan itu adalah benteng terakhirnya dari badai gosip kampung yang mungkin akan segera menderanya. Sambil menyusun kembali strategi jitu untuk petualangan selanjutnya.
Sementara di rumah Ratna ada pemandangan yang berbeda.
Bersambung…
Setelah menyeruput kopi yang masih mengepul hangat, Pak Bahar meletakkan cangkirnya di meja kecil, matanya tak lepas dari wajah Ratna yang diterangi cahaya samar televisi. Malam terasa lebih hangat ditemani gemericik angin di luar yang menyertai keheningan yang syahdu.
Ratna menyandarkan punggungnya lebih dekat, bahunya menyentuh lengan mertuanya yang kokoh,
“Kalau Bapak nggak datang lagi malam ini, aku pasti gelisah sendirian,” bisik Ratna pelan, suaranya lembut seperti hembusan angin sawah, tangannya tanpa ragu menyentuh jari-jari mertuaya dan mengusap pelan kulit kasar itu.
Pak Bahar tersenyum tipis, tangannya naik menyentuh pipi Ratna dengan kelembutan yang tak biasa untuk seorang ayah mertua.
“Mana mungkin Bapak biarin kamu sendirian. Bapak selalu mikirin kamu, setiap malam hanya kesempatan saja yang kadang menghalangi,” balasnya, nadanya mendayu, matanya menatap dalam seperti berbagi rahasia lama.
Pak Bahar menarik Ratna lebih dekat, bahu mereka kini benar-benar menempel, dan tangannya melingkar pelan di pinggang wanita itu.
“Mas Badri jauh di sana, tapi Bapak di sini, kan? Biar Bapak yang jagain kamu, seperti biasa.” Suaranya rendah, penuh kehangatan yang membuat jantung Ratna berdetak lebih cepat, meski ini bukan pertama kalinya.
Ratna tertawa kecil, pipinya memerah tipis, tatapannya semakin sayu. Ia memiringkan kepala, menyandarkannya di bahu Pak Bahar, tangannya kini memegang pinggang mertuanya erat.
“Iya, Bapak selalu tahu cara bikin aku tenang. Kalau nggak ada Bapak, rumah ini terasa kosong dan hampa,” katanya genit, suaranya bergetar pelan.
Mereka lantas berbagi pelukan ringan dan bisikan mesra, seperti pasangan yang sudah lama saling mengenal, sampai aroma kopi pudar dan malam semakin pekat, menyembunyikan rahasia mereka dari kampung yang tertidur.
Mata Pak Bahar menatap Ratna lekat, senyum hangatnya semakin lebar. Tangannya naik perlahan, membelai lembut pipi Ratna yang bersandar di bahunya. Jantung Ratna berdegup kencang, sebuah debaran yang penuh hasrat terlarang dalam kehangatan mertuanya. Ia mengangkat wajahnya sedikit, matanya bertemu pandang dengan mata Pak Bahar.
Udara di antara mereka menipis. Bisikan-bisikan mesra yang tadi saling berbalas kini terhenti. Hanya napas mereka yang beradu pelan, semakin cepat. Pak Bahar mencondongkan tubuhnya, gerakannya lambat, penuh makna. Ratna memejamkan mata, memberi isyarat persetujuan yang tak terucap.
“Kamu makin cantik saja, Rat…” desahnya. Perlahan, mulut mereka berpagutan lembut namun sejurus kemudian berubah liar, desahan kenikmatan mulai lolos dari mulut keduanya.
Tangan Pak Bahar meremas dada Ratna dengan penuh nafsu, jari-jarinya yang kasar tapi pengalaman menekan lembut melalui daster tipis, membuat Ratna menggelinjang pelan.
Tangan Ratna membelai penis Pak Bahar yang sudah berdiri tegak di balik kain sarungnya yang sudah hampir terlepas, gerakannya lambat dan menggoda, seolah mengenang kenangan malam-malam sebelumnya yang sempat mereka lewatkan.
Saat itulah Ratna menyadari jika penis mertuanya lebih kecil dari milik Bah Mardi yang sempat ia lihat sekilas tadi sore. Namun baginya punya Pak Bahar sangat mendebarkan dengan segala kemampuannya yang kuat berkali-kali dalam semalam, tak pernah lelah seperti pria muda, selalu tahu cara membuatnya mencapai puncak berulang kali.
“Ratnaaaa menantuku oooh sssst..”
Ratna tersenyum penuh hasrat, matanya yang sayu menatap wajah Pak Bahar yang sudah memerah oleh gairah. Ia perlahan menurunkan tubuhnya, berlutut di depan mertuanya yang duduk di sofa, tangannya dengan lembut menarik kain sarung yang sudah longgar itu.
Penis Pak Bahar terbebas, tegak dan berdenyut, ukurannya memang tak sebesar milik Bah Mardi, tapi vena-veanya yang menonjol dan bentuknya yang kokoh membuat Ratna selalu tergoda. Kulitnya gelap dan kasar, tapi hangat, seperti janji kenikmatan yang tak pernah mengecewakan.
“Oh, Bapak… ini milikku malam ini,” gumam Ratna genit, suaranya bergetar penuh nafsu. Tangannya memegang pangkal penis itu dengan lembut, jari-jarinya melingkar erat, merasakan detak jantung Pak Bahar melalui daging yang mengeras itu.
Ia mulai mengusap pelan dari bawah ke atas, gerakannya lambat dan menggoda, seperti sedang membangunkan binatang buas yang sudah siap menerkam. Pak Bahar mendesah panjang, tangannya menyusup ke rambut Ratna, membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang yang bercampur nafsu.
“Ratnaaaa… menantuku sayang… oooh sssst… ya begitu, Nak… bikin Bapak gila kamu…”
Ratna tak menunggu lama. Ia mencondongkan wajahnya lebih dekat, hidungnya menyentuh ujung penis itu, mencium aroma maskulin yang kuat, campuran keringat dan hasrat yang membuatnya semakin basah di antara pahanya.
Bibirnya yang merah dan lembab membuka pelan, lidahnya keluar dulu, menyentuh kepala penis dengan ujungnya yang basah, menjilat lingkaran kecil di sekitar lubang kecil itu. Rasa asin dan hangat segera membanjiri lidahnya, membuatnya mendesah pelan.
“Aaah… Bapak enak sekali,” bisiknya, sebelum mulutnya menelan kepala penis itu perlahan. Bibirnya melingkar erat, menyedot lembut sambil lidahnya berputar-putar di sekitar glans yang sensitif itu. Ia bisa merasakan setiap tonjolan, setiap vena yang berdenyut, dan ia mempercepat gerakan tangannya di pangkal, memompa naik-turun sambil mulutnya naik-turun mengikuti irama.
Pak Bahar menggeliat, pinggulnya sedikit terangkat, mendorong lebih dalam ke mulut Ratna. “Sssst… ya ampun, Rat… mulutmu panas banget… terus… jangan berhenti…” Desahannya semakin kasar, tangannya menekan kepala Ratna lebih dalam, tapi tidak kasar—hanya cukup untuk menunjukkan dominasinya sebagai mertua yang berpengalaman.
Ratna mengikuti, mulutnya kini menelan lebih dalam, hampir setengah panjang penis itu masuk ke rongga mulutnya yang hangat dan basah. Ia menyedot kuat, lidahnya menekan bagian bawah, merangsang urat-urat sensitif di sana. Air liurnya menetes pelan dari sudut bibir, membasahi tangannya yang masih memompa, membuat gerakan semakin licin dan cepat.
Ia sesekali melepaskan, hanya untuk menjilat seluruh batang dari pangkal hingga ujung, lidahnya berputar seperti ular yang menggoda, sebelum menelan lagi dengan lebih rakus.
“Ratnaaaa… oooh… kamu pintar sekali… Bapak nggak tahan lama kalau gini…” Pak Bahar mengerang, matanya terpejam menikmati sensasi itu. Ratna tersenyum dalam hati, tahu betul bagaimana membuat mertuanya mencapai puncak—dan ini baru permulaan malam mereka.
Mereka terus begitu, dengan Ratna yang semakin liar, mulutnya bekerja tanpa henti, hingga desahan Pak Bahar semakin tak terkendali, tubuhnya menegang menandakan klimaks yang mendekat. Malam itu, rahasia mereka semakin dalam, tersembunyi di balik dinding rumah yang sunyi.
Tubuh mereka saling menempel lebih erat di kursi panjang itu, sarung Pak Bahar kini benar-benar melorot, membiarkan tangan Ratna menjelajah bebas.
Pak Bahar, dengan napas masih tersengal setelah kenikmatan yang baru saja diberikan Ratna, tersenyum penuh nafsu. Tubuhnya yang kokoh bergerak cepat, mengangkat Ratna dari lututnya dan merebahkannya di sofa dengan lembut tapi tegas.
Matanya menatap tubuh menantunya yang terbuka, daster tipisnya sudah naik hingga pinggang, memperlihatkan paha mulus dan celana dalam hitam yang sudah basah oleh hasrat.
“Oh, Ratna… sekarang giliran Bapak balas budi,” gumamnya dengan suara parau, penuh janji. Tangannya menyusup ke bawah daster, menarik celana dalam itu pelan-pelan, memperlihatkan vagina Ratna yang sudah mengkilap oleh cairan alaminya.
Bulu-bulu halus di sekitarnya membuatnya tampak lebih menggoda, bibir luarnya yang merah muda membengkak oleh gairah, dan klitoris kecil yang menonjol seperti permata yang menunggu disentuh.
Pak Bahar menunduk, wajahnya mendekat ke selangkangan Ratna. Hidungnya menyentuh bulu-bulu itu dulu, mencium aroma manis dan musky yang membuat penisnya kembali mengeras.
“Kamu wangi sekali, Nak… Bapak suka ini,” desahnya, sebelum lidahnya keluar, menyentuh bibir vagina dengan ujungnya yang basah. Ia menjilat pelan dari bawah ke atas, merasakan rasa asin-manis yang membuatnya semakin lapar.
Ratna menggelinjang, tangannya menyusup ke rambut Pak Bahar yang sudah beruban, menekan kepalanya lebih dalam. “Aaaah… Bapak… lidah Bapak… panas banget…” erangnya, pinggulnya terangkat sedikit, mendorong vagina ke mulut mertuanya.
Pak Bahar tak membuang waktu. Mulutnya membuka lebar, menyedot bibir vagina luar dengan lembut, lidahnya berputar-putar di sekitar klitoris yang sensitif itu, menekan dan menjilat bergantian.
Jari-jarinya yang kasar ikut bermain, menyusup ke dalam lipatan, membuka lebih lebar agar lidahnya bisa menyelam lebih dalam. Ia menjilat rongga dalam, lidahnya bergerak seperti ular yang rakus, menyedot cairan yang semakin banjir, membuat suara basah yang menggema di ruangan sunyi.
“Sssst… Ratnaaaa… memek kamu enak sekali… manis seperti madu,” gumamnya di sela-sela, napasnya panas menyapu kulit sensitif itu. Ia sesekali gigit lembut bibir vagina, membuat Ratna mengerang lebih keras, tubuhnya bergetar hebat. Tangannya naik, meremas payudara Ratna melalui daster, jempolnya memutar puting yang sudah mengeras.
Ratna tak bisa menahan, pinggulnya bergoyang mengikuti irama mulut Pak Bahar, desahannya semakin tak terkendali. “Bapak… terus… jangan berhenti… aaaah… aku mau keluar…” Ia merasa puncak mendekat, gelombang kenikmatan yang dibangun oleh lidah mertuanya yang berpengalaman.
Pak Bahar mempercepat, lidahnya fokus pada klitoris, menyedot kuat sambil jarinya menyusup masuk ke dalam vagina, menekan dinding dalam yang sensitif.
Ratna akhirnya meledak, tubuhnya menegang, cairan hangat menyembur ke mulut Pak Bahar yang ia telan dengan rakus. Ia terus menjilat pelan, membersihkan setiap tetes, sampai Ratna lemas di pelukannya.
Malam itu semakin panas, rahasia mereka semakin dalam, dengan Pak Bahar yang tak pernah lelah memuaskan menantunya.
Ratna terbaring lemas di sofa, napasnya masih tersengal-sengal setelah gelombang orgasme yang baru saja menyapunya. Tubuhnya berkeringat tipis, dada naik-turun cepat, dan matanya setengah terpejam menikmati sisa-sisa kenikmatan yang masih berdenyut di antara pahanya.
Vagina-nya masih basah dan berdenyut pelan, cairan hangat yang tadi disemburkan ke mulut Pak Bahar kini menetes pelan ke kain sofa yang sudah lembab. Ia tersenyum lemah, tangannya menyentuh wajah mertuanya yang masih menunduk di selangkangannya, membersihkan sisa-sisa dengan lidahnya yang rakus.
“Aaah… Bapak… luar biasa,” gumam Ratna, suaranya parau tapi penuh kepuasan. Pak Bahar mengangkat kepalanya, bibirnya mengkilap oleh cairan Ratna, senyumnya lebar dan penuh nafsu yang belum padam.
Penisnya masih tegak keras, berdenyut-denyut di udara malam yang hangat, menunjukkan bahwa ia belum mencapai puncaknya. Matanya menatap Ratna dengan lapar, seperti singa yang belum kenyang setelah memangsa mangsanya.
“Belum selesai, Nak… Bapak masih pengen lebih,” bisik Pak Bahar, suaranya rendah dan mendayu, tangannya naik membelai perut Ratna yang datar, naik lagi ke payudaranya yang masih mengeras. Ia berdiri pelan, menarik Ratna bangun bersamanya.
Mereka berdua telanjang bulat sekarang, daster Ratna sudah tergeletak di lantai, sarung Pak Bahar entah di mana. Tubuh Pak Bahar yang kokoh, berotot dari kerja keras di sawah, kontras dengan kulit Ratna yang halus dan putih, membuat pemandangan itu semakin erotis di bawah cahaya redup televisi yang masih menyala samar.
Bersambung…
Mereka berjalan ke meja kecil di samping, di mana gelas air putih sudah disiapkan. Pak Bahar mengambil satu gelas, menyerahkannya ke Ratna dengan tangan yang gemetar sedikit oleh gairah.
“Minum dulu, biar segar lagi,” katanya lembut, matanya tak lepas dari lekuk tubuh menantunya. Ratna tersenyum genit, meminum air itu pelan-pelan, air mengalir ke dagunya dan menetes ke dada-nya, membuat putingnya semakin basah dan mengkilap. Pak Bahar ikut minum, tapi tatapannya tetap pada Ratna, seperti sedang meminum keindahannya.
Setelah gelas kosong, mereka meletakkannya kembali. Pak Bahar menarik Ratna ke pelukannya lagi, tubuh mereka menempel erat, penisnya yang keras menyentuh perut Ratna, membuatnya mendesah pelan. Mulut mereka bertemu dalam ciuman mesra, lidah saling berpilin, rasa air putih bercampur dengan sisa-sisa kenikmatan sebelumnya.
Ciuman itu lambat dulu, penuh kelembutan, tangan Pak Bahar membelai punggung Ratna, turun ke bokongnya yang bulat dan kenyal, meremas pelan. Ratna membalas, tangannya memeluk leher mertuanya, jari-jarinya menyusup ke rambut yang sudah beruban tapi masih tebal.
Ciuman semakin panas, lidah mereka bertarung lebih liar, desahan kecil lolos dari mulut mereka. Pak Bahar menggigit bibir bawah Ratna pelan, membuatnya menggelinjang. “Ratnaaaa… kamu bikin Bapak gila setiap malam,” gumamnya di sela ciuman, napasnya panas menyapu wajah Ratna.
Ia memutar tubuh Ratna pelan, membuatnya membelakangi dirinya, tangannya tetap memeluk dari belakang, satu tangan meremas payudara, yang lain turun ke vagina yang masih sensitif.
Ratna menyandarkan punggungnya ke dada Pak Bahar, merasakan detak jantung mertuanya yang cepat. “Bapak… ambil aku lagi… aku siap,” bisiknya, suaranya bergetar penuh hasrat.
Pak Bahar tersenyum, tangannya membimbing Ratna ke sofa, membuatnya berlutut di depan sandaran sofa, tangan Ratna memegang erat bantal sofa untuk pegangan. Posisi doggy style, di ruang tengah rumah yang sunyi, dengan angin malam yang sesekali menyusup melalui jendela, membuat suasana semakin terlarang dan mendebarkan.
Pak Bahar berdiri di belakangnya, matanya menikmati pemandangan bokong Ratna yang terangkat, vagina-nya yang menganga sedikit, masih basah dan siap.
Ia memegang penisnya yang sudah licin oleh air liur Ratna sebelumnya, menggesekkan ujungnya ke bibir vagina luar, membuat Ratna mengerang pelan. “Sssst… enak ya, Nak? Bapak masuk pelan dulu,” desahnya, sebelum mendorong pelan, kepala penisnya menyusup masuk ke rongga hangat yang ketat itu.
Ratna menggigit bibir, merasakan peregangan yang nikmat, meski ukuran Pak Bahar tak sebesar Bah Mardi, tapi bentuknya yang kokoh dan pengalamannya membuat setiap dorongan terasa sempurna.
“Aaaah… Bapak… dalam sekali…” erangnya, pinggulnya bergoyang pelan mengikuti irama.
Pak Bahar mendorong lebih dalam, tangannya memegang pinggang Ratna erat, mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur dengan ritme lambat dulu, merasakan setiap inci dinding vagina yang memeluk penisnya erat.
Gerakan semakin cepat, suara basah dari gesekan daging mereka menggema di ruangan, bercampur dengan desahan keduanya. Pak Bahar mencondongkan tubuhnya, dada-nya menempel ke punggung Ratna, tangannya naik meremas payudara dari belakang, jari-jarinya memutar puting dengan kasar tapi penuh keahlian.
“Ratnaaaa… oooh… memek kamu ketat banget… bikin Bapak pengen terus…” mengerangnya, napasnya panas di telinga Ratna.
Ratna memegang sofa lebih erat, tubuhnya bergoyang maju-mundur mengikuti dorongan Pak Bahar, setiap hantaman membuat klitoris-nya tergesek, membangun gelombang kenikmatan baru. “Bapak… lebih keras… aaaah… jangan pelan-pelan…” pintanya, suaranya semakin tinggi, keringat menetes dari dahinya.
Pak Bahar mempercepat, pinggulnya menghantam bokong Ratna dengan suara plak-plak yang ritmis, tangannya turun ke klitoris, menggosok pelan sambil terus memompa.
Mereka begitu selama beberapa menit, tubuh saling bertabrakan dalam ritme yang semakin liar, desahan mereka semakin tak terkendali. Ratna merasa puncak mendekat lagi, vagina-nya berdenyut erat memeluk penis Pak Bahar.
“Bapak… aku… mau keluar lagi… aaaah!” jeritnya, tubuhnya menegang, gelombang orgasme kedua menyapu dirinya, cairan hangat menyembur membasahi penis mertuanya.
Pak Bahar merasakan itu, pelukan ketat yang membuatnya hampir tak tahan. Ia mengerang keras, dorongannya semakin cepat dan dalam, tangannya memegang pinggang Ratna seperti besi.
“Ratnaaaa… Bapak juga… oooh… sssst… keluar bareng!” erangnya, sebelum tubuhnya menegang, penisnya berdenyut-denyut, menyemburkan sperma hangat ke dalam vagina Ratna, gelombang demi gelombang, membuatnya terasa penuh dan lengket.
Mereka berdua ambruk ke sofa, napas tersengal, tubuh saling peluk dalam keringat dan kenikmatan yang baru padam. Pak Bahar mencium punggung Ratna pelan, tangannya membelai rambutnya. “Kamu luar biasa, Rat… Bapak sayang kamu,” bisiknya, sementara malam semakin pekat, menyembunyikan rahasia mereka yang semakin dalam.
Pak Bahar mengangkat kepala, matanya menatap Ratna dengan kelembutan yang penuh kasih, bibirnya menyentuh pipi wanita itu pelan.
“Ratna, kamu selalu bikin Bapak lupa segalanya. Setiap ngentot menjadi sangat luar biasa,” bisiknya mesra, tangannya melingksr di pinggang Ratna, menariknya lebih dekat seolah tak ingin melepaskan.
Ratna tersenyum, pipinya memerah tipis, jarinya mengusap dagu Pak Bahar yang beruban. “Bapak juga. Aku selalu merasa aman dan… lengkap bersama Bapak. Mas Badri jauh di sana, tapi aku tak pernah kesepian, Bapak selalu ada buat aku dan Ari,” balasnya lembut, suaranya mendayu, penuh keintiman yang sudah jadi kebiasaan mereka.
Ratna diam sejenak, tatapannya melayang ke langit-langit, lalu kembali ke mata Pak Bahar. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, seolah ragu, tapi akhirnya bicara dengan nada pelan.
“Pak… aku mau bilang sesuatu. Sudah satu bulan ini… aku telat. Haidku nggak datang-datang.” Kata-katanya menggantung di udara, tapi bukan ketakutan yang terdengar, melainkan harap yang tersembunyi.
Mata Pak Bahar membulat, lalu senyum lebar menghiasi wajahnya yang keriput. Ia tertawa kecil, bahagia yang tulus, tangannya naik memeluk wajah Ratna erat.
“Benarkah, Sayang? Alhamdulillah… itu pasti anak kita! Bapak senang sekali, sudah lama Bapak pengen punya cucu lagi, tapi kalau ini… ini spesial,” katanya gembira, suaranya bergetar karena emosi, mencium kening Ratna berulang kali.
Ratna ikut tersenyum, air mata bahagia menetes di sudut matanya, merasa lebih dekat dari sebelumnya dengan mertuanya yang kini seperti pasangan sesungguhnya.
Pak Bahar memeluk Ratna lebih erat, tubuh mereka masih saling menempel dalam kehangatan sisa kenikmatan sebelumnya. Keringat mereka bercampur, aroma tubuh yang akrab membuat malam terasa lebih intim. Ia mencium kening Ratna lagi, tangannya turun pelan membelai perutnya yang masih datar, seolah sudah bisa merasakan kehidupan baru di sana.
“Kita harus hati-hati sekarang, Sayang. Bapak nggak mau apa-apa terjadi sama kamu atau bayi kita,” bisiknya lembut, suaranya penuh kepedulian yang tulus, matahya penuh kasih sayang yang jarang ia tunjukkan di depan orang lain.
Ratna mengangguk, tersenyum manja, tangannya memegang tangan Pak Bahar di perutnya. “Iya, Pak… aku juga senang. Tapi… aku masih pengen Bapak lagi malam ini. Cuma… pelan-pelan aja, ya?” katanya genit, suaranya bergetar pelan, hasrat yang masih membara meski tubuhnya lelah.
Ratna memiringkan tubuhnya, menyandarkan punggungnya ke dada mertuanya, merasakan penis Pak Bahar yang mulai mengeras lagi menyentuh bokongnya. Udara di ruang tengah terasa lebih hangat, cahaya televisi yang samar menyinari kulit mereka yang telanjang, membuat bayangan erotis menari di dinding.
Pak Bahar tersenyum, tangannya naik membelai payudara Ratna dengan sangat lembut, jari-jarinya menyentuh puting yang sensitif tanpa menekan terlalu keras. “Baiklah, Nak… Bapak akan lembut banget. Kita lakuin yang nyaman buat kamu,” gumamnya, napasnya panas di leher Ratna.
Pak Bahar mencium telinga menantunya pelan, lidahnya menyentuh cuping telinga dengan ringan, membuat Ratna menggelinjang kecil. Tangannya turun lagi, menyusup ke antara paha Ratna, jari tengahnya menyentuh bibir vagina luar dengan kelembutan seperti menyentuh bunga yang rapuh, menggosok pelan di klitoris yang masih basah oleh sisa orgasme sebelumnya.
“Aaah… Pak… enak sekali…” desah Ratna, matanya terpejam, tubuhnya rileks dalam pelukan mertuanya.
Ia membuka pahanya sedikit lebih lebar, memberi ruang bagi jari Pak Bahar untuk menjelajah. Jari itu menyusup masuk pelan ke rongga vagina yang hangat dan licin, bergerak maju-mundur dengan ritme lambat, seperti sedang membuai.
Ratna merasakan setiap sentuhan, dinding vaginanya berdenyut pelan merespons, tapi tanpa rasa sakit—hanya kenikmatan yang membangun perlahan seperti ombak kecil di pantai.
Pak Bahar menarik jarinya pelan, lalu membalikkan tubuh Ratna menghadapnya, membuatnya duduk di pangkuannya di sofa. Penisnya yang sudah tegak lagi menyentuh perut Ratna, tapi ia tak buru-buru. Mulut mereka bertemu dalam ciuman lembut, lidah saling berpilin tanpa tergesa, rasa manis sisa air putih bercampur dengan napas mereka yang semakin cepat.
Tangannya memeluk punggung Ratna, membelai tulang belakangnya dari atas ke bawah, sementara Ratna membalas dengan tangannya yang memegang leher Pak Bahar, jari-jarinya bermain di rambutnya.
“Sekarang, Sayang… naik pelan aja,” bisik Pak Bahar, tangannya memandu pinggul Ratna naik sedikit. Ratna mengangguk, tangannya memegang penis mertuanya yang kokoh, mengarahkan ujungnya ke bibir vagina-nya. Ia turun pelan, merasakan peregangan yang nikmat tapi terkendali, penis itu masuk setengah dulu, membuatnya mendesah panjang.
“Ooooh… Pak… penuh sekali.. memek aku.” gumamnya, matanya bertemu mata Pak Bahar, penuh keintiman.
