Tipu Daya Iblis
Cerita Dewasa · 18+
Cerita Sex Tipu Daya Iblis – Selamat malam sobat Ngocokers. Perlu diingat untuk para pembaca Ngocokers yang setia bahwasanya tulisan ini hanyalah sebatas hiburan semata. Cerita ini tidak ada tujuan untuk menjelekkan salah satu agama manapun.
Saya harap para pembaca Ngocokers untuk bijak dalam cerita dewasa ini. Mohon maaf jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian ataupun cerita, maka itu semua hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan dari penulisnya.

Sobri Handoko, 50 tahun, akhirnya menghela napas lega setelah berhasil memarkir mobilnya di halaman sebuah rumah yang hampir-hampir dikatakan kumuh itu. Jalan depan yang begitu sempit memaksa duda beranak satu ini harus berjibaku, mengeluarkan seluruh kemampuan mengemudinya hanya demi memarkir CRV hitamnya di halaman rumah yang sedari pagi tadi dicari-carinya. Rumah itu berdesain kuno, bukan antik.
Sepertinya rumah itu telah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda dan belum pernah sekalipun direnovasi. Untungnya, rumah itu memiliki halaman yang cukup luas dan penuh dengan pepohonan hijau sehingga setidaknya sedikit membuatnya berkesan teduh dan menyenangkan para tamu.
Pak Sobri yang bertubuh kurus dengan keriput yang jelas nampak di sana sini, khas pria yang sudah menginjak usia tuanya, langsung menutup pintu mobilnya sendiri begitu ia keluar. Ototnya terlihat masih berisi di usia senjanya membuat ia belum tampak seperti kakek-kakek setengah renta. Di sisi mobil mewah tersebut, telah menunggunya seorang lelaki paruh baya yang berusia sekitar 30 tahunan yang tadi juga ikut membantu pak Sobri memarkirkan mobilnya
Lelaki itu berparas tampan dengan jenggot tipis menggantung di dagunya. Walau pakaiannya biasa saja, kaos oblong dengan sarung, namun tubuhnya terlihat begitu tegap. Penampilannya kontras sekali dengan Pak Sobri yang tampil sedikit perlente namun tetap saja wajahnya terkesan buruk rupa dan bahkan sinar matanya yang tajam melirik kiri kanan terlihat amat menyeramkan.
“Assalamualaikum, Ustadz Mamat. Lama tak ketemu nih, apa kabar di rumah?” tanya pak Sobri pada lelaki yang jauh lebih muda dari dirinya itu sambil menjabat tangannya.
Ternyata lelaki muda itu adalah Ustadz Mamat Salam, seorang dari lulusan Universitas Islam Madinah yang lumayan cukup terkenal di wilayah Cibubur. “Waalaikumsalam, Pak Sobri. Alhamdulillah saya baik-baik saja. Bapak juga sehat-sehat saja kan?“ demikian jawab Ustadz Mamat mulai berbasa-basi dengan Pak Sobri yang baru datang. Dari cara berbicara mereka tampak bagaikan dua teman akrab yang sejak lama tidak pernah bertemu.
“Ya, begitulah baik-baik saja. Rumah ustadz terpencil begini, jadinya saya kesasar melulu, hehe.“ jawab pak Sobri menyambut ucapan ustadz Mamat sambil berusaha membuat gurauan.
“Yah, beginilah keadaan saya, Pak. Mari silahkan masuk sajalah ke dalam,” sambung ustadz Mamat mempersilahkan tamunya melewati pintu rumahnya.
Begitu masuk Pak Sobri langsung melihat sekelilingnya. Ternyata interior rumah tersebut tidak jauh berbeda dengan tampilan luarnya. Hanya ada sebuah meja dan empat buah kursi dari bambu di ruang tamu tersebut, tak ada yang lain. Ruang tamu dipisahkan dengan bagian belakang rumah tersebut oleh sebuah tirai hijau besar yang berfungsi sebagai hijab.
“Mari-mari, silahkan duduk, pak Sobri. Seadanya saja, jangan malu-malu. Anggap rumah sendiri,” ustadz Mamat mempersilahkan tamunya duduk di ruang tamu.
“Ummi, ummi… coba tolong ambilkan minuman, abbi kedatangan tamu nih,” teriak Ustadz Mamat pada isterinya yang ada di balik hijab.
Begitu Pak Sobri duduk, mereka kembali melanjutkan dialog yang renyah dan santai. Sepertinya mereka sudah lama kenal dan terlihat begitu akrab. “Hehe, lalu bagaimana kabar buku terbaru Ustadz, kira-kira kali ini akan mengambil tema baru apa, atau melanjutkan pelbagai tema lama tapi yang tetap hangat itu?” tiba-tiba Pak Sobri memulai pembicaraan yang sedikit serius.
Sudah sekitar 2 tahun lebih Ustadz Mamat bekerja sama dengan Pak Sobri dalam penerbitan buku-bukunya. Pak Sobri yang cukup kaya dan dermawan itu dengan ikhlas membantu Ustadz Mamat menyediakan dana untuk penerbitan buku-buku berisikan tema agama. Ia adalah mantan juragan tanah yang ingin bertobat dari perbuatan-perbuatan nistanya di masa lalu dan ber9uru pada Ustadz Mamat. Saat ini pun, kedatangan Pak Sobri adalah untuk membahas soal penerbitan buku-buku agama.
Sejak dahulu, mereka membahas segala sesuatu tentang penerbitan buku, pada umumnya hanya lewat tilpon. Paling hanya sekitar 4-5 kali mereka bertemu di kantor penerbitan. Namun kali ini, Pak Sobri ingin berbicara langsung dengan Ustadz Mamat di rumahnya.
Selain untuk bersilaturrahmi dengan Ustadz Mamat, pak Sobri sebagai ayah satu orang putri ini memang ingin mengunjungi putri dan menantunya yang juga tinggal di daerah Cibubur. Ia sendiri tinggal di Bandung. Oleh karena itu, tadi pagi Pak Sobri sedikit kerepotan mencari rumah Ustadz Mamat yang ternyata cukup terpencil, karena memang ia baru pertama kalinya mengendarai mobil sendiri memasuki daerah terpencil itu, beberapa kali ia harus turun dan menanyakan jalan pada orang yang lewat.
“Kemungkinan besar sih bertemakan Ramadhan, Pak. Seperti yang kita tahu bulan Ramadhan kan sudah dekat, jadi sepertinya ini waktu yang tepat untuk menerbitkan buku bertemakan Ramadhan, sehingga dapat dipakai renungan.” demikian Ustadz Mamat berusaha menerangkan isi karangan bukunya.
Mulailah mereka membahas banyak hal seputar penerbitan buku, mulai dari budget, deadline, dan desain buku. Mereka begitu asyik berbincang hingga hampir-hampir mereka tak mendengar ketika isteri Ustadz Mamat memanggil suaminya dengan suara yang halus hampir tak terdengar.
“Abi, ini silahkan dicoba minumannya bersama,” demikian desah suara lembut nan merdu terdengar dari balik tirai.
Pak Sobri pun mengerti karena memang para akhwat biasanya memerdukan dan merendahkan suara bila berbicara dengan suaminya. Sungguh beruntung Pak Sobri bisa mendengar suara suci nan merdu tersebut, apalagi sesaat kemudian sepasang tangan yang begitu putih, mulus, terawat, tanpa cela milik seorang isteri yang shalihah dengan jari-jarinya yang lentik keluar dari bawah tirai sambil menyodorkan nampan. Dengan mendengar suara dan melihat jarinya saja, darah kejantanan Pak Sobri yang sudah 5 tahun menduda dan tak pernah puas ingin selalu merasakan belaian wanita itu langsung berdesir.
Namun ia cepat-cepat menghapus pikiran kotornya, ia sadar bahwa wanita di balik tirai itu adalah isteri Ustadz Mamat yang merupakan 9urunya. Walaupun sebenarnya, Pak Sobri telah lama sekali benar-benar penasaran terhadap isteri Ustadz Mamat tersebut, bahkan terbersit keinginan untuk berkenalan, melihat dan menjamah kulitnya yang pasti halus sangat terawat.
Pak Sobri pun mengingat-ingat akad nikah Ustadz Mamat yang dihadirinya sekitar satu setengah tahun yang lalu di Bandung. Isteri Ustadz Mamat bernama Aida Handayani, anak pertama dari pasangan Arief Ubaidillah, seorang keturunan Arab, dan Siti Nurhana, mantan sinden cantik asli Bandung. Pasangan itu mempunyai 4 orang puteri yang, kata orang, semuanya cantik-cantik dan taat beragama. Baru Aida yang telah menikah dengan Ustadz Mamat, yang lainnya masih gadis.
Putri kedua mereka bernama Farah Wulandari, lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang kini menjadi seorang penulis novel islami. Adiknya yang masih 20 tahun, Nurul Tri Lestari, masih menjalani kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Sedangkan yang paling bungsu, Asma Maharani, masih duduk di bangku SMA di Bandung.
Pak Sobri mendapatkan informasi itu semua dari Ustadz Mamat sendiri ketika beliau akan menikah. Waktu itu memang Pak Sobri turut membantu persiapan pernikahan tersebut karena ia juga tinggal di Bandung. Pikiran kotor Pak Sobri pun langsung melayang tinggi, “Melihat tangan udah bikin horny, bagaimana kalau gue bisa melihat seluruh tubuh Ukhti Aida yang katanya cantik itu, huhu, bagaikan kena undian berhadiah ratusan juta.” demikian pikir pak Sobri.
Sebelum bertobat dan ber9uru dengan Ustadz Mamat, Pak Sobri adalah seseorang yang boleh dibilang cukup bejat. Dengan harta yang dimiliki, ia sering main perempuan. Entah berapa orang pelacur yang sudah ia pakai. Minuman keras dan judi pun telah menjadi makanan sehari-harinya. Sampai-sampai isterinya tak kuat menahan beban berat seperti itu dan jatuh sakit kemudian meninggal. Sejak kematian isterinya itulah Pak Sobri mulai ingin bertobat, dan kebetulan ia bertemu dengan Ustadz Mamat.
Ustadz Mamat membimbingnya untuk kembali ke jalan yang benar, dan sebagai gantinya pak Sobri membantu Ustadz Mamat menerbitkan buku-buku Islam. Namun akhir-akhir ini, beberapa teman lamanya datang ke rumahnya dan Pak Sobri pun sedikit terpengaruh dan kembali menyewa pelacur-pelacur di Bandung. Jadi wajar kalau pikirannya pun kini dipenuhi dengan imajinasi-imajinasi yang kotor membayangkan tubuh dari istri 9urunya itu.
Seperti doa yang langsung terkabul, tiba-tiba sebuah angin kencang menerobos masuk dari arah pintu depan dan langsung menembus tirai hijau besar itu. Ustadz Mamat baru sadar kalau ia telah lupa menutup pintu depan tadi. Seketika itu pula tirai itu terbuka lebar menampakkan dengan jelas apa yang ada di baliknya. Pak Sobri pun mendapatkan apa yang baru saja diimpikannya.
Aida Handayani, isteri Ustadz Mamat yang baru berusia 26 tahun itu sedang terduduk sambil sedikit menunduk. Ia tampak kaget ketika tirai di hadapannya tertiup angin sehingga terbang dan terbuka lebar. Dan begitu ia menyadari kalau tamu suaminya yang seumuran ayahnya itu sedang memandangi tubuhnya, ia langsung berusaha menahan gamis panjang dan cadarnya agar tidak ikut terbang. Ia menahan cadarnya dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya berusaha menutup bagian dada yang terhias dua gunung montok dan juga perutnya yang sangat langsing datar.
Namun sayangnya, angin nakal itu cukup lama berhembus sehingga Pak Sobri mampu menatap dan mengingat setiap detail tubuh ummahat yang cantik itu dengan jelas. Usaha Ustadz Mamat menutup tirai itu pun tampak sia sia karena tidak juga mampu menutupi tubuh isterinya dari pandangan lapar mata tamunya tersebut. Seketika Pak Sobri meneguk ludahnya sendiri. Ternyata isteri 9urunya itu tak hanya cantik, tapi juga seksi dan bahenol. Ia harus banyak berterima kasih pada angin tadi yang telah menunjukkan segalanya, masa bodoh apakah itu angin iblis, pikirnya.
Dahulu ia hanya mampu membayangkan kira-kira wajah Aida sejak mengetahui ayahnya keturunan Arab. Ummahat itu pasti mempunyai hidung yang mancung. Pak Sobri memang tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, hanya bagian matanya saja karena Aida memakai cadar. Namun mata yang indah dan tajam itu telah cukup memberitahu bahwa pemiliknya adalah seorang bidadari yang cantik jelita dengan kulit yang putih mulus tanpa cela.
Namun yang paling membuat birahi Pak Sobri meledak-ledak adalah gunung kembar di dada Aida. Ia mampu melihatnya dengan jelas karena posisi Aida yang sedikit menunduk tadi. Ummahat itu ternyata memiliki payudara yang berukuran melebihi normal. Ia taksir dari cetakan bra di gamisnya tadi bahwa isteri Ustadz Mamat yang begitu alim itu berukuran 38. Ukuran payudara sebesar itu benar-benar mampu membuat para pria begitu bernafsu untuk meremas dan menghisap putingnya yang pasti masih segar, walaupun se-shalihah apapun pemiliknya tak ada yang wanita yang sanggup melawan nafsunya sendiri jika buah dadanya diremas dan putingnya dipilin, dicubit serta digigit oleh lelaki yang tahu bagaimana caranya menaklukkan wanita.
Tak hanya besar, payudara Aida pasti juga mempunyai bentuk yang kencang, montok dan indah. Pak Sobri dapat mengetahuinya ketika Aida memeluk perutnya sendiri, payudara itu tampak membuncah-buncah seakan memanggil-manggil minta dihisap dan diremas. Body ummahat itu pun sekilas tampak proporsional, begitu seksi menggairahkan bagaikan bentuk gitar Spanyol.
Merasa risih akan tatapan Pak Sobri yang seperti menelanjanginya itu, Aida langsung berdiri dan berjalan cepat ke belakang menjauh dari ruang tamu. Namun malang bagi Aida, karena angin belum juga berhenti bertiup saat itu. Ketika ia berjalan, Pak Sobri sempat melihat dengan jelas bayangan celana dalam dan belahan pantatnya yang tercetak jelas di gamisnya yang kebetulan berbahan tipis dan berwarna cerah karena ia sedang ada di rumah. Pantat ummahat yang seksi dan bahenol itu bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan, berputar mengebor naik turun, seolah sedang menggoda mengundang tangan lelaki untuk meremas-remas dan mencari belahan tangahnya.
Pak Sobri bagaikan telah tak mampu lagi menahan nafsu birahinya yang selama ini terpendam. Ia ingin langsung saja menyelipkan kemaluannya yang cukup besar dan telah mulai berdenyut-denyut ke selangkangan ummahat itu. Namun karena ia sadar bahwa masih ada Ustadz Mamat di hadapannya, maka ia pun menyembunyikan gundukan daging di selangkangannya yang sudah berontak. Ia mencoba bersikap tenang, walaupun bayangan seorang Aida Handayani yang berpayudara besar dan berbody sintal nan seksi itu begitu memancing semangat kejantanannya.
“Pak Sobri, anda tidak apa-apa?“ demikian teguran Ustadz Mamat dengan nada yang bersifat mengingatkan memecah semua khayalan cabul pak Sobri.
“Owh, tidak ada apa-apa, cuma pusing sedikit. Sampai dimana tadi pembicaraan kita?” demikian pak Sobri berusaha menutup-nutupi gejolak birahinya yang semakin meninggi.
Mereka pun kembali memperbincangkan bisnis sampai sekitar 45 menit. Selama itu pula Pak Sobri terus melirik ke arah hijab berwarna hijau itu, berharap ada angin lagi dan ia bisa melihat tubuh ummahat seksi impiannya tadi. Namun semuanya sia-sia, sampai pembicaraan itu selesai, tak ada lagi kejadian aneh di rumah itu. Hingga akhirnya Pak Sobri pun dengan rasa sedikit penasaran pamit dan langsung menuju ke rumah anak perempuannya yang berada di daerah Cibubur juga, namun sepanjang jalan pak Sobri tetap melamunkan istri Ustadz Mamat.
“Aida Handayani, ahh… aku harus bisa merasakan tubuh indahmu itu, persetan sudah menikah dengan Ustadz Mamat, bagaimana dan apapun terjadi aku harus mendapatkan dan merogolmu.” pikir Pak Sobri di dalam mobil sambil mengocok-ngocok kemaluannya sendiri ketika menyetir mobil setelah ia membuka rits celana dan mengeluarkan si ‘otong’nya dari celana dalamnya.
Di malam itu pak Sobri tak dapat tidur dengan tenang, di dalam bayangan mimpinya Aida telah berhasil dijebak dan berada sepenuhnya di dalam genggamannya. Bantal guling yang dipeluk dan ditindihnya semalaman itu diimpikannya adalah tubuh telanjang Aida yang meliuk meronta-ronta menggeliat putus asa ketika berhasil dikuasai dan direjang di kasurnya sebelum akhirnya dengan rintih memilukan merasakan sadisnya nafsu pak Sobri.
***
Sementara itu di sebuah rumah lain di kawasan Kotamadya Bandung…
“Maaf ya, Farah, bukannya kami tak mau menerima hasil karyamu. Karyamu selalu bagus, kok. Tapi mengertilah, kami sedang dalam kesulitan keuangan. Kami memutuskan untuk sementara memproduksi novel-novel remaja yang bertemakan kisah cinta yang lebih laris di pasaran. Mungkin suatu saat kami akan menerbitkan novelmu, harap bersabarlah. Ditunggu saja ya, pasti akan datang kesempatan,” demikianlah suara lelaki di ujung telepon yang terdengar agak kurang sabar.
“Iya, pak. Saya faham dan mengerti sepenuhnya, terima kasih sebelumnya atas perhatian Bapak. Assalamualaikum,” terdengar suara perempuan merdu namun terasa memelas dan amat kecewa.
Pembicaraan telepon pun terputus. Farah Wulandari kini hanya bisa termenung memandangi taman belakang rumahnya yang sederhana. Sudah beberapa bulan ini novel-novel islami karyanya tidak ada yang diterima oleh penerbit. Macam-macam saja alasan yang dikemukakan penerbit, tapi ia sadar kalau ia harus tetap sabar dan tidak boleh bahkan tak ada gunanya untuk memaksakan kehendaknya. Disadarinya bahwa tak mudah menjual buku agama pada saat ini.
Farah adalah sosok seorang akhwat pendiam dengan sebuah kacamata minus tergantung di atas hidungnya. Di usianya yang menginjak 24 tahun, Farah tampak lebih dewasa, baik dari segi fisik maupun mental. Ia tumbuh menjadi seorang wanita yang berdedikasi dan penuh semangat.
Sebenarnya ia memiliki wajah yang begitu mempesona, mirip sekali dengan kakaknya yang sudah dinikahi Ustadz Mamat. Hidungnya begitu bangir mancung, pipinya ranum, bibirnya merah merona, kulitnya putih mulus dan terawat, rambutnya yang panjang hingga punggung selalu tertutup jilbab panjang dan jubah.
Akibat wajahnya yang cantik serta sifatnya yang anggun, tenang dan tampak begitu alim, banyak pemuda ikhwan-ikhwan pengajian yang jatuh hati padanya. Namun semuanya ia tolak karena ia berniat ingin membahagiakan orang tuanya terlebih dahulu sebelum ia dengan hati sukacita dan penuh rela akan memasuki jenjang pernikahan.
“Siapa itu tadi yang bicara di telpon, Farah, apakah ada urusan penting untuk diselesaikan?” suara lembut Siti Nurhana, ibunda Farah, membangunkannya dari lamunannya yang tak menentu.
“Hmm, dari penerbit, ummi. Katanya novel Farah saat ini belum bisa masuk untuk dicetak.” jawab Farah disertai dengan helaan nafas lembut dan cukup panjang menandakan kecewa.
“Ya sudah sabar saja, nanti juga kalau sudah jalannya kamu pasti dapat. Ummi mau ke rumah sakit dulu ya, nemenin Abi. Kamu nggak apa-apa kan ditinggal sendiri?” demikian lanjut Siti Nurhana mulai menukar pakaiannya sambil berkemas-kemas untuk berangkat menuju ke pangkalan bus.
“Nggak apa-apa koq, ummi. Salam dari Farah yah sama Abi, semoga Abi lekas sembuh dan cepat dapat pulang kembali ke rumah di tengah keluarga kita,” sahut Farah sambil masuk ke kamar.
Kini tinggallah Farah sendirian di rumah. Sudah sekitar lima bulan Pak Arief Ubaidillah terbaring di rumah sakit setelah terkena stroke. Selama itu pula ayah 4 putri itu tidak sadarkan diri di bangsal rumah sakit dan tidak bisa memenuhi kebutuhan nafkah rumah tangga lagi. Dan kini Farah sedang bingung harus kemana ia mencari uang untuk membayar hutang-hutang yang telah menumpuk akibat memenuhi biaya berobat ayahnya.
Di rumah hanya ada Farah, Asma yang masih SMA, dan ibunya. Farah pun sadar ia tak bisa meminta Nurul yang sedang kuliah di Jakarta untuk membantu, karena ia kuliah gratis dengan beasiswa yang diterimanya. Posisi Aida yang telah berkeluarga seharusnya bisa membantu, namun apa mau dikata, kondisi keuangan rumah tangga Ustadz Mamat pun tak begitu baik. Farah sadar, hanya ia satu-satunya yang mampu mengatasi keadaan keuangan yang sama sekali tidak menggembirakan itu.
Ketika ayahnya mulai masuk rumah sakit 5 bulan yang lalu, untuk menalangi biaya rumah sakit, Farah sekeluarga terpaksa meminjam uang pada Mang Burhan, seorang rentenir kelas kakap di kampung tersebut. Walaupun bunga yang ia ajukan terlalu tinggi, namun hanya Mang Burhan-lah pada waktu itu yang siap dan mampu menyediakan uang dalam jumlah besar untuk biaya operasi ayah Farah. Namun masalahnya batas waktu pengembalian uang tersebut hanya tinggal tiga hari lagi, dan Mang Burhan telah menelpon kemarin pagi untuk menagih kembali hutang itu.
Oleh sebab itu Farah merasa begitu kecewa setelah tak ada satupun penerbit yang mau menerbitkan novel karyanya. Uang hasil jualan kue Farah dan ibunya pun hanya cukup memenuhi makan mereka sehari-hari, bagaimana dapat untuk membayar hutang?
Berbagai macam pikiran memenuhi otak Farah sehingga membuat akhwat manis berkacamata itu tampak muram. Karena tiada jalan lain ditemukan ia pun berniat untuk menemui Mang Burhan dan bernegosiasi dengannya. Ia akan melakukan apa saja demi keluarga yang begitu dicintainya.
***
Malapetaka Dimulai : Tragedi Aida
Aida menarik nafas sangat dalam, kemudian dilanjutkan dengan menguap sangat panjang dan lama sambil menahan rasa kantuknya. Hari ini ia memang bangun amat dini : sekitar jam 5 pagi Aida telah menyiapkan makan pagi bagi suaminya karena ustadz Mamat mempunyai tugas. Tugas panggilan yang ditawarkan oleh pak Sobri, yaitu memberikan ceramah kepada para calon peserta Musabaqoh Tillawatil Qur’an. Pak Sobri meminta agar ustadz Mamat bersedia memberikan ceramah mengenai agama kepada para calon, karena adik terbungsu dari istrinya yang bernama Asmirandah – panggilan sehari-hari Asmi – diharapkan akan ikut pertandingan.
Asmirandah adalah gadis remaja berusia 17 tahun yang kelakuannya sehari-hari mulai agak menyimpang dari ajaran agama, sehingga mencemaskan orang tuanya. Oleh karena itu mereka mengambil tindakan dengan menyuruhnya untuk ikut perlombaan membaca ayat-ayat Qur’an dan sebelumnya mendengarkan ceramah agar bisa memperdalam pengetahuan agamanya.
Apakah pak Sobri kini berubah menjadi seorang yang alim saleh sehingga sangat memperdulikan persiapan iman dari calon pengikut musabaqoh, apakah tidak ada udang dibalik batu?
Jawabannya mudah sekali diduga : tempat dari pemberian ceramah itu bukan dekat rumah ustadz Mamat, melainkan di desa Jamblang yang tak jauh dari kota Cirebon. Selain itu, ceramah yang diminta oleh pak Sobri kepada ustadz Mamat cukup memakan waktu lama sehingga tak dapat diselesaikan dalam sehari. Memang Pak Sobri menanggung semua biaya perjalanan, biaya penginapan dan segala akomodasi, di samping itu sebagai balas jasa, ustadz Mamat juga diberikan honorarium dalam jumlah cukup besar yang dapat dibandingkan dengan penjualan buku hasil karya sang Ustadz setahun lalu.
Apakah pak Sobri sedemikian baik hati dan menjalankan fitrah sebagai dermawan?
Semuanya itu ternyata hanyalah muslihat belaka untuk memancing ustadz Mamat agar bisa meninggalkan istrinya, Aida, selama dua malam. Selama kesempatan itu, pak Sobri ingin mendekati Aida, ingin merayunya dengan palbagai cara, ingin merasakan kehangatan tubuh bidadari idamannya itu. Pak Sobri telah dikuasai oleh bujukan iblis untuk mengatur semuanya – dan memang kemampuan iblis mengatur tak boleh dipandang ringan.
Seolah awan gelap sedang menyelubungi keluarga ustadz Mamat, maka di hari pertama yang sama ketika ustadz Mamat berangkat ke Jamblang untuk memberikan ceramah, Farah pun kebetulan pergi menemui pak Burhan si rentenier kakap untuk negosiasi memperoleh pinjaman uang. Bacalah episode lain dari cerita ini : « Tragedi Farah »
Setelah memasak sederhana seadanya untuk makan siang dan menjemur pakaian kotor yang telah dicucinya di halaman belakang, maka Aida akhirnya memutuskan untuk sebentar memejamkan mata menghilangkan rasa kantuknya. Adiknya, Farah, juga telah pergi pagi tadi untuk mencari percetakan lain yang bersedia menerbitkan buku-buku agama karangannya. Farah tak mau cerita kepada Aida mengenai rencananya negosiasi dengan pak Burhan karena Farah tahu bahwa Aida tak senang dan selalu mencurigai pak Burhan sebagai lelaki mata keranjang. Setelah itu Farah mengatakan akan mengunjungi ayahnya yang masih dirawat di rumah sakit, karena itu kemungkinan besar akan lama meninggalkan rumah dan makan seadanya di kantin rumah sakit.
Aida menghela nafas panjang dan merebahkan diri di bangku panjang di dekat ruang makan. Sayup-sayup seolah muncul terbawa deru angin, Aida mendengar ketukan pintu dan terdengar namanya dipanggil. Pertama Aida mengira bahwa itu hanya sekedar mimpi, namun setelah empat lima menit ketukan di pintu depan dan panggilan namanya tak kunjung berhenti, disadarilah olehnya bahwa itu memang bukan mimpi, tapi benar-benar ada orang yang mengetuk pintu.
Sebagai istri yang alim shalihah, Aida agak ragu menjawab ketukan pintu, apalagi mendengar suara panggilan itu jelas keluar dari mulut seorang lelaki. Aida menjadi takut dan bertekad tak akan buka pintu!
“Ummi Aida, ummi Aida, tolonglah buka pintu. Ban mobil saya rupanya kena paku hingga bocor, dan saya butuh air karena karburator terlalu panas sehingga tak mau jalan motornya. Tolonglah, ummi, hanya sebentar saja minta air dan ganti ban, lalu saya langsung pergi lagi, ” demikian terdengar suara lelaki di depan pintu yang akhirnya dikenali Aida sebagai suara dari pak Sobri.
Di dalam benaknya Aida mulai ragu, bukankah menolong orang sedang kesusahan sudah menjadi kewajiban setiap manusia, apalagi seorang tekun beragama seperti ia sendiri. Lagipula yang membutuhkan pertolongan itu bukan lelaki yang sama sekali asing, melainkan pak Sobri yang di masa lalu sering kerja sama dengan suaminya untuk menerbitkan buku, juga pak Sobri bahkan hadir ketika pesta pernikahannya sendiri dengan ustadz Mamat.
Sangat hati-hati Aida mendekati jendela kecil yang tertutup gorden untuk mengintip keluar dan diharapkannya tak langsung akan terlihat oleh pak Sobri. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh pak Sobri bahwa ban mobil belakangnya di bagian kiri kempés sehingga mobil itu terlihat miring sebelah. Namun yang mengejutkan Aida adalah ketika melihat kemeja pak Sobri telah basah kuyup dengan keringat dan tangan kirinya terlihat berlumuran cairan merah menetes dari jari-jarinya. Pak Sobri agaknya terluka dan berdarah.
Apakah kealiman dan ke-shalihahan seorang istri setia tetap dipertahankan dengan tidak menolong atau bahkan mengusir lelaki bukan suaminya itu, ataukah kesediaan untuk membantu sesuai dengan rasa peri kemanusiaan harus lebih diutamakan?
Aida tidak dapat memutuskan apa yang harus dilakukannya. Di satu pihak hati nuraninya menuntut untuk wajib menolong, sementara di lain pihak fikiran sehatnya masih ragu tak yakin apakah ia tak akan salah langkah?
“Tolonglah, ummi… saya hanya ingin diberikan air dingin untuk karburator motor, juga minum sedikit sebelum saya ganti ban dan cuci tangan. Kemudian saya segera akan pergi secepatnya, ” demikian ucapan pak Sobri memecahkan keheningan sejenak, dan dengan kalimat terakhir ini Aida memutuskan untuk melepaskan prinsip ke-aliman-nya dan bersedia menolong.
Padahal semuanya sudah diatur dan dirancang masak-masak oleh pak Sobri : ban mobilnya sebenarnya tidak bocor, namun beberapa menit lalu dilepaskan ventil-nya sehingga sebagian besar udara keluar menjadikan mobil itu miring. Selama perjalanan ke rumah Aida, dengan sengaja semua jendela ditutup dan airco tak dipasang, sehingga di tengah teriknya matahari pak Sobri sudah basah dengan keringat. Cairan merah yang terlihat membasahi jari-jari tangannya adalah tomato ketchup yang disimpannya minggu lalu ketika makan ayam goreng di Kentucky Fried Chicken. Sedangkan karburatornya sama sekali tidak kekurangan air.
Namun seorang wanita seperti Aida tentu saja tak paham mengenai persoalan mesin mobil, sehingga dengan mudah dapat ditipu! Aida merapihkan pakaian dan jilbab putihnya yang lebar itu dan dengan menundukkan kepala dibukanya pintu depan rumahnya dengan perlahan…
Pak Sobri melangkah masuk – Aida telah masuk dalam jebakan!!
“Terima kasih banyak, ummi, saya ambil air saja di jerigen kecil ini. Mohon untuk ke belakang sebentar untuk hajat kecil dan cuci tangan, dan saya akan segera pergi lagi,” demikian pak Sobri melihat arah belakang rumah di balik hijab yang ditunjuk oleh Aida.
Setelah itu Aida segera bergegas menuju ke dapur untuk mengambilkan segelas air minum tamunya. Tak disadari oleh Aida bahwa nafsu birahi pak Sobri telah naik ke-ubun-ubun ketika melihat betapa menggairahkan langkah Aida di balik gamisnya yang tak mampu menyembunyikan goyangan bongkah pantat yang begitu padat bulat, goyangan dan putaran sedemikian alamiah tanpa dibuat-buat!
Aida telah meletakkan segelas air putih di atas meja kecil ruang tamu dan ingin berbalik untuk kembali ke dapur, ketika mendadak tubuhnya disergap dan dipeluk dari arah belakang. Teriakannya juga segera teredam karena mulutnya dibekap oleh tangan lelaki yang sangat besar kasar dan berbulu, tangan yang beberapa menit lalu dilihatnya berlumuran cairan merah kental kini menyekat bibir mungilnya.
Aida berontak dan menggelinjang sekuat tenaga berusaha melepaskan dirinya dari ancaman bahaya yang akan menimpa, namun apalah arti tenaga seorang istri setia bertubuh asri semampai menghadapi lelaki yang telah lama menginginkannya dan kini telah menerkamnya bagai singa menerkam kancil lemah – dan kancil ini segera diseret untuk memasuki kamar tidur!
“Hmmppffh… iieeehmph… tolooong ! N-nggak maau… lepaskan ! Auuw… ieeffhhh… ” caci maki suara Aida yang teredam sehingga tak keluar semuanya.
Pak Sobri tak perduli atas protes dan rontaan korbannya, karena dengan tenaganya yang sangat kuat ia telah berhasil menyeret mangsanya memasuki kamar tidur yang selama ini hanya dihuni dan ditiduri oleh Aida dan suaminya yang sah, yaitu ustadz Mamat. Pergulatan dua insan tak sebanding tenaga itu semakin menjadi ketika pak Sobri telah berhasil menghempaskan Aida ke atas ranjangnya.
Tubuh pak Sobri yang agak gemuk di atas 75 kilo itu semakin penuh dengan keringat ketika ia semakin ganas menindih tubuh Aida yang hanya sekitar 46 kilo. Mulut Aida yang selalu terhias dengan senyum manis itu kini tertutup oleh bibir dowér pak Sobri. Bukan hanya ciuman-ciuman rakus yang sangat mengganggu, namun aroma tidak menyenangkan disertai bau rokok membuat Aida sangat muak. Apalagi ketika dirasakannya bahwa pak Sobri menjulurkan lidahnya yang penuh ludah menjijikkan menerobos masuk, Aida mulai sangat mual dan terasa ingin muntah.
Aida berusaha mencakar muka dan terutama mata si pemerkosanya, namun pak Sobri sangat sigap dan langsung dengan hanya satu tangan berotot dan jari-jari sangat besar bagaikan beruang merejang kedua pergelangan tangan Aida. Ditekan dan diringkusnya kedua nadi nan langsing itu ke atas kepala yang masih terlindung jilbab, sehingga Aida tak mampu bergerak apalagi mencakar. Dengan ditindih tubuh sedemikian berat, Aida merasakan sangat sukar bernafas dan semua gelinjang gelisah serta rontaannya justru semakin memacu birahi pak Sobri.
Dirasakan oleh lelaki durjana ini betapa lembut nan montok dua bukit gunung penghias dada Aida, membuatnya jadi semakin horny. Dengan kasar dan tanpa kesabaran sama sekali, Aida merasakan selembar demi selembar, lapis demi lapis baju gamis penutup pelindung tubuhnya dihentak ditarik oleh pak Sobri. Amat berbeda dengan apa yang dialami jika sedang bercinta dengan suaminya, ustadz Mamat… kini tubuhnya yang muda dan penuh hormon kewanitaan dipaksa menikmati nafsu hewaniah!!
Aida menjerit dan meratap di dalam jiwanya yang tak rela untuk digagahi lelaki asing bertubuh kekar yang telah mandi keringat menyebabkan terlihat agak mengkilat. Aida tak rela menghadapi kenyataan pahit yang dialaminya akibat kebodohannya membiarkan lelaki asing masuk rumahnya saat ia hanya seorang diri. Kini semuanya telah terlambat, pak Sobri yang selama ini membantu sang suami untuk menerbitkan buku-buku berisi agama telah menindih badannya, merejangnya hingga jadi tak berdaya di atas ranjang, juga menarik dan melepaskan jubah baju kurungnya satu persatu, menciumi serta menyapu-nyapu lidahnya di rongga mulut, mencampurkan ludahnya yang berbau rokok dengan ludah Aida yang harum.
Semuanya menyebabkan Aida mulai menangis tersedu terisak menimbulkan iba. Namun itu tidak menyebabkan pak Sobri menjadi kasihan, bahkan sebaliknya ia jadi semakin ganas! Lapisan demi lapisan pelindung tubuh istri setia ini dihentakkan dan ditarik lepas olehnya, sehingga kini hanya tinggal jilbab putih yang menutupi rambut Aida yang hitam bergelombang sepanjang bahu. Selain itu masih ada BH berukuran 36B serta celana dalam putih yang menutupi bagian tersembunyi dari tubuhnya yang sampai saat ini hanya pernah dilihat oleh suami Aida.
Pak Sobri yang telah kesetanan menyeringai buas melihat betapa montoknya tubuh istri ustadz 9urunya itu. “Hmm… harum, wangii nih bibir, mulut atas kamu… hmmh! Cuup, cuup, apalagi mulut bawah kamu… pernah dicium nggak mulut dan bibir bawah kamu oleh suami?” tanya pak Sobri diantara kecupan dan dekapan mulutnya menutup bibir Aida yang memang selalu terlihat merah muda merekah seolah mengundang untuk dicium.
Aida tak sanggup lagi bertahan terlalu lama, tenaganya mulai habis ditindih dan direjang habis-habisan, terutama membela pakaiannya yang kini telah tersebar di atas ranjang dan sebagian jatuh ke lantai.
Pak Sobri paham sekali bahwa wanita idamannya ini mulai takluk di tangannya, suaranya pun telah lunak terisak-isak dan serak karena tangisannya. Karena itu ciuman pak Sobri kini mulai meninggalkan mulut Aida, menjalar ke pipinya, mengecup dan meniup-niup liang telinga Aida, lalu juga dijilatinya rakus.
Tak pernah suaminya melakukan hal ini padanya sehingga Aida merasa merinding kegelian, terlihat dari bulu-bulu sangat halus yang menutupi kulitnya jadi agak berdiri, dan isak tangisnya mulai berubah menjadi lenguhan, keluhan dan desahan-desahan halus sebagai tanda wanita alim ini mulai terangsang!
“Oooh… aaah… aiihh… u-udah, pak ! Toloong, jangaan… saya tak mau ! Tak rela! Oooh… kasihani saya, pak ! Saya tak mau selingkuh… saya istri ustadz! Kasihani saya, pak Sobri !” keluh Aida sambil masih berusaha melepaskan diri dari tindihan badan pak Sobri yang begitu kekar.
Desahan lemah lembut dari mulut Aida terdengar sangat kontras dengan dengusan berat lelaki yang sedang menggagahinya, apalagi ketika pak Sobri setelah puas menciumi telinganya, kini mulai turun ke leher jenjang Aida. Disitu pak Sobri menggigit-gigit dengan gemas sehingga terlihat cupangan-cupangan bekas bibir dowernya, setelah itu ciumannya turun ke bahu, kemudian wajah pak Sobri yang berhias kumis bagai sapu ijuk itu melekat di ketiak Aida yang licin tanpa bulu, dan bagaikan anjing kelaparan mulai menciumi dan menilati kulit yang sedemikian halus dan peka itu.
Rasa geli tak terkira membuat Aida menggeliat berusaha meronta, tapi apa daya kedua nadinya tetap direjang di atas kepala oleh satu tangan pak Sobri yang begitu kuat ibarat belenggu besi. Geliatan dan gelinjang tubuh atas Aida tak membebaskan kedua nadi tangannya, namun justru membuat buah dadanya tanpa disadari semakin membusung dan menonjol ke atas. Dan gundukan daging kenyal montok ini adalah sasaran pak Sobri berikutnya setelah BH-nya ditarik lepas.
Kedua bukit daging yang selama ini menjadi idaman dan impian pak Sobri kini terpampang di hadapan matanya, dan tanpa menunggu lagi segera dijadikan sasaran jari-jari tangan kanannya yang bebas. Pak Sobri tahu bahwa Aida akan mulai lagi melawan dan menjerit-jerit – oleh karena itu ia membekap lagi bibir merekah itu dengan ciuman ganas sementara jari tangan kanannya meremas dan mengelus buah dada idamannya sehingga terlihat mulai memerah dan putingnya semakin keras mencuat ke atas. Kedua paha betis langsing Aida yang kini tak terlindung lagi juga ditekannya sekuat tenaga ke kasur oleh paha dan betisnya yang penuh bulu bagaikan gorila.
“Ummh… ini tetek montok banget, kenyal tapi kencang. Pasti tiap malam dijadikan mainan suaminya, kini jadi milik aku. Biar belum punya anak tapi mungkin keluar susunya jika diperas,” demikianlah pikir pak Sobri dan oleh karena itu semakin seru dan ganas ia meremas dan memijit puting kedua payudara mangsanya, membuat Aida jadi semakin menggelinjang-gelinjang karena kesakitan.
“Enggak mau! Aiihh… j-jangann… auww! U-udah, eemphff… auuw!! S-sakiit…” Aida meronta-ronta dan berusaha bicara, namun suaranya hanya keluar sebagian karena terus menerus mulutnya diciumi oleh pak Sobri dengan menjulurkan lidahnya ke dalam rongga mulut Aida disertai ludahnya yang sangat dibenci dan amat memuakkan bagi Aida karena berbau rokok.
Mendadak, sangat mendadak pak Sobri menghentikan kegiatan jari-jari tangan kanannya meremas buah dada Aida, dan sebelum Aida dapat memahami apa yang terjadi, dirasakannya celana dalam sebagai pelindung auratnya yang terakhir ditarik dan diselusurkan ke bawah melewati paha betis dan kakinya. Kini sempurnalah Aida telanjang bulat di dalam cengkraman pemerkosanya, pak Sobri. Terlihat sangat kontras tubuh bidadari yang putih mulus itu ditindihi oleh tubuh besar hitam legam berbulu, istri ustadz yang alim shalihah itu tak berdaya lagi membela kesuciannya!
“Yaa Allah, ampunilah aku ! Hambamu tak kuat lagi menahan malu dan aib ini,” tangis Aida di dalam batinnya ketika menyadari musibah yang segera akan menimpanya. Air matanya mengalir membasahi pipinya yang sedemikian halus, tubuhnya terasa panas dingin dibasahi oleh keringat yang deras mengucur karena pergumulan dan pergulatan serta rontaannya yang sia-sia.
Tak ada yang dapat menghalangi pak Sobri dengan tenaganya, ibarat kesetanan kini ia melepaskan baju kaos dan celana dalamnya sehingga terlihatlah batang kejantanannya yang disunat telah menegang dan siap menerobos liang surgawi Aida.
“Tak usah takut, manis. Bapak tak mau sakiti Aida, rela dan pasrah sajalah. Menyerahlah pada bapak, nanti Aida akan merasakan surga kenikmatan yang belum pernah kamu alami,” bisik pak Sobri sambil jari-jari tangan kanannya mengusap-usap kemaluan Aida yang licin tercukur rapih.
Setelah menemukan celah yang dicarinya, maka mulailah jari telunjuk dan jari tengah pak Sobri yang besar memasuki perlahan-lahan liang vagina Aida, sementara ibu jarinya mengusap diantara belahan bibir kemaluan perempuan alim itu. Perlahan-lahan tanpa dikehendaki oleh Aida, muncullah tonjolan daging kecil merah muda diantara bibir kemaluannya dan setiap kali klitorisnya ini tersentuh ibu jari pak Sobri, maka dirasanya selain geli juga bagaikan terkena aliran listrik yang menyengat tubuhnya.
Sesuatu yang tak dimengerti oleh Aida : ia diperkosa, tapi kenapa tubuhnya memberikan reaksi saat dirangsang? Padahal itu sama sekali bukan salahnya sendiri – tubuhnya yang begitu padat montok sebagai wanita muda sehat jasmani mempunyai hormon-hormon kewanitaan yang secara normal membutuhkan ‘nafkah’ lawan jenisnya – itu sudah kodrat alam, itu naluri dasar perkembangbiakan manusia.
Pak Sobri yang bukan pertama kali memperkosa wanita muda yang melawan menolak diawal mula merasakan bahwa daya pertahanan Aida sudah sangat lemah, sebentar lagi bukan saja ia menerima pasrah terhadap perkosaan, melainkan akan menyerah dan ‘membalas’nya dengan cara yang biasanya diberikannya kepada sang suami, namun kali ini kepada sang pemerkosanya…!
Namun pak Sobri bukanlah pak Sobri jika ia dengan tergesa-gesa melakukan perkosaan. Pak Sobri bukanlah anak kemarin dulu, bukan anak belasan tahun disaat masuk usia pubertas melakukan sanggama dengan cara quicky. Pak Sobri mempunyai rasa ego yang besar, ia menginginkan agar Aida justru akan ketagihan dan selalu merenungkan, mengingat dan bahkan mengharap agar peristiwa perkosaan yang dialaminya akan selalu terulang lagi di masa depan. Untuk mencapai tujuan itu maka Aida harus dibantainya habis-habisan, harus dibangunkan seluruh nafsu birahinya, harus dihilangkan rasa malunya, pendek kata : ditransformasi menjadi slutty.
Pak Sobri menghentikan sementara ciuman dan gigitannya di puting buah dada Aida yang kini jelas semakin tegang dan mengacung peka itu. Ia memandang wajah Aida yang telah sayu dan kuyu penuh linangan air mata, namun justru terlihat semakin ayu cantik.
Pak Sobri merebahkan diri agak menyamping di sisi kanan Aida, lengan kanan Aida ditindihnya dengan dadanya yang bidang penuh bulu itu. Lengan kiri pak Sobri dengan biseps amat keras diletakkan di bawah Aida yang masih tertutup jilbab seolah menjadi bantal, sedangkan tangan kiri pak Sobri berada di atas kepala Aida tetap merejang dan menekan nadi pergelangan perempuan itu ke ranjang sehingga tak dapat berkutik. Kaki kiri pak Sobri yang juga berbulu dan sangat kuat menindih paha kanan Aida serta direntangkan melebar ke samping kanan, sedangkan kaki kanan pak Sobri mulai menekan dan menguakkan paha kiri Aida semakin melebar ke arah samping kirinya.
Dengan demikian Aida telentang telanjang bulat di ranjangnya dengan kedua tangan tak mampu digerakkan, demikian pula selangkangannya terbuka lebar tanpa pertahanan untuk melawan jari-jari pak Sobri.
Menyadari betapa tak berdaya dan lemah keadaan tubuhnya, maka Aida hanya dapat menangis tersedu-sedu. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan mencerminkan ketidaksetujuannya atas apa yang sedang dialami, hidung mancung bangir dengan lubang mungil kembang-kempis menahan isak tangis pada saat dirasakan tubuh bugilnya mengkhianati kemauannya untuk tetap melawan nafsu.
Pak Sobri semakin laju meningkatkan rabaan, usapan dan gesekan jari-jarinya di dalam liang Aida yang mulai basah licin berlendir karena limpahan air mazi dari dinding vaginanya. Isakan tangis Aida kini mulai berubah menjadi lenguhan, desahan dan rintihan wanita dewasa yang dilanda rasa gairah dan kenikmatan terlarang. Semakin lama lenguhan dan desahan itu semakin nyata di telinga pak Sobri yang semakin cepat menggesek ibu jarinya di kelentit Aida, sementara dua jari lain masuk semakin dalam ke dalam liang wanita Aida yang telah basah kuyup berlendir.
Akhirnya dengan rintihan memilukan hati, tubuh Aida melengkung ke atas dan menegang bagai sedang sekarat, kemudian mengejang dan gemetar bagai menggigil disaat ia mencapai orgasme!
Pak Sobri harus mengerahkan semua tenaganya untuk tetap dapat merejang tubuh Aida yang dilanda orgasme pertama akibat ulah sang pemerkosa. Beberapa menit kemudian tubuh Aida perlahan-lahan berkurang ketegangannya, menghempas lemah dan lemas basah keringat.
Saat inilah yang telah dinantikan oleh pak Sobri yang tak kalah basah kuyup dengan keringatnya, dan kini telah siap bersetubuh dengan wanita idamannya tanpa perduli Aida telah setengah pingsan!
“Gimana sayang, apa yang kamu rasakan sekarang, letih dan lemas tapi puas kan? Itu hanya sedikit permulaan saja. Bapak baru mulai merasa gairah dan segera akan melanjutkan permainan. Nanti neng akan merengek meminta tambah terus, bapak jamin nanti neng akan selalu ketagihan untuk dirogol. Mau ya, neng manis?” ujar pak Sobri sambil meletakkan dirinya diantara belahan paha korbannya.
Betapapun Aida berusaha menutup dan merapatkannya, tapi ia jauh kalah tenaga. Pak Sobri kini telah bertahta di tengah selangkangannya, kedua pergelangan kaki Aida nan langsing itu dicekal dengan geram sehingga terlihat kemerahan, kemudian diletakkannya kedua betis belalang nan langsing dengan lutut tertekuk itu di pundaknya yang bidang dan lebar.
Pak Sobri kemudian menundukkan kepalanya dan mulai menciumi bagian dalam paha Aida yang begitu halus. Karena pak Sobri memang sengaja belum cukur selama tiga hari maka bukan hanya kumisnya tapi juga janggutnya telah ditumbuhi bulu jenggot pendek namun kasar ibarat sapu ijuk.
Kini pak Sobri dengan sengaja menggesek-gesek dan menciumi paha bagian dalam Aida yang begitu halus dan peka sehingga terasa sangat geli ibarat ditusuk-tusuk ijuk. Akibatnya keadaan Aida yang telah lemas setengah sadar setengah pingsan itu dipaksa kembali bangun melawan rasa geli yang menyiksanya. Istri setia yang malang ini berusaha membalikkan tubuhnya tapi tak mampu karena kedua kakinya telah terkangkang lebar dan tergantung di pundak kiri-kanan sang pemerkosa.
Pak Sobri semakin meningkatkan kegiatannya merangsang istri ustadz idaman dengan menangkap dan meremas-remas lagi kedua buah dada Aida, terutama putingnya dijadikan sasaran dipilin dan dicubit ditarik-tarik sehingga Aida jadi menjerit kesakitan. Pak Sobri tidak perduli semua rintihan dan jeritan Aida yang memilukan, bahkan kini mulut dan bibirnya tak cukup memberikan cupangan-cupangan ganas di kedua betis Aida yang putih, namun juga mencapai lipatan paha dan akhirnya melekat di tengah selangkangan Aida untuk memulai perantauannya disana!
“Ummh… cckkk… sluurpp… uuh wanginya! Neng mandi pake air mawar ya, bisa harum kayak gini?! Bapak jadi ketagihan, mmmh… nggak puas-puas bapak rasanya… nih bapak ciumin dan jilatin ya?!” celoteh pak Sobri diselang-seling dengan ciuman dan gigitan gemas di bukit kemaluan Aida yang gundul kelimis karena selalu dicukur.
Lidah pak Sobri bagaikan ular menyapu-nyapu bibir kemaluan Aida, lalu berusaha memasuki celah di tengahnya untuk mencari tonjolan daging kecil sebesar butir jagung yang tersembunyi diantara lipatan atas bibir vaginanya.
“Oooh… jangaan! U-udah, Pak! Tolong kasihani saya! Saya ini istri ustadz, Pak! Oohh… saya tak mau selingkuh, Pak! A-ampun… saya tak akan lapor! Tolong, Pak… jangan! Aaiihh…” Aida menggelinjang dan berontak mati-matian melawan rasa lemasnya, dan selain itu melawan rasa lain yang tak pernah dialaminya karena suaminya tak pernah melakukan bercinta oral di vagina. Rasa menyesal dan bersalah silih berganti mulai terdesak rasa ingin tahu, ingin terus mencoba!
Tanpa menghentikan remasan dan pilinannya di puting tetek Aida yang begitu montok tegang mengacung itu, pak Sobri kini menjilat-jilat penuh nafsu celah kewanitaan Aida yang semakin basah berlendir. Bagaikan bunga di pagi hari mulai merekah, maka bibir kemaluan Aida sebagai wanita dewasa menjawab jilatan lidah pak Sobri dan memberikannya kesempatan menampilkan klitorisnya yang seolah malu tersembunyi, dan kelentit ini segera dijadikan sasaran gigi-gigi tajam!
“Auuw! Aiihh… oohh… ahhh… emmh… u-udah, Pak! Ngiluu… saya tak tahan! Auww… oooh… j-jangaan digigit, Pak! Sakiiit… ampuun!” jerit Aida sambil tubuhnya mulai kembali kejang-kejang dan gemetar bagaikan terkena aliran listrik, kedua tangannya mencengkeram jari-jari pak Sobri yang tak puas-puas terus menerus meremas buah dadanya.
Tak hanya mencengkeram, namun kuku-kuku jari Aida yang juga begitu bagus rapih terawat mencakar-cakar lengan bawah pak Sobri, menandakan perlawanan sia-sia menahan rasa nikmat kembali menyiksanya. Kini pak Sobri berganti-ganti menjilat, menggigit-gigit dan menyapu klitoris Aida dengan janggutnya yang berhias jenggot sekasar sapu ijuk.
Tak lama kemudian Aida sama sekali telah kehilangan rasa malu, kehilangan pertahanan dan akal sehat sebagai istri setia seorang ustadz. Terlalu hebat siksaan kenikmatan yang sedang dialaminya dan ini tak pernah diterimanya dari suaminya yang sah, tak pernah ustadz Mamat mengajarkannya serta memberikan seni percintaan sebagaimana yang selalu diharapkan dan didambakan wanita sehat, tak perduli betapa suci, alim dan shalihahnya si wanita, itu sudah kodrat naluri alamiah.
Menyadari bahwa kemenangannya telah berada dihadapan mata, maka pak Sobri mengecup dan melekatkan seluruh mulutnya di ambang celah surgawi Aida. Buah kelentit Aida yang bagaikan butir jagung berulang-ulang dijepit diantara barisan gigi depan pak Sobri, bergantian dengan lidahnya yang kasar makin sering memasuki lubang vagina mangsanya. Bergonta-ganti pak Sobri menjepit kelentit diantara deretan giginya, lalu digeser-gesernya gigi itu ke kiri dan ke kanan.
Kemudian dilepaskannya sebentar kelentit mungil itu dan sebagai gantinya lidah pak Sobri menyentuh dan menggelitik lubang kencing Aida yang juga demikian peka di bagian dalam. Sekaligus kedua ibu telunjuk dan ibu jarinya memulin serta mencubit-cubit kedua puting Aida yang telah amat tegang mengeras bagaikan batu kerikil mungil.
Aida merasakan dirinya terbawa putaran deras arus gelombang kenikmatan, semakin lama semakin dalam dan akhirnya menyeretnya tenggelam kemudian dilemparkan setinggi-tingginya ke udara. Disitu seluruh syaraf di otaknya mengalami ledakan dahsyat tanpa ada tandingan, disertai sebaran jutaan bintang kecil di pelupuk matanya dan jeritan melengking wanita mendengung di telinganya:jeritannya sendiri!
“Aaah… auuw… oooh… i-iya! Auuw… Pak, aduuh… eemh… aaihh… u-udah, Pak! Oooh… terruus… oooh… saya mau pipiis!!” Aida tak sadar lagi apa yang dikatakannya, ia memohon kepada pak Sobri agar berhenti atau justru meneruskan dan meningkatkan penggarapan yang sedang dilakukannya.
Tubuh Aida kembali kaku menegang dan kejang-kejang disaat orgasme lagi-lagi menerpanya, gelombang demi gelombang seolah tak henti-henti. Jari-jari kakinya menekuk melengkung ke dalam seolah ingin membentuk kepalan tinju, pahanya yang begitu lembut halus mengerahkan semua kekuatan otot-ototnya menjepit kepala pak Sobri, lalu membuka kembali, menggesek-gesek maju mundur seolah ingin menggaruk kegatalan tak terhingga.
Pak Sobri yang telah berpengalaman, merasakan denyutan-denyutan dinding vagina Aida seperti meremas dan memijit-mijit lidahnya yang menjulur menyentuh lubang kencing. Inilah saat terbaik untuk menguasai wanita alim seperti Aida : menyetubuhinya disaat dinding vaginanya berdenyut-denyut. Disaat inilah seorang wanita akan merasakan vaginanya ngilu dibuka, dilebarkan dan dibelah!
Pak Sobri meraih bantal yang berada di ranjang di samping tubuh mereka, lalu diletakkannya di bawah pinggul Aida dengan menurunkan perlahan-lahan betis dan kaki belalang yang tergantung di pundaknya. Dengan adanya bantal itu maka pinggul Aida jadi terangkat tinggi dengan kedua kaki masih terbentang ke kiri dan ke kanan, sehingga liang kemaluannya jadi terlihat sangat menantang dengan dihiasi bibir berwarna coklat muda kemerah-merahan dan dinding yang masih berdenyut-denyut lemah tapi nyata!
Aida yang masih tenggelam di dalam badai orgasmenya dan tak perduli lagi tubuhnya yang selalu terlindung jubah gamis berlapis-lapis kini telanjang bulat di hadapan lelaki asing, tak dapat berbuat apa-apa lagi. Dirasakannya kembali tubuh pak Sobri yang penuh bulu tebal bagai gorila menindih tubuhnya, dirasakannya ada sesuatu yang mulai menerobos liang surgawinya. Aida sudah terlalu lemas untuk melawan, ia hanya dapat melenguh panjang menyatakan ketidaksetujuan terhadap apa yang akan terjadi. Namun semuanya sudah terlambat : milimeter demi milimeter celah kesuciannya yang selalu terlindung kini mulai dimasuki oleh alat kemaluan lelaki asing.
Namun rasa putus asa, ketidakperdulian dan penyerahan yang telah menguasainya terganggu dan terhenti mendadak ketika Aida merasakan bahwa rudal daging yang mulai memasukinya sangat ‘tidak normal’. Suaminya selalu dengan mudah melakukan senggama meskipun harus diakui bahwa ustadz Mamat tidak memperdulikan apakah istrinya cukup licin basah atau belum. Kali ini Aida merasakan bahwa dirinya telah licin dan basah sekali, namun senjata pak Sobri sangat besar, berusaha beberapa kali pun tetap gagal menerobos liangnya yang kecil sempit.
Namun dengan usaha yang terus-menerus, akhirnya pak Sobri berhasil meretas belahan bibir vagina Aida dan… bleees !
“Auuw, hentikan! Hentikan! U-udah, Pak, jangan diteruskan! A-aduh… aduduh… aaah… auw! Pak! Aauuw… s-sakiit! Oooh… ampuun!” jeritan Aida menggema bagaikan hewan akan disembelih ketika dirasakan vaginanya bagaikan dibelah kayu.
Pak Sobri hanya tersenyum sadis melihat wajah ustazah ayu manis di bawahnya menengadah ke atas dengan mata penuh air mata dan bibir merekah mengeluarkan rintih sakit memilukan. Tanpa rasa belas kasihan, pak Sobri terus melaju menekan kejantanannya menembus dan membelah dua dinding memek Aida. Sambil merejang kembali kedua pergelangan tangan Aida di samping kepalanya, pak Sobri menghentakkan pinggulnya, menancapkan dan menumbukkan kepala penisnya yang berbentuk jamur topi baja ke mulut rahim mangsanya, sehingga terasa amat nyeri sakit.
“Hehehe… akhirnya tercapai juga keinginan bapak mencicipi memek istri ustadz alim shalihah! Uuhh… emang empuk banget! Enak nggak, neng? Jangan malu-malu deh, ngaku aja sama bapak, hehe.” seru pak Sobri dengan semangat lelaki setengah baya sedang berjaya memperkosa wanita muda.
Aida tak mempercayai apa yang sedang dialaminya, ia sedang digarap habis-habisan oleh lelaki tua bukan taraf usianya. Gempuran dan hunjaman penis perkasa pak Sobri terasa bagaikan sedang merobek vaginanya, sedang menumbuk rahimnya sekuat-kuatnya hingga terasa begitu ngilu sakit di ulu hati.
Istri setia yang malang ini berusaha menutup matanya dan menolehkan wajahnya ke samping serta menggigit bibir bawahnya menahan segala campuran rasa yang sedang menimbunnya. Namun pak Sobri terus, terus dan terus menggenjotnya sekuat tenaga seolah diberikan kekuatan oleh setan yang menguasai rumah ustadz yang kosong itu. Maju, mundur, maju, mundur maju menghantam alat kewanitaan yang halus lembut milik Aida, sehingga terasa sekali semakin lama jadi semakin panas, perih dan pedih serta ngilu sakit yang dialami oleh si cantik alim ini.
Namun di samping itu semua, ujung-ujung syaraf peka di tubuh Aida – terutama di bagian yang paling sensitif – mempersembahkan gejolak kegatalan dan nikmat tak terlukiskan dengan kata-kata. Semua silih berganti semakin lama semakin cepat hingga Aida tak dapat lagi membedakan pada saat hunjaman penis pak Sobri membentur rahimnya : apakah ngilu atau enak, apakah perih atau gatal, apakah sakit atau nikmat, sakit tapi nikmat, apakah nikmat atau sakit, apakah ini khayalan ataukan kenyataan? Apakah dosa jika dia tidak melawan, ataukah dosa jika Aida mengakui bahwa semuanya memang menyakitkan tapi nikmat.
Aida tak tahu lagi apa yang sedang menghantui benak dan tubuhnya – keinginannya untuk tak menatap mata sang pemerkosa akhirnya terkalahkan. Masa bodohlah semuanya, jilbabnya pun telah terlepas, apa lagi yang harus ia pertahankan? Kesuciannya telah hancur, suaminya selama ini tak pernah memberikan nafkah batin seperti ini, sedangkan pak Sobri memang memaksakan hasrat kelaki-lakiannya dengan sangat nikmat, mengajarkannya bagaimana menjadi wanita dewasa yang dapat mengalami kepuasan badaniah sepenuhnya, yang selama ini selalu tersembunyi.