Pak Bahar memegang pinggang Ratna dengan kedua tangan, membantunya naik-turun dengan gerakan lambat dan ritmis, seperti sedang menari pelan.
Setiap dorongan ke atas, penisnya menyentuh dinding dalam yang sensitif, tapi tak dalam-dalam seperti sebelumnya—hanya cukup untuk membangun kenikmatan tanpa membebani tubuh Ratna yang sekarang lebih rapuh.
Ratna menggoyang pinggulnya melingkar pelan, merasakan gesekan di klitorisnya, membuat gelombang hangat menyebar ke seluruh tubuhnya. “Ya… begini… lembut banget, Pak… aku suka…” erangnya, tangannya naik meremas bahu mertuanya, kuku-kukunya menekan pelan tanpa melukai.
Mereka terus begitu, gerakan yang sinkron dan penuh kelembutan, desahan mereka seperti lagu malam yang syahdu. Pak Bahar sesekali mencium payudara Ratna, lidahnya menyentuh puting dengan ringan, menyedot pelan seperti bayi yang haus, membuat Ratna semakin basah.
Tangannya turun lagi, jempolnya menggosok klitoris Ratna dengan lingkaran kecil, mempercepat sedikit tapi tetap terkendali.
“Ratnaaaa… kamu makin enak sekarang… bayi kita pasti senang liat kita begini,” gumamnya genit, suaranya bergetar oleh hasrat yang dibendung.
Ratna tertawa kecil di sela desahan, tubuhnya mulai bergetar, tanda puncak mendekat. “Pak… aku… hampir… aaaah…” pintanya, gerakannya naik-turun semakin cepat tapi masih lembut, vagina-nya berdenyut erat memeluk penis Pak Bahar.
Pak Bahar merasakan itu, pinggulnya terangkat pelan untuk bertemu gerakan Ratna, tangannya memeluk erat. “Bareng ya, Sayang… Bapak juga mau…” desahnya, napasnya semakin tersengal.
Akhirnya, Ratna mencapai puncak dulu, tubuhnya menegang pelan, gelombang orgasme yang lembut menyapu dirinya seperti angin sepoi, cairan hangat membasahi penis mertuanya tanpa semburan liar seperti sebelumnya. “Aaaah… Pak… enak sekali…” erangnya, matanya berkaca-kaca oleh kenikmatan.
Pak Bahar mengikuti segera, penisnya berdenyut-denyut, menyemburkan sperma hangat ke dalam dengan dorongan pelan, gelombang demi gelombang yang membuat Ratna terasa lebih penuh dan aman.
Mereka berpelukan lagi, napas saling beradu, tubuh lemas dalam kepuasan yang mendalam. Pak Bahar mencium bibir Ratna pelan, tangannya kembali membelai perutnya.
“Istirahat dulu, Nak… besok pagi Bapak bikinin sarapan spesial buat kamu dan bayi kita,” bisiknya, sementara malam semakin larut, angin di luar menyanyi pelan, menyembunyikan rahasia bahagia mereka di rumah yang sunyi.
‘Aku masih penasaran dengan terong Pak Darsa. Benarkah paling besar, laing panjang dan palinf perkasa? Duuh, gimana ya rasanya punya beliau?’ batin Ratna.
Bersambung…
Pagi itu di warung Pak Rosid, suasana ramai seperti biasa. Para pembeli datang silih berganti, membeli kebutuhan harian dari beras hingga sabun mandi. Pak Rosid, pria berusia sekitar 50 tahun dengan perut sedikit buncit tapi wajah ramah yang selalu tersenyum, sibuk melayani pembeli.
Warungnya adalah pusat informasi kampung, tempat gosip mengalir seperti air irigasi. Tapi hari ini, di balik keramaian itu, ada sesuatu yang berbeda. Saat pelanggan terakhir membayar dan pergi, Pak Rosid melirik jam dinding, sudah hampir jam 10 pagi, waktu yang ia tahu akan datang.
Tak lama kemudian, Eva muncul di pintu belakang warung, membawa tas belanja kecil sebagai kedok.
“Pagi, Pak Rosid. Saya mau beli sabun sama minyak goreng,” katanya santai, tapi matanya bertemu dengan Pak Rosid penuh arti, senyumnya sedikit genit saat ia mendekat ke etalase.
Pak Rosid tersenyum lebar, tangannya menyodorkan barang-barang itu sambil melirik ke sekitar memastikan tak ada yang memperhatikan.
“Wah, Bu Ustadzah pagi-pagi sudah mampir. Pak Ustadz lagi kemana ya? Duduk dulu, saya ambilkan stok yang bagus dari belakang,” ajaknya ramah, tapi nada suaranya lebih hangat dari biasa.
Eva mengangguk, mengikuti Pak Rosid ke ruang kecil di belakang, di mana tumpukan karung beras dan rak barang tersusun rapi. Pintu setengah tertutup, memberi privasi sementara dari hiruk-pikuk depan.
Di sana, kedekatan mereka mulai terlihat. Pak Rosid berdiri dekat Eva, tangannya menyentuh lengan wanita itu pelan saat membantu mengangkat tas.
“Kamu cantik sekali hari ini, Bu Ustadzah. Rambutnya wangi, pasti baru keramas,” pujinya lembut, matanya menelusuri wajah Eva yang kini memerah tipis.
Eva tertawa kecil, tak menarik diri. “Ih, Pak Rosid ini. Saya cuma mampir biasa kok. Suami lagi sibuk di sekolah.” Suaranya pelan, tapi ada nada menggoda di sana, tangannya sesekali menyentuh tangan Pak Rosid saat mengambil barang.
Mereka berdiri begitu dekat, obrolan ringan tentang harga sembako bercampur pujian halus. Pak Rosid melangkah lebih maju, bahunya hampir menyentuh Eva, dan wanita itu tak mundur. Udara di ruang sempit itu terasa lebih hangat, rahasia kecil mereka menggantung di antara tumpukan barang, menunggu momen yang lebih berani.
Pak Rosid meletakkan tas belanja Eva di rak, tapi tangannya sengaja berlama-lama menyentuh punggung tangan wanita itu, sebuah sentuhan ringan yang sudah jadi kode rahasia di antara mereka.
“Bu Ustadzah, kamu tahu nggak, tiap pagi saya nungguin ibu mampir. Warung ini sepi kalau nggak ada senyum ibu,” katanya pelan, suaranya mendayu seperti orang yang sudah lama saling mengenal, matanya menatap Eva dengan tatapan yang penuh arti, tak lagi seperti pemilik warung biasa.
Eva tersipu, pipinya memerah tipis, ia memiringkan tubuh sedikit, bahunya menyentuh dada Pak Rosid yang sedikit bidang.
“Ih, Pak Rosid ini manis banget bicaranya. Saya juga suka mampir ke sini, loh, karena di rumah sepi, suami sibuk dengan penyakitnya… saya juga kan butuh obrolan ringan kaya gini,” balasnya genit, tangannya naik menyentuh lengan Pak Rosid pelan, jari-jarinya mengusap kain kemeja pria itu seperti sedang menggoda.
Pak Rosid tertawa kecil, tangannya kini berani melingkar di pinggang Eva, menariknya sedikit lebih dekat. “Kapan-kapan, kalau nggak ada pelanggan, kita ngobrol lebih lama lagi, ya?
Saya punya cerita seru yang cuma buat Bu Ustadzah,” bisiknya, napasnya hangat di telinga Eva, membuat wanita itu menggigit bibir bawahnya, hatinya berdebar antara rasa bersalah dan kegembiraan terlarang.
Tiba-tiba dari depan warung, terdengar suara langkah kaki mendekat dan suara pelanggan yang akrab. Ustadz Asep,9uru ngaji, yang kebetulan mampir untuk membeli rokok entah mau kemana. Ustadz Asep adiknya Ustadz Kholil, suaminya Eva.
“Pak Rosid! Ada orang nggak? Saya mau beli rokok dua bungkus!” serunya lantang, suaranya jelas terdengar.
Eva tersentak, wajahnya memucat seketika, tangannya buru-buru menarik diri dari pelukan Pak Rosid. Pak Rosid juga kaget, tapi cepat mengatur ekspresi ramahnya, melirik Eva dengan isyarat “tenang” sebelum bergegas keluar.
“Sabar, Pak Ustadz. Sebentar, saya ambil stoknya!” balasnya, suaranya stabil meski jantungnya berdegup kencang.
Eva buru-buru merapikan tasnya, bersembunyi di balik rak barang, berharap suaminya tak tahu dengan keberadaannya.
Ustadz Asep kembali pergi dengan langkah terburu-buru. Ia tak menyadari bahwa kakak iparnya baru saja lolos dari situasi yang nyaris membongkar rahasia.
Setelah dipastikan aman, Eva keluar dari ruang belakang, berjalan melewati etalse dengan wajah sok santai. Ia mengambil belanjaannya yang sudah dibungkus Pak Rosid, lalu berpamitan.
Namun, sebelum benar-benar meninggalkan warung, ia menoleh sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Pak Rosid yang pura-pura sibuk menata barang.
“Nanti malam, saya sendirian di rumah,” bisiknya pelan, tatapan matanya penuh janji dan godaan.
Pak Rosid tertegun, jantungnya berdesir hebat mendengar bisikan itu. Kata-kata Eva seolah mantra yang mengundang, memunculkan bayangan-bayangan nakal di benaknya. Antara ingin menahannya, menariknya kembali ke ruang belakang dan melanjutkan apa yang tertunda, tapi terlanjur datang lagi pembeli lain yang masuk ke warungnya.
Seorang ibu-ibu dengan keranjang belanjaan di tangan, siap dilayani. Pak Rosid menghela napas tertahan, memaksakan senyum ramahnya, sementara Eva tersenyum simpul, menikmati efek dari bisikannya, lalu bergegas pergi. Pikirannya kini dipenuhi oleh janji manis yang baru saja ia terima.
Eva berjalan pelan meninggalkan warung Pak Rosid, tas belanjaannya digantungkan di lengan, langkahnya ringan seperti tak ada beban. Angin pagi masih sejuk, membawa aroma tanah basah dari sawah di pinggir jalan kampung.
Wajahnya masih memerah tipis dari kegembiraan rahasia tadi, bibirnya tersenyum sendiri mengingat bisikan yang baru saja ia lontarkan.
“Nanti malam,” gumamnya dalam hati, imajinasi liar mulai berputar di benaknya. Tapi ia tahu, kampung Cikupa ini penuh mata dan telinga—ia harus hati-hati.
Jalan pulangnya melewati rumah besar Pak Darsa, yang berdiri megah di tepi jalan utama dengan halaman luas penuh pohon mangga dan bunga-bunga rapi.
Pak Darsa sedang duduk di teras, seperti biasa pagi itu, membaca koran sambil menyeruput kopi hitam panas. Usianya yang 65 tahun tak membuatnya terlihat lemah; tubuhnya masih tegap, rambut putihnya tersisir rapi, dan sorot matanya tajam seperti orang yang banyak pengalaman.
Ia mendengar langkah kaki mendekat, lalu menoleh, dan hatinya langsung berdegup sedikit lebih cepat saat melihat Eva.
“Eh, Bu Ustadzah Eva. Pagi-pagi sudah belanja ya?” sapa Pak Darsa ramah, tapi suaranya sedikit tergagap, matanya tak bisa menahan untuk melirik sekilas pada sosok Eva yang berjalan mendekat. Gamisnya yang panjang dan rapi tak bisa menyembunyikan lekuk tubuhnya yang masih kencang, dan senyumnya pagi itu terlihat lebih cerah dari biasanya.
Eva berhenti di depan pagar rumah Pak Darsa, tangannya menyandarkan tas belanjaan ke pagar kayu sambil mencondongkan badan sedikit, membuat kerudungnya sedikit bergeser memperlihatkan leher putihnya yang halus.
“Pagi, Pak Darsa. Iya nih, mampir ke warung Pak Rosid sebentar. Panas ya hari ini, Pak? Saya sampai keringatan,” katanya manja, tangannya mengipas wajahnya pelan, tapi gerakannya sengaja lambat, seolah mengundang mata Pak Darsa untuk mengikuti.
Pak Darsa menelan ludah, merasa udara tiba-tiba lebih panas. Ia tahu gosip kampung tentang Eva—mantan penyanyi dangdut yang kini jadi istri Ustadz Kholil—tapi tak pernah ia bayangkan akan merasakannya sendiri.
“Ah, iya Bu Ustadzah. Musim sekarang ini memang gini. Duduk dulu di teras, minum teh atau apa. Sendirian aja?” tawarnya, berdiri setengah gugup, tangannya menyeka keringat di dahinya yang sebenarnya belum ada.
Eva tertawa kecil, suaranya seperti nada lagu yang menggoda, tangannya menyentuh pagar lebih erat, tubuhnya condong lagi sedikit lebih maju.
“Wah, baik sekali Pak Darsa. Saya sebentar aja kok, takut suami nunggu. Tapi… Pak Darsa ini kelihatan segar banget pagi ini. Rahasianya apa sih, biar tetap bugar gitu? Sawahnya luas, pasti capek ngurusnya sendirian.”
Matanya menatap Pak Darsa dari atas ke bawah, senyumnya miring, jari-jarinya bermain-main di pegangan tas, seperti kode halus yang tak bisa diabaikan.
Pak Darsa merasa pipinya memanas, jantungnya berdegup tak karuan. Ia yang biasa tenang dan bijaksana, kini kelabakan seperti anak muda.
“Ah, Bu Ustadzah ini bisa aja. Rahasia? Ya olahraga pagi, makan sehat. Tapi kalau Bu Ustadzah yang nanya, rasanya saya tambah semangat aja.” Ia tertawa gugup, tangannya menggaruk kepala, mata berusaha menatap ke koran tapi malah kembali ke wajah Eva. Dalam hati, ia bergumam,
“Ini perempuan, halus banget caranya. Gosip kampung beneran nih.”
Eva tersenyum lebar, puas melihat efeknya. “Kalau gitu, kapan-kapan saya mampir lagi ya, Pak. Minta tips bugarnya.
Saya pulang dulu, takut gosip lagi.” Ia melambai tangan pelan, langkahnya berbalik, tapi sebelum benar-benar pergi, ia menoleh lagi dengan tatapan yang penuh janji, membuat Pak Darsa berdiri mematung di teras, kopinya terlupakan.
Sepanjang pagi itu, Pak Darsa duduk kembali, tapi pikirannya tak lagi di koran.
“Luar biasa, bandot tua macam aku, masih bisa digoda gini,” gumamnya sambil tersenyum tipis, antara geli dan tergoda. Di Cikupa, gosip memang tak pernah berhenti—dan sekarang, mungkin namanya akan ikut terseret ke sungai cerita yang mengalir deras.
Eva berjalan menyusuri jalan setapak pulang ke rumah, tas belanjaannya bergoyang ringan mengikuti irama langkahnya yang santai.
Senyumnya tak pudar, malah semakin lebar saat angin pagi menyapu wajahnya, membawa aroma bunga kamboja dari kebun-kebun tetangga. Dalam hati, ia senyum-senyum sendiri, mengingat “petualangan” kecilnya selama beberapa bulan di Cikupa.
Kampung ini, yang awalnya terasa asing dan kaku baginya sebagai mantan penyanyi dangdut, kini seperti panggung baru, penuh rahasia dan godaan yang ia pelajari dengan cepat.
Ia sudah banyak menyerap info dari gosip yang mengalir deras seperti sungai Cikupa itu. Para lelaki “bandot” di sini, yang katanya sudah tua tapi hasratnya masih menyala, tak luput dari radarnya.
Istilah ‘Makin Tua Makin Nikmat’ memang bukan isapan jempol semata. Semua bisa ia buktikan sendiri, dalam pertemuan-pertemuan rahasia yang halus, seperti bisikan angin malam.
Mulai dari yang sangat loyo, seperti Ustadz Kholil suaminya sendiri, yang umurnya sudah membuatnya lebih mirip cucu daripada pasangan, sampai yang masih membara seperti Bah Mardi, dengan “galak dalemnya” yang bisa ngegas sampai pagi. Pak Bahar, tetangga sawah yang suka pura-pura polos tapi tangannya lincah saat “bantu-bantu” di dapur.
Bahkan Ustadz Asep, adik suaminya, yang tadi pagi nyaris memergokinya di warung Pak Rosid, suaranya tegas saat mengajar ngaji, tapi di balik mushola, ia bisa lembut seperti madu yang menetes pelan. “Berbagai rasa sudah kuecap,” gumam Eva dalam hati, tertawa kecil sambil menutup mulut dengan tangan.
Rasanya seperti mencicipi menu di pesta, ada yang hambar, ada yang pedas membara, semuanya membuat hari-harinya di kampung ini tak lagi membosankan.
Tapi di antara semua itu, cerita tentang Pak Darsa yang paling membuatnya penasaran. Duda istiqomah, setia pada almarhumah istrinya selama lima tahun, tak pernah tergoda meski banyak janda yang mendekat
Bersambung…
Gosip di sungai bilang “terongnya Pak Darsa super jumbo,” panjang dan gede seperti black mamba, masih perkasa meski usia sudah 65. Tapi ia tak pernah memamerkannya, malah hidup tenang dengan sawah luas, bisnis pertanian, dan sikap bijaksana yang membuat semua warga hormat.
“Kenapa Pak Darsa sangat beda?” pikir Eva, langkahnya melambat saat melewati rumah Pak Darsa lagi, meski sebenarnya ia bisa ambil jalan lain, tapi sengaja lewat sini.
Tadi pagi, saat berhenti sebentar, ia lihat bagaimana Pak Darsa kelabakan, matanya yang tajam jadi gugup, tangannya menggaruk kepala seperti anak kecil. Itu membuatnya semakin penasaran. Bukan cuma soal “terong super jumbo” yang digosipkan emak-emak kampung di warung, tapi soal pria yang bisa menahan diri, tak seperti bandot-bandot lain yang mudah digoda.
“Apa dia beneran setia, atau cuma nunggu yang pas?” gumamnya, senyumnya miring sambil membayangkan bagaimana rasanya “mencicipi” yang satu itu.
Di rumah, Eva meletakkan tas belanjaan di dapur, lalu duduk di kursi kayu sambil menatap ke luar jendela. Ustadz Kholil masih di pengajian kampung sebelah, mengajar anak-anak pesantren dengan suaranya yang pelan karena sakit pinggang yang semakin sering kambuh.
Ia tahu, malam ini suaminya mungkin lagi-lagi tak bisa “berdaya,” seperti selama ini. Tapi itu justru memberinya ruang—ruang untuk penasaran yang semakin membesar terhadap Pak Darsa.
Sore itu, Eva memutuskan untuk “kebetulan” lewat sawah Pak Darsa. Ia pakai gamis longgar tapi pas di badan, kerudung rapi tapi rambutnya sedikit terurai di tepi, aroma parfum manis yang bisa bikin orang ingat lama.
Sawah hijau bergoyang, angin sore sejuk, dan di pematang, Pak Darsa sedang mengawasi buruh panen, tubuh tegapnya basah keringat di bawah matahari senja.
“Assalamualaikum, Pak Darsa. Lagi sibuk ya?” sapa Eva dari kejauhan, langkahnya mendekat pelan, senyumnya lembut tapi mata berbinar.
Pak Darsa menoleh, terkejut tapi cepat menyembunyikannya dengan senyum ramah. “Waalaikumsalam, Bu Ustadzah. Iya nih, cek panen sebentar. Mau lewat mana? Hati-hati licin jalannya.”
Eva berhenti di dekatnya, tangannya menyentuh tangkai padi pelan, tubuhnya condong sedikit ke arah Pak Darsa.
“Saya lagi jalan-jalan aja, Pak. Capek di rumah sendirian. Sawah Pak Darsa luas banget, pasti enak kalau punya teman ngobrol di sini.” Suaranya manja, seperti nada akhir lagu dangdut yang ditahan, tangannya “tak sengaja” menyentuh lengan Pak Darsa saat menunjuk ke hamparan hijau.
Pak Darsa merasa jantungnya berdegup lagi, seperti pagi tadi. Ia mundur sedikit, tapi mata tak bisa lepas dari wajah Eva. “Ah, Bu Ustadzah ini. Saya mah biasa sendiri. Tapi kalau mau istirahat, duduk dulu di pondok sana. Saya punya air kelapa segar.”
Eva tertawa kecil, mendekat lagi. “Wah, baik sekali. Tapi jangan bilang-bilang ya, Pak. Nanti gosip lagi di kampung.” Matanya menatap tajam, penuh penasaran—dan godaan. Dalam hati, ia berpikir, “Ayo, duda istiqomah, tunjukin kalau gosip itu bener.”
Pak Darsa menelan ludah, tangannya memegang cangkul lebih erat. “Gosip mah biasa di Cikupa, Bu. Tapi saya… saya setia sama yang sudah ada.” Tapi suaranya ragu, dan Eva tahu, api penasaran itu sudah mulai menyala di keduanya.
Eva mengikuti ajakan Pak Darsa menuju pondok kecil di pinggir sawah, tempat biasa buruh istirahat. Pondok itu sederhana, atap daun kelapa kering, dinding bambu, dengan bangku panjang dan meja kayu usang.
Angin siang menuju senja semakin sejuk, membawa aroma padi yang hampir matang, sementara matahari mulai condong ke barat, mewarnai langit jingga. Buruh-buruh sudah pulang lebih dulu, meninggalkan sawah sepi, hanya suara burung pipit dan gemericik air irigasi yang menemani.
Pak Darsa membuka termos air kelapa yang ia simpan di sana, menuangkannya ke dua gelas bambu. “Ini segar, Bu Ustadzah. Minum dulu, biar adem,” katanya ramah, duduk di bangku seberang, menjaga jarak aman.
Tapi Eva duduk lebih dekat, di ujung bangku yang sama, tubuhnya condong sedikit, kerudungnya sedikit bergeser lagi, memperlihatkan rambut hitamnya yang bergelombang.
“Terima kasih, Pak,” jawab Eva pelan, mengambil gelas itu dengan tangan gemetar sedikit—bukan karena dingin, tapi sengaja untuk memancing perhatian. Ia menyeruput pelan, lalu tiba-tiba wajahnya berubah. Senyum genitnya lenyap, diganti ekspresi pilu dan sedih, matanya memandang ke hamparan sawah seolah membawa beban dunia.
“Pak Darsa… sebenarnya saya lagi capek banget hari ini. Kayak ada yang mengganjal di hati.”
Pak Darsa mengerutkan kening, tangannya memegang gelas lebih erat. Ia bisa lihat perubahan itu, dan dalam hati mulai waspada. “Ada apa, Bu? Kalau mau cerita, silakan. Saya mah pendengar aja. Tapi kalau urusan rumah tangga, mungkin lebih baik sama suami atau keluarga.”
Eva menggeleng pelan, air matanya mulai menggenang—bukan air mata palsu, tapi campuran antara akting lama dari panggung dangdut dan rasa kesepian yang memang ada.
“Suami saya… Ustadz Kholil, dia baik, Pak. Nafkah lahir nggak pernah kurang. Rumah nyaman, makan enak, anak-anaknya juga hormat sama saya. Tapi… nafkah batin? Saya nggak tahu kalau dia sudah… loyo gitu. Umurnya kan beda jauh, saya pikir awalnya biasa aja, tapi ternyata…” Suaranya terputus, ia menunduk, tangannya memainkan ujung gamisnya, seperti gadis yang kebingungan.
Pak Darsa menelan ludah, merasa tidak nyaman. Ia tahu gosip kampung, tapi mendengar langsung seperti ini bikin dadanya sesak.
“Bu Ustadzah, itu urusan pribadi. Saya nggak pantas ikut campur. Mungkin bisa dibicarain baik-baik sama suami, atau minta nasihat kiai lain.”
Tapi Eva tak berhenti. Ia angkat wajah, matanya basah, suaranya semakin lirih, seperti bisikan rahasia. “Saya terpaksa nikah sama lelaki tua kayak gini, Pak. Dulu hidup saya beda, bebas, nyanyi-nyanyi, banyak yang naksir. Tapi sekarang? Saya merasa kayak burung di sangkar emas.”
Pak Darsa kembali menelan ludah.
“Kadang pengen kabur aja, cari pelarian yang bisa bikin hati senang lagi. Tapi takut dosa, Pak. Dosa besar kalau selingkuh atau tinggalin suami. Saya kan sekarang dipanggilnya saja ustadzah, orang kampung ngeliatin terus.
Tapi malam-malam sendirian, rasanya… hampa.” lanjutnya, tangannya “tak sengaja” menyentuh lutut Pak Darsa saat ia condong lebih dekat, aroma parfumnya menyeruak, manis dan menggoda.
Pak Darsa merasa panas dingin. Jantungnya berdegup kencang, bayangan-bayangan tak pantas mulai muncul di benaknya, yang selama ini ia kubur dalam-dalam demi setia pada almarhumah istrinya. Tangannya gemetar ingin menarik diri, tapi ia paksa tetap diam.
“Bu Ustadzah, jangan gitu. Saya paham susahnya, tapi hidup ini ujian. Saya sendiri lima tahun menduda, nggak pernah mikir yang macam-macam. Setia itu pilihan, bukan paksaan. Kalau Bu Ustadzah butuh nasihat, saya saranin sholat malam, minta petunjuk Gusti Allah. Jangan cari pelarian yang bisa bikin rusak semuanya.”
Eva tersenyum tipis di balik air mata, puas melihat Pak Darsa kelabakan meski berusaha kuat. Ia tahu, api itu sudah menyala pelan.
“Pak Darsa bijaksana banget. Makanya saya suka cerita sama Bapak. Mungkin besok saya mampir lagi, ya? Siapa tahu ada cara lain buat hilangin hampa ini.” Ia bangun pelan, menyentuh bahu Pak Darsa sekilas sebelum berbalik, langkahnya ringan meninggalkan pondok.
Pak Darsa duduk mematung, napasnya tersengal. “Ya Allah, jaga hati hamba,” gumamnya pelan, tangannya memegang dada. Sore mulai gelap, angin membawa bau tanah basah, tapi di hatinya, badai mulai bergolak. Di Cikupa, cerita seperti ini tak pernah berhenti di situ—besok, mungkin gosip baru akan mengalir lagi, lebih deras dari sebelumnya.
Ketika Eva sudah menghilang di balik pepohonan pinggir sawah, siluetnya lenyap ditelan senja yang mulai turun, Pak Darsa menghela napas panjang. Hatinya masih berdegup tak karuan, campur aduk antara lega dan gelisah.
“Ya Allah, ujian apa lagi ini,” gumamnya pelan, berdiri dari bangku pondok sambil menepuk-nepuk celananya yang berdebu. Ia ambil cangkul dan capingnya, berniat pulang ke rumah besarnya yang tak jauh dari sana. Langit jingga mulai memudar, angin sore membawa dingin tipis, dan suara jangkrik mulai bernyanyi pelan.
Tapi sebelum langkahnya benar-benar bergerak, matanya sedikit menyipit melihat sesosok perempuan di kejauhan. Itu Nisya, istri anak bungsunya Ustadz Kholil—perempuan muda berusia sekitar 23 tahun, cantik dengan kulit sawo matang dan langkah yang biasanya tenang seperti orang pesantren.
Tapi sore ini beda; ia tergesa-gesa, gamisnya berkibar cepat, kepala menunduk seolah menghindari tatapan orang, menuju ke arah hutan kecil di belakang sawah yang jarang dilewati orang.
“Ada apa Neng Nisya sore-sore ke hutan begini?” gumam Pak Darsa dalam hati, alisnya berkerut.
Hutan itu bukan tempat biasa untuk perempuan sendirian, apalagi menjelang magrib, penuh semak belukar, kadang ada ular atau binatang liar, dan gosip lama bilang itu tempat rahasia bagi yang ingin “sembunyi”.
Pak Darsa mundur sedikit ke balik pondok, tak ingin kelihatan, tapi rasa penasaran membuatnya tak bisa berpaling. Nisya berhenti sebentar di pinggir hutan, melirik kiri-kanan seperti memastikan tak ada yang melihat, lalu menyusup masuk ke dalam pepohonan.
“Anaknya Ustadz Kholil lagi sakit apa ya? Atau ada urusan mendadak?” pikir Pak Darsa, tapi instingnya bilang ada yang tak beres. Ia ingat gosip samar di warung kopi beberapa minggu lalu, tentang Nisya yang sering “keluar malam” sendirian, katanya cari obat untuk suaminya yang lemah, tapi mata kampung melihat lebih dari itu.
Tak lama kemudian, Pak Darsa kembali dikejutkan dengan seseorang yang sepertinya menyusul Nisya. Sosok itu muncul dari arah jalan setapak kampung, langkahnya cepat tapi hati-hati, jubah putihnya berkibar pelan. Itu Ustadz Asep, adik Ustadz Kholil, pria berusia 50-an dengan jenggot rapi dan suara tegas saat khotbah.
Ia melirik sekitar, lalu ikut menyusup ke hutan yang sama, tepat ke arah Nisya menghilang. Mereka memang paman dan keponakan ipar, Ustadz Asep paman suami Nisya, tapi ada sesuatu yang mencurigakan.
Kenapa sore-sore begini?
Kenapa tak bicara di rumah?
Pak Darsa merasa jantungnya berdegup lagi, ingat bisik-bisik di pos ronda: Ustadz Asep yang “lembut” pada menantu kakaknya, sering “bantu” urusan rumah tangga saat kakaknya sakit. “Jangan-jangan…” gumam Pak Darsa, tapi ia cepat gelengkan kepala, tak mau buruk sangka.
Dari balik pondok, Pak Darsa mengamati pelan. Tak ada suara, hanya daun bergoyang dan angin yang semakin dingin. Rasa penasarannya mulai tumbuh.
Pak Darsa tak berani mendekat lebih jauh, takut ketahuan dan bikin ribut. Namun rasa penasarannya tak bisa lagi di tahan. Akhirnya dia mengendap-endap mencari keberadaan mereka.
Bersambung…
Pak Darsa menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan degup jantungnya yang semakin kencang seperti genderang perang. Angin sore yang tadinya sejuk kini terasa menusuk tulang, membawa bau tanah basah dan daun kering yang bergesekan pelan.
Ia melirik kiri-kanan, memastikan tak ada buruh sawah yang tertinggal atau tetangga yang kebetulan lewat. Sawah luasnya kini sepi, hanya bayang-bayang pohon tinggi di pinggir hutan yang mulai memanjang seperti jari-jari hantu. “Cuma sebentar,” gumamnya dalam hati, meyakinkan diri sendiri, meski kakinya gemetar saat melangkah keluar dari balik pondok.
Dengan hati-hati, ia mengendap-endap menyusuri pematang sawah yang licin karena embun sore, cangkulnya ditinggal di pondok agar tak menimbulkan suara. Setiap langkah diukur, kakinya menghindari ranting kering yang bisa patah dan mengkhianati keberadaannya.
Angin berhembus lagi, membawa suara gemerisik daun yang seperti bisikan rahasia, menambah ketegangan di dadanya. Hutan kecil itu tak jauh—hanya seratus meter, tapi rasanya seperti perjalanan panjang penuh jebakan. Pikirannya berputar liar:
“Kalau beneran ada apa-apa, ini bisa bikin kampung meledak. Ustadz Asep… Nisya… ya Allah.”
Semakin dekat, suara angin bercampur dengan bisik-bisik samar, seperti hembusan napas yang tertahan. Pak Darsa berhenti di balik semak belukar, tubuhnya merunduk rendah, mata menyipit menembus celah daun. Di sana, di balik pohon waru tua yang batangnya tebal dan berlumut, ia melihat mereka: Nisya dan Ustadz Asep.
Posisi mereka sangat mencurigakan, berdiri terlalu dekat, hampir bersentuhan, di tempat yang tersembunyi dari pandangan jalan setapak. Nisya menunduk, gamisnya yang panjang bergoyang pelan oleh angin, tapi tangannya… ya Tuhan, tangannya menyentuh lengan Ustadz Asep dengan lembut, seperti pegangan yang tak ingin lepas.
Ustadz Asep bicara bisik-bisik, suaranya rendah dan tak terdengar jelas dari jarak itu—mungkin soal “urusan keluarga” atau “nasihat,” tapi nada suaranya bukan seperti paman pada keponakan ipar. Sorot matanya intens, penuh arti yang dalam, menatap Nisya seperti melihat harta karun yang lama disembunyikan.
Nisya angkat wajah, matanya basah oleh air mata atau mungkin embun, tapi senyum tipisnya tak bisa bohong—ada campuran malu dan gembira di sana. Mereka semakin dekat, bahu Ustadz Asep menyentuh bahu Nisya, napas mereka seolah bercampur dalam hembusan angin.
Pak Darsa merasa dadanya sesak; ini bukan obrolan biasa. Ini seperti adegan dari gosip warung kopi yang jadi nyata, paman ipar yang “bantu” menantu kakaknya, di saat suami Nisya lemah dan atau sering pergi berdakwah.
Jantung Pak Darsa berdegup lebih kencang, keringat dingin mengalir di punggungnya. Ia ingin mendekat lagi, mendengar kata-kata mereka, tapi kakinya membeku.
“Kalau ketahuan, tamat riwayatku,” pikirnya panik.
Tiba-tiba, angin berhembus lebih kencang, membuat daun bergoyang hebat dan menutupi pandangannya sesaat. Saat daun tenang lagi, ia lihat Ustadz Asep menyentuh pipi Nisya pelan, jarinya menyeka sesuatu, air mata? Atau hanya alasan untuk sentuhan itu? Nisya tak mundur, malah condong sedikit, mata mereka saling bertaut intens, seperti api yang siap membakar rahasia.
Tubuah Pak Darsa seperti dibekukan oleh angin malam yang semakin dingin, tapi matanya tak bisa lepas dari adegan di depannya. Di balik semak belukar yang lebat, ia menyaksikan bagaimana tangan Ustadz Asep, yang biasanya mengacungkan jari saat khotbah di masjid, kini mulai bergerak pelan tapi pasti.
Jari-jarinya yang panjang dan kasar, mungkin dari kebiasaan menggenggam tasbih atau membalik halaman Al-Qur’an, menyentuh pipi Nisya lagi, tapi kali ini bukan sekadar menyeka air mata. Sentuhan itu berlama-lama, ibu jarinya mengusap lembut kulit halus Nisya yang memerah karena campuran malu dan gairah yang tak bisa disembunyikan.
Nisya menunduk sesaat, napasnya terdengar lebih berat, dada gamisnya naik-turun seperti ombak kecil yang gelisah. Tapi ia tak mundur; malah, tangannya yang ramping—tangan yang biasa mengurus rumah tangga dan memasak untuk suaminya—meraih lengan Ustadz Asep lebih erat, seperti mencari pegangan di tengah badai rahasia mereka.
Ustadz Asep tersenyum tipis, matanya yang biasa penuh wibawa kini berkilat dengan hasrat yang lama dipendam. “Nisya… kita harus hati-hati,” bisiknya pelan, suaranya serak seperti hembusan angin yang membawa janji-janji terlarang.
Tangan Ustadz Asep turun pelan, menyusuri leher Nisya yang jenjang, merasakan denyut nadi yang semakin cepat di sana. Nisya menggigit bibir bawahnya, matanya tertutup sejenak, seolah menyerah pada sensasi itu.
Angin sore kembali berhembus, membuat daun-daun bergoyang dan menambah suasana yang semakin tegang, tapi keduanya tak peduli.
Tangan itu terus bergerak ke bawah, menyentuh bahu Nisya, lalu dengan lembut tapi tegas, meraih payudaranya yang membusung di balik kain gamis yang tipis.
Jari-jarinya meremas pelan, merasakan kelembutan dan kehangatan di sana, melalui kain yang sudah lembab karena keringat atau mungkin embun malam yang mulai turun.
Nisya menghela napas panjang, tubuhnya sedikit gemetar, tapi bukannya menolak, tangannya justru balas menyentuh dada Ustadz Asep. Di balik jubah panjangnya yang biasa dikenakan saat mengajar ngaji, Nisya merasakan otot-otot yang tegang, dada yang naik-turun dengan napas yang semakin cepat.
Jari-jarinya menyusuri garis dada itu, meraba-raba dengan rasa ingin tahu yang campur aduk antara rasa bersalah dan kenikmatan. “Ustadz… ini salah,” gumam Nisya pelan, suaranya seperti bisikan angin, tapi tangannya tak berhenti. Malah, ia meremas pelan dada Ustadz Asep, merasakan detak jantungnya yang seirama dengan miliknya sendiri.
Pak Darsa menelan ludah, matanya membelalak tapi tak bisa berpaling. Ia melihat bagaimana Ustadz Asep semakin berani; tangan kirinya tetap meremas payudara Nisya, jempolnya mengusap puting yang mengeras di balik kain, membuat Nisya mendesah pelan, suara yang seperti angin yang terperangkap di antara daun-daun.
Tangan kanannya turun lebih rendah, menyusuri perut Nisya yang datar, lalu dengan hati-hati menyentuh selangkangannya.
Kain gamis Nisya yang panjang itu digeser sedikit ke atas, dan ternyata—seperti dugaan Pak Darsa yang membuatnya semakin terkejut—Nisya tak mengenakan celana dalam. Mungkin sudah direncanakan, mungkin untuk memudahkan pertemuan rahasia ini di tengah hutan kecil yang sepi.
Jari Ustadz Asep menyentuh area sensitif itu dengan lembut, meraba-raba lipatan-lipatan hangat yang sudah lembab, membuat Nisya menggigit bibir lebih kuat untuk menahan erangan. Ia condong ke depan, bahunya menyandar pada batang pohon waru yang kasar, lumutnya yang hijau menempel di punggung gamisnya.
“Ah… Pamaaaan,” desah Nisya, suaranya terputus-putus seperti hembusan angin yang tak beraturan. Tangannya tak tinggal diam; dengan gemetar tapi penuh hasrat, Nisya meraih selangkangan Ustadz Asep melalui jubahnya.
Dan ya, Ustadz Asep juga tak mengenakan celana dalam—mungkin sudah dipersiapkan untuk momen ini, membuat segalanya lebih mudah di tempat yang tersembunyi ini.
Jari-jari Nisya meraba-raba tonjolan yang semakin mengeras di sana, meremas pelan melalui kain jubah yang tipis, merasakan panas dan denyut yang semakin kuat. Ustadz Asep mendesah pelan, matanya tertutup sejenak, tubuhnya mendekat lebih rapat pada Nisya.
Mereka saling meraba seperti itu untuk beberapa saat yang terasa panjang, angin sore yang dingin kontras dengan panas yang membara di antara mereka.
Tangan Ustadz Asep bergerak lebih dalam di selangkangan Nisya, jarinya menyusuri dan menekan titik-titik sensitif, membuat tubuh Nisya bergetar dan kakinya melemah, semakin bersandar pada pohon untuk penopang.
Nisya balas dengan lebih berani, tangannya menyusup ke balik jubah Ustadz Asep, menyentuh langsung kulit hangat dan tonjolan yang sudah siap. Ia meremas dan mengusap pelan, gerakannya lambat tapi penuh arti, seperti membalas setiap sentuhan yang diberikan padanya.
Suara desahan mereka bercampur dengan gemerisik daun, membuat Pak Darsa merasa seperti sedang menyaksikan mimpi buruk yang hidup. “Ya Allah, ini beneran?” gumamnya dalam hati, keringat dingin semakin deras mengalir.
Tak lama kemudian, hasrat mereka tak bisa lagi ditahan. Ustadz Asep mengangkat jubahnya sendiri sedikit ke atas, memperlihatkan bagian bawah tubuhnya yang sudah siap, sementara Nisya mengangkat gamisnya dengan tangan yang gemetar, kain panjang itu tersingkap hingga pinggang, memperlihatkan kulit paha yang putih dan halus.
Mereka tak telanjang bulat, hanya bagian yang diperlukan yang terbuka, kain-kain itu masih menutupi sebagian besar tubuh mereka, membuat adegan ini semakin seperti rahasia yang tergesa-gesa di tengah alam yang tak peduli.
Ustadz Asep mendekat, tubuhnya menekan Nisya yang bersandar pada pohon waru, batangnya yang kasar menjadi penopang bagi punggung Nisya. Dengan gerakan pelan tapi tegas, Ustadz Asep memasuki Nisya, membuatnya mendesah panjang, matanya tertutup rapat sambil menggigit bibir.
Mereka melakukan persetubuhan sambil berdiri seperti itu, gerakan Ustadz Asep lambat pada awalnya, merasakan setiap inci kehangatan dan kelembaban, sementara tangan Nisya memeluk lehernya, jari-jarinya mencengkeram jubah untuk menahan keseimbangan.
Angin berhembus lagi, membuat kain gamis Nisya bergoyang seperti layar kapal yang terguncang badai, tapi keduanya tak berhenti.
Gerakan semakin cepat, desahan Nisya semakin terdengar jelas—suara yang campur antara kenikmatan dan rasa bersalah, “Pamaaan Ustaaadz… lebih dalam,” bisiknya pelan, suaranya terputus oleh napas yang tersengal.
Ustadz Asep merespons dengan dorongan yang lebih kuat, tangannya meremas payudara Nisya lagi melalui kain, membuatnya menggelinjang. Pohon waru seolah menjadi saksi bisu, lumutnya yang lembab menempel di punggung Nisya, menambah sensasi kasar yang kontras dengan kelembutan sentuhan mereka.
Mereka terus seperti itu untuk waktu yang terasa lama, tubuh saling bergesekan, napas bercampur, keringat membasahi kain yang sudah kusut. Nisya mengangkat satu kakinya sedikit, melingkarkannya di pinggang Ustadz Asep untuk kedalaman yang lebih, membuat gerakan semakin intens.
Desahan mereka semakin keras, tapi masih tertahan oleh angin dan gemerisik daun, seolah alam sendiri ikut menyembunyikan dosa ini. Pak Darsa merasa mual, tapi matanya tetap terpaku, jantungnya berdegup seperti akan meledak.
Cerita Sex Dinda Kirana
Akhirnya, setelah gelombang demi gelombang kenikmatan yang memuncak, Ustadz Asep mendesah panjang, tubuhnya menegang sebelum akhirnya rileks, sementara Nisya menggigit bahu jubahnya untuk menahan jeritan kecil.
Mereka berhenti, napas tersengal, tubuh masih saling menempel. Ustadz Asep mundur pelan, menurunkan jubahnya, sementara Nisya merapikan gamisnya dengan tangan gemetar, wajahnya memerah dan mata basah.
“Ini terakhir kali,” bisik Ustadz Asep, tapi nada suaranya tak meyakinkan, seperti janji yang sudah berkali-kali diucapkan.
Bersambung…
Pak Darsa mundur lebih jauh, langkahnya hati-hati agar tak menimbulkan suara, pikirannya berputar liar tentang apa yang harus dilakukannya selanjutnya. Rahasia ini terlalu besar untuk disimpan sendirian.
Pak Darsa merasa lututnya lemas, hampir ambruk di tempat. Tubuhnya yang biasanya kokoh karena bertahun-tahun menggarap sawah kini terasa seperti daun kering yang siap diterbangkan angin. Napasnya tersengal pendek-pendek, mulutnya kering seperti habis menelan debu panas di musim kemarau.
Ia mundur lagi, satu langkah, dua langkah, sampai punggungnya menyentuh batang pohon jati kecil di belakang semak. Tangannya mencengkeram kulit pohon itu keras-keras, seolah mencari pegangan agar tak jatuh, atau agar tak berteriak.
Di depannya, Nisya dan Ustadz Asep masih saling merapikan pakaian dengan gerakan tergesa. Gamis Nisya sudah diturunkan kembali, meski kusut dan sedikit berlumur tanah di bagian pinggang.
Ustadz Asep menarik jubahnya ke bawah, lalu dengan cepat merapikan sorban yang sedikit miring di kepalanya, seolah ingin segera kembali menjadi sosok yang dikenal seluruh kampung: ustadz yang lembut bicara, yang selalu mengingatkan umat tentang dosa dan taubat.
Nisya menunduk, menyeka pipinya dengan ujung lengan gamis. Wajahnya masih merah, tapi kini lebih karena malu yang terlambat daripada gairah. “Paman Ustadz… kalau ada yang tahu…” suaranya hampir tak terdengar, terbawa angin.
“Tak ada yang tahu,” potong Ustadz Asep cepat, suaranya sudah kembali ke nada tenang yang biasa ia pakai saat khotbah Jumat. “Kita sudah hati-hati. Ini tempat yang aman. Dan… Paman janji ini yang terakhir, Nisya. Sungguh.”
Nisya hanya mengangguk lemah, tapi matanya tak menatap wajah Ustadz Asep. Pandangannya jatuh ke tanah, ke rumput yang baru saja mereka injak bersama.
‘Punya Paman Ustadz sama aja sama suamiku kurang memuaskan. Duh makin penasaran sama punya Pak Darsa. Gosipnya rame banget punya dia luar biasa,’ batin Nisya.
Pak Darsa merasakan sesuatu yang panas naik ke tenggorokannya—campuran antara amarah, jijik, dan rasa tak percaya yang membuat kepalanya pening. Ia ingin berteriak.
Ingin lari ke sana, menarik Ustadz Asep dari kerah jubahnya, dan menampar Nisya sampai sadar. Ingin memanggil seluruh kampung supaya mereka lihat sendiri apa yang dilakukan oleh orang yang selama ini mereka hormati sebagai “9uru agama” dan menantu yang “penurut”.
Tapi kakinya tak bergerak.
“Kalau aku maju sekarang… apa yang terjadi?” pikirnya berulang-ulang, seperti mantra yang tak bisa menenangkan. “Mereka bisa bilang aku bohong. Atau lebih buruk lagi—mereka bisa bilang aku yang mengada-ada karena iri. Atau… ya Allah, kalau mereka bilang aku mata-mata, pengintip… malu aku, Pak Darsa, malu aku di depan istri dan anak-anak.”
Ia membayangkan wajah anak, menantu dan cucu-cucunya yang akan memucat karena malu dan marah.
Dan yang paling menakutkan: kalau sampai terbongkar, bisa jadi ada pembunuhan. Bisa jadi ada orang gila karena malu. Bisa jadi rumah tangga hancur, anak-anak yatim piatu secara hidup.
Dan Pak Darsa tahu, dalam hati kecilnya, bahwa ia bukan pahlawan. Ia hanya seorang insan berusia senja yang hidupnya ingin tenang yang masih takut kehilangan nama baiknya.
Ustadz Asep dan Nisya mulai berpisah. Ustadz Asep berjalan lebih dulu, menyusuri jalur kecil menuju jalan kampung, langkahnya cepat tapi berusaha terlihat biasa.
Nisya menyusul beberapa menit kemudian, dari arah yang berbeda, supaya tak terlihat keluar bersama. Mereka sudah mahir melakukan ini, pikir Pak Darsa dengan getir. Sudah bukan pertama kali.
Saat bayangan mereka menghilang di balik pepohonan, Pak Darsa baru berani berdiri tegak. Tubuhnya masih gemetar.
Ia menatap pohon waru tua itu—batangnya yang berlumut, tempat punggung Nisya tadi bersandar, tempat dosa itu terjadi. Pohon itu diam saja, seperti tak peduli. Alam tak pernah menghakimi.
Pak Darsa menoleh ke arah rumahnya yang jauh. Cangkulnya masih tergeletak di sana, seperti mengingatkan bahwa hidupnya seharusnya sederhana: bekerja, pulang, makan, tidur. Tapi malam ini, segalanya berubah.
Ia mulai berjalan pulang, langkahnya pelan dan berat. Setiap langkah terasa seperti membawa batu besar di dada. Pikirannya berputar liar:
Diam saja, pura-pura tak tahu.
Ceritakan ke teman sebaya, biar ada yang tahu.
Sampaikan ke suami Nisya yang sedang berdakwah di luar kota.
Atau… langsung ke Ustadz Asep, bicara empat mata, minta berhenti.
Tapi setiap pilihan terasa seperti jurang yang sama dalamnya.
Sampai di rumah, ia duduk di ambang pintu, menatap sawah yang gelap. Angin sore menuju malam semakin dingin, tapi keringat masih mengucur di dahinya. Ia menggenggam tangannya sendiri, jari-jarinya saling mencengkeram keras sampai terasa sakit.
“Ya Allah,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. “Tunjukkan jalan yang benar. Aku takut salah langkah… aku takut jadi bagian dari dosa ini kalau aku diam. Tapi aku juga takut kalau bicara, malah jadi fitnah.”
Malam itu, Pak Darsa tak tidur. Ia hanya duduk di situ, menunggu fajar, menunggu kekuatan untuk memutuskan apa yang harus ia lakukan dengan rahasia yang kini menggerogoti jiwanya seperti rayap di kayu tua.
Dan di kejauhan, suara adzan Subuh mulai berkumandang, lembut tapi mengiris, seolah mengingatkan bahwa waktu terus berjalan—dan dosa, mau disembunyikan sehati-hati apa pun, pada akhirnya akan menuntut bayaran.
^*^
Pak Darsa berdiri di saf paling belakang mushola kecil itu, tubuhnya ikut bergerak mengikuti takbiratul ihram, tapi hatinya terasa seperti batu yang mengganjal.
Di depan, Ustadz Asep berdiri tegak sebagai imam, suaranya yang merdu membaca surah Al-Fatihah dengan tartil yang biasa membuat jamaah khusyuk.
Tapi bagi Pak Darsa, setiap ayat yang keluar dari mulut Ustadz Asep terasa seperti jarum yang menusuk telinga dan dada sekaligus.
“Subhanaka Allahumma wabihamdika…”
Pak Darsa mencoba menutup mata, mencoba fokus pada gerakan rukuk dan sujud, tapi bayangan kemarin sore di balik pohon waru terus muncul: tangan Ustadz Asep yang meraba, gamis Nisya yang tersingkap, desahan yang tertahan angin. Setiap kali Ustadz Asep mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah”, Pak Darsa merasa ingin menjawab
“Rabbana wa lakal hamd” dengan suara yang keras, seolah ingin mengingatkan bahwa Tuhan mendengar segalanya, termasuk yang disembunyikan di hutan kecil itu.
Shalat selesai. Salam pertama ke kanan, salam ke kiri. Para jamaah mulai berdoa pribadi, beberapa berjabat tangan. Ustadz Asep berjalan ke arah saf belakang, tersenyum ramah seperti biasa, menyalami tangan-tangan yang terulur.
Ketika giliran Pak Darsa, tangan Ustadz Asep menyentuh telapak tangannya—hangat, kering, seperti tak pernah melakukan apa-apa semalam.
“Semangat pagi, Pak Darsa. Sawahnya bagaimana?” tanya Ustadz Asep dengan nada santai.
Pak Darsa hanya mengangguk kaku. “Alhamdulillah, Ustadz,” jawabnya singkat, lalu buru-buru menarik tangan dan berjalan keluar mushola. Dadanya terasa sesak, seolah udara pagi yang segar tak cukup untuk mengisi paru-parunya.
Ia tak langsung pulang. Kakinya justru membawanya ke warung Pak Rosid, saudara sepupunya yang terletak di pinggir jalan kampung, tak jauh dari mushola.