Dengan kuyu dan sayu penuh rasa putus asa dan kepasrahan, Aida menatap mata pak Sobri yang bersinar karena sedang menikmati kemenangannya. Dengan sedikit gemetar kedua belahan paha Aida yang sejak tadi dipaksakan merebah terkuak di ranjang, kini mulai bergerak, lutut yang bulat mulus itu menekuk dan melurus. Tanpa dipaksakan, paha mulus Aida mengatup dan menjepit merangkul pinggang pak Sobri, dan seirama dengan hunjamannya ikut menekan seolah ingin membantu penis yang semula sangat menyakitinya itu masuk semakin dalam.
Hampir satu jam sudah pergumulan kedua insan itu berlangsung, menandakan betapa hebat kejantanan pak Sobri. Inilah memang saat yang telah lama diimpikan oleh pak Sobri : ustazah Aida yang cantik jelita bertubuh sintal bahenol dengan buah dada montok dan goyangan pinggul denok bahenol berada di bawah tindihan tubuhnya. Menyerah pasrah di bawah cengkraman kekuasaannya, kedua matanya penuh rasa putus asa meratap memohon belas kasihan, namun tak tahu pasti apakah penyiksaan nikmat yang dialami harus dilanjutkan atau dihentikan.
Pak Sobri menyadari bahwa ia tak boleh terlalu serakah dan tamak :istri setia ini telah menyerah dan menikmati perkosaannya, lain kali masih ada kesempatan, jangan sampai perbuatan maksiat ini dipergoki oleh Farah yang mungkin tak lama lagi akan pulang ke rumah. Biarlah cukup untuk kali ini – dan… entah… siapa tahu wanita ini sedang subur, mungkin ia akan menanamkan benih di dalam rahimnya.
Pak Sobri tak dapat menahan lagi ledakan lahar panasnya menyembur dari kedua biji pelirnya, sedemikian banyak sehingga sebagian meleleh keluar dari vagina Aida. Semprotan bermenit-menit menyirami mulut rahim Aida, disaat mana istri alim shalihah ini mengalami orgame ketiga!
“Iyaa… auuh… oooh… Paak, emmh… iyaa, terus! Nikmaat…” dengus dan rintih Aida saat dilanda oleh gelombang orgasme bagaikan tsunami untuk yang ketiga kalinya!
Setelah membantu Aida membersihkan diri di kamar mandi dan membantunya memakai baju kurung serta jilbabnya, pak Sobri memberikan sebuah amplop tertutup kepada Aida dengan pesan agar tak menceritakan peristiwa itu kepada siapapun karena hanya merupakan aib bagi Aida. Pak Sobri berjalan menuju pintu dan sebelum keluar ia mengatakan bahwa amplop itu boleh segera dibuka namun jika ia telah pergi jauh dengan mobilnya dan tak terlihat lagi di ujung jalan.
Tanpa banyak kesulitan pak Sobri menyambungkan alat kompressor bersaluran udara panjang ke ban mobilnya dan ansteker – ban yang memang kempes tapi tak ada lubang sama sekali itu hanya dalam dua menit telah terisi lagi udara sebagaimana semula, lalu pak Sobri menghidupkan mesin dan melaju menghilang di tikungan ujung jalan.
Aida membuka amplop putih itu dan tercengang ketika menghitung uang yang tersisip disitu :tiga puluh juta! Dengan uang itu maka sementara kehidupan keluarganya dapat dilanjutkan, demikian pula pengobatan ayahnya di rumah sakit, serta pinjaman mereka kepada pak Burhan si rentenier.
Aida duduk terhempas di kursi : pikirannya kacau, apakah ia berdosa mengalami ini semua? Ini semula tidak ia inginkan sama sekali, namun akhirnya Aida sangat menikmatinya. Apakah uang ini haram, apakah boleh dipakai untuk menolong ayahnya yang sakit parah?
Aida tak tahu apa jawaban dari 1001 pertanyaan yang memenuhi benaknya, kepalanya dirasakan pusing dan sangat berat, apalagi badannya yang kini telah tertutup rapih kembali dengan baju berlapis-lapis, namun disana sini pasti masih penuh dengan cupangan merah kebirua-biruan akibat ciuman ganas pak Sobri. Aida merasakan pipi dan telinganya memerah mengingat apa yang dialaminya…
Apakah pak Sobri sudah puas dengan pengalaman sekali saja – ataukah di masa depan masih ada kesempatan lagi mencicipi tubuh Aida yang bahenol itu? Apakah Aida telah belajar kenal dengan semua teknik bercinta, oooh… masih jauh dari itu. Pak Sobri bertekad akan mengulang menggarap Aida dengan cara lain dan mengajarinya menjadi budak sex yang patuh 100%.
Bersambung…
Di sebuah rumah sederhana di daerah pinggiran Kotamadya Bandung…
“Maaf ya, Farah, bukannya kami tidak mau menerima hasil karyamu. Karyamu selalu bagus, kok. Tapi mengertilah, kami sedang dalam kesulitan keuangan. Kami memutuskan untuk sementara memproduksi novel-novel remaja yang bertemakan kisah cinta yang lebih laris di pasaran.
Mungkin suatu saat kami akan menerbitkan novelmu, harap bersabarlah. Ditunggu saja ya, pasti akan datang kesempatan.” demikian suara lelaki di ujung telepon yang terdengar agak kurang sabar itu.
“Iya kok, pak. Saya mengerti, terima kasih lho sebelumnya atas perhatian Bapak. Assalamualaikum,” terdengar suara perempuan merdu namun terasa memelas.
Pembicaraan telepon pun terputus. Farah Wulandari kini hanya bisa termenung memandangi taman belakang rumahnya yang sederhana. Sudah beberapa bulan ini novel-novel islami karyanya tidak ada yang diterima oleh penerbit. Macam-macam saja alasan yang dikemukakan penerbit, tapi ia sadar kalau ia harus tetap sabar dan tidak boleh bahkan tak ada gunanya untuk memaksakan kehendaknya.
Farah adalah sosok seorang akhwat pendiam dengan sebuah kacamata minus tergantung di atas hidungnya. Di usianya yang menginjak 24 tahun, Farah tampak lebih dewasa, baik dari segi fisik maupun mental. Ia tumbuh menjadi seorang wanita yang berdedikasi dan penuh semangat.
Sebenarnya ia memiliki wajah yang begitu mempesona, mirip sekali dengan kakaknya yang sudah dinikahi Ustadz Mamat. Hidungnya begitu bangir mancung, pipinya ranum, bibirnya merah merona, kulitnya putih mulus dan terawat, rambutnya yang panjang hingga punggung selalu tertutup jilbab panjang dan jubah.
Akibat wajahnya yang cantik serta sifatnya yang anggun, tenang dan tampak begitu alim, banyak ikhwan-ikhwan pengajian yang jatuh hati padanya. Namun semuanya ia tolak karena ia berniat ingin membahagiakan orang tuanya terlebih dahulu sebelum memasuki pernikahan.
“Siapa itu tadi yang bicara di telepon, Farah, apakah ada urusan penting?” suara lembut Siti Nurhana, ibundanya, membangunkan Farah dari lamunannya.
“Hmm, dari penerbit, ummi. Katanya novel Farah belum bisa masuk cetak,” jawab Farah disertai dengan helaan nafas lembut dan cukup panjang.
“Ya sudah sabar saja, nanti juga kalau sudah jalannya kamu pasti dapat. Ummi mau ke rumah sakit dulu ya, nemenin Abi. Kamu nggak apa-apa kan ditinggal sendiri?” demikian lanjut Siti Nurhana sambil berkemas-kemas untuk berangkat.
“Nggak apa-apa koq, ummi, salam dari Farah yah sama Abi, semoga lekas sembuh dan dapat pulang kembali ke rumah,” sahut Farah sambil masuk ke kamar.
Kini tinggallah Farah sendirian di rumah. Sudah sekitar lima bulan Pak Arief Ubaidillah terbaring di rumah sakit setelah terkena stroke. Selama itu pula ayah empat putri itu tidak sadarkan diri di bangsal rumah sakit dan tidak bisa memenuhi kebutuhan nafkah rumah tangga.
Dan kini Farah sedang bingung harus kemana ia mencari uang untuk membayar hutang-hutang yang telah menumpuk akibat memenuhi biaya berobat ayahnya. Di rumah hanya ada Farah dan Asma, yang masih SMA, dan ibundanya.
Farah pun sadar ia tak bisa meminta Nurul yang sedang kuliah di Jakarta untuk membantu, karena ia kuliah gratis dengan beasiswa yang diterimanya. Posisi Aida yang telah berkeluarga seharusnya bisa membantu, namun apa mau dikata, kondisi keuangan rumah tangga Ustadz Mamat pun tak begitu baik.
Farah sadar, hanya ia satu-satunya yang mampu mengatasi keadaan keuangan yang sama sekali tidak menggembirakan itu.
Ketika ayahnya mulai masuk rumah sakit 5 bulan yang lalu, untuk menalangi biaya rumah sakit, Farah sekeluarga terpaksa meminjam uang pada Mang Burhan, seorang rentenir kelas kakap di kampung tersebut. Walaupun bunga yang ia ajukan terlalu tinggi, namun hanya Mang Burhan-lah pada waktu itu yang siap dan mampu menyediakan uang dalam jumlah besar untuk biaya operasi ayah Farah.
Namun masalahnya batas waktu pengembalian uang tersebut hanya tinggal dua hari lagi. Oleh sebab itu Farah merasa begitu kecewa setelah tak ada satupun penerbit yang mau menerbitkan novel karyanya. Uang hasil jualan kue Farah dan ibunya pun hanya cukup memenuhi makan mereka sehari-hari, bagaimana dapat untuk membayar hutang.
Berbagai macam pikiran memenuhi otak Farah sehingga membuat akhwat manis itu tampak muram. Karena tiada jalan lain ditemukan, ia pun bertekad untuk menemui Mang Burhan dan bernegosiasi dengannya. Ia akan bersedia bekerja melakukan apa saja demi menunjang keluarga yang dicintainya.
***
Sebagai rentenir kelas kakap di daerah kampung situ juga, pak Burhan sangat disegani karena tabiatnya yang keras dan penampilan yang terlihat cukup menyeramkan. Wajahnya hampir tidak pernah menunjukkan keramah-tamahan, jarang sekali tersenyum apalagi tertawa.
Matanya selalu menatap setiap orang yang diajak bicara dengan sangat tajam seolah ingin menembus benak pikiran lawan bicaranya. Disamping itu lirikannya selalu menampilkan kesan kejam dan bahkan tersembunyi kesan sadis, terutama jika menghadapi langganan yang mempunyai hutang padanya namun belum mampu membayar kembali karena bunga yang diajukannya memang amat tinggi.
Pakaiannya terlihat cukup rapih menutupi tubuhnya yang tegap dan dibalik pakaian itu tersembunyi banyak bekas luka, karena Burhan di masa muda sangat galak sering berkelahi. Bahkan ada periode dimasa mudanya Burhan hilang lenyap dari desa kelahirannya, tak satupun yang tahu dimana dan apa yang dilakukannya.
Hanya Burhan sendiri yang menyimpan rahasia itu : ia merantau sebagai anak kapal di negara jiran, dimana di samping bekerja di sebuah perkebunan, ia juga memasuki kelompok penyamun yang di malam hari merampok penduduk, terutama orang tua yang tinggal seorang diri dan janda kembang yang baru ditinggalkan suami. Bukan hanya harta yang dijadikan sasaran perampokannya, namun tak ada satupun janda kembang yang lolos dari perlecehan dan perkosaannya.
Setelah Burhan berhasil meloloskan diri dari kejaran polisi yang memburunya bertahun-tahun, akhirnya ia memutuskan untuk menghilang lagi tanpa meninggalkan jejak dan muncul kembali sebagai rentenir. Tempat bermukimnya sekarang berada di pulau Jawa, sedangkan Burhan sebenarnya berasal dari pedalaman Sulawesi. Tak heran jika semua orang di kampung dan sekelilingnya tak mengetahui asal usul latar belakang Burhan.
Setahun setelah bermukim di desa ini, Burhan menikah dengan seorang janda kembang. Namun ketika melahirkan anak mereka yang pertama, terjadi komplikasi yang tak terduga sehingga keduanya meninggal. Sejak saat itu Burhan belum lagi menikah, namun sudah menjadi rahasia umum bahwa jika ada langganan yang belum atau tak mampu membayar hutang kepadanya, maka Burhan selalu bersedia memberikan ‘keringanan’ dan menunda pembayaran berdasarkan ‘syarat tertentu’. Burhan akan bermurah hati jika yang datang memohon penundaan bayaran hutang itu bukan si lelaki kepala keluarga, melainkan sang istri atau anak perempuan mereka.
Semakin cantik sang istri langganannya yang memohon, maka semakin senang hati rentenir cabul ini–apalagi yang datang menggantikan permohonan si kepala keluarga adalah anak perempuan yang baru meningkat dewasa berusia belasan belum memasuki dua puluhan.
Selera Burhan terhadap wanita tidak pandang bulu : entah perempuan biasa dengan gaya hidup bebas maupun yang alim shalihah berjilbab atau bahkan memakai cadar, semua dimana ada kemungkinan dan kesempatan akan dijerat dan dijadikan mangsanya. Jika belum ada lagi mangsa yang dijeratnya maka Burhan memuaskan nafsu birahinya yang besar terhadap istri-istri tetangganya, terutama yang tak cukup dipuasi oleh suami sendiri, entah karena telah uzur atau ditinggal tugas terlalu lama.
Sebagai bahan ‘jajanan’ extra, maka Burhan juga sering melecehkan pembantu rumahnya yang memang janda kembang dan cukup manis bernama Marwati atau sering disebut Wati. Karena selalu diberikan bayaran ekstra jauh melebihi pendapatan seorang pembantu, maka Wati dengan senang hati menjadi kaki tangan Burhan untuk membantu menaklukkan calon mangsanya!
Telah hampir setengah jam lamanya Farah duduk di ruang tamu menantikan kedatangan sang tuan rumah, pak Burhan yang diharapkan Farah akan bersedia untuk mendengarkan kesulitan yang sedang dihadapi oleh keluarganya. Farah telah merancang kalimat-kalimat paling bagus dan paling sopan dalam negosiasi dengan rentenir kakap di desa itu.
Kalimat-kalimat yang dipertimbangkan oleh Farah akan menggugah hati pak Burhan, terutama jika mendengar bahwa ayahnya sakit dan masih membutuhkan biaya perawatan tak sedikit, sedangkan pemasukan berupa buku agama yang dikarangnya belum lagi diterima dan dipublikasikan oleh para penerbit. Demikian pula hasil jualan ibundanya hanya pas-pasan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, sementara tulisan ustadz Mamat masih belum tahu apakah akan berhasil dijual memasuki bulan puasa ini.
Sedemikian naif-nya jalan fikiran Farah yang masih membayangkan semua orang sejujur dan sepenuh hati untuk menolong sesamanya, padahal pak Burhan bersedia menerima kedatangannya di hari itu karena mempunyai maksud lain, ada udang di balik batu yang akan menjebaknya memasuki sebuah dunia lain : dunia gelap terselubung kabut tebal dan juga lumpur mengambang menanti mangsa yang jatuh tergelincir, yang akan sukar membebaskan diri lagi dari tarikannya yang semakin dalam.
Akhirnya pintu pemisah ruang tamu dengan ruang bagian dalam rumah pak Burhan kembali dibuka, namun yang muncul bukanlah pak Burhan sendiri melainkan wanita usia pertengahan tiga puluhan yang tadi membukakan pintu masuk ketika Farah baru saja datang, seorang wanita yang masih cukup cantik dalam usianya itu, terutama disebabkan dandanan yang cukup menor.
”Pak Burhan sedang kurang enak badan, jadi beliau mohon maaf tak dapat menerima adik,” demikian ujar si wanita yang tadi memperkenalkan dirinya dengan nama Wati dan mengaku bahwa ia di rumah itu hanyalah seorang pembantu.
Farah menjadi semakin putus asa mendengar harapan kedatangannya akan sia-sia, oleh karena itu ia berusaha menekan perasaannya dan bertanya, “Sakit apa pak Burhan? Apakah mbak Wati dapat menolong memberitahukan bahwa kedatangan saya karena ada urusan penting yang tak dapat ditunda. Apakah ada kemungkinan lain untuk bertemu pak Burhan, misalnya jika beliau sedang tidur, saya bersedia menunggu,”
Di dalam kegelisahannya itu, Farah tak sempat memperhatikan sedikit perubahan di wajah licik Wati yang memang telah bersepakat dengan pak Burhan untuk menjebak mangsanya. Ujung bibir Wati menyembunyikan senyum ibarat seringai mulut buaya yang telah melihat mangsanya.
“Kalau begitu mari kita lihat bersama ke dalam, mungkin pak Burhan sudah bangun. Tadi beliau telah berpesan agar tak membangunkannya karena badannya terasa agak menggigil, tapi siapa tahu untuk mbak Farah beliau bersedia membuat perkecualian,”
Demikian pancingan Wati yang sebenarnya tak sukar untuk diduga apa maksudnya. Namun Farah yang sedang bingung memikirkan bagaimana nasib keluarganya tak berpikir panjang, hanya kepentingan keluarganya yang menjadi masalah dibenaknya saat itu.
“Kalau begitu baiklah, saya bersedia bersama ibu masuk ke dalam. Tolong ibu sampaikan bahwa saya selalu membawa balsem dan minyak kayu putih, mungkin beliau mau pakai dan siapa tahu akan sedikit meringankan sakitnya saat ini,” demikian Farah yang selalu bermanis budi.
Wati mengangguk dan lalu masuk ke dalam diikuti oleh Farah yang berusaha menabahkan hatinya.
Setelah melewati hijab pemisah ruang tamu dan ruang dalam rumah, Farah merasakan ada bisikan yang memperingatkannya agar sebaiknya balik lagi dan meninggalkan ruangan, bahkan lebih baik lagi meninggalkan tempat itu secepatnya. Namun bisikan peringatan itu sangat terlambat karena pada saat Farah ingin memutar balik diri ke ruang tamu, dirasakannya sepasang tangan yang sangat kuat dan berbulu lebat membekap mulutnya sehingga tak dapat menjerit, sedangkan satu tangan lagi menelikung kedua tangannya ke punggung dan dipelintir keras ke atas hingga terasa sangat sakit.
Akibatnya Farah menghentikan rontaannya dan kini merasakan tubuhnya disérét ke arah bagian dalam rumah itu menjauhi hijab pemisah yang tadi dilewatinya. Kekasaran lengan dan tangan yang menelikungnya menyebabkan Farah sadar bahwa yang membekapnya pasti seorang lelaki, apalagi ketika tercium bau rokok dari dengusan nafas di samping telinganya.
“Hmmpf… l-lepaskaan! Emmpfh… nggak m-mau! J-jangan!” Farah berusaha menjerit ketika merasakan tubuhnya kini diseret memasuki sebuah ruangan yang hanya diterangi lampu samar-samar, namun terlihat ada ranjang cukup besar dan di sudut ada lemari pakaian.
“Sssh… jangan berontak. Percuma saja, anak manis. Bapak sudah lama dengar nama putri Ustadz Arief Ubaidillah yang pandai mengarang buku. Bapak hanya mau mesra-mesraan dengan gadis shalihah dan nanti kamu bisa ceritakan di buku kamu pengalaman dengan bapak dalam beberapa jam ini,”
Demikian suara pak Burhan yang berat dan serak disertai dengan dengusan nafasnya yang menggelitik telinga Farah. Dengan sengaja pak Burhan menghembuskan nafas panasnya ke telinga gadis itu sambil disusul dengan jilatan lidah hangatnya menyapu liang telinga Farah sehingga sang gadis jadi semakin meronta-ronta kegelian.
Tanpa berdaya untuk melawan, Farah terus didorong ke arah ranjang dan dihempaskan dalam posisi tengkurap, kemudian langsung dibalikkan sehingga telentang dengan kedua tungkainya masih tergantung di luar kasur. Farah berusaha segera bangun, namun pak Burhan yang agak gemuk dan berat sekali badannya langsung menindihnya sehingga gadis alim ini jadi tak mampu melawan.
Pak Burhan memang sangat senang menggagahi wanita alim shalihah, tapi berusaha selalu untuk membiarkan jilbab tetap selalu menutupi rambut korbannya. Mungkin itu obsesinya bahwa ia selalu bangga menaklukkan wanita alim yang di awal menolak keinginan hewaniahnya namun akhirnya akan dikalahkan keperkasaannya meskipun tetap memakai lambang ‘kesucian dan kemurnian’, yaitu jilbab yang menutupi kepala. Di dunia kriminalitas di pelbagai negara dengan mayoritas wanita berjilbab, fenomena ini bukan hal aneh, melainkan justru sering terjadi!
Farah mulai menangis terisak-isak menyesali kebodohannya bahwa ia akan mengalami aib yang sama sekali tak diharapkannya. Bukan seorang suami yang telah menikahinya setelah akad nikah ijab kabul dengan penuh kasih sayang dan pengertian akan merenggut mahkota kegadisan yang selalu dijaganya dengan penuh kesalehan. Harta tertinggi yang dimiliknya sebagai wanita muslim sebentar lagi direbut paksa oleh rentenier kelas kakap yang diharap untuk menolongnya.
Rasa ketidakberdayaan Farah semakin menjadi-jadi ketika dirasakannya ada sepasang tangan lain yang kini menarik dan merentangkan kedua pergelangan tangannya di atas kepala lalu diikat ke ujung pilar ranjang. Ternyata Wati kini telah ikut membantu majikannya untuk menaklukkan gadis malang itu–dan dengan keadaan Farah yang terentang terikat kedua tangannya di atas kepala, maka semakin mudah bagi pak Burhan untuk melanjutkan niat maksiatnya. Dengan sangat sigap karena ia memang sudah sering melakukan perbuatan tak senonoh ini, pak Burhan melepaskan jubah serta gaun panjang Farah tanpa memperdulikan makian dan rontaan korbannya.
Di balik gaun panjang itu, ternyata Farah masih memakai lapisan semacam daster tipis berwarna merah muda yang juga langsung di tarik ke bawah dan dilepaskan sekaligus dengan kaus kaki panjang berwarna kuning muda agak krem. Wati yang rupanya juga telah sering membantu membantai mangsa majikannya ikut melepaskan kaitan BH Farah sehingga tampaklah kedua gunung buah dada yang sedemikian montok dan putih dengan kulit halus licin sehingga seekor semut pun akan tergelincir jika berusaha mendaki gunung daging tersebut.
Di tengah kedua buah dada sekal montok itu, mencuatlah puting yang berwarna merah muda kecoklatan, menjulang ke atas bagaikan menantang dan mengundang setiap tangan lelaki untuk menjamah dan mengelus-ngelusnya.
Semakin Farah meliuk-liukkan dan menggeliatkan tubuhnya, maka semakin terlihat goncangan-goncangan kedua gunung itu, menyebabkan pak Burhan menelan ludahnya beberapa kali dan matanya semakin beringas menatap. Dengan penuh rasa gemas dan sadis, pak Burhan meremas bergantian kedua buah dada putih mulus itu. Diciuminya dengan rakus, dicupanginya ketiak Farah serta bukit susu kebanggaannya itu, kemudian dicaploknya kedua puting yang begitu peka, lalu dipilin dan digigitinya serta dihisap-hisapnya bagaikan bayi kehausan yang ingin menyedot susu segar langsung dari sumbernya.
Setelah melepaskan BH Farah, maka Wati membantu pak Burhan untuk memegang kedua pergerangan kaki Farah yang masih berontak menendang kesana-sini. Dengan dipegangi kedua pergelangan kakinya oleh dua orang, maka dengan mudah pak Burhan kini menarik celana dalam Farah yang berwarna biru muda dan lalu membuangnya begitu saja ke lantai–sehingga gadis malang itu sempurna telanjang bulat, terkecuali jilbabnya.
Sementara Wati sekuat tenaga memegang kedua pergelangan kaki Farah, maka pak Burhan berdiri dan dengan cepat melepaskan semua pakaiannya sehingga terlihatlah tubuhnya yang agak gemuk, hitam legam dan masih cukup kekar berotot meskipun telah memasuki usia lima puluhan.
Farah memalingkan mukanya ke samping sambil menangis terisak-isak karena merasa sangat malu dengan keadaannya yang telanjang bulat di hadapan mata lelaki asing. Seumur hidupnya Farah tak pernah membayangkan akan ada lelaki yang bugil di hadapannya terkecuali suami sendiri yang akan menagih haknya di malam kemantin.
Namun yang terjadi saat ini adalah lelaki asing yang bukan suami, bahkan berusia jauh lebih tua, sambil tersenyum cabul penuh nafsu iblis tanpa ada rasa segan sedikitpun memperlihatkan batang kemaluannya. Farah hanya tahu bentuk penis lelaki dari keponakannya yang memang masih kecil ketika dibantunya mandi, tak pernah ia melihat penis orang dewasa, apalagi yang telah mulai menegang mengacung ke atas.
“Ayo lihat nih senjata ampuh bapak, udah enggak sabar lagi pengen ngerasain masuk ke mémék bageur asli… pasti mémék nduk belon pernah ngerasain alat paculan lelaki ya, mmh… mémék gadis alim shalihah lagi, gimana rasanya ya?” pak Burhan kini berlutut disamping kepala gadis Farah yang meléngos itu.
Dicekalnya kepala dengan rambut ikal bergelombang namun masih terlindung jilbab itu, dan dengan sangat kasar dipencétnya hidung bangir Farah sehingga gadis itu langsung megap-megap mencari udara karena tak bisa bernafas. Setelah meronta-ronta dua menit tanpa berdaya memperoleh oksigen, maka Farah terpaksa bernafas melalui mulutnya, namun hanya dibukanya sedikit.
Pak Burhan yang melihat hal itu, kembali muncul senyum iblisnya karena ia tahu bagaimana mengatasi pertahanan gadis yang masih malu dan murni ini. Satu tangannya yang berjari-jari kasar, dengan brutal meremas bukit kembar dada Farah sebelum kemudian ibu jari serta telunjuknya menjepit dan menarik puting susu kanan korbannya.
Perlakuan sadis semacam ini tak pernah diduga sama sekali oleh Farah sehingga iapun tanpa sadar menjerit kesakitan dan membuka mulutnya, “Auw!! S-sakit… auuw… ughh… uhh… emmpfh!!” jeritan Farah hanya bergema beberapa detik karena mulutnya yang terbuka itu langsung disumbat dijejali oleh kemaluan pak Burhan yang terasa beraroma memuakkan.
“Ayo, neng manis. Buka mulutnya dong yang lebar, cobain nih singkong bapak… jangan kaget, neng, ntar makin lama makin gede… iya gitu, siip banget gadis Parahiangan begeur teuing… bapak ajarin jadi juara ngisep, bapak mau masukin lebih dalem lagi ya!” pak Burhan tanpa kasihan mendorong penisnya lebih dalam sambil menatap air mata yang mengalir di kedua pipi Farah yang halus itu.
“Aaah… anget bener nih mulut! Emang pinter si neng, punya bakat alami bisa nyepong kontol… iyah, teruus… kulum, jilat, awas jangan digigit… nih barang mahal, ntar lagi neng rasain dijebol ama lembing… aaah!!” Bagaikan kesurupan, pak Burhan merem melek merasakan kehalusan dan lembutnya bagian dalam mulut dan lidah Farah.
Dengan penuh nafsu pak Burhan kini memaju-mundurkan pinggulnya sehingga rudal dagingnya menggesek langit-langit mulut Farah. Beberapa kali pak Burhan memaksakan penisnya menusuk lebih dalam, namun karena memang terlalu besar dan panjang, maka hanya setengah saja yang dapat masuk dan telah menyentuh pintu gerbang awal tenggorokan Farah, menyebabkannya si gadis terbatuk-batuk dan ingin memuntahkan barang menjijikkan yang tengah merajahi mulutnya. Tapi tekanan tangan pak Burhan di kepalanya terlalu kuat sehingga kemaluan lelaki itu tetap saja bertahta dan berjaya di mulutnya, mengakibatkan rasa ingin muntah yang semakin menyiksa Farah.
Sementara itu Wati telah berhasil merentangkan kedua paha Farah dan kedua pergelangannya yang langsing kini diikat pula di ujung-ujung ranjang, menyebabkan tubuh bugil Farah membentuk huruf X dan tak sanggup lagi untuk melawan atau memberontak sedikitpun. Setelah melaksanakan tugasnya itu, Wati tersenyum dengan penuh arti kepada pak Burhan dan meninggalkan kamar.
Melihat mangsanya kini terikat kaki tangannya ke ujung-ujung ranjang tak mampu melawan, maka pak Burhan merasa sangat puas dan segera melaksanakan langkah berikutnya. Sambil tak henti-hentinya meremas buah dada montok kesenangannya itu, pak Burhan berbisik ke telinga Farah, “Neng Farah pasti belum pernah senam olahraga di ranjang dengan lelaki kan? Nah, sekarang udah waktunya belajar dari bapak, hehehe… Neng Farah kebetulan lagi subur nggak, mau nggak punya anak dari bapak? Pasti cakep lah kaya neng… bapak gali liang kegadisannya ya, hehehe…”
Tentu saja mendengar komentar cabul itu menyebabkan Farah sangat ketakutan, bukan hanya takut karena ia tahu bahwa selain sudah nasibnya sebentar lagi akan diperkosa habis-habisan oleh pak Burhan, namun bagaimana kalau sampai terjadi apa yang dikatakan oleh lelaki itu bahwa ia akan hamil? Farah mengingat-ingat bahwa memang benar dirinya sedang berada di masa subur sehingga kemungkinan ia akan hamil besar sekali.
Sekuat tenaga Farah memberontak dan berhasil melepaskan wajahnya dari cengkeraman tangan pak Burhan dan ia langsung meratap tersedu-sedu, “Tolong, pak Burhan, kasihani saya… saya masih gadis, jangan dihamili, pak… tolong jangan berikan aib kepada saya, lepaskanlah saya… saya tak akan lapor kepada siapapun dan kemanapun… tolong, pak, jangan perkosa saya, jangan hamili saya…”
Senyuman iblis kembali muncul di wajah pak Burhan mendengar ratapan korbannya itu, karena tentu saja dia pun tak mau langsung mendapat beban bayi yang harus ditanggung-jawabkan. Pak Burhan ingin mengambil kegadisan Farah namun sebaiknya jangan dihamili dulu saat ini.
“Hehehe, neng takut hamil ya? Emmh… kalau gitu bapak akan sumbangkan benih bapak yang mahal ini sementara di tempat yang kurang subur, tapi neng harus ikut kemauan bapak ya!”
Farah tak langsung mengerti apa maksud kata-kata dan kalimat terakhir itu, juga sampai saat pak Burhan berubah menelungkup di atas tubuhnya sedemikian rupa sehingga selangkangan pak Burhan dengan penisnya yang gagah tegak dikhitan kembali berada dihadapan wajahnya.
Sebaliknya pun wajah pak Burhan kini tepat berada di atas bukit kemaluannya dan apapun usaha Farah mengatupkan selangkangannya, tetap tak berhasil karena pergelangan kakinya terikat erat ke ujung ranjang, hingga nafas hangat pak Burhan kini terasa menghembus di bukit kewanitaannya yang gundul klimis tercukur rapih. Farah meronta-ronta bagaikan orang sekarat ketika dirasakannya jari tangan pak Burhan mulai mengusap-usap bibir luar kelaminnya.
“Ayolah, neng manis… hisap, sepong dan kulum lagi barang antik bapak nih biar lama, coba rangsang sampai keluar pejuhnya, coba minumlah habis semuanya… kalau dah habis diminum kan nggak bisa nyiram dan nanam bibit lagi hari ini, hmm… tapi bapak juga mau coba gimana rasanya air madu neng, pasti manis kan… memeknya aja udah wangi begini, hehehe…” celoteh pak Burhan sambil melekatkan bibirnya yang tebal ke bibir kemaluan Farah.
Kini barulah Farah menyadari apa maunya pak Burhan : alat kejantanannya yang kaku tegak dihadapan wajahnya itu harus dikulum dan dihisapnya juga, dan jika sampai berhasil menyembur habis semua spermanya maka kemungkinan besar tak dapat membuahinya lagi.
Selain itu siapa tahu jika sudah ejakulasi dan dihisap habis di dalam mulutnya, maka pak Burhan akan tak dapat ereksi lagi dan hal itu mungkin akan menyelamatkan selaput kagadisannya. Farah harus pilih dari dua kemungkinan yang buruk, namun daripada diperawani dan sampai hamil, maka lebih baik jika mengulum penis yang menjijikkan dan sangat dibencinya itu.
Disertai dengan linangan air mata, Farah membuka bibir mungilnya dan mulai mengulum penis besar berurat-urat yang memancarkan aroma tak menyenangkan, lalu dijilat dan dihisap kepala jamurnya. Tanpa sadar apa yang dilakukan, Farah kini menjilati lubang kencing pak Burhan!
“Hmmh… sshh… ahhh… iya, ohhh… pinter! Teruus… bapak juga mulai cicipi air madu di celah memek yang rapet sempit milik neng, oooh… ntar dibelah ya, neng!” ujar pak Burhan sambil menjulurkan lidahnya menyelusup di celah vagina Farah yang mulai licin pula.
Sangat terkejut dan malu Farah merasakan hembusan nafas panas pak Burhan di permukaan kulit bukit kemaluannya, selanjutnya kumis baplang pak Burhan mulai menggelitik bibir luar memeknya sehingga ia kembali meronta-ronta karena kegelian. Rasa geli itu bahkan terkadang membuat Farah lupa akan ‘tugas’ yang harus dilakukannya.
Apalagi ketika dirasakannya lidah nakal pak Burhan mulai menyelinap masuk di celah kegadisannya, dan menyapu-nyapu dinding kiri-kanan, mendorong serta membelah ke atas mencari tujuan utamanya, yaitu daging kecil yang tersembunyi diantara lipatan labia-nya.
Setelah ketemu yang dicarinya itu, maka pak Burhan dengan sengaja menjepit kelentit mungil itu diantara barisan gigi-giginya, kemudian digerakkannya rahangnya ke kiri dan ke kanan. Akibat gerakan rahang pak Burhan ini ternyata sangat luar biasa, Farah merasakan kelentitnya amat ngilu tapi juga geli dan sedikit sakit, sukarlah diuraikan dalam kalimat, sehingga ia hanya bisa menggeliat-geliat.
“Auuh… iiih… j-jangan, aiih… emmpfh… geli, pak, udah… hentikan… auw, emmpfh…” Farah menjerit-jerit dan bagaikan sedang histeris sebelum kemudian mulai mengulum kemaluan pak Burhan, seolah ingin ‘membalas’ perbuatan pemerkosanya.
Sementara itu tentu saja pak Burhan juga meningkatkan usahanya untuk membuat gadis muda yang masih murni dan alim ini menjadi mangsanya yang selalu haus akan seks. Selain kumisnya menggelitik kulit halus Farah, juga digesek-geseknya ke permukaan klitoris bagaikan sapu ijuk yang menusuk-nusuk. Selain itu jari-jari tangannya juga membuka paksa belahan bibir kemaluan Farah yang kemerah-kemerahan itu.
Kini terlihatlah bagian dalam kemaluan gadis itu yang masih tertutup selaput kegadisan tipis, dan juga lubang kencingnya yang kecil amat menggiurkan mata lelaki. Pak Burhan langsung menjadikannya sasaran, lidahnya mengusap dan mendorong-dorong selaput gadis pelindung kemurnian Farah hingga menyebabkan rasa ngilu nyeri agak sakit, sebelum ujung lidah itu menggelitik-gelitik lubang kencing yang membuat pinggul Farah makin bergeser-geser memberontak kegelian.
Tak hanya bergeser ke kiri dan ke kanan, namun Farah tanpa disadari mulai mengangkat pinggulnya sejauh mungkin namun tidak bisa karena kakinya terikat erat, itu seolah-olah menunjukkan kalau Farah sudah ketagihan!
Pak Burhan mengerti semua tanda ini : gadis alim shalihah ini mulai kehilangan rasa harga dirinya, ingin merasakan lebih banyak kenikmatan yang sedang menyiksanya. Selain itu Farah semakin mantap mengulum menyepong menjilat-jilat ujung saluran kencing pak Burhan yang tadi sangat membuatnya jijik, namun kini tak diperdulikan lagi aromanya yang khas kelaki-lakian.
Rentenir kelas kakap ini pun tak luput dari pengaruh mulut dan lidah serta gigi Farah, alat kemaluannya semakin tegang mengeras dan gejolak lahar di dalam biji pelirnya semakin mendekati titik mendidih untuk meluap. Pak Burhan menekan pinggulnya ke wajah Farah menyebabkan gadis malang ini semakin sukar untuk bernaas, masuk masuk masuk semakin dalam dan akhirnya dengan suara geraman bagai hewan terluka, pak Burhan menyemburkan spermanya.
“Ooooh… aaaah… iyaa, hisaap… hisaap… ayo terus, neng geulis manis, minum semua air mukjizat bapak… itu bagus untuk obat awet muda, aaah!!” teriaknya.
Surrrr… surrrr… jrooot… jrooot… surrrr… air mani pak Burhan dengan aroma khas lelaki menyembur memenuhi rongga mulut Farah, seolah-olah tak akan berhenti hingga menyebabkan Farah hampir tersedak dan terbatuk-batuk. Namun mengingat dan mengharapkan habisnya lahar panas dari biji pelir pak Burhan akan membuatnya tak mampu lagi ereksi untuk mengoyak selaput tipis kegadisannya saat itu, apalagi sampai menghamilinya, maka Farah berusaha terus menjilat mengulum dan menghisap kepala penis pak Burhan, meskipun lambungnya telah berontak dan rasa mualnya semakin menjadi-jadi menyebabkannya hampir muntah.
Untunglah rasa mualnya terganti dan bahkan terkalahkan oleh rasa gatal, geli dan nikmat di selangkangannya, karena pak Burhan disaat itu menggigit klitorisnya dengan sadis dan sekaligus tanpa diduga menusuk anusnya dengan jari tengahnya yang lebar dan kuku kasar tak terawat agak tajam.
Hal ini sama sekali tak pernah diduga oleh Farah dan merupakan pemantik melewati batas daya tahannya sebagai gadis masih murni alim dan patuh pada agama. Ledakan orgasme tak dapat ditahan menjalar di seluruh tubuhnya. Bagaikan terkena aliran listrik, tubuh Farah yang demikian langsing semampai kini mengejang-ngejang melawan ikatan tangan dan kakinya.
Jari-jari tangannya menutup membuat kepalan tinju, membuka, menutup–demikian pula jari-jari kakinya. Kepala Farah yang masih setengah tertutup jilbab ikut menengadah, menggeleng ke kiri dan ke kanan, lalu kembali menengadah. Sementara matanya seolah terbalik sehingga hanya terlihat bagian putihnya saja. Cuping hidungnya nan bangir mancung kembang kempis menyertai aliran deras air mata di pipinya sementara bibirnya terbuka lebar.
“Aaah… aduh, aduduh… perihh… keluarin! Maluu… haram, pak! Aihh… oooh… t-tolong, auw… auw… auw… ampun!!” jeritan dan lolongan Farah menggema menimbulkan iba bagi yang mendengar, namun tidak menggerakkan rasa belas kasihan untuk pak Burhan yang sudah kemasukan setan.
Penuh kepuasan ia membaringkan dirinya di samping kanan tubuh Farah yang kejang-kejang terikat, mulutnya kembali menggigit puting buah dada kiri sementara tangan kirinya meremas dan mencubit buah dada kanan Farah.
Tanpa memperdulikan Farah yang telah kehabisan tenaga serta lemas dilanda orgasme, tangan kanan pak Burhan tetap menjarah kemaluan mangsanya, dengan jari telunjuk dan ibu jari meraba, mengusap dan menjepit mencubit-cubit kelentit Farah yang masih agak menonjol diantara bibir kemaluannya. Dengan demikian pak Burhan seolah-olah ingin merangsang terus dan mempertahankan agar Farah tiada henti dilanda orgasme yang menyebabkan ia lupa segalanya .
Tujuan maksiat ini memang berhasil, Farah jadi meraung-raung, menjerit, meronta, dan menggeliat-geliat bagaikan kesurupan. “Udah, pak… oooh… udah, Farah nyerah… ampun… Farah pipis lagi, auw… auw… auw… ya Ilahi, tolong… aah, aiihh, oohh…” teriakan Farah semakin melemah dan akhirnya hampir tak terdengar karena gadis alim ini mencapai batas kemampuannya dalam mengalami orgasme dan sudah setengah pingsan.
Pak Burhan tersenyum bagaikan iblis karena telah mencapai kemenangan pertama–mangsanya telah kehabisan tenaga dan tergeletak terikat kaki tangannya dalam keadaan bugil telanjang bulat. Kini telah tiba saatnya untuk merenggut satu-satunya milik Farah yang selama ini dipertahankan dengan sebaik-sebaiknya oleh gadis itu dengan maksud untuk dipersembahkan di malam syahdu kepada suaminya yang sah.
Namun kini yang akan merenggut kegadisannya bukanlah sang suami, melainkan seorang lelaki jauh lebih tua yang ganas dan haus seks, seorang lelaki yang lebih pantas menjadi ayahnya. Tanpa upacara agama yang diharapkannya untuk meresmikan akad nikah, tak ada ijab kabul yang diucapkan dihadapan penghulu agama. Pak Burhan mana peduli, yang penting nafsu birahinya akan terpuaskan dengan menembus selaput dara Farah. Apakah sang gadis rela menyerahkan kegadisannya itu bukan urusan lagi, semakin tampak keputusasaan dan rasa sakit tercermin di wajah begitu cantik itu maka akan semakin puaslah pak Burhan.
Penisnya yang besar hitam penuh dengan pembuluh darah telah menyemburkan mesiunya beberapa saat lalu ke dalam mulut Farah. Namun senjata kebanggaannya itu masih tegak kukuh berjaya bagaikan kayu pemukul kasti dan kembali siap maju untuk menghantam benteng pertahanan yang tersembunyi di tengah liang hangat yang mulai licin dengan air mazi lendir yang telah mengalir deras karena orgasme yang dipaksakan beberapa menit lalu…
Pak Burhan mengambil bantal guling yang agak keras diranjang itu lalu diletakkannya di bawah pantat Farah, menyebabkan bukit kemaluannya menonjol ke atas, terutama liang kewanitaan yang tampak berkilat basah kini muncul merekah. Dengan jari-jari tangan kirinya, pak Burhan kini menguakkan bibir kemaluan Farah, dan dengan tangan kanannya diarahkan kepala penisnya yang berbentuk topi baja seorang serdadu untuk meretas dan membelah memek idaman itu.
Keringat telah membasahi tubuh keduanya yang telah telanjang bulat, hanya perbedaannya adalah keringat Farah tetap tarasa harum di hidung pak Burhan, sebaliknya keringat pak Burhan yang menetes-netes dari dahinya ke perut Farah yang datar langsing itu terasa menyengat asam tak menyenangkan di penciuman gadis yang tengah dijarah.
Tubuh Farah telah basah mengkilat dengan keringat yang keluar akibat semua daya upaya pergulatannya melawan orgasmenya, sedangkan keringat pak Burhan diakibatkan oleh usahanya merangsang dan menaklukkan gadis idamannya.
Kini arus keringat yang membasahi tubuh Farah juga diakibatkan oleh rasa takut yang menyelubungi nuraninya karena sadar akan kehilangan milik satu-satunya yang paling berharga. Sebaliknya pak Burhan makin mengucur keringatnya karena berusaha menerobos lubang kenikmatan Farah yang masih sangat sempit dan beberapa kali penisnya terpeleset ke kiri dan ke kanan.
Namun dia tak mudah menyerah, dengan ibu jari dan telunjuk tangan kirinya, pak Burhan membuka celahan bibir kemaluan Farah. Tampaklah isi di dalamnya yang terkuak berwarna merah muda ibarat pepaya mengkal yang dibelah, di atasnya menonjol kelentit yang seolah malu-malu mengintip di antara lipatan bibir kemaluan.
Mata pak Burhan yang telah terlatih dalam menilai liang kelamin wanita semakin mengarah ke bagian dalam vagina korbannya. Kira-kira sedalam satu ruas jari tengah, terlihatlah selaput dara Farah yang berbentuk bulan sabit tipis merayang penuh pembuluh darah sehalus rambut. Pak Burhan sangat puas melihat memang benar Farah masih utuh kegadisannya.
Pak Burhan hanyut dalam fantasi pikirannya bagaimana ia akan merasakan nikmatnya jepitan selaput perawan gadis alim ini. Namun sebelumnya ia akan berusaha kembali menghanyutkan Farah ke dalam arus gelora nafsu birahi, yang mana akan dirangsangnya lubang kencing Farah yang sangat mungil hampir tak terlihat di atas selaput daranya itu.
Tak beda dengan lubang air seninya sendiri yang tadi dijilat dan dan disapu-sapu oleh lidah Farah, maka kini tiba gilirannya untuk melakukan hal yang sama. Pak Burhan menekan sedikit perut Farah di atas tulang kemaluannya dan ini menyebabkan si kandung kemih agak menyeruak keluar menampilkan lubang yang amat mungil itu dan langsung disambut oleh lidah pak Burhan yang menggelitik tiada hentinya.
Pinggul Farah yang begitu bahenol bergoyang ke kiri-kanan menahan rasa geli diperlakukan oleh lelaki yang sangat berpengalaman itu, ditahannya semua siksaan yang sangat memalukan itu dengan tabah, hanya air matanya semakin membasahi pipinya dan mulutnya semakin terbuka.
“Emmpfh… aaihh… oooh… ssssh… aaaah… j-jangan dijilat lagi… udah, pak, gelii… oooh… hiyahh… g-geli… ampuun!!” Farah menolehkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, terkadang digigitnya bibirnya sendiri untuk menahan geli.
“Uuh, basah banget… hangat, tapi sempit amat nih lobang… tahan sedikit ya, neng… memang sakit, tapi pasti nanti jadi enak bagaikan masuk taman firdaus… hmmh… aah…” geram pak Burhan penuh nafsu, sambil berusaha merayu dan menghibur bidadari mangsanya yang akan segera diperawaninya.
Kini diarahkannya kepala penisnya ke tengah lipatan bibir kemaluan Farah, dan setelah beberapa kali gagal meleset, kini terjepitlah tombak pemecah selaput dara itu di celah surgawi tujuannya, dan dengan penuh rasa kepuasan pak Burhan mulai mendorong maju, menekan dan membelah…
“A-aduuh… auuww… a-ampuun, pak, h-hentikan! S-sakiit… udah… j-jangan dimasukin, pak… ampunn… aauuw!!” jeritan Farah menggema menyayat keheningan kamar, menimbulkan rasa iba bagi yang mendengar.
Namun hal itu malah semakin memicu nafsu birahi pak Burhan. Tanpa rasa belas kasihan, sang rentenier kakap ini semakin memajukan pinggulnya, maju, menekan, mendorong, membelah sehingga akhirnya jebollah pertahanan selaput tipis di dalam liang vagina Farah, si gadis alim shalihah.
Rasa ngilu dan sakit sedemikian mendera bagian kemaluannya bahkan terasa menusuk sehingga ke ulu hatinya, menyebabkan Farah tak mampu lagi mengeluarkan suara. Yang terlihat hanyalah mulut mungil dengan bibir basah setengah terbuka yang kembali diserbu diciumi sangat rakus oleh bibir tebal pak Burhan.
Lidahnya yang sangat memuakkan itu kembali memasuki rongga mulut Farah, menyebabkan si gadis yang sedang disiksa ini semakin sesak nafasnya. Apalagi air liur pak Burhan penuh bau rokok keretek bertetesan mencampuri ludah Farah sehingga ciuman-ciuman pak Burhan terdengar berkecipak di tengah-tengah dengusan nafasnya.
Laju, masuk, menusuk, mundur sejenak, kemudian masuk lebih dalam, bagaikan pisau menyayat sekaligus lebarnya kemaluan pak Burhan bagaikan pentungan satpam memenuhi dinding vagina Farah. Pentungan daging ini menerobos tak henti-hentinya dan setelah bermenit-menit yang dirasakan bagaikan berabad-abad oleh Farah, maka terhentilah hantaman itu karena telah terbentur dan terhalang oleh mulut rahim.
“Oooh… nikmaaaaatnya neng houri! Gimana, mulai biasa kan dengan lumpang sakti bapak? Kasihan… masih perih ya diperawani? Tapi sebentar lagi neng pasti merengek minta tambah… ayo goyang dong pantatnya, kan mojang parahiangan paling jago ngebor dengan pantat bahenolnya… goyang yang mantep, neng… iya, gituu… terus, neng, pinter!!” pak Burhan tak peduli bahwa Farah berusaha menggeser pinggulnya ke kanan dan ke kiri karena merasa ngilu kesakitan.
Pak Burhan kini mulai lagi dengan meremas-remas buah dada Farah dengan penuh kegemasan, puting yang selalu mencuat itu kembali dijadikannya sasaran pilinan, pjitan, cubitan dan gigitan sadis.
“Hhhm… putihnya nih susu. Neng punya darah amoy kali ya, geli nggak neng dijarah teteknya? Belajar deh neng dari sekarang, siapa tahu neng ntar jadi bini bapak. Bangun pagi bapak paling seneng minum kopi susu asli, hhmm… nih puting, kenyal digewel-gewel…“ Tak habis-habisnya pak Burhan memuji kedua bukit daging yang kini telah kemerahan penuh cupangan dan gigitan.
Dengan keahliannya pak Burhan terus menerus memancing keluar hormon kewanitaan Farah yang biar bagaimanapun adalah wanita normal, tubuhnya sedang diperkosa habis-habisan, semuanya dirasakan bagaikan siksaan di neraka. Namun para iblis di neraka tak henti-hentinya menyebarkan jaringan dan jeratan rasa lain di tubuh Farah.
Sakit, ngilu, perih tak hentinya, namun dari sudut dan dasar paling dalam di benaknya muncullah rasa lain; rasa panas, geli dan nikmat. Semua bercampur baur, bergantian menerpa ujung-ujung ribuan syaraf tubuhnya. Semua panca indera Farah yang semula hanya mengenal satu : kemuakan dan kebencian terhadap si pemerkosa, perlahan-lahan di transformasi menjadi rasa keinginan untuk mempertahankan apa yang sedang dialami.
Telinga pak Burhan yang sudah sedemikian ahli menangkap perubahan dari jeritan dan rintihan sakit menjadi desah dan dengusan nafas memburu seorang wanita yang dipengaruhi rasa birahi!
“Mulai enak ya, neng? Ngaku lah, nggak ada salahnya jujur ama bapak. Ntar lagi neng akan masuk firdaus, bapak cepetin nih genjotannya. Bilang ya kalo udah mau nambah, hehehe…” ujar pak Burhan yang melihat tanda-tanda gadis yang telah diperawaninya itu mulai hancur pertahanannya yang terakhir. Oleh karena itu pak Burhan makin meningkatkan tempo genjotan dan tusukannya.
“Hmmpfh… sssh… aaah… pak, ooohh… u-udah, pak… saya nggak kuat lagi, oooh…” Farah mulai hanyut terbawa arus godaan dan bujukan rasa hangat gatal di seluruh tubuhnya, terutama di bagian kemaluannya yang semakin lama semakin terasa panas akibat tergesek-gesek dengan batu lumpang daging.
“Tahan dikit ya, neng, bapak mau nyumbang pejuh nih… siapa tahu ada buahnya, aaah… oooh… sempit amat… duh, angetnya nih memek mojang parahiangan tulen… iya gitu, goyang terus, terus… pijit-pijit batang pusaka bapak, oooh… bapak keluar nih…”
Pak Burhan untuk kedua kalinya menyemburkan lahar panasnya dan kali ini menyiram mulut rahim korbannya, kemaluannya berdenyut-denyut kencang membuat Farah jadi menjerit histeris ketakutan.
“Aaih, sssh… keluarin, pak, jangan buang di dalam… ntar hamil, aauoh… shhh… ngilu, pak, udah dong… aauw, a-ampun!!” Kali ini Farah bagaikan disergap oleh gelombang tsunami menderu-deru di otaknya, hanya jutaan bintang berkunang-kunang. Kepalanya terasa terputar-putar dan akhirnya semua mulai kabur, berwarna abu-abu dihadapan matanya dan hitam gelap pada saat Farah tak tahu apa-apa lagi karena jatuh pingsan…
Harapan Farah hanya sia-sia saja, pak Burhan ternyata sama sekali tidak berkurang daya kemampuannya setelah ejakulasi pertama di mulutnya tadi. Rentenir cabul ini tetap sanggup mempertahankan ereksi-nya, sehingga dapat menembus selaput kegadisan Farah.
Bahkan setelah sempat menyemburkan spermanya ke dalam rahim Farah maka ia cukup beristirahat sebentar. Pada waktu mana Wati memberikan teh jahe dicampur ramuan-ramuan desa yang rupanya dalam waktu singkat dapat memulihkan daya kemampuannya memasuki ronde berikutnya.
Kali ini dengan penuh kemesraan pak Burhan memeluk tubuh Farah yang masih telanjang bulat dan setengah pingsan itu dalam posisi menyamping. Dalam posisi mana pak Burhan memeluk Farah dari arah belakang, nafasnya yang hangat menggelitik kuduk dan telinga Farah. Tangan pak Burhan yang besar dan kasar mengusap pundak, kedua buah dada nan montok dan dipilin-pilinnya puting yang kembali mengeras dan mencuat indah disertai lenguhan Farah secara tak sadar.
Tangan itu kemudian turun mencari celah kemaluan Farah yang masih basah licin karena campuran lendir vagina, sperma dan juga darah keperawanannya. Tak dapat menahan nafsunya, maka pak Burhan beberapa menit kemudian membalikkan tubuh Farah menjadi terlentang dan diperkosanya kembali.
‘Luka’ dinding memek Farah akibat proses penembusan selaput daranya kembali tergesek-gesek dan dirasakan sangat nyeri ngilu. Namun Farah sudah terlalu lemah untuk protes apalagi melawan, ia hanya bisa menangis terisak tersedu-sedu dan pasrah ditaklukkan si rentenir tua.
Pak Burhan menyetubuhinya tanpa rasa kasihan, sambil membisikkan sesuatu ke telinga Farah, menyebabkannya menggeleng kepalanya dan tangisannya semakin menimbulkan iba.
Namun sejak itu pak Burhan tak pernah lagi mempersoalkan hutang keluarga Ustadz Arief Ubaidillah, dan buku-buku karangan Farah dapat dirilis oleh percetakan lainnya…
Beberapa bulan kemudian dirayakan sebuah pesta pernikahan besar di sebuah balai desa di luar kota Bandung. Siapakah pasangan mempelai itu–banyak pengunjung berbisik-bisik mengatakan bahwa pasangan pengantin yang duduk di pelaminan itu amat tidak serasi, baik usia maupun penampilannya.
Bersambung…
Seminggu sebelum memasuki hari raya Ai’dul Adha maka Ustadz Mamat memperoleh tugas lebih banyak daripada biasanya. Selain itu beberapa siswi dari madrasah tempatnya mengajar memiliki suara sangat merdu menarik dan karena itu mereka mempunyai minat untuk mengikuti perlombaan kajian Musabaqqoh Tilawatil Qur’an. Dan untuk pemenang perlombaan di desa ini akan dicalonkan maju ke kontes di daerah propinsi dan selanjutnya untuk memasuki taraf nasional.
Berhubung dengan keadaan ini maka Ustadz Mamat diberikan tugas untuk melatih para calon, dimulai dengan hari Rabu sampai dengan hari Jum’at malam, dengan perkataan lain bahwa Ustadz Mamat akan meninggalkan istrinya,Aida, selama paling sedikit selama tiga hari tiga malam.
Dalam minggu pertama semuanya berjalan lancar dan Ustadz Mamat dapat memberikan kuliah secara sepantasnya di pesantren desa Jamblangan, para pelajar semuanya wanita dalam tingkat kelas tiga mutawassitah (kurang lebih seperti SLTP). Para siswi yang di pedesaan lebih sering disebut santriwati itu berjumlah dua puluh tiga dan usia mereka rata-rata sekitar 15-16 tahun, dalam istilah orang kota lebih sering disingkat ABG alias Anak Baru Gede. Pada umumnya para siswi itu cukup alim saleh dan berkelakuan sopan santun, apalagi di hadapan 9uru mereka : Ustadz Mamat.
Namun dimanapun selalu iblis mencari mangsa, dan untuk menaklukkan mangsa sangat berharga, yaitu seorang Ustadz, maka iblis memakai anak buah atau kaki tangan, dalam hal ini dalam bentuk dua orang santriwati genit bertubuh amat denok bahenol. Kedua gadis santriwati itu baru masuk usia lima belas tahun, bernama Rofikahdan Sumirah, bertetangga dekat di desa itu. Kedua orang tua mereka cukup berada sebagai pengusaha perkebunan perkebunan karet,sedangkan satunya adalah pemilik perkebunan teh. Dalam kisah yang akan terjadi terlibat pula gadis ketiga bernama Murtiasih alias Asih yang sekali tak perayu, namun kelak juga akan menjadi korban Ustadz Mamat!
Rofikah yang sehari-hari dipanggil Ikah dan Sumirah yang biasa dipanggil Irah merupakan teman akrab, hampir selalu mereka berdua, berjalan bersama dan di sekolah pesantren itupun mereka selalu duduk berdua. Keduanya mempunyai sifat genit perayu dan dengan body yang sangat yahud menantang mereka sangat senang jika diperhatikan oleh para lelaki.
Mereka tak perduli apakah yang mengawasi dan menggoda ketika mereka berjalan adalah anak lelaki muda seusia mereka atau lelaki tua yang bahkan sudah jauh lebih tua dari ayah mereka. Pokoknya mereka berpendapat bahwa tubuh mereka yang memang terlihat sangat montok dengan toket menonjol itu adalah juga pemberian sang pencipta. Jadi mereka dengan sengaja bangga memperlihatkannya penuh kebanggaan dan bahkan merasa mempunyai ‘kekuasaan’ jika para lelaki bersiul-siul melihat goyang pantat mereka!
Karena wajah keduanya banyak kemiripannya maka orang di desa itu sering berbisik-bisik bergosip apakah kedua gadis itu sebetulnya keluar dari ‘satu cetakan’. Alasan daripada gosip itu adalah karena ibu dari Rofikah dan Sumirah adalah kakak beradik, sedangkan ayah dari Rofikah maupun Sumirah tergolong ‘lelaki hidung belang’yang senang jajan di luar.
Bukan menjadi rahasia lagi bahwa kedua pria itu sangat sering keluar masuk ke rumah kakak/adik ipar mereka sampai jauh malam, dan itu sering pula terjadi jika sang tuan rumah sedang kebetulan keluar. Pola kehidupan mereka tentu saja memberikan pengaruh kepada anak perempuan mereka yang mulai memasuki usia remaja. Rofikah dan Sumirah termasuk anak yang dimanja, mereka memakai busana berbahan mahal, dan meskipun mereka sebagaimana umumnya gadis di daerah desa selalu berpakaian muslimah dengan jilbab, namun cara melirik, tingkah laku dan penampilan genit mereka berlawanan dengan kebiasaan akhwat yang seharusnya alim shalihah. Ketika mereka masuk pesantren itupun tidaklah atas keinginan untuk memperdalam ilmu agama dan memperdalam keimanan, tapi lebih sekedar ikut-ikutan basa-basi.
Setelah memperoleh pelajaran dua kali dari Ustadz Mamat sebagai 9uru dan mengalunkan suara dalam latihan untuk musabaqoh , mulailah timbul rencana nakal mereka. Dari mulut ke mulut mereka mengetahui dalam waktu singkat bahwa Ustadz Mamat sering bermalam di pesantren itu karena ia tinggal cukup jauh, dan untuk itu Ustadz Mamat harus meninggalkan keluarganya.
Di dalam ruangan kelas, Sumirah dan Rofikah selalu duduk di bangku terdepan berhadapan dengan tempat duduk atau panel kayu dimana Ustadz Mamat selalu berdiri. Mereka sengaja melirik genit ke arah Ustadz Mamat, jilbab yang dipakai agak dilonggarkan sehingga rambut mereka yang ikal keluar, dan dengan suara lantang dibuat-buat,mereka sering mengajukan pertanyaan yang sebenarnya sama sekali tak perlu.
Selanjutnya mereka menggesek-gesekkan kaki dan betis secara bergantian dengan perlahan namun ritmis, sehingga kaus kaki yang dipakai menjadi turun melorot akibat gesekan itu. Dengan demikian terlihatlah kaki mereka yang berhias jari-jari mungil dengan kuku terawat dan jari-jari itu pun sengaja mereka gerakkan membuka menutup.
Tak sampai disitu saja,Rofikah dan Sumirah dengan sengaja juga membuka belahan bibir mereka yang terlihat basah mengkilat, mengeluarkan lidah mereka untuk membasahi bibir mereka, dan entah pensil atau ballpoint yang mereka pegang untuk menulis sering dimasuk-keluarkan di mulut mereka, terlihat bagaikan dikulum, dijilat dan dihisap-hisap.