Warung itu sudah ramai seperti biasa setiap pagi: ibu-ibu membeli minyak goreng, sabun colek, roti tawar, dan telur ayam. Anak-anak SD berhamburan membeli permen dan gorengan sebelum berangkat sekolah.
Pak Rosid, yang sedang menggoreng pisang di belakang meja, langsung melambai begitu melihat Pak Darsa masuk. “Masuk, Kang Darsa! Kopi apa teh?”
“Kopi, Sid. Pahit. Panas,” jawab Pak Darsa sambil duduk di bangku kayu panjang yang sudah licin karena bertahun-tahun dipakai.
Tak lama, secangkir kopi hitam mengepul sudah terhidang. Aroma kopi tubruk yang kuat sejenak mengalihkan pikiran Pak Darsa. Ia meniup uapnya pelan, lalu menyeruput sedikit. Panasnya menyengat lidah, tapi justru terasa enak—seperti hukuman kecil yang ia terima pagi ini.
Pak Rosid menyeka tangan ke celemek, lalu duduk di seberangnya. “Kok pagi-pagi udah muka kusut gitu, Kang? Sawah banjir lagi?”
Pak Darsa menggeleng pelan. Ia sebenarnya datang dengan niat: ingin menasihati sepupunya ini. Sudah beberapa minggu terakhir terdengar bisik-bisik di kampung—Pak Rosid katanya sering terlihat berduaan dengan Ustadzah Eva, istrinya Ustadz Kholil yang baru pindah ke kampung setengah tahun lalu. Ustadzah Eva yang cantik, yang suaranya lembut konon sering “minta tolong pada lelaki manapun.”
Pak Darsa sudah berniat bicara blak-blakan: “Sid, hati-hati. Orang kampung mulai ngomongin kamu sama Ustadzah Eva. Jangan sampai jadi bahan gunjingan. Kamu kan sudah beristri, anak lima. Kalau sampai ketahuan sama anak-anak Ustad Kholil, gimana?” Tapi kata-kata itu seperti tersangkut di tenggorokan.
“Eh, Sid,” Pak Darsa akhirnya membuka mulut, tapi suaranya pelan. “Kamu… akhir-akhir ini baik-baik aja kan?”
Pak Rosid tertawa kecil, mengibaskan tangan. “Baik dong, Kang. Kenapa tiba-tiba nanya gitu? Akang kok kayak orang mau ngasih wejangan.”
Pak Darsa menyeruput kopi lagi, mencari kekuatan. Tapi saat itu, seorang ibu masuk membeli dua bungkus mi instan dan sebotol kecap. Lalu menyusul bapak-bapak yang minta rokok kretek.
Lalu anak kecil minta tambah gula di tehnya. Warung kecil itu tiba-tiba ramai, suara orang saling sapa, tawar-menawar harga telur, dan bunyi koin logam di meja kasir.
Pak Rosid bangun, melayani pelanggan satu per satu dengan cekatan. “Bentar ya, Kang Darsa. Ini pagi-pagi emang gini. Nanti kalau agak sepi kita ngobrol.”
Pak Darsa mengangguk, tapi dalam hati ia tahu: mungkin ini bukan saat yang tepat. Atau mungkin ia sendiri yang tak cukup berani. Ia melihat Pak Rosid tertawa lepas saat mengobrol dengan pelanggan, wajahnya cerah, tak ada tanda-tanda rasa bersalah.
Dan tiba-tiba Pak Darsa bertanya pada diri sendiri: “Apa aku biarkan saja segalanya terjadi, toh dosa-nya juga ditanggung masing-masing? Atau… apa aku cuma pengecut yang lebih suka diam?”
Ia menatap kopinya yang mulai dingin. Uapnya sudah hilang. Seperti semangatnya pagi ini untuk bicara jujur.
Beberapa menit kemudian, ketika warung mulai agak lengang, Pak Rosid kembali duduk. “Nah, sekarang cerita. Ada apa sebenarnya, Kang?”
Pak Darsa menatap mata sepupunya itu lama. Banyak hal yang ingin dikatakan: tentang Ustadz Asep dan Nisya, tentang bisik-bisik yang mulai beredar tentang dirinya dan Ustadzah Eva, tentang betapa rapuhnya kepercayaan di kampung kecil ini.
Tapi yang keluar dari mulutnya hanya kalimat pendek: “Jaga nama baik keluarga, Sid. Itu aja.”
Pak Rosid mengernyit, tapi lalu tertawa lagi. “Lha, iya dong, Kang. Emangnya saya nakal? Akang kok kayak orang takut saya kabur bawa istri orang.”
Pak Darsa tersenyum tipis, tapi senyum itu tak sampai ke mata. Ia menyeruput sisa kopi dinginnya, lalu berdiri. “Akang balik dulu, Sid. Katanya Devi mau menelpon pagi ini.”
“Eh, bayar dulu, Kang!” Pak Rosid bercanda sambil menunjuk cangkir kosong.
Pak Darsa mengeluarkan uang lima ribu, meletakkannya di meja, lalu berjalan keluar. Matahari pagi sudah mulai naik, menerangi sawah yang basah embun. Di kejauhan, terdengar suara ayam berkokok dan anak-anak berlari ke sekolah.
Tapi di dalam dada Pak Darsa, kegelapan masih menggelayut. Ia tahu, rahasia yang ia simpan dan rahasia yang mungkin disembunyikan sepupunya sendiri sedang menunggu waktu untuk meledak.
Dan ia tak yakin, apakah ia akan punya keberanian untuk menghentikannya, atau justru akan ikut terbakar bersama.
Bersambung…
Pak Rosid segera membuka ponselnya siang itu.
[Dirumah sedang kosong] Pesan dari Eva dan dia tahu apa itu makdusnya.
Setelah pembeli itu selesai dilayani, hati Pak Rosid sudah tak menentu. Ia buru-buru meninggalkan warung yang kini sepi, dan berjalan cepat menuju rumahnya yang tak jauh.
Sampai di rumah, ia menemui istrinya yang sedang duduk santai di ruang tengah, menonton televisi sambil mengupas singkong untuk dijual.
“Bu, tolong gantian jaga warung sebentar ya. Bapak mau ke sawah, irigasinya mampet lagi kaya kemarin. Nggak lama kok,” pesanya, nadanya dibuat biasa saja, meskipun alasannya sudah jadi dalih lama yang sering ia gunakan untuk keluar tanpa dicurigai.
Istrinya mengangguk tanpa banyak tanya, sudah terbiasa dengan rutinitas seperti ini. “Ya sudah, Mama ke warung sekarang. Hati-hati di sawah, jangan lama-lama, Pak” balasnya sambil bangkit dan merapikan kerudungnya sebelum berjalan ke warung.
Begitu istrinya pergi dan mulai melayani pembeli yang menunggu, Pak Rosid segera menyelinap keluar lewat pintu belakang, menuju jalan setapak yang mengarah ke kebun singkong Bah Mardi.
Kakinya melangkah tergesa-gesa, tapi matanya tetap waspada mengawasi sekitar. Tujuannya jelas: rumah Ustadz Qosim, yang berjarak kira-kira 200 meteran.
Jantungnya berdegup kencang, campuran antara adrenalin dan antisipasi. Pesan Eva tentang dirinya yang sendirian di rumah terngiang-ngiang, menjadi pemacu langkahnya yang semakin cepat, menyusuri jalan setapak di antara pohon singkong, menuju pertemuan terlarang itu.
Pak Rosid tiba di halaman belakang rumah Ustadz Qosim, menyelinap masuk seperti pencuri, hatinya berdebar tak karuan. Pintu belakang rumah Eva sedikit terbuka.
Dari celah itu, Pak Rosid melihat Eva sedang mencuci piring di wastafel dapur. Ia kini mengenakan daster pendek yang tipis, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang menggoda.
Pak Rosid tertegun, pandangannya terpaku pada paha Eva yang sangat indah, mulus, dan tentu saja, pantatnya yang sangat montok, terlihat jelas di balik daster tipis itu, Eva merasakan kehadiran Pak Rosid. Ia menoleh, senyum manis langsung mengembang di wajahnya. Matanya berbinar nakal.
“Eh, Pak Rosid. Sudah datang rupanya,” sambutnya genit, suaranya sedikit parau, seolah tahu Pak Rosid akan menyusulnya.
Ia mematikan keran air, tangannya mengusap sisa sabun dari piring yang baru dicuci. Gerakannya lambat, penuh godaan, membuat pandangan Pak Rosid semakin sulit berpaling dari paha dan pantatnya yang memikat.
Pak Rosid melangkah masuk, menutup pintu belakang dengan hati-hati dan menguncinya. Udara di dapur terasa hangat, bercampur aroma sabun cuci piring dan wangi tubuh Eva yang sensual.
“Saya… saya nggak bisa menolak ajakan, Bu Ustadzah,” katanya, suaranya sedikit serak, matanya tak lepas dari sosok Eva di depannya. Gairah yang tertahan sejak beberapa hari lalu, kini meledak dalam dirinya, melihat Eva yang seolah sengaja tampil begitu menggoda.
Eva tertawa kecil, melangkah mendekat, tangannya meraih tangan Pak Rosid, “Saya sudah siap kok, Pak Rosid. Sudah lama nungguin Bapak datang,” bisiknya, matanya memancarkan hasrat yang sama.
Dengan nafsu yang memburu, Pak Rosid langsung memeluk Eva dan menciuminya, Eva pun membalasnya dengan gairah yang sama.
Mulut mereka berpadu saling bertukar saliva dan lidah mereka bermain, tangan keduanya merambah kemana-mana, mengelus dan meremas apa yang bisa mereka remas.
Tubuh Eva menempel erat pada dada Pak Rosid, tangannya meremas punggung pria itu melalui kemeja, sementara Pak Rosid tak ragu meremas pantat montok Eva yang terasa kenyal di balik daster tipis.
Ciuman mereka semakin liar, napas tersengal bercampur desahan pelan, dapur yang tadi sepi kini dipenuhi suara basah dari bibir yang saling mengejar.
Pak Rosid mendorong Eva pelan ke arah meja dapur, tangannya naik meremas payudara Eva yang montok, membuat wanita itu menggelinjang dan mendesah di sela ciuman.
“Bu… kamu bener-bener bidadari,” gumam Pak Rosid parau, lidahnya menelusuri leher Eva, sementara tangan Eva merayap ke selangkangan pria itu, merasakan tonjolan yang sudah mengeras di balik celana.
Eva tertawa kecil di antara desahan, tangannya membuka kancing kemeja Pak Rosid dengan cepat, meremas dada berbulu pria itu. “Saya juga, Pak… suami saya nggak pernah begini,” balasnya genit, pinggulnya bergoyang menggosokkan dirinya ke Pak Rosid, hasrat mereka semakin membara di rumah sepi itu, tak peduli risiko yang mengintai di luar sana.
Pak Rosid semakin menggila, khayalan tentang pantat dan lubang belakang Eva semakin membuatnya seperti orang kerasukan. Dengan tatapan liar, dia lantas membalikkan Eva dan mendorongnya hingga wanita itu sedikit membungkuk di tepi meja dapur.
Daster pendek Eva terangkat, mengekspos paha mulusnya dan sebagian besar pantat montoknya yang kini terasa semakin menggiurkan di hadapan lelaki yang sangat terobsesi dengan pantat dan lubang belakang wanita, sejak dia masih remaja. Baginya, itu adalah puncak kenikmatan, sebuah fantasi yang kini terhampar nyata di depan matanya.
Eva terkesiap, terkejut tapi tak menolak. Ia hanya bisa mendesah pasrah saat Pak Rosid merapatkan tubuhnya dari belakang. Tangan Pak Rosid dengan cepat menurunkan daster Eva lebih jauh dan menarik celanan dalamnya, mengekspos sepenuhnya pantat montok itu.
Napas Pak Rosid terengah-engah, pandangannya terpaku pada pemandangan di depannya. Tangan kirinya meremas pantat Eva yang kenyal, sementara tangan kanannya merayap ke depan, menggapai vagina Eva dari bawah, merasakan kebasahan dan kehangatan yang menggodanya. “Buuu.. ahh… pantatmu bener-bener sempurna,” desis Pak Rosid, suaranya serak dipenuhi hasrat.
Eva menggeliat pelan, kepalanya menoleh sedikit ke belakang, matanya memancarkan campuran kegairahan dan sedikit kecemasan.
“Pak… jangan di sini… nanti ketahuan,” bisiknya, tapi pinggulnya justru bergerak mengikuti irama tangan Pak Rosid, seolah mengundang pria itu untuk lebih berani.
Aroma tubuh mereka bercampur, dapur sepi itu menjadi saksi bisu dari obsesi terlarang Pak Rosid yang kini menemukan salurannya pada Eva yang juga haus akan sentuhan. Pak Rosid menunduk, kedua tangannya membuka belahan pantat Eva yang montok itu dengan gerakan cepat namun sensual.
Daster pendek Eva sudah tersingkap hingga ke pinggang, memperlihatkan keseluruhan bagian intimnya yang ranum. Pandangan Pak Rosid terpaku pada lubang anus Eva yang kecil dan rapat, dikelilingi bulu-bulu halus yang menawan. Tanpa ragu, lidahnya mulai bermain di area sensitif itu.
“Ooooh Paaaak!” Eva tersentak kaget, sebuah desahan panjang lolos dari bibirnya. Tubuhnya melengkung kaku, jemarinya mencengkeram erat tepi meja dapur, mencoba menahan gelombang sensasi yang tiba-tiba menyerbu seluruh syarafnya.
Walaupun sudah pernah bermain dengan beberapa lelaki sebelumnya, termasuk mantan-mantan suaminya terdahulu, namun baru kali ini ia merasakan sesuatu yang berbeda, sensasi yang benar-benar asing dan tak terduga.
Jilatan Pak Rosid pada anusnya, yang lembut namun presisi, benar-benar menumbulkan rasa yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Sebuah getaran aneh menjalari tulang punggungnya, lalu menyebar ke seluruh tubuh, membuat kakinya terasa lemas tak bertulang.
“Aahh… Pak Rosid… ini… ahhh…” desahnya parau, kepalanya terkulai ke samping, matanya terpejam rapat.
Lidah Pak Rosid bergerak semakin lincah dan liar, menghisap dan menjilat area sensitif itu dengan ritme yang semakin cepat, sesekali menyelipkan ujung lidahnya masuk ke dalam lubang anus Eva, lalu menariknya keluar perlahan.
Sensasi baru ini, campuran antara geli, terkejut, dan kenikmatan yang memabukkan, membuat Eva hampir tak bisa bernapas. Ia merasa tubuhnya meledak-ledak, hasrat yang selama ini ia kira sudah ia pahami, kini menemukan dimensi baru yang begitu intens.
Pinggulnya tanpa sadar bergoyang, mencoba mengikuti irama permainan lidah Pak Rosid, memohon lebih, lebih dalam, hingga seluruh tubuhnya terbakar oleh kenikmatan terlarang itu.
Pak Rosid yang sudah kalap oleh fantasi dan hasrat yang memuncak, tanpa pikir panjang langsung melepaskan celananya. Batangnya yang sudah mengeras dan berdenyut kini terpapar sepenuhnya, ujungnya mengkilap oleh cairan pra-ejakulasi yang menetes pelan.
Ia mengangkat tubuh Eva sedikit, tangan kirinya memegang pinggul wanita itu erat untuk menjaga posisi, sementara tangan kanannya mengarahkan penisnya yang keras dan tegak tepat pada anus Eva yang masih terasa hangat dan licin dari jilatan lidahnya tadi.
Lubang kecil itu, yang baru saja dirangsang, kini terasa rapat dan mengundang, membuat Pak Rosid menelan ludah dengan napas terengah-engah.
Eva tersentak kaget, mata terbelalak lebar saat merasakan tekanan ujung penis Pak Rosid di area yang begitu sensitif dan asing baginya. Rasa terkejut bercampur takut menyergapnya seperti gelombang dingin.
“Jangan, Pak Rosid! Jangan di situ… sakit! Saya takut!” serunya panik, suaranya bergetar, mencoba menggeliat dan mendorong dada pria itu dengan kedua tangannya yang gemetar.
Pinggulnya berusaha mundur, tapi posisi membungkuk di meja dapur membuatnya tak berdaya. Pengalaman ini benar-benar di luar dugaannya, melampaui batas-batas kenikmatan yang ia cari, ini bukan lagi permainan biasa, tapi sesuatu yang terasa invasif dan menakutkan.
Namun, Pak Rosid sudah dibutakan oleh hasratnya yang seperti api liar. Wajahnya menyeringai penuh janji gelap, matanya memerah karena obsesi yang sudah bertahun-tahun terpendam. Ia tak peduli pada penolakan Eva, malah tangannya semakin mengunci pinggul wanita itu agar tak bisa bergerak.
“Diam, Eva. Percaya sama saya. Kamu akan mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan. Ini akan jauh lebih nikmat dari yang pernah kamu rasakan. Santai aja, nanti juga enak,” bisiknya dengan suara serak dan mendesak, napasnya panas menyembur di punggung Eva.
Ia menggosokkan ujung penisnya pelan di lubang anus itu dulu, membasahi area dengan cairan licin dari dirinya sendiri, mencoba melembutkan ketegangan, tapi gerakannya justru menambah tekanan yang membuat Eva menggigit bibir bawahnya keras.
Eva akhirnya pasrah, tenaganya terkuras oleh campuran ketakutan dan rasa penasaran yang tersisa. Air matanya mulai mengalir pelan, tapi ia tak lagi melawan, hanya mengangguk lemah sambil memejamkan mata rapat.
Bersambung…
Dengan satu dorongan kuat yang penuh determinasi, Pak Rosid menyatukan dirinya. Ujung penisnya memaksa masuk ke lubang anus Eva yang rapat, merobek ketegangan otot-otot di sana dengan rasa sakit yang menusuk tajamke jantung.
“Aaaaaah sakiiiiiit….” Eva menjerit tertahan, suaranya tercekat di tenggorokan, tubuhnya menegang kaku seperti kayu, jemarinya mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih.
Rasa sakit itu tak terperi, seperti api membakar dari dalam, terasa seperti robekan panjang yang membelah tubuhnya dari belakang ke depan. Lebih sakit dari saat pertama kali diperawani oleh mantan pacarnya dulu saat di SMA.
Saat itu hanya rasa perih singkat, tapi ini… ini seperti pisau tumpul yang diputar pelan, setiap inci penetrasi membawa gelombang nyeri yang membuatnya sesak napas, keringat dingin membasahi seluruh kulitnya, dan air matanya mengalir deras tanpa henti.
“Ooooh bool istrinya Pak Ustadz ternyata nikmat sekaliiii aaaaah ssssst…” Pak Rosid mengerang puas saat merasakan ketatnya dinding anus Eva yang menjepit penisnya erat.
Sensasi panas dan gesekan yang begitu intens membuatnya hampir langsung kehilangan kendali. Ia berhenti sejenak, membiarkan Eva menyesuaikan, tangannya membelai punggung wanita itu pelan untuk menenangkan, tapi matanya masih liar penuh obsesi.
“Lihat, Eva… sudah masuk separuh. Santai… nanti juga enak,” desisnya, suaranya bergetar karena kenikmatan, sebelum mulai mendorong lebih dalam lagi, mengubah rasa sakit Eva perlahan menjadi campuran aneh yang asing dan memabukkan.
Tiba-tiba ada ketukan di pintu depan. Mereka pun tersentak dan keduanya segera memisahkan diri.
Pak Rosid bergegas masuk ke kamar mandi, sementara Eva merapikan pakaiannya dan menemui tamu di depan.
Eva membuka pintu dengan napas masih tersengal, wajahnya memerah karena campuran sakit dan kegelisahan yang belum reda. Anak kecil itu berdiri di ambang pintu, memegang keranjang anyaman berisi jambu batu merah segar, matanya polos tanpa curiga apa-apa.
“Bu Ustadzah, ini dari orang tua saya. Buat Pak Ustadz,” katanya ceria, menyodorkan keranjang itu.
Eva tersenyum paksa, tangannya gemetar saat menerima keranjang. “Terima kasih ya, Nak. Nanti Ibu kasih tahu Pak Ustadz. Kamu pulang aja sekarang, hati-hati di jalan,” balasnya cepat, suaranya sedikit parau, berusaha menutupi kegelisahan.
Anak itu mengangguk dan berlari pergi, meninggalkan Eva yang buru-buru menutup pintu, bersandar di dinding sejenak untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Rasa sakit di belakangnya masih menusuk, tapi untungnya tamu itu hanya anak kecil, jika suaminya yang datang, habis sudah.
Dari kamar mandi, Pak Rosid mengintip melalui celah pintu, napasnya lega tapi hasratnya masih membara. Ia menunggu hingga Eva kembali ke dapur, lalu keluar pelan.
“Siapa tadi, Bu? Hampir aja ketahuan,” bisiknya, tangannya menyentuh bahu Eva lagi, meski situasi kini terasa lebih tegang.
Eva menolak melanjutkan, wajahnya masih pucat karena rasa sakit yang menusuk di belakangnya, air mata sisa kegelisahan masih menggenang di sudut matanya.
“Tidak, Pak Rosid… cukup sudah. Saya nggak sanggup lagi. Sakit sekali, saya takut, saya belum pernah disodomi!” katanya tegas tapi lirih, tangannya mendorong dada Pak Rosid pelan, mundur selangkah dari pria itu.
Tubuh Eva gemetar, campuran antara trauma fisik dan rasa bersalah yang tiba-tiba menyeruak, membuatnya ingin segera mengakhiri pertemuan terlarang ini. Pak Rosid terlihat kecewa, matanya masih penuh hasrat sisa, tapi ia tak memaksa lagi, hanya mengangguk pelan sambil merapikan celananya.
Untungnya, tak lama kemudian suara motor Ustadz Asep terdengar dari kejauhan, deru mesin yang familiar semakin mendekat. Eva tersentak, wajahnya semakin memucat.
“Itu adik suami saya! Cepat, Pak, sembunyi dulu!” bisiknya panik, mendorong Pak Rosid menuju pintu belakang. ’Ah, kenapa Ustadz Asep yang datang, coba Pak Darsa, pasti beda rasanya,’ maki Eva, kesal dalam hati.
Pak Rosid buru-buru menyelinap keluar, hatinya berdegup kencang, menyusuri jalan setapak yang sama dengan tergesa-gesa, meninggalkan Eva yang merapikan daster dan meja dapur secepat mungkin. Ia berlari ke ruang tengah, berpura-pura duduk santai saat pintu depan terbuka dan Ustadz Asep masuk, lelah setelah seharian mengajar dan perlu mendadak pada Eva, salah satunya meminta jatah, karena dia tahu kakaknya sedang tidak ada.
Pak Rosid berlari tergesa-gesa menyusuri jalan setapak di kebun singkong Bah Mardi, napasnya tersengal karena campuran adrenalin, frustrasi, dan rasa sakit hati yang membara. Rencana sempurna yang ia susun pagi tadi—bertemu Eva di rumah sepi, melanjutkan obsesi terlarangnya—kini pupus begitu saja.
Rasa sakit yang ia timbulkan pada Eva, penolakannya yang tegas, dan suara motor Ustadz Asep yang datang tepat waktu seperti kutukan, membuat darahnya mendidih. “Sialan! Kenapa harus gagal lagi?!” gumamnya pelan, tangannya mengepal erat, wajahnya memerah karena amarah yang tak terkendali.
Saat melewati batas kebun singkong yang berbatasan dengan pekarangan Bah Mardi, Pak Rosid tak tahan lagi. Matanya tertuju pada segerombolan pohon pisang milik Bah Mardi yang tumbuh rindang di pinggir, daun-daunnya bergoyang pelan ditiup angin siang.
Dengan nafsu yang membabi buta, ia mendekat dan mulai menendangi pohon pisang itu keras-keras. Kakinya yang bersandal jepit menghantam batang pohon berulang kali, membuat daun pisang bergoyang hebat dan beberapa tandan buah muda berguguran ke tanah.
“Dasar sialan! Kenapa harus kacau begini?!” teriaknya pelan tapi penuh frustrasi, setiap tendangan disertai umpatan yang tertahan, napasnya semakin berat.
Pohon pisang itu seolah menjadi sasaran kemarahannya, simbol dari rencana yang gagal, hasrat yang tertunda, dan rahasia yang nyaris terbongkar. Bunyi tendangan dan daun yang berderak membuat Pak Rosid merasa sedikit lega, tapi juga semakin kesal. Ia tak sadar bahwa suara itu bisa menarik perhatian tetangga, termasuk Bah Mardi yang mungkin sedang di rumah. Setelah beberapa tendangan lagi, ia berhenti, menyeka keringat di dahinya.
Bah Mardi, yang sedang duduk santai di teras rumahnya sambil mengisap rokok kretek, tiba-tiba mendengar suara aneh dari kebun singkongnya. Bunyi derak daun pisang yang bergoyang hebat, diselingi tendangan keras dan umpatan pelan yang samar-samar terdengar, membuatnya menyipitkan mata curiga.
“Apa itu? Ada yang lagi bikin rusuh di kebun?” gumamnya kesal, meletakkan rokoknya di asbak darurat dan bangkit dari bangku bambu.
Ia melangkah ke pekarangan belakang, tangannya menggenggam tongkat kayu pendek yang biasa ia gunakan untuk mengusir ayam liar, siap menghadapi siapa pun yang berani mengganggu tanamannya.
Saat tiba di pinggir kebun singkong, Bah Mardi melihat sosok Pak Rosid yang sedang menendangi pohon pisang terakhir kali sebelum berhenti, wajahnya merah padam dan napasnya tersengal.
Beberapa daun pisang sudah tercabik, dan tandan buah muda berguguran ke tanah berlumpur.
“Eh, Pak Rosid! Apa-apaan ini? Kenapa Bapak nendang pohon pisang saya?” seru Bah Mardi lantang, suaranya penuh amarah tapi juga terkejut, tongkatnya diayunkan pelan sebagai peringatan. Ia mendekat dengan langkah tegas, matanya menyipit menatap tetangganya yang terlihat frustrasi berat.
Pak Rosid tersentak, wajahnya memucat seketika saat melihat Bah Mardi. Ia buru-buru merapikan bajunya, mencoba tersenyum kaku untuk menutupi kemarahannya.
“Eh, Bah Mardi… maaf, Bah. Saya… saya lagi kesal aja, urusan sawah tadi. Nggak sengaja lewat sini, eh pohonnya kayaknya menghalangi jalan. Maaf ya, nanti saya ganti buahnya,” jawabnya tergagap, suaranya dipaksakan ramah, tapi matanya menghindar, masih dipenuhi sisa frustrasi dari kegagalan dengan Eva.
Bah Mardi menggelengkan kepala, tak sepenuhnya percaya, tapi memilih tak mengejar lebih jauh, ia punya masalah sendiri dengan Eva dan wanita lainnya.
Setelah Pak Rosid pergi dengan langkah tergesa, meninggalkan Bah Mardi yang masih berdiri dengan tongkat di tangan, Bah Mardi memeriksa pohon pisangnya yang ternyata banyak yang rusak. Beberapa batang pohon pisang sudah miring, daun-daun tercabik, dan tandan buah muda berguguran ke tanah berlumpur, tak bisa lagi dipanen. Pohon singkongnya juga ikut kena imbas—beberapa tanaman tercabut akarnya, umbinya terpapar dan rusak karena tendangan sembarangan.
“Sialan, ini kerugian besar! Buah pisang ini bisa dijual, singkongnya juga sudah siap panen,” gumam Bah Mardi kesal, tangannya memetik daun rusak sambil menghitung kerugian di benaknya. Amarahnya yang tadinya tertahan kini meledak, terutama karena hari ini ia sudah gelisah dengan banyak urusan.
Tanpa pikir panjang, Pak Mardi langsung menyusul Pak Rosid yang masih terlihat di ujung jalan setapak. Langkahnya cepat, tongkatnya diayunkan seperti senjata.
“Pak Rosid! Tunggu! Ini bukan selesai begitu aja!” teriaknya lantang, suaranya menggema di kebun yang sepi.
Pak Rosid berhenti, wajahnya semakin pucat saat melihat Bah Mardi mendekat dengan tatapan marah.
“Bah… maaf tadi, saya emang lagi kesal. Nggak sengaja, Bah. Nanti saya ganti,” kata Pak Rosid tergagap, mencoba meredakan, tapi Bah Mardi tak mau dengar.
“Maaf doang nggak cukup, Rosid Lihat pohon pisang saya, rusak parah! Singkongnya juga ikut hancur. Ini kerugian ratusan ribu! Kalau Bapak nggak tanggung jawab, saya bawa ke jalur hukum. Lapor ke lurah, atau polisi desa kalau perlu. Bapak tahu saya nggak main-main!” tuntut Bah Mardi tegas, matanya menyala, berdiri menghadang Pak Rosid di tengah jalan.
Suaranya menarik perhatian beberapa tetangga yang kebetulan lewat, membuat situasi semakin tegang.
Pak Rosid menelan ludah, tahu reputasinya sebagai pemilik warung besar bisa tercoreng jika ini jadi gosip kampung. Ia menghela napas panjang, mengeluarkan dompet dari saku.
“Baiklah, Bah. Saya ganti rugi. Lima ratus ribu, cukup kan? Ambil aja sekarang, jangan sampai ribut besar.”
Bah Mardi memandang dompet itu sejenak, lalu mengangguk pelan, meski amarahnya belum sepenuhnya reda. Ia menerima uang itu, tapi tatapannya masih curiga. “Lima ratus ribu ya sudah. Tapi lain kali hati-hati, Pak. Jangan sampe keulang.”
Mereka berpisah dengan dingin, Bah Mardi kembali ke kebunnya untuk membersihkan kerusakan, sementara Pak Rosid melanjutkan pulang dengan hati yang semakin berat—frustrasi dari Eva kini ditambah masalah dengan tetangga.
Bersambung…
Pak Darsa baru saja akan masuk ke rumah, terdengar suara langkah pelan dari arah pagar bambu. Ketika ia menoleh, tampak seorang perempuan muda berdandan syar’i ala ustdzah berdiri ragu di bawah cahaya lampu teras.
“Assalamualaikum, Pak,” sapa suara lembut itu.
Pak Darsa sedikit terkejut. “Waalaikumsalam… Eh, Neng Fitri? Tumben sore-sore ke sini.”
Fitri melangkah maju dengan senyum sopan. Ia membawa tas kain kecil di tangan, wajahnya tampak letih tapi tetap terawat.
“Maaf ganggu, Pak. Saya cuma… pengin ngomong sebentar,” katanya pelan.
Pak Darsa menepuk kursi di sebelahnya. “Duduk aja, Neng. Ada apa?”
Fitri duduk, tapi tampak gelisah. Tangannya meremas ujung dasternya sendiri, matanya tak berani menatap langsung ke arah Pak Darsa.
“Gini, Pak…” suaranya mulai bergetar pelan. “Saya nggak enak ngomong sama siapa-siapa. Tapi saya bingung juga kalau cuma dipendam sendiri.”
Pak Darsa mengangguk pelan. “Ngomong aja, Neng. Insyaallah, kalau bisa dibantu, saya bantu.”
Fitri menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke depan. “Saya… sebenarnya agak jengah sama Bapak, eh maksud saya, sama Bah Mardi, bapak mertua saya. Akhir-akhir ini, beliau sering… ya, kayak… suka menggoda saya gitu, Pak.”
Pak Darsa terdiam sejenak, pandangannya membeku. “Maksudnya gimana, Neng?” tanyanya hati-hati.
Fitri menunduk.
“Kalau suami saya gak ada, beliau suka nyeletuk aneh-aneh. Suka bilang saya cantik lah, cocok jadi istri muda lah… awalnya saya kira cuma bercanda, tapi makin lama makin nggak enak rasanya. Kadang kalau saya lagi nyapu di halaman, beliau suka berdiri di dekat saya, matanya itu lho, Pak… bikin nggak nyaman.”
Ia berhenti sebentar, mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca. “Saya takut ngomong ke orang lain, nanti malah dikira saya fitnah. Tapi saya nggak sanggup terus begini. Saya datang ke sini karena saya tahu cuma Bapak yang bisa ngomong sama beliau. Kalau Bapak yang negur, mungkin didengarnya.”
Pak Darsa meletakkan rokoknya di asbak kaleng di meja bambu. Wajahnya berubah serius. Ia terdiam lama, berusaha mencerna kata-kata Fitri satu per satu.
Dalam hati, sesuatu seperti rasa bersalah muncul, ia teringat betul beberapa waktu lalu, betapa enteng ia melempar candaan soal Fitri kepada Bah Mardi. Ia bahkan sempat tertawa mendengarnya. Kini, candaan itu terasa seperti duri yang menusuk balik ke dadanya.
“Ya Allah…” gumamnya lirih.
“Pak?” Fitri menatap Pak Darsa cemas.
Pak Darsa menggeleng pelan. “Nggak apa-apa, Neng. Bapak paham maksudmu. Terima kasih udah mau jujur bercerita. Memang nggak gampang ngomong soal beginian., apalgi sama mertua sendiri,” Ia menatap Fitri lembut.
“Bapak kenal betul sama Bah Mardi. Mungkin dia cuma kebablasan, nggak sadar kalau ucapannya bikin kamu risih. Tapi tetap aja, nggak benar begitu. Besok-besok biar Bapak coba ngomong baik-baik sama dia.”
Fitri mengangguk pelan, perasaannya sedikit lega. “Terima kasih, Pak. Saya cuma nggak mau rumah tangga saya sama Mas Herman rusak gara-gara salah paham. Saya juga nggak mau bikin malu keluarga. Bagaimana kalau sampai ketahuan sama Mak Siti, ibu mertua saya.”
Pak Darsa tersenyum tipis. “Kamu bijak, Neng. Kalau semua perempuan di kampung ini sebijak kamu, mungkin kampung Cikupa nggak bakal seramai gosipnya sekarang.”
Fitri ikut tersenyum, tapi wajahnya tetap menyimpan gurat resah. “Saya takut, Pak. Kadang kalau saya sendirian di rumah, beliau suka datang tiba-tiba, pura-pura nyari sesuatu, nanyain anak dan nanya yang aneh-aneh. Saya udah beberapa kali mengelak, tapi kok rasanya makin sering.”
Pak Darsa menatap Fitri cukup lama, dengan campuran iba dan marah yang ditahan. “Neng,” katanya lembut tapi tegas, “kalau sampai dia berbuat lebih dari sekadar ngomong, kamu jangan diam. Langsung datang ke Bapak, ya. Jangan takut.”
Fitri mengangguk cepat. “Iya, Pak. Terima kasih banget.”
Mereka terdiam beberapa saat. Angin malam bertiup membawa aroma padi yang baru dipanen. Suara tonggeret di kejauhan terdengar samar.
Pak Darsa akhirnya berdiri, menatap langit yang mulai gelap. “Udah terlalu sore. Kamu pulang ya, Neng. Nanti dikira orang yang bukan-bukan kalau lama-lama di sini.”
Fitri ikut berdiri, mengangguk sopan. “Iya, Pak. Sekali lagi maaf mengganggu. Saya nggak tahu harus cerita ke siapa lagi.”
“Nggak apa-apa. Justru bagus kamu ngomong. Kadang diam malah bikin salah paham makin besar.”
Fitri tersenyum samar. “Iya, Pak. Makasih banyak.”
Fitri berjalan pergi perlahan, melewati jalan setapak menuju rumahnya. Pak Darsa berdiri di depan rumah, menatap punggung Fitri sampai hilang di balik bayangan pohon pisang.
Pak Darsa membersihkan diri. Seperti biasa, tanpa beban, ia membuka pakaiannya dan membasuh tubuhnya dalam keadaan berdiri. Air pancuran yang dingin di belakang rumahnya mengalir membasahi kulitnya yang keriput.
Sesekali, tangannya mengelus benda pusakanya yang sudah lama tak difungsikan masimal. Tak tersentuh oleh kehangatan wanita sejak istrinya meninggal dunia bertahun-tahun lalu.
Pikirannya kembali melayang pada masa mudanya, saat tubuhnya masih kuat dan penuh semangat. Ia membayangkan dirinya yang dulu, berjalan di sawah hijau Cikupa dengan langkah tegap, dikelilingi angin segar yang membawa aroma bunga liar.
Dalam imajinasinya, ada sosok perempuan misterius dari masa lalu, bukan siapa-siapa yang spesifik, hanya bayangan samar yang lembut, dengan senyum hangat dan sentuhan ringan yang membuat darahnya bergolak. Ditambah bayangan Nisya yang sedang digenjot oleh Ustadz Asep.
“Sepertinya sedang ada fenomena baru. Di kampung ini justru yang tua-tua yang lagi naik daun. Hah, semoga aku tidak terlibat. Jadi beneran istilah Makin Tua Makin Nikmat, rupanya di kampung ini benar-benar nyata.”
Sebagai lelaki normal, walau sudah tua, ia pun sama memiliki keinginan untuk merasakan kembali kehangatan itu, desiran hasrat yang kini muncul seperti kenangan pudar yang tiba-tiba hidup kembali. Namun demikian Pak Darsa menccoba menahan diri, dia sadar kalau sekali saja lansung keujian, mungkin dengan mudah dia mengalahakn para bandot-bandot mesum itu.
Pak Darsa terus merenung dan tanpa sadar, tangannya mengelus-elus penisnya, dan benda itu pun kembali berdiri tegak.
Ini adalah satu-satunya cara yang biasa dia lakukan ketika hasratnya tak tertahankan, sebuah ritual pribadi di mana ia membiarkan khayalan masa mudanya mengalir bebas, tanpa nama, tanpa wajah nyata, hanya kenangan manis yang membuatnya tersenyum sendirian di bawah guyuran air.
Matahari mulai condong ke barat, menuruni bukit kecil di ujung kampung Cikupa. Cahaya jingganya menimpa atap-atap seng yang masih hangat, memantulkan kilau samar seperti bara yang mulai padam.
Dari dapur rumah-rumah, asap tipis mulai mengepul; ibu-ibu menyalakan tungku, menyiapkan makan malam. Aroma kayu bakar dan sambal terasi menembus angin sore yang mulai sejuk.
Anak-anak yang sedari tadi bermain layangan di lapangan dipanggil pulang satu per satu. Burung-burung kembali ke dahan mangga di depan surau, dan dari kejauhan terdengar azan magrib menggema, lembut tapi tegas, menandai peralihan waktu yang khidmat.
Tak lama, lampu-lampu mulai menyala di teras rumah. Sebagian cahaya kuning dari bohlam tua, sebagian lagi berasal dari lampu minyak. Jalan tanah perlahan tenggelam dalam remang, hanya diterangi cahaya-cahaya kecil dari jendela yang berbaris rapat.
Malam akhirnya turun sepenuhnya, menyelimuti kampung Cikupa dalam ketenangan. Suara jangkrik mengambil alih, menandai bahwa kehidupan di kampung sedang beristirahat, sederhana, tapi terasa hangat dan utuh.
Fitri menatap Bah Mardi dengan tatapan campuran tegang dan lega. “Bapak yakin Pak Darsa akan percaya sama semua omongan saya?” bisiknya, nyaris tak terdengar.
Bah Mardi menyandarkan punggung ke kursi, tertawa kecil dengan suara serak. “Pasti percaya. Pak Darsa itu orangnya polos kalau urusan beginian. Selama ngomongmu terdengar meyakinkan, dia nggak bakal curiga, Neng.”
Fitri menunduk, memutar-mutar ujung kerudungnya. “Tapi tadi waktu saya bilang Bapak suka ganggu, saya takut nadanya terlalu berlebihan.”
“Justru bagus,” jawab Bah Mardi santai. “Makin lebay, makin dia yakin. Lagian, siapa yang bakal menyangka kalau kita bisa sepintar ini. Istri Bapak, alias ibu mertuamu aja gak pernah curiga, hehehe.”
Fitri memaksakan senyum, tapi matanya gelisah. “Saya cuma takut, Pak. Kalau sampai ketahuan, bukan cuma Bapak yang malu… tapi status saya sebagai menantu Bapak juga mungkin akan tamat.”
Bah Mardi mencondongkan badan sedikit, suaranya menurun lebih pelan. “Tenang aja, Neng. Kita cuma perlu hati-hati. Selama Pak Darsa percaya kamu korban gangguen lelaki, nggak akan ada yang berani ngomong macem-macem.”
Bah Mardi terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan nada sinis, “Lucu juga ya, Pak Darsa itu. Tadi siang dia malah sempat nyuruh Bapak godain kamu. Sekarang dia justru kasihan sama kamu. Dunia emang aneh.”
Fitri tersenyum kecut. “Jadi semua ini memang sudah diatur dari awal ya, Pak?”
“Bukan rencana besar, cuma taktik kecil,” sahut Bah Mardi pelan. “Kadang, untuk nutup satu kesalahan, kita harus bikin cerita yang lebih besar. Dan Pak Darsa baru aja jadi saksi yang paling kita butuhin.”
Fitri menatapnya lama. “Tapi sampai kapan, Pak?”
Bah Mardi menghela napas panjang, memandang ke arah jendela yang berembun.
“Sampai waktunya pas., sampai kita sama-sama ingin menghentikannya Sekarang yang penting, diam dan nikmati permainan ini. Di depan orang, terutama di depan Pak Darsa, kita tetap seperti biasa, layaknya mertua dan menantu. Jangan sampai ada yang curiga.”
Fitri menelan ludah, lalu mengangguk pelan.
Hening kembali memenuhi ruangan. Suara detak jam dinding terdengar jelas. Lalu Bah Mardi berdiri, melangkah menuju jendela dan menyingkap tirai sedikit. Dari luar, samar-samar terlihat bayangan rumah Pak Darsa di kejauhan, temaram dan sepi.
“Pak Darsa selamanya harus percaya kalau kita orang baik,” gumamnya lirih, nyaris seperti bicara pada diri sendiri.
Kehening malam kampung Cikupa hanya dipecah oleh suara detak jam dinding dan hembusan angin pelan dari celah jendela.
Fitri berdiri di dekat meja kayu, tangannya masih memegang ujung kerudung yang ia pakai tadi saat ke rumah Pak Darsa. Wajahnya campur aduk, lega karena rencana mereka berhasil, tapi juga gelisah akan masa depan rumah tangganya dengan Herman.
“Bapak gak bisa nginap malam ini, tapi masih bisa dua ronde buat muasin kamu,” bisik Bah Mardi sambil memeluk menantunya dengan lembut.
Bersambung…
Malam semakin larut. Pak Darsa masih tidak bisa tidur. Pikirannya terasa berat dan dadanya sesak seperti ditindih batu. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah Nisaya, dan Fitri yang datang sore tadi terus muncul di benaknya.
Ia menduga jangan-jangan Nisya juga korban yang tak berdaya seperti Fitri. Nisya mungkin tak bisa lagi diselamatkan dari godaan Ustadz Asep, tetapi Fitri dia pikir masih bisa diselamatkan.
Wajah Fitri yang cantik namun gelisah, mata yang tampak jujur dan penuh keraguen, bibir yang sedikit gemetar saat berbicara. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang terasa janggal, seperti ada bisikan samar di telinganya yang tak bisa ia abaikan.
Apakah itu intuisi seorang tetangga yang sudah lama mengenal kampung ini, atau hanya kegelisahan malam yang sebenarnya sudah sangat biasa ia alami.
Pak Darsa duduk di tepi ranjang kayu yang sudah usang, menatap jam dinding yang berdetak pelan seperti detak jantungnya sendiri. Jarumnya menunjukkan hampir setengah sepuluh malam. Angin bertiup dari jendela yang setengah terbuka, membawa suara anjing menggonggong di kejauhan, disertai hembusan dingin yang menyusup ke kulitnya.
Tanpa berpikir panjang, ia bangkit. Diselimutinya tubuhnya dengan jaket lusuh yang tergantung di kursi, lalu melangkah keluar rumah dengan langkah gontai. Pintu depan berderit pelan saat ia tutup, seolah memprotes gangguen malam itu.
Langit di atas kampung Cikupa kelabu pekat, tak berbElsag, hanya kabut tipis yang menyelimutinya. Lampu-lampu rumah sudah banyak yang padam, meninggalkan desa dalam kesunyian yang mencekam. Jalan tanah yang mengarah ke pematang sunyi, hanya suara sandal jepitnya sendiri yang terdengar, bergema pelan di antara pepohonan yang bergoyang ditiup angin.
Pak Darsa berjalan pelan menyusuri jalan setapak yang berliku, pikirannya melayang-layang. Kenapa ia ke sanai?
Mungkin hanya untuk memastikan Fitri baik-baik saja, atau mungkin ada firasat buruk yang mendorongnya.
Tak lama ia berhenti di depan rumah Fitri, rumah sederhana dengan dinding bambu dan atap genteng yang sudah lapuk. Gelap gulita, tapi ada cahaya samar dari kamar Fitri yang mengusiknya, seperti lilin yang hampir padam. Gorden kamar itu tak sepenuhnya tertutup, meninggalkan celah tipis yang seolah memanggilnya.
Kening Pak Darsa berkerut, alisnya saling bertaut. Ia mendekat, langkahnya hati-hati, menghindari ranting kering yang bisa berderit. Jantungnya berdegup kencang, napasnya tertahan saat ia bersembunyi di balik semak belukar rendah di samping rumah.
Dari celah gorden yang terbuka, Pak Darsa mencondongkan tubuh, mata tuanya yang tajam mengintip ke dalam. Samar-samar, di bawah cahaya kuning dari lampu di dalam, pemandangan di depannya membuat napasnya tertahan seketika.
Di atas ranjang yang berderit pelan di bawah berat tubuh mereka, Fitri dan Bah Mardi tenggelam dalam pusaran nafsu yang tak terkendali. Cahaya lampu yang redup menerangi kulit mereka yang basah oleh peluh, berkilau seperti embun pagi di sawah.
Fitri, dengan rambut hitam panjangnya yang menjuntai liar menutupi punggung telanjangnya, mendominasi posisi di atas. Tubuhnya yang ramping tapi berisi melengkung sempurna, pantatnya bergoyang dengan ritme ganas, merendah menekan wajah Bah Mardi ke dalam kehangatan vaginanya.
Setiap gerakan Fitri penuh kekuatan primal, ia menggoyangkan pinggulnya maju-mundur, kadang melingkar lambat untuk membangun tekanan, kadang menekan keras hingga Bah Mardi mengerang tertahan di antara desahannya sendiri.
Bah Mardi terbaring telanjang di bawah, tubuhnya yang tua dan kurus, menegang seperti busur siap meluncur. Tangannya yang kasar, penuh urat dari tahun-tahun bekerja di sawah, mencengkeram erat paha Fitri, jari-jarinya menekan kulit halus menantunya hingga meninggalkan bekas merah samar.
Wajahnya terkubur di antara kaki Fitri, lidahnya bekerja tanpa ampun, menjilat vagina menantunya dengan panjang dan dalam, menghisap klitoris Fitri dengan tekanan yang membuat istri Herman menggeliat liar.
Bah Mardi sesekali menggigit lembut, menarik napas dalam untuk menangkap aroma manis-musky yang memabukkan, sementara tangan satunya meraih ke atas, meremas payudara Fitri yang bergoyang bebas, jempolnya memilin puting yang mengeras hingga Fitri menjerit pelan, “Ahh… Paaaak… jangan berhenti!”
Fitri membalas dengan rakus, kepalanya tertunduk ke selangkangan Bah Mardi. Bibirnya membungkus batang ereksi Bapak mertuanya yang tegang. Menelan sepanjang mungkin hingga tenggorokannya terasa penuh.
Ia mengisap dengan kuat, lidahnya berputar di sekitar kepala penis mertuanya yang sensitif, kadang menarik mundur untuk menjilat urat-urat yang menonjol, membuat Bah Mardi menggelinjang dan mengerang kasar.
“Neeeng Fitri… kamu gila… lebih dalam lagi!” Gerakannya sinkron dengan pinggulnya sendiri.
Setiap kali pantat Fitri menekan ke bawah untuk merasakan lidah Bah Mardi di vaginanya, ia juga menyelam lebih dalam mengulum penis dalam mulutnya, menciptakan lingkaran kenikmatan yang saling menguetkan.
Peluh menetes dari dahi Fitri, jatuh ke perut Bah Mardi, sementara kamar dipenuhi suara basah dari hisapan dan jilat mereka, bercampur desahan nafsu yang semakin memburu. Ritme mereka semakin liar, tak lagi terkendali.
Fitri mempercepat goyangan pantatnya, menekan wajah Bah Mardi lebih dalam hingga hidungnya menyentuh kulit sensitifnya, tubuhnya bergetar hebat saat gelombang pertama kenikmatan mendekat. “Paaaak aku mau muncraaaat…..” desahnya.
Bah Mardi merespons dengan agresif, lidahnya bergerak lebih cepat, jarinya kini ikut menyusup ke dalam vagina Fitri, membelai dinding dalamnya sambil menghisap tanpa henti.
Fitri melepaskan batang Bah Mardi sejenak, erangannya memecah kesunyian, “Paaaaak aku… mau… muncraaat aaaah nikmaaaat!” Tubuhnya menegang, pinggulnya kejang-kejang, cairan hangat membasahi wajah Bah Mardi saat orgasme pertama menerpanya seperti badai, membuatnya ambruk ke depan, napas tersengal.
Tapi Bah Mardi tak mau berhenti; ia membalikkan keadaan dengan dorongan kuat, menarik Fitri agar tetap di posisi sambil melanjutkan serangannya. Fitri, masih bergetar dari puncaknya, kembali menelan batang Bah Mardi dengan lebih rakus, tangannya memijat bola-bolanya yang tegang.
Bah Mardi mengerang lebih keras, pinggulnya terangkat dari ranjang, dorongannya ke mulut Fitri semakin brutal.
“Neng Fitri… Bapak hampir muncraaat juga…” Napasnya memburu, otot-ototnya menegang, dan dalam hitungan detik, ia meledak. Cairan panas menyembur ke tenggorokan Fitri, yang menelannya dengan lahap sambil terus mengisap hingga tetes terakhir.
Tubuh Bah Mardi bergetar hebat, erangan panjangnya bergema pelan, sebelum ia terkulai lemas, menarik tubuh Fitri ke pelukannya yang basah keringat.
Keduanya terbaring terengah-engah, tubuh saling menempel lengket, ranjang basah oleh jejak gairah mereka. Fitri tersenyum samar, mencium dada mertuanya yang naik-turun, sementara tangan Bah Mardi masih membelai-belai vagina menantunya yang basah. Mereka terhanyut dalam kepuasan yang masih berdenyut, namun tahu itu masih setengah perjalanan.
Dalam hitungan detik berikutnya, hasrat kembali membara di mata Bah Mardi. Meskipun baru saja mencapai puncak, penisnya yang perkasa ternyata masih berdiri tegak. Tanpa basa-basi, Bah Mardi yang badannya kurus, langsung membalikkan posisi. Ia menindih tubuh Fitri yang masih lemas di bawahnya, menarik kedua kaki jenjang Fitri untuk merangkul pinggangnya.