Semuanya itu mula-mula belum disadari oleh Ustadz Mamat, namun sebagai lelaki akhirnya matanya ‘terpancing’ oleh gerakan nakal kedua muridnya itu. Apalagi jika kedua santriwati itu diakhir pelajaran seolah-olah tanpasengaja menguap dan mengulét meluruskan tubuh dengan menaikkan kedua lengan mereka tinggi-tinggi ke udara, maka terlihatlah busungan kedua gunung montok di dada mereka.
Hanya dalam waktu tiga hari maka Ustadz Mamat mulailah sukar untuk berkonsentrasi sepenuhnya memberikan pelajaran. Sering kalimat yang telah direncanakannya untuk diucapkan ‘menghilang’ begitu saja karena godaan iblis dalam bentuk rayuan kegenitan kedua murid penggoda itu. Namun Ustadz Mamat tetap berusaha melawan godaan yang akan menghancurkan seluruh kehidupannya, ia dengan khusyuk berdoa dan sholat di luar waktu yang pada umumnya. Diharapkannya apa yang terpantau di matanya selama memberikan pelajaran dapat terusir dari benaknya.
Selama mengajar di kelas maka Ustadz Mamat dapat sementara mengalihkan perhatiannya kepada bahan kuliahnya, namun jika ia berada di kamarnya menjelang malam hari sebelum tidur,muncullah lamunan serta rasa kesepian karena ia tak berada di kamar tidurnya sendiri dan tak ada kehangatan tubuh istrinya.
Memasuki minggu ketiga, apa mau dikata Ustadz Mamar jatuh sakit setelah tiba di tempat mengajarnya itu. Tubuhnya panas dingin, sehingga tak mampu mengajar dan hanya dapat tidur hampir seharian di asrama penginapannya di pesantren. Di tengah malam jum’at hitam pekat dengan hujan lebat, ketika dalam keadaan demam menggigil itu maka Ustadz Mamat dengan tubuh berkeringat dingin mengalami halusinasi, ia memasuki situasi alam mimpi bagaikan sedang dihipnotis sehingga kesurupan…
Ustadz Mamat merasakan udara sekitarnya amat dingin hingga menggigil dan gigi-giginya beradu satu sama lain, badannya terasa sangat penat berat dan ia tak mampu menggerakkan kaki tangannya. Samar-samardilihatnya sesosok tubuh berjilbab mendekati ranjangnya, sosok wanita berjilbab langsing ini meletakkan kain basah dingin di jidatnya sehingga terasa amat nyaman. Sesudah itu wanita berjilbab ini berusaha melepaskan kaos oblong yang dipakainya, dan bukan hanya itu, kain sarung belikat yang dipakai dirasakannya dilepas dari ikatan pinggang, lalu diturunkan ke bawah.
Ustadz Mamat berusaha protes namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya, selain itu kaki tangannya seberat lempengen timah sehingga tak mampu digerakkannya untuk melawan.
“Pssst, pakaian Ustadz yang sudah basah kuyup dengan keringat, jika tak ditukar maka bapak akan semakin sakit. Tenang saja, pak Ustadz, saya hanya ingin menolong.” Samar-samarUstadz Mamat mendengar suara wanita yang halus dan merdu berbisik di telinganya.
“Siapakah yang sedang menolong dan merawatku saat ini – apakah malaikat, tapi ini… ini… aku kenal dia : istriku sendiri, Aida!” batin Ustadz Mamat.
Ustadz Mamat merasakan bahwa tubuh bagian atasnya kini telah dilepaskan dari kaos oblongnya, dan sesudah itu tubuh bagian bawahnya sebagian besar telah dilolosi dari kain pelikat penutupnya. Ustadz Mamat menggeleng-gelengkan kepala merasakan tak berdaya, sementara tubuhnya dirasakan semakin basah mandi keringat panas dingin. Namun yang sangat diluar dugaannya adalah sesuatu yang halus hangat dengan agak nakal kini menyelinap ke selangkangannya, dan sebelum ia dapat menolak atau mencegah, dirasakannya bahwa penisnya telah keluar dari balik celana dalamnya!
Banyak ahli psikologis mengatakan bahwa mimpi adalah bunga orang tidur dan disaat mimpi sering sekali keluar adegan yang sebenarnya sangat didambakan dalam situasi sehari-hari, namun tak pernah dapat tercapai atau terlaksana. Bayangan wanita berjilbab itu – terutama suara merdunya semakin lama semakin dikenalinya karena telah begitu sering didengarnya setiap hari, namun, namun… tak mungkin, itu tak mungkin, istriku Aida yang demikian alim shalihah pasti tak akan melakukan hal tak senonoh ini! Ustadz Mamat tak mau mempercayai telinga dan matanya yang masih kabur. Ini hanya mimpi, ini hanya fatamorgana. Aku sedang sakit demam panas, sehingga mengigau tak karuan, aku… aku… sebagai lelaki memang terkadang ingin hal ini, tapi… tapi…
‘Penolakan’ Ustadz Mamat yang sedang tak berdaya itu hanya dapat bertahan sementara saja karena dirasakannya bahwa kemaluannya kini dicengkeram dan dicekal di dalam genggaman jari-jarihalus. Jari-jari itu kini dengan sengaja naik turun di batang kejantanannya, menyentuh mengusap dan mengelus lembut kepala jamurnya yang telanjang karena disunat. Bagian pinggiran topi baja yang sangat peka itu kini dijadikan sasaran: disentuh dan digesek-gesek tanpa henti, bahkan kini kuku jari tangan yang halus itu menyentuh lubang kencing di tengah kepala penisnya, menyebabkan semakin sering membuka, menutup, membuka bagaikan mulut ikan sedang megap-megap kekurangan oksigen.
Ustadz Mamat berusaha melawan mati-matian perlakuan yang belum pernah dialaminya, keringat semakin mengucur membasahi seluruh tubuhnya sehingga terlihat semakin mengkilat. Semuanya hanya sia-sia saja karena lembing kejantanannya yang selama minggu-mingguterakhir memang kurang teratur memperoleh ‘perhatian’ kini mulai memberikan reaksi, mulai bangun dengan gagah menegang dan berdenyut mengangguk-angguk seolah meminta lebih banyak perhatian!
“Jangan umma, jangan diterusin…bapak sudah sembuh, tinggalkan bapak sendiri!” protes UstadzMamat.
“Ini obat yang manjur pak Ustadz, bukan obat biasa…jangan dilawan pak Ustadz, percuma saja. Bapak akan keluar keringat sebanyak mungkin, itu keringat jahat – biarkan keluar…. saya cuma mau nolong, dilanjutkan ya pengobatannya pak Ustadz?”
Tanpa menunggu jawaban Ustadz Mamat yang sedang berkutat melawan proses alamiah kelelakiannya, bayangan wanita berjilbab yang semakin mirip dengan istrinya itu kini menundukkan kepalanya, dan meskipun tertutup jilbab namun terlihatlah apa yang sedang terjadi!
“Aaaaahhh… oooooohhhh… ummu, jangaaan… abba mau diapakan?! Oooooohhh… siiiaaaah… aaaaaiiii…” Ustadz Mamat mengeluh mendesah tak karuan ketika dirasakannya ‘si otong’ kini memasuki ruangan hangat berdinding halus, kepala penisnya mulai disapu dan diusap dibelai oleh… oleh… ini tak mungkin terjadi, tapi… tapi… Ya Allah, istriku sedang mengulum kejantananku!! Bukankah istriku Aida selalu menolak untuk mengoralku karena jijik, tapi kenapa kini dia mau?
Dan benar sekali apa yang diucapkan wanita berjilbab itu: seluruh badan Ustadz Mamat semakin basah kuyup mandi keringat ketika ‘dimanjakan’oleh bayangan istrinya sendiri,Aida. Oooh… hal ini tak pernah kubayangkan, tapi… tapi… ooooh… dia belajar dari mana? Betapa pandainya Aida mencakup, mengulum, menghisap, menyedot serta membelai pusat kejantananku! Aaaaaah… bahkan liang kencingku kini disodok-sodok oleh ujung lidahnya. Oooooooh… nikmaaaatnya! Bagaimana aku akan tahan terhadap godaan ini?
“Aaaaaaaaaah…!!!” Dan disertai dengan dengusan bagai banteng terluka, maka Ustadz Mamat menyemburkan air mazinya. Karena sedang demam maka lahar kelelakiannya pun dirasakan sangat panas menyemprot di saluran dalam penisnya. Namun berbeda jika ia sedang bermasturbasi ketika masih bujangan, maka kali ini tak ada setetespun yang berceceran membasahi selangkangannya, jadi berarti… ini artinya… istrinya telah menelan semuanya dengan lahap… apakah benar begitu?
Ustadz Mamat ingin melihat dan bahkan menekan kepala istrinya yang tertutup jilbab itu ke arah selangkangannya agar semua spermanya dapat ditelan oleh Aida, namun… namun… dimanakah wanita dalam bayangan mimpinya yang telah memberikannya kenikmatan tak terhingga itu?
Perlahan-lahan Ustadz Mamat sanggup menegakkan tubuh bagian atasnya, dan dengan kecewa tak dapat ditemukannya istrinya, Aida – apakah semua itu hanyalah imajinasi, hanya khayalan? Namun mengapa tubuhnya yang penuh keringat itu kini terasa lebih mantap, lebih nyaman, dan gigilannya menghilang! Benarkah apa yang dikatakan bayangan wanita berjilbab itu bahwa semua ‘keringat jahat’ yang menyebabkan demamnya kini telah keluar disedot dan dihirup oleh si wanita berjilbab tadi – dimanakah dia…?
Ustadz Mamat merasa sangat lelah sehingga tak terasa ia kembali tertidur pulas.
Esok harinya Ustadz Mamat berusaha memberikan pelajaran lagi, tubuhnya masih dirasakannya belum mantap seluruhnya, juga kepalanya masih agak pusing dan berat, namun demamnya telah menghilang, itu yang terpenting. Hari itu Ustadz Mamat memberikan bahan pelajaran yang ringan saja, juga dengan hikmat didengarkannya suara murid-muridnya yang berlatih musabaqoh tillawatil itu.
Diusahakannya agar semua perhatiannya tertuju kepada bahan pelajaran, namun kedua penggoda yang duduk di barisan depan kembali melakukan segala macam upaya untuk menarik perhatiannya. Ustadz Mamat selalu mencoba menghindarkan pandangan matanya ke arah Rofikah dan Sumirah yang genit itu. Kedua pelajar itupun tak banyak diberikan kesempatan untuk bertanya, sehingga kedua murid ini semakin penasaran, dan iblis yang mendalangi Sumirah dan Rofikah juga tak mau begitu saja menyerah mentah-mentah.
Iblis yang telah berhasil menggoda Ustadz Mamat di dalam mimpi erotis disaat demam itu kini memakai kelemahan Mamat sebagai laki-laki normal yang telah mengalami kenikmatan di-oral, pasti pengalaman ini sangat menyenangkan dan ingin dialami kembali! Jika kedua murid yang genit itu tak langsung berhasil menggodanya, maka sang iblis mengganti siasat : mungkin Ustadz Mamat justru akan tergoda oleh gadis yang alim shalihah seperti istrinya sendiri.
“Istrimu sudah dijadikan budak seks-nya pak Sobri, bahkan adikmu Farah juga telah digarap oleh pak Burhan, kini giliranmu untuk terjerumus jurang nista, ini akan kuatur,” demikian rencana iblis!
Sering duduk di barisan depan namun agak menyamping adalah seorang santriwati termuda serta tercantik bernama Murtiasih atau lebih sering dipanggil dengan nama panggilan sehari-hari Asih.
Berbeda dengan Sumirah dan Rofikah,maka Murtiasih berpakaian sehari-harisangat sederhana dengan bahan biasa saja. Ia tidak memakai make-up untuk pipinya, maskara untuk alis matanya, lipstik untuk bibirnya,atau perhiasan mahal menyolok, kuku jarinya pun terawat rapih alamiah tanpa diberikan warna tambahan apapun. Semuanya itu justru lebih memberikan daya tarik, ibarat bunga desa yang murni tanpa cacat cela. Badannya yang kecil ramping mulai menunjukkan tanda-tandakewanitaan yang baru bersemi bagaikan putik bunga masih kuncup namun ujung atasnya mulai merekah dan menimbulkan hasrat untuk lebah menghisap madunya.
Iblis mengetahui hal ini dan ‘lebah’ yang akan dipakai oleh sang iblis adalah dalam bentuk lelaki yang sedang kesepian. Ustadz Mamat diawal mula tidak memperhatikan adanya santriwati cantik manis ini, karena Asih tak banyak bicara, duduk tenang di kelas menyimak pelajaran yang diberikan oleh 9urunya. Di waktu istirahat pun Asih umumnya memakai kesempatan untuk membaca serta mengulang bahan pelajaran yang baru diterimanya, dan usai sekolah maka Murtiasih langsung pulang tanpa méjéng ke tempat lain.
Perhatian Ustadz Mamat terhadap gadis ABG Asihsebagai akibat godaan iblis baru muncul setelah pengalaman khayalan mimpi saat menderita demam panas. Di hari-hari berikutnya barulah Ustadz Mamat ‘menyadari’ bahwa dalam kelas yang diajarnya ada seorang gadis muda belia, ayu cantik manis alamiah tanpa memakai tambahan apapun, selalu berkelakuan sopan santun, dan lemah lembut.
Berbeda dengan Irah dan Ikah yang berusaha menampilkan tonjolan tubuh mereka yang sexy, maka Asih selalu menghindarkan perhatian mata lelaki dengan bertingkah lalu sewajar mungkin. Namun biar bagaimana pun secara alamiah Asih tidak mungkin mencegah pertumbuhan badannya yang semakin padat dan sintal : di atas pinggangnya nan langsing semakin membusung gundukan daging di dadanya, sedangkan di bawah pinggangnya terlihat pinggul serta pantat bulat bahenol yang bergoyang ke kiri dan ke kanan serta berputar sangat lembut jika ia sedang berjalan.
Asih tak menyadari sama sekali bahwa dirinya kini menjadi pusat perhatian dari tiga orang! Tidak hanya Ustadz Mamat yang semakin lama semakin tertarik kepadanya, tetapi ada dua orang sekelas dan sesama jenis yang merasakan ‘kalah persaingan’ yaitu Ikah dan Irah! Keduanya tak mengerti mengapa perhatian Ustadz Mamat kini lebih menjurus kepada Asih yang mereka anggap ‘mentah’dan tak mempunyai keistimewaan sama sekali. Mengapa usaha mereka menonjolkan keindahan tubuh mereka yang sexy tak berhasil mengundang mata Ustadz Mamat, sedangkan Asih dengan kecantikan alam sekedarnya dan tubuh ABG yang baru ‘melentis’ mempunyai daya tarik lebih?!
Rasa kejengkelan dan kekecewaan yang semakin terpendam perlahan-lahan berubah menjadi dendam dan memang hal ini merupakan bagian dari kehebatan dan kelicikan iblis dalam mengadu domba anak manusia sehingga menjadi ‘buta’. Semakin manusia kehilangan akal sehatnya dan saling membenci sehingga akhirnya gontok-gontokan dan bahkan saling membunuh seperti yang terjadi di pelbagai tempat di dunia pada saat ini, maka semakin senanglah iblis yang menyeringai dan tertawa terbahak-bahak.
Ikah dan Irah mengasah otak mereka yang telah dipengaruhi iblis : jika mereka berdua tak berhasil langsung menjebak Ustadz Mamat, maka biarlah Asih dijadikan ‘korban’ terlebih dahulu.
‘Kegagalan’ mereka mendekati Ustadz Mamat adalah karena adanya Asih, oleh karena itu saingan muda belia itu biarlah digarap oleh Ustadz Mamat. Namun peristiwa perlecehan sang Ustadz terhadap Asih itu akan direkam dan dijadikan senjata ampuh untuk ‘menguasai’ Ustadz Mamat – dengan demikian maka secara tak langsung akhirnya Ustadz Mamat akan dapat takluk dan tunduk kepada Ikah dan Irah untuk memenuhi keinginan seksmereka, sedangkan Asih pun telah ternoda…
Untuk melaksanakan rencana itu,mereka akan membayar tukang sapu pembersih pesantren di situ : mang Jamal namanya – duda berusia lima puluh dua tapi masih tegar gagah perkasa dan gemar pada daun muda.
Karena Asih sifatnya sangat alim dan sukar diajak untuk pergi mejeng seperti gadis remaja lain seusianya, maka harus dicari akal untuk menjebaknya – dan mereka mencari ‘kelemahan’ alias ‘ke-naif-an’ Asih, terutama sifatnya yang selalu bersedia menolong orang yang sedang kesusahan.
Setiap hari Jum’at para santriwati di pesantren itu hanya mendapatkan pelajaran beberapa jam dan sebelum jam sebelas mereka sudah dibubarkan untuk memberikan kesempatan sholat jum’at. Kesempatan ini dipakai oleh Ikah dan Irah serta mang Jamal yang sudah dibayar oleh keduanya dan menjadi kaki tangan mereka. Mang Jamal diberikan petunjuk bagaimana merekam adegan terlarang Ustadz Mamat dengan Asih menggunakanhandphone mereka, dan bahkan dijanjikan bahwa setelah Murtiasih dikorbankan kepada Ustadz Mamat, maka setelah itu juga boleh ‘dicicipi’oleh Mang Jamal!
Tentu saja mang Jamal sangat senang memperoleh tawaran luar biasa itu, ibarat dapat lotere dobel: bukan saja memperoleh duit, namun juga bisa mengintip dan merekam adegan terlarang, bahkan sesudah itu dapatmenikmati tubuh muda Murtiasih. Mang Jamal dengan ukuran rudal luar biasa dan berpengalaman begitu banyak dengan wanita di desa selama ini yakin bahwa apa yang akan dialami Murtiasih ketika kehilangan kesuciannya pertama kali dengan Ustadz Mamat tak akan dapat dibandingkan dengan apa yang akan dirasakannya di dalam cengkraman ‘aku Mang Jamal, si pejantan tangguh!’
Sehari sebelumnya yaitu hari Kamis,Ikah dan Irah telah memberikan perintah kepada mang Jamal agar membawakan minum air seperti biasanya kepada Ustadz Mamat ketika mengajar di kelas. Namun di hari Jum’at ini minuman air ditambah dengan obat tidur yang diambil oleh Ikah dari kamar tidur ayahnya yang memang mempunyai gangguan sukar tidur, sehingga mendapatkan obat penenang dari dokter. Selain itu dicampuri pula ramuan obat kuras perut desa untuk membuat Ustadz Mamat pusing dan perutnya sangat mulas, sehingga tak lama kemudian ia memohon maaf permisi dengan tergesa-gesadan mengundurkan diri langsung kembali ke kamarnya sendiri di asrama pesantren itu.
Di asrama pesantren hanya terdapat tiga kamar tidur, sebuah kamar mandi dan WC yang letaknya di belakang. Juga ada sebuah WC kecil untuk pengunjung yang terletak di depan di daerah kamar penerima tamu. Kamar tamu itu hanya sederhana dengan sebuah meja kecil, dua kursi dan sebuah bangku panjang.
Mamat sebenarnya ingin melanjutkan memberikan kuliahnya, oleh karena itu ia merebahkan diri dibangku panjang kamar tamu yang kebetulan letaknya paling dekat dengan WC kecil, namun keinginannya kalah dengan rasa lemas dan ngantuk hingga ia tertidur pulas di bangku panjang itu.
Pimpinan pesantren terpaksa memberikan izin jam bebas untuk para siswi dengan anjuran mengulang apa yang telah diberikan, sambil menunggu waktu sholat tengah hari sebelum para siswi diperbolehkan pulang. Namun karena waktu menunggu sangat lama maka para siswi umumnya meminta izin pulang untuk melakukan sholat di desa kediaman masing-masing, dan karena pemimpin pesantren kebetulan mempunyai urusan penting dan juga ingin pulang lebih dahulu maka akhirnya permintaan para siswi dikabulkan. Terkecuali Asih yang memang selalu baru dijemput oleh adik laki-lakinya dengan motor, setelah sang adik ini sendiri sholat di masjid jami’dekat tempat kerjanya sendiri sebagai montir motor.
Ikah dan Irah tahu bahwa Asih akan tetap berdiam di kelas sambil menunggu waktu untuk sholat dan dijemput adik laki-lakinya itu, dengan pelbagai alasan kedua kaki tangan iblis itupun tetap berada di kelas dengan alasan juga akan dijemput. Tanpa curiga apapun Asih juga menerima tawaran minum air yang dibawa oleh Ikah, sangat segar kata Ikah, memakai sari kelapa muda dengan campuran aroma jeruk. Air minum itu memang sangat menarik aromanya seperti yang dikatakan Ikah, namun dicampur pula dengan obat tidur yang dipakai oleh ayah Ikah dari dokter .
Setelah lewat sekitar sepuluh menit dan yakin bahwa tak lama lagi obat tidur itu akan mulai bekerja, maka kedua siswi yang penuh akal licik itu mengajak Asih berjalan-jalan sebentar di kompleks pesantren untuk menghirup udara segar sambil melemaskan kaki, tawaran yang mana diterima Asih karena mulai merasa ngantuk sehingga telah beberapa kali menguap panjang.
Tanpa curiga Asih yang sangat polos dan sangat lugu itu ikut berjalan di luar, melihat-lihat tanaman bunga yang baru saja ditanam pak Jamal. Tanpa terasa dan tanpa disadari Asih, mereka semakin mendekati bangunan dimana disitu terdapat kamar para dosen, termasuk kamar yang dipakai oleh Ustadz Mamat – bangunan yang juga dikelilingi oleh semak pohon tinggi, dimana pak Jamal telah menunggu mangsanya…!
Ketika Asih telah cukup dekat dengan semak belukar tempat persembunyiannya, maka meloncatlah pak Jamal ke belakang Murtiasih dan hanya dengan satu pukulan keras di belakang leher, santriwati cantik itu pun langsung jatuh pingsan. Sebelum tubuh Asih jatuh ke tanah, maka Ikah dan Irah langsung menopang dari kiri kanan, sedangkan pak Jamal menyanggah dari belakang sambil memeluk pinggang langsing Asih.
Kesempatan itu dipakai oleh si lelaki hidung belang untuk merasakan betapa lembutnya tubuh santriwati Asih, terutama ketika kedua tangan jail pak Jamal sempat menjangkau ke depan dan menyentuh buah dada Asih. Dengan sangat perlahan-lahan ketiga orang itu membopong Asih dan membawanya ke bangunan di belakang pesantren, dimana terdapat beberapa kamar tidur yang diantaranya dipakai oleh Ustadz Mamat. Sebagai orang yang bekerja membersihkan kompleks pesantren situ maka pak Jamal tahu persis dimana kamar Ustadz Mamat berada, dan kesitulah mereka bertiga membopong tubuh Asih.
Setelah mengintip ke dalam dan melihat bahwa Ustadz Mamat masih tidur nyenyak, mereka dengan sangat hati-hati membopong Murtiasih melewati kamar tamu di asrama pesantren itu, sambil melihat betapa nyenyaknya Ustadz Mamat tidur sehingga mendengkur keras, mereka menuju ke belakang dan meletakkan Murtiasih di ranjang kamar tidur yang biasa dipakai oleh Ustadz Mamat.
Ketiga manusia penuh akal bulus dan telah dipengaruhi iblis itu kemudian keluar lagi, pak Jamal membawa bantal guling dari kamar tidur disitu, lalu berjingkat di depan jendela depan yang selalu terbuka dan letaknya tak jauh dari bangku panjang dimana Ustadz Mamat masih terlelap, lalu dilemparkannya bantal itu ke arah Ustadz Mamat sehingga akhirnya si 9uru agama ini pun terbangun.
Meskipun masih merasakan agak ngantuk dan kurang mantap, Ustadz Mamat memaksakan dirinya untuk ke belakang dimana ada wastafel dan disitu dibasuh serta dicuci mukanya sehingga terasa matanya agak segar. Dilihatnya jam tangannya yang telah menunjukkan jam setengah sebelas siang, lalu diingatnya kembali apa yang telah dialaminya tadi pagi ketika merasa pusing, sakit perut, mulas dan ngantuk tak tertahankan, sehingga ia mengundurkan diri kembali ke kamarnya ini.
Ustadz Mamat menyadari bahwa pasti murid-murid nya sudah pulang dan bubaran, dan tugasnya telah selesai minggu itu, tak ada yang dapat dilakukannya lagi selain pulang naik bus ke desanya. Dengan langkah lunglai ia memasuki kamar tidurnya dengan niat membereskan pakaian, dan bagai terkena sihir, Ustadz Mamat berdiri di ambang pintu kamar tidurnya, matanya membelalak melihat sosok tubuh anak gadis ramping, meskipun masih sangat muda namun telah terlihat lekuk likunya yang sangat jelas. Selain itu kain sarung penutup bawahnya agak tersingkap sehingga kaki betis nan mungil dengan jari-jari mungil agak kemerahan tampak jelas, dan wajahnya… itu Murtiasih !!!
Kaki Ustadz Mamat terasa gemetar, tak tahu apa yang harus dikerjakannya. Kenapa muridku berada di dalam kamarku – apa yang terjadi, apa yang harus kulakukan sekarang ? Aku telah mengundurkan diri dari memberikan pelajaran tadi karena alasan tak enak perut. Jika aku lapor bicara dengan siapapun maka pasti aku dituduh dengan sengaja kembali ke kamarku karena ingin melakukan hal tak senonoh dengan muridku sendiri. Apakah aku tunggu saja atau aku bangunkan Murtiasih lalu aku lepaskan ia pulang ke rumahnya? Aku sendiri sudah ingin pulang ke rumah, jadi ya sebaiknya akan aku usahakan membangunkan muridku ini.
Setelah mengambil keputusan maka Ustadz Mamat dari ambang pintu mulai memanggil nama muridnya agar terbangun. “Murtiasih, Asih, Asih, bangunlah nak… udah siang nih, bangunlah dan pulang balik ke rumah… udah usai semua, bangunlah, Asih…bangun!!” Ustadz Mamat berusaha membangunkan dengan suara lembut agar tak mengejutkan muridnya.
Namun Murtiasih masih tidur pulas sehingga akhirnya Ustadz Mamat melangkah lebih maju dan mendekati tepi kasur, disaat mana Murtiasih menarik kakinya sehingga kain sarungnya tersingkap. Sangat tergugah semangat Ustadz Mamat ketika melihat pemandangan yang sama sekali diluar dugaannya akan muncul, sementara iblis mulai membisikkan dan menghasut di benak Ustadz Mamat.
“…lihatlah kaki mungil itu, lihatlah pergelangan kakinya yangsedemikian langsing, lihatlah betis bagai tanaman padi Cianjur, lihatlah betapa putih mulus kulitnya, dekatilah, sentuhlah, usaplah…”
Beberapa menit Ustadz Mamat berusaha menggunakan akal sehat dan nuraninya sebagai 9uru agama, namun godaan iblis ternyata semakin kuat. Mata Ustadz Mamat semakin terpukau melihat kaki dan betis mulus Murtiasih, darahnya semakin berdesir, tanpa disadari si otong di selangkangannya mulai terbangun.
“…ayohlah, tunggu apa lagi? Tak ada manusia yang melihat, kamu sangat menderita berhari hari tak berada di ranjang dengan istrimu, tak menjamah istrimu, tak menggarap istrimu, siapa tahu dia bahkan mempunyai lelaki lain yang menggaulinya, apa salahnya kalau kamu bergaul dengan wanita lain – apalagi ini muridmusendiri yang kamu tahu amat alim shalihah, pasti belum pernah disentuh lelaki, ajari dia nikmatnya bercinta, kamu laki-laki pertama yang…”
Perlahan-lahan Ustadz Mamat melepaskan semua baju yang dipakainya , kini ia hanya memakai celana dalam saja. Setelah itu ia duduk di tepi kasur yang cukup lebar untuk dua orang itu dimana Murtiasih terbaring, lalu dengan perlahan Ustadz Mamat merebahkan dirinya di samping sang murid.
Disentuhnya pipi Asih yang sedemikian licin, didengarnya hembusan nafas sangat lembut dan halus dari hidung gadis itu, diusapnya pipi Murtiasih lalu jarinya turun mendekati sudut bibir merah muda yang terlihat agak basah mengkilat sedikit terbuka. Ustadz Mamat tak sanggup lagi menahan gejolak birahinya dan pada saat bersamaan, Murtiasih membuka matanya dan langsung menjerit dan sekaligus berusaha bangkit serta bangun dari posisi rebahnya.
“Eeehmmmfpppffh… aummmppph… eemmmssshhhppph… ennnnnggghh…” teriakan Murtiasih langsung teredam oleh mulut Ustadz Mamat yang dengan bibir tebalnya menciumi secara rakus. Berbeda dengan disaat ia bercinta dengan Aida istrinya, maka kali ini benak Ustadz Mamat sudah dikuasai oleh iblis sehingga semua tindakannya menjadi kasar.
Seolah diberikan bantuan energi gaib maka tenaga Ustadz Mamat pun menjadi berlipat ganda, tubuhnya yang hanya memakai celana dalam kini menindih badan mungil muridnya. Kedua tangan Murtiasih yang berusaha mendorong dada Mamat dicekal pergelangannya dan ditekan ke kasur di atas kepala hanya dengan satu tangan kiri, sedangkan tangan kanan Ustadz Mamat berusaha membuka beberapa kancing penutup kebaya si gadis baru remaja itu.
Tak lama gamis berwarna putih milik Murtiasihtelah terbuka dan muncullah dua gundukan bukit mungil tertutup BH krem. Murtiasih yang telah ditindih tak berdaya itu menggeliatkan tubuhnya mati-matianke kiri dan ke kanan bagai cacing kepanasan, tapi hal ini justru semakin memacu nafsu birahi 9uru agama yang sedang kesurupan itu. Akibat gelengan kepalanya ke kiri dan ke kanan dalam usahanya menghindarkan ciuman buas,lepaslah jilbab penutup kepalanya, sehingga rambut hitam pekat ikal bergerai ke samping dan ke bahu Asih, menambah cantiknya wajah gadis muda itu.
“Tolooooong… lepaskaan! Ustadz mau apa? Jangaaaan… pak Ustadz! Ingaaaat… sadaaar… insyaaaaaflah… pak Ustadz! Ini perbuatan jahanaam… sialaaaan… paaak Ustadz…jangaaaan!!” demikian teriakan Murtiasih ketika ciuman Ustadz Mamat kini beralih ke arah telinganya, menghembus dan menjilat-jilat disitu, menyebabkan rasa geli dan nikmat.
Namun Ustadz Mamat sudah sepenuhnya dikuasai oleh setan, dengan ganas ciuman dan kecupannya menjalar ke leher jenjang yang putih, disedot dan digigit-gigitnya kecil kulit halus Murtiasih, sehingga langsung muncul bekas cupangan berwarna merah yang tentu saja menimbulkan rasa bangga di benak sang Ustadz. Hanya dalam waktu sangat singkat pergulatan antar dua insan dengan tenaga tak sebanding itu telah menunjukkan siapa pemenang dan siapa yang akan menjadi korban.
“Hmmmmmhh… wanginya kamu, Asih. Badanmu harum, bapak tak tahan…jangan melawan ya, bapak ingin menyayangi kamu… tak akan menyakiti kalau kamu tak melawan, relaks dan nyerah saja!!” ujar Ustadz Mamat berusaha menenangkan gadis manis di bawah tindihannya yang kini mulai menangis terisak-isak.
Sambil tetap menindih tubuh mangsanya, UstadzMamat kini telah berhasil menyingkap BH Murtiasih ke atas, dan terlihatlah bukit kembar yang sedemikian indahnya, tidak besar namun sangat sekal, padat ranum berputing coklat muda kemerahan mengacung indah mengundang setiap lelaki untuk menyentuh. Demikian pula Ustadz Mamat yang langsung meremas buah dada kanan Murtiasih dengan tangan kanannya, sedangkan mulutnya segera mengatup buah dada kiri dengan penuh kegemasan, sementara kedua pergelangan tangan Murtiasih tetap dicengkeram dan direjang di atas kepalanya.
“Bukan main legitnya nih tetek, bapak jadi gemes geregetan…bapak remes-remes ya, siapa tahu bisa keluar susu asli, hhhhmmmmmm… ini pentil kayak kerucut, pasti enak dihisap dan dikenyotin… nduk geulis pasti geli ketagihan, duuuuh…enggak tahan lagi bapak pingin gigit biar nduk ngerasain ngilu,” celoteh Ustadz Mamat yang benar-benar telah kehilangan kesadaran dan martabatnya.
“Auuuuh… auuuuw… engggaaak mauuu… toloooong…oooooh… ngiluuuuu, paaaak Ustaaadz…jangaaan… aiiiiih… auuwww… sakiiiiiit… udaaaah… Asih enggak mau…lepasin Asih…kasihani Asih, pak Ustadz…tolooong…”
“Hehehe… tahan dikiiit, nduk…pasti nanti geli keenakan… ntar malahan minta lagi, ketagihan kamu…” lanjut Ustadz Mamat sambil tak henti-hentinya gencar meremas, memilin, menghisap, dan menggigit-gigit puting yang semakin mengeras dan peka itu.
Murtiasih semakin tak berdaya dan lemas menghadapi serangan bertubi-tubi dari 9uru bejatnya, namun di ujung-ujung pembuluh syaraf di tubuhnya yang remaja kini mengalir dan bergejolak rasa hangat dan nyaman sebagai jawaban dari rangsangan yang diterimanya. Rasa nikmat mulai menguasai pori-porikulitnya, menyebar dari kepala ke seluruh tubuhya – terutama di bagian yang diraba, disentuh, d usap, dan diciumi serta digigiti oleh Ustadz Mamat,menjadi semakin peka, penasaran ingin menagih lebih banyak lagi.
Baju kurung panjang yang dipakai Murtiasih telah semakin tersingkap akibat pergulatannya dengan Ustadz Mamat, apalagi ketika tangan kanan 9uru bejatnya itu mulai menurun dari buah dadanya ke arah perut, meraba dan menggelitik pusarnya yang cekung.
Tak lama kemudian tangan itu semakin mengembara ke bawah pusar, menyelinap semakin turun, dan terus turun ke dalam ke arah bawah mencari ‘harta karun’ yang amat mahal. yang tak mungkin bisa dibeli dengan apapun, dan hal ini membuat Murtiasih sementara sadar dan kembali meronta-ronta, namun Ustadz Mamat semakin gigih menindihnya, sehingga Asih semakin pengap dan merasakan sukar bernafas ditindih tubuh lelaki untuk yang pertama kali dalam seumur hidupnya.
“Udaaah… jangaaaan… toloooong, paak Ustadz…Asih masih perawan…ooooh… kasihani Asih, paak…huuuuu… ngggaaak maaauuu… lepasin Asih, paak Ustadz…saya enggakakan bilang siapapun… Asih mau pulang, pak…” pinta Asih dengan suara memelas disela-sela isak dan tangis sesenggukannya.
“Sssssh… anak manissss, ssssh… Asih sayang, kamu makin cantik… nikmati sajalah… rasakan nikmatnya… Asih mulai basah juga kan, hehehe…” Ustadz Mamat semakin beringas dan jarinya telah menyentuh bagian tengah celana dalam muridnya yang ternyata memang terasa basah melembab.
“Hhhhmmmm… ayoooh ngaku, nduk bahenol… udah pengen pipis ya? Ayolah… tak usah ditahan… nanti bapak jilati…” Ustadz Mamat semakin naik nafsu birahinya ketika meraba bukit kemaluan Asih yang membasah.
Tubuh kedua insan berlainan jenis itu telah mandi keringat akibat pergumulan mereka, seorang Ustadz yang telah dipengaruhi iblis berusaha merenggut kegadisan muridnya, sedangkan sang murid berusaha mempertahankan mati-matian milik satu-satunya yang seharusnya akan dipersembahkan kepada sang suami setelah upacara resmi akad nikah dan pengucapan ijab kabul nanti.
Meskipun Mamat telah menikah dengan Aida,seorang wanita alim cantik jelita [kini telah menjadi korban nafsu birahi pak Sobri, baca kisah sebelumnya], namun iblis telah mempengaruhinya serta membujuknya untuk menikmati kembali bagaimanarasanya merenggut keperawanan seorang gadis ABG.
“…sangat berbeda menikmati sebuah lubang yang telah sering kamu pakai dibandingkan celah hangat sempit yang tak pernah dilewati kemaluan lain, banggalah jika kejantananmu memperoleh kesempatan pertama menembus selaput tipis ABG itu. Bayangkanlah wajahnya meringis menahan sakit disertai rintihan memilukan memohon ampun, alangkah bedanya memasuki lubang istrimu yang sudah sering digauli…” Demikianlah bisikan iblis telah merasuki dan memenuhi benak Ustadz Mamat!
Ustadz Mamat kini telah melepaskan celana dalamnya sendiri dan tercengang bahwa kemaluannya sedemikian tegang keras mengacung bagaikan meriam sundut zaman baheula. Tak pernah selama ini dirasakan alat kejantanannya itu sedemikian gagah perkasa dan mendadak muncul lagi impian yang dialami ketika sakit demam.
Diingatnya bahwa rudalnya dimanjakan, disepong, dikulum dan dijilat, serta dihisap oleh wanita gaib mirip dengan Aida,istrinya sendiri. Namun Ustadz Mamat tahu bahwa istrinya yang sedemikian alim mukminin tak akan mau melakukan hal yang selalu dikatakannya haram serta sangat menjijikkan itu. Kini timbullah keinginannya untuk merasakan hal itu dilakukan oleh seorang gadis murni tulen yang belum pernah disentuh oleh lelaki.
Aah…betapa bahagianya aku, pikirnya… Namun gadis demikian alim ini pasti takkan mau menyerah begitu saja – terkecuali mungkin jika dimulai dengan rangsangan sama, yaitu jika akulah yang memulai merangsangnya habis-habisan secara oral.
Dengan tekad baru yang dibantu bisikan iblis, maka Ustadz Mamat mengerahkan seluruh tenaganya untuk segera melepaskan pakaian muridnya. Bagaikan singa yang mencabik-cabik kelinci lemah, kedua tangan dan kaki Ustadz Mamat bergerak sedemikian sigap dan cekatan melepaskan melucut ke bawah dan ke atas semua busana penutup tubuh dan aurat Murtiasih.
Bagaimanapun gadis malang itu berusaha untuk melawan, sang iblis seolah melemahkan daya tahannya, sedangkan tenaga Ustadz Mamat seolah berlipat ganda. Hanya dalam waktu beberapa menit saja, sempurnalah kedua tubuh insan itu telanjang bulat, tubuh Murtiasih kuning langsat ditindih oleh badan Ustadz Mamat yang hitam legam.
Ustadz Mamat kini merosot turun ke bawah untuk menciumi perut halus nan datar milik Murtiasih, dijilat-jilatnya pusar gadis itu hingga ia menggelinjang ke kiri dan ke kanan merasakan kegelian, apalagi ketika bibir rakus Ustadz Mamat mencucup serta menyupangi bagian bawah pusarnya, juga mendengus ke arah lipatan paha kiri kanan. Murtiasih kini merasakan sangat malu namun sekaligus nafsunya makin tergelitik disaat bukit venusnya disentuh.
“Uummmh… wanginya nih paha, bageur euy… putih licin mulus… enak ya neng, diusap?Dijilat juga enak ya, neng…bapak ciumin sambil digigit mau ya,neng? Uuummmhh…” puji Ustadz Mamat tak ada habisnya.
Murtiasih berusaha mengelak dan menendang dengan kakinya sambil mencoba membalikkan serta menggulingkan diri,tapi Ustadz Mamat telah menduga gerakan perlawanan ini. Kedua paha Murtiasih yang putih mulus itu langsung dihempaskan ke atas bahunya, sehingga terjuntailah betis langsing bak padi cianjur yang membunting memukul lemah ke punggung sang Ustadz. Dalam posisi tak berdaya itu, Murtiasih kembali merasakan kedua buah dadanya menjadi sasaran remasan kasar tangan Ustadz Mamat, terutama putingnya dipilin dan dicubit tak henti-henti, menyebabkan rasa ngilu dan nyeri tak terkira.
Namun yang sama sekali tak diduga adalah mulut Ustadz Mamat disertai nafas hangatnya melekat dan mengendus bukit kemaluannya, tak hanya sampai disitu saja,tak lama kemudian mulut itu mulai bermukim di gerbang kegadisannya, lalu terasa juluran lidah basah bagaikan ular mencari jalan di antara bulu halus kemaluannya, menyelinap ke dalam dan menjilati dinding celah surgawinya.
“Huhuhu… jangaaan, paaak… Asih tak mau diginiin… huhuhu… insyaaflah, pak… belum terlambaat… oohh…. aaahhh… sssshhhh… nnnggggaak maaauu… udaaaah…lepaaaasin…Asih mau pulaaang…aaaah… oooh…”
“Hmmmmh… wangi amat memek gadis alim belon pernah dicowel lelaki ini…licinnya nih bibir bawah, merah muda lagi…tuh kelihatan lobang pipisnya, hhhhhhmmmh…ada bulan sabit tipis,pasti selaput gadis…emang betul kamu belon pernah dijamah lelaki ya… ooooh…bapak jadi yang pertama nih,” tiada henti Ustadz Mamat menjilat, mengecup liang kenikmatan Asih sambil geram mengaguminya .
Perhatian Ustadz Mamat beralih ke lipatan atas bibir kemaluan Murtiasih, dimana tonjolan daging bagaikan penis kecil mengintip keluar. Tanpa ragu lagi jilatan serta ciuman si Ustadz yang dikuasai iblis kini menuju ke situ. Murtiasih menggeliat menggelinjang dan meronta sekuat tenaga karena ia merasakan untuk pertama kalinya ibarat disengat aliran listrik, pahanya membuka mengatup liar, menekan menjepit kepala pemerkosanya yang semakin menggiatkan rangsangannya tanpa kasihan.
“Oooooohhh… aaaaahhhh… paaaaakk, udaaaaah… ssssshhhh… hmmmsssh… ooooooh… lepasin, paaaak… Asih mesti ke belakang… aaaaahh…tolooooong,paaaak… Asih mauuu pipiiiiiiss… aaauuw… aaaahhhh…” dengan teriakan melengking disertai lengkungan tubuh mengejang ke atas,Asih mengalami orgasmenya yang pertama, sementara Ustadz Mamat merasakan betapa bibirnya basah kuyup oleh air mazi yang berlimpah ruah.
Ustadz Mamat sangat puas melihat hasil usahanya merangsang gadis manis ABG yang masih polos dan lugu itu. Kini Murtiasih telah mengalami pertama kalinya kenikmatan badaniah, telah tiba saatnya untuk pengalaman itu diperluas dengan menjadikannya seorang wanita dari seorang gadis.
Mamat meletakkan bantal di bawah pinggul Murtiasih sehingga semakin terangkat meninggi, lalu diletakkannya kembali kedua paha putih mulus yang masih bergetar halus disertai kejangan lemah ke atas pundaknya. Dimajukannya letak tubuhnya sendiri sehingga sendi paha Murtiasih menekuk ke arah buah dadanya sejauh dan semaksimal mungkin, dalam posisi mana terlihat belahan vagina Murtiasih yang telah basah oleh cairan lendir kewanitaannya, dan sedikit terbuka bibir memeknya.
Penis Ustadz Mamat yang lumayan besar telah menegang mengangguk-angguk dan menempatkan dirinya diantara belahan bibir memek yang agak kemerahan terhias rambut sangat halus di tepinya itu.
Murtiasih yang masih dalam keadaan lemah setelah mencapai orgasme, mendadak tergugah menyadari betapa posisinya yang sangat memalukan, terbuka lebar selangkangan dan celah kewanitaannya. Secara naluri disadarinya bahwa yang kini tengah menyentuh-nyentuh memeknya adalah kemaluan Ustadz Mamat yang mencari jalan masuk, dan dengan sangat panik Murtiasih berusaha mendorong bahu serta dada sang Ustadz yang berada di atasnya, bahkan Murtiasih berusaha mencakar muka 9urunya itu.
Namun Ustadz Mamat dengan sigap mencekal kembali kedua pergelangan tangannya dan menekannya ke kasur di samping kepalanya yang kini sudah tak terlindung jilbabnya. Dengan demikian habislah daya Murtiasih mengelakkan nasibnya : kehilangan kegadisannya dicengkeraman sang Ustadz cabul.
“Aaaaahhh… aduuuuuuhhh… aauuuuuuuwww… toloooong, paaak… aaauuuuuw…saakiiiiiit…aduuuuhh… aauuuummpfffh… eemmmmpppffhh…” jerit memilukan Murtiasih langsung teredam olehciuman buas Ustadz Mamat ketika kejantanannya mulai meretas menembus liang sempit gadis ABG korbannya.
“Tenang… rileks, neng, sakitnya cuma sebentar… santai aja… bapak mau masuk lebih dalam lagi, tahan sedikit… sebentar lagi neng pasti ketagihan… duh, sempitnya si neng behenol…hhhmmmmh…” Ustadz Mamat berusaha menghibur sambil memajukan pinggulnya makin maju menekan semakin dalam.
“Aaauuuw… sakiiit… udaaah, pak, Asih tak kuat… sakiiit sekali… aaaauw… kasihani Asih, pak…ampuuun, huhuhu… bapak jahat… lepasin…ooooh, keluarin… sakiiiiiit… ampuuuuun…udaaah…” tangis Murtiasih dan rintihannya menimbulkan iba, namun semua terlambat karena Ustadz Mamat merasa kepalang basah.
Bleeeez… bleeeez… mili demi mili penis Ustadz Mamat membelah memasuki lorong kenikmatan yang akhirnya jebol pertahanannya ketika selaput tipis berbentuk bulan sabit itu terkoyak, menyebabkan rasa sakit di tengah selangkangan Murtiasih bagaikan disayat sebuah pisau tajam. Di hadapan mata Murtiasih muncul ribuan bintang bagaikan kunang-kunang di tengah malam ketika rasa perih sakit menimpanya, tangisannya tetap teredam, hanya butir air mata mengalir di kedua pipi mulusnya.
Tanpa memperhatikan keadaan korbannya yang masih merasa tersiksa, mulailah Ustadz Mamat bergerak maju-mundur, terkadang diarahkannya arah lembing dagingnya ke atas, juga ke kanan, lalu ke kiri, ke kanan lagi, lalu dengan keras dihunjamkannya sedalam mungkin sehingga beradu dengan mulut rahim Murtiasih yang penuh ujung syaraf sangat peka.
Sekitar sepuluh menit Ustadz Mamat melakukan jelajahannya dengan kecepatan yang sama, dan ketika dirasakannya bahwa biji pelirnya telah mulai bergolak bagaikan berisi cairan mendidih, maka dipercepatnya gerakan tarik-dorong maju-mundur pinggulnya sehingga…
“Aaaaaaahhh… oooooooh… iiyaaaaahh, jepit terus penis bapak…oooooh… anaaak pinteer, sempitnya si neng bahenol…iyaaaah, pijit-pijit terus… remas terus, oooooh… bapak tak tahan lagi nihh, ooooohhh…” demikian bunyi geraman Ustadz Mamat bagaikan hewan buas menikmati mangsanya. Dia menekan sekuat tenaga kepala penisnya diambang rahim Murtiasih ketika lahar panas spermanya membanjiri seluruh liang kewanitaan sang murid yang baru saja direnggut keperawanannya itu.
Murtiasih telah tak berdaya apa-apa lagi,semua tenaganya telah terkuras karena melawan sia-sia, peluh membasahi tubuhnya yang mungil bahenol, matanya berkaca-kaca, hidung bangir mancung dengan lubang mungil kembang-kempis seiring isak tangisnya, bibir merahnya merekah setengah terbuka, dari mana hanya terdengar dengusan dan desahan lembut.
Ya, gadis alim shalihah ini telah sepenuhnya ditakluki oleh 9uru bejatnya, akibat bisikan dan pengaruh iblis yang bersuka ria menyaksikan semua usahanya kini telah berhasil – juga dengan para pengintip di balik jendela!
Seperempat jam kemudian kedua insan yang berpelukan telanjang bulat di kasuritu dikejutkan oleh masuknya tiga orang ke kamar tidur Ustadz Mamat. Mereka adalah Sumirah, Rofikah dan pak Jamal disertai seringai lebar cengengesan, semuanya dengan penuh kepuasan menunjukkan hasil rekaman didalam ponsel. Pelbagai adegan terlarang terlihat jelas, dimulai dengan Ustadz Mamat yang mendekati ranjang dimana Murtiasih tengah tidur dengan liku-liku tubuhnya yang mungil tapi menantang.
Kemudian jelas bagaimana Ustadz Mamat melepaskan bajunya sehingga hanya memakai celana dalamnya, dilanjutkan semua adegan pergulatan Ustadz Mamat dan korbannya, mulai dari Murtiasih berpakaian lengkap dengan jilbab, sampai semuanya dilepaskan secara paksa sehingga bugil.
Sangat jelas pula adegan Ustadz Mamat meng-oral Murtiasih, dimana akhirnya perlawanan gadis malang itu runtuh dan mengalami orgasmenya yang pertama. Yang menjadi puncak klimaks pengambilan foto dan adegan bergerak itu adalah tentunya pada saat Murtiasih direnggut keperawanannya, bahkan terlihat jelas secara close-up bagaimana wajah yang meringis kesakitan disertai linangan air matanya.
Kini lengkaplah kehancuran posisi Ustadz Mamat dan Murtiasih : keduanya tak mampu melawan dan dibawah ancaman ketiga kaki tangan iblis itu, maka dimasa depan mereka menjadi permainan bagaikan budak belian untuk memenuhi kemauan dan keinginan nafsu birahi mereka. Sumirah dan Rofikah menjadikan Ustadz Mamat budak seks lelaki mereka, sedangkan pak Jamal memperoleh kesempatan menikmati tubuh Murtiasih, juga mereka terkadang melakukan secara bersama-sama…
Pak Jamal yang memang terkenal sebagai bandot desa sangat menyukai kaum muda itu langsung meminta ‘upahnya’. Pak Jamal tak perduli keadaan Murtiasih yang masih babak belur kehabisan tenaga melayani nafsu hewaniah Ustadz Mamat. Ketika Murtiasih berusaha melarikan diri berputar-putar di ruangan tamu dan ke arah belakang, maka Sumirah dan Rofikah langsung membantu menerkam rekan sekelasnya itu.
Mereka membantu memegangi kedua tangan Murtiasih di atas kepalanya dan tersenyum penuh kepuasan melihat betapa sia-sia Murtiasih menggeliat meliuk-liukkan badannya yang telanjang bulat, ketika akhirnya pak Jamal dengan batang penis kebanggaannya menindih mangsanya itu. Murtiasih terbelalak tak percaya apa yang dilihatnya : kemaluan pak Jamal sangat besar, hitam, penuh dengan urat-urat berdenyut, panjang dan lingkarannya melebihi lengan bayi!
Tak mampu lagi menahan emosi, rasa ngeri, takut, dan habisnya tenaga, akhirnya Murtiasih hanya melihat semua dihadapan matanya menjadi abu-abu, berputar, sebelum semuanya menggelap… Namun itu tak menghalangi keinginan pak Jamal untuk menikmati tubuh ABG sintal bahenol penuh keringat, dan dengan buasnya mulailah ia memaksa memasuki secara susah payah celah sempit idamannya.
Kesulitan coba diatasinya dengan berkali-kali meludahi memek Murtiasih. Akhirnya dengan susah payah pada usahanya yang kelima kali,barulah penis yang besar itu meretas jalan masuk ke lubang surgawi Murtiasih. Rasa perih saat dinding vaginanya dipaksa melebar semaksimal mungkin menyebabkan Murtiasih sadar, merintih dan menjerit kesakitan.
Ratapannya tanpa henti tidak menimbulkan rasa kasihan pak Jamal yang menggenjotnya bagaikan sedang mengerjai perempuan desa lainnya. Permohonan ampun Murtiasih hanya menyebabkan gelak tawa yang menyebalkan – akhirnya suara Murtiasih terhenti disaat pak Jamal orgasmedan menyemburkan seluruh isi biji pelirnya. Murtiasih hanya berdoa memohon agar ia tidak hamil…
Ketika kakak lelakinya menjemput dan menanyakan mengapa mata Murtiasihmerah membengkak, maka ia hanya menjawab sepintas lalu dengan suara lirih bahwa ia mengalami sakit kepala. Sang kakak hanya menggelengkan kepalanya tanpa curiga sama sekali bahwa adiknya telah menjadi korban permainan terlarang, dan mereka bergoncengan pulang ke rumah.
Apakah Ustadz Mamat kini telah insyaf dan tobat dengan kelakuannya – atau tetap dipengaruhi oleh iblis, sehingga ketiga iparnya yang tak kalah cantik dengan istrinya: Farah yang telah digarap oleh pak Burhan si rentenir kakap, Nurul Tri Lestari dan Asma Maharani yang masih bujangan dan tak menduga sama sekali bahwa Ustadz Mamat telah berubah menjadi monster seks , juga akan menjadi korbannya dalam waktu tak lama lagi…?
Bersambung…
Entah karena doa yang dipanjatkan oleh Aida, Farah, maupun Murtiasih, atau karena ulah dari sang iblis sendiri maka ketiga wanita korban perlecehan itu tak sampai hamil. Sementara itu para pejantan kisah bersambung ini : Pak Burhan (baca bagian kedua”Ketika Iblis Menguasai” mengenai ternodanya Farah), Pak Sobri dengan kaki tangannya Fadillah (baca bagian pertama “Ketika Iblis Menguasai” mengenai Aida dan Pak Sobri) serta Pak Jamal (baca bagian ketiga “Ketika Iblis Menguasai” mengenai terjerumusnya Ustadz Mamat) sempat bertemu dan berkenalan ketika silaturrahmi setelah Idul Fitri di rumah Pak Fikri.
Siapakah Pak Fikri?
Pak Fikri dulunya adalah bekas kepala polisi di sebuah desa yang terletak diantara kediaman Pak Burhan dan Pak Sobri. Di masa dia menjadi kepala polisi itulah sempat Fadillah hampir masuk penjara akibat perbuatan kriminal yang dilakukannya (mencuri bahan bangunan di rumah Pak Sobri yang sedang dibangun).
Dengan bantuan ‘jasa’ Pak Sobri yang memberikan uang semir kepada Pak Fikri [selain Sobri sempat menggarap istri Fadillah bernama Subiati] maka Fadillah lolos penjara dan sejak itu menjadi kaki tangan Pak Sobri.
Selama tugasnya sebagai kepala polisi disitu, Pak Fikri sempat berkenalan dengan petugas pajak daerah situ, yang kebetulan adalah masih ada hubungan keluarga dengan Pak Burhan, si rentenir kakap. Dari situlah maka Pak Burhan akhirnya berkenalan dengan Pak Fikri. Tokoh lain di saat silaturrahmi itu adalah Pak Jamal yang telah kita kenal dalam kisah pelecehan Murtiasih, ia adalah bekas pegawai biasa di kantor Pak Fikri yang kemudian menjadi tokoh penjaga/pembersih madrasah tempat kerja Ustadz Mamat.
Ke-empat lelaki setengah baya itu bercakap-cakap mengenai pelbagai soal ringan, dan semakin malam berlarut maka mereka minum bandrék bajigur dicampur dengan air kelapa arén simpanan Pak Jamal. Air kelapa arén yang disimpan lama di tempat dingin itu tentu saja mengalami proses kimia dan sebagian berubah menjadi alkohol semacam minuman tuak.
Dengan pengaruh minuman itu maka lidah keempat lelaki itu menjadi semakin ‘loncér’ dan percakapan mereka akhirnya sering menyeleweng dan menjurus secara tak langsung ke persoalan wanita, karena istri Pak Fikri telah meninggal setahun sebelumnya akibat penyakit ginjal menahun ditambah pula sakit kencing manis parah sejak remaja.
Mereka rupanya menanyakan apakah Pak Fikri tidak berniat untuk menikah kembali, dan pembicaraan itu tanpa disadari beralih ke arah istri keluarga Ustadz Mamat.
Pak Sobri yang telah menjadi pejantan ahli penakluk Aida secara iseng menanyakan apakah Pak Fikri mengenal adik perempuan Aida yang bernama Farah. Pak Sobri hanya pernah melihat foto Farah di rumahnya Ustadz Mamat, namun dia belum pernah bertemu langsung dengan Farah. Tentu saja Pak Sobri tak tahu bahwa Farah telah menjadi korban Pak Burhan, dan tanpa curiga melanjutkan pujiannya terhadap kecantikan Farah.
Pak Fikri pernah selintas melihat Farah beberapa tahun lalu ketika mengajukan permohonan KTP baru, dan memang harus diakui bahwa gadis remaja berjilbab itu memang sangat cantik. Selama percakapan itu, Pak Burhan hanya tersenyum dan mendengarkan saja, namun ketika dirasakannya saat yang baik telah muncul barulah dengan sangat bangga ia menceritakan pengalamannya ketika berhasil menggauli Farah.
Rupanya Pak Sobri tak mau kalah mendengar hangatnya pelecehan Farah, maka ia pun akhirnya menceritakan bagaimana Aida terjebak siasatnya dan berhasil digarapnya tanpa setahu suaminya.
Ke-empat lelaki itu rupanya semakin lama semakin asyik dengan mengunggulkan diri sendiri dalam pergaulan bersama perempuan, mereka membual ‘kemampuan’ masing-masing dalam menaklukkan mangsanya.
Di luar kemauan mereka, iblis pun rupanya ikut mendengarkan serta mulai menyusun rencana berikutnya untuk menjebak menjerumuskan Ustadz Mamat, Aida istrinya, serta tiga adik perempuannya yang terkenal sangat alim shalihah.
Pak Jamal yang mengurus madrasah wanita mulai ‘menghasut’ dengan menceritakan betapa banyaknya gadis ABG desa yang ayu, manis dan lugu sehingga tak sukar untuk dijebak dan dijadikan mangsa untuk para lelaki setengah baya yang gemar daun muda.
Timbullah rencana Pak Sobri dan Pak Burhan untuk bersama mengumpulkan dana membangun madrasah khusus untuk wanita muda di desa tak jauh dari situ, dan Mamat akan dijadikan sebagai pemimpin ‘boneka’ disitu. Dengan ‘rahasia’ perbuatan cabulnya belum lama ini dengan muridnya Murtiasih, dimana rahasia itu berada di tangan Pak Jamal, Irah dan Ikah, maka Ustadz Mamat pasti tak mungkin menolak kedudukan yang ditawarkan.
Namun ke-empat lelaki yang mengatur siasat itu tentu saja mempunyai rencana maksiat lain terhadap Aida, Farah dan kedua adik perempuannya yang masih gadis murni, disertai Rofikah, Sumirah, mungkin pula beberapa ABG desa yang naif dan akan mudah dijebak!
Menjelang pagi mereka pulang dengan benak penuh rencana mesum!
Di desa Jamblang yang akan dijadikan ‘markas’ besar pelbagai perbuatan maksiat mereka di masa depan memang kebetulan ada sebuah gedung tua yang sudah lama tak dipakai. Puluhan tahun lalu gedung itu didirikan oleh Kompeni di zaman penjajahan Belanda sebagai pos penjagaan. Kemudian dipakai oleh penguasa Orde Lama dan Orde Baru untuk gudang, dan sejak hampir sepuluh tahun ini kosong terlantar.
Dasar dan pondasinya tetap bagus sebagaimana umumnya bangunan zaman dulu, hanya dinding dan atapnya yang perlu direnovasi. Untuk itulah, ke-empat lelaki yang mempunyai rencana tak senonoh itu segera mengumpulkan anak buah dan pekerja harian di desa untuk melakukan perbaikan, sehingga hanya dalam waktu tiga bulan setengah semuanya telah diperbaharui dan siap untuk dipakai.
Ustadz Mamat pun kini telah diberikan ‘kedudukan’ baru yaitu sebagai pemimpin madrasah baru – dan dalam waktu tak terlalu lama pendaftaran para murid untuk tahun pelajaran baru telah dibuka, dan tentu saja Ustadz Mamat juga mempunyai peranan penting dalam penerimaan itu, sehingga sejak dari awal mula telah dapat dipilih murid baru mana yang lugu ayu dan bahenol…!!
Di bawah ini adalah kelanjutan kisah mereka yang semakin dalam terjerumus godaan iblis…
Peristiwa yang dialami Murtiasih menyebabkannya sangat schock, prestasinya menurun dan sangat sukar baginya untuk konsentrasi dalam belajar. Aib semacam itu tak mungkin diceritakannya kepada siapapun, sehingga tanpa disadari, Murtiasih semakin menyendiri, menjauhi kawan dan rekan yang sebelumnya banyak bergaul dengannya. Semua bertanya-tanya namun Murtiasih menghindar tak mau memberikan jawaban, dan semua itu amat diperhatikan oleh Rofikah dan Sumirah.
Mereka dengan sangat cerdik dan menggunakan pelbagai akal bulus tak henti-hentinya selalu berusaha untuk mendekati serta menghibur Murtiasih, selain itu mereka yang semakin ‘dekat’ dengan ustadz Mamat, menganjurkan agar Murtiasih tetap diberikan penilaian yang cukup bagus. Ustadz Mamat yang telah terjerumus dan terlanjur berada di bawah pengaruh ancaman kedua muridnya itu tak dapat mengelak dan terpaksa menurut kemauan Ikah dan Irah.
Tentu saja kedua kaki tangan iblis itu tidak begitu saja mendekati dan menghibur Murtiasih, mereka pun baik secara langsung maupun tak langsung mengancam untuk membuka semua rahasia adegan mesum antara Murtiasih dan Ustadz Mamat yang mereka saksikan bersama dengan saksi ketiga yaitu Pak Jamal.
Setelah menghadiri malam silaturrahmi lepas lebaran itu, Pak Jamal menjadi semakin sering berhubungan dengan Pak Fikri yang menduda, tak jemu dan bosan-bosannya menceritakan betapa hangat pengalamannya dengan Murtiasih. Tentu saja sebagai pria menduda telah cukup lama tidak menikmati tubuh wanita, menjadi terbangun pula rasa ingin tahu Pak Fikri!
Pak Jamal sebagai pejantan kampung yang sangat vital perannya, merencanakan untuk menjebak dan mempersembahkan Murtiasih kepada Pak Fikri. Sementara itu ia pun menghasut Ustadz Mamat untuk secara bergantian menjarah Rofikah dan Sumirah, walaupun usaha kedua siswi genit ini untuk menarik perhatian Ustadz Mamat selama ini belum berhasil. Jadi, justru Ustadz Mamat yang akan mengambil alih jalan cerita menggarap kedua siswi genit ini. Kini hanya tinggal dicari waktu dan tempat yang cocok sekaligus menguntungkan.
Setelah upacara pembukaan madrasah baru, direncanakan untuk para pengunjung sedikit menyumbangkan dana. Dalam kesempatan itu tiga siswi diberikan tugas untuk menjaga kotak pengumpulan uang, dan setelah semua tamu pulang maka mereka akan ditugaskan menghitung uang dana yang masuk. Tak perlu diragukan lagi bahwa Rofikah, Sumirah dan tentu saja Murtiasih yang akan diberikan tugas itu!
Di saat akhir pengumpulan uang serta penghitungan dana masuk, dengan sembunyi-sembunyi Pak Jamal mencampurkan obat tidur dan perangsang ke dalam minuman segar mereka. Ketiga siswi calon korban itu diperhitungkan tanpa banyak perlawanan pasti akan dapat ‘digusur’ ke dalam mobil yang dikendarai oleh Pak Fikri untuk dibawa ke rumahnya yang letaknya cukup terpencil di atas bukit.
Pak Fikri akan mengatur agar rumahnya kosong, semua pembantunya di hari itu diberikan libur serta uang jajan sehingga tak ada seorang pun yang akan mengganggu rencana mesum mereka. Ustadz Mamat akan ikut di dalam mobil itu untuk mencegah agar ketiga siswi tersebut tak melarikan diri dengan misalnya melompat keluar dari mobil di tengah perjalanan. Pak Jamal akan ikut ‘mengawal’ dengan naik motor di belakang mobil sehingga seandainya ada yang lolos dari penjagaan Ustadz Mamat dan keluar dari mobil, maka segera akan dibekuk untuk dipaksakan masuk mobil kembali.
***
Tiga Bulan Kemudian…
Acara pembukaan madarasah dilaksanakan di hari Jum’at, tepat di tengah hari setelah sholat Jum’at. Banyak pemuka desa serta penduduk sekitarnya, terutama orang tua yang mempunyai minat memasukkan anak remaja mereka kesitu, datang serta memberikan sumbangan yang diharapkan.
Setelah upacara pengguntingan pita, peninjauan ruang-ruang kelas, administrasi, asrama dan sebagainya, menyusul acara makan kecil snack seadanya. Kemudian sebagaimana umumnya, disediakan waktu untuk para tokoh daerah memberikan sedikit ceramah serta penerangan rencana pendidikan yang akan diberikan. Sebagai acara penutup, sebagaimana di awal pembukaan diadakan doa bersama, sesudah itu mana para tamu berangsur-angsur pulang dan meninggalkan gedung baru tersebut.
Menjelang jam empat petang, tinggal Pak Fikri serta ketiga siswi yang masih berada di sana guna menghitung uang sumbangan yang masuk. Rofikah, Sumirah dan Murtiasih merasa pusing dan pandangan mata mereka semakin kabur, akhirnya tanpa disadari ketiganya meletakkan kepala mereka di atas meja tempat mereka menghitung uang itu…
***
Lima Puluh Menit Kemudian….
Rumah kediaman Pak Fikri mempunyai pelbagai ruangan cukup besar untuk ukuran desa : ruangan tempat menerima tamu, ruangan makan menyambung dengan dapur, tiga ruangan kamar tidur yang luas dan sebuah agak kecil hanya dipakai untuk menyimpan barang. Selain itu kamar mandi dan toilet bagi sang penghuni dan di belakang juga sama hanya untuk para pembantu.
Menurut rencana Pak Jamal, sebetulnya Murtiasih yang akan ‘dipersembahkan’ kepada Pak Fikri, namun agaknya Pak Fikri yang telah cukup lama tak menikmati tubuh wanita justru mendambakan peranan sebagai lelaki yang merenggut kegadisan dari salah satu siswi genit itu. Pilihannya jatuh kepada Rofikah yang telah sering diliriknya sejak upacara di gedung madrasah baru siang tadi.
Pak Jamal yang merupakan ‘otak’ dari peristiwa mesum petang ini menanyakan kepada Ustadz Mamat apakah ia keberatan untuk memulai sex-party itu dengan Murtiasih, murid kesayangannya.
Ternyata Ustadz Mamat tetap mendambakan Murtiasih meskipun telah direnggut kegadisannya dan digaulinya beberapa kali.
Oleh karena itu Pak Jamal akhirnya merasa senang juga karena sebagai pegawai rendahan akan dapat menggauli Sumirah yang diharapkannya masih utuh kegadisannya.
Ketiga lelaki itu telah membagi jatah masing-masing dan setelah sampai di dalam rumah, mereka menggendong ketiga calon mangsa yang masih setengah sadar itu ke kamar tidur yang diatur dan dibagi oleh Pak Fikri sebagai tuan rumah.
***
Adegan di Kamar Tidur 1 : Hilangnya Kegadisan Rofikah
Sebagaimana pada umumnya kodrat alam yang berlaku : anjing yang selalu menyalak jarang akan menggigit, atau seseorang yang banyak bicara dan membualkan diri umumnya adalah pengecut.
Demikian pula dengan Rofikah yang sehari-hari di madrasah berkelakuan genit, banyak bicara serta sering melirik ke arah para lelaki muda atau lansia yang iseng bersiul-siul ke arahnya disaat berjalan. Jika ia melintas di tempat banyak lelaki nganggur duduk di tepi jalan atau warung kopi, maka sengaja cara jalannya dibuat makin melenggok sehingga semakin menarik perhatian para lelaki nganggur.
Lenggang dan goyang pinggulnya jelas terlihat lebih berputar menggiurkan, walaupun tertutup dengan sarung panjang. Bulatan pantatnya yang montok menonjol bagaikan mengundang tangan lelaki menjamah, bahkan meremas dan mencubitnya, Rofikah senang dikagumi lelaki.
Namun kini ia telah berada berduaan saja dengan lelaki setengah baya yang dikenalnya sebagai bapak Fikri. Lelaki berusia pertengahan lima puluhan itu bahkan lebih tua sedikit dari ayahnya sendiri, namun terlihat masih cukup gagah.
Badannya sangat tegap, berkulit hitam, wajah sedikit kaku dan bengis, mata menatap tajam, hidung lebar agak pesek, bibirnya tebal terhiasi dengan kumis di atasnya. Lelaki yang bernama Pak Fikri dan kini dikenal sebagai sponsor utama dan pembangun madrasah baru itu, telah duduk di sampingnya dan mulai berusaha merayunya.
Rofikah – atau biasa panggilan sehari-harinya Ikah – telah terbangun dari pengaruh obat tidur yang dicampur di dalam minuman és alpukat tadi siang. Kini Ikah berusaha menyadari apa dan dimana ia berada. Dalam posisi setengah duduk Ikah melihat bahwa ia tidak lagi berada di ruangan madrasah, melainkan di sebuah kamar tidur. Rasa takut mulai menyelinap ketika disadarinya bahwa ia tengah duduk di sebuah ranjang yang cukup besar, ditopang bantal kepala besar di punggungnya.
Jilbab yang biasa dipakainya telah turun ke bawah, tak lagi menutupi rambutnya yang kini tergerai bebas ke belakang kepala dan pundaknya. Baju kurung yang dikenakannya telah semrawut tak teratur; bagian dada depan agak terbuka sehingga kulit dadanya yang putih terlihat oleh siapapun di hadapannya.
Selain itu sarung yang biasa menutup hingga mata kaki di bawah betis, kini tersingkap ke atas sehingga bukan hanya betis dan lututnya saja yang kelihatan, namun sebagian pahanya yang mulus juga terpampang jelas.
Secara refleks Ikah menarik sarungnya ke bawah paha, disambut dengan seringai lebar mesum oleh Pak Fikri. Ikah menggoyang-goyangkan kepalanya sambil mengucek-ucek matanya seolah tak percaya, namun semuanya bukanlah mimpi melainkan kenyataan yang sebenarnya.
Walaupun rasa letih dan ngantuk terpudar dan Ikah mulai menggigil karena ngeri dan takut berada berduaan di kamar tidur dengan lelaki asing, namun ada pula rasa aneh dan hangat mulai menjalari tubuhnya. Tentu saja Ikah tidak menyadari bahwa minuman segar es alpukat tadi selain diberi obat tidur, namun juga dicampuri dengan obat perangsang, yang kini justru mulai menunjukkan pengaruhnya di tubuh Ikah sebagai wanita muda.
“Saya ada dimana, Pak? Tolong, saya mau balik ke madrasah. Saya mau pulang!!” Ikah beringsut menjauh ketika Pak Fikri menggeserkan tubuhnya mendekat dan hampir menyentuhnya.
“Tak usah takut, Neng, bapak tadi senang ngeliat si Neng tidur nyenyak. Sekarang udah bangun dan segar kan? Bapak cuma mau menyenangkan, Neng. Ntar dianterin pulang, bapak janji nih,” Fikri semakin mendekatkan wajahnya ke muka Ikah sehingga tercium bau rokok kretek dari napas di mulutnya.
“Enggak mau ah, Pak. Saya mau pulang, tak baik kita berdua di kamar. Apa nanti kata orang? Apalagi nanti digunjingkan orang, bapak kan sudah ada keluarga,” Ikah berusaha menekan perasaan aneh yang seolah membuatnya gelisah dan juga ada gelora panas di pipi serta bagian-bagian vital di tubuhnya.
“Jangan takut, Neng, bapak cuma mau menyenangkan neng sebagai rasa terima kasih telah bantuin di madrasah tadi. Bapak tak akan menyakiti, cuma mau ngelonin neng sebentar supaya anget,” Fikri semakin melekatkan wajahnya sambil menyentuh lalu mengambil tangan Ikah di genggamannya.
“Udah dong, Pak, Ikah belon pernah begini. Jangan, Pak, engga baik. Lepasin dong, saya janji enggak bilang siapapun, asal bapak lepasin dan pulangin saya,” suara Ikah makin gemetar sambil berusaha menarik tangannya, namun Pak Fikri justru semakin menarik tubuh Ikah ke dalam pelukannya.
“Eenngmmpppffh,” hanya itu yang keluar dari mulut Ikah ketika Pak Fikri menyergap bibirnya sambil langsung melumat dan menciuminya dengan rakus sehingga ia jadi gelagapan. Selama ini kelakuan Ikah sering genit tidak sesuai dengan siswi madrasah, namun ia belum pernah intim dengan lelaki.
Kini – tanpa direncanakannya sendiri seperti yang pernah dilakukannya ketika menjebak Murtiasih – dirinya sendiri masuk ke dalam jebakan dan pelukan seorang lelaki seusia ayahnya. Seorang pria yang telah lama ‘puasa’ setelah meninggalnya sang istri kini terbangun nafsu birahinya! Betapa bahagianya Pak Fikri dapat mendekap tubuh gadis muda yang hangat dan sintal itu, tubuh yang meronta dan menggeliat tanpa hasil malah semakin memacu gairahnya. Membikin kemaluannya jadi semakin menegang ingin keluar!
Ikah menggeliat dan berusaha melepaskan diri ketika badannya yang telah setengah duduk dipaksa untuk kembali rebah terlentang. Rasa hangat dan gatal menyelubunginya ketika Pak Fikri menekan serta menindihnya di kasur, semua kancing dan peniti kebaya serta sarung yang dipakainya mulai berantakan ditarik secara kasar oleh lelaki yang bagaikan kesetanan itu.
“Cupp, cupp… diem, diem… sini sama bapak dikasih rasa anget, bapak sebentar lagi mau nyusu boleh ya? Percuma ngelawan, Neng. Nikmati aja, pasti kita sama-sama senang. Duuuh… nih leher enak dicupangin,” ucap Pak Fikri bagaikan singa sedang mencengkeram mangsanya.
“Eeemmmmh, sssshhhh, aaaaah, lepasiiiin dong! Jangaaan, Paak…” Ikah berusaha mengembalikan akal sehatnya, namun tubuhnya sudah terlanjur dimasuki obat perangsang dan kini semakin jelas terbuka karena sebagian besar busananya direnggut dan ditarik terlepas oleh Pak Fikri. Semakin rakus si lelaki setengah baya itu menekan Ikah sambil mengeluarkan buah dada si gadis dari BH-nya. Bukit kembar Ikah kini terpampang penuh kebanggaan ketika Pak Fikri meremas serta memilin putingnya.
“Auuuuw, aduuuuh! Jangan kasar gitu dong, Pak! Ngiluuu, sakiit, Pak! Pelan-pelan dong!!” Ikah tanpa sadar menengadahkan kepalanya di saat merasakan geli ngilu, apalagi saat putingnya yang memang sangat menantang itu masuk ke mulut Pak Fikri. Benda mungil itu disedot-sedot lalu digigit bergantian. Ikah hanya dapat mendesah dan tanpa disadari kedua tangannya justru mengelus dan mengusap-usap kepala Pak Fikri.
Setelah puas meninggalkan cupangan merah di bukit kembar putih yang menghiasi dada Ikah, kini Pak Fikri semakin menurunkan kegiatan tangannya ke bawah. Ia menyelusup ke arah pusar, menggoda lekukan yang masih murni belum pernah dijamah, semakin mengembara ke bawah mendekati batas yang masih tertutup celana dalam tipis berwarna putih.
“Aaaiiih, udaaaah, Paaak! Cukuuup, jangaaaan diterusiin! Enggaaaak mau yang itu, Pak! Jangaan, Ikah belum pernah gituan, Pak! Lepasin dong, tolong, Pak! Ikah enggak akan ngadu ke siapa pun, ooooh!!” Ikah merasakan dirinya mulai hanyut terbawa arus birahi. Namun sebagaimana umumnya, segenit apapun seorang gadis desa dan bahkan siswi madrasah, namun disadarinya kini ia akan kehilangan milik satu-satunya yang paling berharga, akal sehat Ikah kembali berontak menolak kenyataan ini.
“Udah terlanjur, Neng, ikutin aja. Kalo ngelawan malahan nanti tambah sakit. Nyerah aja ama bapak, ntar pasti pengen minta lagi. Ayo buka kakinya, dijilatin dulu mau ya?” kata Pak Fikri di tengah gejolak nafsunya.
Tanpa menunggu jawaban atau protes dari korbannya, Pak Fikri kembali mencakup mulut Ikah dengan ciuman ganas. Lidah kasar dan besar menerobos membelah bibir mangsanya yang agak merekah, menjarah masuk menyapu langit-langit mulut Ikah. Kemudian Pak Fikri menarik nafas sangat dalam dan panjang seolah-olah ia ingin menyedot habis semua daya perlawanan gadis yang telah dikuasainya ini.
Selain itu kedua tangan Pak Fikri tak henti-hentinya menarik dan melepaskan satu persatu lapisan pakaian pelindung di tubuh Ikah, dan dalam waktu hanya sepuluh menit kemudian, Ikah telah menggeletak dengan hanya celana dalam menutupi auratnya yang intim.
Pak Fikri merasakan bahwa perlawanan Ikah semakin berkurang. Dari belahan bibir gadis itu kini terdengar keluhan dan desahan putus asa, kedua tangannya kini tak lagi menegang berusaha mencakar Pak Fikri, hanya kedua betis jenjang dan paha mulus bergantian menekuk merentang gelisah. Terutama saat Pak Fikri menarik celana dalam Ikah ke bawah sehingga kini terlihat bukit Venus menantang dilindungi bulu-bulu halus.
Pak Fikri semakin bersemangat meremasi bergantian buah dada Ikah dengan tangan kirinya, sementara tubuhnya semakin merosot ke bawah. Mulutnya yang puas menyedot dan menggigit-gigit puting Ikah yang mencuat, semakin turun menjilati pusar, menyepongi perut bawah si gadis hingga akhirnya mencapai lembaran pertama rambut halus pelindung celah nirwana yang akan segera ditembusnya.
“Hmmmmh, memeknya bagus amat, Neng. Mana kecil lagi, masih sempit gini. Bapak jilatin supaya licin mau ya? Pasti neng suka, hmmmmhh, cuppp, srrrrt, cuupp, aaaah! Enak enggak, Neng?” Pak Fikri mulai menciumi dan menjilati vagina Ikah, menyebabkannya semakin gelisah kelojotan.
“Aiiiih, Paaaaak!! Geliiiii, oooohh!! Paak, udaaaah, sssshhhh! Geliiiii, Pak, Ikah enggak tahaan! Sssssh, ooooh, Paaak, jangan diterusin! Aaaaaaiiihh, stop, udaaah, Ikah mau pipiiisss, lepasin! Aaauw,”
Ikah berusaha menggelinjangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan untuk menahan segala macam rasa geli namun nikmat, terutama saat Pak Fikri selain menjilati memeknya juga menarik mencubit memilin putingnya.
“Asoooy… wuuuih, nih memek merah muda dalemnya. Tuh kelihatan lobang pipisnya, bapak pengen lihat gimana tombol listriknya. Pasti neng ketagihan kalo dijilat seperti kena setrum listrik, iyaaah mau coba ngumpet tapi bapak udah nemuin nih, cupp cupp, ssshhhh, srrrrhh, enak ya dijilat?” pejantan yang kemasukan setan ini rupanya telah menemukan kelentit yang dicarinya.
“Aaaaaaah, ooooohhhh, Ikaah lagi diapain? Ooooohh, auuuuww, engggga mauuu! Jangaaan, Paaak, Ikaaah bener-bener mau pipiiiiiiss, aaauuuuww, aaaaaaahhhh!” dengan suara melengking, akhirnya Ikah mengejang. Tubuhnya melengkung bagaikan busur, tangannya menarik sprei yang dibawanya ke mulut dan digigit sekuatnya sehingga sebagian jeritan sebagai tanda orgasme pertama teredam.
Namun Pak Fikri terus melanjutkan rangsangannya, kelentit Ikah berada diantara jepitan bibirnya yang tebal, dikecup dan digigit dengan mesra namun penuh kegemasan, dan kumisnya yang baplang itu mulai basah kuyup dengan air mazi pelicin yang keluar dari dinding vagina Ikah.
Tanpa rasa jijik air pelumas itu dijilat disedotnya, nafsunya sudah naik ke ubun-ubun, kemaluannya telah menegang mengacung mengangguk-angguk. Dan setelah beberapa menit dirasakannya Ikah telah berkurang ketegangan tubuhnya sebagai tanda orgasmenya mulai berakhir, maka tibalah waktunya untuk Pak Fikri mengambil hadiah utama yang diidam-idamkannya, yaitu merenggut kehormatan sang gadis.
Kedua paha dan betis Ikah dikuakkan dan diletakkannya di atas bahunya, bantal kepala agak keras diletakkannya di bawah pinggul Ikah. Dicium dan dijilatinya lagi celah kenikmatan yang telah licin itu, menyebabkan Ikah dalam keadaan setengah sadar melenguh.
Pak Fikri telah mengarahkan lembing daging kebanggaannya yang penuh urat dan berwarna coklat hitam mengkilat itu ke arah belahan yang sedikit merekah – perlahan-lahan dimajukannya kepala penisnya, diretasnya kedua bibir kemaluan Ikah, dirasakannya betapa hangat kepala jamurnya terjepit disitu, lalu Pak Fikri menekan…
“Aduuuuh, aaauuuuuww, periiiih, saakiiiit, hentikaaaaan, jangaaaan!! Toloooong Paak, sakiiiiiiit, oouuuuuw!! Aaaampuuuun, Paak, udaaah, sakiiiiiit, aaauuuuuw!!”
Ikah mendadak melolong menjerit-jerit bagaikan hewan disembelih ketika memeknya yang masih sempit itu mulai dibelah oleh penis pria seusia ayahnya. Kedua tangannya membentuk kepalan yang dipukulkannya ke dada Pak Fikri, kemudian kukunya digunakannya untuk mencakar bahu serta lengan lelaki setengah baya yang sedang menindihnya, namun Pak Fikri tetap perlahan-lahan melanjutkan mendorong menekan penisnya.
“Tahaaan dikiiit, Neng, rileks aja. Sssshhhh, rileks, Neng. Jangan dilawan, malahan makin sakit. Dikiit lagi masuk semuanya, Neng, oooh… sempitnya! Uuuuuh, emang bener si neng masih perawan,” desah Pak Fikri menekan kejantanannya semakin lama semakin dalam ke memek Ikah. Betapa sedapnya dan bangganya sebagai pria setengah uzur berhasil menaklukkan gadis muda belia nan montok ini.
Bahu dan kedua lengannya telah penuh dengan dengan cakaran Ikah yang berusaha mengeser-geserkan pinggulnya ke kiri-kanan seolah menghindarkan benda tumpul yang sedang menerobos memeknya, namun semua itu tak diperdulikannya karena Pak Fikri merasakan penisnya kini agak tertahan oleh sesuatu.
Ia menyeringai penuh kepuasan karena dirasakannya bahwa kepala pentungan dagingnya mulai menyentuh lapisan selaput gadis mangsanya. Uuuuh, betapa hebatnya aku ini, sudah hampir mencapai kepala enam akan merenggut kehormatan anak gadis madrasah, demikian di benak Fikri.
Sangat berbeda apa yang dirasakan Ikah saat itu; selain perih karena celah surgawinya dipaksakan melebar untuk menerima penis lelaki pertama kalinya, kini dirasakannya di dalam selangkangannya ngilu dan bagaikan ada benda tajam akan menyayatnya. Ikah kembali merintih sambil meronta-ronta.
Lelaki setengah baya dan cukup lama menduda itu tentu saja kini ingin menikmati bukan saja saat penisnya menembus selaput tipis di kemaluan Ikah, namun juga ekspresi seorang gadis kehilangan milik satu-satunya – sebuah panorama yang akan melekat di benaknya yang lansia namun mesum itu.
Dicekalnya kuat-kuat kedua pergelangan tangan Ikah yang langsing di samping kepalanya sehingga tak dapat dipakai mencakar lagi, ditatapnya wajah korbannya yang menggeleng-geleng ke kiri-kanan seolah tetap menolak apa yang tak dapat dihindarkan lagi.
Mulut Ikah yang merah muda basah itu setengah terbuka agak gemetar, lubang hidungnya kembang kempis, keluhan dan rintihan lemah Ikah kini silih berganti dengan dengusan dan suara geraman dari si lelaki pejantan yang amat buas.
“Hmmmmggghh, sssssshgg, bapak tekan lagi nih! Eeeeemmmmfffh, bapak mesti kerja keras nembus pertahanan si neng! Bageeuuur eeeeuuuuyyy, alot juga si neng benteng pertahanannya, bapak maju lagi… aaaaaah, kerasa legaan dikit sekarang! Wah, mentok nih, hhhhhhssssh!” dengus Pak Fikri.
“Aaauuuuww, aduuuuh, aaauuuuuuww, emmpppfffffh!!” jeritan memilukan Ikah teredam kembali oleh ciuman bertubi-tubi dari Pak Fikri yang sangat terangsang melihat betapa ayu memelasnya wajah siswi genit ini ketika kehilangan kegadisannya. Keduanya kini beberapa saat tidak bergerak : Rofikah bagaikan kelinci lemah telah berada dalam cengkraman singa ganas Pak Fikri.
Perlahan-lahan Pak Fikri melepaskan ciumannya, kedua nadi Ikah tetap dicekal ditekannya ke kasur, diberikannya waktu beberapa saat bagi Ikah untuk membiasakan memeknya dibelah oleh benda asing. Setelah itu mulailah Pak Fikri menggerakkan pinggulnya maju mundur. Terkadang amat halus lembut, terkadang agak terputar, lalu diganti dengan sodokan ke pelbagai arah : ke atas, ke samping, ke bawah, sejenak kemudian diganti lagi dengan sodokan dan hunjaman keras brutal menghantam mulut rahim Ikah.
“Wuuuih, enak tenan si neng. Barangnya licin tapi tetep rapet, barang bapak kerasa dipijit-pijit. Pinteer amat neng bahenol. Mulai kerasa enak ya, Neng? Ayo sekarang ngaku sama bapak,” Pak Fikri memuji.
Ikah tak sanggup menjawab, badannya bagai terbawa arus gelombang, selangkangannya dirasakan geli, ngilu, hangat, gatal, nyeri sakit, namun setiap kali dihantam juga ada kenikmatannya sendiri.
Perlawanannya telah sirna, Ikah mulai terbawa dan tenggelam hawa nafsunya sendiri, wajahnya kini menengadah ke atas, mulutnya terbuka mengeluarkan desahan halus wanita muda, rintihannya yang memilukan telah berangsur berubah menjadi dengusan nafas mencerminkan nafsu birahi.
Pak Fikri rupanya cukup kuat dan bertahan sehingga hampir setengah jam ia memompa Ikah, tapi akhirnya mulai dirasakannya gejolak air lahar mendesak keluar dari biji pelirnya. Semakin seru dan cepat dipompanya tubuh montok Ikah, dihantamnya dan dijarahnya dari segala macam arah.
“Aaah, uuuuh, ooooh, aaaah, hhhuuuuhhh, ssssshhhh, bapak udah hampir nembak nih, Neng, banjir di dalem boleh enggak, Neng?” Pak Fikri mendengus-dengus di telinga Ikah sambil menciumi mengecup lehernya yang putih, yang kini telah penuh bercak dan cupangan merah.
“Jangaaaan, Pak, Ikah enggggak mau. Jangan di dalam, Pak, ampuuuun! Ikah nanti hamil, kasihani dong! Aauuuuwww, aaaah, aauuuuw! Tolooong, Pak, Ikah jangan dihamili,” suara Ikah panik terisak-isak karena diingatnya bahwa kemungkinan besar dirinya sedang masa subur.
“Abis gimana dong? Bapak udah mau banjir nih,” Pak Fikri terengah-engah sambil terus memompa.
“Udaaaah dong, Pak. Lepasin Ikah. Jangan di dalem, Pak, oooh… tolooong!!” Ikah semakin tersedu-sedu.
“Iyaa, bapak bisa tahan bentaran lagi ngejosnya. Kalo enggak boleh di dalem, bapak mau nyemprot di tempat lain. Bapak mau banjir di mulut neng aja ya, sekalian neng bapak ajarin nyepong. Mau ya?” rupanya Pak Fikri memperoleh bisikan iblis lagi.
“Enggak mau. Ikah ogah gituan. Jijik, Pak, ooooh… jangan paksa Ikah, kasihani dong!” suara Ikah putus asa diselang-seling isak tangisnya.
“Ya udah kalo Ikah enggak mau, bapak terusin aja banjir di dalem, itung-itung nyebar bibit di perut neng,” Pak Fikri tersenyum lebar merasakan bahwa bagaimanapun akhirnya Ikah akan terpaksa mengalah.
Ikah tidak dapat menjawab lagi, badannya terguncang-guncang disodok oleh Pak Fikri tercampur dengan tangis sesenggukannya. Air mata mengalir membasahi kedua pipinya, namun adegan mengenaskan ini sama sekali tak menimbulkan kasihan pada Pak Fikri, karena semua akal sehatnya telah hilang dikuasai bujukan iblis.
Dirasakannya bahwa pertahanan Ikah sudah hancur berantakan, badannya yang elok montok kini lemas lunglai, dan Pak Fikri yakin meskipun mulutnya menolak namun Ikah pasti akan patuh jika harus memilih antara hamil atau menelan sperma. Perlahan-lahan Pak Fikri mencabut penisnya yang tetap gagah mengacung, terlihat mengkilat licin dilapisi oleh cairan vagina, disamping itu disana-sini tampah bercak-bercak darah di kepala jamurnya sampai ke batang dan rambut kemaluannya.
Pak Fikri merangkak ke atas, setengah duduk setengah berlutut di atas dada Ikah dan kini menyodorkan kemaluannya ke arah mulut Ikah. Karena Ikah melengos memalingkan mukanya, maka Pak Fikri yang merasakan denyutan di biji pelirnya semakin meningkat, segera memegang wajah mangsanya serta memencet hidung Ikah yang bangir.
Hal ini tak diduga oleh Ikah yang berusaha menggelengkan kepalanya namun tanpa hasil, dan karena kehabisan nafas maka secara tidak sadar mulutnya membuka sedikit untuk menghirup udara.
Namun celah mulut yang terbuka itu terlalu kecil untuk diterobos rudal Pak Fikri. Oleh karena itu pria setengah baya cabul itu secara sadis mencubit dan menarik puting buah dada Ikah.
Tentu saja gadis malang yang telah sangat lelah itu menjerit kesakitan dan mulutnya tanpa disadari membuka sangat lebar, yang mana kesempatan itu tak dilewatkan oleh Pak Fikri dengan segera menerobos masuk secara brutal sehingga kepala jamurnya menyentuh langit-langit di kerongkongan Ikah. Mulutnya kini dipenuh dengan batang penis yang berlumuran air mazi sendiri.
Ikah merasa pengap dan dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, dicakarnya paha Pak Fikri yang berada di kiri-kanan ketiaknya. Namun gerakan itu hanya berhasil beberapa detik karena Pak Fikri lagi-lagi merejang kedua nadinya di atas kepalanya sementara kepala penisnya memenuhi mulut Ikah.
Sedemikian penuhnya mulut Ikah dijejali kemaluan Pak Fikri sehingga siswi madrasah itu kini hanya dapat bernafas mendengus-dengus melalui kedua lubang hidungnya yang mungil kembang-kempis.
“Hmmmmmh, nih mulut memang diciptakan buat nyepongin bapak. Ayooooh buka yang lebaaaar! Iyaaaah begitu, pinternya… oooooh ngimpi apa bapak disepongin Ikah? Iyaaah jilaaaat, Neng, uuuih lobang kencing bapak dikitikin ujung lidah, ooooh bapak enggak tahan lagi mau meledak, aaaaaah!!”
Pak Fikri menekan penisnya sejauh mungkin ke langit-langit mulut mangsanya ketika gelombang demi gelombang sperma meluap dari tabungan biji pelirnya, memasuki lorong di batang penisnya dan menyembur masuk ke kerongkongan Ikah. Mati-matian Ikah menahan nafas dan berusaha melepehkan keluar cairan kental berbau khas laki-laki itu, sepat asin dan dirasakan amat memualkan perutnya.
Namun karena besarnya batang penis memenuhi rongga mulutnya dan semburan sperma Pak Fikri begitu banyaknya dan menyemprot seolah tiada hentinya, maka tak ada jalan keluar lain bagi Ikah selain dengan penuh rasa muak menelan air benih Pak Fikri.
Selama satu dua menit simpanan air mazi Pak Fikri yang tersimpan sekian lama itu teguk demi teguk memasuki kerongkongan Ikah sebelum akhirnya penis Pak Fikri mulai mengecil dan akhirnya ditarik keluar oleh sang empunya.
Tanpa ada perlawanan sama sekali, Ikah membiarkan dirinya dalam keadaan telanjang bulat tetap dirangkul dan dipeluk oleh Pak Fikri. Diiringi senyum kepuasan, Pak Fikri membelai badan telanjang itu sambil berulang-ulang membisikkan keinginannya agar Ikah dengan sering selalu mau memenuhi keinginan nafsu sang duda, bahkan ditanyakannya apakah Ikah bersedia menjadi istrinya….
Bersambung…
Adegan di Kamar Tidur 2 : Hilangnya Kehormatan Sumirah
Pak Jamal menelan ludahnya berulang-ulang, jakunnya turun naik menyaksikan pemandangan di depan matanya. Siswi madrasah ABG berusia belasan tahun – diperkirakannya sekitar tujuh belas tahun – yang dikenalnya sejak peristiwa pembantaian Murtiasih (baca kisah terdahulu Ustadz Mamat) itu bernama Sumirah atau dengan panggilan sehari-harinya ‘Irah’, kini hanya berdua dengannya di kamar!
Sumirah yang demikian ayu elok dan manis itu masih di bawah pengaruh obat penenang dan juga obat perangsang yang tak disadari diminumnya sekitar dua jam lalu. Sumirah tetap belum sadar ketika beberapa menit lalu pak Jamal menggendongnya keluar dari mobil, membawanya masuk ke dalam rumah milik pak Fikri, kemudian dibawa masuk ke sebuah kamar tidur yang ditunjuk oleh si pemilik rumah
Jilbab yang biasanya menutupi rambut serta lehernya telah tergeser ke bawah ketika tubuhnya dipanggul oleh pak Jamal. Sandalnya juga telah terlepas, demikian pula kaus kakinya. Bahkan sarung panjang yang menutup hingga mata kakinya pun tersingkap sehingga betis putih sangat menantang mata lelaki miliknya kini menjadi santapan mata pak Jamal.
Bagian atas tubuhnya pun tak lagi terlindung secara rapih oleh kebaya yang biasa sehari-hari tertutup rapat. Kancing dan peniti penjaga kebaya di bagian depan telah sebagian besar berantakan. Akibatnya belahan bukit kembar di dada Irah mengintip keluar, gundukan daging gempal terlindung BH putih dengan pinggiran renda muncul di hadapan mata Jamal yang ganas.
Pak Jamal menjulurkan lidah untuk membasahi bibirnya, lehernya dirasa sangat kering menghadapi gadis muda yang masih setengah tidur itu. Dari hidung Sumirah yang bangir terdengar nafas halus, matanya masih tertutup, tangannya tetap menggenggam saputangan yang memang sering dipakainya dengan dibasahi air mawar harum.
Pak Jamal meletakkan tubuh Sumirah di atas ranjang, tangan nakalnya membuka beberapa kancing peniti yang tersisa, yang masih menutup kebaya si siswi madrasah itu. Kemudian disingkapnya lebih lanjut sarung Sumirah ke atas sehingga kini bukan saja betisnya, namun paha begitu licin mulus bak batu pualam putih pun terpampang, pada saat mana Sumirah malahan menekuknya sehingga sarungnya semakin tersingkap dan selangkangannya menjadi terbuka, membuat pak Jamal hampir terbatuk-batuk karenanya.
Karena selangkangan Irah terbuka tanpa disadari oleh sang empunya, maka pak Jamal dapat melihat betapa halusnya kulit paha Irah yang putih kuning langsat karena selalu terlindung dan tak coklat terbakar sinar matahari. Pak Jamal menarik nafas dalam-dalam namun dengan dengus tertahan, karena ia ingin memakai kesempatan selama mangsanya belum pulih kesadarannya untuk menarik ke bawah dan mencopoti celana dalam Sumirah yang berwarna merah muda!
Celana dalam tipis dengan renda itu perlahan-lahan ditarik pak Jamal ke bawah. Semula agak sulit karena tertindih oleh pinggul Sumirah, namun dengan kesabaran yang cukup mengagumkan, pak Jamal sedikit demi sedikit dapat melorotinya. Akhirnya sebercak kain merah muda tipis penutup aurat Sumirah itu pun ditarik turun melewati paha, lolos melalui kedua lututnya, dan pada saat Sumirah tanpa sadar membalik tubuh maka lepaslah lewat kakinya!
Namun pak Jamal masih dapat menahan diri dan tak langsung menerkam mangsanya itu, perlahan-lahan ia berdiri di samping ranjang, satu persatu baju dan celananya sendiri ia lepaskan, sambil tetap mengawasi calon korbannya. Ketika ia hanya tinggal memakai celana dalam saja, pak Jamal kembali naik ke ranjang dan kini merebahkan dirinya di samping kanan Sumirah.
Pak Jamal yang terkenal sebagai pejantan kampung telah sering menggarap wanita di desanya – pada umumnya wanita muda yang telah bersuami tapi kurang memperoleh nafkah badaniah, demikian pula janda kembang entah karena diceraikan atau ditinggalkan suami yang meninggal pada usia muda.
Namun tak diingatnya lagi kapan ia pernah menggauli seorang gadis muda remaja, apalagi anak ABG siswi madrasah seperti Sumirah. Tak disangkanya ketika memasuki usia pertengahan lima puluhan masih memperoleh kesempatan menikmati tubuh Murtiasih beberapa bulan lalu, sebagai ’bonus’ dari Ustadz Mamat (baca kisah mengenai Ustadz Mamat sebelumnya).
Kini di hadapannya menggeletak seorang siswi madrasah lainnya yang hampir seusia dengan Murtiasih, siswi yang sehari-hari memang agak genit, apalagi jika sedang bergaul dan bercanda tertawa cekikikan bersama dengan Rofikah. Pak Jamal membayangkan betapa serunya adegan di kamar pak Fikri yang pasti sedang berusaha menguasai dan menggagahi Rofikah. Khayalannya itu semakin menggugah rencananya untuk mencicipi tubuh Irah yang pada saat itu dengan tak terduga rupanya mulai sadar dan perlahan-lahan membuka matanya!
“Iiih, pak Jamal, kenapa ada disini? Ayo keluaar! S-saya dimana, pak? Tolongin saya pulang ke rumah, Pak. J-jangan macam-macam, kita tak baik berduaan di kamar,” suara Irah terdengar panik.
“Tenang aja, non geulis… ditanggung aman deh, non, asal jangan berisik. Ntar mamang pulangin non ke madrasah, atau mau ke rumah juga boleh. Tapi sebelonnya mamang mau ngelonin si non geulis,” demikian pak Jamal yang langsung menyergap dan menarik tubuh Irah yang berusaha bangun.
“Toloong! Saya mau diapain? Enggak mau begini, kurang ajar!! Ntar aku laporin polisi lho, ayo lepasin…” Irah bergumul dengan lelaki setengah baya yang kembali berhasil meletakkannya di ranjang.
“Eeh… udah dibilang jangan berisik, malahan cerewet! Jangan rewel, non, percuma ngelawan! Kan si non juga pengen ngalamin seperti temen non Murtiasih itu, ayo sini deh mamang ajarin! Tadi mamang udah ngeliat barang non, tembeeem banget… keliatannya siiip dihiasin rambut halus! Bener nggak, non? Hehehe,” pak Jamal menyeringai mesum selebar-lebarnya sambil menatap Sumirah.
Sumirah sangat terkesiap mendengar kalimat terakhir itu, dan baru disadarinya bahwa ada sesuatu yang sangat lain daripada biasa di selangkangannya. Baru disadarinya bahwa selangkangannya telah ‘kehilangan’ sesuatu : terasa jauh lebih dingin daripada biasanya – ooh, kemana celana dalamnya?
Penuh dengan rasa panik, Sumirah kembali berusaha bangun sambil sejauh mungkin merapatkan kedua pahanya. Namun kali ini pak Jamal telah bersedia : tubuh Sumirah langsung ditindihnya dan mulutnya segera membekap dan menciumi hingga membuat Sumirah gelagapan dan menggeliat-geliat pelan.
Keadaan Sumirah sudah sangat tak menguntungkan karena pak Jamal sendiri telah lepas semua pakaiannya terkecuali celana dalamnya yang agak dekil, sedangkan busana muslim yang biasanya menutup tubuh Sumirah dengan rapih kini telah berantakan, bahkan celana dalamnya telah tergeletak di lantai.
Pergulatan yang tak sebanding itu berjalan beberapa menit. Jilbab Sumirah telah lepas terhempas di lantai, kebaya serta sarungnya berantakan tak karuan. Sementara pak Jamal yang menyekal kedua tangan Sumirah di atas kepalanya, kini mulai menciumi dan menyupangi leher korbannya.
“Lepaaaaas! Lepasin saya! T-toloong… saya enggaak relaaa! Ooooouuffhh…” kembali Sumirah merintih saat pak Jamal menciumi bibirnya dengan rakus, lalu turun lagi ke leher, bahu, dan menancap di ketiak.
“Duuuuh siaaaah… sedeeep teuuiiing nih ketek! Licin amat, slurrrrp… engggak puas-puas mamang mau ngejilatin teruuuus… wangi amat nih ketek, emang gadis madrasah lain baunya kali,” pak Jamal tak habisnya mengendus, mencium, menjilati dan menyupangi ketiak Sumirah kanan dan kiri.
Semua rontaan Sumirah sia-sia saja, bahkan semakin memacu pak Jamal yang kini hanya menyekal kedua nadi Sumirah dengan satu tangan kirinya yang kuat, sementara tangan kanannya menjelajahi serta mulai menggerayangi ke dalam kebaya Sumirah, mencari bukit daging kembar yang gempal dan kenyal.
Sumirah tetap menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan penuh keputus-asaan. Secara tak sengaja matanya melihat beberapa codetan panjang bekas luka di dada pak Jamal yang sedikit dipenuhi bulu, hal sama terdapat pula di lengan atasnya yang masih cukup berotot keras. Terpana mata Sumirah menatap bekas-bekas luka itu dan terbersit rasa ketakutan di matanya, yang mana itu tidak lolos dari pengamatan pak Jamal yang langsung menggunakan kesempatan untuk mengancam!
“Hehehe… bagus ya, non, banyak codetan bekas bacokan golok dan pisau di badan mamang… biasa deh, kalo ada yang enggak nurut dan ngelawan, mamang jadi berkelahi. Tapi semua udah diberesin langsung, enggak ada lagi yang ngerepotin mamang karena semuanya udah masuk ke dalam tanah,” pak Jamal mendadak mengubah nada suaranya menjadi dingin dan memberikan gerakan jari menyilang di depan leher yang berarti bahwa semua musuhnya telah digorok dan ia bunuh!
Sumirah tak tahu apakah benar apa yang dikatakan oleh pak Jamal, namun tanpa sengaja ia rasakan tubuhnya gemetar menggigil dan bulu badannya berdiri gara-gara ngeri atas ucapan tersebut. Sebagai lelaki berpengalaman, pak Jamal mengerti bahwa ucapannya memberikan pengaruh besar pada siswi madrasah muda dan lugu yang semakin lama semakin berada dalam kekuasaannya itu.
“Hehehe… jangan takut, non, mamang udah umpetin pisau mamang di bawah ranjang. Pokoknya si non enggak bakalan mamang sakitin asal nurut, engga ngelawan dan jangan bikin berisik, ngarti?” pak Jamal melanjutkan jamahan dan remasannya di gunung kembar gempal di dada Sumirah, lalu putingnya dipijit serta dicubit-cubitnya, menyebabkan Sumirah jadi meringis dan menggeliat kesakitan. Meskipun sehari-hari agak genit, namun pak Jamal menduga bahwa belum pernah ada lelaki melakukan hal seperti itu pada Sumirah.
“Hehehe… enak enggak, non? Geli ya sampe ngegelinjang begitu? Ini belon apa-apa, non, mamang tambahin lagi nih… mau netek di susunya si non, uummh… legitnya! Cuuppp… nyyuuuum… duuuh siaaah, mamang isep dan sedot supaya makin lancip ya, non? Tuh udah mulai ngacung dan merah muda kaya jambu,” pak Jamal kini bergantian menggigit dan menyedot-nyedot puting Sumirah sehingga anak ABG ini makin gelisah kelojotan, namun dari puting yang digigit-gigit itu muncul aliran rasa hangat dan geli menyebar ke seluruh tubuhnya.
“Aaah… aoouuh… udaah dong, maaang! Gelii… ngiluuu… aauhh!! Irah enggak mau, udahan dong mainnya! Lepasin, oooh… Iraah enggak tahan!!” Sumirah makin menggelinjang.
Dirasakan kedua buah dadanya semakin membengkak dan selain itu muncul kehangatan di tengah selangkangannya sebagai akibat dari obat perangsang yang secara tak sadar diminumnya tadi. Sumirah merasakan bahwa selangkangannya yang telah tak tertutup celana dalam itu semakin lembab dan juga ada rasa geli serta keinginan untuk meraba dengan jari tangannya sendiri. Namun hal itu tak mungkin dilakukannya karena bertentangan dengan rasa kehormatan dan malu.
Sehingga tak sadar Sumirah hanya mencoba membuka menutup kedua pahanya, selain itu kedua kakinya yang jenjang melurus, kemudian menekuk, lalu melurus lagi secara bergantian. Kedua pipinya terlihat semakin muncul merah merona, hembusan nafasnya semakin cepat tak teratur disertai keluhan halus.
“Hehehe, bageuur eeuuy… si non makin cakep aja, udah waktunya nih mamang akan memanjakan si non. Abis netek begini biasanya mamang pengen minum air madu. Non mau sekalian diajarin nyepong apa engga? Apa ntar aja kalo mamang banjiran di mulut? Iya deh mamang ngajarinnya pelan-pelan supaya non jadi pinter dan belajarnya gampangan,” pak Jamal melepaskan cekalan dan remasannya, kemudian menyerosot turun sambil melepaskan pakaian Sumirah sehingga akhirnya terlihatlah semua tubuh indah dan montok siswi madrasah yang kini hanya menolehkan kepalanya ke samping.
Sumirah tak berdaya melawan rangsangan tubuhnya sendiri, namun rasa malu jengah dan penyesalan menyebabkan air matanya mulai berlinang dan tubuhnya terguncang pelan oleh isak tangis.
Namun semuanya tak akan lagi menghentikan keinginan pak Jamal untuk menggauli gadis muda ABG ini. Pak Jamal sebagai pejantan kampung memang selama ini cukup sering bersenggama dan merogol pelbagai wanita di desanya, namun belum pernah dengan seorang gadis siswi madrasah.
Kesempatan ini tentu saja tak akan diabaikannya. Ketika Murtiasih berhasil masuk jebakannya dan dibantu Rofikah serta Sumirah akhirnya digarap oleh Ustadz Mamat, maka pak Jamal memang sudah bertekad untuk suatu waktu menikmati tubuh ketiga siswi itu. Baginya tak menjadi soal siapa yang akan pertama kali digaulinya, dan rejekinya memang malam ini memperoleh Sumirah.
Kini pak Jamal telah berhasil menempatkan dirinya diantara kedua paha Sumirah yang terkuak, tak ada gunanya sang korban berusaha membalik diri ke kanan atau ke kiri, tindihan pak Jamal terlalu berat. Kedua tangan pak Jamal masih berada di atas dan tak hentinya meremas-remas buah dada Sumirah, sementara mulutnya disertai lidah basah menjulur keluar menyapu pinggang dan perut gadis muda itu.
Pusar Sumirah yang cekung ke dalam kini telah basah oleh ludah pak Jamal, kecupan hangat terus menerus menjalari seluruh pori kulit putih mulus : dari perut dan pusar semakin turun mengarah ke selangkangan. Disitu kecupan-kecupan pak Jamal semakin ganas dan brutal disertai dengan gigitan kecil di lipatan paha, kemudian bagian dalam paha, dan setelah menimbulkan beberapa cupangan merah akhirnya menuju bukit Venus dengan celah sempit yang tepinya dihiasi bulu-bulu halus terawat rapi.
Kedua tangan pak Jamal melepaskan cengkramannya pada buah dada Sumirah, kini telah turun mengusap paha mulus si gadis yang telah lemas terbakar nafsu birahinya sendiri. Sambil menekan kedua paha Sumirah dengan sikunya agar tetap membuka selebar mungkin, maka jari-jari tangan kiri pak Jamal kini berada di kiri-kanan bibir kemaluan Sumirah dan menguakkannya dengan perlahan-lahan.
Mata pak Jamal melotot bagaikan akan keluar dari cekungannya ketika melihat betapa indah dan menggiurkannya dinding vagina Sumirah yang berwarna coklat muda agak kemerahan. Pembuluh darah yang demikian halus tampak menghiasi dinding yang terlihat mulai mengkilat akibat dibasahi oleh cairan alamiah itu. Ketika bibir kemaluan Sumirah semakin ia kuakkan, maka terpampanglah lubang kencing yang demikian kecil, dan di bawahnya… di bawahnya, ooooh itukah yang disebut selaput dara?
Bagaikan seorang petualang menemukan harta, pak Jamal semakin mendekatkan wajahnya ke lubang surgawi mangsanya. Aah, betul rupanya omongan orang-orang bahwa selaput kegadisan agak berbentuk bulan sabit dan terletak di bawah lubang kantung kemih. Tak sanggup lagi menahan nafsunya, pak Jamal langsung menempelkan hidung dan bibirnya ke vagina Sumirah.
“Sshh… cuup, cuupp, slrruupp… aaah, wuuih manisnya nih madu si non, rejeki nomplok bisa ngirup madu cewek… slrrrrrruuup… duuuh segernya! Mamang ganti bayar madunya ama liur mamang ya supaya semakin licin? Cakepnya si non pas lagi dijilatin kayak gini,” pak Jamal mengulurkan lidahnya yang besar dan kasap untuk menyapu dinding celah kelamin Sumirah.
“Aaiih… emmhh… oooh, pak, Irah diapain lagi? Geli, pak, nngghh… oooh… gelii, sssh… ooohh… iih, Irah enggak tahan,” Sumirah menceracau dengan tanpa sadar kedua tangannya kini meremas-remas buah dadanya sendiri dan menarik-narik putingnya yang mungil indah.
“Enaak teuing ya, non? Betul engga tuh mamang bilang, jadi ketagihan kan? Sekarang mamang ajarin supaya non melayang ke surga ke tujuh ya, nih gini caranya,” bagaikan mencari butir perhiasan nan mahal, pak Jamal membuka lipatan atas bibir vagina Sumirah. Bagaikan penis mini seorang bayi laki-laki yang baru lahir, muncullah tonjolan daging diantara lipatan bibir memek Sumirah, seolah malu dan segan menampilkan dirinya.
Namun kelentit yang dicari-cari itu langsung dikecup, diciumi, dan dijilati oleh pak Jamal. Sumirah yang telah terbuai dengan nafsu birahi kini menghentakkan kakinya bagaikan terkena aliran listrik tegangan tinggi, apalagi ketika kelentitnya tersapu kumis kasar pak Jamal.
“Aaiih… iihh… eemph… aah, geli amat, pak! Udaah…” Sumirah menggeliat-geliat dan berusaha berontak melepaskan dirinya, namun kedua pahanya tetap berada dalam tekanan lengan dan siku pak Jamal sehingga tetap terpaksa mengangkang lebar.
“Toloong, pak… aauuw! U-udah, hentikan! Gelii… aauww! Oooh… iiih… Irah pengen pipis, oooh… lepasin dong, pak! U-udaah,” bagaikan orang sedang kalap terkena serangan ayan, Sumirah menghentak-hentak dan menendang, sementara semua jari tangannya justru malah menjambak rambut pak Jamal dan menekan kepalanya seolah-olah ingin dirangsang terus.
Sinyal sangat khas yang begitu nyata ini tentu saja begitu dikenal oleh pak Jamal yang kini justru semakin meningkatkan kegiatannya. Klitoris yang telah menonjol diantara lipatan bibir kemaluan Sumirah kini dijepit oleh pak Jamal diantara bibirnya, disapu dan diusap dengan lidahnya, kemudian digesek serta digéwel dengan menggunakan barisan giginya yang digerakkan ke kiri dan ke kanan.
Rangsangan semacam ini tak akan dapat ditahan oleh wanita manapun, meskipun ustazah alim shalihah berpengalaman bagaimanapun pasti akan langsung blingsatan dan takluk! Apalagi yang sedang menghadapi serangan ini adalah gadis muda siswi madrasah yang masih asing lelaki.
Tanpa disadarinya tubuh Sumirah semakin terangkat dari kasur, semakin melengkung, dari lubang hidung yang mungil terdengar nafas memburu bagaikan seekor kuda sedang berpacu. Mata Sumirah membeliak terbalik ke atas, tangannya melepas sementara rambut pak Jamal lalu menarik sprei ke mulutnya untuk digigit sekuat tenaga.
Kemudian kedua tangannya itu kembali menekan kepala pak Jamal sekuatnya seolah ingin agar rangsangan di klitorisnya semakin ditingkatkan, kedua paha betisnya menendang dan membuka menutup tak beraturan. Pada saat itu pak Jamal secara sadis meremas dan mencubit puting Sumirah dengan jari-jari tangan kirinya, lalu sekaligus telunjuk tangan kanannya menjelajah di bawah vagina dan dengan tiba-tiba menusuk masuk ke anus Sumirah yang amat sempit.
“Ummmppffh… eemmppffh… aiiihh… auww… Irah pipis!! Ohh, pak… auoohh,” tubuh Sumirah melengkung bagaikan busur yang siap melepaskan anak panah, mengejang dan gemetar selama beberapa menit disaat mengalami orgasme pertama kalinya. Setelah sesaat, barulah akhirnya perlahan-lahan melemas dan menghempas kembali.
Namun pak Jamal masih belum puas. Setelah tubuh Sumirah terhempas kembali dikasur, maka dengan sadis pak Jamal memulai kembali rangsangannya. Kedua puting susu Sumirah yang semakin membengkak dan mengacung ke atas itu dijadikannya sasaran kembali. Ia mempulir-pulir, mencubit-cubit, menggigit-gigit dan mengenyot-ngenyot penuh nafsu, bagaikan seorang bayi raksasa telah kehausan sehari semalam tak diberikan susu ibu. Terutama gigitan sadis yang membuat ngilu itu memaksakan Sumirah kembali dari dunia ekstase setelah orgasme pertama.
Sumirah menggeliat dan merintih-rintih ketika putingnya terasa perih dan lecet karena gewelan dan gigitan buas pak Jamal. Setelah puas dengan meremas dan membuat kulit buah dada sang mangsa penuh cupangan serta bercak merah, maka pak Jamal turun kembali dan mulai menjilati lagi kemaluan Sumirah.
Tanpa ampun celah sempit di bukit Venus berbulu halus itu ia kuakkan kembali, dijilatinya dinding yang merah muda itu, dicarinya kelentit yang sedemikian peka, diulangi lagi ritualnya dengan maksud membangunkan birahi sang siswi yang malang itu.
Tak sangguplah Sumirah menghadapi serangan bertubi-tubi lelaki setengah baya yang begitu berpengalaman : tubuhnya yang telah letih, lemas dan mandi keringat itu mulai melengkung dan membusur ke atas. Sepuluh menit kemudian terdengar kembali jeritan histeris Sumirah, kali ini pak Jamal tanpa kasihan memaksanya untuk orgasme tiga kali berturut-turut!
Sumirah merasakan seolah-olah dilandai badai tsunami : jutaan bintang menguasai pandangan matanya, jutaan bintang meledak di dalam kepalanya, tubuhnya bagaikan dihempaskan ombak samudra hindia ketika sang penghuni Nyai Roro Kidul sedang mengamuk. Setelah ketiga kalinya kejang dan kesadarannya sama sekali hampir punah, barulah pak Jamal menghentikan kegiatannya, karena ia telah siap bersenggama!
Pak Jamal menyeringai dan tersenyum penuh kepuasan melihat korbannya telah runtuh semua pertahanannya dan takluk terhadap tindakan apapun yang akan dilakukan pak Jamal berikutnya. Kini telah tiba saatnya pak Jamal mengambil piala utama di petang hari itu, piala kemenangannya terhadap gadis alim shalihah.
Piala itu hanya berupa kegiatan beberapa menit menembus selaput pertahanan dan pemisahan status seorang gadis dan wanita dewasa. Pak Jamal kembali menarik dirinya ke atas tubuh Sumirah yang mengkilat mandi keringat akibat orgasmenya. Nafas Sumirah masih memburu, terlihat dari naik turun buah dadanya dengan puting mencuat tajam. Selangkangannya tetap terkuak dan rambut halus di sekitar memek Sumirah tampak basah dengan air mazi serta air ludah pak Jamal yang menjilatinya beberapa menit lalu.
Pak Jamal menarik nafas panjang, menahannya selama mungkin. Jari-jari tangan kirinya menguakkan kembali bibir kemaluan Sumirah. Dengan tangan kanannya diarahkannya penisnya yang menegang maksimal sejak melihat orgasme calon mangsanya.
Setelah kepala batang rudalnya diletakkan diantara belahan vagina Sumirah dan dirasakannya cukup mantap, dijepit bibir kemaluan berwarna kemerahan itu. Pak Jamal kemudian mengangkat dan meletakkan betis mangsanya di bahunya, lalu perlahan-lahan ia menekan ke bawah.
Sekali dua kali tusukannya meleset, namun akhirnya kepala penis berwarna merah tua dengan bentuk topi baja itu meretas masuk di belahan hangat, senti demi senti lembing daging itu menghilang ke dalam lembah hangat licin dan menemukan pertahanan.
“Aduuh… aauww! Nyerii, pak… sakiiit!! J-jangan, pak… lepasin! S-sakiit, pak… ooh… udah!! Auw, ampuun…” Sumirah merasakan bagian dalam memeknya bagai disayat pisau, pinggulnya mengesot ke kiri dan ke kanan menahan rasa sakit.
Sangat berbeda dengan Sumirah yang kesakitan, maka pak Jamal justru merasakan kebanggaan tak terkira ketika alat kejantanannya masuk perlahan-lahan ke dalam liang nirwana gadis muda itu. Setengah jalan dirasakannya ada yang menahan tembusan penisnya dan pak Jamal tersenyum lebar karena yakin bahwa penahan itu adalah selaput kegadisan Sumirah. Ekspresi wajah mangsanya yang ayu cantik namun telah sepenuhnya dikuasai itu justru makin memacu nafsu birahinya.
Dengan penuh rasa kepuasan pak Jamal menekan lebih kuat ke depan, sementara kedua tangan Sumirah memukul lemah dadanya yang kekar penuh codetan. Dengan senyum mesum disertai nafsu iblis pak Jamal merejang kedua pergelangan tangan Sumirah, ditekannya ke kasur sehingga tak mungkin si gadis ini mencakar atau meronta lagi. Disertai dengusan bagai banteng ketaton, pak Jamal menghunjam ke depan dan dirasakannya bahwa pertahanan di dalam vagina Sumirah akhirnya berhasil ditembus.
“Uuh, sempitnya nih memek… non geulis kenapa meringis nangis? Ntar pasti keenakan, mmh… aah, kerasa jebol di dalem enggah, non? Kasian si non ngerasa ngilu, mamang licinin lagi ya supaya enggak terlalu perih? Duuh, begeuuuur teuiiing, mamang jadi makin napsu aja, hehehe.” pak jamal kembali menciumi mulut Sumirah yang setengah terbuka. Lidah Sumirah disedot serta dijepit diantara bibir tebalnya, kini ludah pak Jamal makin bercampur dengan ludah Sumirah.
“Eemmuuppffh… uuddhh… aauummppffh… aauuww, sakiiit! A-ampuun, pak!!” Sumirah menangis terisak-isak, tusukan dan hunjaman pak Jamal dirasakannya semakin menyiksa masuk ke dalam sehingga terasa ngilu menjalar sampai ke ulu hatinya.
Memang telah beberapa kali ia mendengar dari tetangga serta kenalan wanita yang telah menikah bahwa proses metamorfose dari gadis menjadi wanita dewasa di malam pengantin sering disertai dengan rasa sakit. Namun apa yang dirasakannya saat ini sama sekali di luar dugaannya, jauh lebih sakit daripada perasaanya semula.
Sumirah tetap berusaha menggeser pinggulnya ke pelbagai arah ketika alat kejantanan pak Jamal menumbuk mulut rahimnya yang penuh ribuan ujung syaraf peka. Namun semua tak mengurangi atau meringankan rasa perih dan ngilu karena dinding memeknya yang masih luka memar itu tetap digesek-gesek bagaikan diampelas oleh kulit kasar penis pak Jamal.
Bahkan usaha goyang dan geseran pinggul Sumirah itu menyebabkan salah dugaan pak Jamal bahwa gadis korbannya justru mulai merasakan kenikmatan, sehingga semakin seru dan mantaplah pak Jamal menggerakkan penisnya.
“Wah, mulai ngerasa enak ya, non? Mamang bilang juga apa, sedap kan di entot? Pinter banget si non, mulai goyang pantat kaya penyanyi dangdut ngebor di panggung. Mamang mulai enggak tahan nih, yahud amat si non makin geuliiiis… cakepnya dipompa, aah… uuh!!” pak Jamal mengarahkan dan menumbuk senjata dagingnya ke semua sudut celah surgawi mangsanya.