“Kita lanjut, Neng?” bisik Bah Mardi, suaranya serak namun penuh perintah.
Fitri hanya bisa mengangguk, matanya sayu namun penuh kerinduan, pinggulnya sudah mulai terangkat, menyambut dorongan penis mertuanya yang langsung menusuk dalam vaginanya. “Aaaah… Pak… iyaaa… nikmaat bangeeet,” erangnya, suara kenikmatan yang bercampur kelelahan.
Bah Mardi mulai menggenjot dengan penuh gairah, setiap dorongan diiringi decitan ranjang yang menyayat kesunyian malam. Tubuh mereka saling beradu, bunyi kulit yang bertemu basah menciptakan melodi liar yang memenuhi kamar.
Fitri mendesah keras, kedua tangannya melingkar erat di leher Bah Mardi, menariknya mendekat, menciumi bibir, leher, hingga bahu mertuanya dengan rakus. Pinggulnya mengikuti irama Bah Mardi, mengangkat dan menurunkan tubuhnya untuk menerima setiap hantaman dengan maksimal.
Keringat kembali mengucur deras, membasahi tubuh keduanya. Bah Mardi terus menggenjot, tempo gerakannya semakin cepat dan dalam, wajahnya memerah, otot-otot di lengannya menonjol saat ia menahan berat badannya. Fitri menjerit tertahan, “Lebih cepat, Pak! Lebih daalaaam lagiiii!”
Sementara di luar kamar, Pak Darsa mulai tak tahan dengan gejolaknya sendiri, dia mengeluarkan penisnya yang sudah mengeras sejak awal mengintip. Batangnya yang lebih panjang dan besar dibanding milik Bah Mardi, berdiri tegak di udara malam yang makin dingin, namun tubuhnya justru terasa makin panas.
Ia merasakan denyut hangat di telapak tangannya saat mengocok penisnya. Matanya tak lepas dari celah gorden, masih terpaku pada Bah Mardi dan Fitri yang kini semakin liar dan menggila.
Desahan dan erangan mereka semakin nyata dan vulgar, untuk memacu puncak kenikmatan keduanya. Tangan Pak Darsa pun makin menggila dan kencang, mengocok batangnya yang sudah terbakar birahi membara.
Pak Darsa terus mempercepat gerakannya, bahkan meremas kepala penisnya yang sensitif hingga setitik cairan bening muncul di ujungnya. Suara desahan yang makin jelas dari kamar seperti bensin yang menyulut api lebih besar; ia membayangkan dirinya di posisi Bah Mardi, merasakan kehangatan tubuh Fitri yang basah dan rakus.
Sejurus kemudian tubuh Pak Darsa menegang, lututnya sedikit gemetar, tapi ia tak bisa berhenti, nafsu yang terbakar itu menguesai sepenuhnya, membuatnya terhanyut dalam fantasi gelap di samping rumah Fitri.
Akhirnya, dengan erangan tertahan yang nyaris tak terdengar, Pak Darsa mencapai puncaknya. Cairan panas dari batang kejantanannya menyembur ke dinding dan tanah di depannya, tubuhnya bergetar hebat sebelum ambruk pelan ke belakang, bersandar pada batang pohon kecil.
Napasnya tersengal, rasa bersalah mulai merayap di benaknya, tapi untuk sesaat, kepuasan masih menyelimuti seperti selimut hangat di malam dingin Cikupa.
Pak Darsa merasakan darahnya berdesir dingin, dadanya sesak karena kenyataan pahit yang terpampang di depan matanya. Ucapan Fitri sore tadi tentang mertuanya yang suka menggodanya dan dia sendiri takut diganggu, kini terasa seperti bumerang yang membalikkan kebenaran.
Mengoyak keyakinannya saat tadi kalau Fitri menantu yang jadi korban, dan Bah Mardi mertua yang kebablasan. Kini terbukti keduanya ada di sana, telanjang, dalam posisi intim yang tak terbantahkan. Sama sekali tak ada tanda-tanda pemaksaan, semua terjadi atas dasar suka sama suka.
Pak Darsa balik badan, langkahnya terhuyung, seolah baru saja menanggung beban beribu ton. Ia berjalan menjauh dari rumah itu, dari rahasia kotor yang baru saja ia saksikan, kembali ke kegelapan jalan setapak yang sunyi, meninggalkan pemandangan yang akan menghantuinya untuk waktu yang sangat lama.
Bersambung…
Fitri bangkit dari kasur dengan tubuh yang terasa remuk redam, namun ada sensasi liar dari kepuasan yang baru saja ia rasakan. Ia memungut pakaiannya yang berserakan di lantai, mengenakannya kembali satu per satu dalam keheningan yang masih panas membara.
Setiap gerakan terasa berat, seolah tubuhnya bukan miliknya lagi. Dengan langkah gontai, ia keluar dari kamarnya yang gelap, meninggalkan sisa-sisa gairah dan penyesalan di belakangnya.
Ia kemudian melangkah ke kamar belakang, di mana seorang balita mungil, masih tertidur pulas dengan napas teratur. Fitri memandangi wajah polos itu sejenak.
Menyentuh lembut pipi anaknya, sebelum merebahkan diri di samping tubuh kecil yang hangat. Matanya terpejam, namun pikirannya justru melayang jauh, menerawang pada Herman, suaminya, yang jarang pulang dari kerjanya di kota.
Fitri membatin pahit, ‘Andai Mas Herman selalu berada di sisiku seperti Pak Mardi, mungkin aku tak perlu melakukan semua ini.’
Rasa bersalah dan penyesalan kembali menghimpit, bercampur dengan kejujuran pahit tentang kebutuhan dan hasratnya yang selama ini terabaikan oleh suaminya, namun justru sangat dipedulikan oleh mertuanya.
Bah Mardi bangkit dari kasur dengan senyum tipis yang masih tersisa di bibirnya, tubuh tuanya terasa ringan meski lelah setelah ledakan hasrat yang baru saja dilalui. Ia memungut pakaiannya yang berserakan, mengenakan kembali dengan gerakan cepat tapi hati-hati, seolah tak ingin meninggalkan jejak apa pun di rumah anaknya itu.
Kaus lusuhnya menempel kembali di kulit yang masih lembap oleh keringat, dan celananya ia pasang dengan talinya yang sudah longgar. Sebelum melangkah pergi, ia menoleh sekilas ke arah Fitri yang sudah menghilang ke kamar belakang, tapi tak ada kata-kata lagi, hanya kepuasan diam yang mengisi dadanya.
Bah Mardi melangkah hati-hati di jalan setapak yang gelap menuju rumahnya sendiri. Angin dingin menyapa wajahnya, membawa aroma tanah basah dari sawah di sekitar kampung.
Langkahnya pelan, menghindari batu-batu kecil yang bisa membuat suara, pikirannya melayang pada momen panas barusan, tapi juga waspada terhadap kemungkinan ada mata-mata liar di kegelapan.
Rumahnya tak jauh, hanya beberapa ratus meter, tapi malam ini terasa lebih panjang, penuh dengan rahasia yang ia bawa pulang seperti beban manis.
Setelah masuk melalui pintu belakang yang berderit pelan, ia langsung menuju kamar tidur tanpa menyalakan lampu. Mak Siti, istrinya sudah berusia senja, masih tertidur pulas di samping ranjang, napasnya teratur dan tak terganggu sama sekali oleh kedatangannya.
Bah Mardi merebahkan diri di sampingnya, merasakan kehangatan tubuh istrinya yang sudah lama menjadi rutinitas. Ia tersenyum puas dalam gelap, mata terpejam sambil memeluk bantal.
Sejauh ini, istrinya sama sekali tidak pernah menaruh curiga dengan petualangannya, bersama wanita-wanita lain di kampung yang sesekali menjadi pelarian hasratnya. Rahasia itu aman, pikirnya, setidaknya untuk malam ini, meski di lubuk hati ada bayang-bayang konsekuensi yang samar-samar mengintai.
Bah Mardi tersenyum getir, tak menduga perjalanan hidupnya menjadi sangat berwarna. Dua tahun yang lalu, dia belajar memijat pada sahabatnya.
Niat awalnya murni, ingin membantu tetangganya yang terkadang mesti memanggil tukang pijat dari kampung lain. Dia bahkan tak menduga menjadi tukang pijat amatiran justru membawanya memasuki dunia terlarang yang sebelumnya hanya bisa ia impikan.
Awalnya, para istri tetangga hanya meminta pijatan biasa setelah suami mereka. Namun lambat laun berubah menjadi sentuhan yang lebih intim, Bukan hanya pijatan fisik yang bisa dia berikan pada istri-istri tetangganya, namun juga pijatan untuk meredakan hasrat seksual yang membara saat dipijat.
Bah Mardi semakin percaya diri setelah banyak istri tetangganya yang tidak hanya merasa nyaman, namun juga puas dan ketagihan dengan pijatan dan penisnya yang luar biasa. Baginya, itu adalah sebuah kelebihan dan keahlian yang tak ia sadari sebelumnya.
Bah Mardi tak bisa membayangkan bagaimana jika para istri tetangganya itu tahu kalau Pak Darsa justru memiliki batang kejantanan yang jauh lebih besar, lebih panjang dan lebih perkasa dari miliknya. Sejak kecil, Pak Darsa dikenal memiliki kelebihan dalam ukuran penisnya. Sebuah keunggulan fisik yang membuat Bah Mardi terkadang merasa iri.
“Untungnya Pak Darsa orangnya sangat alim,” pikirnya dengan senyum licik. “Sehingga aku bebas menggarap istri-istri tetangga yang kurang puas, tanpa saingan berat, hehehe.” Pemikiran egois yang membenarkan petualangannya, merasa aman dari saingan yang lebih bermodal.
Dari semua pencapaian yang membanggakannya itu justru saat berhasil menaklukkan Fitri, menantu keduanya yang selama ini ia anggap sebagai menantu paling setia dan sholehah.
Bah Mardi masih mengingat jelas saat pertama kali semua itu terjadi, seperti adegan yang terukir dalam ingatannya, penuh dengan ketegangan dan kejutan yang tak terduga.
Malam itu, secara tidak sengaja dia mendapati Fitri sedang melakukan masturbasi di kamarnya dengan mentimun dalam keadaan telanjang bulat, hingga mencapai puncaknya.
Bah Mardi mengerti kesepian menantunya karena Herman sudah hampir satu bulan tak pulang. Dan itu benar-benar menjadi celah berharga baginya.
Keesokan harinya, ia mencoba mendekati Fitri dengan cara halus, menawarkan bantuan pijatan untuk “meredakan ketegangan” yang ia duga Fitri rasakan.
“Neng, Bapak bisa bantu pijat bahu aja, biar lebih rileks,” katanya saat Fitri datang mengantar makanan, suaranya tenang tapi mata penuh maksud tersembunyi.
Fitri awalnya ragu, tapi kelelahannya menang. Ia setuju, dan pijatan itu dimulai di ruang tamu yang sepi. Tangan Bah Mardi yang kasar tapi terampil menyusuri punggung Fitri, dari bahu hingga pinggang, sambil berbisik kata-kata menenangkan tentang betapa beratnya menjaga rumah sendirian.
Bermula dari coba-coba melepaskan ketegangan libido yang ia rasakan dari Fitri, semuanya malah berakhir dengan penuntasan hasrat yang lebih dalam, lebih liar dari yang ia bayangkan.
Tubuh Fitri yang awalnya tegang perlahan mencair di bawah sentuhannya, dan tak butuh waktu lama bagi Bah Mardi untuk menyadari bahwa batas itu telah runtuh.
Bah Mardi sendiri sebenarnya tidak terlalu yakin jika menantunya akan bisa ia taklukkan juga. Setahu dia, Herman anaknya pun memiliki penis yang besar dan panjang, warisan keluarga yang membuat Bah Mardi bangga.
Tapi Herman, dengan sifat keseharian yang sangat pendiam dan kurang agresif, tampaknya tak pernah benar-benar memanfaatkan itu untuk memuaskan Fitri. Dan yang utamana, Herman memang jarang ada di rumah.
“Sejatinya, bukan ukuran penis besar dan panjang yang menjamin kepuasan wanita, melainkan keberanian lelaki untuk mengeksplorasi dengan ritme, sentuhan, dan hasrat yang membara yang akan membuat puas dan ketagihan yang sesungguhnya.”
^*^
Pagi datang dengan lembut. Cahaya matahari merambat pelan di dinding kamar, menyingkap sisa embun di kaca jendela. Udara masih basah, membawa aroma tanah dan daun pisang di belakang rumah.
Fitri membuka mata perlahan. Tubuhnya terasa ringan, tapi pikirannya tak sepenuhnya tenang. Ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya sejak beberapa waktu terakhir, sesuatu yang membuat pagi-pagi seperti ini terasa berbeda.
Dulu, pagi hanyalah rutinitas: menanak nasi, menyiapkan sarapan dan merawat anak, menunggu kabar dari suaminya yang bekerja jauh di kota. Tapi kini, entah kenapa, ia sering memandangi dirinya sendiri di cermin dapur, memperhatikan bayangan yang menatap balik dengan mata yang berbeda, lebih hidup, tapi juga lebih rapuh.
Fitri menatap jendela yang setengah terbuka. Di luar, matahari menembus dedaunan, dan di antara cahaya itu, ia mengingat sesuatu, bukan peristiwa, melainkan rasa. Sejak hari itu, ia mengenal kehidupan yang lain, warna yang belum pernah ia tahu sebelumnya.
Selama ini ia mengira kebahagiaan adalah tentang kesederhanaan; tentang Herman, suaminya, yang lembut dan tidak banyak menuntut. Tapi ternyata ada sisi lain dari dirinya yang selama ini diam. Dan ketika Bah Mardi, ayah mertuanya sendiri, tanpa sadar membangunkannya, maka berubahlah segalanya.
Sejak saat itu, Fitri sering terjaga lebih pagi, menatap sinar matahari yang menelusup di kulit tangannya, mencoba memahami sesuatu yang tak bisa ia ucapkan.
Ia takut sekaligus kagum pada dirinya sendiri, pada hidup yang tiba-tiba terasa lebih penuh. Namun di antara rasa itu, ada bayangan bersalah yang selalu datang bersama aroma kopi pagi, mengingatkannya bahwa kehangatan itu bukan miliknya.
Seiring hari-hari berlalu, Fitri mulai terbiasa dengan perasaan yang dulu sempat membuatnya takut. Awalnya ia berusaha mengusir setiap kenangan yang datang, menolak tiap getar yang muncul tanpa alasan.
Tapi lama-kelamaan, rasa itu menjadi bagian dari dirinya, seperti nafas yang ia terima tanpa sadar. Fitri benar-benar ketagihan dengan penis lelaki tua. Tak menduga jika para lelaki itu semakin tua justru semakin nikmat.
Celakanya, kini ia mulai nyaman dengan keadaan itu. Setiap kali berpapasan dengan lelaki paruh baya di jalan atau di warung, hatinya berdesir tanpa sebab. Ada sesuatu dalam sorot mata mereka yang membuatnya hangat. Ketenangan, keyakinan, kedewasaan dan penis besar, panjang nan perkasa.
Fitri tidak pernah menyangka akan memahami hal itu.
Dulu ia mengira cinta hanyalah perkara usia yang sebaya, janji yang diucapkan di depan penghulu. Tapi kini ia tahu, ada jenis ketertarikan lain, yang datang dari ranjang.
Dari cara seorang laki-laki memahami kebutuhan batin sorang perempuan, dari tatapan penuh hasrat dan dan keberanian mengekplor sisi liar dan nikmat dalam berhubungan badan yang tak ia temukan pada suaminya.
Ia tahu perasaan itu salah, namun anehnya, justru di situlah ia merasa hidup. Seakan dalam kedewasaan lelaki yang menua, ia menemukan sesuatu yang selama ini ia cari: penis yang seolah tanpa batas dan gairah yang menggebu-gebu.
Bah Mardi awalnya jadi tolok ukur. penisnya yang tebal, panjang, dan stamina tak tergoyahkan di ranjang, membuatnya basah kuyup berulang kali. Tapi kini Fitri memiliki catatan khusus dalam hatinya, tentang para lelaki paruh baya yang dinilainya setara atau bahkan lebih unggul dari Bah Mardi.
Ukuran penis dan keperkasaan mereka di atas ranjang adalah poin utamanya. Perhatiannya pada pria-pria di usia itu, kini tak lagi pada angka umur, melainkan tertuju pada satu area spesifik: selangkangannya yang menyembul besar dan masih bergairah.
Ada semacam tantangan tersembunyi di dalam dirinya, seolah menaklukkan mereka akan menjadi pembuktian tersendiri. Ia tahu betul, Bah Mardi, ayah mertuanya itu pun bukan lelaki setia; banyak wanita lain yang masih sering dia gilir dengan berbagai modus.
Bersambung…
Fitri berdiri di halaman belakang rumah, keranjang pakaian basah di tangannya terasa lebih berat dari biasanya. Pagi itu, angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah setelah hujan semalam, tapi pikirannya masih bergulat dengan perubahan aneh yang menyelinap ke dalam dirinya.
Saat ia menggantung kain salah satu daster, matanya tanpa sengaja melirik ke arah jalan setapak yang membelah sawah. Di sana, Pak Darsa berjalan santai, mengenakan kain sarung batik sederhana yang melilit pinggangnya dan koko putih yang longgar, sosoknya yang kharismatik seolah menyatu dengan pemandangan desa Cikupa yang tenang.
Dari kejauhan, pandangannya tertuju pada bagian sarung yang menutupi selangkangan lelaki itu, garis samar yang bergoyang pelan mengikuti langkahnya.
Jantung Fitri tiba-tiba berdebar kencang, napasnya tersengal seolah ada tangan tak terlihat yang meremas dadanya. Bukan sekali dua kali Fitri mendengar tentang betapa besar dan panjangnya penis Pak Darsa, namun ia juga tahu, tak ada seorang pun yang bisa merasakannya, kecuali almarhum istrinya.
Ingatannya seketika terpaut pada beberapa waktu lalu, saat ia tak sengaja menyaksikan Pak Darsa mandi di pancuran belakang rumahnya sambil berdiri.
Meski jaraknya cukup jauh serta cahaya senja redup, ia masih bisa melihat batang di selangkangan Pak Darsa panjang, besar dan gagah seperti milik pria muda, bahkan beda jauh dengan milik Mertua dan suaminya.
Tangan Fitri gemetar saat menggantung daster terakhir, pandangannya masih terpaku pada bayangan Pak Darsa yang menjauh di jalan setapak. Obsesinya pada lelaki paruh baya itu kini terasa lebih nyata dan membakar.
Hasrat yang semalam belum sepenuhnya padam, kini bercampur dengan gambaran Pak Darsa, memanaskan tubuhnya. Fitri tahu, duda kharismatik itu adalah tantangan besar. Sulit didekati, digoda apalgi ditaklukan.
Namun, gairah yang membara dalam dirinya tak bisa diabaikan. Ia harus mencari cara untuk mendekat, memuaskan rasa penasaran yang membelenggu setiap inci tubuhnya.
Fitri masih berdiri di halaman belakang, tangannya sibuk menggantung pakaian terakhir di tali jemuran, tapi pikirannya melayang jauh, terperangkap antara getaran aneh di tubuhnya dan bayangan Pak Darsa yang baru saja lewat.
Angin pagi membawa suara langkah kaki pelan dari arah gerbang samping rumah, membuatnya menoleh. Di sana, muncul sosok lelaki tua lain yang jarang ia lihat belakangan ini.
Kakek Sadim, atau biasa disapa Ki Sadim, tetangga sebelah yang berusia sekitar 70 tahun, dengan tubuh kurus tapi tegap seperti pohon jati tua. Ia mengenakan kaus lusuh dan celana pendek, membawa keranjang bambu berisi sayur dari kebunnya, wajahnya yang keriput dihiasi senyum ramah yang khas.
Ki Sadim berhenti di pagar kayu rendah, melambai santai. “Pagi, Neng Fitri. Masih rajin jemur pagi-pagi ya? Kebetulan, ini bawa cabe rawit dari kebun, ambil aja kalau butuh,” katanya dengan suara serak tapi hangat, suaranya yang tenang seperti angin pagi.
Ia mendekatkan keranjangnya, dan saat Fitri maju untuk mengambil segenggam cabe, matanya tanpa sengaja melirik ke bawah, ke bagian celana pendek yang longgar, di mana garis samar tonjolan terlihat bergoyang pelan mengikuti gerakannya. Jantung Fitri berdegup lagi, lebih kencang dari tadi, seolah tubuhnya yang baru berubah ini tak mau diam.
Ia teringat cerita-cerita desa samar-samar tentang Ki Sadim, yang meski duda sejak lama, dulu dikenal sebagai lelaki pekerja keras dengan stamina tak terduga di sawah, membuat imajinasinya liar: apakah di balik penampilan sederhana itu tersembunyi penis seperti Bah Mardi atau bahkan lebih?
Wajah Fitri memerah, ia buru-buru mengalihkan pandang, tapi sensasi panas di perut bawahnya semakin kuat, membuat pahanya terasa licin.
“Terima kasih, Ki Sadim. Cabe-nya segar sekali,” balasnya tergagap, suaranya sedikit bergetar.
Ki Sadim mengangguk, tak sadar akan gejolak di hati Fitri. Bagi Fitri, kemunculan lelaki tua ini seperti godaan baru, memperkuat perasaan bahwa dirinya kini rentan terhadap daya tarik tersembunyi di setiap sudut desa Cikupa, terutama lelaki tua yang ternyata masih perkasa.
“Ki Sadim mau kopi atau teh hangat dulu?” tanya Fitri cepat, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya. Ia merasa perlu melakukan sesuatu untuk mengalihkan perhatian dari pikiran-pikiran liarnya, sekaligus mengundang Ki Sadim masuk, entah mengapa.
Tawaran itu meluncur begitu saja dari bibirnya, sebuah gestur keramahan desa yang biasa, namun pagi ini terasa bermakna ganda.
Ki Sadim menghentikan langkahnya, menoleh dengan senyum tulus. “Wah, jangan repot-repot, Neng. Tapi kalau memang tak merepotkan, teh hangat sepertinya nikmat di pagi hari begini,” jawabnya, suaranya yang lembut dan ramah membuat Fitri sedikit lega, sekaligus menambah kehangatan di dadanya.
“Tidak merepotkan sama sekali, Bah. Mari masuk, tehnya biar saya siapkan,” kata Fitri, membuka pintu samping rumahnya lebih lebar.
Dengan canggung namun hormat, Ki Sadim melangkahkan kaki ke dalam dapur Fitri yang sederhana. Aroma bumbu dapur yang samar bercampur dengan kehangatan pagi menyambutnya.
Fitri mempersilakan Ki Sadim duduk di bangku kayu dekat meja kecil, sementara ia bergegas menyalakan kompor dan mengambil cangkir.
Saat Fitri membelakangi Ki Sadim, menuang air panas ke dalam teko berisi teh, ia bisa merasakan tatapan lelaki tua itu di punggungnya. Bukan tatapan nakal atau penuh hasrat seperti Bah Mardi, melainkan tatapan yang terasa lebih… mengamati.
Fitri menahan napas, dadanya berdesir. Ia mencoba memfokuskan diri pada bunyi air mendidih dan aroma teh melati yang mulai menguer, tapi pikirannya kembali melayang.
Bagaimana jika Ki Sadim, dengan segala cerita masa lalunya, juga memiliki rahasia lain yang tersembunyi? Kehadiran lelaki tua di dapurnya ini, di pagi hari setelah malam yang penuh gejolak, seolah menguji batas-batas baru yang mulai muncul dalam dirinya.
Fitri meletakkan cangkir teh hangat di depan Ki Sadim, uapnya mengepul lembut di udara dapur yang sederhana. Ia duduk di bangku seberang, tangannya memegang cangkirnya sendiri untuk menyembunyikan getaran kecil di jarinya.
“Silakan diminum dulu, Ki. Masih panas,” katanya sambil tersenyum tipis, mencoba menjaga nada suaranya tetap biasa.
Ki Sadim mengangguk, meniup permukaan teh sebelum menyeruputnya pelan.
“Terima kasih, Neng. Enak sekali, bikin hati adem pagi-pagi gini.” Ia meletakkan cangkir, matanya yang bijak menatap Fitri dengan ramah.
“Eh, ngomong-ngomong, Herman gimana kabarnya? Sudah lama sekali nggak kelihatan mukanya. Kerjaannya di kota pasti sibuk terus ya?”
Pertanyaan itu sederhana, basa-basi khas tetangga, tapi bagi Fitri, seperti menyentuh luka yang masih basah. Ia menatap cangkirnya, jarinya mengelilingi pinggirannya.
“Mas Herman… ya, Bah, jarang pulang. Sudah mau tiga bulan ini. Saya di sini sendirian sama anak, ngurus rumah, kadang rasanya kesepian banget. Kayak… nggak ada yang nemenin, nggak ada yang ngertiin.” Suaranya pelan, tapi ada getar emosi yang tak bisa ia tahan.
Ki Sadim mendengarkan diam-diam, wajahnya yang keriput menunjukkan empati. Ia mengangguk pelan, menyeruput teh lagi sebelum bicara.
“Ah, Neng, Aki paham rasanya. Aki juga hidup sendirian sejak istri meninggal sepuluh tahun lalu. Rumah terasa sepi, malam-malam panjang tanpa obrolan. Dulu kami sering duduk di teras, ngobrol kecil-kecilan, sekarang… ya begini, cuma Abah sama ingatan. Tapi ya sudahlah, hidup harus jalan terus.”