Masuk keluar, masuk keluar, dorong tarik, tarik dorong, sebentar halus dan perlahan, mendadak berubah menjadi sangat kasar dan brutal. Siswi madrasah yang baru kehilangan kegadisannya itu hanya dapat mengikuti saja semua kemauan pemerkosanya. Percuma saja melawan karena justru akan lebih memacu nafsu hewaniah kuli pembersih di madrasah itu. Sumirah mulai membiasakan hidungnya dengan bau keringat pak Jamal yang kini bersimbah bercampur dengan keringatnya.
Tak ada lagi yang sanggup dipertahankannya, Sumirah hanya mengharapkan agar semuanya cepat berlalu dan ia akan segera pulang untuk melupakan pengalaman pahitnya yang ibarat mimpi buruk. Tapi pak Jamal ternyata mempunyai stamina yang sangat mengagumkan untuk seorang pria seusianya.
Setelah dirasa bahwa perlawanan Sumirah sama sekali tak ada, maka justru ia membalik badan dan meminta agar gadis itu menungganginya dalam posisi “woman on top”. Karena Sumirah telah lemas dan terlalu letih, maka justru pak Jamal yang mencengkeram pinggang langsing korbannya. Kemudian dia naik-turunkan tubuh Sumirah bagaikan boneka, sehingga memeknya ditikam dan ditusuk tusuk dari arah bawah oleh tombak daging yang mengacung ke atas dengan begitu gagahnya.
Setelah puas menjarah Sumirah dalam posisi ini, pak Jamal kini menyuruhnya merangkak bagaikan seekor anjing, kemudian didekati mangsanya dari belakang dan kembali dibelah vaginanya. Tanpa rasa kasihan sedikit pun, pak Jamal kini menggarap dan mengerjai Sumirah dari arah belakang, dan karena sudah amat lemas maka Sumirah tak sanggup lagi menunjang tubuhnya sendiri dengan lengan yang diluruskan.
Akhirnya Sumirah hanya sanggup menumpang tubuh atasnya dengan lengan atas dan bertopang di siku yang menekuk. Kepalanya yang sudah tak tertutup jilbab dengan rambut acak-acakan menyentuh kasur, setiap genjotan dan jedugan pak Jamal dari belakang hanya dijawab dengan lenguhan dan desahan putus asa, terputus-putus diantara isak tangis memilukan.
Pak Jamal merasakan bahwa gejolak lahar panasnya telah sangat meninggi di dalam biji pelirnya, secara iseng dan sadis ia menyentuh dan mencolek lubang kecil dilindungi otot lingkar mengkerut-kerut. Dengan penuh kepuasan dilihatnya otot pelindung yang masih mengerut itu berkontraksi menarik si lubang kecil hingga semakin menciut bersembunyi di tengah bongkahan pantat yang sangat menantang.
Namun kali ini pak Jamal masih mempunyai rencana lain, lubang pantat Sumirah akan disimpan untuk dikerjainnya dalam kesempatan di masa mendatang. Kali ini ia berniat mengajari Sumirah untuk menghirup air maninya, dibayangkannya betapa wajah ayu Sumirah dengan mulut mungil terpaksa membuka selebarnya untuk mengulum rudalnya.
Betapa nikmatnya merasakan hangat dan lembut lidah Sumirah menyapu lubang kencingnya yang menyemburkan air pejuh kental. Pasti Sumirah akan menolak melakukan hal tak senonoh itu, namun pak Jamal tahu caranya menakluki dan mematahkan pertahanan si anak ABG muda.
“Uuuh, mamang udah hampir nyampe nih… buang pejuhnya di dalem supaya jadi anak mau ya? Kebetulan lagi subur enggak, non? Udah lama juga mamang enggak naburin ladang becek, mau ya?” sengaja pak Jamal menjedug-jedug rahim Sumirah sambil menanyakan hal tak senonoh itu.
“Jangan, pak, Irah enggak mau hamil… tolong, kasihani Irah dong, pak! Buang diluar aja,” isak tangis Sumirah semakin menimbulkan iba, namun tak dipedulikan oleh pemerkosanya.
“Kalo enggak dibikin anak kan sayang, tapi bisa juga dimasukin lobang yang laen. Ditimbun disini boleh enggak, non?” kembali pak Jamal menjedug menghunjam sambil mengusap anus Sumirah.
“Kelihatannya kecil dan sempit, pasti enak dijebol nih lobang,” lanjut pak Jamal sambil meludahi anus Sumirah kemudian dengan perlahan ditusuk-tusuk dengan jari telunjuknya.
“Auw, jangan, pak! Jangaaan… enggak mau disitu… haram, pak! Oooh… jangan, ampun, pasti sakit sekali… ampun, pak! Ampuuuun…” Sumirah berusaha meronta dan menggelinjang lemah.
“Wah, cerewet amat si non! Dibuang sini salah, dibuang kesitu juga salah… gini aja lah supaya jangan mubazir, mamang ajarin non minum air pejuh simpanan supaya jadi awet muda,” pak Jamal tak menunggu jawaban Sumirah namun langsung membalikkan dan menelentangkan tubuh sintal telanjang bulat itu. Kembali direjangnya kedua pergelangan tangan Sumirah di samping kepalanya, dan kemudian disodorkannya penis hitam legam penuh urat melingkar-lingkar itu di depan bibir Sumirah.
Sumirah melengoskan kepalanya ke samping ketika penis mengkilat mengangguk-angguk yang terlumasi bekas darah dan air mazinya sendiri itu menyentuh bibirnya. Pak Jamal hanya tersenyum sadis, segera dicengkeramnya kedua nadi Sumirah dengan satu tangan dan diletakkan di atas kepalanya. Tangan satunya kini digunakan untuk memegang dagu Sumirah , jari-jarinya yang kuat menekan pipi si gadis malang sedemikian kuat hingga menyebabkan siswi madrasah ini kesakitan dan tanpa sadar menjerit.
Kesempatan itu langsung dipergunakan oleh pak Jamal dengan meneroboskan kemaluannya ke celah diantara bibir yang membuka, lalu tanpa rasa iba didorongnya masuk sedalam mungkin.
Sumirah tersedak terbatuk-batuk ketika langit-langit mulutnya disentuh oleh benda asing, hidungnya mengernyit karena mencium aroma campuran yang baru pertama kali ini dikenalnya. Aroma keringat lelaki, aroma khas penis sang pemerkosa, aroma lendirnya sendiri, dan juga sebersit aroma darah perawan yang beberapa saat lalu mengalir akibat perenggutan paksa selaput kegadisannya.
Rasa mual ingin muntah menyebabkan lambung Sumirah memberontak, namun apalah dayanya saat ini : pak Jamal telah memaju-mundurkan pinggulnya. Lingkaran kemaluan sang pejantan dirasakan oleh Sumirah semakin lama semakin membesar, menyebabkan sendi rahangnya sangat pegal linu karena dipaksa membuka maksimal. Pak Jamal semakin mempercepat irama penggejotannya di dalam mulut yang sedang dijarahnya habis-habisan, semakin lama semakin ganas, semakin dalam dan…
“Aaah… oooh… iya! Isep, non! Iseep semua, ooh… duuh, enggak tahan lagi nih mamang mau ngecrot! Kemut, non, iyah… minum semuanya, ooh…” geraman dan dengusan pak Jamal menyertai semprotan serta luapan spermanya yang masuk memenuhi rongga mulut Sumirah. Tak ada ruangan sedikitpun yang dapat dipakai Sumirah untuk membuang air pejuh menjijikkan itu. Supaya tidak terselak dan kehabisan nafas maka tak ada jalan lain bagi Sumirah daripada menelan teguk demi teguk air mani yang dirasakan seolah tak ada habisnya.
Lebih dari tiga menit barulah semburan lahar panas di mulut Sumirah mereda, penis pak Jamal pun mengurang diameternya dan akhirnya dapat didorong keluar lidah Sumirah. Beberapa tetes air pejuh putih mengalir keluar dari sudut bibir Sumirah dan beberapa kali ia menarik nafas sedalam-dalamnya untuk menahan rasa ingin muntah karena aroma sepat agak asin di kerongkongannya.
“Gimana, non, puas enggak? Ngaku deh enaknya dientot sama lelaki, mamang masih pengen maen-maen lagi, lain kali diterusin pasti lebih puas,” demikian rayuan gombal pak Jamal berusaha untuk menghibur Sumirah yang masih terlentang telanjang bulat dengan isakan tangisnya.
Perlahan-lahan pak Jamal menuntunnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri, terutama bagian selangkangannya yang masih terasa sangat perih dan memar.
Setelah itu pak Jamal membantu Sumirah memakai sarung panjang dan kebayanya, tak lupa jilbabnya menutup kembali rambutnya. Mereka kemudian duduk berdampingan di ranjang, kemudian pindah ke ruang tamu tanpa banyak mengucapkan kata. Mereka menunggu pasangan lain yang juga sibuk dengan acara hangat di kamar tidur masing-masing.
Beberapa jam kemudian Sumirah telah pulang ke rumahnya. Berbeda dengan pak Jamal yang langsung menggeros kepuasan karena dapat menikmati tubuh gadis remaja, maka Sumirah merasakan tubuhnya pegal linu akibat pergulatannya tadi.
Beberapa kali diraba selangkangannya yang masih memar, namun ketika jari-jarinya menyentuh bibir kemaluannya, terutama kelentitnya yang tersembunyi itu, maka terbayangkan kembali adegan memalukan namun mengesankan sukar terlupakan ketika perawanannya direnggut paksa oleh kuli pengurus sekolah madrasah itu.
Karena sukar sekali tidur maka Sumirah mengusap dan meraba kelentitnya dengan perlahan, makin lama semakin cepat. Akhirnya dijepitnya bantal guling dengan kedua pahanya, bantal kepalanya digigit sekuat tenaga untuk meredam jeritan orgasmenya.
Berkat kejantanan pak Jamal maka Sumirah sebagai siswi madrasah akhirnya menemukan kenikmatan badaniah yang selama ini tersembunyi, namun itu semua adalah lumrah dan normal bagi semua wanita muda. Tak perduli warna kulitnya, keturunannya, apapun kepercayaannya, kebangsaannya – tak perlu dijadikan rasa malu sama sekali. Barangsiapa berusaha menyangkal hal itu adalah hanyalah kaum munafik saja di dunia ini.
Bersambung…
Perselingkuhan Aida dan Pak Sobri
Apakah pak Sobri sudah puas dengan pengalaman sekali saja menggarap Aida – ataukah di masa depan masih ada kesempatan lagi mencicipi tubuh Aida yang bahenol itu? Apakah Aida telah belajar kenal dengan semua teknik bercinta? Ooh, masih jauh dari itu. Pak Sobri bertekad akan mengulang menikmati Aida dengan cara lain dan menjadikannya budak sex yang patuh 100% …
***
Keadaan kesehatan Ubaidillah yang dirawat di RS hanya menunjukkan perbaikan sedikit sekali. Uang yang diperoleh dari pak Sobri telah terpakai untuk segala macam pemeriksaan, perawatan, obat-obatan, dan juga honorarium dari para dokter spesialis. Sementara itu Ustadz Mamat serta adik iparnya, Farah, tetap belum memperoleh pamasukan yang pasti.
Secara sepintas terdengar jumlah uang tiga juta yang diperoleh Aida dari pak Sobri memang banyak, namun dengan kenaikan harga kebutuhan hidup sehari-hari, ditambah biaya RS, maka punahlah semuanya bagaikan tetesan air di kuali panas yang langsung menguap di udara. Demi mengusahakan agar dapur tetap berasap, maka Ustadz Mamat terpaksa sering bekerja di sebuah madrasah di kota kecil lain yang cukup jauh sehingga tak jarang harus menginap satu dua malam meninggalkan rumahnya.
Demikian pula dengan Farah yang karangannya belum juga dimuat dan telah mengalami pelecehan oleh pak Burhan, berusaha melupakan pengalaman gelapnya itu dengan bekerja sebagai 9uru agama di Sekolah Rakyat di sebuah desa yang berjauhan dengan rumahnya. Dengan demikian maka Aida semakin sering tinggal seorang diri di rumahnya – dan hal ini tentu saja tak luput dari pengamatan para lelaki di desa itu. Salah satu lelaki yang mengamati bagaimana keadaan Aida adalah seorang duda pemilik warung serba ada kecil-kecilan di desa itu : Fadillah.
Fadillah telah berusia masuk lima puluh tujuh, bertubuh sangat kekar dan wajah sangat bengis, jarang tertawa terkecuali jika ada langganan yang datang untuk membeli seorang wanita muda. Fadillah yang sehari-hari disebut Fadil itu pernah bekerja sebagai buruh kuli harian, dan kebetulan dahulu menjadi kuli bangunan pada saat rumah pak Sobri dibangun. Dimasa menjadi kuli borongan itulah, Fadil yang memang berjiwa maksiat, pernah mencuri bahan bangunan dan berusaha menjualnya di pasar gelap.
Akibatnya Fadil ditangkap polisi dan dimasukkan ke penjara – namun karena istri Fadil almarhum merasa kasihan terhadap suaminya, maka ia meminta tolong kebijaksanaan kepada pak Sobri yang banyak mengenal pihak polisi. Istri Fadil bernama Subiati memang cukup cantik sehingga pak Sobri bersedia menolongnya, namun tentu saja tidak dengan gratis, melainkan menjebak Subiati ke rumahnya untuk dapat digarapnya.
Subiati sebagai istri alim shalihah tak dapat sembuh kembali dari tekanan jiwa akibat perkosaan yang dialami, sehingga menderita tekanan batin dan semakin kurus akibat mengidap sakit paru-paru. Perempuan itu akhirnya meninggal mendahului suaminya, Fadillah, yang sejak saat itu hidup menduda.
Setelah ditinggal mati sang istri, Fadillah menjadi kaki tangan pak Sobri, terutama di dalam hal mencarikan ‘daun muda” di desa, karena Fadillah faham sekali apa kegemeran dan kesenangan pak Sobri.
Oleh karena itulah Fadillah mendapat perintah dari pak Sobri agar memperhatikan bagaimana kehidupan Aida setelah berhasil digarap olehnya, terutama pada saat berbelanja keperluan dapur di kedai milik Fadillah yang sejak awal mula didirikan dengan modal dari pak Sobri.
Tentu saja Fadillah harus menahan nafsunya sendiri melihat istri Ustadz yang seronok behenol setiap kali membeli beras, minyak dan bumbu-bumbu masak lainnya. Fadillah berusaha ramah-tamah dan menanyakan bagaimana keadaan Ustadz Mamat yang semakin lama semakin jarang muncul sendiri di warung itu.
Semula agak segan Aida menceritakan keadaan keluarganya, keadaan ayahnya yang masih dirawat di rumah sakit, kegiatan yang dilakukan suaminya mencari nafkah. Namun karena Fadillah yang memang diberikan perintah oleh pak Sobri untuk menjebak Aida semakin sering memberikan potongan harga dan menjual barang keperluan sehari-hari jauh di bawah harga pasaran biasa , maka Aida tanpa disadari mulai terhanyut oleh ’kebaikan hati’ laki-laki itu.
Dalam waktu hanya beberapa minggu, maka Fadillah telah memperoleh banyak informasi dari Aida yang polos dan lugu, bahwa biasanya di hari Senin dan Kamis, Ustadz Mamat mempunyai tugas mengajar para siswi di madrasah yang terletak cukup jauh dari desa.
Informasi berharga ini disampaikan kepada pak Sobri yang memang selalu mencari kesempatan untuk menggauli kembali wanita alim idamannya itu. Apalagi memasuki musim hujan, maka hubungan antar desa semakin sukar sehingga Ustadz Mamat lebih sering terpaksa bermalam di madrasah setelah usai tugas mengajarnya itu – meninggalkan istrinya Aida seorang diri di rumah.
***
Setelah makan siang bersama, kembali Ustadz Mamat meninggalkan Aida, istrinya, untuk balik mengajar ke madrasah tempatnya bekerja. Ia memberitahu Aida bahwa karena banyaknya tugas, maka ia akan bermalam di asrama madrasah selama dua hari.
Secara naluri, Aida merasakan adanya perbedaan kelakuan suaminya sejak mempunyai pekerjaan di madrasah baru yang terletak di desa lain itu. Aida merasakan bahwa suaminya tidak lagi menunjukkan kegairahan di saat menggaulinya sebagaimana lazimnya seorang suami dengan istri yang masih berusia muda. Tak banyak dilakukan oleh Ustadz Mamat untuk mencumbu merayu sang istri sebelum sanggama, dan sesudah itupun, Ustadz Mamat langsung membalikkan tubuhnya ke arah lain dan mendengkur.
Aida yang baru saja kehilangan ayahnya yang meninggal setelah menderita stroke, ikut acuh pula terhadap sang suami. Dalam suasana kesedihan itulah, Aida merasakan tak adanya seseorang yang dapat menghibur dirinya; ketiga adik perempuannya semakin sibuk dengan tugas dan kuliah masing masing. Bahkan tak pernah diduganya bahwa Farah telah menjadi korban pelecehan pak Burhan dan kini menjadi 9uru di sekolah agama sehingga hanya sekali dua kali sebulan mengunjunginya.
Ada dugaan di dalam hati kecil Aida bahwa Ustadz Mamat, suaminya, mungkin menyeleweng dengan wanita lain; mungkin dengan salah seorang siswi muridnya sendiri. Namun dengan segera dihapusnya rasa syak wasangka itu. Semua siswi madrasah pasti alim shalihah, mana mungkin mau untuk menjadi sasaran nafsu 9urunya sendiri? Demikianlah cara berpikir Aida yang amat lugu dan naif.
Selain itu Aida menyimpan pula sebuah rahasia dan rasa bersalah karena telah menjadi korban pak Sobri. Semuanya menyebabkan Aida semakin merasakan dirinya sendiri kurang berharga dan tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya untuk memulihkan segalanya seperti awal semula.
Semua suasana yang kurang menguntungkan itu tentu saja tidak luput dari pengawasan iblis yang memakai ‘anak buah’nya yaitu Fadillah, si pemilik warung dimana Aida selalu belanja.
Setelah suaminya kembali ke tempat kerja di madrasah, maka Aida bergegas membeli keperluan mandi di warung langganannya itu, dan karena kebetulan sepi maka mereka ngobrol sebentar. Dari hasil obrolan itulah Fadillah mengetahui bahwa Ustadz Mamat akan absen selama dua hari, artinya Aida hanya seorang diri di rumahnya karena ketiga adik wanitanya pun sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Fadillah yang tahu bagaimana keadaan Aida, segera melapor kepada majikannya yaitu pak Sobri. Dengan seksama pak Sobri mendengarkan laporan Fadillah, dan paham inilah kesempatannya untuk menikmati istri Ustadz yang selalu dirindukannya sejak digarap tempo hari.
Fadillah memberitahukan pula kepada pak Sobri bahwa Aida meminta bantuannya mendirikan tiang jemuran di halaman belakang serta memperbaiki grendel pintu belakang yang hampir terlepas. Aida telah bosan meminta suaminya membetulkan kedua hal sepele itu, namun entah memang sengaja atau tidak, selalu dilupakan oleh Ustadz Mamat. Fadillah berjanji akan datang setelah menutup warungnya di sore hari.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, demikian pikir pak Sobri yang memang mencari akal untuk dapat masuk ke rumah Aida. Setelah berhasil menipunya tempo hari, maka kemungkinan besar Aida tak akan mau membukakan pintu jika pak Sobri yang datang sendirian. Fadillah akan dijadikannya sebagai umpan pemancing; pada saat Fadillah membetulkan tiang jemuran itu, maka pak Sobri akan coba menyelinap masuk. Semuanya harus diatur sedemikian rupa waktunya sehingga bisa berjalan lancar.
Pak Sobri bertekad kali ini akan menggarap dan menaklukkan Aida untuk dijadikan budak seks-nya, sehingga di masa depan Aida akan selalu ‘ketagihan’ dan bersedia menerimanya tanpa bantuan serta akal bulus siapapun.
Fadillah juga tidak sebodoh yang diperkirakan pak Sobri. Untuk ‘jasanya’ menjadi umpan pemancing kali ini, maka diajukannya persyaratan bahwa ia harus diberi kesempatan untuk ikut menikmati tubuh Aida yang sudah lama dilahap matanya saat belanja di warung.
Setelah menimbang semua untung ruginya, akhirnya pak Sobri menyetujui keinginan Fadillah – saat itulah iblis menyeringai lebar penuh kepuasan karena dua manusia itu akhirnya jatuh ke dalam jebakannya!!!
Pak Sobri menjanjikan kepada Fadillah untuk boleh menikmati tubuh Aida, namun harus tunggu giliran. Fadillah diberikan petunjuk untuk merejang kedua tangan Aida, kemudian jika perlu diikatnya di ujung ranjang, demikian pula kedua pergelangan kakinya jika Aida tetap melawan. Setelah itu Fadillah harus menunggu giliran untuk dapat menikmati mulut serta buah dada Aida, namun kedua lubang di bawah adalah milik pak Sobri.
Fadillah semula menolak dan menuntut agar diberi kesempatan menikmati semua lubang di tubuh Aida, bahkan sedikit mengancam akan mengundurkan diri dan membatalkan bantuannya, hingga akhirnya pak Sobri bersedia bernegosiasi lebih lanjut dan memberikan tawaran bahwa disamping Fadillah diperkenankan menciumi mulut Aida, ia juga boleh meminta service lainnya. Namun memek Aida tetap menjadi bagian yang tabu bagi Fadillah, ia boleh merangsang sedemikian rupa, namun tak boleh dicoblos – bagian ini adalah hak monopoli pak Sobri.
Selain itu pak Sobri berniat menjarah lubang Aida lainnya yang di waktu pergulatan pertama belum sempat ia nikmati; sebuah lubang yang diyakini pak Sobri belum pernah dijamah oleh Ustadz Mamat, suami Aida, yang di dalam bidang seksual tidak begitu banyak fantasi liar.
Tanpa meneruskan perundingan mereka, sebetulnya Fadillah pun berpikir bahwa jika vagina Aida tidak boleh ia nikmati, mungkin ada lubang lain dimana si otongnya dapat mampir. Itu sama dengan yang diinginkan olek pak Sobri. Sepertinya mereka akan rebutan nanti.
***
Sore itu terasa udara sangat panas menyengat, langit mendung dan beberapa kali terdengar gelegar guntur. Namun hujan yang turun tak begitu lebat, hanya gerimis rintik-rintik saja. Tidak seperti biasanya, Fadillah telah menutup warungnya sekitar jam empat sore, kemudian dengan sepeda motor bekas pemberian pak Sobri, ia melawan rintik hujan menuju rumah Aida yang letaknya di pinggiran desa, agak tersembunyi di balik pelbagai pohon besar.
Di gang kecil tempat tinggal Ustadz Mamat hanya ada tiga rumah lain – yang terletak paling memojok di akhir jalan adalah rumah Aida. Ketika Fadillah membelokkan sepeda motornya memasuki gang itu, dilihatnya bahwa Aida sedang bergegas akan masuk ke rumah tetangganya di ujung jalan, di tangannya membawa botol kecil.
“Eeh, mau pergi kemana, ustazah? Saya kan sore ini mau membetulkan jemuran di belakang rumah,” demikian tanya Fadillah sambil menghentikan sepeda motornya.
“Iya, ini saya mau bawakan minyak tawon ke bu Nur, karena ia barusan jatuh di tepi sumur hingga lututnya memar. Silahkan bapak mulai saja betulkan jemuran dan pegangan pintu belakang, saya tidak lama koq.” jawab Aida dengan nafas agak tersengal dan segera masuk ke rumah bu Nur.
“Baik, ustazah. Saya harus mulai nih karena sudah turun hujan gerimis,” lanjut Fadillah yang merasa dapat kesempatan baik untuk memberitahu pak Sobri yang ternyata secara seksama mengikuti semua adegan itu dari belakang setir mobilnya yang berada di tempat agak jauh.
Ketika Aida telah masuk ke rumah bu Nur, maka Fadillah mengacungkan tangannya ke atas sebagai tanda bahwa pak Sobri agar segera parkir dan meninggalkan mobilnya. Pak Sobri lekas melakukannya. Setelah itu, bagaikan dikejar setan, ia langsung lari secepatnya mengikuti jejak Fadillah yang telah memutari pekarangan rumah Ustadz Mamat dan kini mulai menegakkan jemuran pakaian yang miring itu.
Rupanya Aida lagi mengangkat pakaian di jemuran ketika dia dipanggil oleh bu Nur, sehingga ia bergegas ke dalam mengambil botol minyak tawon dan berlari ke rumah tetangganya itu, tanpa menyadari bahwa pintu belakang rumahnya lupa ia kunci. Akibatnya, kini dengan mudah pak Sobri masuk ke dalam dan bersembunyi di dalam kamar tidur Ustadz Mamat.
Hujan gerimis berubah semakin lebat sehingga tanah menjadi sangat basah. Fadillah dengan mudah dapat menegakkan tiang penyangga jemuran, namun untuk memasang pondasi semen pada saat itu sungguh tidak mungkin. Karena itulah ia memutuskan untuk mengalihkan kegiatannya membetulkan grendel pintu belakang, dan hal itu ternyata hanya sepele saja; cukup dengan mengencangkan dua sekrup kecil yang berada di pegangan grendel sebelah dalam dan luar, maka sebentar saja grendel itu telah mantap dan tak goyang lagi sedikitpun.
Di saat Fadillah berniat untuk menyimpan lagi segala peralatan yang dibawanya ke tas di bagian belakang sepeda motornya, ternyata Aida telah kembali dan merasa kasihan karena Fadillah basah kuyup. Namun sebagai ustazah yang alim maka tak mungkin ia mengajak Fadillah masuk ke dalam rumah karena saat itu hanya seorang diri, tanpa mengetahui bahwa ‘mahluk buas’ telah berada di dalam kamar tidurnya.
Fadillah pun berpura-pura sama sekali tak berniat masuk dan hanya numpang meneduh sekedarnya di bawah jendela rumah sang Ustadz yang sedikit terbuka. Namun Fadillah telah melihat sebelumnya bahwa jendela itu sangat mudah untuk dicongkel penyangganya dari luar, dengan demikian ia dapat melompat masuk ke dalam rumah tanpa perlu susah payah.
Ketika hujan mulai mereda – namun keadaan sudah gelap sehingga tak mungkin di saat itu untuk Fadillah melanjutkan pekerjaannya, maka ia dengan suara lantang ‘pamit’ pulang kepada Aida dan menjanjikan untuk meneruskan membetulkan jemuran yang miring itu esok hari. Aida setuju dan merasa lega ketika mendengar suara sepeda motor Fadillah menderu sayup-sayup semakin menjauh.
Padahal Fadillah hanya menjalankan motornya beberapa puluh meter, kemudian kembali berhenti dan meneduh di bawah pohon sambil menantikan beberapa saat lagi, dimana di luar sudah sedemikian gelap sehingga tak ada manusia yang melihatnya, barulah ia kembali ke rumah Aida.
Sekitar sepuluh menit setelah suara sepeda motor Fadillah tak terdengar lagi, maka Aida berniat untuk membasuh dirinya di kamar mandi. Setelah menunaikan tugasnya seharian sebagaimana biasa sebagai ibu rumah tangga, maka Aida merasakan badannya membutuhkan siraman air segar untuk menghapus keringat yang melekat di badan.
Sebagaimana biasanya ia selalu menukar pakaian setelah mandi, maka Aida menuju ke kamar tidurnya untuk mengambil pakaian baju kurung sederhana tapi bersih untuk dipakai sehari-hari di rumah. Tanpa curiga sedikit pun Aida membuka pintu kamar tidurnya dan mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam, ketika tubuhnya disergap-dibekap secara tiba-tiba dari belakang.
“Uumpfh.. efpffhhh.. s-siapa?! Aauuffhhh,” Aida menggeliat dan berusaha meronta membebaskan dirinya dari sergapan dan pelukan ketat yang melingkar di pinggangnya.
Dirasakannya bahwa tubuh lelaki yang menyergapnya dari belakang itu sangat kekar serta memiliki tenaga yang jauh berlipat dibandingkan dengan tenaganya sendiri. Selain itu aroma yang keluar dari tubuh penyergapnya sangat khas kelaki-lakian, bau keringat yang tidak keluar dari tubuh suaminya sendiri, namun bau itu pernah dialaminya beberapa bulan lalu. Ditambah lagi dengusan nafas menderu bagaikan banteng murka di tepi telinganya, dengusan penuh nada kejantanan yang didengarnya saat dirinya ditakluki seorang pemerkosa : pak Sobri!
Tanpa disadari Aida merinding, bulu kuduknya berdiri, lututnya melemas, badannya menggigil bagaikan demam : Ya Allah, jangan biarkan hal yang nista ini terulang lagi, demikianlah panjatan doanya.
“Ssh.. tenang aja, neng geulis, kan pernah kenalan sama bapak, pasti udah péngén digenjot lagi. Bapak juga kangeeen banget.. kenapa merinding, neng? Sini bapak bikin badan neng jadi anget,” bisik pak Sobri disertai nafasnya yang berbau rokok semakin menembus lubang hidung mungil Aida.
Tanpa memperdulikan rontaan dan hentakan Aida yang melawan mati-matian nasib yang akan terulang kembali, pak Sobri yang walapun telah cukup usia namun masih sangat tegap dan kuat, menyeret mangsanya perlahan-lahan ke arah ranjang. Sementara tangan kirinya tetap membekap mulut Aida, jari-jari tangan kanan pak Sobri semakin liar menjalar dan menyelinap masuk diantara belahan kebaya yang dipakai istri Ustadz Mamat itu.
Aida berusaha mencakar tangan pak Sobri, namun sang pejantan yang telah kemasukan iblis ini seolah tidak merasakan kuku wanita cantik mangsanya. Dengan sekali putaran dan dorongan, maka pak Sobri berhasil menghempaskan tubuh Aida ke ranjang dan langsung ditindih dengan badannya yang sangat berotot. Bagaikan singa telah menjatuhkan kancil ke tanah, maka pak Sobri semakin ganas menguasai calon korbannya.
Mulutnya kini sepenuhnya menutup rekahan bibir Aida yang ingin berteriak, namun sama sekali tak berdaya. Lidah pak Sobri menerobos dan menjalar ke dalam rongga mulut Aida, membasahi dan mencampuri ludah manis Aida dengan liur kentalnya yang berbau tembakau sangat memualkan dan tak disenangi oleh Aida.
Pada saat itu pintu kamar tidur Aida kembali terkuak dan dari sudut matanya, Aida melihat kemunculan sesosok tubuh yang dikenalnya : Fadillah! Penuh harap Aida menggapai ke arah Fadillah untuk meminta tolong, namun yang dilihat olehnya adalah sinar mata Fadillah berbinar-binar penuh nafsu. Telah beberapa kali Aida menangkap sinar mata liar Fadillah semacam itu di warungnya, namun memang dianggapnya bahwa itu lumrah saja untuk semua lelaki.
Namun dalam situasi seperti ini, barulah Aida menyadari bahwa harapannya untuk mendapat bantuan dan pertolongan Fadillah sama sekali sia-sia belaka, bahkan dilihatnya kini Fadillah bergegas melepaskan pakaiannya sendiri!
“Gimana, pak, perlu bantuan?” demikian tanya Fadillah sambil melepaskan celana panjangnya sehingga kini hanya memakai kaos dan celana dalam saja, lalu mendekati pergulatan di ranjang itu.
“Iya, nih cewek masih cukup binal. Mana tali serta lakbannya, Dil ?” demikian tanya pak Sobri diantara ciuman ganasnya di bibir Aida sambil tetap menindih dan menggeluti tubuh yang makin terlihat kemulusan serta putih menggiurkan itu. Sarung kebaya yang selalu sopan ketat menutup tubuh Aida kini telah acak-acakan dan tersingkap akibat ronta mati-matian, menyebabkan dada berbukit kembar, perut datar berpusar menantang, serta paha betis halus bagaikan batu pualam milik Aida menonjol keluar!
Sambil tersenyum lebar penuh kemesuman, Fadillah menghampiri serta kini berdiri di ujung ranjang bagian kepala. Pak Sobri merenggut kasar kebaya dan BH yang dipakai oleh Aida, kemudian sarung penutup pinggul serta auratnya juga ditarik ke bawah, sementara Fadillah merejang merentangkan kedua tangan Aida, lalu diikatnya seerat mungkin ke ujung ranjang, sehingga kini tak dapat mencakar lagi.
“Toloong.. empfh.. sialaan! Bangsat! Bajingan kalian semua! Terkutuk, cepat lepaskan! Atau saya akan teriak panggil polisi.. tol-eummpfh!!” Kali ini teriakan Aida diredam oleh bibir Fadillah yang ternyata tak kalah ganas dan juga sama berbau tak sedap seperti mulut pak Sobri.
Kesempatan ini dipergunakan oleh pak Sobri untuk melepaskan semua pakaiannya. Dalam waktu hanya satu menit, terlihatlah tubuh pak Sobri yang meskipun agak tambun namun tetap berotot dan agak mengkilat dengan keringat akibat pergulatannya dengan Aida. Setelah itu pak Sobri kembali ke ranjang dan menindihi tubuh Aida yang tetap menggeliat meronta-ronta. Sarung yang telah turun melorot ke betis Aida dilepaskannya sama sekali, setelah mana pak Sobri menarik celana dalam kecil warna biru muda, diciuminya bagian tengah cd yang telah nampak lembab itu penuh nafsu.
“Wuih, harumnya nih air madu dari memek… enggak percuma selalu disimpan ya, neng.. udah waktunya ntar disedot ama bapak. Tapi sekarang bapak mau nyusu dulu ah,” celoteh pak Sobri sambil menelusuri bukit kembar di dada Aida; diremas dan dipilin-pilinnya puting yang semakin mengeras itu, kemudian dicaploknya bergantian kiri kanan sambil digigit dan dikenyotnya habis-habisan.
Aida semakin kewalahan menghadapi serangan kedua lelaki durjana ini, mulutnya masih tertutup oleh bibir dan lidah Fadillah yang menyapu langit-langitnya dengan kasar. Bau tak sedap terpaksa harus diterimanya karena liur Fadillah semakin bercampur dengan ludahnya sendiri, dan kini ujung syaraf tubuhnya sebagai wanita dewasa yang agak kurang mendapatkan nafkah batin dari suaminya mulai tergugah akibat rangsangan yang dilancarkan oleh pak Sobri di kedua puting buah dadanya.
Kedua betis langsing Aida yang sedari tadi menghentak menendang-nendang, kini mulai berubah irama; kaki dengan jari-jari amat kecil mungil kemerahan itu menekuk ke dalam mengiringi lekukan gelisah di sendi lutut Aida. Paha mulus yang selama itu berusaha merapat mempertahankan aurat yang tersembunyi di tengahnya, kini mulai agak gemetar dan perlahan-lahan kehilangan tenaga untuk bertahan.
Pak Sobri dengan penuh keahlian telah menempatkan diri diantara kedua paha korbannya, sementara tangannya tetap menyiksa kedua puting bukit kembar kemerahan milik Aida. Bibirnya yang tebal dower merambat turun dari dada ke arah perut, menggelitik pusar melengkung ke dalam perempuan itu, kemudian semakin turun…
Meskipun masih menciumi Aida dengan penuh rasa birahi tak tertahan, namun Fadillah sempat melihat dengan sudut matanya bahwa pak Sobri telah meningkatkan rangsangannya dengan makin mendekati bawah perut Aida. Fadillah merasakan nafsunya sendiri semakin tak tertahan, belahan bibir Aida yang sedemikian hangat menggiurkan, diidamkannya untuk bisa menerima kemaluannya.
Betapa seringnya Fadillah mendambakan untuk menikmati tubuh Aida saat melayaninya di warung, kini bidadari idamannya itu telah berada dalam genggamannya : kedua nadi Aida terikat erat di sudut ranjang, mulutnya yang setengah terbuka kini akan dipaksanya mengulum menyepong penisnya.
Fadillah berlutut menempatkan diri di samping kepala Aida yang langsung melengos, namun secara sigap wajah cantik itu dipaksanya kembali menoleh dan kepala kejantanannya yang berbentuk jamur itu segera ditempelkannya ke bibir Aida.
Tentu saja Aida menutup mulutnya sekuat tenaga, tapi Fadillah langsung menjepit hidung bangir mancung yang menggemaskan itu sehingga Aida tak dapat bernafas dan terpaksa membuka sedikit mulutnya. Namun bukaan ini belum cukup lebar untuk ditembus pentungan daging yang cukup besar keras dan tegang itu : Fadillah harus sabar!
Sementara itu pak Sobri telah menurunkan wajahnya mendekati bukit Venus kemaluan Aida. Bukit nan lebam hanya dihiasi bulu halus sangat terawat itu menampilkan lembah mungil di tengahnya, sebuah lekukan panjang, dalam dan sempit, sebuah celah yang mengundang untuk dijelajahi. Pak Sobri masih mengingat betapa empuk dan halus dinding celah surgawi itu, betapa lembut denyutan serta pijitan yang dialami kemaluannya ketika akhirnya berhasil membelah celah hangat licin itu.
Aroma kewanitaan yang khas menerpa hidungnya, aroma khas tubuh Aida yang meskipun belum sempat mandi namun justru menampilkan bau alami wanita yang amat membius. Dengan kedua tangan yang kuat berotot, pak Sobri membuka dengan paksa lutut Aida ke samping kiri kanan. Walaupun Aida dengan mati-matian mempertahankan diri, namun tenaganya kalah kuat sehingga kedua lututnya terbuka maksimal dan ditekan ditindih oleh lutut pak Sobri, menyebabkan Aida memekik kesakitan.
Kini terbukalah selangkangan Aida dihadapan mata pak Sobri yang menelan ludahnya beberapa kali, jakunnya turun naik, jari-jari kasar hitam pak Sobri mulai mengelus betis serta paha mulus Aida.
Fadillah menyaksikan kegiatan pak Sobri dari sudut matanya. Karena pak Sobri telah mengalihkan kegiatan jari-jarinya ke bawah tubuh Aida, maka tibalah giliran Fadillah untuk merasakan betapa halus namun kenyal dan padatnya gunung kembar di dada Aida. Tanpa menghentikan ciuman rakusnya yang sangat menjijikkan, mulailah Fadillah meraba dan mengelus bahu mangsanya. Dari bahu, jari-jari kasarnya menjalar ke ketiak, sedikit memijit-mijit disitu sehingga Aida menggeliat kegelian.
Perantauan jari-jari hitam Fadillah dengan kuku panjang tak terawat semakin nakal menaiki lereng bukit montok, mengelus-elus disitu sebelum mendaki ke puncak untuk menemukan puting mencuat berwarna merah kecoklatan, berdiam sebentar disitu kemudian mulai mengusap dan meremas-remasnya pelan.
“Aauummpfhh.. aasshhh.. eeiimmppfhh.. ooaahhh.. oooh..” bunyi desahan Aida tak nyata karena mulutnya tetap disumpal lidah Fadillah yang besar. Tubuh Aida yang putih montok semakin menggeliat menggelinjang resah sehingga terlepaslah tindihan lutut pak Sobri, Aida berusaha menggulingkan tubuhnya ke kiri ke kanan walaupun kedua tangannya terikat erat di ujung ranjang.
Namun semuanya hanya sia-sia saja karena kini pak Sobri bahkan meneruskan penjarahannya lebih lanjut dengan menangkap kedua pergelangan kaki Aida yang mencoba menendang ke kiri kanan. Kedua betis langsing bak padi membunting itu dicekalnya keras kemudian dinaikkan dan diletakkan di atas bahunya, sehingga Aida kini hanya dapat memukul-mukul lemah dengan tumit mungilnya ke punggung pak Sobri.
“Aauww.. sakiit! Lepaskan! Aaah.. sakiit! Auwffmph..” Aida menjerit kesakitan ketika Fadillah dengan sadis mencubit putingnya dengan kuku tajam tak terawat.
Pada saat mulutnya membuka lebar, maka kesempatan yang telah lama ditunggu Fadillah akhirnya tiba. Cepat lelaki itu menjejalkan kemaluannya yang memang sejak tadi menunggu di depan bibir Aida yang hanya terbuka sedikit. Lidah Aida berusaha sekuat tenaga mendorong keluar daging pentungan berkepala topi baja itu, namun Fadillah tak kenal kasihan. Tanpa mengurangi cubitannya bergantian di kedua puting Aida yang semakin ngilu mengeras, ia mendorong dan menekan kejantanannya senti demi senti ke dalam rongga mulut Aida sehingga menyentuh langit-langit dan menyebabkan Aida tersedak.
“Kalo enggak mau disiksa, makanya nurut dong! Ayo, sekarang kulum yang bener.. isepin, jilat yang bersih.. iya, gitu.. pinter, udah biasa nyepongin suami ya?” celoteh Fadillah keenakan ketika akhirnya Aida terpaksa menyerah, mulai mengulum penis hitam yang dibencinya itu. Namun biarlah daripada terus-menerus disakiti dengan puting yang telah sedemikian peka ditarik dan dicubiti kuku tajam.
Tanpa merasa kasihan Fadillah mencekal rambut Aida, kemudian digerakkannya kepala perempuan itu mundur maju memanjakan penisnya yang kini terlihat mengkilat akibat basah oleh ludah Aida.
Bagian bawah tubuh Aida kini tak kalah serunya dijadikan sasaran keganasan sang pejantan lain : sambil menikmati pukulan-pukulan lemah tumit Aida di punggungnya, pak Sobri telah menjelajahi bukit kemaluan Aida dengan beberapa jarinya. Terlihat betapa licin mengkilat lembah sempit yang telah lama diimpikannya itu. Dengan hati-hati Pak Sobri membuka dan melebarkan celahnya yang mungil, lalu disentuh dan dijilatnya dengan penuh rasa kepuasan sebelum lidahnya menyapu dinding halus itu.
Tanpa rasa jijik pak Sobri menikmati licinnya dinding surgawi Aida yang berwarna merah muda, dicicipinya lendir yang mulai keluar membasahi celah nirwana itu, dijilatinya penuh mesra hingga membuat Aida kegelian. Dilanjutkannya penjarahan lembah kewanitaan Aida dengan mengutik-utik, menyentuh, meraba dan mengusap-usap ujung klitoris yang kini semakin peka dan tanpa disadari mulai menonjol keluar.
“Ooohh.. jangan! Lepasin saya, pak! Ooohh… bang, jangan! Saya sudah menjadi istri ustadz! Tolong kasihani dong, pak! Jangan begini.. saya enggak rela! Ooohh..” Aida mulai menangis menimbulkan iba, namun tubuhnya yang ‘kekeringan’ selama ini mau tak mau mulai memberikan respons terhadap rangsangan kedua lelaki berpengalaman itu.
“Kenapa nangis, neng? Nikmati aja, percuma nunggu berkah dari suami bodoh yang pergi melulu.. masa istri bahenol gini enggak diganyang tiap malam? Ayolah, neng, lepasin semuanya! Jangan ngelawan, percuma aja ngarepin suami yang enggak pulang-pulang. Ini ada penggantinya,” pak Sobri mencoba berusaha mesra, kemudian mulai dikecupi, diciumi dan dijilatinya memek basah Aida.
Dibukanya bibir kemaluan Aida ke kiri kanan dengan hati-hati sehingga terlihatlah lubang kecil dari kandung kemihnya, demikian juga sepotong daging mungil di lipatan atas bagaikan yang penis kecil. Inilah pusat kenikmatan yang diabaikan sang ustadz, namun kini didapat oleh pak Sobri!
“Uumhhh.. duh mungilnya nih lubang.. cupp, cupp, aaah.. neng, wangi amat memeknya? Bapak enggak puas-puas ngeliatin nih kelentit. Bapak gigit dan jilatin mau ya?” Tanpa menunggu jawaban, pak Sobri segera menyentuh lubang kencing Aida dengan ujung lidah, sementara kumisnya yang sengaja dua hari tak dicukur, menyentuh klitoris Aida bagaikan sapu ijuk, mengakibatkan Aida merasakan kegelian luar biasa sehingga menjerit lupa diri!
“Jangan, pak! Lepaskan, udaah.. oohh.. saya mau diapain lagi?! Enggak mau, ooohh.. sssh.. saya mau pipis! Aaaah.. jangan! Lepasin,” Bagaikan terkena aliran listrik, tubuh Aida mulai menegang, sementara cairan memeknya semakin deras keluar.
“Sssh.. tenang aja, neng. Nikmati biar puas.. ini surga dunia, neng. Jangan dilawan, buang tenaga aja. Dijamin ntar puas, kapan lagi gratis dikerjain dua lelaki,? Ayo sepongin lagi tuh si Fadil, udah lama dia enggak dapat jatah perempuan. Sekarang bapak mau nerusin ngegali lobang si neng,” pak Sobri menundukkan kepalanya lagi dan meneruskan penjarahannya ke liang vagina dan kelentit Aida.
Sebelum Aida dapat protes lebih banyak, kembali mulutnya dijejali oleh penis Fadillah yang berbau asam meskipun disunat. Mungkin Fadillah tak mempunyai kebiasaan untuk mencuci kemaluannya jika telah kencing, dan sekarang justru nafsunya semakin meningkat melihat Aida telah berkali-kali hampir muntah. Pemilik warung ini semakin bersemangat memperkosa mulut mungil yang telah kewalahan membuka maksimal itu karena Fadillah ingin memaksa Aida meminum pejuhnya.
Sementara itu pak Sobri telah memusatkan perhatiannya ke vagina Aida yang dijilat dan dikecupnya tak henti-henti, menyebabkan Aida bagaikan cacing kepanasan yang menggeliat sejadi-jadinya. Pak Sobri tak peduli kegelisahan wanita alim shalihah itu : lidahnya bergantian menyentuh lubang kencing dan klitoris Aida.
Daging yang semula kecil bersembunyi di lipatan bibir kemaluan itu semakin lama semakin terlihat menonjol keluar berwarna kemerahan. Permukaannya yang dipenuhi jutaan ujung syaraf peka diserang bertubi-tubi oleh sapuan lidah, gigitan kecil dan juga ujung kumis pak Sobri yang kaku bagaikan sapu ijuk.
Semua siksaan itu tak sanggup lagi ditahan oleh tubuh si wanita alim. Tubuh Aida melengkung bagaikan sekarat, menegang kaku seolah terkena aliran listrik, tangannya yang terikat di sudut ranjang membuat kepalan tinju kecil.
Fadillah memegang sekuat tenaga secara sangat sadis kepala Aida dan ditekannya rudalnya sehingga menekan di kerongkongan, disaat mana air maninya menyembur keluar berbarengan dengan orgasme Aida akibat rangsangan dari pak Sobri.
Pak Sobri pun tak kalah licik dan sadis ingin menikmati orgasme istri Ustadz ini : dimasukkannya jari telunjuk dan jari tengahnya ke liang vagina Aida untuk merasakan bagaimana jepitan denyut-denyutan ritmis otot memek yang sedang orgasme! Sementara jempolnya yang kasar mengusap permukaan klitoris Aida demi meneruskan dan memperpanjang orgasme yang melanda korbannya. Dilihatnya pula kedutan dan kontraksi otot-otot lingkar pelindung anus Aida – dan ini membuatnya tersenyum lebar.
“Pertama lubang di atas akan kunikmati sepuasnya sebelum lubang satunya kuperawani!” begitu dia bertekad.
Tentu saja Aida tak menyadari rencana licik pak Sobri, ia sedang dilanda tsunami orgasme sekaligus juga mati-matian harus melawan rasa ingin muntah karena terpaksa menelan pejuh Fadillah.
“Oooh.. uuuhh.. duh, enak tenan eeuy.. nyemprot ser-seran gini, di mulut istri orang yang cantik kayak neng. Nih datang lagi.. iya, sedot semua.. minum sampai habis!” tak henti-hentinya Fadillah memuji tegukan demi tegukan yang terpaksa dilakukan oleh Aida demi usahanya memperoleh nafas agar tak tercekik oleh luapan air mani lelaki asing yang kini dibencinya itu.
Jika ia mengira bahwa penyiksaannya telah berakhir, maka Aida salah besar : ternyata meskipun telah menyumbangkan air pejuhnya, namun penis Fadillah tetap saja tegak mengacung, mungkin akibat ramuan kuat yang juga dijual di warung, selain juga resep dari dukun kampung di situ.
Beberapa menit kemudian kedua lelaki durjana itu melepaskan Aida dari ikatan nadi di ujung kepala ranjang, tubuh putih mulus sintal telanjang bulat itu terlihat bergetar akibat tangisan sesenggukan. Semuanya itu sama sekali tak menimbulkan rasa kasihan pada kedua lelaki pejantan : permainan mereka justru baru memasuki babak pertama, kini mereka telah siap melanjutkan ke babak kedua!
Fadillah diberikan tanda oleh pak Sobri agar merebahkan dirinya, sedangkan tubuh Aida yang masih tergetar akibat tangisan tersedu-sedu itu diangkat oleh pak Sobri dan diletakkan diantara kaki Fadillah.
Dengan mata sembab penuh linangan air mata, Aida kini dipaksa untuk berlutut dengan wajahnya kembali menghadapi kejantanan Fadillah yang masih tegak mengacung bagaikan tugu Monas. Aida yang masih sangat lemas berusaha menolak dan ingin berdiri, namun pak Sobri yang berada di belakangnya segera menekan belakang lehernya dan memaksa wajah ayu penuh air mata itu mendekati kepala penis Fadillah yang masih mengkilat oleh air mani.
“Ayolah, neng, manjakan lagi nih si ujang. Bantuin pijit dan peres-peres nih biji pelir, masih banyak jus segar yang ntar bisa dipakai buat obat awet muda si neng. Tadi si neng udah ngicipin pejuh. Dan si neng emang jagoan, enggak muntah sama sekali, padahal kebanyakan cewek pada muntah tuh. Makin sering nyembur si ujang ini, maka akan manis air sarinya, neng!” demikian Fadillah dengan penuh dusta berbicara mengenai air pejuhnya.
Aida hanya menggeleng-gelengkan kepala, namun Fadillah telah menggantikan pak Sobri dan kini ia menarik kepala Aida dan dipaksanya untuk menciumi senjata kesayangannya kembali. Masih tetap istri ustadz itu menolak membuka bibirnya, apalagi ketika dirasakannya pak Sobri yang berlutut di belakang punggungnya kini telah menyentuh belahan pantatnya.
Aida berusaha berdiri namun pak Sobri telah siap dan dengan tenaga begitu kuatnya, pundak Aida lagi-lagi ditekan ke bawah sehingga posisi tubuhnya semakin menungging. Aida masih berusaha melawan dengan mencoba mencakar tangan pak Sobri yang menekannya ke bawah, tapi apalah artinya cakaran kuku wanita kalau sang pejantan telah kemasukan tenaga iblis?
Pak Sobri memijit kedua pundak Aida dengan cukup keras sehingga umamah ini menjerit kesakitan, kesempatan sekali lagi bagi Fadillah yang langsung menekan wajah Aida ke bawah dan mulut ternganga itu segera disumpal oleh tombak daging yang kali ini bahkan langsung masuk ke dalam kerongkongan!
“Eeghh.. ueeghkk.. eegghk.. aauhh.. uueeghh..” berkali-kali Aida merasa lambungnya bagai terpelintir, namun untunglah perutnya sudah lama kosong tak terisi sehingga ia tak jadi muntah.
Fadillah rupanya agak kasihan juga melihat korbannya penuh aliran air mata dan kelabakan megap-megap berusaha bernafas. Diurut-urutnya belakang kepala Aida seolah ingin melemaskan kerongkongannya agar dapat menerima seluruh batang kemaluan yang menjejal tajam.
“Iya, pelan-pelan aja. Yah begitu, diurut dan dikocok neng, supaya lebih mantap dan sip. Terus.. duh, makin pinter nyepongnya.. dasar emang istri ustadz pelacur!” ejekan sang pemilik warung membuat pipi Aida memerah panas dan merasa malu serta turun harga dirinya.
Sementara itu pak Sobri telah memegang penisnya yang hitam besar penuh urat melingkar, dan diarahkannya ke celah yang masih licin dengan cairan pelumas wanita dewasa serta air liurnya sendiri. Dengan satu tangan pak Sobri menekan pinggang Aida ke bawah sehingga tunggingan pantat nan bulat bahenol itu semakin merangsangnya, dan juga terlihat celah vagina yang agak merekah merah milik Aida.
Perlahan dan dengan penuh kepuasan pak Sobri memajukan pinggulnya sendiri sehingga akhirnya kepala penisnya menyentuh dan mulai membelah celah memek Aida. Mula-mula meleset ke samping beberapa kali, namun akhirnya ujung pentungan daging berbentuk topi baja itu terjepit diantara bibir vagina nan sempit legit.
“Eemmhhh.. weleh-weleh, sempit amat nih memek neng! Sering latihan kegel ya, neng, atau barang suaminya memang kecil? Duh, enak tenan.. licin, anget, sempit lagi.. ayo mulai goyang-goyang dong pantatnya, neng, seperti tempo hari.” pak Sobri merem-melek merasakan senjatanya menerobos lubang hangat idamannya.
Berbeda dengan pak Sobri yang amat bergairah menikmati persetubuhan, maka Aida kembali merasa sangat perih dan ngilu karena vaginanya yang kecil dan sempit itu dipaksa membuka lebar untuk menerima sodokan penis besar.
“Wuih, enggak nyangka nih lobang kalo ditembus nungging jadi makin dalem.. tapi jangan kuatir, neng, alat pacul bapak cukup panjang buat ngeluku sampe bisa mentok! Oh nikmatnya.. ngimpi berbulan-bulan akhirnya kesampean juga, mmmhh.. sssshh..” lanjut pak Sobri.
Setelah maju-mundur tarik-dorong beberapa kali, akhirnya berhasil juga ujung kepala penis pak Sobri yang telanjang disunat itu menyentuh mulut rahim Aida. Setelah itu pak Sobri tak memperdulikan lagi perbedaan ukuran kemaluannya dengan lubang mungil Aida, gerakannya kini telah dikuasai oleh keinginannya mendengar keluhan, rengekan, desahan dan bahkan isakan tangis istri Ustadz Mamat akibat menahan rasa ngilu dan perih yang dideritanya.
Dan memang itulah yang didengarnya saat ini, namun pak Sobri yakin bahwa istri ustadz yang kekeringan nafkah batin ini akan segera berubah menjadi budak seks-nya. Rintihan sakit yang terdengar disaat rahim Aida dihentak dijedug kasar oleh senjata ampuh penakluknya, akan perlahan-lahan berubah menjadi desahan wanita dewasa yang meminta. Ya, desahan seorang wanita yang akan kehilangan semua rasa malu, akan melupakan pelecehan yang dialami, rintihan itu akan berubah menjadi ratapan dan permohonan agar perkosaan berlanjut!
Dan dugaan pak Sobri memang benar : semua hormon kewanitaan di tubuh sehat Aida mengkhianati, semua daya upaya pertahanannya berdasarkan rasa malu dan harga diri sebagai istri ustadz alim shalihah akhirnya dapat terkalahkan oleh keahlian kedua lelaki durjana yang menggagahinya.
Bunyi kecipak jilatan Aida menyepong Fadillah terselang-seling dengan dengusannya, bersilih ganti dengan ritme plak-plok-plak-plok pantatnya yang bersentuhan dengan paha pak Sobri. Kepalanya terasa pusing terbawa arus gelombang yang muncul dari genjotan tak kenal ampun di rahimnya.
Semakin lama semakin memuncak nafsu pak Sobri yang meskipun mulai putih beruban namun dalam persoalan menggarap wanita dapat dibandingkan anak usia belasan yang masih ingusan. Dirasakannya kemaluannya yang semakin memelar dan memanjang itu diremas dipijit oleh otot di dalam memek wanita yang tengah digagahinya, remasan dan pijitan yang mana mengundang lahar panasnya mulai mendidih dan mendesak mengalir menunggu ledakan dari saluran di sepanjang penisnya.
Bagaikan orang kesetanan, pak Sobri meningkatkan gerakan maju-mundurnya. Peluhnya mulai menetes di dahi. Matanya semakin melotot dan dengusannya semakin menguasai ruangan, hingga akhirnya… disertai teriakan menyeramkan, pak Sobri melepaskan arus syahwatnya.
“Aaaah.. bapak tak tahan lagi, mau banjir nih! Oooh.. neng geulis, lagi subur enggak? Siapa tahu jadi anak nih, oooh.. angetnya nih lobang! Iya, pijit dan remes-remes, Neng.. aje gile, neng bahenol! Enak enggak, neng, sakit-sakit nikmat ya?”
Pak Sobri menyemprot rahim Aida dengan air maninya yang menyembur bagaikan tak akan berhenti. Disaat mana juga Aida tak dapat menahan lagi gejolak mendidihnya hormon kewanitaan di seluruh ujung syarafnya. Wajahnya mendadak terlepas dari genggaman Fadillah dan menengadah ke atas dengan bibir merah merekah, hidung bangirnya mancung kembang-kempis , tarikan nafas panjang berubah menjadi histeris, dan…
“Aauw.. iyaah, ngilu! Aauuww.. pak, ngilu! Oouuh.. aaih.. iyah terus! Ooohh.. nikmat, oooh.. terus, pak!!” jeritan suara Aida melengking menandingi dengusan berat pak Sobri. Kembali tubuhnya kejang dan melengkung ketika gelombang orgasme kedua melandanya dan menghempaskannya kembali.
Pak Sobri menggeram bagaikan singa terluka karena menyadari bahwa kesanggupannya masih ada dan lebih dari cukup untuk meneruskan senggama dengan wanita cantik idamannya ini. Lembing pusakanya masih tegang ketika ditariknya keluar dari vagina Aida, dan dengan penuh kebanggaan pak Sobri melihat penisnya mengangguk-angguk tak sabaran menunggu tugas berikutnya.
Senyum iblis menghiasi wajah pak Sobri ketika direkahnya kedua bongkahan pantat Aida yang bahenol tanpa tandingan ketika perempuan itu bergoyang. Dilihatnya lubang kecil tersembunyi di tengah belahan pantat itu, lubang yang masih berkedut menciut ke arah dalam akibat kontraksi otot-otot pelindungnya.
Pak Sobri meludahi lubang kecil yang seolah menantang di hadapan matanya, ia menarik nafas amat dalam dan dipusatkan konsentrasinya agar penisnya menegang semaksimal mungkin. Diletakkannya kepala penisnya yang masih licin oleh lendir kewanitaan dan ditekannya perlahan-lahan ke tengah anus Aida. Dirasakannya otot-otot lingkar pertahanan anus Aida mencegah penetrasi lebih lanjut, namun dengan penuh keyakinan akan segera menang, pak Sobri menekan sekuatnya.
“Aduuh! Auuw.. jangan, pak! Oouuhh.. aauuuw.. sakit! Kasihani saya, pak! A-ampuun.. jangan masuk di situ, haram! Auuuw..” Aida menggelepar-gelepar menahan rasa sakit tak terkira di anusnya.
Air matanya kembali mengalir sangat deras turun di pipinya karena menahan penderitaan lubang tubuhnya yang terkecil sedang dijarah. Terasa panas bagaikan dicolok oleh kayu menyala, dan setiap kali pak Sobri menekan menambah masuk, maka perihnya bagaikan terkena sayatan pisau.
Mungkin karena penis pak Sobri terlalu besar, maka walaupun telah dilicinkan dan dilumasi dengan air lendir cintanya sendiri, ditambah ludah pak Sobri, namun semuanya tidak menolong banyak. Apalagi otot-otot lingkar pertahanan anus Aida rupanya masih tak rela dilebarkan secara paksa oleh benda sebesar kemaluan pak Sobri, sehingga melawan dan berusaha menolak benda asing itu – semua hanya menambah rasa sakit dan perih.
Berbeda dengan penderitaan Aida yang menggeliat menggelepar menahan rasa sakit tak terkira, maka pak Sobri justru merasa betapa nikmatnya memasuki lubang intim Aida yang telah lama diincar dan dibayangkannya. Namun pak Sobri masih ingin menambah lagi rasa ego kebanggaan sebagai lelaki pertama yang berhasil masuk ke anus Aida : ya, pak Sobri ingin mendengar pengakuan itu langsung dari mulut Aida, bukan hanya dengan dugaannya semata-mata. Selain itu muncul kembali iblis yang menganjurkannya untuk menyaksikan bagaimana ekspresi wajah si wanita cantik idaman saat disiksa rasa sakit di anusnya.
“Lihatlah bagaimana wajah istri ustadz saat disodomi, hehehe..” demikianlah bisikan iblis, dan pak Sobri telah sepenuhnya dikuasai oleh bujukan itu.
Oleh karena itu pak Sobri menarik sementara penisnya yang menancap di anus Aida, menyebabkan Aida menarik nafas lega karena sakitnya berkurang dan dikiranya bahwa deritanya telah berakhir. Namun dugaannya itu sama sekali meleset karena pak Sobri hanya ingin mengubah posisi : badan Aida yang sedemikian putih mulus sintal bahenol dan lemas lunglai itu kembali dibaliknya hingga telentang. Kemudian kedua paha Aida kembali dikuakkan lebar-lebar dan dikaitkan lagi di pundaknya sehingga selangkangan Aida dengan memek dan anusnya terekspos penuh di hadapannya.
Seringa mesum menghiasi wajah pak Sobri melihat anus Aida berdenyut kembang kempis menutup membuka, dan disaat agak membuka itu tampak kemerahan di bagian dalam karena baru saja mengalami pelebaran secara paksa. Aida hanya sanggup menangis tersedu sedan tak mampu melawan lagi, tapi ia ‘bersyukur’ bahwa bagian intimnya sementara dibebaskan dari penyiksaan yang menyakitkan.
“Ayo, Dil, bantu pegangin lagi nih cewek kalo dia ampe ngelawan. Ntar loe boleh mandiin dia ama pejuh loe sepuasnya. Sekarang dia harus ditaklukkan betul-betul dan jadi budak seks kita di masa depan,” kata-kata pak Sobri mendengung di telinga Aida dan ia menyadari bahwa nasib malangnya belumlah tamat.
“Jangan ngelawan ya, neng, tahan dikit lagi. Ini kita udah mau masuk babak terakhir,” ujar Fadillah sambil cengengesan dan kembali memegangi kedua nadi Aida di atas kepala.
Sementara itu tangan-tangan pak Sobri menekan kedua paha Aida ke samping sehingga vagina maupun anus Aida agak terkuak kembali. Sambil mengusap kelentit Aida yang mengintip keluar akibat ulah ibu jarinya, pak Sobri dengan penuh kebanggaan meletakkan lagi ujung kepala kemaluannya di anus mangsanya. Diperhatikannya denyutan kontraksi otot-otot Aida yang seolah menyedotnya masuk. Sambil menarik nafas panjang seperti beberapa menit lalu, pak Sobri menekan, mendorong, menekan, dan…
“Aauww.. udah, jangan masukin lagi disitu, pak! S-sakit.. toloong.. a-ampun!!” Aida kembali menjerit bagaikan hewan disembelih, sama sekali tak diduga deritanya berlanjut.
“Uuuh.. sempit amat nih lobang! Sakit-sakit enak ya, neng, sakit tapi nikmat kan? Enggak usah malu-malu lah, neng , pasti udah sering pantat si neng dijebol begini sama suami kan?” tanya pak Sobri pura-pura untuk memancing pengakuan dari mulut Aida sendiri, sesuai bujukan sang iblis.
“Aduh, pak, udahan dong! Saya enggak tahan, sakit! Haram ini, pak, enggak mau!!” Aida hanya sanggup menangis kesakitan sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
“Aah.. si neng jangan bohong! Pasti udah sering dijarah bo’olnya sama suami.. ngaku lah, neng! Kalo enggak, ntar saya terusin nih sampe semalaman. Mau enggak?” pak Sobri melanjutkan ‘interogasinya’ sambil bergerak maju-mundur, masuk keluar di anus Aida tanpa peduli korbannya kesakitan.
“Enggak pernah, pak, sungguh mati! Aauuw.. udah, stop dong.. saya enggak tahan lagi sakitnya, pak! Aduh.. auuw.. ampun, pak! Ya Allah, ampun sakitnya..” akhirnya tanpa sadar Aida mengakui bahwa memang pak Sobri-lah lelaki pertama yang menyodominya.
Saat itu tak dapat dilukiskan oleh kata-kata rasa kebanggan pak Sobri karena memang benar dialah lelaki pertama yang merenggut keperawanan anus istri alim shalihah ini. Kini tinggal selangkah lagi yang harus dilakukannya untuk menaklukkan Aida dan menjadikannya budak seks pribadi yang selalu menurut dan patuh atas semua kemauannya.
Pak Sobri meneruskan mengusap dan menyentil-nyentil biji klitoris Aida yang semakin memerah dan luar biasa peka itu, sementara ia meningkatkan gerakan dorong-tarik di lubang Aida yang sedemikian sempit. Dengan memberikan kombinasi antara sakit nikmat ini maka pak Sobri akan memaksakan Aida untuk mengaku bersedia menjadi budak seks-nya.
“Hehehe, kelihatannya udah lemes amat, neng.. ini belon apa-apa lho! Gimana, Dil, kita terusin semaleman sanggup enggak?” pak Sobri melirik Fadillah dengan kedipan mata penuh kelicikan.
“Lha, ya pasti sanggup, pak. Mesti diapain lagi ya nih cewek?” balas Fadillah penuh pengertian.
“Sekarang tergantung si neng dah, diterusin apa enggak? Kalo neng enggak mau, sekarang neng harus ngaku sekaligus janji ama kita,” pak Sobri merasakan kemenangan mutlak hampir tercapai.
“Ampun, pak, saya enggak… sanggup lagi.. auuw.. ngelayanin.. auuw.. saya enggak tahan lagi.. aauuw.. jangan diperkosa lagi, pak.. auw, auw, auw.. tolong hentikan, pak.. aauuw.. aauuw.. aduh, sakit! Saya janji tak akan lapor kemana-mana, juga pada siapapun.. tolong, pak,” suara Aida semakin melemah.
“Gimana, Dil, kelihatannya hampir kelenger nih istri pak Ustadz? Iya deh, kita berhenti dulu, neng. Tapi sekarang neng mesti janji dan ulangi apa yang bapak ucapkan, dan juga selalu siap melakukan di masa depan apa yang bapak inginkan. Setuju enggak?” pak Sobri mendesak terus sambil menambah genjotan dan tusukan penisnya di anus Aida, sementara kelentitnya ia pelintir dan pilin-pilin kuat.
“Ooohh.. sakit, pak! Geli, jangan dipelintir begitu! Aauw.. jangan dipilin lagi.. aauw.. udah, oooh.. aauuw.. ngilu, sakit, pak.. iya, saya nyerah! A-ampun, pak, saya pasrah.. aaaahh..” jeritan Aida yang disertai kejangan orgasme ketiga memberikan tanda mutlak kemenangan kedua lelaki itu – terutama pak Sobri.
Disertai raungan dan geraman terakhir, pak Sobri akhirnya menyemburkan lahar panasnya ke dalam anus Aida yang ternyata telah jatuh pingsan.
Di malam itu – disertai dengan linangan air mata, Aida harus berulang kali melayani nafsu pak Sobri yang dibantu tenaga iblis agaknya tak pernah kekurangan stamina. Menjelang pagi hari Aida telah berubah menjadi wanita dewasa jalang yang membutuhkan kepuasan seks. Ia telah kehilangan semua rasa malu dan jengah – suaminya, ustadz Mamat, hanya terikat pernikahan secara agama di atas kertas – sedangkan kepuasan batin dan badaniahnya hanya dapat dipenuhi oleh pak Sobri.
Bersambung…
Derita Murtiasih di Tangan Ustadz Cabul
Dengan susah payah Murtiasih berusaha membuka kedua matanya. Pelupuknya terasa sangat berat bagaikan ada perekat yang memaksanya kembali memejamkan mata. Dia menggeleng-gelengkan kepala sambil berusaha mencari orientasi dimana dirinya berada sekarang. Kepalanya terasa agak pusing ketika disadarinya bahwa posisi badannya yang setengah duduk.
Murtiasih berusaha untuk duduk lebih tegak,namun tak berhasil karena ada tangan yang melingkar di pinggang langsingnya dan mendekapnya dari belakang. Murtiasih belum menyadari sepenuhnya apa yang telah dan sedang dia alami, tapi dilihatnya bahwa dirinya setengah duduk bukan di kursi melainkan di ranjang! Selain itu mulai disadarinya bahwa posisinya yang setengah duduk itu tetap bertahan karena dia tengah bersandar ke tubuh seorang lelaki yang sedang memeluknya dari arah belakang.
Bukan itu saja, kini tangan si lelaki mulai meraba dan meremas-remas kedua bukit mungil namun sintal padat di dadanya. Murtiasih menggelinjang kegelian, apalagi ketika dirasakannya hembusan nafas hangat dan kecupan lembut di belakang lehernya. Ciuman dan gigitan kecil menyusul di kuduknya, menjalar ke samping arah leher, kemudian menjilat di lubang telinganya. Tak salah lagi,inilah apa yang pernah, danbahkan beberapa kali ia alami.
Inilah cara dan siasat dari gurunya, yaitu si ustadz Mamat, untuk merayunya, menjebaknya dan menjerumuskannya ke dalam pusaran samudra birahi. Selalu dirasakannya jeratan nafsu sang ustadz cabul yang menyebabkannya sering lupa akan derajatnya sebagai seorang siswi madrasah yang seharusnya sangat alim shalihah. Keinginannya melawan selalu terkalahkan oleh gelora nafsu syahwat yang melanda tubuhnya yang muda dan kini telah mengenal persetubuhan mahluk berlawanan jenis – dan semuanya itu adalah akibat ulah dan pengaruh gelap sang iblis.
Godaan itu kini terulang dan dialaminya kembali, Murtiasih mulai menyadari bahwa ustadz Mamat adalah yang sedang memeluknya dari belakang dan menjalari tubuhnya serta meremas-remasbergantian kedua buah dadanya, bahkan menyelinapkan jari di bawah kebayanya,memasuki BH warna merah jambu yang ia kenakan.
Ustadz Mamat agaknya sudah kehilangan semua akal sehatnya sejak ia berhasil merenggut dengan paksa kegadisan muridnya ini. Murtiasih adalah murid teladan, tak pernah datang terlambat, hampir tak pernah absen terkecuali sakit, sangat seksama mengikuti pelajaran, rajin mengulang dan patuh terhadap segala peraturan madrasah.
Wajahnya sangat ayu, manis, imut dan lugu – tak banyak memakai tambahan perhiasan apapun, kulitnya putih bersih sehingga tidak membutuhkan bedak maupun tambahan lapisan kecantikan lain. Suaranya sangat lemah lembut dan merdu, kedua matanya jeli memancarkan sinar kejujuran, hidungnya mungil bangir dan mancung, dan bibirnya sempurna berwarna merah muda tanpa lipstik, sedikit merekah dan mengkilat seolah agak basah.
Berbeda dengan Rofikah dan Sumirah yang agak genit,maka Murtiasih justru amat polos hingga akhirnya dipilih oleh iblis untuk dijadikan korban nafsu ustadz Mamat. Pengalaman pertamanya dengan Murtiasih menyebabkan sang Ustadz hampir melupakan sama sekali statusnya sebagai suami dari istri yang sebetulnya tak kalah cantik bahenol yaitu Aida.
Sementara Aida telah menjadi korban keganasan nafsu pak Sobri, maka ustadz Mamat berniat mengulang menggauli Murtiasih, dan saat ini tibalah kesempatan yang telah lama dinantikan untuk mengulang kemaksiatannya!
“Wah, lama juga tidurnya si neng geulis. Bapak jadi gemes ngeliatin neng tidur nyenyak begitu, hhm… nih susu makin sekel montok aja, bapak ntar lagi pengen nyusu boleh ya,neng?” ustadz Mamat langsung meremas kedua buah dada Murtiasih hingga menyebabkan murid alim cantik ini menggeliat kegelian.
“Udah, pak..saya ada dimana? Saya mau pulang, pak..Asih enggak mau disakitin, aaah…lepasin, pak! Toloong.. enggak mauu!!” suara Murtiasih memelas ketika menyadari bahwa peristiwa maksiat yang semula sangat dibencinya akan terulang kembali. Peristiwa yang mengubah dirinya dari siswi yang belum pernah mengalami jamahan lelaki menjadi korban permainan cabul.
“Siapa yang mau nyakitin Asih? Ini kan udah pernah Asih alamin, akhirnya malah jadi keenakan pengen terus, iya kan?” ustadz Mamat meneruskan cumbuannya dengan menghujani leher dan pundak Asih dengan kecupan hangat, menyebabkan mulai muncul bekas-bekas merah cupangan.
Selain itu ustadz Mamat juga menghembuskan nafas panasnya ke liang telinga gadis itu, bergantian kiri kanan hingga tentu saja membuat murid yang lugu dan naif ini semakin mendesah serta menggelinjang kegelian. Kedua tangan Asih yang berjari lentik halus berusaha melepaskan pelukan di pinggangnya, namun ustadz Mamat bukan tandingan untuk kekuatannya yang lemah.
Bahkan dengan sekali hentak, tubuh Asih berputar dan kini berhadapan langsung dengan 9uru cabulnya itu, dan sebelum sempat memprotes maka ustadz Mamat telah merebahkan muridnya yang lugu itu ke ranjang lalu ditindihnya sehingga Murtiasih merasakan sukar bernafas.
Ustadz Mamat paham sekali bagaimana murid yang alim shalihah ini sedang mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan, bagaikan di persimpangan jalan : membelok ke kiri atau ke kanan. Akal sehat Asih menganjurkan supaya menolak semua godaan serta bujukan iblis dan berontak untuk kembali menuju ke jalan lurus sesuai moral dan akhlak yang selama ini dipelajarinya.
Namun kenyataan yang terjadi beberapa waktu lalu menyebabkannya bimbang : selain disadarinya bahwa perlawanannya akan sia-sia karena tenaganya pasti kalah kuat, juga rasa kenikmatan badan yang pernah dialaminya telah membangunkan jutaan ujung syaraf di permukaan kulitnya menjadi hidup segar dan ketagihan.
Karena itu Murtiasih tak melakukan banyak perlawanan ketika ustadz Mamat mulai lagi mempreteli dan membuka satu persatu busana penutup tubuhnya. Suara protesnya pun terdengar hanya setengah hati, itu pun segera terbungkam oleh ciuman ustadz Mamat yang sangat rakus bernafsu melumat bibirnya yang mungil.
“Cupp.. cupp.. hhhm.. mmmh.. si neng mulutnya emang sedap buat diciumin! Uuhh.. sedapnya! Shhh.. cupp.. cupp..” Suara kecipak terdengar saat ciuman ganas ustadz Mamat yang kini menjulurkan lidahnya menerobos masuk ke rongga mulut Murtiasih. Semula muridnya ini berusaha menutup mencegah dorongan masuk lidah 9uru cabulnya, namun bagaikan ular python yang mendesis, ustadz Mamat menyelinap masuk sambil membasahi bibir Murtiasih dengan air liur kentalnya.
Hanya dalam waktu kurang dari lima menit,tubuh Murtiasih sudah hampir bugil : baju kurungnya serta gamis yang dipakai telah bertebaran di ranjang, kini hanya jilbab yang tertinggal menutupi setengah rambutnya, demikian pula BH serta celana dalam kecil masih menutup auratnya. Ustadz Mamat telah yakin bahwa muridnya telah sepenuhnya berada dalam kekuasaannya, terbukti dari Murtiasih yang tidak bangun ataupun melarikan diri. Gadis itu juga tidak berteriak lagi, hanya kedua tangannya masih dengan malu-malu berusaha menutupi dada serta selangkangannya.
Ustadz Mamat tersenyum lebar dan bergegas melepaskan pakaiannya sendiri – kemeja, sarung plekat, lalu kaos dalamnya telah terlepas, kini dengan hanya memakai celana dalam ia kembali menindih tubuh mungil padat murid kesayangannya itu.
Kembali tangannya meremas-remasgundukan bukit di dada Murtiasih serta diturunkannya BH berukuran 32 C itu sehingga terlihatlah dua gunung kembar yang sedemikian memukau setiap pandangan lelaki. Buah dada Murtiasih tidak sebesar milik Rofikah ataupunSumirah, namun sangat putih mulus padat menantang.
Tak sanggup lagi mengusai diri, ustadz Mamat segera merentangkan kedua tangan muridnya ke atas kepala sehingga tampaklahketiak Murtiasih yang licin dicukur. Kembali ustadz cabul ini dengan ganas menciumi bibir Murtiasih, dilumat dan disedot-sedotnyalidah mungil yang berusaha lepas ke kiri ke kanan itu, namun sia-sia saja. Liur ustadz Mamat berlimbahan dan bercampur dengan ludah sang siswi kesayangannya, dan campuran ludah itu kemudian dibawa oleh bibir ustadz Mamat ke arah leher Murtiasih yang nampak banyak bekas cupangan.
Kini diulanginya lagi cupangan dan gigitan gemas di leher jenjang itu sebelum turun ke pundak, ke bahu dan menyelinap ke bawah ketiak Murtiasih. Bukan bau asam dari ketiak yang menerpa hidung ustadz Mamat, melainkan aroma keringat gadis muda tercampur sedikit minyak wangi hingga menyebabkannya semakin bergairah.
“Aaiihh.. Asih mau diapain sih? Aaah.. geli, pak! Udah, aaih.. enggak mau! Ahhh.. geli.. enggak tahan! Aiihh..” Murtiasih menggelinjang sejadi-jadinya menahan rasa geli tak terkira ketika kedua ketiaknya yang mulus itu dikecupi 9uru madrasahnya.
Tak dapat diragukan bahwa selain leher jenjang Murtiasih, pasti ketiaknya juga akan penuh bekas cupangan dan bercak sedotan serta gigitan ganas sang ustadz yang sudah kerasukan iblis itu. Berikutnya adalah tebing gunung kembar Murtiasih yang sedemikian putih sehingga terlihat membayang pembuluh darah kapilernya yang menjadi sasaran sang ustadz, dan Murtiasih agaknya telah menikmati semua permainan tabu ini.
Jari-jari lentik Murtiasih merangkuh rambut gurunya yang kini dengan sangat gemas menghisap dan menyedot puting coklat kemerahan miliknya sehingga terasa semakin menegang dan ngilu tak terkira.
“Bageur teuing, uuih..legit tenan nih tetek, padetnya enggaktahan euy! Banyak nyimpen susu ya, neng, kalo diperes kencengan dikit bisa keluar enggak? Cobain ya..” Dengan sadisnya ustadz Mamat meremas daging penghias dada Murtiasih dengan sangat kencang hingga menyebabkan sang murid meringis dan memekik sambil memohon agar permainan itu tak dilanjutkan secara begitu kasar.
“Aauw.. jangan keras-keras dong! Aaohhh.. aauww.. pak, ngilu! Pelan-pelan dong! Asih enggak mau disakitin, pak! Udah.. sakiit! Aaah..” Murtiasih kini berusaha menolak kepala sang ustadz yang masih nangkring bergantian di kedua payudara montoknya.
Tentu saja mana mau ustadz Mamat menghentikan kegiatan yang amat mengasyikkan itu, protes korbannya justru semakin meningkatkan nafsu birahinya. Setelah meninggalkan begitu banyaknya bercak merah di leher serta buah dada mangsanya,kini mulutnya mulai mengembara ke arah perut Murtiasih, lalu menyusur ke pinggang kiri kanan, mengecup menjilat-jilat disitu, sebelum kemudian kembali ke tengah untuk menjilat pusar. Semuanya menyebabkan gadis alim ini menggeliat-geliat bagaikan cacing kepanasan.
“Gelii.. lepasin.. udah, pak! Gelii.. aahhh.. lepasin Asih, pak!!” jerit Murtiasih sambil menggeliat dan berusaha menggeser tubuhnya ke kiri ke kanan, namun tetap ditindih oleh sang ustadz.
“Diem, Neng! Kan enak dijilatin begini, ampe keringetan gitu.. percuma ngelawan, neng, bentar lagi bapak nyampe kesini nih! Nah, mulai kelihatan tuh gunung tembemnya..masih tetep gundul,cuma ada rumput jembut alus banget. Dicabutin mau enggak, neng?” ujar ustadz Mamat menggoda.
“Enggak mau! Udah, pak, udaah! Berhenti mainnya.. Asih mau pulang aja! Aaih.. geli, pak! Gelii.. ooh.. ampun!!” Murtiasih yang sangat polos dan lugu tak pernah membayangkan betapa malunya jika bulu kemaluannya dicabuti oleh ustadz Mamat. Padahal ucapan itu hanyalah sekedar untuk menambah sedikit ‘bumbu’ saja dalam perangsangan yang sedang dilakukan oleh ustadz durjana ini. Geliatan geli murid madrasah ini justru dipakai oleh ustadz Mamat untuk menarik celana dalam Murtiasih ke bawah sehingga kini siswi ABG itu telanjang bugilseutuhnya!
Betapa malunya Murtiasih saat itu, jantungnya sangat berdebar berdegup sangat cepat karena menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya. Jikalau cara berpikir sehatnya masih berfungsi penuh, maka seharusnya Murtiasih akan melawan dan balas mengancam gurunya untuk melaporkan kepada polisi dan setiap orang di desa kediamannya.
Namun peristiwa pelecehannya beberapa waktu lalu telah memberikan kesan pengalaman lain terhadap tubuhnya yang masih muda belia. Tubuh seorang gadis meningkat remaja dengan hormon kewanitaan yang masih seolah tidur kini telah tergugah dan bangun serta menagih untuk kembali menguasai dan mengalahkan akal sehat serta rasa malu.
“Ck-ck-ck.. duh, ini badan montok amat! Putih halus lagi.. mana bisa ada yang tahan sama godaan kaya begini? Bapak beruntung banget bisa ketemu dan kenalan ama si neng,ngimpi juga enggakpernah ngebayangin bidadari kaya neng!” menggumam ustadz Mamat sambil mengawasi tubuh si anak baru gede, sementara air liurnya hampir keluar dan jakunnya naik turun.
“Udah ah, pak, kan udah pernah ngeliat badan Asih.. pulangin baju Asih dong, pak, dingin engga pake baju!” demikian protes Murtiasih sambil menarik selimut yang tergeletak di kaki ranjang.
“Ah, masa dingin sih, neng? Tuh badannya mengkilat keluar keringat.. tapi iya deh kalo kedinginan,sini bapak kelonin dan dibikin anget lagi! Hmm, bapak bakal mulai olahraga di ranjang manasin badan neng.. uuhhm..” Ciuman ustadz Mamat kembali menghujani permukaan tubuh Murtiasih, terutama di bagian-bagian vitalnya, berpusat di pusar dan menurun ke bawah.
“Mau ngapain sih, pak? Udah ah.. oohh, pak!” Kembali Murtiasih dilanda rasa geli serta malu karena gurunya mengendus-endus perut bawahnya bagaikan seekor anjing mencari makanan.
Selain mengendus dan mencium perut datar muridnya,ustadz Mamat juga merenggangkan belahan paha Murtiasih sambil meraba dan mengelus betis serta bagian dalam pahanyayang amat putih mulus. Kumis ustadz Mamat yang menghiasi bagian atas bibirnya terasa menggelitik kulit perut Murtiasih, demikian pula jenggotnya yang bagaikankambing gunung karena telah beberapa minggu tak dicukur,menyapu-nyapu di bawah pusar dan semakin mendekati bukit Venus dengan belahan lembah terhias bulu halus sangat rapih milik Murtiasih.
“Hhmh.. geli enak ya, neng, diciumin kayak gini? Sshhh.. keringat si neng aja wangi, apalagi air itunya! Aaah.. bapak jadi kangen lagi, bapak mau kesitu lagi ah..kita maen sama-sama ya, neng? Sini bapak ajarin,” ustadz Mamat kembali merubah posisi badannya dengan membalikkan diri menyamping sambil mendekatkan penisnya ke arah wajah Murtiasih. Rupanya ustadz Mamat menginginkan agar Murtiasih juga memanjakan si otongnya sekaligus ia akan melakukan perantauan di bukit kemaluan si siswi ABG yang memiliki celah surgawi di bagian tengahnya itu.
Mula-mula Murtiasih melengoskan kepalanya ke samping dengan pipi merah merona karena malu melihat kejantanan gurunya yang mengangguk-angguk meminta pelayanan itu. Karena itu ustadz Mamat mengambil lagi inisiatif dengan harapan bahwa kalau diberikan bimbingan dan contoh,maka sang murid yang lugu namun telah terbangun instingnya sebagai wanita dewasa ini bersedia mengikuti jejak perbuatan terlarang antara dua manusia berbeda jauh usia dan kedudukan itu.
“Nih, bapak mulai dengan mencari air madu yang tersembunyi di lembah.. si neng juga mulai kulum juga tuh pisang ambon bapak. Si neng pasti doyan dan sering makan pisang kan? Ini pisang spesial, neng, jangan malu-malu. Enggak ada yang lihat. Ayo mulai dikulum.. bapak mulai disini, cupp.. sssh..” ustadz Mamat mengendus, menciumi dan menjilati tebing lembah yang tertutup rambut halus itu.
Murtiasih merasa sangat malu dan berusaha merapatkan kedua pahanya, namun sia-sia saja karena tenaga tangan ustadz Mamat lebih kuat. Laki-laki itukini memaksanya untuk mengangkangsemaksimal mungkin.
Tak tahan melihat betapa indahnya belahan memek Murtiasih, maka lidah ustadz durjana itu mulai menjarah menerobos masuk. Pertama pinggiran bibir kemaluan Murtiasih yang merekah bagaikan bunga ia kecupi sebelum lidah panas dan kasap itu menyelinap menjilati dinding vagina Murtiasih yang kemerahan.
Rasa geli terasa oleh Murtiasih ketika lidah sang 9uru menjalar di bagian intimnya disertai desis ustadz Mamat yang bagaikan ular mencari mangsanya. Kegelian itu mulai membangunkan hasrat Murtiasih untuk juga melakukan perbuatan yang setimpal, seolah ingin menjawab atau bahkan membalas ulah gurunya itu.
Tangan mungil Murtiasih yang sementara masih agak ragu menyentuh kemaluan sang 9uru, namun gerakan anggukan yang dirasakannya menimbulkan rasa ingin tahu, maka direngkuhnya dengan jari lentiknya penis ustadz Mamat. Sejenak terbersit keraguan untuk meneruskan, namun kalah oleh bujukan sang iblis durjana di telinganya.
Sementara itu, Ustadz Mamat semakin meningkatkan aksinya dengan menyapu dan menjilat dinding serta bibir kemaluan Murtiasih. Ia memancing dan merangsang keluarnya lendir pemulas yang akan dihirupnya sampai habis tak bersisa!
“Wuih.. mulai enak kerangsang ya, neng? Basah lengket amat nih memek..wah, tuh sampe keluar madunya! Iyah, gitu.. pinter si neng! Iyah, diremes gitu barang bapak.. pegang yang keras, neng! Iyah, sip banget! Oooh.. sepongin ya, neng, tapi jangan digigit, aaah..” ujar ustadz Mamat keenakan ketika merasakan jari-jari tangan Murtiasih menggenggam batang penisnya.
Bagaikan terkena sihir,Murtiasih mengawasi kejantanan dalam genggamannya itu. tak berkedip ia memperhatikanbetapa tegar dan kerasnya kepala jamur yang beberapa waktu lalu pernah menembus kegadisannya. Dengan agak gemetar Murtiasih menatap kepala penis disunat berbentuk jamur warna coklat kehitaman milik ustadz Mamat yang dihiasi celah sempit di tengahnya, agak terbuka mirip mulut ikan. Ragu Murtiasih menyentuhnya dengan ujung lidah.
“Aiih.. iyah gitu, neng! Oooh.. aduh, pinternya nih murid bapak! Juara luar biasa, benar-benar bakat alam! Jilatin ya, neng? Nih bapak kasih hadiah lagi, sluurp..cupp.. aaah.. ssshh..” ustadz Mamat semakin menggila menjilati dan menggelitik liang kegadisan Murtiasih.
Kedua manusia yang seharusnya mematuhi perbedaan derajat mereka di masyarakat itu sudah sepenuhnya menjadi budak iblis. Mereka melupakan segalanya, bergumul dan bergulat, berpagutan dalam posisi 69. Ustadz Mamat dengan rakus menjarah memek Murtiasih, menghirup air madu dinding vagina, sedangkan Murtiasih tak kalah serunya mengulum, menyepong, menghisap penis gurunya. Suara tertawa kegelian tercampur cekikikan genit mengiringi jilatan ujung lidah yang memasuki belahan liang kencing sang 9uru, sementara ustadz Mamat dengan tak sabar mencari kelentit muridnya.
“Uuuh.. ngumpet dimana tuh daging itil? Jangan nakal ya pake ngumpet segala.. awas ntar ketemu, digewel digigit ama bapak! Oooh.. neng makin jago nyepongnya! Iyah, sekalian pijit-pijit biji pelernya,neng. Wiuuh, enak tenan! Enggak tahan lagi bapak hampir nyampe!!” ceracau ustadz Mamat tak karuan sambil memaju-mundurkan pinggulnya,menyebabkan Murtiasih terkadang tersedak karena kepala penis yang semakin dalam masuk menyentuh langit-langitmulutnya.
“Uuegkk.. ueegk.. pelan-pelan dong, pak! Sssh.. shhh.. sslurrp!!” Murtiasih berusaha sejauh mungkin mengimbangi kegiatan tak senonoh gurunya. Jari-jari langsing yang biasa memegang alat tulis kini menggenggam batang pentungan daging ustadz Mamat, dan mulai menggerakkannya naik-turun, mengocok-ngocok, sementara lidahnya menjilat-jilat menimbulkan bunyi berkecipak.
“Ahh.. akhirnya ketemu juga daging yang dicari, mmhh.. bapak gigit-gigit ya, neng? Uummh.. lalu jilat.. gigit lagi.. sssh.. enak kan, neng?” bibir dower ustadz Mamat menjepit gemas kelentit Asih.
Jepitan bibir itu ibarat jutaan watt listrik yang menyetrum tubuh elok Murtiasih sehingga ia pun mengejang dan melengkung, jari-jarinya menggenggam kuat-kuatpenis ustadz Mamat sambil disedot dan dihisapnya rakus. Perlakuan Murtiasih di penisnya itu membuat 9uru cabul itu pun meledak menyemburkan pejuhnya!
“Duuhh… shhh.. aaah.. enak tenan, neng! Enggak nyangka gitu pinternya si eneng, oooh.. bapak nyemprot! Aahh.. isep, minum semua ya, neng?!” ustadz Mamat menggeram sambil memeluk pinggul muridnya yang kecil tapi padat bahenol itu.
Sekuat tenaga ditahannya liuk-liukan, goyangan dan hentakan orgasme Murtiasih, ditekannya mulut serta hidungnya di bukit kemaluan gadis itu yang telah basah kuyup oleh air mazi, sebelum kemudian dikecup dihisapnya kelentit Murtiasih yang sedemikian peka hingga membuat si gadis berusaha mati-matian menelan lahar gurunya itu.
Setelah beberapa menit mengalami orgasme secarabersama-sama, akhirnya ustadz Mamat mengubah kembali posisi tubuhnya. Dengan merebahkan diri di samping muridnya, ditatapnya wajah Murtiasih yang telah berubah dari siswi alim shalihah menjadi wanita muda dengan di sudut mulut setengah terbuka mengalir sisa-sisa air mani. Betapa ayu cantik wajah muridnya itu yang merah merona akibat pergulatan dan orgasmeyang baru dialami, hidung nan bangir mancung masih berkembang kempis, bukit di dadaMurtiasih dengan puting menggemaskan masih turun-naik seirama tarikan napasnya yang memburu.
Ustadz Mamat mengecup bibir yang setengah terbuka itu, tercium aroma spermanya sendiri tercampur ludah Murtiasih yang harum – yang mana itu kembali membangkitkan nafsu birahinya dengan sangat cepat. Kemaluannya mulai dirasakannya menegang, biji pelirnya dirasakan kembali memberat, dan dari belahan di ujung kepala si ‘Ujang’ yang masih mengkilat mengangguk-angguk itu terlihat tetesan air mazinya.
“Hehehe.. lemes nikmat ya, neng? Ini belum apa-apa, sekarang bapak mau nerusin senam ranjang ama neng!” Seringai mesum ustadz Mamat kembali menghiasi wajahnya, sedangkan jari-jarinya telah mulai menjalar kembali mengusap-usap buah dada Murtiasih, juga meraba paha serta selangkangannya.
“Udah dong, pak!Asih udah capek nih.. iya enak,tapi Asih jadi lemes! Ntar susah bangun..udahan ah,pak, lain kali aja nerusin maennya!!” jawab Murtiasih sambil berusaha mencegah keinginannya sendiri.
“Ahh.. masa udah berhenti, kan kita baru mulai maen? Enggak enak dong macet di tengah jalan.. kalo diterusin pasti makin sip. Sini bapak ajarin lagi,” sahut ustadz Mamat sambil menggesot dan kini menindih kembali tubuh muridnya yang masih penuh keringat.
Murtiasih hanya dapat mengeluh lemah agak susah bernafas ketika tubuhnya kembali ditindih di 9uru cabul, kedua lengannya direntangkan terbuka ke samping dan dirasakannya kembali ciuman dan cupangan ganas di kulit ketiaknya. Rasa geli menyebabkannya menggeliat kesana-sini sambil mendesah lirih.
“Geli, pak.. jangan digelitikin lagi! Aah.. gelii, udah dong! Asih capek..aaiih.. udah, pak, Asih lemes.. Lepasin, emmpffhh!!” Teredam protes Murtiasih ketika mulutnya dibekap oleh bibir ustadz Mamat.
Kedua lutut pemimpin madrasah itu menekan lutut Murtiasih sehingga terpentang lebar, kejantanannya yang telah mengeras kembali segera menggesek-gesek di selangkangan yang masih basah oleh lendir kewanitaan itu, mencari kesempitan licin di kesempatan sempit. Karena tak langsung menemukan jalan masuk ke dalam liang yang dicarinya, maka ustadz Mamat menggelusur ke bawah tanpa mempedulikan rengekan Murtiasih, lalu berlutut diantara belahan paha muridnya.
Dikaitkannya lutut Murtiasih di atas bahunya sehingga vagina mungil berambut halus itu jadi sedikit terbuka, menampakkan dindingnya yang merah mengkilat. Dengan memajukan dan membungkukkan diri ke depan,maka ustadz Mamat yang masih berlutut berhasil menekuk tubuh Murtiasih sejauh mungkin sehingga paha mulusnya hampir menyentuh puting buah dadanya.
Dalam posisi seperti ini maka siaplah dosen yang telah dirasuki iblis itu untuk melakukan persetubuhan terlarang dengan muris asuhannya. Kepala penisnya yang tegang bagai pentungan kini menyelinap diantara bibir memek Murtiasih, menggesek-gesek seolah menggoda sebelum masuk. Murtiasih menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri-kanan bagaikan tak setuju dengan tindakan sang ustadz, namun celah diantara lembah Venus-nya telah terasa panas, geli, dan sedikit gatal seolah meminta untuk digaruk.
“Aduh.. pelan-pelan dong, pak! Nyeri.. ohh.. sakit!! Aah.. aihh.. cabut lagi, pak! Tolong.. ampun.. sakit! Udah, pak!” Murtiasih membuka matanya yang kuyu berlinang menatap sang pejantan ketika dirasakan bagian intimnya dibelah oleh daging rudal besar.
“Iya, bapak kan sayang Asih.. nih maennya udah pelan begini, masa iya sih masih sakit? Bapak masukin lagi sedikit.. ini pasti gara-gara memeknya si neng yang emang kekecilan, jadinya sakit begini. Tapi enggak apa-apa,pasti muat kok! Dijamin puas.. uuh, sempitnya! Bapak mesti kerja keras lagi nih,” celoteh ustadz Mamat tanpa memperdulikan rengekan gadis yang ditindihnya sambil mendorong batangnya kembali.
Kini kedua tangan ustadz Mamat merangkuh dari arah kiri kanan lutut Murtiasih yang tergantung di bahu, jari-jarinya ikut membantu merentangkan bibir kemaluan Murtiasih ke samping sehingga tampaklah biji klitoris yang sebelumnya terselip tersembunyi di lipatan bibir bagian atas. Tonjolan daging yang mulai memerah itu kini dijadikan sasaran telunjuk dan ibu jari kasar ustadz Mamat.
“Aaih.. gelii.. ngilu.. auw! Tolong, pak, jangan dipelintir lagi itunya.. Asih enggak tahan! Geli.. udah, pak! Sshh.. oohh..” Murtiasih menggelinjang meronta-ronta karena memang klitorisnya masih sangat peka akibat ulah jilatan ustadz Mamat yang menyebabkan ia klimaks tadi. Kini bagian tubuh terpeka itu kembali dijadikan bulan-bulanan usapan jari tangan yang membuatnya menceracau mendesis tak karuan.
“Iya, betul begitu, neng! Enak tenan.. ayo goyang-goyang pantatnya, neng! Oohh.. nih memek mulai ngedut-ngedut mijit-mijit! Uuh, siapa tahan ngadepin godaan kayak begini? Cakep banget si eneng kalau meringis-ringis gitu.. kita bikin anak yang cakep mau enggak, neng?” ustadz Mamat semakin lupa daratan dan mulai menggenjot dengan meningkatkan gerakan maju-mundurnya.
“Jangan, pak! Jangan.. Asih enggak mau hamil! Jangan! Buang di luar, pak! Ooh.. kasihani Asih, pak. Asihenggak mau hamil.. hiks-hiks-hiks,” Murtiasih menangis terisak sejadi-jadinya, mengingat memang saat ini ada kemungkinan dirinya di tengah masa subur.
Pada saat itu muncullah kembali iblis di samping telinga ustadz Mamat sambil membisikkansesuatu, selain itu digunakannya kemampuan mempengaruhi panca indera ustadz murtad itu, dan memang betul : wajah Murtiasih berubah selang-seling menjadi wajah istrinya sendiri : Aida!
Agak terkejut ustadz Mamat melihat pergantian gonta-ganti wajah wanita yang sedang digarapnya akibat pengaruh iblis, namun ia melihat bahwa wajah Aida pun sebenarnya memang cantik juga.
Hanya bedanya wajah Aida seolah sedang mengejeknya dan menanyakan apakah sampai disitu saja kemampuannya sebagai seorang suami yang sedang menyetubuhi istrinya. Seolah-olah Aida menanyakan bahwa dia sama sekali tidak merasakan adanya kemaluan sedang memasuki alat kelaminnya.
Bagaimana pun usaha ustadz Mamat mempercepat dan menusuk sedalam-dalamnya, namun wajah Aida seolah tak mau menghilang dengan senyum ejekannya, membuat ustadz Mamat jadi semakin gusar dan menghunjamkan alat kejantanannya sejadi-jadinya. Telinganya seolah hanya mendengar ejekan-ejekanAida yang mencelanya sebagai suami tak mampu memuaskan istrinya sendiri – padahal yang sebenarnya adalah, kamar itu telah dipenuhi oleh jeritan dan rintihan sakit Murtiasih yang tak berdaya diperkosa habis-habisan oleh gurunya sendiri!
Kini sang iblis menunjukkan kembali kemampuannya mempengaruhi manusia lemah seperti ustadz Mamat, dibisikkannya sesuatu di telinga ustadz itu, sesuatu yang memang selama ini tak pernah dilakukannya terhadap istrinya sendiri yaitu Aida. Sesuatu yang pernah muncul di benak ustadz dan dikemukakannya ketika sedang intim dengan istrinya, namun hal ini dianggap tabu oleh Aida dan ditolaknya mentah-mentah. Sang iblis tahu soal ini dan membujuk ustadz cabul untuk melakukannya sekarang.
“Ayo, kapan lagi? Ini kesempatanmu, jangan biarkan istrimu mengejek dan menghinamu sebagai suami yang tak mampu memuaskannya! Ayo hukumlah istrimu supaya ia tahu kamu yang lebih berkuasa!”
Ustadz Mamat tahu apa yang selama ini ditolak mentah-mentah oleh Aida. “Hhm.. memang sudah waktunya aku renggut kegadisanmu yang kedua. Rasakan betapa sakitnya, itulah hukuman yang harus kamu derita karena mengejek dan menghinaku selama persetubuhan ini!”
Demikianlah tekad ustadz Mamat yang mempersiapkan rudal dagingnya memasuki lubang terlarang di celah pantat. Semuanya adalah siasat dan tindakan iblis, sehingga ustadz Mamat tak menyadari bahwa korbannya bukan sang istri sendiri, melainkan murid kesayangannya yang sedang digarapnya kesekian kali.
Tentu saja ustadz Mamat tak mengetahui bahwa istrinya Aida selama ini pun telah menjadi korban pelecehan pak Sobri dan konco-konconya, bahkan apa yang selama ini dipertahankannya terhadap keinginan suaminya telah direnggut paksa olek pak Sobri.(baca kisah Aida sebelumnya).
Dengan tetap menatap wajah cantik dihadapannya yang seolah-olah terus mengejek-mencemooh, tanpa ragu lagi ustadz Mamat mencabut penisnya yang gagah perkasa dari vagina korbannya, dan meludahinya beberapa kali meskipun telah sangat licin oleh air lendir vagina Murtiasih. Ia juga meludahi lubang kecil kemerahan yang berkerut-berkedut membuka menutup bagaikan sekuntum bunga di bokong Murtiasih.
Murtiasih menarik nafas lega karena penis ustadz Mamat yang menghunjam menyakitinya tiada henti mendadak ditarik keluar, ia merasa sangat bersyukur bahwa gurunya mau mendengarkan permohonannya agar tak menghamilinya.
Tak diduganya sama sekali bahwa iblis ternyata menuntun 9uru durjana itu melakukan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Kecurigaan Murtiasih baru muncul ketika dirasakannya kepala penis yang beberapa detik lalu menghunjam rahimnya, kini mulai menyentuh lubang duburnya. Langsung saja otot-otot lingkar yang amat kuat berkontraksi untuk mencegah benda asing itu menembus masuk, dan kuku-kuku Murtiasih mencakar dada ustadz Mamat.
Namun ustadz Mamat betul-betul sudah kesetanan, tenaganya bagaikan berlipat ganda, demikian pula alat kejantanannya yang semakin kaku membesar siap menggempur menembus otot-otot anus.
“Aah.. auww! S-sakit, pak! Tolong.. perih.. jangan diterusin! Kumohon, lepaskan.. ampun.. jangan masuk disitu.. sakiit!!” lolong Murtiasih yang jeritannya memenuhi kamar tidur, dan pada saat itu barulah ustadz Mamat tersadar. Tapi sang iblis segera menunjukkan muslihatnya dan membisikkan ke telinga Mamat bahwa tindakan itu tak akan menyebabkan Murtiasih hamil, sehingga semua perbuatan maksiatnya tak akan berbenih.
Bagaikan mengalami hipnotis,ustadz Mamat berhenti sebentar dengan perbuatannya, kepala penis kebanggaannya baru saja menembus gerbang anus Murtiasih, dilihatnya Murtiasih mencakari dadanya sambil menangis terisak-isak kesakitan, air matanya membasahi pipinya yang halus.
Apa yang sudah terjadi tak mungkin dibatalkan. Sudah kepalang basah, lebih baik mandi sekalian. Dan memang betul juga, jika aku tak membanjiri rahim muridku maka ia tak akan hamil, pikir si ustadz.
Maka segera dicekalnya kedua pergelangan tangan Murtiasih yang sedang mencakari dadanya penuh rasa putus asa, lalu ditekannya di samping wajah ayu gadis itu sambil berbisik, “Tahan sedikit, neng. Ini supaya neng tidak hamil. Mulanya memang akan terasa ngilu dan sakit, tapi selanjutnya akan hilang. Bapak janji bakal pelan-pelan maennya. Percayalah, bapak sayang sama Asih. Jangan dilawan ya, neng, ntar malah tambah sakit. Rileks supaya bapak bisa masuk,”
Sambil berusaha menghibur, ustadz Mamat menekan semakin dalam, tambah dalam, dan akhirnya… “Aduuh.. auw! Pelan-pelan, pak.. tetep sakit! Asih enggakkuat, ooh..Asih enggaktahan, sakit sekali.. bapak jahat! Sadis amat sama Asih,”
Murtiasih merasakan anusnya perih dan panas bagaikan disayat dan dibelah oleh kayu menyala. Perlahan-lahan jeritannya semakin melemah dan berubah menjadi desahan dan rintihan memilukan. Ustadz Mamat kini mulai bergerak keluar-masuk di anus muridnya yang terasa begitu sempit, dan karena dilihatnya Murtiasih sudah sedemikian lemah dan pasrah tak sanggup melawan, maka nadi yang dicekalnya kini ia lepaskan.
Telunjuk dan ibu jari ustadz Mamat ganti menyelinap kembali diantara bibir kemaluan muridnya, pelan ia mengusap dan memilin-milinkelentit Murtiasih, menyebabkan sensasi baru menerpa tubuh gadis muda yang hanya sanggup menghentak-hentaklemah dan memukul-mukulkantumitnya dengan sia-sia di punggung ustadz Mamat.
“Iyah gitu,pinter banget! Rileks ya, neng.. nih bapak bantuin supaya lebih enak! Bagus amat kelentitnya, neng, bapak geregetan jadinya. Diusap-usap supaya lebih mantap ya, neng?” Demikianlah suara dosen cabul itu terdengar sayup-sayup di telinga Murtiasih.
Tubuhnya yang telanjang bulat penuh keringat kini bergetar akibat menahan gelombang sensasi yang begitu menyiksa, geli nikmat tak tertahan karena klitorisnya terus-menerus dirangsang, bercampur dengan ngilu-perih-sakit di anus yang baru saja ditembus beberapa menit lalu. Semuanya terlalu banyak untuk dapat ditahan oleh tubuh Murtiasih, hingga akibatnya jutaan bintang meledak di ujung syaraf serta di hadapan mata gadis alim salihah itu.
Jutaan volt tegangan listrik juga menyerang dan menyebabkan jeritan orgasme terakhir keluar dari mulutnya. Otot-otot lingkar di anus Murtiasih menegang dan meremas penis ustadz Mamat yang tengah menyiksanya sehingga sang ustadz pun tak sanggup lagi menahan gelora lahar biji pelirnya!
“Aaah.. bapak moncrot nih! Duh nikmatnya.. iya, pijit terus kontol bapak, neng! Oooh.. pinternya nih murid. Dikawinin jadi istri muda bapak, mau neng?” ustadz Mamat menyemburkan spermanya secara bergelombang ke dalam anus Murtiasih sebelum akhirnya kedua insan yang berbeda usia dan kedudukan di masyarakat itu ambruk berpelukan.
Di bawah selimut keduanya tidur menyamping berpagutan. Ustadz Mamat memeluk tubuh siswi muridnya yang mungil langsing membelakanginya. Dirasakannya getaran lemah Murtiasih yang rupanya masih menangis terisak-isak. Saat ini pengaruh iblis agak berkurang dan ada perasaan sedikit menyesal pada diri ustadz Mamat karena menyadari telah melakukan perbuatan yang tak senonoh – merenggut keperawanan Murtiasih yang kedua dan itu pasti lebih sakit daripada yang pertama.
Ustadz Mamat mengelus menciumi pundak dan punggung Murtiasih dengan lembut, dibelainya penuh rasa sayang, berbeda dengan kelakukannya beberapa menit lalu. Dengan suara berbisik ia menyatakan bahwa tak ada maksudnya sama sekali untuk menyakiti muridnya itu. Perlahan-lahan Murtiasih yang memang berbudi sangat halus itu membalikkan tubuhnya dan dengan berlinangan air mata ia menatap gurunya. Keduanya bagaikan sadar dan kembali ke dalam dunia nyat.
Namun semua telah terjadi, nasi telah menjadi bubur. Murtiasih kini telah mengenal dunia terlarang dan dirinya telah ternoda, namun di samping itu ia telah mengalami transformasi menjadi dewasa.
Cerita Sex Pussycat’s Blackman Island
Ia dapat memilih untuk melaporkan semuanya kepada pihak berwajib dan konsekuensinya adalah publikasi di koran serta majalah yang mencari sensasi. Bukan saja namanya sendiri tercemar tapi juga nama keluarga serta madrasah yang baru saja dibuka. Jalan lain yang dapat ditempuh adalah menjadikan semuanya menjadi resmi : ia dapat mengancam gurunya untuk menjadikannya sebagai istri kedua setelah Aida, namun apakah Aida akan mau menerima dirinya dimadu? Adakah jalan yang lebih baik bagi keduanya?
Tanpa disadari oleh ustadz Mamat, akibat pengaruh iblis telah membangunkan naluri hewaniah wanita muda dewasa di pori-pori kulit dan ujung-ujung syaraf Murtiasih. Dunia baru penuh dengan campuran sakit namun nikmat tak terkira telah dicipi oleh Murtiasih – dan itu diawal mula menimbulkan penyesalan, namun di balik itu juga ada keinginan untuk mengalami kembali. Apakah tak ada jalan keluar yang terbaik untuk kedua insan itu?
Satu jam kemudian,Murtiasih, Rofikah, Sumirah, ustadz Mamat serta pak Jamal, pulang kembali ke asrama madrasah mereka. Sementara pak Fikri tetap bermalam di rumahnya yang terpencil dan menjadi saksi bisu dari semua perbuatan maksiat yang baru saja mereka lakukan.
Bersambung…
Ustadz Mamat dan Iparnya
Ustadz Mamat bersiap-siap untuk pulang ke desanya di hari Jum’at itu. Sudah beberapa hari ini ia uring-uringan karena Murtiasih, murid kesayangan sekaligus jugasimpanannya, sedang sakit sehingga tidak masuk sekolah. Selain itu kedua murid lainnya yang genit dan terkadang dapat dijadikan pengganti Murtiasih di ranjang, yaitu Sumirah dan Rofikah, agaknya lebih asyik dengan dua pejantan lainnya yang telah merenggut kegadisan mereka, yaitu pak Jamal dan pak Fikri.
Kedua pejantan dan kedua pelajar madrasah itu telah terbuai dan tenggelam didalam lumpur kemaksiatan, sehingga mereka sama sekali tak tertarik untukmenggoda 9uru mereka yaitu ustadz Mamat. Mereka bahkan saling bertukar dan bergonta-ganti pasangan tidur – tak kalah dengan kehidupan seks selebs di kota besar. Karena itu ustadz Mamat merasakan ‘kekeringan’ dan berharap agar week-end ini bisa pulang ke desanya untuk menagih jatah kepada istrinya sendiri, yaitu Aida.
Namun apa mau dikata, sehari sebelumnya, yaitu Kamis malam, ustadz Mamat mendapat kabar dari istrinya bahwa teman akrab istrinya sejak sebelum sekolah mengalami keguguran dan masuk rumah sakit karena ada komplikasi pendarahan. Karena itu Aida akan pergi mengunjungi teman akrabnya itu di rumah sakit yang terletak di kota agak jauh. Jika sudah terlalu malam maka Aida akan menginap dirumah orang tua temannya itu karena jalur bus antar kota sudah tak ada.
Ustadz Mamat tak pernah mengetahui bahwa alasan yang diberikan istrinya itu hanya separuhnya benar, karena istrinya Aida tidak naik bus antar kota, melainkan akan pulang pergi diantarkan oleh… pak Sobri, dan menginapnya di rumah pak Fikri!!!
Karena itulah ustadz Mamat sangat kesal dan menggerutu sepanjang perjalanannya menuju ke desa tempat tinggalnya, gairahnya sebagai lelaki telah menggelora dan membutuhkan penyaluran. Tak terasa akhirnya Mamat melenggut dan tertidur di dalam bus. Dalam mimpinya terbayang semua wajah wanita-wanitamuda cantik yang pernah ditidurinya, mulai dari istrinya Aida, Rofikah, Sumirah serta Murtiasih yang paling muda dan paling banyak memberikannya kepuasan sebagai lelaki.
Apa yang tak diketahuinya adalah adik perempuan istrinya yang termuda yaitu Asmi Maharani, dengan panggilan sehari-hari Rani, week-end itu akan mudik pulang ke kampung untuk menengok kakaknya yaitu Aida yang telah lama tidak dikunjunginya. Rani masih sekolah menengah kelas akhir di Bandung. Sebelum pulang ke rumah kakaknya yang tertua itu, Rani mampir dulu ke tempat kakaknya yang lain yaitu Farah (Baca prequel : Farah dan pak Burhan).
Akhirnya ustadz Mamat tiba di desanya dan dengan penuh kejengkelan ia perlahan-lahan berjalan kaki dari bus halte menuju rumahnya. Sesampainya dirumah, ia langsung mandi dan menghempaskan diri ke bangku yang terbuat dari bambu di belakang rumah.
Di situ dilihatnya pelbagai pohon buah-buahan yang selama ini dipeliharanya dengan seksama telah menampakkan hasil : ada jambu klutuk, kedongdong dan pepaya.
Mamat merenung dan menyadari bahwa selama ini ia agak mengabaikan semua yang berkembang di rumahnya. Dipejamkannya mata dan diingat-ingatnya kapan terakhir kali ia menggauli istrinya Aida. Agak malu ustadz Mamat menyadari bahwa ia telah lupa kapan istrinya itu diberikannya nafkah jasmani yang selayaknya harus diberikan sebagai suami yang sah.
Ustadz Mamat mengambil galah bambu panjang lalu dipetiknya beberapa kedongdong, beberapa jambu klutuk, serta satu pepaya. Dibawanya ke dalam karena hujan mulai turun dan di dapur dilihatnya bahwa Aida telah menyediakan pepesan tempe serta urap-urap kesukaannya, sebelum ia pergi mengunjungi teman akrabnya.
Terasa betapa sepinya rumah tanpa istrinya Aida dan ustadz Mamat menarik nafas panjang sambil berjanji akan memanjakan Aida jika pulang.
Pada saat itu didengarnya beberapa kali ketukan di pintu depan disertai dengan suara wanita…
Ustadz Mamat mengintip dari balik jendela ruang tamu dan melihat di depan pintu rumah berdiri seorang wanita muda berbusana baju kurung dengan jilbab berwarna putih.
Wajah wanita muda itu agak terlindung payung karena memang diluar hujan rintik-rintik, namun ustadz Mamat dapat mengenali langsung karena penampilan gadis muda itu banyak persamaaannya dengan Aida istrinya.
Tidak salah lagi, itu adalah adik Aida yang paling bungsu, yaitu Asmi Maharani atau biasa dipanggil Rani oleh teman-temannya. Hal ini sangat tak diduga oleh Mamat karena biasanya kedatangan Rani selalu diberitahukan terlebih dahulu kepada kakaknya Aida. Kali ini pun Rani telah memberitahukan sehari sebelumnya, namun karena agaknya Aida telah dipenuhi benaknya oleh temannya yang masuk rumah sakit sehingga lupa diteruskan kepada ustadz Mamat, suaminya.
Selain itu Aida memang menerima telpon dari adiknya itu ketika sedang sibuk melayani pak Sobri yang lagi memuaskan nafsu birahi di tubuh istri sang ustadz. Tak heran jika Aida tanpa banyak pikir panjang menerima tawaran pak Sobri untuk mengantarkannya ke rumah sakit dimana teman akrabnya dirawat.
Memang dalam waktu hanya beberapa bulan Aida telah berubah akibat kemahiran pak Sobri, dia yang awalnya seorang ustazah dan istri alim shalihah, kini berubah menjadi wanita dewasa binal yang mengenal semua teknik percintaan. Kelalaian Aida ini akan mengubah nasib adiknya….
Tanpa terasa darah ustadz Mamat berdesir melihat gadis muda adik istrinya itu – dan memang dari ketiga adik perempuan Aida, Rani inilah yang paling miripdengan istrinya. Karena hujan rintik-rintik semakin lebat, maka ustadz Mamatsegera membukakan pintu dan Rani pun lekas-lekas masuk sambil memberikan salam sebagaimana lazimnya.
“Assalamualaikum, bang Mamat. Apa kabar nih? Kak Aida pasti sudah pulang dari rumah sakit mengunjungi temannya,” Rani menaruh payung yang dipakainya dibalik pintu.
“Mungkin sebentar lagi dia pulang, masuklah nanti basah kena hujan dan sakit masuk angin,” jawab dusta ustadz Mamat sopan santun karena tahu Aida tak akan cepat pulang. Jantungnya mulai berdebar keras serta matanya melirik ke arah wajah ayu manis Rani, serta tubuhnya yang meskipun terbalut baju kurung namun tak dapat menyembunyikan tonjolan-tonjolan kewanitaannya.
“Pasti adik Rani sudah lapar, di dapur masih cukup masakan yang tadi dibuatsama Aida sebelum ia pergi mengunjungi temannya. Silahkan dipanasi dan dimakan apa yang Rani inginkan, tak usah sungkan-sungkan. Abang sendiri sudah makan dan mau ke warung untuk beli minyak tanah,” lanjut ustadz Mamat berusaha menenangkan Rani karena merasa agak canggung berduaan dengan ipar laki-lakinya. “Setelah itu abang akan melawat ke tetangga yang minggu lalu meninggal sehingga abang baru akan pulang larut nanti dan pasti Aida udah pulang.”
“Iya, terima kasih, Bang. Nanti saya urus diri saya sendiri, jangan repot dan silahkan kalau mau ke warung, tapi pakai payung karena hujan agaknya semakin lebat,” demikian Rani dengan tetap memakai jilbabnya masuk ke dapur untuk memanaskan makanan yang akan segera dinikmatinya.
Ustadz Mamat tersenyum memuji dirinya sendiri yang sanggup dalam waktu amat singkat mencari akal bulus sehingga sang ipar cantik akan tetap menunggu sendirian di rumahnya, sementara itu ia akan bersembunyi di warung untuk minum kopi dan sesudah itu kembali ke rumahnya untuk…
***
Satu setengah jam kemudian …
Dengan bantuan suasana di luar yang sudah gelap maka ustadz Mamat kembali ke rumahnya lewat jalan memutar belakang, dengan demikian sama sekali tak terlihat orang lain karena letak rumahnya jauh dari jalan besar, selain itu jugatersembunyi di balik pelbagai pohon rimbun. Ustadz Mamat tahu kebiasaan ipar termudanya ini, yaitu mandi sepuas-puasnya setelah selesai melakukan ibadah maghrib.
Dari luar Mamat mendekati bagian belakang rumahnya sebelah kiri karena di bagian itulahletaknya kamar mandi – dan dari suara guyuran air maka ia mengetahui bahwa iparnya Rani sedang mandi.
Perlahan lahan Mamat memasuki rumahnya lewat pintu samping belakang, dan sambil menunggu Rani selesai mandi maka ustadz yang telah dikuasai iblis sepenuhnya itu bersembunyi di balik lemari besar di kamarnya sendiri. Sebelumnya ia sempat melongok ke dalam salah satu kamar tidur lain yang memang hanya dipakai jika ada tamu, terutama oleh ketiga iparnya yang cantik-cantik : Farah, Sri Lestari dan Asma Maharani alias Rani.
Hampir setengah jam lamanya ustadz Mamat menunggu sampai tak terdengar lagi suara guyuran air di kamar mandi, inilah yang ditunggu oleh Mamat yanglangsung berjingkat-jingkat meninggalkan kamar tidurnya sendiri lalu masuk kekamar tidur tamu dan menanti di belakang pintu yang agak terbuka.
Lima menit kemudian terdengar pintu kamar mandi terkuak dan Rani keluar dengan tubuh ditutup rapat oleh baju kurung. Mamat mendengar langkah kaki memakai sandal yang berjalan tergesa-gesa ke arah kamar tidur tamu. Sejenak kemudian pintu terbuka dan Rani melangkah masuk.
“Fffffhhhhhssssmsshfff… nnghhhfffhhhhfff…” Rani menjerit kaget saat tiba-tiba tubuhnya dirangkul oleh seseorang.
Cepat dia menghentak-hentakkan kakinya serta meronta sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari rangkulan ustadz Mamat yang mendekap pinggangnya yang langsing. Kepalanya berusaha menggeleng ke kiri dan ke kanan karena mulutnya dibekap sekuat tenaga oleh kakak ipar lelakinya yang sama sekali tak diduga akan melakukan hal semacam ini. Rani tak pernah menyangka bahwa kakak iparnya yang selama ini dikenal sebagai ustadz sholeh, kini malah merencanakan perbuatan maksiat terhadap dirinya.
Rani mengharapkan agar kakaknya Aida segera tiba setiap saat dan dapat memergoki suaminya yang melakukan perbuatan tak senonoh ini. Rani tak tahu bahwa Aida malam itu tak akan pulang karena sedang mengunjungi temannya di RS diantarkan oleh pak Sobri yang telah menjadi kekasih gelapnya sejak beberapa waktu lalu.
Aida tak menyadari pula bahwa sepulangnya dari RS setelahmengunjungi temannya, ia akan dibawa ke tempat lain oleh pak Sobri, yaitu kerumah pak Fikri untuk dinikmati bersama oleh kedua lelaki durjana itu.
“Ssssshhhhh.. Rani maniiiissku, aku sudah lama memimpikan tubuhmu meronta menggeliat dalam pelukanku! Sssshhhhhhhh.. nikmati aja lah, nanti aku berikan hadiah yang paling berharga dan kamu pasti akan ketagihan! Ssssshhhhh… Rani, kakakmu sedang sibuk dan tak pulang malam ini,” ustadz Mamat melanjutkan niat maksiatnya.
Kini diseretnya Rani ke arah kamar tidur meskipun korbannya masih berusaha melawan sekuat tenaga, namun tak lama kemudian mereka telah berada di tepi ranjang. Tanpa banyak kesulitan ustadz Mamat menghempaskan tubuh Rani keatas ranjang, sekaligus ditindihnya dan mulutnya dengan rakus mulai menciumi bibirtipis Rani sambil kedua tangannya berusaha mencabik dan melepaskan baju kurung gadis itu.