Obrolan itu mengalir pelan, seperti angin pagi yang membawa kelegaan sementara bagi Fitri. Ada ikatan tak terucap di antara mereka, dua jiwa kesepian yang bertemu di dapur sederhana, meski di baliknya, pikiran Fitri masih bergulat dengan perubahan aneh yang membuatnya gelisah.
Obrolan mulai menyentuh relung hati Fitri yang paling sepi. Ia menemukan dirinya mengangguk-angguk setuju pada setiap cerita Ki Sadim tentang kesendiriannya, merasa ada benang merah yang menghubungkan pengalaman mereka, terlepas dari perbedaan usia.
Fitri mulai bercerita lebih banyak, tentang malam-malam tanpa suaminya, tentang betapa hampa rumah ini sering terasa, bahkan tentang kebutuhannya akan kehangatan yang tak terpenuhi. Ada rasa lega sekaligus takut saat kata-kata itu keluar dari mulutnya, seolah ia sedang berjalan di tepi jurang.
“Kadang, Ki,” ucap Fitri pelan, matanya menatap cangkir teh yang sudah setengah kosong, “Saya cuma butuh seseorang untuk diajak bicara. Atau sekadar ada di samping saya.”
Ki Sadim menggeser duduknya sedikit, mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapannya penuh pengertian. “Tentu saja, Neng. Manusia itu butuh ditemani. Aki juga begitu. Dulu, malam-malam terasa dingin sekali, sampai bingung harus gimana.”
Saat Ki Sadim bergerak, celana pendeknya yang longgar sedikit tertarik ke atas, dan di saat itulah, mata Fitri tak sengaja tertuju pada area selangkangannya.
Di bawah kain tipis celana itu, ia melihat atonjolan yang tadi samar, kini tampak lebih jelas, sedikit membesar seiring dengan gerakan dan posisi duduk Ki Sadim.
Jantung Fitri berdebar lebih kencang, kali ini bukan karena imajinasi semata, tapi karena penampakan nyata yang ada di hadapannya. Napas Fitri tertahan. Ia merasakan aliran panas menjalar dari perutnya, menuruni pangkal paha, membuat kulitnya merinding halus.
“Maaf Ki, kalau lelaki seusia Aki memang masih punya hasrat?”
Ki Sadim terdiam sejenak, matanya yang bijak menatap Fitri dengan campuran kejutan dan pemahaman. Ia tersenyum tipis, tapi yang hangat dan jujur, seolah ia sudah terbiasa dengan pertanyaan semacam itu dari tahun-tahun kesendiriannya.
“Pasti, Neng,” jawabnya tenang, suaranya serak tapi mantap. “Mau Aki buktikan?”
Kata-kata itu menggantung di udara dapur yang sederhana, membuat jantung Fitri berdegup kencang seperti palu. Ia tak menyangka jawaban seblak itu, tapi tubuhnya yang sudah berubah, mudah terangsang sejak pagi, merespons dengan gelombang panas yang lebih kuat, membuat pahanya terasa makinlicin.
Ki Sadim tak bergerak mendadak, hanya mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, tatapannya penuh pengertian, seolah menunggu isyarat dari Fitri.
Udara di antara mereka terasa tebal, aroma teh hangat bercampur ketegangan yang baru lahir, dan Fitri merasa dirinya berada di persimpangan baru, antara mundur atau melangkah lebih dalam ke jurang hasrat yang kini menjeratnya.
Sebelum Fitri sempat mengeluarkan sepatah kata pun, sebelum ia bisa memutuskan antara menolak atau menerima tawaran yang menggiurkan itu, sebuah suara kecil memecah ketegangan. “Ma… mama?”
Bersambung…
Fitri dan Ki Sadim serentak menoleh ke arah sumber suara. Di ambang pintu kamar, berdiri anaknya, putri kecil Fitri yang berusia tiga tahun, dengan rambut acak-acakan dan mata setengah terpejam, mengusap-usap matanya yang masih mengantuk. Dia baru bangun tidur.
Wajah Fitri langsung memucat, terkejut dan malu luar biasa. Senyum Ki Sadim sedikit memudar, namun ia segera kembali ke ekspresi ramah seperti biasa.
“Eh, anak manis sudah bangun. Sini, sarapan sama Mama,” kata Fitri, berusaha terdengar setenang mungkin, meskipun jantungnya masih berpacu kencang.
Ia segera bangkit, mencoba menutupi kegugupannya dengan kesibukan. anaknya berjalan pelan ke arahnya, lalu melirik Ki Sadim dengan tatapan ingin tahu sebelum memeluk kaki Fitri.
Momen itu, kehadiran polos putrinya, seperti guyuran air dingin yang menyadarkan Fitri dari trans gairah sesaat. Ia merasa bersalah, bukan hanya kepada Herman, tetapi juga pada anaknya.
Namun, di sisi lain, perasaan mudah terangsang itu tak sepenuhnya hilang; ia hanya tertunda, tersembunyi di balik kesibukannya menyiapkan sarapan untuk putrinya.
Ki Sadim bangkit dari bangku kayu dengan gerakan pelan, meletakkan cangkir teh kosongnya di meja.
“Sudah, Neng, Aki pamit dulu ya. Terima kasih tehnya, enak sekali. Jangan lupa istirahat juga, jaga kesehatan,” katanya ramah, suaranya tetap tenang meski ada sisa ketegangan dari obrolan tadi.
Ia melirik anaknya yang kini duduk di pangkuan Fitri, tersenyum pada anak kecil itu sebelum berbalik menuju pintu dapur.
Fitri mengangguk, masih mencoba menenangkan napasnya sambil menggendong anaknya.
“Iya, Ki. Hati-hati di jalan.” Ia berdiri untuk mengantar Ki Sadim ke pintu, putrinya bergantung di pinggangnya seperti koala kecil.
Saat Ki Sadim melangkah melewati Fitri, ruangan dapur yang sempit membuat jarak mereka begitu dekat. Tanpa suara, tanpa tatapan yang mencurigakan, Ki Sadim sengaja menggesekkan selangkangannya ke pantat Fitri yang montok, sebuah sentuhan singkat tapi tegas melalui kain daster tipisnya.
Sensasi itu seperti sengatan listrik bagi Fitri; ia tersentak pelan, wajahnya memerah hebat, tapi tak berani bereaksi karena anaknya ada di dekatnya.
Ki Sadim tak berhenti, hanya melanjutkan langkahnya keluar pintu dengan senyum tipis yang tak terbaca, seolah tak ada yang terjadi.
Pintu tertutup pelan di belakangnya, meninggalkan Fitri berdiri di sana, jantung berdegup kencang, getaran panas kembali menyala di tubuhnya. Ia memeluk anaknya lebih erat, mencoba mengusir rasa gelisah yang kini bercampur antara syok dan hasrat tersisa, tapi bayangan gesekan itu tak kunjung pudar dari pikirannya.
‘Ternyata bener masih keras, tapi kuat gak kalau dipake?’ tanya Fitri dalam hati.
Pertanyaan itu melintas begitu saja, vulgar dan penasaran, seolah hasrat semalam dengan Bah Mardi telah membuka keran imajinasi yang tak bisa ditutup lagi.
Ia membayangkan Ki Sadim, lelaki tua 70 tahun dengan tubuh kurus tapi tegap, apakah penis itu hanya tampilan luar atau benar-benar bisa memuaskan seperti yang ia rasakan dari mertuanya?
Wajahnya memerah lebih dalam, tangannya tanpa sadar meremas pinggang anaknya sedikit terlalu kuat, membuat anaknya merengek pelan.
Fitri buru-buru melepaskan pelukan, membawa anaknya kembali ke dalam, tapi pikiran itu tak mau pergi, ia kini melihat setiap lelaki tua di desa Cikupa dengan lensa baru, penuh rasa lapar yang menakutkan namun juga menggairahkan.
Ia duduk di bangku dapur, menyiapkan bubur sederhana untuk anaknya, tapi konsentrasinya buyar. Setiap gerakan mengaduk panci, menuang air mengingatkannya pada sentuhan kasar, pada tonjolan yang ia lihat tadi. Penyesalan bercampur gairah, membuatnya gelisah; ia tahu ini bukan dirinya yang dulu, tapi pagi ini, kesepian dan perubahan itu terasa tak terelakkan.
Fitri meletakkan anaknya di kursi kecil dengan semangkuk bubur hangat di depannya, memastikan putrinya sibuk makan sebelum ia melangkah keluar.
Pikiran tentang Ki Sadim masih bergolak, tapi ia memutuskan untuk mengalihkan energi itu ke pekerjaan rumah, mungkin juga untuk menguji batas-batas baru yang kini terasa menggelitik di hatinya.
Ia mengenakan daster pendek sederhana, kain tipis yang hanya menutupi hingga pertengahan paha, tanpa ikatan ketat di dada, membuat lekuk tubuhnya terlihat lebih bebas saat bergerak.
Biasanya, ia memilih pakaian lebih sopan saat bekerja di halaman, tapi pagi ini, ada dorongan aneh: ingin melihat sejauh mana tetangga-tetangga pria di Cikupa tergoda, apakah perubahan dalam dirinya ini bisa memicu respons yang sama seperti hasrat yang kini membara di nadinya.
Ia mengambil sapu lidi dari sudut teras, mulai menyapu daun-daun kering yang berserakan di halaman depan rumah. Gerakan tangannya ritmis, pinggulnya bergoyang pelan mengikuti ayunan sapu, membuat daster pendek itu naik-turun sedikit, memperlihatkan garis paha mulusnya yang terkena sinar matahari pagi.
Angin sepoi-sepoi menyibak kainnya, dan Fitri merasakan sensasi dingin menyentuh kulitnya, yang justru memperkuat getaran birahi samar dari tadi. Ia melirik ke jalan setapak, berharap, atau takut, ada tetangga lewat, seperti Pak Darsa atau bahkan Ki Sadim yang baru saja pergi.
Apa mereka akan menatap lebih lama? Apa ada yang berani mendekat? gumamnya dalam hati, campuran rasa malu dan kegembiraan membuat napasnya lebih cepat.
Saat ia membungkuk untuk mengumpulkan tumpukan daun, daster itu menegang di belakang, menonjolkan bentuk pantatnya yang bulat.
Fitri tahu ia sedang bermain api, tapi perasaan ingin menguji itu terlalu kuat, seolah malam semalam dan pagi ini telah mengubahnya menjadi wanita yang haus akan perhatian, siap melihat reaksi dari lelaki-lelaki tua di desa yang selama ini ia anggap biasa saja. Ia melanjutkan menyapu, mata sesekali melirik ke sekitar, menunggu apa yang akan datang.
Fitri masih sibuk menyapu halaman, gerakan pinggulnya terayun lembut seiring dengan sapuan bambu. Ia merasakan tatapan—bukan dari jauh, melainkan dari dekat. Sebuah bayangan jatuh di sampingnya, dan aroma parfum murah yang menyengat namun familiar menguer di udara pagi.
Fitri mengangkat kepala, melihat seorang pemuda berdiri tak jauh darinya. Itu Rian, anak muda desa yang terkenal genit, usianya sekitar awal dua puluhan, dengan rambut disisir klimis dan senyum jahil yang selalu menghiasi wajahnya.
“Wah, rajin sekali pagi-pagi sudah bersih-bersih, Teh Fitri,” sapa Rian, suaranya dibuat-buat ramah, tapi matanya jelas menatap tubuh Fitri yang hanya terbalut daster pendek. Pandangannya menyapu dari atas ke bawah, tak luput dari paha Fitri yang terekspos.
“Pemandangan pagi-pagi begini bikin semangat ya, Teh.”
Fitri merasakan pipinya menghangat, bukan karena malu sepenuhnya, melainkan campuran antara terkejut dan getaran aneh yang lagi-lagi menyelinap di hatinya. Hasrat yang baru bangkit itu kini bereaksi pada godaan yang lebih muda, lebih terang-terangan. Ia tersenyum tipis, mencoba terlihat biasa.
“Ah, Rian ini. Ada-ada saja. Memang sudah tugasnya, Yan. Kalau kotor kan tidak enak dipandang.”
Rian melangkah sedikit lebih dekat, senyumnya semakin lebar. “Tidak enak dipandang bagaimana, Teh? Justru Teteh pakai daster begini malah makin enak dipandang. Cantiknya nggak luntur, malah makin segar kayak embun pagi.”
Matanya menatap Fitri lebih intens, berani, seolah mengukur reaksinya. Ia tahu Fitri adalah istri Herman, tapi gosip tentang Herman yang jarang pulang dan Fitri yang kesepian sudah beredar luas.
Fitri menelan ludah. Ini adalah reaksi yang ia inginkan, namun datang dari sumber yang tak terduga, seorang pemuda, bukan lelaki tua seperti yang ia bayangkan. Hatinya berdesir, merasakan tantangan baru. Ia tahu ini berbahaya, tapi sebagian dirinya merasa penasaran untuk melihat sejauh mana godaan ini akan berlanjut.
Fitri merasakan denyut jantungnya kian kencang saat Rian melangkah makin dekat, senyum genitnya berubah jadi seringai penuh arti.
Udara di antara mereka menipis, dan Fitri bisa mencium aroma rokok bercampur parfum murah yang kini begitu dekat. Ia mundur selangkah secara naluriah, tapi punggungnya membentur dinding rumah, menjebaknya.
“Pemandangan bagus begini, sayang kalau cuma dilihat dari jauh, Teh,” bisik Rian, suaranya kini lebih rendah dan mendesak.
Tangannya terangkat, bukan untuk menyentuh, tapi melayang di samping pinggang Fitri, sangat dekat sehingga ia bisa merasakan kehangatan telapak tangan pemuda itu. Matanya yang gelap menatap Fitri lekat-lekat, menelanjangi Fitri seolah daster tipis itu tak ada artinya.
“Rian… ada-ada saja,” kata Fitri, suaranya sedikit tercekat. Ia mencoba terdengar tegas, tapi getaran dalam suaranya mengkhianati kegugupan dan, yang lebih menakutkan, desiran hasrat yang kini tak bisa ia ingkari. Ia merasa dirinya seperti magnet, menarik godaan, dan Rian seperti pin besi yang tak bisa menahan diri.
Rian tak mengindahkan perkataan Fitri. Ia maju selangkah lagi, menempatkan tubuhnya begitu dekat hingga Fitri bisa merasakan napas hangatnya menerpa wajah.
Tangannya yang tadinya melayang kini menekan dinding di kedua sisi Fitri, menjebaknya sepenuhnya. Fitri merasa terpojok, tapi anehnya, ada bagian dari dirinya yang tidak ingin lari, yang ingin tahu sejauh mana Rian berani melangkah. Daster pendeknya yang tipis, kini terasa seperti godaan telanjang di hadapan pemuda ini.
“Teh Fitri tahu kan, kalau saya suka banget sama Teteh? Dari dulu, sejak nikah sama Kang Herman,” bisik Rian, matanya berkilat penuh hasrat. “Suami jauh di sana, Teteh di sini sendirian… kenapa nggak kita berdua aja yang bersenang-senang?”
Keberanian Rian yang terang-terangan itu membuat Fitri terkesiap. Ini bukan rayuan halus lagi, ini adalah ajakan yang vulgar, langsung, dan sangat berbahaya. Fitri tahu ia harus mengusirnya, tapi tubuhnya justru bereaksi lain, merasakan panas yang membakar dan hasrat.
Rian tak memberi Fitri kesempatan untuk menolak. Kata-kata terakhirnya yang penuh hasrat, dan keheningan Fitri yang disalahartikan, seolah menjadi lampu hijau baginya. Dengan gerakan cepat dan nekad, Rian meraih pergelangan tangan Fitri yang bebas, menariknya kuat.
“Ayolah, Teh,” bisik Rian lagi, suaranya mengandung campuran desakan dan keyakinan, “jangan malu-malu. Di dapur saja, biar nggak ada yang lihat.”
Bersambung…
Fitri tersentak, mencoba menarik tangannya dari cengkraman Rian, tapi kekuatan pemuda itu jauh melampauinya. Ia tak sanggup lagi menolak. Tubuhnya seperti lumpuh, perlawanan yang harusnya ia tunjukkan tak kunjung datang.
Antara kaget, ketakutan, dan desiran aneh yang mengkhianati dirinya, Fitri membiarkan Rian menariknya, melewati pintu samping, dan masuk ke dalam dapur yang tadi pagi menjadi saksi bisu obrolan hangatnya dengan Ki Sadim.
Dapur yang tadinya terang dan hangat kini terasa pengap dan gelap, seolah bayangan kejadian semalam dan pagi ini berkumpul di sana. Fitri hanya bisa pasrah terseret, daster tipisnya tersingkap sebagian, napasnya terengah-engah.
Matanya melebar, bukan hanya karena ketakutan, tetapi juga karena menyadari bahwa ia telah kehilangan kendali, sepenuhnya ditarik oleh arus hasrat dan kesempatan yang ia sendiri seolah undang.
Fitri berdiri di ambang pintu dapur yang menghubungkan ke ruang tengah, napasnya tersengal saat Rian mendorongnya pelan tapi tegas dari belakang. Matanya tertuju pada anaknya yang duduk di kursi kecil, sibuk menyendok bubur hangat dengan lahap, tak sadar akan apa yang terjadi di belakangnya.
“Sayang, makan yang pelan-pelan ya, Nak,” bisik Fitri, suaranya bergetar tapi ia paksa terdengar normal, seolah sedang mengawasi anaknya seperti biasa. Hatinya bergejolak, antara rasa bersalah yang menusuk dan hasrat aneh yang membuatnya tak bisa bergerak, membiarkan momen ini berlanjut.
Rian, dengan napas panas di leher Fitri, tak membuang waktu. Tangannya yang kasar naik ke pinggang Fitri, mengangkat daster pendek itu perlahan dari belakang, kain tipisnya tersingkap memperlihatkan pantat bulatnya. Fitri menggigit bibir, tubuhnya tegang tapi tak melawan;
Ia hanya menatap anaknya yang tertawa kecil saat bubur menetes di dagunya. Tak lama, jari Rian menyusup ke celana dalam Fitri, menariknya turun dengan cepat hingga terlepas, meninggalkan keintiman Fitri terbuka di udara pagi yang sejuk.
“Sst… jangan berisik, Teh,” gumam Rian serak, sambil membuka celananya sendiri.
Tak lama kemudian, penis Rian melesak masuk dari belakang, dorongan awal yang kasar membuat Fitri tersentak pelan. Ia terhenyak bukan karena nikmat yang membara seperti semalam dengan Bah Mardi, melainkan karena kejutan atas ukuran itu, sangat kecil walau panjang, seperti ular tipis yang menyusup tanpa mengisi sepenuhnya.
Sensasi itu aneh, kurang memuaskan, membuat Fitri merasa hampa di tengah ketegangan. Ia menahan desah, tangannya mencengkeram meja dapur untuk menjaga keseimbangan, sementara anaknya masih asyik dengan buburnya, tak tahu rahasia terlarang yang sedang terjadi tepat di hadapannya.
Hanya dalam beberapa hentakan yang terburu-buru, Rian sudah mencapai puncaknya. Cairan hangat itu menyembur tanpa peringatan, membuat Fitri terhenyak, bukan karena nikmat, melainkan karena rasa hampa dan kejutan yang tidak menyenangkan. Ia merasakan tubuh Rian menegang sesaat, lalu melonggar.
“Duh,” desah Rian pelan, suaranya sedikit malu-malu dan kelelahan. Ia buru-buru menarik penisnya keluar, membuat Fitri merasa semakin kesal dan jijik.
Perasaan digunakan, namun tidak dipuaskan, meninggalkan bekas yang pahit. Rian dengan cepat merapikan celananya, mengancingkan resletingnya dengan gerakan gugup, tanpa berani menatap Fitri.
Setelah itu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rian berbalik dan kabur begitu saja dari dapur Fitri, seperti maling yang tertangkap basah.
Ia melangkah cepat melewati pintu samping, bahkan tidak menoleh ke belakang, meninggalkan Fitri berdiri di sana, daster masih terangkat sebagian, celana dalamnya tergeletak di lantai, dan anaknya masih asyik dengan buburnya.
Fitri berdiri di ambang dapur, tangannya gemetar saat ia buru-buru menarik dasternya ke bawah dan mengambil celana dalam yang tergeletak di lantai. anaknya masih sibuk dengan buburnya, tak sadar akan kekacauan yang baru saja terjadi, tapi Fitri merasa dunia seolah runtuh di sekitarnya.
Ia membersihkan diri secepat mungkin, mencuci tangan berulang kali di wastafel sederhana, seolah air bisa membasuh rasa jijik yang menempel di kulitnya.
Kekesalan membara di dadanya, bukan hanya pada Rian yang kabur seperti pengecut, tapi pada dirinya sendiri yang membiarkan semuanya terjadi, yang membiarkan hasrat aneh pagi ini menguesai akal sehatnya.
Sepanjang hari itu, Fitri kesal seharian. Ia membersihkan rumah dengan gerakan kasar, menyapu halaman lebih keras dari biasanya, dan bahkan saat menyiapkan makan siang untuk anaknya, pikirannya tak henti berputar pada kejadian memalukan tadi.
Tidak akan lagi, tekadnya dalam hati, berulang seperti mantra. Tidak akan tergoda oleh pemuda menjijikan seperti Rian. Ia membayangkan wajah Rian yang genit dan lemah itu, ukurannya yang mengecewakan, dan bagaimana ia meninggalkannya dalam keadaan hampa, membuat penyesalan semakin dalam.
Hari berlalu penuh penyesalan, matahari siang yang terik seolah mengejek kegagalannya menjaga batas, sementara angin sore membawa suara desa yang biasa, kontras dengan gejolak di hatinya. Fitri duduk di teras saat senja, memeluk lutut, berjanji pada diri sendiri untuk kembali ke kehidupan normal, setidaknya, sampai godaan lain datang lagi.
^*^
Malam harinya, setelah matahari tenggelam di balik bukit dan suara jangkrik mulai mengisi keheningan Kampung Cikupa, Fitri tak bisa tidur. Tubuhnya masih panas, seperti bara yang belum padam sepenuhnya sejak kejadian dengan Rian pagi tadi.
Rasa hampa itu malah membuatnya semakin gelisah. Bayangan Ki Sadim terus muncul: senyum ramahnya yang bijak, tangan keriput yang kokoh memegang keranjang sayur, dan yang paling tak bisa ia lupakan, gesekan singkat tapi penuh arti saat lelaki tua itu melewatinya di pintu dapur.
Fitri duduk di tepi ranjang, memeluk lutut. anaknya sudah tertidur pulas di kamar sebelah, napasnya teratur seperti lagu pengantar tidur. Rumah terasa terlalu sepi lagi. Herman masih di kota, mungkin sedang tertidur lelap di kosannya tanpa tahu istrinya sedang bergulat dengan api yang tak pernah ia sangka akan membakar habis dirinya.
Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan di pintu samping. Jantung Fitri langsung melonjak. Siapa lagi yang datang malam-malam begini kalau bukan…
Ia bangkit, mengenakan daster tipis yang sama seperti pagi tadi—tanpa bra, tanpa apa pun di bawahnya. Langkahnya ringan menuju pintu.
Saat membukanya sedikit, cahaya lampu teras menerangi wajah Ki Sadim yang berdiri di sana, masih dengan kaus lusuh dan celana pendek yang sama. Matanya yang bijak menatap Fitri dengan tenang, tapi ada sesuatu yang berbeda—lebih dalam, lebih lapar.
“Aki… malam-malam begini?” suara Fitri pelan, hampir berbisik.
Ki Sadim tersenyum tipis. “Tadi pagi, Neng bilang butuh seseorang buat nemenin. Aki pikir… mungkin malam ini Neng masih butuh.”
Fitri menelan ludah. Tanpa kata lagi, ia membuka pintu lebih lebar. Ki Sadim melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati. Udara dapur yang tadi siang jadi saksi obrolan mereka kini terasa lebih tebal, lebih hangat.
Mereka berdiri saling berhadapan di ruang tengah yang remang. Ki Sadim tak buru-buru. Ia hanya mengulurkan tangan keriputnya, menyentuh pipi Fitri dengan lembut, seperti menyapa teman lama.
“Neng takut?” tanyanya serak.
Fitri menggeleng pelan. “Takut… tapi lebih takut kalau besok pagi aku menyesal karena nggak melakukannya.”
Itu adalah pengakuan terakhir sebelum semuanya lepas kendali.
Ki Sadim menarik Fitri ke pelukannya, tapi ia tak langsung membawanya ke kamar. Sebaliknya, dengan gerakan yang tenang dan penuh kendali, ia memandu Fitri menuju sofa tua di sudut ruang tengah.
Cahaya lampu temaram dari sudut ruangan hanya menyisakan bayang-bayang lembut di dinding kayu, membuat suasana terasa semakin intim, hampir seperti rahasia yang dijaga rapat oleh malam.
“Duduk dulu, Neng,” bisik Ki Sadim serak, suaranya rendah seperti hembusan angin malam yang membawa aroma tanah basah. Ia duduk lebih dulu di sofa, tubuhnya yang kurus tapi tegap bersandar santai, lalu menepuk tempat di sampingnya dengan telapak tangan yang kasar namun hangat.
Fitri menurut, meski jantungnya berdegup tak karuan. Ia duduk di sebelahnya, paha mereka hampir bersentuhan. Daster tipisnya tersingkap sedikit di bagian paha saat ia melipat kaki, tapi ia tak buru-buru menutupinya. Ada bagian dirinya yang sengaja membiarkan kain itu tetap begitu—terbuka, mengundang.