Sia-sia saja Rani melawan sekuat tenaga karena ustadz Mamat telah menindih badannya, bahkan kini tubuhnya dibalikkan hingga telungkup. Dalam posisi ini semakin sukar bagi Rani untuk menggunakan kaki dan tangannya secara effektif, kedua nadinya dicekal ditelikung dan agak dipelintir di belakang punggung. Jeritan kesakitan Rani tak dapat keluar seluruhnya karena wajahnya tertelungkup dan tertekan ke arah bantal di bagian kepala ranjang.
Menggunakan sabuk ikat pinggangnya, Ustadz Mamat segera mengikat erat-erat kedua nadi Rani ke arah punggung. Setelah ia melihat Rani semakin sukaruntuk melawan karena tangannya terikat, maka mulailah ustadz Mamat melepaskan semua pakaiannya sendiri.
Tindakan selanjutnya ustadz yang kemasukan iblis ini adalah melorotkan baju kurung, sarung dan gamis serta sekaligus juga celana dalam Rani. Celana dalam yang dirasakannya agak lembab basah itu diciuminya sebentar penuh nafsu birahi, juga digosok-gosokkan ke penisnya yang telah mengacung berat. Baru setelah itu dibaliknya tubuh Rani dan sebelum gadis itusempat berteriak, mulutnya yang mungil langsung disumpalnya dengan celana dalamnya sendiri.
Kini Rani hanya dapat menatap Mamat dengan penuh rasa marah sekaligus ketakutan, sementara ustadz cabul ini melanjutkan melepaskan kebaya Rani serta kedua BH-nya yang berukuran 34C….
Lima menit kemudian tubuh Rani telah telanjang bulat menggeletak di ranjang dihadapan ustadz Mamat, kakak iparnya yang juga telah telanjang bulat dengan penis mengangguk-angguk amat gagah.
Rani melengoskan kepala karena sangat malu mengahadapi pemandangan yang sama sekali tak pernah ia duga akan dialami sebelum memasuki malam pernikahan. Air matanya mulai mengalir di pipi karena sadar bahwa dia dalam keadaan yang tak berdaya menghadapi kakak iparnya yang tengah dirasuki iblis, yang tak pernah diduganya akan melakukan hal ini terhadap dirinya.
Rani berusaha meronta-ronta dalam posisi tubuh menyamping sambil menekuk dan merapatkan kedua pahanya sejauh mungkin, sehingga diharapkannya semua bagian vital dan intimnya dapat tersembunyi dari tatapan liar Mamat. Dengan sekuat tenaga Rani berusaha melepaskan kedua pergelangannya yang terikat dipunggung oleh sabuk ikat pinggang, namun sampai saat ini hanya sia-sia belaka.
Ustadz Mamat kini telah merebahkan kembali tubuhnya di samping Rani, digolekkannya tubuh gadis manis itu kembali telentang, lalu dengan paksa dibukanya paha Rani yang tegang merapat.
Lutut kiri Rani diletakkan dan ditekan ke ranjang oleh ustadz Mamat, kemudian ditindihnya dengan lutut kanannya, sementara kedua tangannya dengan dibantu lutut kirinya mendorong lutut Rani ke samping. Sekuat-kuatnya Rani melawan namun kalah tenaga sehingga perlahan-lahan kedua pahanya terbuka dan muncullah pemandangan yang sangat-sangat merangsang : selangkangan seorang gadis shalihah yang tak pernah terjamah oleh gadis manapun.
Walaupun ustadz Mamat telah beberapa kali melihat pemandangan serupa,namun selangkangan iparnya yang masih sedemikian muda ini membuatnya blingsatan. Dengan rasa birahi tak tertahan Mamat segera meletakkan tubuhnya diantara paha sang adik ipar sambil ciumannya menghujani leher jenjang Rani.
Bahkan tak hanya mencium, namun juga menjilat-jilat bagaikan hewan buas sebelum menyantap mangsanya. Ciuman dan jilatan lidah Mamat memasuki pula kedua telinga Rani secara bergantian hingga menyebabkan rasa geli tak terkirayang membuat gadis muda ini mulai menggeliat dan mendesah penuh keresahan.
“Cuuppp, cuuppp, hmmmmh… geli nggak? Tapi enaak, kan?! Jangan ngelawan,nduk, nikmati saja! Ntar juga ikut ketagihan… bagus amat tetek kamu, abang jadi pengen nyusu, hhhmmh…” ustadz Mamat kini mulai menggerayangi bukit kembar didada Rani dan mulai meremas-remasnya dengan gemas sambil menyedot-nyedotrakus putingnya yang mungil, menyebabkan Rani semakin meronta marah.
Tak pernah hal ini dialami oleh gadis yang alim ini. Jiwanya menolak perlakuan tak senonoh iparnya ini, namun di sisi lain hormon kewanitaannya mulai terbangun akibat rangsangan itu.
Karena kedua pergelangan tangannya masih terikat di punggung dan dalam keadaan terlentang Rani merasakan sakit dan ngilu di sendi bahunya. Hal ini rupanya disadari oleh ustadz Mamat, dan kembali ia membalikkan tubuh Ranimenelungkup, namun tetap ditindihnya sambil dilepasnya ikatan sabuk di pergelangan tangan mangsanya.
Merasakan kedua tangannya terlepas, Rani berusaha untuk melawan dan mencakar, namun ustadz Mamat rupanya telah siap mengatasi hal itu. Dalam posisi tertelungkup maka sukar bagi Rani untuk melawan, apalagi tubuhnya ditindih olehMamat yang memeluk pinggangnya dari arah belakang menggunakan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menjalar ke arah perut Rani, lalu ke pusar, dan terusmengembara menuju ke arah selangkangan gadis muda itu.
Dengan panik Rani mencakar dan mencubiti tangan serta paha Mamat dengancukup keras, namun sama sekali tak dipedulikan oleh laki-laki itu. Jari-jari tangan kiri Mamat kini malah menjalar dari pinggang menuju ke arah puting buah dada kanannya. Mamat memijit, memilin dan mencubitnya dengan gemas hinggamembuat Rani sampai menjerit-jerit.
Jari-jari tangan kanan Mamat telah mencapai bukit venus Rani dan rambut halus penghias kemaluan gadis itu mulai dicabut-cabutnya pula dengan sadis, yang mana membuat Rani semakin memekik kesakitan.
“Hssssst, sssssshhh… tenang, manis! Kan udah dibilang jangan menjerit, jangan ngelawan, santai dan nikmati aja! Cupp cuppp, aaaaaah… abang jadi gemes banget nih, dicupangin telinganya ya,” Mamat kembali menjulurkan lidahnya bergantian ke liang telinga Rani kiri dan kanan, sambil sesekali diselingimencupangi leher samping dan belakang gadis muda itu.
“Hiiiikkss, hhikkkks… abang, jangan begini dong! Kasihani Rani, kan abang udah punya Kak Aida! Jangan bikin malu saya, bang! Insyaaaf, bang! Saya enggak akan bilang siapapun.. tolooong, bang! Jangaaan!!!” Rani berusaha menasihati iparnya karena sadar sebentar lagi ia akan kehilangan milik satu-satunya yang paling berharga.
“Nggak apa-apa, nduk. Ini permainan kita berdua, nggak ada orang lain yang perduli dan tahu. Ikutin aja hasrat badan kamu.. mulai kerasa enak kan? Ngaku aja deh, ntar kamu pasti akan ketagihan minta nambah,” ustadz Mamat tak perduli dengan isak tangis korbannya, sementara jari-jari nakal tangan kanannya berusaha membelah bibir kemaluan Rani dan mencari biji kelentit pusat kenikmatan wanitamuda itu.
Rani merasa sangat malu dan berusaha mengelak dengan menggoyang-goyangkan pinggulnya yang montok padat ke kiri dan ke kanan, namun hal ini ditafsirkan oleh Mamat bahwa korbannya mulai merasakan kenikmatan. Akhirnya ibu jari dan telunjuk Mamat berhasil menemukan itil Rani dan langsung dijepitnya dengan kedua jari, lalu dipilin-pilinnya seperti yang ia lakukan pada kedua puting buah dada Rani yang kini telah terasa mengeras.
Rani tak menduga sama sekali betapa tubuhnya sebagai wanita muda dan sehat akan merespons rangsangan itu : setiap sentuhan apalagi pilinan jari tangan Mamat di kelentitnya bagaikan aliran listrik yang menyengat tajam. Dia benar-benartak berdaya untuk menolak apalagi melawan karena tubuhnya tertindih pasrahsehingga ia hanya dapat merintih-rintih saja.
“Aaaiiih.. ooooohh.. eennggff.. sssssh.. aaauuuuw.. udaaaah, baang, ngiluuuuu..geliiii, lepasiiin aku! Tolooong, bang, udaaaaah.. hiiks, hiikks.. toloooong, kasihaniaku, bang!!” Rani mulai merasakan tenaganya berkurang, dan ini pun dirasakan oleh Mamat yang justru kini semakin meningkatkan usaha dan rangsangan agar mangsanya ini terkuras seluruhnya ketika nanti mengalami orgasme.
“Hmmmh.. nduk mulai keenakan ya? Tunggu bentar lagi, pasti nduk akan masuk surga ke tujuh, hehehe.. jari abang mulai dimandiin ama liur memek nduk nih, hmmh.. mulai licin nih lobang,” ustadz Mamat semakin getol menggoda iparnya yang masih lugu dan masih belum berpengalaman itu.
Rani merasakan wajahnya memerah panas hingga ke kedua telinganya karena malu mendengar celoteh rayuan itu, namun ia pun harus mengakui bahwa tubuhnya semakin terangsang oleh belaian ustadz Mamat. Semua rontaannya sama sekali tak memberikan hasil, jari-jari tangan Mamat tetap nangkring dan mengaduk-adukdiantara bibir kemaluannya, mengusap dan mencubit-cubit klitorisnya, sementara putingnya juga mengalami perlakuan sama.
Gelombang demi gelombang kegelian dan kenikmatan menjalar dari pusat kewanitaan Rani menuju ke kulit badannya yang merinding, kemudian mencapai susunan syaraf pusat di kepala dan kembali ke liang senggamanya, hinggaakhirnya berlawanan dengan rasa penolakan akal sehatnya, Rani malah tak sanggup lagi menahan orgasme pertamanya.
Tubuhnya yang masih tertelungkup ditindih ustadz Mamat bergetar hebat sebelum kemudian kaku dan mengejangkencang. Rani menggigit sprei penutup kasur saat semua itu terjadi.
“Uuuuuggggh.. mffffffhhh.. sssssffffhhh..” hanya desis dan desah putus asa itu yang terdengar keluar dari bibirnya.
Tanpa mempedulikan keadaan Rani yang masih orgasme, ustadz Mamat tetap mengulik dan menggaruk-garuk ujung kelentit si gadis muda yang kini telah berubah menjadi super peka. Beberapa menit kemudian terasa oleh Mamat bahwa tubuh korbannya mulai berkurang kekejangannya, dan dari hembusan nafas Rani yang sebelumnya sangat mendesah cepat, kini mulai agak tenang.
Merasa yakin bahwa mangsanya telah dapat ditaklukkan sepenuhnya, maka ustadz Mamat membalikkan tubuh Rani kembali menelentang. Kedua nadi tangangadis itu dicekal dan direntangkannya ke samping kepala.
Ustadz Mamat menindih kembali tubuh bugil Rani dan ia meletakkan dirinya diantara paha mulus yang kini terkuak lebar. Mati-matian Rani berusaha menutup selangkangannya, namun sang ipar lelaki yang telah dikuasai nafsu birahi itu jauh lebih cepat dan kuat menekan paha putih semampainya ke samping.
“Jangaaan, bang! Jangan nodai Rani! Ingat, bang, aku kan adik ipar abang! Sadarlah, Aida kan istri abang! Hiikks, hiikkss… aku nggak akan ngadu sama siapapun, termasuk juga sama Kak Aida,” Di tengah rasa putus asa dan isak tangisnya, Rani masih berusaha menyadarkan ustadz yang kerasukan itu.
“Udahlah, nduk! Udah kepalang basah, kita mandi aja sekalian. Kamu barusan udah ngerasain enaknya kan? Itu baru permulaan, nduk. Ntar nikmatnya berlipat ganda,” ustadz Mamat tetap dengan gemasnya meremas-remas kembali kedua puting mungil di dada Rani, sementara tubuhnya kian merosot ke bawah.
Bibirnya mengembara di sekitar pusar Rani, lalu menjalar ke bawah mendekati bukit Venus yang terlindungi bulu-bulu halus mengelilingi celah kegadisannya yang sempit. Ciuman panas dan jilatan lidah basah Mamat kini memasuki daerah terlarang itu: bukit kemaluan Rani yang masih belum pernah dilihat oleh lelaki lain.
Nafas hangat ustadz cabul itu menyerang bertubi-tubi di lipatan paha selangkangan Rani, menjalar ke paha yang menghentak meronta kegelian, lalukembali ke arah pusar, dan turun ke lembah mungil yang berbulu halus.
Lidah kasap Mamat menjalar bagaikan ular kecil menyelinap diantara bibir kemaluan berwarna coklat muda kemerahan, menyentuh dindingnya, menjulur kedalam mencari selaput pertahanan nan tipis, lalu kembali ke atas diantara lipatan pelindung dan akhirnya menyentuh pusaka kecil nan peka.
“Hhhhhmmmhh.. ini dia yang abang cari! Ci-luk-ba, ci-luk-ba.. cupp, cupp..hhhmmh.. di-gowel enak ya, nduk? Wuuuiih.. udah mulai keluar lagi nih sumber madu perawan.. sluurrp, sluuurrp.. aaaah..” Mamat ngoceh tiada hentinya sambil memusatkan jepitan bibir dan juluran lidahnya ke kelentit Rani.
“Ooooohh, baaang! Geeliiiii, udaah… aku lemees! Aaaaaaaah.. aaaih, bang! Aaaaoooh.. stop, udaah, bang! Rani mau pipis lagi.. aaaaihhhhh.. hiks, hiks..udaah.. oooh.. hiyaaaah!!” Rani menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan kekanan seolah tak percaya apa yang sedang dialaminya sekarang.
“Hhhmmmhh.. iya betul, manis.. enggak usah malu ama abang! Pipis aja yang banyak, licinin memek nduk.. jadi ntar lancar masuknya nih adek abang yang udah nggak sabaran, hhhmmhh..” ustadz Mamat merasakan lidahnya terjepit diantara bibir kemaluan Rani.
Tak lama kemudian lidah itu terasa bagaikan diurut-urut dan diremas-remasoleh dinding vagina Rani, sekaligus ludahnya yang membasahi bibir kemaluan Rani tercampur pula oleh lumasan lendir yang memancar keluar. Mula-mula terasa agak asam, namun tak lama kemudian berubah menjadi agak sepat dan akhirnya tanpa rasa tertentu, hanya kelicinan yang menyambut permukaan bibirnya sendiri, bahkan sempat membasahi kumis kecilnya.
“Aaaaaah.. ooooooh.. duh gusti.. oooooohhhh.. aaaaah.. ampuun, bang! Gelii..udaah.. aaaaih.. aku keluar pipisnya! Oooohh… baang!!” Rani tak sanggup lagi menahan semua rangsangan yang menyerang tubuh mudanya – kembali diamenegang dan mengejang-ngejang.
Wajahnya menengadah ke atas, kedua matanya kuyu mengarah ke langit-langit, nafasnya mendesah melalui lubang hidung yang kembang kempis serta mulutnya yang setengah terbuka. Selain itu tanpa sadar Rani memegang kedua buah dadanya sendiri dan meremas-remasnya, menandakan naluri wanita dewasa yang sedang dilanda oleh gelora birahi memuncak. Hal itu sangat memuaskan ‘ego’ ustadz Mamat yang bangga dapat membangkitkan nafsu seorang gadis alim shalihah. Kini tinggal selangkah lagi untuk mengubah iparnya itu dari status ‘gadis’ menjadi seorang wanita dewasa!
Ditatapnya geliatan tubuh Rani yang langsing namun padat itu, kaki jenjanggadis itu ditarik dan diletakkannya di atas bahu, sementara ibu jari serta telunjuknya menyibak belahan bukit Venus milik Rani. Terlihat dinding vagina yang mengkilat basah terlumas oleh lendir kewanitaan. Dengan tangan kanannya Mamat mengarahkan kejantanannya yang telah menegang mengacung ke atas menuju bagian tengah belahan itu.
Setelah kepala jamurnya terjepit diantara bibir lembutyang berwarna kemerah-merahan, perlahan-lahan ustadz Mamat memajukan pinggulnya sambil kedua nadi Rani dicekalnya erat-erat.
“Aduh, aduduh.. aaaaauuuuwww! S-sakiitt, baaang! Udah.. keluariin.. Rani nggak tahan sakitnya, bang! Oooooouuu.. hikks, hikkss.. abang jahaat! Auuuuwww..kumohon, baang! Sakiiit!!” Rani menjerit memilukan hati pada saat ustadz Mamat mulai menodainya.
Wajahnya yang ayu cantik menggeleng ke kiri dan ke kanan. Meski kedua nadinya dicekal tak mampu bergerak, namun kepalanya membuka menutup membentuk tinju kecil. Pinggulnya berusaha menggeser ke kiri kanan untuk menghindaro hunjaman kemaluan ustadz Mamat, namun semua sia-sia saja karenaujung penis bagaikan kepala jamur kini semakin menerobos ke dalam dan akhirnya terhenti karena tertahan selaput tipis.
Hal ini juga dirasakan oleh ustadz Mamat yang mulai banyak pengalaman merenggut kegadisan wanita; bukan hanya Aida istrinya, namun juga murid-murid di madrasahnya, dan kini iparnya yang muda lagi lugu.
Dinikmatinya wajah Rani yang kesakitan, mata gadis itu membelalak penuh air mata, sementara nafas dan rintihan halus keluar dari belahan bibirnya yang manis setengah terbuka. Tak tahan dengan nafsu birahinya sendiri, ustadz Mamat melumat kembali bibir basah terbuka itu, dijulurkannya kembali lidahnya ke dalam rongga mulut Rani yang harum.
Sementara itu pinggulnya semakin maju menekan tirai tipis selaput kegadisan milik Rani, dinding licin vagina iparnya terasa mengerut menjepit ingin menolak dan mengeluarkan batang daging yang sedang menyiksanya, menolak nasib malang yang tak mungkin terelakkan.
“Hmmgrh.. peretnya nih memek! Alot juga pertahanannya si nduk, tapi abang udah mau masuk nih.. uuuuhh.. tahan dikit lagi ya, nduk! Mmmmmmmhh… akhirnyajebol juga! Wuiih, enak tenaaan!!” ustadz Mamat akhirnya berhasil menjebol kegadisan Rani, lolongan dan jeritan kesakitan iparnya ia bungkam secara ganas dengan mencium mulut Rani penuh kerakusan dan nafsu birahi.
Rani hanya dapat menggelepar dan menggeliatkan tubuhnya secara sia-sia karena tetap ditindih oleh tubuh Mamat. Tanpa rasa kasihan dan tanpa memperdulikan isak tangis Rani yang kesakitan tak terkira karena sudahdiperawani secara brutal, maka Mamat mulai dengan gerakan memompa maju mundur. Cabikan sisa selaput dara yang masih berdarah dan peka di dalam vagina Rani kini digesek-gesek oleh batang daging perkasa sehingga semakin terasa sakit dan perih. Akibatnya Rani jadi merintih-rintih.
Amat berbeda dengan Rani yang kesakitan, maka ustadz Mamat sangat menikmati ulah jahanamnya. Ciumannya yang sedemikian rakus terusmembungkam mulut Rani, menyebabkan korbannya sukar untuk sekedar bernafas. Kedua pergelangan tangan Rani yang sejak tadi direjang dicekal kini telah dilepaskan, tangan Mamat ganti merengkuh kedua paha Rani yang demikian jenjang halus dan dipaksanya untuk merangkul pinggangnya seolah-olah Raniadalah seorang istri yang sedang menikmati ML dengan suaminya.
Tak cukup sampai disitu saja, setelah Rani yang telah lemas digagahinya itu menuruti keinginan merangkul pinggulnya yang tetap saja memompa maju mundur, maka kedua tangan ustadz Mamat kembali menggerayangi bukit kembar Rani yang tertindih dadanya. Diremas-remasnya bergantian kiri dan kanan, terkadang lemah lembut, terkadang gemas kasar, sekaligus lidahnya menyapu, menjilat, sambilgiginya menjepit kedua puting yang telah mengeras itu, digewel-gewelnya, jugadigigit dan ditarik-tariknya pula.
“Hmmmmmh.. ssshhhh.. legitnya nih tetek, abang mau nyusu ah! Cupp-cuppp..hehehe, geli ngilu ya, nduk? Halus mulus, hhhmmmhh… abang bikin cupangan ya, gigit lagi ah, hehe!!” Tak henti-hentinya ustadz Mamat berceloteh sambil menggenjot mangsanya habis-habisan bagaikan sang iblis selalu menambahkan stamina, sementara Rani semakin lemah, lemas dan pasrah tak berdaya.
Bagaimanapun penderitaan dan sakit yang dialaminya, namun perlahan-lahan timbul perasaan dan gejolak lain di dalam tubuh gadis itu. Semua tindakan pelecehan yang dialaminya, kasar atau lemah lembut, sakit – ngilu – perih, kini tercampur pula dengan kehangatan, panas, gatal dan juga rasa nikmat yang tak pernah diduga maupun dialami sebelumnya. Orgasme yang beberapa saat lalu hadir, kini mulai ‘dipersiapkan’ lagi oleh gelora hormon wanita muda yang dipaksa keluar oleh Mamat.
“Aaaaah.. ooooohhh.. udah, bang! Aku nggak tahan lagi, oooohh… Rani nggaksanggup lagi melayani abang! Udah, baang.. perih!! Aaaaaaiiiihh.. aaaauuuww..aaaaah.. oooohhh.. ngiluuuu.. ssshhhh..” Rani mengeluh dan mendesah melalui belahan bibir dan hidung bangirnya yang kembang kempis.
“Hhhmmmh.. duuuuuh, cakepnya nduk pas lagi dijarah.. mulai enak kan? Jangan ditahan, nduk, ikutin aja.. nyerah dan pasrah ya, nduk, ntar lagi pasti ketagihan! Ngaku deh, nduk.. ayo bilang, nikmat nggak? Nih abang tambahin lagi jedugannya biar mantap, nikmat kan? Ngaku deh,” Mamat semakin ganas menggenjot habis-habisan mangsanya yang telah tak sanggup melawan lagi.
“Ooooh.. abang jahat! Rani sakit, bang! Oooooh.. aaiiihh.. shhhhhhh.. aaaahhh..auuuw.. aauuw.. abang mainnya sadis! Aaaauuuw.. oooohh.. Rani nyerah, lepasin dong! Mau pipis lagi,” Rani menggeliat meronta dan merintih memelas sambil menatap Mamat dengan muka kuyu mohon dikasihani.
Wajah sedemikian manis tak berdaya dan berjengit meringis kesakitan setiap kali kepala penisnya menghantam mulut rahim mangsanya itu menyebabkan kejantanan Mamat semakin membesar dan gejolak lahar kelelakiannya mulai mendidih ingin muncrat keluar dari kedua biji pelirnya. Ustadz cabul ini semakin mempercepat ritme pompaannya, maju mundur, ke atas dan ke bawah, lalumemutar dan kembali menghantam mulut rahim.
Rani bagaikan hanyut oleh gelombang laut yang meninggi, lalu menghempaskannya ke bawah, melemparkannya ke atas, berputar-putar,menyebabkannya jadi semakin pusing setengah pingsan. Dia telah mendekati batas kesadarannya dan daya tahan malunya, sampai akhirnya…..
“Aduh, bang! Tolooong.. auuuuuuww.. ampuuuunnn.. ampuuuuun.. lepasin, Rani mau pipis! Aaaahhhh.. aaaaiiihhh.. ssssshhh.. ooohhhhh..” Tanpa menyadari statusnya sebagai gadis alim shalihah, akhirnya Rani dilanda oleh orgasme kedua yang jauh lebih hebat daripada yang pertama. Wajahnya menengadah ke atas, matanya terbalik dan hanya terlihat pelupuk putihnya, sementara hidung bangirnya kembang kempis dan mulutnya terbuka.
“Ooooohhh.. abang juga mau banjir nih! Iya gitu, jepit barang abang! Iya, peres keluar santennya! Nih keluar… duh, enak tenan ngewein perawan alim!!” Mamat akhirnya memeluk tubuh telanjang Rani yang mengejang, dan keduanya berdengus bagai dua hewan yang sedang berkelahi mempertaruhkan nyawa.
Tubuh keduanya mengkilat oleh keringat yang membasahi dan kini telah bercampur menjadi satu, sebelum kemudian menggeletak tindih-menindih….
Setengah jam kedua insan berlawanan jenis itu berangkulan dalam keadaantubuh telanjang di bawah selimut tipis. Rani berusaha beberapa kali melepaskan diri dari rangkulan ipar lelakinya yang kini telah sepenuhnya dalam kekuasaan iblis. Permohonan Rani untuk membersihkan diri yang dirasakannya sangat kotor tak dikabulkan oleh ustadz Mamat. Bukan hanya suara berbisik memelas, bahkan aliran air mata Rani tak menggugah hati nurani Mamat.
Tidak cukup dengan menolak permohonan Rani, namun Mamat bahkan tetap memeluk erat korban pelecehannya yang terakhir itu. Tubuh Rani yang bergetar lemah karena sesenggukan tangisnya dipeluk dari belakang oleh Mamat, yang tetap mengusap meraba-raba paha putih mulus, sebelum jari-jari nakal sang ustadz kembali menjalar memaksa memasuki celah vagina Rani.
Celah surgawi Rani masih terasa rapat licin karena terlumas cairan kewanitaannya sendiri, tercampur dengan sperma pemerkosanya, dan bercak darah dari selaput perawan yang telah dikoyak secara paksa.
Ustadz Mamat sangat bangga melihat jari tangannya dilumasi sisa spermanya sendiri dan darah keperawanan – jari tangan yang mana kini dipaksakannya masuk ke mulut Raniuntuk dijilat bersih. Gadis malang ini telah terlalu lemah, sangat lemas dan hanya pasrah memenuhi keinginan Mamat.
Dan malam itu iblis kembali berpesta pora…!
Bersambung…
Aida Dalam Cengkeraman Empat Lelaki
Sementara itu, di saat hampir bersamaan ketika Ustad Mamat menggagahi Rani, di rumah pak Fikri juga tengah terjadi peristiwa yang sama. Namun kali ini korbannya adalah Aida, istri sang Ustad..
Percuma saja Aida meronta dan menggeliat kesana sini : menghadapi kekuatan bersama pak Sobri yang menelikungnya dari belakang sambil membopong dan pak Fikri yang menangkap merejang kedua pergelangan kakinya, maka istri ustadz Mamat itu kalah tenaga.
Aida tak menduga bahwa pak Sobri yang telah ‘baik hati’ mengantarkannya mengunjungi temannya di RS akibat keguguran dan perdarahan, ketika pulang malah membawanya ke rumah asing : rumah pak Fikri.
Aida telah ‘terbiasa’ dengan pelecehan pak Sobri dan menduganya bahwa sepulang dari RS itu pak Sobri yang nafsu birahinya selalu menggebu-gebu akan membawa ke rumahnya sendiri dan semalam suntuk akan menguras tenaganya diranjang. Tak terbersit sedikit pun dalam benak Aida bahwa pak Sobri kali ini ingin membawanya ke dunia gelap berikutnya!
Kedua lelaki pejantan itu berhasil menyeret dan membopong tubuh Aida memasuki ruang tamu rumah pak Fikri yang besar namun letaknya terpencil di atas bukit. Wajah Aida semakin pucat dan matanya membesar penuh rasa takut ketika dilihatnya ada dua lelaki lain yang telah menunggu di situ. Yang satu adalah seorang lelaki yang tidak asing lagi baginya karena sudah pernah melakukan pelecehan bersama pak Sobri beberapa waktu lalu : yaitu Fadillah, sedangkan hadir pula seorang lelaki lain yang tak dikenalnya : pak Jamal!
Aida semakin panik dan meronta sekuat tenaga sehingga berhasil melepaskan diri, kemudian mencoba berlari ke arah pintu depan. Sayang pintu itu telah sempat dikunci oleh pak Fikri, dan pinggang langsing Aida segera dirangkul oleh sepasang tangan kuat Fadillah yang kembali menyeretnya ke dalam.
“Hehehe… masih binal juga ya, padahal udah sering di-roncé. Rupanya mesti ditambah pelajaran lagi nih, pak.” dengus dan ejek Fadillah di telinga Aida sambil menoleh kepada pak Sobri.
“Lepasin! Sialan semuanya! Tolongin saya, pak Sobri… saya enggak mau dikeroyok barengan begini! Tolooooonngg!!” Aida menjerit sekuat tenaga, sementara pakaiannya semakin kusut karena meronta-ronta dan Fadillah kini telah menelikung merejang kedua tangannya di punggung.
Dengan sengaja Fadillah menekuk dan memelintir tangan Aida di punggunghingga menyebabkan agak kesakitan sehingga tanpa sadar Aida malahmembusungkan dadanya ke depan, mengakibatkan kedua bukit kembarnya jadiamat menonjol dan ‘mencetak’ jelas di kebaya panjang yang ia pakai.
Hal ini tak luput dari penglihatan pak Fikri yang memang sejak tadi mengawasi liukan dan rontaan tubuh Aida dengan jakun turun naik. Tak sanggup lagi menahan nafsunya, ia pun maju ke depan sambil kedua tangan besarnya mencakup bukit kembar Aida serta mulai diremas-remasnya gemas sehingga Aida menggeliat-geliat.
“Baiknya kita main dimana nih, pak? Di ranjang, di sofa, atau di atas meja makan?” tanya Fadillah yang tetap menelikung Aida sambil menoleh bergantian kearah pak Sobri dan pak Fikri.
“Ini rumahnya pak Fikri kan, dan lagian dia tuan rumah yang kita bawain persembahan spesial, jadi kita serahkan aja ama pak Fikri. Cuma kelihatannya masih binal menolak nih si mojang,” jawab pak Sobri sambil cengengesan menyaksikan wanita simpanannya yang masih menolak untuk menyerahkan diri begitu saja kepada pak Fikri yang belum pernah menjamahnya.
“Kita gampangin aja. Si neng kan santapan nikmat kita bersama, jadi boleh kita mulai di atas meja. Ntar kita terusin ronde berikutnya di ranjang. Setuju kan, neng? Hehehe,” pak Fikri memberikan aba-aba kepada Fadillah yang telah mengerti dan mendorong korbannya ke arah meja makan besar.
Selama ini Aida mulai terbiasa dengan kehidupannya sebagai simpanan pak Sobri dan terhanyut oleh semua permainan ranjang yang semakin lama semakin berani. Aida telah diajarkan dan dipaksa oleh pak Sobri melakukan segala macam eksperimen yang tak layak dilakukan oleh istri alim shalihah manapun. Apa yang semula dilakukan oleh Aida karena dipaksakan, bahkan diawal mula juga disertai dengan bayaran uang semacam honorarium.
Namun semakin lama Aida yang masih sangat muda cantik merasa kecewa terhadap suaminya usradz Mamat, karena suaminya lebih sering menghabiskan waktu di tempat kerja dan jika pulang ke rumah semakin lama semakin ‘melupakan’kewajibannya sebagai suami. Karena itu Aida yang ibarat bunga sering ‘kehausan’itu menjadi tergoda dan bahkan ‘menjawab’ hasrat birahi pak Sobri. Segala sesuatu yang semula asing dan dirasakan jijik memuakkan akhirnya menjadi‘biasa’, sehingga pak Sobri menjadi amat puas dengan perlayanan Aida.
Selama hubungan gelap mereka maka pak Sobri memenuhi keinginan Aida bahwa Fadillah tidak lagi diberikan kesempatan untuk memperkosanya seperti yang pernah terjadi di awal mula. Aida merasa lega karena selama ini pak Sobri memenuhi janjinya itu – sampai pada hari ini ….
Tak diduga oleh Aida bahwa pak Sobri dan pak Fikri telah membentuk semacam jaringan rahasia di pelbagai desa di daerah itu. Banyak istri-istri yang sangat kekurangan uang belanja karena dibatasi oleh suami, akhirnya terjebak jaringan pak Sobri, bekas penjahat yang pernah bertobat sementara dengan bantuan ustadz Mamat yang ketika itu masih belum terjebak pengaruh iblis. Pak Sobri memperoleh bantuan pak Fikri yang menyediakan rumahnya, yang kebetulan letaknya sangat ideal terpencil di atas bukit, hingga jeritan-jeritan para istri yang menjadi korban tak akan terdengar keluar.
Untuk malam ini pak Sobri memang merencanakan semacam pesta seks ala desa, dimana diundang kembali kaki tangannya sendiri yaitu Fadillah. Sedangkan pak Fikri memberikan kesempatan untuk kaki tangannya dari madrasah tempat ustadz Mamat bekerja, yaitu pak Jamal.
Jamal dengan wajah yang menyeringai mesum kini ikut maju membantu Fadillah memegang kedua kaki Aida yang masih berusaha menendang ke sana-sini. Pergelangan kaki yang langsing itu dicekal oleh Jamal, lalu bersama dengan Fadillah, tubuh Aida yang nan langsing semampai diangkat dinaikkan ke atas meja. Dengan cengkraman Jamal di kedua pergelangan kaki dan cekalan Fadillah di kedua nadi tangan, maka sia-sialah semua usaha Aida melepaskan diri.
Kini majulah pak Sobri serta pak Fikri masing-masing di samping kiri kanan Aida dan bersama-sama mereka mulai melepaskan busana sang korban. Pak Sobri melepaskan semua kancing serta peniti kebaya Aida sehingga muncullah bukit kembar putih tertutup beha krem berukuran 34C.
Sedangkan pak Fikri dengan penuh rasa gairah menarik sarung baju kurung Aida, kain itu dilorotkannya kebawah sehingga terpampanglah betis paha putih mulus bagaikan pualam tanpa cacat sedikitpun milik Aida, menyebabkan ke-empat lelaki itu menelan ludah saat melihatnya.
“Jangan, pak! Lepasin saya! Tolong, pak Sobri.. saya enggak mau! Enggakrela! S-sialan semua! Ooh.. insyaflah kalian! Oooh.. hiks, hiks! Saya mau pulang,pak Sobri!!” ratapan Aida menggema disertai isak tangisnya karena menyadari apa yang akan menimpanya malam ini.
“Ssh… neng manis, percuma ngelawan! Nikmati aja, kan udah sering ama bapak. Sekarang neng bisa ngelayanin yang lain juga. Ntar juga jadi biasa ama pak Fikri yang sayang ama perempuan bahenol. Sshh.. tenang, neng. Nyerah aja, kitanggak ada yang mau nyakitin! Shh.. cupp,” pak Sobri berusaha menghibur sambil matanya mengawasi tubuh Aida yang kini hanya terlindung BH dan celana dalamsaja, dan kedua penutup bagian vital itu pun langsung direnggut oleh pak Fikri.
“Ck-ck-ck.. emang bener, Bri, simpenan loe emang luar biasa yahud. Badan gini mulus putih enggak ada tandingannya di desa ini,” pak Fikri menelan ludah berkali-kali dengan jakun turun naik dan mulai melepaskan pakaiannya sendiri, tak lama kemudian ia pun menurunkan celana dalamnya.
Setelah telanjang bulat dengan tubuh agak tambun, pak Fikri semakin mendekati Aida yang direjang kaki tangannya tergeletak di atas meja. Kemaluannya yang disunat telah mengacung keras, perlahan-lahan didekatkan kearah wajah manis Aida.
Langsung sang korban ini melengoskan kepalanya ke arah lain, namun yang dilihatnya justru pak Sobri yang juga telah melucuti semua pakaiannya. Badan pak Sobri yang penuh bulu sudah sering dilihat oleh Aida, bahkan telah sering dijilat dan diciuminya selama ia menjadi simpanan pak Sobri selama ini.
Juga rudal pak Sobri yang begitu sering memasuki semua lubang intim tubuhnya, telah tak asing lagi untuk Aida. Rudal daging yang telah sering dikulum dan disepongnya itu kini menyebabkan kembali rasa mual dan ngeri – mungkin disebabkan oleh situasi tak berdaya dan dipaksa untuk melayani kemauan empat lelaki.
“Ayolah kita mulai maenan petak umpet ama si denok, tapi semuanya mesti bugil dulu biar seru,” demikian pak Fikri yang memberikan tanda kepada kedua pegawai bawahannya, lalu ia mengambil alih tempat Jamal yang memegangi pergelangan kaki Aida. Tindakannya itu diikuti oleh pak Sobri dengan langsung mencekal nadi tangan Aida yang terentang meronta-ronta di atas kepalanya.
Fikri merentangkan paksa kedua kaki jenjang Aida ke samping sambil matanya tak puas-puas menatap belahan selangkangan Aida yang begitu halus mulus terawat, merangsang setiap lelaki.
Kesempatan ini dipakai oleh Fadillah dan Jamal untuk membuka semua pakaian masing-masing sehingga hanya dalam waktu dua tiga menit kemudian,keempat lelaki pejantan itu telah bugil total. Jamal diberi aba-aba oleh Fikri untuk menggantikan kembali memegang pergelangan kaki Aida, lalu Fikri mendekati korbannya. Dengan penuh nafsu Fikri meremas-remas gundukan buah dada Aidayang menggunung padat.
Penuh rasa ketakutan, Aida hanya dapat menangis terisak-isak ketika tubuhnya sedikit ditegakkan dan dirasakannya jari-jari tangan Fikri menyentuh ke belakang punggungnya. Tak lama kemudian kaitan BH penutup buah dadanya telah dilepaskan oleh Fikri sehingga muncullah gunung kembar yang sedemikian padatdan montok, berkulit putih licin, dengan puting coklat muda kemerahan yang selalu tegak seolah mengundang tangan lelaki untuk menjamahnya.
Karena kedua tangannya direjang sekuatnya oleh pak Sobri, maka Aida tak dapat menutup buah dada kebanggaannya yang memang sangat sekal montok dan kini mulai diraba, diusap serta diremas-remas gemas oleh pak Fikri.
Namun rupanya pak Sobri dan pak Fikri telah merencanakan pesta seks yang agak berkepanjangan karena Aida merasakan semua rejangan dan cekalan di pergelangan kaki tangannya dilepaskan!
Kini ia berdiri di tengah ruangan hanya dengan memakai celana dalam kecil pelindung auratnya yang terakhir, sedangkan keempat lelaki biadab mengelilinginya bagaikan singa buas menantikan kancil kecil mangsanya untuk dijadikan santapanterakhir.
Penuh rasa malu tak terkira, Aida meletakkan kedua tangan di depan dadauntuk melindungi kedua bukit daging kebanggaannya, sedangkan matanya yang penuh air mata mencari-cari tempat untuk berlindung, dan anehnya keempat lelaki itu agak mundur, namun tetap mengepungnya dari empat jurusan dengan penis-penis tegak mengacung bagaikan meriam sundut.
Rupanya ini memang sudah diatur oleh Fikri dan Sobri yang menginginkan permainan bagai anak kecil di sekolah dasar. Aida berusaha menekan rasa takut dan panik, tubuhnya mengelak ke samping, ke belakang, sementara matanya mencari-cari dimana kiranya ada kamar yang dapat dimasuki sehingga ia dapat mengunci diri dan bersembunyi di dalamnya.
Ternyata di bagian bawah rumah Fikri tidak ada ruangan tempat tidur, sehingga tanpa sadar Aida semakin lama berjalan mundur mendekati tangga mengarah ke tingkat atas dimana memang ada beberapa kamar tidur. Aida hanya mengharap bahwa salah satu kamar itu dapat dikunci dari dalam sebagaimana keinginannya.
Dengan rasa putus asa Aida mendadak lari ke atas tangga dan memasuki salah satu kamar tidur, ternyata tidak ada kuncinya. Dimasukinya lagi ketiga kamar yang lain, semua sama saja : juga tak ada kuncinya.
Perlahan-lahan, sambil menikmati adegan wanita muda cantik hampir telanjang bulat berlari-lari kesana sini keluar masuk kamar, keempat lelaki jahanam itu naik tangga pula mendekati mangsa mereka.
Bagaikan anak kecil di sekolah dasar yang berlari-lari kesana sini dalampermainan petak umpet, kejar-kejaran itu pun berlanjut di atas loteng. Dengan kelicikannya, pak Fikri dan pak Sobri, dengan disertai Fadillah dan juga Jamal,berhasil mendesak Aida masuk ke dalam kamar tidur terbesar. Di kamar tidur ini tentu saja terdapat pula ranjang terbesar yang terbuat dari kayu jati, dengan disemua sudut terlihat pilar kuat berukiran kepala harimau.
Kamar itu dilengkapi pula dengan sebuah kaca besar di dinding yang belum terlalu lama dipasang atas kemauan pak Fikri. Setelah istrinya meninggal dan iapuasa cukup lama, maka gairah hidup pak Fikri muncul kembali setelah dapat menggarap Rofikah, murid madrasah genit itu (baca kisah sebelum ini). Selepas peristiwa itu, maka pak Fikri semakin sering menikmati daun muda di desa kediamannya itu, yang semuanya adalah hasil jebakan dari kaki tangannya : Jamaldan Fadillah.
Untuk lebih dapat memenuhi hasrat birahinya maka pak Fikri memasang kaca di-dinding kamarnya, sehingga segala tindakannya selama menggarap wanita dapat dilihat pula olehnya. Bahkan wajah si wanita yang sedang mengalami perkosaan dan meringis kesakitan dapat pula ia nikmati sepuasnya – sedemikian jauhnya kemajuan pak Fikri yang menjadi pejantan jahanam.
Ketika akhirnya secara tak sadar berdiri di dekat cermin besar di dinding,dimana terlihat betapa mulus menggairahkan tubuhnya di kaca itu, dan dihadapannya terpampang ranjang sangat besar, maka barulah Aida dicekam rasa putus asa dan ketakutan tak terhingga menghadapi keempat pria pemerkosanya.Dia hanya dapat menjatuhkan dirinya ke lantai sambil menutup wajahnya danmenangis tersedu-sedu, dilupakannya bahwa kedua buah dadanya kini tak lagi terlindung oleh tangannya.
Keempat lelaki yang juga telah bugil seluruhnya itu kini mendekati mangsa mereka. Fikri dan Sobri menarik lengan Aida dan dengan perlahan-lahan mereka meletakkan mangsa yang terkepung tanpa daya itu ke atas ranjang. Rupanya mereka telah sepakat bahwa pertama pak Fikri yang akan menikmati tubuh Aida, setelah itu mereka akan bergantian satu persatu menguras tenaga Aida, dan akhirnya mereka bersama-sama membagi kenikmatan surgawi istri seorang ustadz yang juga dikuasai iblis.
“Jangan nangis gitu ah, kan neng belom diapa-apain. Matanya jadi sembabnanti, kan malah nggak cantik. Kita cuma mau senang-senang kok. Ayo sini, janganmenggigil gitu. Dingin ya? Sini masuk pelukan bapak, hhm… wanginya nih rambut,” Fikri menarik Aida dari posisi di lantai ke dalam pelukannya, tak perduli Aida yangmenolak keras.
“Tolong, pak, saya mau pulang! J-jangan nodai saya, pak! Hiks, hiks.. Ingat,pak, insyaflah! Saya ini istri orang! Anterin saya pulang, pak! Jangan…emmppfffhh!!” kata-kata Aida hilang di dalam ciuman buas dan rakus pak Fikri yang semakin menarik Aida ke atas ranjang yang besar.
“Kalo perlu dibantuin bilang ya,pak, pokoknya kita semua siap tempur. Hehehe,” Jamal bersama Fadillah dan pak Sobri menyeringai mesum sambil mengundurkan diri meninggalkan kamar tidur.
“Beres lah. Nih mojang masih malu, belom biasa ngadepin banyak lelaki sekaligus. Jadi terpaksagantian satu persatu, tapi ntar semua dapet bagian kok. Sekarang bapak yang mulai ya, neng,” Fikri kembali menciumi dan menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Aida, menyebabkanperempuan itu menjadi mual dengan bau tembakau kretek.
Dengan kedua tangannya yang kuat, Fikri merebahkan dan menekan Aida kekasur, lalu menindih serta menarik celana dalam pelindung aurat terakhir istri ustadz Mamat, tak dipedulikannya tendangan serta rontaan mangsanya.
Hanya dalam waktu satu menit kemudian, sempurnalah Aida telanjang bulat bagaikan Eva di taman Firdaus, dan tanpa menunggu banyak waktu lagi, pak Fikri menutupi tubuh langsing semampai itu dengan tubuh kekarnya. Ciuman pak Fikri beralih ke leher jenjang Aida, dijilati dan dicupanginya disitu, lalu bagaikan ular, lidahnya mengembara bergantian ke-ketiak yang gundul kelimis. Di situ kembali digigit dan dicupanginya.
Aida merasa sangat kewalahan dengan rangsangan pak Fikri. Meskipun benaknya menolak mati-matian, namun tubuhnya mulai ‘menjawab’.
“Duh… wangi amat nih ketek. Emang laen neng piaraan si Sobri ama perek kampung. Apalagi memeknya, pasti lebih harum lagi. Cupp, cupp, hehehe… geli-geli enak ya, neng?” celoteh Fikri menyebabkan wajah Aida merah padam karena memang merasa sangat geli diperlakukan begitu, sekaligus juga terhina karena disebut ‘piaraan si Sobri’, tapi harus dia akui memang itulah kenyataannya.
Aida menggeliat ke kiri dan ke kanan di bawah tindihan tubuh pak Fikri, kakinya menghentak tak karuan menahan geli ketika ciuman Fikri telah turun ke dadanya, naik turun di lembah dan bukit kembar sekal menggemaskan miliknya. Bibir Fikri dengan kumis ijuk di atas dan di janggutnya menambah kegelian karena menusuk-nusuk puting Aida yang mencuat ke atas.
Kedua tangan Aida berusaha menolak kepala Fikri yang menyelundup di lembah di antara buah dadanya, namun Fikri menangkap pergelangan tangan Aida. Dia meletakkan dan merejangnya di atas kepala perempuan itu, menyebabkan Aida jadi tak berdaya.
Kini Fikri mencakup bergantian puting merah coklat muda di kiri kanan itu dengan bibirnya, dikulum dan disedot-sedotnya sekuat tenaga bagaikan bayi raksasa yang kehausan. Tak cukup sampai di situ, Fikri lalu mengulum puting itu,serta menggigit dan menariknya sekuat tenaga hingga menyebabkan Aida menjerit ngilu.
“Aahh… aiiih.. oohhh… pak, udaah! Ngilu! Ngilu! J-jangan digigit.. auw! Pelan-pelan, ooh… jangan sadis gitu dong, pak! Saya enggak tahan, aaaah!!” lenguhan Aida semakin memenuhi ruangan, apalagi dirasakannya tangan Fikri yang bebaskini turun ke arah perutnya.
“Ck-ck-ck.. duh, gempal banget nih tetek, bapak jadi gemes pengen nyusu lagi! Shh… isep lagi ah, hehehe.. si neng ngegelinjang kaya cacing, emang enak ya?” Fikri mulai menjalarkan jari-jari tangannya yang bebas ke rambut halus tercukur rapi pelindung bukit Venus Aida.
Disitu jari-jari nakal Fikri mengusap dan memelintir beberapa rambut halus kemaluan Aida, yang mana tak pernah dirasakan oleh istri ustadz yang malang ini. Telah sering badannya digauli sang suami, telah sering pula tubuhnya dijarah oleh pak Sobri dengan segala macam teknik cintanya, namun kali ini pak Fikri menggarap dengan cara setengah menggoda setengah sadis, amat berbeda dengan apa yang selama ini dialaminya. Semuanya menyebabkan tubuh Aida semakin menggeliat melawan arus birahi yang mulai menyerang.
Pak Fikri bukan anak kemarin sore, senyum iblisnya semakin nyata ketika dilihatnya tatapan mata Aida semakin redup kuyu, mulutnya setengah terbuka, dan dari belahan bibir manis serta kembang kempis hidung mungil itu terdengar desahan dan lenguhan wanita yang semakin hanyut akan birahi.
Ciuman pak Fikri kini menurun dari bukit kembar putih yang telah penuh dengan bercak bekas remasannya serta cupangan merah, menjalar ke pusar Aida yang cekung. Dia bermain-main di situ sebentar dengan mencelupkan ujung lidahnya kedasar pusar, mengutik-utik dan menjilat-jilat bagaikan kucing garong.
Aida semakin tenggelam dalam gelombang arus permainan pak Fikri, kepalanya menggeleng dan rambutnya yang telah tak ditutupi oleh jilbab berurai kesana-sini, kaki jenjangnya menghentak dan menendang-nendang. Pak Fikri melanjutkan jelajahan mulutnya ke arah lipatan perut dan juga pahamulusnya. Di situ kembali ia menjilat dan mengecup mencupangi.
Usaha mati-matian Aida untuk mengatupkan kedua paha jenjangnya hanya berhasil sebentar saja, karena Fikri dengan kedua lengannya yang berotot walaupun telah berusia lanjut berhasil menguakkannya ke samping. Beberapa saat kemudian terbuka dan terbentanglah selangkangan Aida selebar-lebarnya – yang mana kesempatan itu segera dipakai oleh pak Fikri untuk menempatkan dirinya diantara paha putih mulus itu. Bibir tebal Fikri langsung melekat di bibir bawah Aida, mengendus-ngendus disitu, kumisnya menggelitik dan lidahnya menjalar masuk ke memek Aida.
“Slruup.. sssh.. wuih, udah basah nih memek. Udah enggak sabaran ya, neng,pengen ngerasain dientot? Sluurp.. ahh, sepet-sepet manis nih air mazi. Bapak cobain lagi ya,” Fikri makin dalam menyelupkan lidahnya ke lembah vagina Aida yang semakin lemas tak berdaya.
“Oooh, pak! Aaah… aaiihh… jangan, pak! Kasihani saya! J-jangan terusin, pak!Jangan nodai saya! Oooh.. hiks, ampuun! Ooh, pak.. udah dong!!” Aida menggeliat-liat menahan semua godaan yang melanda ujung syaraf di tubuhnya yang mulai basah kuyup dengan keringat.
“Tenang, neng, nikmati aja semuanya! Neng kan udah sering ginian ama siSobri, gantian dong sekali-sekali ngerasain gimana dikerjain ama pejantan lain. Bapak enggak akan nyakitin, malah mau jilat itil neng sekarang! Mmhh… mungil amat, sshh..”
Fikri menjulurkan lidahnya semakin dalam ke arah G-spot, lalu merantau diantara lipatan bibir kemaluan Aida untuk mencari kelentitnya. Setelah ditemukan,maka daging kecil merah muda itu dijilati, dikecup, digigit-gigit , dijilat lagi, sehingga semakin lama semakin membengkak dan luar biasa peka dan berubah menjadi merah tua.
“Oouh.. Ya Allah, gelinya! Ampun! Oooh… pak, udah! Ngilu, pak! Oohh.. tolong,pak! Geli, lepasin dong! Saya mesti ke belakang, mau pipis! Oooouu…” jerit Aida mengiringi kekelahannya melawan gairah birahi yang disebabkan rangsangan di klitorisnya.
Namun pak Fikri yang telah naik nafsunya ke-ubun-ubun, malah meneruskan rangsangannya. Tangannya kini merambat ke atas dan menemukan lagi bukit buah dada Aida yang membusung indah. Sambil meremas kedua puting yang begitu mengeras itu, lidah serta kumis pendeknya yang bagai sapu ijuk terus menggesek-gesek kelentit Aida yang semakin menjerit-jerit bagaikan terkena aliran listrik,hingga akhirnya…
“Aahh.. aduh! Aaooooouuu… aaauuuuuuwww.. ooooohhh… iya, terus pak!”lengking Aida menyertai kelojotan tubuhnya yang bagaikan busur menegang melengkung naik menekan bukit kemaluannya ke wajah Fikri hingga basah kuyupoleh air mazinya.
Sekitar tiga menit Fikri meneruskan kegiatannya merangsang Aida sehingga akhirnya orgasme yang dialami perempuan itu mulai mereda dan tubuh Aida menghempas lemas disertai kucuran keringat yang cukup deras. Pak Fikri menyeringai melihat usaha pertamanya berhasil dan kini ia telah meletakkan kedua kaki jenjang Aida di pundaknya.
Dilihatnya getaran kecil dan denyutan lemah bibir kemaluan Aida yang kini perlahan-lahan dikuaknya ke samping, sementara dengan tangan satunya ia mengarahkan batang rudalnya yang telah ereksi maksimal bagaikan pentungan kayu ke antara bibir vagina Aida.
“Oooh, lembutnya nih memek! Anget, halus, licin, sempit peret kaya perawan. Oooh.. bapak mesti kerja keras nantinya. Tahan dikit ya, neng, bapak mau ngejos daleman neng! Mau jedug-jedug biar manteb!” pak Fikri mulai memaju-mundurkan pinggulnya; menjelajahi, membelah vagina Aida semakin dalam dan dalam, dan terus menusuk hingga dirasakannya kepala jamurnya menekan rahim.
“Oooummpffh, pak! Aauw.. oooh.. ngilu! A-ampun!” Aida melupakan semua derajatnya sebagai istri ustadz. Kuku-kuku jari tangannya menekan kuat-kuat lengan pemerkosanya, bahkan sesekali mencakar, namun semuanya tak dipedulikan oleh Fikri.
“Gimana, neng, enak ya? Ayo ngaku, enak kan.. ngilu-ngilu sakit? Terusin ya, ntar lebih enak lagi,” demikianlah Fikri menggoda korbannya, dan diturunkannya kedua kaki Aida dari pundaknya. Lalu dengan penis tetap menancap di dalam vagina, mendadak ia membalikkan tubuh hingga menjadi posisi di bawah, sedangkan Aida kini duduk di atas dalam posisi ‘woman on top’.
Sekarang Aida yang mengambil inisiatif, dan karena seluruh vaginanya telah basah, licin, panas, serta gatal tak terkira, maka dia pun mulai menaik-turunkan tubuhnya. Makin lama menjadi semakin cepat. Fikri merasa sangat puas karena istri muda alim shalihah ini telah terbawa birahi hewaniah dan lupa akan segalanya.
Aida telah melupakan kedudukan serta martabatnya, yang dirasakan hanya satu : keinginan untuk mencapai kepuasan yang semaksimal mungkin malam ini. Tubuhnya menghempas naik turun, wajahnya menengadah ke atas, sementara matanya terpejam dan bibirnya terbuka.
Dalam keadaan semacam itu maka semua panca indera Aida pun sangat terbatas, yang didengarnya hanyalah dengusan dan geram pak Fikri yang seirama dan berselang seling dengan lenguhannya sendiri.
Oleh karena itu Aida tak menyadari bahwa pintu kamar tidur perlahan-lahan terbuka, dan ketiga lelaki lainnya memasuki ruangan pertarungan badaniah itu. Pak Fikri melihatnya, namun tetap menikmati naik turunnya tubuh Aida yang sedang menikmati tikaman rudal daging di liang memeknya.
Bahkan ketika pak Sobri telah naik perlahan-lahan di ranjang dan mendekat dari arah belakang, hal ini masih belum disadari oleh istri ustadz Mamat. Aida baru sadar dan terpekik ingin berdiri dan melepaskan dirinya dari tikaman penis Fikri pada saat Jamal dan Fadillah telah berlutut di samping kiri kanan pasangan yang sedang bersenggama itu. Namun sudah terlambat.
Fikri dengan sigap memeluk tubuh Aida dari bawah dengan kuat, kedua pergelangan tangan Aida disergap dan dicekal oleh Jamal serta Fadillah yang memaksanya memegang penis mereka masing-masing. Rontaan Aida hanya sia-sia saja karena tubuhnya ditarik ke bawah dan mulutnya dibekap ciuman Fikri yang berbau rokok kretek.
Dengan dirangkuh pinggangnya dan ditekan ke bawah oleh Fikri, maka tanpa disadari Aida pinggulnya mencuat menungging ke atas, hal mana telah ditunggu oleh pak Sobri yang berada di belakang pantatnya. Dengan dua tangan dia langsung mencekal bongkahan pantat Aida yang bulat putih mulus itu.
Aida mulai menduga apa yang akan menimpa dirinya. Dengan sisa-sisa tenaga dicobanya berontak, badannya berusaha bangun dari posisi yang sangat tak menguntungkan itu, namun tetap dirangkul amat kuat oleh Fikri. Kini Fikri melepaskan ciumannya di mulut Aida, bibirnya yang dower itu turun ke bawah dan mencakup puncak buah dada mangsanya, dikenyot dan dikulum-kulumnya gunung kembar yang sekal itu, sambil putingnya kembali ia pilin-pilin dan digigit secara gemas dan sadis.
“Aduh, pak! Jangan begitu dong! Jangan digigit, pak! Auw.. s-sakit! Tolong, pak Sobri, ampun… jangan dimasukin disitu! Saya ‘kan paling enggak tahan! Oooh..pak, kasihani saya! Bapak kan bilangnya sayang Aida, auww! Aaahhhh…” lolongan Aida meraung memenuhi ruangan kamar ketika dirasakannya Sobri mulai meludahi gerbang anusnya.
Pak Sobri hanya tersenyum melihat simpanan hatinya menggeliat meronta. Setelah meludahi beberapa kali, kini ia mulai memasukkan satu, berikutnya dua dan akhirnya tiga jari ke anus Aida.
Semua geliat dan rontaan Aida tak dapat menandingi tenaga lelaki yang menjarahnya, tangannya sama sekali tak dapat digunakan karena kedua nadinya dicekal kuat ke kiri kanan dan dipaksa mengocok kemaluan Jamal dan Fadillah. Kedua lelaki ini dalam posisi berlutut merem melek keenakan karena kejantanan mereka yang disunat itu digenggam kuat oleh Aida yang sedang ketakutan karena menunggu saatnya disodomi oleh kekasih gelapnya : pak Sobri.
“Ooooh.. iya, neng geulis! Iyah, kocok begitu! Pelanan dikit! Duh, konak banget digrepe sama neng bahenol. Nggak tahan lama nih, bisa cepet ngecrot nih! Aaaahh…” Fadillah ngoceh keenakan.
“Busyet! Neng belajar ama siapa ngocok begini? Mesti simpen tenaga nih, aaah… abang ntar pengen diemut disepong ya, neng,” Jamal tak kalah berceloteh – bersaing dengan Fadillah.
Pak Sobri menyentuh kaki pak Fikri memberikan tanda untuk merangkul Aida sekuatnya sekaligus memberikan sedikit ‘ruangan’ untuknya. Pak Fikri yangmengerti aba-aba ini, segera menarik keluar sedikit si otongnya, yang kesempatanitu segera dipakai oleh Sobri dengan menekan penisnya di lingkaran anus Aida.
“Aaauuhh… aaaauuuuuuwww.. sakiit!! Bapak jahat! Jangan masukin! S-sakit,pak! Hiks-hiks-hiks, ooohh… saya mau mati aja! Kasihani saya, pak! Jangan disiksa begini, hiks-hiks.. ouuh, ampun! Ya Allah, sakitnya!!” Jutaan bintang bertebaran di depan mata Aida sementara air mata mengucur membasahi pipinya menahan rasa sakit tak terkira.
“Rileks, sayang. Tenang, rileks aja. Ntar juga ilang sakitnya. Jangan dilawan,sayang. Bapak kan maennya pelan-pelan, masuknya juga kan pelan-pelan gini,” pak Sobri berusaha berbisik di telinga Aida untuk menghibur kekasih gelapnya, namun penisnya justru semakin membesar di saat menembus pertahanan otot lingkaran anus. Dia semakin terangsang mendengar rintih dan jerit memilukan Aida yang menggema karena di-sandwich oleh dua lelaki.
“Udah, pak! Bapak jahat! Ooouuww… tambah sakit! A-ampuun!!” Aida semakin lemah saat mulutnya kembali dibekap ciuman ganas Fikri. Kedua buah dadanya yang montok menggantung kini lepas dari mulut Fikri, namun ganti diremas-remasoleh Fadillah dan Jamal yang tetap mencekal keras nadi Aida untuk memperingatkannya agar tetap melakukan ‘tugas’ mengocok. Kini kedua lelaki kasar itu malah dapat memperingatkan Aida agar tetap mengocok penis mereka dengan gemas meremas-remas buah dada, bahkan sesekali mencubiti putingnya.
Aida telah kehabisan tenaga dan hanya dapat mengharapkan agar dirinya secepat mungkin pingsan sehingga semua yang dialaminya segera berakhir. Selama ini dirinya telah mulai ‘terbiasa’ dengan kedatangan pak Sobri yang teratur menagih jatah. Di awal permulaan memang ia diperkosa oleh pak Sobri dan kaki tangannya : Fadillah, namun sesudah itu hanya Sobri yang menjarahnya.
Kini dialaminya peristiwa pelecehan keroyokan yang sama sekali tak pernah iaduga : empat lelaki sekaligus menguasai dirinya. Aida merasakan tak ada harga dirinya lagi untuk berjumpa dengan suaminya : seorang ustadz yang dihormati didesa. Aida tak menyadari bahwa suaminya pun telah memasuki dunia gelap karena dikuasai oleh iblis, membuatnya menjadi pejantan mesum yang tak segan-segan mencari mangsa ABG diantara murid madrasahnya sendiri.
Pak Fikri dan pak Sobri yang terus dengan puas menyodok, merojok serta menghunjam tanpa memperdulikan lagi semua keluhan dan rintihan memilukan hati korbannya, mulai merasakan didih dan gejolak lahar panas mendesak ingin keluar dari biji pelir mereka. Bagaikan banteng terluka yang sedang murka, keduanya keluar masuk bergantian di dalam lubang vagina dan anus Aida.
Hawa nafsu mereka yang semakin memuncak membuat alat kemaluan mereka semakin membesar, masuk keluar, tarik dorong, semuanya memberikan kesan kepada Aida seolah tubuhnya dibelah menjadi dua. Setiap hunjaman entah melalui vagina maupun anus, dirasakan Aida seolah masuk sedemikian dalam menyentuh ulu hatinya, semakin dalam, semakin keras, semakin membuat ngilu, sakit, namun juga nikmat tak terkira. Semuanya bercampur menjadi satu, dan akhirnya …
Ssssrrr.. croooottt.. croooott.. ssssrrrrrrr.. denyutan demi denyutan dari penis besar pak Sobri dan pak Fikri hampir bersamaan mengiringi semburan sperma mereka membanjiri kedua lubang Aida.
Tak ada yang dapat dilakukan oleh istri ustadz ini, Aida hanya ingin menyelesaikan pelecehan ini secepatnya. Maka dengan sisa energi terakhir dikocoknya sekuat tenaga penis Jamal dan Fadillah, hingga dua menit kemudian keduanya pun menyemprotkan sperma mereka.
Aida menduga bahwa dirinya telah bebas dari perlecehan, namun ternyata Fadillah dan Jamal masih tetap sanggup ereksi, dan baru melepaskan Aida setelah mereka bergantian disepong dan memaksa Aida minum air mani, menyebabkan Aida terbatuk-batuk dan mual hampir muntah.
Di akhir malam itu, Aida pasrah terhadap nasibnya dan menyerah dijadikan budak sex siapa pun.
Bersambung…
“Nikmat nggak, Neng? Bapak masih kuat ngelayanin kamu semalam suntuk. Nih masuk lagi ke dalem… sempit, peret, biar udah digenjot lama! Uuh… enaknya nih memek,” Pak Sobri tak puasnya membisikkan kata rayuan gombal di telinga Aida yang sudah kewalahan setengah pingsan menghadapi kejantanannya. Batang penis itu terus menegang, biraho Pak Sobri yang tengah dipengaruhi iblis bagaikan tak adahabisnya.
Ditindih oleh badan Pak Sobri yang cukup besar dan berat itu, Aida merasakan sukar bernapas. Apalagi tak henti-hentinya kedua bibir basahnya yang setengah terbuka dan megap-megap dicakup dan diciumi dengan rakus sehingga dia hanya dapat mendengus-dengus lewat lubang hidung mungil yang kembang kempis.
“Oooh… udah dong, Pak! Kasihani saya… saya nggak sanggup lagi ngelayanin, bapak terlalu kuat! Ssshh… pelan-pelaaaan! Bapak sadis mainnya… aduh, auuw! A-ampuun… aauuwmmpfh,” hanya keluhan itu yang dapat keluar dari mulut Aida yang setengah terbuka.
Di sudut bibirnya masih terlihat sedikit lelehan cairan pejuh putih milik Pak Sobri yang tadi telah membanjiri mulutnya. Telah dua kali Pak Sobri ejakulasi, namun tetap saja kemaluannya tegar dan tegak bagaikan kayu, dan kini lembing daging itu menumbuk-numbuk sejak sepuluh menit yang lalu ke lubang rahim Aida yang peka sehingga ia jadi merintih-rintih kengiluan, namun rintihan itu segera dibungkam oleh ciuman Pak Sobri yang amat buas.
.Di dalam hati kecilnya Aida mengakui bahwa ‘kekasih’ gelapnya ini memang mempunyai stamina luar biasa untuk ukuran seusianya. Setiap kali Aida merasakan seolah seluruh tulang-tulang badannya dilolosi, bagaikan remuk badannya digelutiPak Sobri. Segala macam posisi dan teknik pernah dilakukan mereka, terutama posisi berlutut dan nungging memasuki lubang senggama Aida dari arah belakangyang merupakan salah satu favorit Pak Sobri.
Dalam posisi ini Aida tak dapat berontak dan berbuat apa pun, hanya dapat menerima sodokan buas dan sadis dari Pak Sobri. Kontol lelaki tua itu terasa sangat ngilu saat menghantam gerbang rahimnya. Dengan puas Pak Sobri selalu mendengarkan keluhan dan rintihan Aida yang semakin meninggi, lalu menjadi jeritan histeris yang memohon agar permainan dihentikan.
Lebih dari satu jam barulah Pak Sobri melepaskan mangsanya setelah istri Ustadz yang ayu cantik jelita itu digarapnya habis-habisan tanpa rasa belas kasih sedikit pun. Dilepaskannya tubuh Aida yang lunglai menggeletak telanjang bulat diranjang, diawasinya dengan penuh kepuasan keadaan Aida yang ‘babak belur’hampir pingsan dengan tubuh mandi keringat, juga wajah, dada dan perutnya penuholeh sperma. Dengan sadis digigitnya puting Aida sehingga perempuan itumemekik manja penuh kelemahan.
Pak Sobri dengan tubuhnya yang masih kekar dan agak tambun itu bangun dan mencari air minum ke dapur. Sambil meneguk air dingin di gelasnya, Pak Sobri berjalan ke arah ruang tamu rumah Ustadz Mamat; semuanya terlihat biasa dan sangat sederhana, tak ada barang mewah. Hanya ada lemari kayu rendah tempat menaruh perabot rumah tangga, dan di atas lemari itu terlihat beberapa foto keluarga, baik dari Ustadz Mamat sendiri maupun Aida dengan saudara-saudaranya.
Pak Sobri mendekat dan memperhatikan salah satu foto; dikenalinya Aida yang berdiri di tengah bersama ketiga adiknya : Farah Wulandari, yang termuda paling kecil Asma Maharani, dan seorang lagi yang terlihat malu-malu namun sangat ayu dan manis, Nurul Sri Lestari. Pak Sobri pernah berjumpa dengan semua adik Aida di saat upacara pernikahan ‘guru’nya, yaitu Ustadz Mamat. Juga di acarasilaturahmi setahun setelah itu ketika Farah baru selesai wisuda tamat kuliah, bersamaan dengan ulang tahunnya.
Pak Sobri tahu bahwa Farah telah berhasil dikuasai dan digaét menjadi ‘istri’sang rentenir kakap, Pak Burhan, yang memberikan modal untuk mencetak pelbagai novel keimanan, tentu saja sebagai ‘ganti jasa’ terhadap servis ranjang, mirip dengan apa yang dialami oleh Aida dengan dirinya.
Mata liar pak Sobri menatap kedua adik Aida yang lain di foto keluarga itu :terlihat Asma Maharani yang bungsu masih duduk di sekolah menengah, dan Nurul Sri Lestari yang diketahuinya pula masih kuliah di bidang ilmu komunikasi di perguruan tinggi terkenal di Jakarta. Belum diketahuinya bahwa Asma Maharani lebih dua minggu lalu telah direnggut kegadisannya oleh Ustadz Mamat, iparnya sendiri. Peristiwa maksiat itu terjadi ketika Aida dipaksa melayani nafsu bejat Pak Sobri dan kaki tangannya, Fadillah, di rumah Pak Sobri di desa lain yang lumayan jauh dari rumah Aida.
Perenggutan kegadisan Asma bahkan berlangsung di ranjang sama ketika Pak Sobri menodai Aida pertama kali dan beberapa menit lalu kembali menjadi saksi bisu pertarungannya dengan istri Ustadz itu. Pak Sobri semakin lama merasa semakin aman karena melalui pelbagai saluran gosip desa didengarnya bahwa jarangnya Ustadz Mamat pulang ke rumah tak hanya karena ‘tugas’ di madrasah didesa lain, namun karena adanya hubungan gelap dengan beberapa muridnya, terutama Murtiasih kesayangannya, bahkan kadang-kadang juga dengan yanglainnya, terutama Rofikah dan Sumirah.
Gairah Pak Sobri muncul ketika menatap wajah Nurul Sri Lestari di foto yang terlihat sangat alim shalihah. Benaknya yang telah dipenuhi iblis itu kini bekerja keras mencari akal bulus berikutnya.
Pak Sobri menduga bahwa kedua adik Aida yang masih menempuh ilmu diperguruan tinggi dan di sekolah menengah itu selalu hidup dengan alim, berbeda dengan anak-anak muda seusia mereka. Oleh karena itu ia perkirakan bahwa keduanya masih gadis murni, masih perawan, bahkan mungkin sekali belum pernah pacaran dan kalau misalnya ada teman lelaki, pasti hanya kenalan sekedarnya saja.
Hhm, kalau Aida yang telah bersuami saja masih sedemikian nikmatnya digarap, apalagi adiknya yang belum pernah dijamah oleh lelaki. Siapakah yang berikutnya dapat masuk ke dalam jebakanku dan bagaimana caranya? pikir Pak Sobri, keduanya tak tinggal di desa sini dan mereka pun jarang pulang.
Ternyata peristiwa penggarapan Nurul Sri Lestari akan terjadi beberapa hari kemudian, namun pejantan yang memperoleh rejeki itu bukanlah pak Sobri, melainkan…
***
Dalam rangka mendapatkan ijazah sarjana pertama (S1) Nurul Sri Lestari – nama panggilan sehari-hari ‘Tari’ – memilih skripsi dengan tema “Memperbaiki sistim komunikasi di pedalaman.” Tari menyadari bahwa masa depan penghuni diluar kota besar amat tergantung pada jumlah penduduk pedalaman yang sanggup berhubungan dengan dunia luar.
Tentu saja tak mungkin mengharapkan agar rakyat desa angkatan tua yang pengetahuan membaca menulis pun hanya sekedarnya saja, langsung duduk dibelakang komputer dan berkomunikasi melalui internet. Kalaupun ada internet cafedi tepi jalan penghubung kota besar dengan desa, maka sarana komputer itu masih jauh dari memuaskan.
Baik soal provider yang belum dapat dipercaya sepenuhnya, sistim operasi yang dipakai telah kadaluwarsa, kecepatan transfer menyedihkan untuk misalnya upload atau download, kapasitas tampung di hard disk, anti virus yang diandalkan, dan 1001 persoalan lainnya.
Tari menyadari semua kesulitan itu, namun dengan idealisme remajaseusianya, dia tak berputus asa. Untuk KKN-nya (Kuliah Kerja Nyata) itu ia sadar harus bekerja sama dengan penguasa desa yang mungkin bersedia membantunya.
Tari menyadari bahwa yang dapat dilakukannya hanya minim sekali : ia sudah puas jika diberikan kesempatan untuk beberapa kali berdiri di depan kelas dan menerangkan bagaimana komunikasi di masa depan dengan komputer.
Jika ada beberapa anak desa cerdas yang akhirnya memperoleh rejeki untuk meneruskan menempuh ilmu ke perguruan tinggi sehingga menjadi sarjana, maka hal secara tak langsung adalah ‘jasanya’ karena pernah mendengar informasi yang diberikan oleh calon sarjana komunikasi bernama Tari di depan kelas.
Tari memilih lokasi untuk KKN-nya di daerah yang tak terlalu jauh dari tempat dimana ia pernah duduk di sekolah menengah. Apalagi jika dapat ber-KKN di sekolah menengah dimana ia sendiri pernah menjadi murid, beberapa guru disitu bahkan masih dikenalnya, yang tentu akan bangga.
Namun sebelum Tari dapat memulai, maka ia harus mengatasi segala macam birokrasi ruwet yang merajalela sampai ke sudut-sudut pedalaman. Ia harus ‘lapor’dan memperoleh izin dari penguasa setempat – sebetulnya hanya formalitas, namun sebagaimana birokrasi maka semua prosedur harus dilalui, dan tak jarang segala‘halangan’ ini dapat dilancarkan dengan sedikit ‘pelumas’.
Sejak jauh-jauh hari Tari telah mengajukan permohonan untuk melakukan KKN-nya di desa situ, namun jawaban yang ditunggu-tunggu sampai berminggu-minggu tak kunjung keluar. Karena itu Tari coba menanyakan kepada bekas teman kelasnya di desa tersebut, karena Tari tahu bahwa ayah tiri dari teman sekolahnya dulu itu mempunyai kedudukan cukup penting di daerah sana. Apa yang tak diketahui oleh Tari adalah bahwa ayah tiri bekas teman sekelasnya itu yang bernama Pak Soleh adalah ipar dari Pak Jamal, pejantan yang kita kenal ulahnya dari kisah “Ketika Iblis Menguasai 5” (Des. 2014)
Sebagaimana lazimnya maka urusan permohonan yang dianggap tak begitu penting diabaikan dan dibiarkan saja menggeletak berminggu-minggu di atas meja Soleh. Sampai di satu hari kebetulan Pak Fikri ada urusan di kantor Soleh, dan secara tak sengaja ikut melihat surat permohonan KKN Tari itu.
Pak Fikri mengingat-ingat percakapan di saat silaturahmi bersama dengan Pak Burhan, Fadillah, Pak Jamal dan Ustadz Mamat (baca episode “Ketika Iblis Menguasai 4” Nopember 2014). Ketika Fikri menanyakan data-data lebih lanjut kepada Soleh dan melihat pas foto gadis berjilbab itu, maka semakin yakinlah ia bahwa si pelamar untuk KKN bernama Nurul Sri Lestari adalah iparnya Ustadz Mamat, salah satu adik dari Aida Handayani, istri si Mamat.
Dengan kedudukannya sebagai bekas kepala polisi, Pak Fikri segeramempengaruhi Pak Soleh agar mengeluarkan izin KKN kepada Nurul Sri Lestari, namun keduanya sepakat untuk sebelumnya mewajibkan Tari datang ke kantordesa buat mengisi dan menandatangani pelbagai formulir yang sebetulnya sama sekali tak diperlukan. Mereka merencanakan kembali pesta seks di rumah Fikri seperti yang telah pernah mereka lakukan sebelumnya dengan Pak Jamal, Sumirah dan Rofikah.
Setelah mencari-cari waktu yang dikira paling cocok, akhirnya tujuh orang diundang untuk ikut ‘meramaikan’ masuknya ‘peserta baru’ di-klub swinger mereka,yaitu : Ustadz Mamat, Pak Soleh, Sumirah, Rofikah, Pak Jamal, Pak Fadillah, dan tentunya juga Pak Fikri sebagai tuan rumahnya. Pak Sobri, Pak Burhan, Aida, dan Farah belum ‘diundang’ kali ini, karena Fikri masih belum yakin apakah kedua pejantan itu telah menguasai kekasih gelap dan istri paksaan mereka sepenuhnya sehingga tak membocorkan rahasia ‘pesta’ mereka ke pihak berwajib.
Namun ternyata mendekati hari H, Ustadz Mamat, Sumirah dan Rofikah telah mempunyai acara sendiri sehingga mereka memberitahukan bahwa tak dapat hadir. Kini hanya tinggal empat pejantan saja, yaitu : Fikri, Soleh, Jamal dan Fadillah.
Akhirnya disepakati oleh para pejantan untuk memilih hari Jum’at siang, karena kebetulan hari Sabtu esoknya hari libur bersama untuk penganut agama tertentu. Nurul Sri Lestari menerima undangan untuk menyelesaikan dan menandatangani surat-surat penting birokrasi di kantor Pak Soleh.
Tari sangat gembira dan sama sekali tak menduga akan adanya udang di balik batu. Pagi-pagi ia telah berangkat naik bus dari salah satu terminal di Jakarta menuju ke alamat kantor Pak Soleh yang terletak di pinggir desa tak jauh dari tempat kediaman kakaknya, Aida. Karena memang sudah agak lama juga Tari tak berkunjung ke rumah kakaknya, maka ia berniat untuk sekaligus bermalam disitu. Tari sama sekali tak mengetahui bahwa kakaknya telah menjadi ‘peliharaan’ Pak Sobri, sementara iparnya Ustadz Mamat juga telah dikuasai iblis dan mempunyai‘kesibukan’ sendiri.
Sesuai dengan undangan yang tertera di surat, maka Tari tiba di kantor Pak Soleh tengah hari – tepat setelah jam makan siang. Setibanya disitu, Tari disambut oleh pria berusia setengah baya yang mempersilahkannya duduk di ruangan tunggu, dimana ternyata tak ada orang lain disitu. Dengan sabar Tari menunggu, dan pria yang menyambutnya muncul kembali sambil menyuguhkan segelas es teh, sembari menjelaskan kalau Pak Soleh akan segera datang dan mohon maaf karena Tari harus menunggu.
Tanpa curiga Tari meminum es teh yang telah dicampuri obat bius dan obat perangsang oleh tokoh pejantan yang telah kita kenal dalam pelbagai cerita terdahulu, yaitu… Pak Jamal.
Hanya beberapa puluh meter dari kantor dimana Tari menunggu, terlihat mobil tua milik Pak Soleh, mobil yang mana terbuka kap mesinnya, sementara tiga pria setengah baya berdiri mengelilingi sambil berdiskusi. Ketiganya ialah Pak Soleh,Pak Fikri dan Pak Fadillah, namun mereka hanya berpura-pura saja membicarakan soal mesin mobil yang katanya mogok. Padahal mesin mobil itu sama sekali tak ada masalah, mereka berdiri disitu hanya untuk menunggu tanda dari Pak Jamal yang sedang memberikan minuman berisikan obat tidur dan perangsang kepada Tari.
Ketiga lelaki itu tentu saja mengawasi apakah ada orang lain yang kebetulan lewat pada saat mereka menggotong Tari masuk ke dalam mobil, demikian rencana dan muslihat mereka.
Ketika terlihat pak Jamal keluar dari pintu kantor sambil menunjukkan jempolnya ke atas, maka mereka langsung naik ke mobil Panther itu. Fadillah menyetirnya sehingga dekat sekali ke pintu kantor.
Hanya Pak Fikri dan Pak Soleh yang masuk ke dalam, karena mereka yakin bertiga dengan Pak Jamal akan mudah menggotong tubuh Nurul Sri Lestari yang nampak montok. Sedangkan Pak Fadillah tetap menunggu di mobil yang tak dimatikan mesinnya sehingga mereka akan langsung dapat berangkat, selain itu Fadillah pun mengawasi apakah ada orang lewat yang mungkin dapat menjadi saksi kelakuan mereka. Jika Fadillah membunyikan klakson sekali artinya ‘aman’, jika dua atau tiga kali, maka mereka harus menunggu.
Demikianlah iblis memberikan segala akal bulus dan busuk sehingga mereka tetap menjadi anak buahnya – dan kali ini adalah adik Aida berikutnya : Nurul Sri Lestari yang akan menjadi mangsa.
Tak ada sepuluh menit kemudian – ketika tak ada orang yang lewat disitu, Fadillah memberikan tanda dengan bunyi klakson pendek sekali, dan semenit kemudian terlihat Pak Jamal keluar kemudian membuka serta menahan pintu depan agar tetap terbuka. Fadillah langsung turun untuk membuka lebar-lebar pintu belakang mobil, dan Pak Fikri serta Pak Soleh segera keluar menggotong mangsa mereka yang terlihat amat ringan di dalam digenggaman mereka berdua.
Tari yang sama sekali tak sadar itu mereka dudukkan menyandar di sebelah belakang mobil, dengan didampingi dan dijepit di tengah oleh Pak Soleh serta Pak Fikri maka tubuh tinggi langsing yang semampai itu tertahan tak akan meleset jatuh ke samping. Apalagi kemudian ditambah dengan dipasangnya sabuk pengaman.
Fadillah kemudian diberikan aba-aba agar segera menjalankan mobil ‘Panther’ yang kini meluncur cepat meninggalkan kantor Pak Soleh menuju rumah Pak Fikri yang sangat terpencil itu.
***
Sekitar tiga perempat jam kemudian, di kamar tidur besar di rumah pak Fikri….
Perlahan-lahan Tari membuka matanya dan merasa aneh ketika menatap langit-langit kamar yang sama sekali tak dikenalnya. Kepalanya terasa masih berat dan pelupuk matanya sukar untuk dibuka, namun tetap dipaksakannya juga, terutama ketika Tari mendengar beberapa suara lelaki berbisik-bisik!
Betapa terkejutnya Tari ketika melihat tiga lelaki yang telah berusia sekitar lima puluhan, salah satunya langsung dikenalinya adalah Pak Soleh, sedangkan kedua lelaki lainnya : Pak Fadillah dan Pak Fikri belum pernah dilihatnya sama sekali. Di kaki ranjang tampak menyeringai seorang lelaki setengah baya lainnya yang tadi menyuguhinya minuman : Pak Jamal!
Yang sangat mengejutkannya karena ke-empat lelaki itu hanya memakai kaos dan celana dalam kolor mereka, dan ketika Tari menoleh dirinya sendiri ia langsung memekik karena baju kurung dan gamisnya serta jilbab penutup rambutnya tampak berantakan di kursi yang terletak jauh di sudut kamar. Tari kini hanya memakai BH berukuran 36B dan celana dalam putihnya yang terlihat kekecilan!
Secara refleks Tari langsung berusaha menarik sprei untuk digunakanmelindungi tubuhnya yang kini diawasi dengan tajam oleh keempat lelaki setengah baya itu, disertai dengan seringai mesum penuh arti.
“Sialan kalian semua! Ayo pergi, atau saya akan lapor polisi! Tolooooong… tolooooong…!!” Tari segera menjerit sekuat tenaga, sambil berusaha menyelusup ke bawah kain sprei penutup ranjang yang diusahakannya ditarik sebanyak mungkin untuk melindungi tubuhnya. Belum pernah seumur hidupnya Tari memperlihatkan badannya terhadap pria asing, apalagi dengan penutup seminim ini.
Namun usahanya segera digagalkan karena ketiga lelaki jahanam itu buru-burumenarik sprei putih ke bawah, menyebabkan Tari mulai menangis ketakutan dan kini ia melingkarkan tubuhnya dalam posisi seperti janin, sehingga bagian-bagian vitalnya sejauh mungkin terhalang dari mata para lelaki tersebut.
“Hehehe… si neng pengen ngumpet ya, ngelingker badannya kayak gitu? Nggakusah malu, Neng. Kita semua udah biasa ngeliat perempuan telanjang, tapi nggakpernah yang secakep Neng, hehehe…” rayuan gombal Fadillah semakin membuat Tari merinding membayangkan apa yang akan menimpa dirinya.
“Iya, Neng manis, nggak usah malu-malu lah. Tadi kan waktu Neng masih tidur,kita semua udah lepasin baju kurung dan gamis si Neng. Badan Neng yahud banget!! Sini deket-deketan ama bapak biar anget,” ujar pak Fikri sambil mendekati calon mangsanya yang terlihat gemetar ketakutan.
“Kita janji Neng nggak bakalan disakitin kalo Neng nurut nggak ngelawan. Kita kan cuma mau senang-senang, betul nggak?” lanjut Pak Jamal mencoba menghibur sambil cengar-cengir mesum ke konco-konconya.
“Tolong, Pak Soleh! Saya kan mau KKN di desa bapak, ini untuk kebaikan dan kemajuan rakyat. Bapak kan punya kuasa dan pengaruh, tolong lepasin saya, Pak! Saya janji tak akan lapor ke siapapun,” tangis Tari terisak-isak, mengharapkan bantuan dari Pak Soleh yang tentu saja akan sia-sia belaka.
Kedua lelaki setengah baya kini telah naik ke ranjang mendekati Tari yang semakin menggigil karena takut, dan tetap berteriak tak henti-hentinya disertai isak tangis sehingga suaranya semakin serak. Namun tentu saja tak akan ada yang mendengar teriakannya itu, apalagi akan menolong.
Pak Fikri yang rupanya telah sangat bernafsu melihat gadis alim shalihah itu kini naik ke ranjang dan langsung mencekal kedua pergelangan kaki Tari yang langsing,lalu ditarik dan diusahakannya untuk direntangkan. Tari menendang dan menyepak bagaikan sedang kalap sehingga Pak Soleh kini ikut membantu : Pak Fikri mencekal pergelangan kaki kanan, sedangkan Pak Soleh mencekal pergelangan kaki kiri.
Mereka sedikit menarik ke bawah sehingga ada celah di atas kepala Tari, dengan begitu Pak Fadillah dan Pak Jamal dapat duduk di situ dan mencekal pergelangan tangan Tari, serta ditarik pula ke kiri dan ke kanan. Akibatnya tubuh Tari terbuka lebar bagaikan huruf “X”.
Karena kuatnya tenaga Jamal dan Fadillah, maka cukuplah kedua nadi tangan Tari dicekal dengan satu tangan mereka, sedangkan tangan satunya dengan kurang ajar mulai mengusap-usap lengan bawah, lengan atas dan akhirnya meraba-raba ketiak Tari yang sangat mulus licin karena selalu rajin dicukur. Diusap-usaplah kulit yang putih mulus itu hingga menyebabkan Tari menggelinjang geli.
Sementara itu Pak Soleh dan Pak Fikri juga tak mau kalah, mereka telah mengunci betis Tari sekaligus dipaksa merentang selebar-lebarnya sehingga terpampanglah selangkangan si gadis alim cantik ini.
Tari berusaha meronta mati-matian sambil menangis tersedu-sedu, namun tindihan lutut Pak Soleh dan Pak Fikri terlalu kuat memaksa merentangkan betis belalang nan halus mulus itu.
Setelah selangkangan gadis alim ini terbuka lebar, maka kedua lelaki setengah baya jahanam itu mulai meraba dan mengusap-usap kulit betis serta paha Tari;mulai dari tumit yang sempurna hingga ke betis langsing, lalu menjalar ke paha yang tentu saja sangat peka dan demikian halus kulitnya.
Sementara itu Fadillah dan Jamal ikut beraksi pula dengan meraba-raba lebih jauh. Mereka menarik BH Tari ke atas sehingga dua bukit putih kembar begitu sekal sintal muncul keluar, dihiasi puting merah muda kecoklatan, membuat keduanya membelalak dan meleletkan lidah.
“Lepaskan! Sialan! J-jahanam semuanya! Tolooong! Aaah… j-jangan! Hmmmpffhh,” Tari berteriak dengan suara serak disertai isak tangis, namun mulutnya mendadak dibekap oleh mulut Fadillah yang rupanya tak sanggup menahan nafsunya melihat mulut mungil setengah basah itu.
“Busyet! Gempalnya nih sumber susu! Beneran bikin nggak tahan, bapak mau nyoba ya,” ujar Pak Jamal sambil langsung mencaplok bukit daging Tari sebelah kiri dengan rakus, lalu dikunyah-kunyahnya amat ganas.
Kumisnya bagaikan sapu ijuk menusuk kulit yang sedemikian peka, sehingga Tari menggelinjang, apalagi sejenak kemudian puting yang mulai tegang mencuat digigit dan ditarik-tarik oleh bibir dower Pak Jamal. Air mata deras mengalir turun di pipi Tari ketika dirasakannya kain segitiga terakhir penutup auratnya ditarik paksa oleh Pak Fikri, dan BH-nya pun dihentakkan ke samping oleh Pak Soleh yang kini pindah meremas-remas buah dada kanannya, sementara puting kirinya disedot dikenyot-kenyot oleh Jamal. Tari meronta dan menendang bagaikan kesurupan,namun sia-sia belaka.
Mata pak Fikri melotot sebesar-besarnya dan bahkan bagaikan orang juling ia menatap belahan tengah selangkangan yang kini terpampang jelas. Bukit Venus si gadis alim bagaikan mengundang semua pria untuk menjamahnya : demikian menggairahkan, demikian gembil dilindungi bulu halus yang sangat rapi terawat, dengan di tengahnya terlihat celah surgawi perawan yang masih murni dan sangat rapat.
Rupanya antara Pak Soleh dan Pak Fikri sudah ada perjanjian sebelum mereka menculik Tari dari kantor, yaitu siapakah yang akan pertama mengicipi keperawanan Tari. Pak Soleh ingin merasakan bagaimana disepong oleh gadis alim yang meminta izin untuk KKN itu, karena istrinya sejak menikah hingga saat ini selalu menolak untuk mengoralnya. Pak Soleh tak berani berbuat kasar memaksa istrinya, karena dua kakak lelaki istrinya adalah tentara dengan pengaruh cukup besar. Selain itu Pak Soleh tak mau ambil risiko bahwa ia dapat menghamili Tari.
“Seorang wanita kan punya tiga lubang, dan menjebol serta banjir di dalam dua lubang itu kan tak mungkin hamil,” demikian keputusannya.
Sebaliknya Pak Fikri, sejak ia berhasil merenggut kegadisan Rofikah (baca “Ketika Iblis Menguasai 4, Nopember 2014), maka ia seolah kecanduan menatap wajah wanita muda yang menangis meringis kesakitan ketika diperawani. Hal itu menambah rasa bangganya, menambah rasa ego-nya sebagai lelaki tengah bayayang mampu menggarap gadis muda.
Kedua tokoh lainnya yaitu Fadillah dan Jamal cukup ‘tahu diri’ dalam hal ini, mereka bersedia menunggu giliran dan yakin bahwa pasti akan memperoleh bagian. Apalagi sang korban masih muda belia, pasti sanggup melayani empat lelaki berturut-turut, demikianlah perhitungan mereka.
Oleh karena itu Jamal dan Fadillah kini menyerahkan semua aktivitas kepada‘majikan’ mereka, yaitu Pak Fikri dan Pak Soleh. Apalagi setelah mereka melihatPak Fikri berhasil menempatkan diri di tengah paha Tari yang dipaksa membuka oleh Pak Soleh. Mereka kini menyeringai lebar sambil mengusap-usap alat kejantanan masing-masing yang mengacung besar sambil berkomentar :
“Iya, gitu, Pak! Gigit terus tuh tetek, remes-remes Pak supaya keluar susunya. Ntar bagi-bagi saya juga ya, hehehe…” demikian celoteh Fadillah yang melihat Pak Soleh meremas dan memijit-mijit gundukan daging di dada Tari, sambil bergantian dengan rakus menghisap menyedot dan menggigiti putingnya.
“Asyik banget nangkring di tengah paha mojang bahenol euy, sip lah Pak terusin diendus-endus atuh. Dijilat biar basah licin. Cari jagungnya, Pak, jangan lupa di-gowel biar jadi kegatelan dia, hehe…” Jamal tak mau kalah menghasut Pak Fikri yang terlihat telah mulai melekatkan wajahnya di tengah selangkangan Tari.
Bagi Tari yang belum pernah berpikir sedikit pun untuk melakukan perbuatan intim sebelum menikah, sebelum upacara resmi akad nikah ijab kabul selesai, semua yang sedang dialaminya kini bagaikan mimpi buruk yang sama sekali tak pernah terbayang dalam kehidupannya. Sehari-hari Tari selalu taat kepada ajaran agama, selalu menjaga kesopanan dan kesusilaan ketika bergaul di kampus.
Namun kini hanya dalam waktu demikian singkat, apa yang selama ini dijaga dan dipertahankannya akan direnggut, betapa pun dan apa pun perlawanan yang telah dilakukannya sehingga otot-ototnya kejang terasa sakit pegal. Tubuhnya telah telanjang bulat ditindih oleh lelaki asing yang lebih pantas menjadi ayahnya.
Tak hanya sampai disitu saja : bahkan lelaki itu telah bertahta penuh kejayaan di tengah selangkangannya, di tengah pahanya, dan ooh… benda keras apa yangterasa menyentuh itu?
Tari berusaha mati-matian mencakar mata Pak Fikri, namun kedua pergelangan tangannya segera dicekal dan ditekan sekuat tenaga ke samping, dan ciuman buas Pak Fikri malah menyerang bertubi-tubi di mulutnya, lalu menjelajah leher jenjangnya, menggigit meniup-niup liang telinganya hingga menyebabkan rasa geli tak terkira. Kemudian bibir tebal Pak Fikri kembali mengatup menekan-nekanbibir Tari yang halus dan merah, memaksanya agar membuka.
Tari berusaha menutup kedua bibirnya serapat mungkin. Dirasakannya Pak Fikri menggeram penuh kegemasan. Sesaat kemudian Tari merasakan kedua nadinya ditarik ke atas kepala, dicekal dengan hanya satu tangan Pak Fikri yang kuat, sedangkan tangan lainnya meremas-remas buah dadanya, mencari putingnya yang peka.
Sebelum Tari dapat memprotes, puting yang mencuat itu telah dijepit oleh ibu jari dan telunjuk Pak Fikri yang lalu menarik, memilin, dan mencubitnya!
Tak menduga akan mengalami perlakuan sadis seperti itu, Tari memekik dan menjerit kesakitan. Dan kesempatan ini dipakai oleh Pak Fikri untuk mencium bibir Tari yang terbuka lebar, kemudian lidahnya yang penuh liur dan berbau tak sedap masuk menerobos ke dalam mulut Tari, menyebabkannya gelagapan dan semakin meronta-ronta tak berdaya.
Berbeda sekali dengan Pak Fikri yang semakin buas dan menciumi betapa harumnya mulut serta ludah Tari yang kini tercampur dengan ludahnya sendiri. LidahPak Fikri mendesak mendorong dan bersilat mengejar lidah Tari yang semakin gelisah berusaha bersembunyi di rongga mulutnya.
Badan Pak Fikri yang cukup berat menindih tubuh langsing semampai korbannya sehingga semakin lama Tari merasakan semakin sukar untuk bernapas. Dan rupanya Pak Fikri memang sengaja berusaha menguras tenaga Tari sebelum ia melanjutkan tindakan penjarahan berikutnya.
Dengan tetap memegang dan mencekal serta menekan kedua nadi Tari di atas kepala, Pak Fikri bergantian meremas-remas buah dada gadis muda itu. Dengan keahliannya sebagai lelaki matang, Pak Fikri terkadang hanya mengusap lembut daging yang empuk itu dan juga putingnya hingga menyebabkan si empunya kegelian. Namun sesaat kemudian diubahnya usapan lembut menjadi remasan-cubitan ganas yang cukup sadis sehingga Tari menggeliat meronta-ronta karena merasa sangat ngilu dan kesakitan.
Sementara itu Pak Jamal dan Pak Fadillah telah memakai lagi celana kolor masing-masing dan ngeloyor keluar untuk merokok karena mereka menduga bahwa giliran untuk menjarah si mahasiswi alim itu masih cukup lama.
Di dalam ruangan kini hanya tinggal Pak Fikri yang tetap menindih Tari sertaPak Soleh yang berada di belakang kepala si cantik untuk memegangi kedua nadi langsingnya. Dengan demikian Pak Fikri jadi lebih bebas tak diganggu oleh cakaran kuku Tari yang cukup tajam.
“Udah, jangan ngelawan, Neng… ntar jadi makin sakit. Percuma aja menolak. Sini bapak ajarin ngewe, belom pernah dijilat memeknya kan? Pasti ntar ketagihan,” Pak Fikri menatap mangsanya dan sekaligus memberikan tanda kepada Pak Soleh agar merejang kedua tangan Tari sekuat tenaga.
Melihat konconya telah mencekal pergelangan tangan Tari, mulailah Pak Fikri merosot ke bawah. Mulutnya bergerak bagaikan anjing kelaparan yang menciumi menjilati seluruh permukaan kulit badan Tari. Dimulai dari leher, lalu turun ke lereng gunung kembar, menciumi dan menggigit puting coklat muda kemerah-merahanyang ada di sana, kemudian menjalar memutar-mutar di sekeliling pusar, sesekali menggelitik perut Tari yang datar dan putih mulus, dan tak lama kemudian mulai turun, turun, dan turun terus hingga mencapai lipatan paha. Di situ lidah dan gigi Pak Fikri semakin aktif dan ganas mencupangi, meninggalkan bercak merah di sana-sini, dan akhirnya mulai mendekati tengah selangkangan, mendaki bukit Venus berbulu halus milik Tari, mencari celah surgawinya.
“Oooh… udah, Pak! Jangan terusin! Oooooh… kasihani saya, Pak! S-saya nggak mau! Bapak kan udah punya istri… ini dosa, Pak! Oooh… insyaf, Pak! Aaaiiiih… geli!!” desahan Tari disertai sendat-sendat isak tangisnya ketika merasakan mulut Pak Fikri mendekati auratnya.
“Hmmh, kulitnya halus amat ya… mana wangi begini. Bapak jadi konak benerannih, di-gowel diciumin semeleman terus-terusan ya, Neng. Bapak nggak puas-puasnih,” tiada hentinya Pak Fikri memuji kehalusan kulit perut Tari yang memang putih langsat, namun kini telah basah oleh air liur. Selain itu di sana-sini juga penuh olehcupangan ganas Pak Fikri. Betis dan paha licin milik Tari pun tak hentinya diraba-raba, diremas dan diusap-usap oleh tangan kasar si pemerkosa, terkadang juga dicubit gemas hingga menyebabkan muncul pula pelbagai bercak kemerahan dikulit putih mulus itu.
Mulut pak Fikri kini telah mencapai lipatan paha dalam Tari, berpindah dari kiri ke kanan, balik kembali ke kiri, menyentuh bukit kemaluan yang terhiasi bulu halus, menyentuh-nyentuh di situ, mencium dan mendengus bagaikan anjing mencari tulang.
Akhirnya mulut yang berbau asam itu nangkring dan menghembuskan nafas panas ke tengah celah surgawi yang masih tertutup rapat. Pak Fikri kini berlutut ditengah selangkangan Tari, kedua tangannya yang besar menyanggah kedua bongkahan pantat semok Tari, diangkatnya ke atas, dan paha mulus Tari yang menghentak-hentak tak berdaya diletakkannya di atas bahunya yang tegap. Akibatnya tampaklah bibir kemaluan Tari yang pucat kemerahan, merekah malu-malu di hadapan tatapan mata liar Pak Fikri.
Jari-jari Pak Fikri menjarah dari arah kiri kanan dan dengan perlahan menarik bukit Venus itu ke samping. Tak terhindarkan lagi merekahlah bibir kemaluan Tari walaupun hanya sedikit, namun ini sudah cukup untuk segera dikecup dan diciumioleh Pak Fikri, lidahnya pun mulai menjalar dan menyeruak diantara bibir sempit itu.
“Hmmmh… wanginya nih selangkangan! Apalagi nih sumber madu, campur aroma keringat gadis alim, hhhmm… bener-bener rejeki nomplok! Slurrrrp…manisnya nih madu air mazi gadis,”
Pak Fikri menyembunyikan wajah bopengnya di selangkangan Tari dan lidahnya semakin liar menjulur keluar masuk ke dalam celah gadis itu, bagaikan ular berbisa tengah mencari mangsa.
Tari tak sanggup melawan lagi, dia hanya dapat menangis tersengguk-sengguk. Apalagi ketika Pak Soleh berusaha menyodorkan lidahnya kembali ke dalam rongga mulutnya yang mungil. Melihat gadis alim shalihah itu telah sedemikian kuyu kewalahan menghadapi keganasan mereka, bukannya kasihan, Pak Soleh malahsemakin brutal dalam menyodorkan tongkolnya ke depan wajah korbannya. Sekuat tenaga Tari berusaha memalingkan kepala ke arah lain, namun wajahnya dicekal dengan kuat, hidung bangirnya dipencet dengan kasar sehingga ia gelagapan mencari nafas melalui mulut, pada saat mana pak Soleh menekankan penisnya ditengah bibirnya yang terbuka.
“Ayo, Neng manis…, pernah lihat nggak barang kayak begini? Sini bapak ajarin gimana ngulum singkong asli… ayo, jangan bandel, ntar aku gigit puting kamu. Hehehe… si Neng makin cakep aja kalo ngelawan,” Pak Soleh rupanya makin bangkit nafsunya melihat wajah Tari yang ayu manis penuh air mata putus asa, dibayangkannya jika yang dipaksa nyepong itu adalah istrinya sendiri.
Rasa mual tak terkira menerpa Tari ketika hidungnya menangkap aroma batang kejantanan Soleh yang berada di tengah rekahan bibirnya dan mendorong-dorongberusaha memasuki rongga mulutnya. Tanpa mempedulikan linangan air mata Tari serta wajahnya yang memelas, Pak Soleh tetap menekan kepala jamur dagingnya di ambang mulut gadis itu, disertai dengan ancaman mesumnya.
“Ayo buka mulutnya, jilat nih punya bapak. Awas, jangan digigit ya! Percuma ngelawan, Nduk, paling bener itu nurut kemauan bapak. Ntar kamu baka ngalamin surga dunia. Ayo buka yang lebar, terus buka… hhhm, oooooh!! Iyah, akhirnya nurut juga si Neng! Duh, cakepnya kalo nyepong gitu,” Pak Soleh mulai merem-melek merasakan kenikmatan tak terhingga disepong untuk pertama kalinya.
Semua penolakan istrinya kini telah ia lupakan dan Pak Soleh harus konsentrasi sepenuhnya agar tak langsung ejakulasi karena begitu nikmat merasakan si ‘otong’nya dicakup mulut hangat basah milik Tari.
“Uewwgghkk! Uuweeeeggk! U-udah, Pak! Uuwweggk! U-udah! Kasihani saya, Pak! Hiks, hiks,” Tari menangis tersedu-sedu sambil berusaha menahan keinginan muntah karena dipaksa menyepong rudal Pak Soleh yang tentu saja tak meladeni ratapan si gadis cantik yang sedang dipaksanya itu.
“Uuuumghh… uuummmgggh… uueewwwwggk… ummmggh…” Tari menggelinjang sekaligus meronta-ronta karena Pak Fikri telah menemukan liang air seni korbannya yang langsung disentuh-sentuh dan dijilat, menyebabkan rasa gelitak terkira yang belum pernah dirasakan oleh Tari.
Hal ini disambut dengan rasa kepuasan oleh Pak Fikri yang meningkatkan kegiatan jari-jarinya melebarkan bibir kemaluan milik Tari yang lembut kemerahan itu ke samping. Seolah malu-malu kini muncul dan menonjol keluar sang kelentit yang sejak tadi dicari dan dinantikan oleh Pak Fikri. Daging nan lembut penuh ujung syaraf itu tanpa peringatan lagi disentuh oleh bibir Pak Fikri. Tak sampai disitu saja, pria setengah baya itu juga menggesek-gesekkan dagunya yang memang sejak tiga hari tak dicukur sehingga telah tumbuh sedikit bulu janggut pendek kasar.
“Aaaauw… aaauuuuuw… geli, Pak! J-jangan! U-udah! Oooooh…” tubuh Tari melenting ke atas karena tak tahan menahan geli di kelentitnya yang digesek-gesekoleh jenggot pendek bagaikan sapu ijuk.
“Kenapa, Neng, keenakan ya dientot ama bapak? Terusin lagi ah, eeemmmh…mulai keluar nih madu gadis alim, bapak udah lama péngén nyucipin! Slurrrp…slurrrp… wuih, manisnya! Wangi lagi,”
Tanpa mempedulikan penderitaan mangsanya, Pak Fikri semakin asyik meng-oral korbannya. Sementara itu Pak Soleh kembali menarik kepala Tari keselangkangannya dan memaksakan penisnya untuk masuk semakin dalam kerongga mulut si gadis malang itu.
Kedua lelaki jahanam itu tak henti-hentinya merangsang bukit kemaluan dengan kelentit kecil yang belum pernah dijamah dijarah tak hentinya, sementara mulut mungil Tari dipaksa membuka maksimum selebar mungkin untuk mengulum kejantanan yang bergerak keluar masuk, sehingga akhirnya disertai dengan geraman penuh kepuasan, Pak Soleh menyemburkan cairan putih kental ke dalam kerongkongan Tari.
Karena kepalanya dicengkeram kuat, maka dengan tersedak-sedak Tari terpaksa menelan sperma amat menjijikkan itu dengan air mata berlinang-linangturun di pipinya.
Merasakan kenginannya telah meningkat naik ke-ubun-ubun dan mengetahui bahwa Tari sedang kewalahan meneguk cairan yang sangat memualkan itu, makaPak Fikri kini menjepit kelentit mungil Tari di tengah deretan gigi-giginya. Digesek dan digewelnya ke kiri dan ke kanan, sementara salah satu jari tengahnya denganpenuh mesra menggelitik lubang kecil di antara belahan pantat Tari yang semok.
Semua rangsangan bertubi-tubi itu tentu saja tak sanggup lagi ditahan oleh Tari. Mulutnya yang masih dipenuhi sisa-sisa sperma Pak Soleh terbuka megap-megap. Terdengar jeritan memilukan penuh histeris disusul dengan rintihan dan dengusan menyertai kekejangan tubuh muda yang putih sekal montok itu.
“Aaaaiiiihh… oooooohhh… udah, Pak! Aaaaoooooww… Pak! S-saya mau kebelakang, mau pipis!! Ooooohhh… lepasin, Pak!! A-ampun… ooooohh…”
Bagaikan sekarat, tubuh Tari melengkung ketika gelombang orgasmemenerpanya bagaikan ombak yang tak berhenti-berhenti. Setelah sekitar dua tiga menit, tubuh yang kini basah kuyup dengan keringat dan aroma khas wanita yang mandi kenikmatan birahi, akhirnya lemas dan lunglai. Tari terhempas tak sanggup melawan lagi.
Pak Soleh pun dengan seringai penuh kepuasan telah melepaskan kepala Tari dari genggamannya. Terlihat di sudut bibir yang begitu menggairahkan itu masihada sedikit meleleh beberapa tetes air maninya yang baru saja memenuhi rongga mulut yang kini pasti beraroma campuran ludah Tari dan lahar kelelakiannya. Saat itu Pak Soleh melupakan istrinya yang selama ini selalu menolak mengoralnya.
Dalam keadaan tak berdaya dan lemas itu, Tari merasakan kedua pahanya kini dikaitkan di pundak yang kekar dan terkangkang sedemikian rupa sehingga vaginanya yang licin dengan air mazi bagaikan ‘mengundang’ Pak Fikri yang siap merenggut harta miliknya satu-satunya.
Dengan senyum iblis yang mengerikan, Pak Fikri kini mengarahkan kepala kejantanannya yang sedemikian tegang keras ke tengah lipatan bibir vagina Tari. Sekali dua kali tujuannya itu meleset, namun akhirnya kepala jamur kebanggaanPak Fikri terjepit diantara rekahan bibir kemaluan Tari, kemudian mulailah Pak Fikri memajukan lembing dagingnya itu, sambil menatap wajah cantik korbannya yang meringis kesakitan.
Dengan penuh kemahiran Pak Fikri kini mencekal kedua pergelangan tangan mangsanya yang langsing, sehingga Tari tak sanggup melawan atau mencakar si pemerkosanya. Hanya kepalanya dengan rambut tergerai acak-acakan yang terlihatmenggeleng-geleng ke kiri dan ke kanan ketika dirasakannya benda keras mulai membelah menyeruak di antara bibir kegadisannya.
Bagaikan pentungan daging penis Pak Fikri semakin masuk menusuk kedalam, yang mana dirasakan Tari semakin tidak nyaman. Dia merasa ngilu karena lubang surgawinya belum pernah dijamah sebelumnya, belum pernah dimasuki apapun, tapi kini dipaksa untuk melebar, semakin melebar, semakin nyeri, dan akhirnya kepala penis berbentuk topi baja itu menyentuh selaput daranya.
“Aduh! Aaaaauuuuww… a-ampun, Pak! S-sakit!! T-tolong… auuuuuww… u-udah, Pak! Saya nyerah, jangan diterusin!! Auuuuuww… hiiks, hikks, aaaaauwww…ampuun!!”
Bagaikan hewan terluka, Tari menangis meraung dengan jerit memilukan memenuhi ruangan. Namun apa daya sang pejantan Pak Fikri telah dikuasai iblis sepenuhnya, demikian pula Pak Soleh yang kini memberikan semangat kepada konconya agar meneruskan pembantaian kegadisan Tari. Belahan celah surgawi si gadis malang telah basah tak hanya oleh air ludah Pak Fikri, namun juga cairan lendir dari dinding vagina yang secara tak disadari keluar ketika Tari mengalami orgasme.
Walaupun secara alami liang kewanitaan Tari telah dibasahi dengan pelumas licin, namun belum cukup untuk mengurangi rasa nyeri dan ngilu karena memang perbandingan ukuran kejantanan Pak Fikri dengan lubang yang sedang digalinya itu masih belum serasi dan belum disesuaikan.
“Uuuuuh… bapak mesti kerja keras nih. Alot amat sih pertahanan si Neng, mesti dijedug-jedug dulu kali ya.. biar empukan dikit, baru digenjot lagi.”
Sambil mendengus-dengus Pak Fikri menarik sedikit kejantanannya, kemudian menekan lagi ke depan, dan setelah tiga kali melakukan gerakan tarik-dorong itu, dirasakan oleh Pak Fikri bahwa kemaluannya kini sanggup menerobos ke dalam.
Sekaligus dirasakannya bahwa ada sesuatu yang pecah, pada saat di mana Tari memekik dan menaikkan wajahnya dari kasur, sehingga walaupun kedua pergelangan tangannya dicekal erat-erat dan tak dapat meronta, namun Tari sempat menancapkan giginya ke bahu si pemerkosa. Hanya itu saja yang dapat dilakukan Tari untuk menguraikan dan mengimbangi rasa sakit tak terkira di saat kegadisannya direbut secara kasar tanpa belas kasihan oleh pria yang pantas menjadi ayahnya itu.
Gigitan Tari di bahunya tidak membuat Pak Fikri mundur teratur dan menghentikan kegiatannya merajah gadis muda itu, namun sebaliknya : rasa ego dan bangganya semakin terpacu untuk menggenjot korbannya habis-habisan. Karena kejantanannya telah menancap dan menguasai celah surgawi ipar ustadz Mamat yang sebelumnya masih sangat lugu itu, Pak Fikri kini melepaskan kedua nadi Tari. Hal ini memberikan kemampuan kepada si gadis yang sedang dikerjai habis-habisan ini untuk mencengkeram sekuatnya lengan atas dan lengan bawah sang pemerkosa.
Pada saat tombak daging Pak Fikri menumbuk menjedug-jedug mulut rahimnya sehingga terasa ngilu tak terkira, maka Tari berkali kali mencakar lengan dan dada pemerkosanya. Namun sang iblis seolah telah memberikan kesanggupan kepadaPak Fikri untuk menahan semuanya, karena kegiatannya bukan berkurang melainkan semakin menjadi-jadi. Tanpa memperdulikan penderitaan gadis yang baru diperawaninya, dia menghantam menusuk vagina Tari sekuat tenaga dari segala arah.
Sementara tenaga Tari semakin terkuras habis, justru Pak Fikri agaknya tak pernah sirna staminanya. Lebih dari setengah jam Tari dijadikannya korban pelampiasan hawa nafsunya, pelbagai posisi telah dilakukan oleh mereka.
Akhirnya Pak Fikri merebahkan dirinya dan menikam Tari dari bawah dalam posisi wanita di atas – dan Pak Fikri yang tetap mengambil inisiatip dengan memegang kuat kedua paha mulus dan pinggul Tari. Tubuh Tari yang jauh lebih ringan dibanding dengan badannya yang kekar kini diturun-naikkannya sehingga penisnya yang mengacung menusuk tak henti-hentinya dari bawah, sedangkan Tari sudah lemas dan hanya menurut saja segala keinginan Pak Fikri.
Pak Fikri menatap gadis alim yang tengah digarapnya itu; betapa ayunya, betapa manisnya, betapa bedanya dengan pelbagai gadis lain yang telah diperkosanya. Dirasakannya betapa tegang dan semakin membesar alat kejantanannya yang sedang nangkring di celah Tari.
Pasti pembesaran alat bor daging ini juga dirasakan oleh si gadis alim, dan memang Tari merasakan bahwa memeknya seolah sedang direntangkan sampai batas tak tertahan,membuatnya menggeliat-geliat ngilu, serta melenguh dan merintih perlahan. Semuanya dinikmatioleh pak Fikri yang kemudian berbisik di telinga Tari:
“Nikmat ya, Neng? Tahan sakitnya bentaran, ntar pelan-pelan hilang berubah jadi surga dunia kok. Bapak sayang Neng, jadi simpenan bapak mau ya, Neng?”demikian kata Pak Fikri sambil dengan sengaja bergerak maju mundur sehingga menyebabkan rasa ngilu, perih, tapi juga ada semacam kegatalan di dinding memek Tari yang tentu saja masih luka dan memar karena selaput kegadisannya yang peka tipis baru saja dirobek dan dihancurkan ditembus oleh penis.
Si gadis manis ayu itu hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala disertai isak tangis dan hidungnya yang kecil bangir kembang kempis menahan emosi. Rasa malu dan sedih tak terkira karena dijarah oleh seorang lelaki tua telahmenghancurkan semua harapannya memperoleh suami tampan seusianya.
Entah mengapa Pak Fikri merasakan adanya kepuasan yang lain dengan menggagahi Tari kalau dibandingkan dengan pengalamannya dengan gadis-gadismadrasah lainnya. Kali ini Pak Fikri malahan menginginkan agar gadis ini betul-betul menjadi simpanannya yang permanen, walaupun tentunya hal ini tak akan menghalanginya jika ia setiap waktu ingin ‘jajan’ daun muda lain di luaran.
“Gimana, Pak, mantap nggak gadis alim shalihah ini?” demikian tegur Pak Soleh yang sedari tadi menyaksikan adegan perkosaan itu. Agaknya dia telah kembali bergairah dan ingin ikut pertarungan ranjang ini.
“Siiip lah! Ini bukan gadis sembarangan, tapi memek yang luar biasa peret! Mungkin biar dikerjain tiap hari tetap aja sempit kaya perawan ting ting, hehehe… emangnya kenapa, mau ikutan lagi?” sahut Pak Fikri seolah menantang.
“Kalo masih ada tempat ya boleh lah ngebonceng dari belakang, kira-kira muat nggak ya?” tanya Pak Soleh menghampiri pasangan yang mandi keringat itusehingga tubuh mereka terlihat mengkilat.
“Iya, tentu aja boleh. Asal jangan terlalu kasar aja, supaya dia nggak trauma. Tuh masih ada satu lobang nganggur, pasti belum pernah dijebol, hehe…”
Pak Soleh segera berdiri di belakang pinggul Tari yang naik turun secara ritmis, sedangkan pinggangnya yang langsing dipeluk dengan kuat oleh Pak Fikri dari arahbawah. Tak bosan-bosannya Pak Fikri juga menciumi kedua gundukan daging dada Tari, dan terkadang digigit-gigit gemas putingnya hingga menyebabkan Tari melenguh mendengus lemah dan merintih karena telah kehabisan tenaga.
Pak Soleh memberikan tanda kepada Pak Fikri untuk sementara menghentikan gerakan ritmis naik turunkan pinggul sang korban. Kesempatan ini dipakai oleh Pak Soleh untuk mencekal bongkahan pantat Tari yang demikian montok menggemaskan, direngangkannya ke kiri dan ke kanan hingga menyebabkan lubang bulat kecil di bagian tengah nampak bagaikan kuncup bunga yang baru mekar menantikan datangnya sang kumbang.
Sehari-hari Tari tak pernah memikirkan pacaran apalagi ML. Kehidupannya sampai saat ini hanya dipakai untuk belajar dan selalu patuh dengan tata susila sesuai ajaran kepercayaan yang dianutnya. Tak pernah Tari membaca buku atau majalah mengenai kehidupan pasutri – semua diharapkannya akan dialami nanti setelah menikah resmi. Namun apa yang dialaminya sekitar tiga jam terakhir adalah aib yang tak mungkin dihapus, bahkan takkan terlupakan.
Apalagi dalam keadaannya seperti ini – telah direnggut kegadisannya dan dijarah habis-habisan oleh seorang lelaki yang lebih pantas menjadi ayahnya, maka semuanya bagaikan mimpi yang buruk. Tenaganya telah habis terkuras, keadaan tubuhnya lebih menyerupai tawanan yang telah kerja paksa berjam-jam tanpa henti, semua sendi-sendinya bagaikan dilolosi dan tulang-tulangnya terasa remuk.
Oleh karena itu Tari belum bergerak dan belum melawan ketika dilihatnya Pak Soleh beralih dan berdiri di belakangnya. Namun ketika dirasakannya bahwa jari-jari tangan Pak Soleh memaksakan bongkahan pantatnya merekah ke samping, maka sebuah insting naluriah alami seorang perempuan seolah dibangunkan. Insting ini memberikan peringatan bahwa sesuatu yang sangat menyakitkan akansegera terjadi. Di tengah bongkahan pantat Tari ada sebuah lubang kecil intim paling terlindung, dan… dan… apakah yang akan dikerjakan oleh Pak Soleh?
Ooh tidak! Itu sama sekali tak mungkin dan tak boleh terjadi, itu adalah sesuatu yang tabu, terlarang.
Bagaikan tersengat kalajengking, Tari berusaha memberontak dan bangun ketika dirasakannya lubang duburnya diludahi berkali-kali. Kemudian Pak Soleh menggelitik pinggiran liang anusnya, lalu dengan perlahan satu jari tengah yang cukup besar berusaha menyelinap masuk ke dalam sana.
“Jangan, Pak! Oooooooh… tolong, saya tak mau! Lepaskan! Ampun!!”
Dengan panik Tari meronta dan menghentak-hentak dengan kakinya yang langsing. Apalagi ketika dirasakannya kini bukan sebuah jari tangan yang berusaha memasuki anusnya, namun benda asing keras tegang yang menekan-nekanberusaha menembus pertahanan otot-otot lingkaran yang bertahan mati-matian melawan penetrasi.
Usahanya hanya membuat kedua lelaki setengah baya itu semakin ganas geregetan. Pak Fikri memeluknya sekuat tenaga dari bawah. Rontaan Tari hanya membuat pinggulnya semakin menonjol tinggi ke atas dan ini malahan memudahkan usaha Pak Soleh karena bongkahan pantat Tari yang begitu montok bahenol semakin merekah, hingga akhirnya…
Raungan dan lengkingan jeritan sakit tak terkira keluar dari mulut Tari disambut dengan geraman Pak Soleh dan tarikan napasnya yang panjang, menandakan usahanya telah berhasil. Kepala penis kebanggaannya berhasil membelah otot-ototlingkar pelindung anus Tari, dan kini milimeter demi milimeter pentungan daging itu memasuki anus yang mengkerut dan berdenyut-denyut saat diperawani.
Kedua lelaki dikuasai iblis itu kini berusaha mengatur dan menyesuaikan ritme mereka menjarah vagina dan anus Tari sekaligus, sementara si gadis muda hanya dapat menangis pasrah terisak-isak.
Sekitar sepuluh menit Pak Soleh dan Pak Fikri membagi tubuh Tari bagaikan sandwich – sebelum akhirnya keduanya merasakan luapan lahar panas menggejolak naik dari biji pelir memasuki penis dan akhirnya menyembur keluar membanjiri memek dan liang dubur Tari yang sangat sempit.
Cerita Sex Pussycat’s Blackman Island
Tari sudah hampir tak merasakan apa-apa lagi. Memeknya terasa ngilu memar, apalagi anusnya terasa sangat panas, perih, dan sakit bagaikan dicolok dengan kayu bakar panas.
Semburan air mani yang membasahi kedua lubangnya hanyalah memberikan sedikit rasa ‘keringanan’, dan di dalam puncak penderitaan yang tak terkira itu Tari hanya mendengar jeritan memilukan hati tiada henti di telinganya – jeritan yang lama kelamaan baru ia sadari adalah suaranya sendiri sebelum semuanya gelap di depan matanya.
Tari lemas dan pingsan – tak tahu apalagi yang terjadi dengan tubuh sintalnya.
***
Di malam itu Fadillah dan Jamal membatalkan niat mereka ikut ambil bagiandalam pesta seks, karena ketika menatap wajah Tari yang walaupun pingsan namun tetap ayu manis, seolah-olah Pak Fikri ‘sadar’ dan tak sekedar berniat menjadikan Tari gundik kesayangannya, tapi menyunting menjadi istri.
Benarkah hal ini akan terjadi?
Namun paling tidak keinginan Pak Fikri yang muncul mendadak itu sempat ‘menyelamatkan’ Tari dari perkosaan habis-habisan lebih lanjut di malam itu. Ketika Fadillah dan Jamal dua jam kemudian masuk kembali ke dalam rumah untuk menagih jatah mereka, maka oleh Pak Fikri dicegah dan diberikan uang pengganti.
Dengan dalih bahwa si gadis yang baru diperawani dan disodomi itu masih pingsan dan kemungkinan akan trauma serta menderita gangguan jiwa selanjutnya, maka akhirnya Jamal dan Fadillah ngeloyor keluar sambil menggerutu. Mereka mengambil ‘uang semir’ dan menghilang di kegelapan malam, namun didalam benak mereka merencanakan di suatu waktu tetap akan menjebak Tari untuk dijadikan mangsa dan sasaran keganasan hawa nafsu mereka.
TAMAT