Ki Sadim tak langsung menyentuh lagi. Ia hanya menatap Fitri lama, matanya yang bijak menyusuri wajah wanita itu: dari alis yang sedikit berkerut karena gugup, turun ke bibir yang sedikit terbuka, lalu ke leher yang naik-turun karena napas yang tak tenang.
“Pernah dipijat, Neng?” tanyanya tiba-tiba, suaranya tetap lembut tapi ada nada main-main yang terselip.
Fitri tersenyum kecil, mencoba meredakan ketegangan. “Kadang Mas Herman kalau lagi capek, tapi… jarang. Sudah lama sekali.”
Ki Sadim mengangguk pelan. “Biar Aki yang pijitin. Cuma pijit biasa, biar badan Neng rileks. Malam ini kan panjang.”
Tanpa menunggu jawaban, tangan keriputnya naik ke bahu Fitri. Jari-jarinya yang panjang dan sedikit bengkok karena usia mulai menekan pelan, memijat bahu kanan dulu dengan gerakan melingkar yang terasa sangat terampil.
Tekanan itu pas—tak terlalu keras, tapi cukup dalam hingga Fitri merasakan otot-otot yang selama ini tegang mulai meleleh.
“Ahh…” desah Fitri pelan tanpa sadar, matanya terpejam sejenak.
“Bagus, Neng. Lepasin aja,” gumam Ki Sadim. Tangannya bergerak lebih lebar, menyusuri leher Fitri, lalu turun ke punggung atas. Jari-jarinya menyelinap di bawah tali daster yang tipis, menyentuh kulit telanjang di sana. Sentuhannya masih terasa “pijat biasa”, tapi kehangatan telapak tangannya yang kasar itu membuat bulu kuduk Fitri merinding.
Mereka diam sejenak, hanya terdengar napas mereka yang mulai saling mengejar, dan bunyi kecil gesekan kain saat tangan Ki Sadim bergerak.
“Ki… kok tahu caranya begini?” tanya Fitri, suaranya agak parau.
Ki Sadim tertawa kecil, suara seraknya terdengar lebih dalam di kegelapan. “Dulu, waktu istri Aki masih ada, tiap malam dia minta dipijat. Katanya enak. Lama-lama Aki hafal semua titik yang bikin badan lemes… atau malah tambah panas.”
Kata-kata itu seperti percikan api kecil. Fitri merasakan getaran halus di perut bawahnya. Ia menggigit bibir bawah, mencoba menahan desah saat jari Ki Sadim menekan titik di antara tulang belikatnya—tepat di tempat yang selama ini selalu tegang karena menggendong anaknya atau membersihkan rumah sendirian.
Bersambung…
“Panas ya, Neng?” tanya Ki Sadim lagi, kali ini suaranya lebih rendah, hampir berbisik di telinga Fitri. Napasnya yang hangat menyapu cuping telinga wanita itu.
Fitri tak menjawab langsung. Ia hanya mengangguk pelan, pipinya memerah. Tangan Ki Sadim kini turun lebih rendah, memijat pinggang Fitri dengan gerakan melingkar yang semakin lebar. Setiap kali jari-jarinya menyentuh sisi pinggul, kain daster tersingkap sedikit lebih tinggi, memperlihatkan garis paha yang mulus.
“Ki… kalau pijitnya begini, kok rasanya… beda,” ucap Fitri, suaranya hampir tak terdengar.
“Beda gimana, Neng?” Ki Sadim pura-pura tak mengerti, tapi senyum kecil di bibirnya mengkhianati. Tangannya kini berpindah ke paha luar Fitri, masih dengan gerakan memijat yang seolah-olah polos. Tapi tekanannya semakin dalam, jari-jarinya menyusuri bagian dalam paha dengan gerakan lambat yang sengaja menggoda.
Fitri menahan napas. Pahanya mulai terasa licin lagi, panas yang tadi sempat reda kini kembali membara. Ia merasakan denyut di antara kedua pahanya, semakin kuat setiap kali jari Ki Sadim mendekati bagian yang paling sensitif—tapi tak pernah benar-benar menyentuh.
“Aku… takut Ki,” bisik Fitri, tapi tubuhnya justru merapat lebih dekat, mencari lebih banyak sentuhan.
“Takut apa? Aki kan cuma pijit biasa,” jawab Ki Sadim, suaranya penuh kepolosan pura-pura. Tapi saat ia mengucapkan kata itu, tangannya dengan sengaja menyelinap lebih dalam ke bagian dalam paha Fitri, hanya beberapa senti dari tempat yang sudah basah.
Jari telunjuknya menyentuh tepian celana dalam yang tipis—hanya sentuhan ringan, tapi cukup untuk membuat Fitri tersentak pelan.
“Ki…” Fitri mendesah, kepalanya terkulai ke belakang, bersandar di bahu lelaki tua itu.
Ki Sadim tak berhenti. Ia memijat lebih lambat sekarang, gerakannya seperti sapuan yang sengaja menahan diri. Setiap kali jarinya mendekati pusat kenikmatan Fitri, ia mundur lagi, membuat wanita itu semakin gelisah, semakin haus.
“Kalau Neng mau berhenti, bilang aja,” bisik Ki Sadim di telinga Fitri, suaranya serak penuh godaan. “Tapi kalau Neng mau lanjut… Aki bisa bikin Neng lupa sama kesepian malam ini.”
Fitri tak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memejamkan mata, membiarkan tangan Ki Sadim terus menari di kulitnya, membiarkan ketegangan seksual itu semakin tebal, semakin panas, sampai akhirnya ia sendiri yang tak tahan lagi.
Tangan Fitri meraih pergelangan tangan Ki Sadim, membimbingnya lebih dalam, lebih berani.
“Terusin, Ki…” bisiknya, suaranya gemetar penuh hasrat. “Jangan berhenti.”
Ki Sadim tersenyum dalam gelap, matanya berkilat. Pijatan “biasa” itu kini resmi berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam—dan malam masih sangat panjang.
Ki Sadim merasakan getaran tangan Fitri yang membimbingnya, suara bisikannya seperti undangan yang tak bisa ditolak. Senyumnya melebar dalam kegelapan, tapi ia tak buru-buru.
Dengan gerakan yang masih pura-pura terkendali, jari-jarinya menyusuri tepian celana dalam yang sudah lembab itu, menyentuh dengan ringan, menggoda tanpa langsung menyerang. Kulit Fitri terasa panas di bawah sentuhannya, seperti api yang siap meledak.
“Neng… santai aja,” gumamnya, suaranya serak seperti hembusan angin yang membawa janji. Tangannya kini bergerak lebih berani, menyelinap di bawah kain daster yang tipis, menyentuh langsung permukaan yang basah dan hangat.
Jari telunjuknya melingkar pelan di sekitar klitoris Fitri, tekanannya ringan tapi ritmis, membuat tubuh wanita itu menegang dan melengkung tanpa sadar. Fitri mendesah lebih keras, napasnya tersengal, tangannya mencengkeram bahu Ki Sadim seolah mencari pegangan di tengah badai yang semakin kencang.
“Ahh… Ki, itu… enak sekali,” erang Fitri, matanya terpejam rapat, bibirnya tergigit untuk menahan ledakan sensasi yang menjalar dari perut bawahnya ke seluruh tubuh.
Ia merasakan denyut yang semakin kuat, seperti gelombang yang tak bisa dibendung. Tubuhnya merapat lebih dekat, dada naik-turun cepat, membuat tali daster di bahunya tergeser sedikit, memperlihatkan kulit dada yang putih dan lembut.
Ki Sadim tak berhenti. Ia menambahkan jari tengahnya sekarang, menyusup lebih dalam, merasakan kehangatan yang menyambutnya. Gerakannya lambat tapi pasti, seperti tarian yang dirancang untuk membangun ketegangan.
Setiap dorongan membuat Fitri menggeliat, pahanya terbuka lebih lebar tanpa ia sadari, mengundang lebih banyak. Napas Ki Sadim sendiri mulai berat, matanya tak lepas dari wajah Fitri yang memerah, ekspresinya campuran antara kenikmatan dan kerinduan yang lama tertahan.
“Ki… aku… panas banget,” bisik Fitri, suaranya parau penuh hasrat. Tanpa berpikir, tangannya bergerak sendiri, meraih kaus lusuh Ki Sadim, menariknya ke atas dengan gerakan yang tergesa.
Ki Sadim membantunya, membiarkan bajunya terlepas dari tubuhnya yang kurus tapi berotot karena kerja keras bertahun-tahun. Kulitnya yang gelap dan kasar terpapar, dada yang bidang naik-turun seirama dengan napasnya yang semakin cepat.
Fitri tak bisa menahan diri. Tangannya menyusuri dada lelaki itu, merasakan bulu-bulu halus dan hangat, jarinya menyentuh puting yang mengeras.
Ki Sadim mendesis pelan, tapi itu hanya membuatnya lebih ganas. Ia menarik Fitri lebih dekat, mulutnya menempel di leher wanita itu, mencium dengan lembut dulu, lalu menggigit ringan, meninggalkan jejak merah yang membuat Fitri merinding hebat.
“Pakaiannya… mengganggu, Neng,” gumam Ki Sadim di antara ciumannya, tangannya menyusup ke belakang, menarik tali daster Fitri dengan satu gerakan halus.
Kain tipis itu meluncur ke bawah, jatuh ke pinggang Fitri, memperlihatkan payudara yang montok dan puting yang sudah mengeras karena dingin malam dan hasrat yang membara. Fitri tak protes; sebaliknya, ia membantu, menggeliat agar daster itu terlepas sepenuhnya, meninggalkan tubuhnya hanya dengan celana dalam yang sudah basah kuyup.
Mereka saling menatap sejenak, mata Ki Sadim penuh kekaguman pada tubuh Fitri yang telanjang di depannya, seperti patung dewi yang hidup dalam cahaya temaram. Fitri merasa rentan tapi juga bebas, hasratnya membutakannya dari segala keraguan.
Tangannya bergerak lagi, membuka ikat pinggang celana panjang Ki Sadim, menariknya ke bawah dengan gemetar. Ki Sadim tak melawan; ia berdiri sebentar, membiarkan celana itu jatuh ke lantai, memperlihatkan tubuhnya yang telanjang, kejantanan yang sudah tegang dan siap.
Tanpa kata-kata lagi, mereka saling merapat, kulit bertemu kulit dalam pelukan yang panas dan lembab. Tangan Ki Sadim kembali ke antara paha Fitri, kali ini tanpa hambatan, jarinya menyusup dalam-dalam, membuat wanita itu mengerang panjang.
Fitri membalas, tangannya meraih penis Ki Sadim, menggenggam dengan lembut dulu, lalu mengusap dengan ritme yang semakin cepat, membuat lelaki tua itu mendesah serak.
Suasana semakin intens, napas mereka saling campur, tubuh bergesekan dalam gerakan yang tak terkendali. Mereka tak sadar lagi dengan sekitar—sofa tua itu berderit pelan di bawah berat mereka, bayang-bayang di dinding menari liar.
Fitri merasakan denyut kuat di telapak tangannya saat menggenggam penis Ki Sadim yang tegang itu. Batangnya panjang dan tebal, vena-vena menonjol di permukaannya seperti akar pohon tua yang kuat, kepalanya mengkilap karena pra-ejakulasi yang sudah menetes.
Meski usia Ki Sadim tak lagi muda, kejantanan itu terasa gagah, seperti senjata yang siap menaklukkan. Fitri menelan ludah, matanya tak bisa lepas dari pemandangan itu, hasratnya membara hingga vaginanya terasa semakin basah dan berdenyut, mendambakan untuk diisi penuh.
“Aku… mau ini, Ki,” bisik Fitri parau, suaranya gemetar penuh nafsu. Tangannya mengusap pelan dari pangkal hingga ujung, merasakan panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. “Kontolmu besar banget… panjang… aku pengen ngerasain dia ngebor dalam memekku yang sudah basah ini.”
Ki Sadim mendesis pelan, matanya berkilat melihat Fitri yang begitu berani sekarang. Ia menarik pinggul Fitri lebih dekat, membiarkan tubuh mereka saling menempel dalam panas yang lembab.
“Neng… masukin aja sendiri,” gumamnya serak, tangannya meremas pantat Fitri dengan kasar, jarinya menyentuh celah di antara paha. “Aki pengen liat Neng yang genjot duluan… masukin kontol tua ini ke lobang memekmu yang sempit itu. Pasti enak, Neng… ketat dan panas.”
Fitri tak bisa menahan lagi. Dengan napas tersengal, ia naik ke pangkuan Ki Sadim, posisinya menghadap lelaki tua itu. Tangan kanannya memandu ujung penis yang besar itu ke bibir vaginanya yang sudah licin. Saat kepala penis menyentuh, Fitri mendesah panjang, sensasi penuh dan meregang membuatnya merinding.
“Ahh… Ki, gede banget… memekku kayaknya bakal robek,” erangnya, tapi itu hanya menambah gairah. Ia turun pelan, memasukkan sedikit demi sedikit, merasakan bagaimana dinding vaginanya meregang menyesuaikan ukuran yang luar biasa itu.
“Masukin lebih dalem, Neng… genjot aja,” bisik Ki Sadim vulgar di telinganya, napasnya panas menyapu leher Fitri. “Kontol Aki ini pengen ngebor lobang memekmu sampe dalem, sampe Neng jerit-jerit keenakan. Ayo, goyang pinggulmu… bikin kontol ini basah kuyup sama cairan memekmu yang becek itu.”
Fitri menggigit bibir, matanya tertutup rapat saat ia turun lebih dalam, penis itu menyusup penuh, mengisi setiap inci ruang di dalamnya. Rasa penuh yang luar biasa membuatnya mengerang, tubuhnya bergetar.
“Duuh Gustiii… enak banget, Ki… kontolnya ngeganjel dalem banget,” desahnya, mulai menggerakkan pinggulnya naik-turun pelan dulu, merasakan gesekan yang kasar dan nikmat. Ki Sadim tak tinggal diam; tangannya meraih pinggul Fitri, membantunya genjot lebih cepat, dorongan dari bawah membuat penisnya menyodok lebih dalam.
Bersambung…
Mereka saling genjot sekarang, ritme semakin liar. Fitri naik-turun dengan ganas, payudaranya bergoyang di depan wajah Ki Sadim, yang langsung menyambar satu puting dengan mulutnya, mengisap kasar sambil menggigit ringan.
“Neng… memekmu enak banget, ketat kayak perawan,” gumam Ki Sadim di antara isapannya, suaranya penuh nafsu.
“Genjot lebih kenceng… bikin kontol Aki ini muncrat dalem memekmu. Aku pengen isi Neng penuh sama pejuh aku yang panas.”
“Ahh… iya, Ki… genjot aku lebih keras,” balas Fitri, suaranya semakin vulgar, tangannya mencengkeram bahu Ki Sadim sambil menggoyang pinggulnya maju-mundur.
Setiap sodokan membuat klitorisnya bergesek, sensasi listrik menjalar ke seluruh tubuh. “Kontolmu ini… gede dan panjang… ngebor vaginaku sampe dalem… aku mau keluar, Ki… bikin aku muncrat dulu!”
Ki Sadim tertawa serak, tangannya meremas pantat Fitri lebih kuat, membantunya genjot lebih cepat. Tubuh mereka basah keringat, suara gesekan kulit dan cairan bercampur dengan desahan mereka yang semakin keras.
“Ayo, Neng… muncratin di kontol Aki… basahin semuanya,” bisiknya, jarinya menyentuh anus Fitri ringan, menambah sensasi baru yang membuat wanita itu menggeliat hebat. “Memekmmu ini… enak banget… ketat dan panas… Aki juga udah mau keluar… isi Neng penuh sampe tumpah.”
Ritme mereka semakin tak terkendali, genjotan saling bertabrakan, penis Ki Sadim menyodok dalam-dalam hingga menyentuh titik sensitif Fitri. Wanita itu mengerang panjang, tubuhnya menegang, klimaks datang seperti gelombang dahsyat. “Ki… aku… keluar… ahhh!” jeritnya, vaginanya berkedut kuat, cairan hangat membasahi penis yang masih bergerak di dalamnya.
Ki Sadim tak bisa menahan lagi. Melihat Fitri klimaks membuatnya meledak, penisnya berdenyut hebat, menyemprotkan pejuh panas dalam jumlah banyak ke dalam vaginanya.
“Neng… ambil semua… pejuh Aki ini buat Neng,” desahnya serak, tangannya mencengkeram pinggul Fitri sambil menyodok terakhir kali.
Mereka berdua terkulai, napas tersengal, tubuh saling menempel dalam kelelahan yang nikmat, malam itu berakhir dengan kepuasan yang tak terlupakan.
Setelah gelombang klimaks yang dahsyat itu mereda, tubuh Fitri dan Ki Sadim terkulai lemas di atas sofa tua, saling menempel dalam pelukan yang basah keringat. Napas mereka masih tersengal, dada naik-turun seirama, sementara aroma hasrat yang pekat masih menyelimuti ruangan.
Fitri merasakan pejuh hangat Ki Sadim menetes pelan dari vaginanya, campur dengan cairannya sendiri, membuat pahanya licin dan lengket. Ia tersenyum lemah, kepalanya bersandar di dada lelaki tua itu, mendengar detak jantung yang masih kencang.
“Ki… itu… luar biasa,” bisik Fitri pelan, jarinya menyusuri dada Ki Sadim yang berbulu halus, merasakan kehangatan kulitnya yang kasar. Ki Sadim hanya mengangguk, tangannya membelai punggung Fitri dengan lembut, seperti menenangkan setelah badai.
Mereka diam sejenak, membiarkan tubuh pulih dari ledakan kenikmatan tadi. Cahaya lampu temaram masih menyinari bayang-bayang mereka, membuat suasana terasa lebih tenang sekarang, meski getaran sisa hasrat masih terasa di udara.
Akhirnya, Fitri bangkit pelan, tubuh telanjangnya bergerak anggun dalam kegelapan. Ia mengambil daster tipisnya yang tergeletak di lantai, memakainya sekadarnya tanpa mengikat tali, membiarkan dada dan pahanya sedikit terbuka sebagai godaan kecil.
“Aku buatin kopi ya, Ki,” ucapnya lembut, suaranya masih parau karena desahan tadi.
Ki Sadim mengangguk, matanya mengikuti gerakan Fitri yang berjalan ke dapur kecil di sudut rumah. Ia duduk di sofa, tubuhnya yang telanjang bersandar santai, penisnya yang mulai lemas masih mengkilap karena campuran cairan mereka.
Di dapur, Fitri menyalakan kompor gas kecil, menuang air ke panci dan menabur bubuk kopi hitam yang pekat. Aroma kopi mulai menyebar, campur dengan bau tanah basah dari luar jendela yang terbuka. Ia merasakan tubuhnya masih bergetar pelan, vaginanya terasa penuh dan sensitif, setiap langkah membuatnya teringat sodokan dalam tadi.
“Ki… kopinya mau manis atau pahit?” tanyanya dari dapur, suaranya genit.
“Pahit aja, Neng. Biar melek sampe pagi,” jawab Ki Sadim serak, suaranya penuh arti. Fitri tersenyum sendiri, menuang kopi ke dua gelas seng tua, menambahkan gula sedikit ke gelasnya sendiri.
Ia kembali ke ruang tengah, membawa nampan kecil, duduk di sebelah Ki Sadim lagi. Mereka minum pelan, uap kopi hangat menyapu wajah mereka, membuat malam terasa lebih hangat.
Sambil minum, tangan Ki Sadim kembali menyentuh paha Fitri, kali ini lembut tanpa godaan liar. “Neng… malam ini… enak sekali,” gumamnya, matanya menatap Fitri dengan kelembutan yang jarang ia tunjukkan. Fitri mengangguk, pipinya memerah lagi. “Iya, Ki. Aku… lama nggak begini. Terima kasih.”
Ki Sadim meletakkan gelasnya, menarik Fitri ke pelukannya lagi. “Aki nggak mau pulang dulu. Biar nemenin Neng sampe subuh. Siapa tahu… malam masih panjang,” bisiknya, suaranya kembali menggoda meski nada lelah.
Fitri tertawa kecil, bersandar di bahunya, membiarkan waktu berlalu dalam kebersamaan yang intim. Mereka bicara pelan tentang hal-hal sepele—desa, anak-anak, masa lalu—sambil sesekali saling sentuh ringan, hingga fajar mulai menyingsing di ufuk timur, meninggalkan kenangan yang tak akan terlupakan.
Sejak malam itu, hidup Fitri seperti berubah warna. Ia tak lagi merasa hampa saat ditinggal Herman bekerja di kota, tak lagi mencuri-curi pandang ke lelaki muda di pasar yang hanya menjanjikan petualangan singkat dan penuh risiko.
Bah Mahdi, mertuanya yang tegas dan penuh nafsu, memang selalu bisa memuaskan tubuhnya dengan cara yang kasar tapi memabukkan, sodokan dalam yang membuatnya mengerang di kamar belakang saat ibu mertua sedang tidur.
Tapi, resikonya terlalu besar; bayangan Herman pulang mendadak atau ibu mertua yang curiga bisa menghancurkan segalanya. Fitri tak mau kehilangan keluarganya demi hasrat sesaat.
Ki Sadim, duda tua yang tak terduga itu, menjadi rahasia terbaiknya. Siapa sangka lelaki kurus dengan kulit keriput dan rambut putih itu masih menyimpan keperkasaan seperti singa tua yang lapar? Penisnya yang panjang, tebal, dan gagah itu—bahkan lebih dari yang pernah ia rasakan dari lelaki muda—selalu membuat vaginanya berdenyut hanya dengan membayangkannya.
Fitri kini selalu tersenyum lebar, wajahnya bercahaya seperti wanita yang baru jatuh cinta. Siang hari, Ki Sadim datang pura-pura mengantar sayuran segar dari kebunnya, mata mereka saling bertemu penuh arti di depan pintu. “Ini tomatnya, Neng.
Mateng-mateng, manis,” katanya dengan suara serak, tapi tangannya menyentuh lengan Fitri sekilas, mengirim getaran ke seluruh tubuhnya.
Malam hari, saat anaknya sudah tidur lelap, Ki Sadim muncul lagi seperti bayang-bayang. Mereka tak perlu banyak kata; pintu belakang terbuka pelan, dan tubuh mereka langsung saling merapat di dapur kecil.
“Ki… lagi?” bisik Fitri, suaranya gemetar tapi penuh harap. Ki Sadim hanya tersenyum, tangannya langsung menyusup ke bawah daster Fitri, meremas pantatnya yang montok.
“Neng kangen kontol Aki ya? Aki juga. memekmu ini… selalu bikin Aki gila,” gumamnya vulgar, jarinya menyentuh vaginanya yang sudah basah sejak mendengar langkahnya.
Mereka bercinta di mana saja sekarang—di dapur, di kamar mandi, bahkan di teras belakang saat angin malam bertiup. Ki Sadim selalu memulai dengan pijatan “biasa” yang cepat berubah liar: tangannya memijat payudara Fitri, mengisap putingnya hingga mengeras, lalu turun ke bawah, menyusupkan jarinya ke dalam vaginanya yang ketat.
“Enak, Neng? kontol Aki ini pengen ngebor lagi,” bisiknya, membuat Fitri mendesah panjang.
Fitri tak pernah bosan dengan kejantanan Ki Sadim; semakin tua, semakin sabar dan terampil, tahu persis titik mana yang membuatnya klimaks berkali-kali. Sodokannya lambat tapi dalam, membuat Fitri merasa penuh dan puas, pejuhnya yang hangat selalu menyemprot dalam jumlah banyak, meninggalkan rasa lengket yang nikmat.
Saat Herman pulang akhir pekan, Fitri bersikap seperti istri biasa—memasak, mengurus anak, dan bercinta dengannya di malam hari.
Tapi dalam hati, ia membandingkan: Herman baik, tapi tak sekuat Ki Sadim. Bahkan saat Bah Mahdi datang minta “jatah” di siang bolong, Fitri memberi dengan patuh, membiarkan mertuanya menggenjotnya dari belakang sambil meremas payudaranya.
“Kamu enak banget, Neng,” desah Bah Mahdi, tapi Fitri diam-diam memejamkan mata, membayangkan Ki Sadim yang membuatnya benar-benar terbang.
Ki Sadim menjadi yang terbaik, rahasia yang aman dan memabukkan. Tiada lagi kesepian batin; setiap hari adalah petualangan baru.
Fitri tahu, semakin tua memang semakin nikmat—dan ia tak akan melepaskan itu. Malam demi malam, mereka saling melengkapi, hingga desa tetap tenang, tak ada yang tahu api hasrat yang membara di balik dinding rumah sederhana itu.
Dan ia juga sangat yakin, jika sebenarnya dia pun belum benar-benar sempurna hidupnya, sebelum benar-benar bisa merasakan bagaimana hebat dan nikmatnya genjotan Pak Darsa.
Cerita Sex Dinda Kirana
Bagaimana dengan Pak Darsa, Bah Sadim, Pak Bahar, Ustadz Asep, Nisya, Ustadzah Eva dan beberapa tokoh lain yang banyak kejutan?
Siapakah wanita yang benar-benar mampu meruntuhkan keteguhan benteng kesetiaan Pak Darsa pada almarhuman istrinya? Siapa wanita beruntung yang pertama bisa merasakan kehebatan terong Pak Darsa setelah sekian lama berpuasa?
Ikuti terus ya, karena sebentar lagi kita akan memasuki kejutan-kejutan yang sangat mendebarkan dan benar-benar tak terduga alurnya.


